Gadis manisku
Namaku Dian Ratnasari (nama samaran). Umur 23 tahun. Aku
mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Asalku dari Jawa Timur, jadi niatnya cuma
belajar di Bandung ini. Siapa tahu bisa jadi tukang insinyur. Aku tinggal di kawasan Dago,
menempati sebuah rumah yang cukup luas milik keluarga pamanku. Rumah itu sepi dengan
beberapa kamar kosong. Hanya ada aku, seorang pembantu yang cukup tua dan dua ekor anjing
peliharaanku serta beberapa ikan di dalam akuarium di sudut ruang tamuku. Keluarga pamanku
tinggal di Inggris, karena tugas belajar yang harus ia lakukan.
Berawal dari inisiasi dan orientasi kampus yang dilakukan kakak-kakak tingkatanku, aku
berkenalan dengan seorang teman gadis bernama Santi. Gadis yang manis, dengan tinggi
sekitar 160 cm, berkulit kuning langsat. Waktu itu, aku sangat kasihan kalau melihat ia
menerima hukuman yang menurutku sangat dibuat-buat oleh seniorku. Disuruh mencium-lah,
meraba, dan push-up di bawah mereka. Akh... sialan, seribu topan badai! Aku sungguh tidak
terima dan biasa gaya sok jagoanku muncul. Kudekati seniorku dan kuhajar dengan beberapa
jurus perkenalan dariku. Yah, gini-gini aku cukup menguasai karate dan pencak silat,
menyerang dan bertahan, dua hal yang sangat kusenangi. Maklumlah aku suka berkelahi dari
kecil.
Beberapa senior pun mulai mengeroyokku. Sambil tentu saja, terjatuh-jatuh menerima
tendangan dan libatan tanganku. Apa hendak dikata salah satu senior, yah mungkin ia
termasuk pimpinan mahasiswa di kampusku melerai kami dan memberi hukuman pada kami semua.
Lari-lari mengitari kampus sambil menyanyi dan menari, dasar!
But never mind, yang terpenting gadis manis itu tidak lagi digoda dan diganggu. Mungkin
mereka malu atau takut kalau selesai masa yang harus dilalui mahasiswa baru ini bakal
ketemu aku dan bisa benar-benar kuhajar mereka. Bagaimanapun yang lemah harus dibela.
Seminggu kemuRatna, baru kutahu gadis itu satu kelas denganku dan kami pun berkenalan.
"Hai..., terima kasih yah kemarin kamu menolongku. Gara-gara aku, kamu jadi kena
masalah deh." Hey dia menyapaku duluan.
"Ah ndak kok, itu sih urusan kecil buatku," sambil tersenyum kusapa balik.
"Oh, yah kita belum berkenalan kemarin, nama kamu siapa?" Aku bertanya seolah
aku belum tahu namanya. Hi.. hi.. padahal aku sudah tahu namanya dari senior-seniorku.
"Santi, kamu?" Duh mak, nih gadis benar-benar manis sekali, senyumnya aah...,
apalagi matanya, bulat dengan alis yang tertata rapi berwarna hitam, serasi sekali
"Hey... kamu kenapa?" Duh ketahuan kalau lagi terpana. Eh, nih anak pakaian dan
celananya seksi and ketat sekali, mengundang perhatian cowok, pikirku. Beda sekali
denganku, celana jeans belel dengan kemeja panjang kedodoran, potongan rambut pendek cepak
dan memakai jam tangan yang besar. Pokoknya aku senang seperti ini, dulu aku terkenal cool
di antara teman-teman cowok SMU-ku di Malang.
"Ah.. yah.. namaku Ratna, lengkapnya Dian Ratnasari. Tapi kamu boleh panggil aku apa
saja, tapi Ratna lebih enak kedengarannya, he.. he.. he." Jadi grogi juga nih.
"Hmm.., kamu tinggal di mana?" tanyaku, siapa tahu kan nanti dia lebih rajin
punya catatan, kan bisa kupinjam. Dasar otak nakal dan pemalas. Aku heran juga, dari kecil
aku tidak suka belajar tapi aku bisa dengan mudah menerima apa pun dalam otakku. Bukannya
sombong tapi yah.., cuma begitu saja.
Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri, ketika ia menegurku, "Ian, kamu duduk di
sebelahku yah," pintanya. Aku hanya manggut-manggut saja mengiyakan sambil terus
berjalan menuju kelas kami.
"Eh, kamu ini lucu juga yah, dari tadi senyum-senyum sendiri hihihi", ia tertawa
kecil. Duh maak manisnya temanku ini.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar kegaduhan kecil, ternyata segerombolan cowok-cowok
mengganggu dan mempermainkan salah seorang teman kami yang lebih kecil ukurannya dari
mereka, mungkin sekitar 155 cm. Oh, yah aku sendiri 172 cm dan beratku 60 kg. Cukup tinggi
besar untuk ukuran cewek kali, yah?
Lagi-lagi aku belagak nih, padahal memang tanganku gatal ingin meninju orang, habis sedang
gregetan nih sama Santi. Kusambar salah satu cowok dan tendanganku sangat tepat bersarang
di bawah perutnya, yah si-xxx, tahu temannya menjerit, mereka berhenti dan memandangku.
Ada kemarahan di wajah mereka, namun aku tidak tahu kenapa, mereka langsung ngeloyor pergi
sambil membantu temannya berjalan. Akh, aku puas juga. Sejak saat itu, aku cukup disegani
di kampusku, mungkin juga mereka telah membaca biodataku di buku tahunan.
Kembali menjajari Santi, aku bertanya lagi, "Eh, di mana rumah kamu?".
Dia tersenyum, "Kamu masih inget dengan pertanyaanmu setelah berkelahi
barusan?", berkata begitu, tangannya menempel di pundakku dan turun menggandeng
tanganku.
"Yah, sekali lagi, itu hal kecil buatku, habisnya mereka seenaknya mengganggu orang
lain", gumamku sambil menikmati sentuhan alami lengan dan jari-jari kami yang saling
mengait.
"Ah, sudahlah, jangan dibicarakan lagi".
Bosan juga aku, kan aku pingin tahu tentang anak satu ini eh, malah melenceng dari
pokoknya.
"Aku tinggal di Taman Sari", jawabnya. Akhirnya meluncur juga jawabannya.
"Tinggal dengan siapa?", tanyaku agak bingung, maklum sendirian sih aku.
"Kost, ama teman-teman juga.., banyak kok", Ia menjawab sambil memilih tempat
duduk untuk kami berdua. Ok, di pojok belakang, jadi aku bisa tidur nih.
"Hhh, boleh main nih, aku bosan sendirian di rumah", timpalku.
"Aksen kamu sepertinya bukan dari sini, kalau aku dari sekitar sini juga sih, kamu
bukan orang sini, kan?", Ia balik bertanya padaku. "Iyah, aku bukan orang sini,
tapi aku tinggal di rumah pamanku, sekalian jaga rumahnya."
Kuliah pertamaku dimulai, akh bosan rasanya. Tanpa sengaja tanganku merangkul kursi
sebelah dan menempel di punggung Santi. Antara sadar dan tidak, maklum mengantuk, aku
seperti merasakan gesekan halus di tangan kananku. Jantungku berdesir dan mulai berdegup
kencang.
Kutengok, ternyata punggungnya benar-benar ia gesekkan ke tangan kananku hingga jamku pun
tertarik ke atas-bawah, ke kanan-kiri, akhh aku mulai menikmati permainan ini. Bibirnya
terbuka sedikit, ia menengadah dan lehernya yang jenjang kulihat sangat menantangku. Akh,
aku ingin mengecupnya, duh aku bergetar. Ada apa ini?
Aku duduk dengan gelisah, akh dia mempermainkan nafsuku. Aduh bisa pening aku dibuatnya.
Aku berdoa, semoga kuliah ini cepat selesai. Dengan sedikit keberanianku, Iih.., aku takut
kalau ketahuan teman lain. Telapak tangan kananku mulai meraba dan meremas bahu dan terus
turun ke punggung, pinggang, dan berhenti di antara dua kantong saku di belakang jeansnya.
Ia mulai menggoyang pantatnya, geser depan-belakang, kanan-kiri. Kuremas salah satu
pantatnya yang muat juga di tanganku. Hehehe ternyata cukup kecil, tapi kenyal, dan
enaaaak sekali. Nafasku pun memburu dengan cepat. Akhhh lamanya kuliah ini.
Akhirnya, kuliah selesai juga. Permainan kami pun berhenti. Aku tersenyum dan ia pun
membalas senyumku dan mengajakku ke belakang (toilet wanita). Duh, gila juga Santi, apa
orang sini beraniberani yah. Tanpa ba-bi-bu kuikuti langkahnya dan pokoknya kami
sudah ada di dalam. Cukup sepi, karena terhitung masih pagi, belum ada yang ke belakang.
Aku bersyukur juga. Lagian yang namanya makhluk berjenis kelamin perempuan tidak begitu
banyak. Aku pikir-pikir cukuplah bermain 15 menit.
Aku duduk di closet dan dia kupangku. Kepalanya tepat di hadapanku. Kami hanya berjarak
berapa inchi saja. Nafasnya yang hangat menyapu wajahku. Hidungnya yang agak mancung, ia
gesek-gesekkan di hidungku, ih geli juga. Aku tidak tahan.
"Hey, I can lift you", sambil tersenyum ia berkata.
"Aku cuman 48 kok, San", sambil melingkarkan lengannya di leherku. Kugendong ia
dan aku duduk kembali. Ia tertawa lirih.
Tanganku terus meraba paha, terus ke belakang, meremas pantatnya ke atas menelusuri
pinggang dan mulai menyelusup di balik kaus ketatnya, tiap gunung kembar itu teraba olehku
nampak kausnya bertambah padat dan ia busungkan dadanya sambil menggeliat menahan nafsu
birahinya, duh menempel di punyaku, menekan dan, "Terus.., lagi.., dan..." Aku
tak sabar, kubuka kaus ketatnya dan gila, Santi benar-benar berbody indah, aku merasa yang
di bawah mulai berdenyut-denyut. Bra-nya yang putih kecil, seakan tak mampu menutupinya,
kubuka sekalian, dan nampaklah gunung itu atau bisa dikata bukit sajalah. Kecil dan
menantang, kuelus dan kujilati, akh harum, keringatnya mulai keluar satu-satu agak asin.
Akh, aku semakin gila. Kuremas pantatnya, kutekan ke selangkanganku, akh ia meremas
rambutku dan menekan kepalaku tepat di belahan itu. Akhh! ia mulai menjepit kepalaku, akhh
aku hampir tak bisa bernafas. Gila kencang banget mainnya! Kecil-kecil cabe rawit. Duh,
nafasku sesak nih. Sambil terus kutekan pantatnya ke perutku.
Akh, lepas juga kepalaku setelah itu ia menjerit pelan, kaget juga aku, kenapa dia? Baru
sekali ini aku melakukan permainan kait-mengait. Apalagi dengan seorang gadis. Eeh, apa
dia masih gadis? Entar kutanya, tapi mataku sempat melirik jam tanganku dan aku mengerti
permainan ini harus ditunda, ada kuliah lagi.
Kukecup lembut dan lidahku masih ingin melumat kedua bukit itu, kupasang kembali bra dan
kaus ketatnya.
"Entar lagi, yah", kataku, ia tersenyum.
"Makasih, Yan".
Kutepuk-tepuk pantatnya dan segera kuputuskan.
"San.., kamu mau pindah ke rumahku?", tanpa pikir panjang juga ia mengangguk.
Kuturunkan dia dan aku merasa CD-ku seperti lembab dan lengket.
"San, entar dulu yah", sambil kubuka retsluiting celanaku dan kuraba yang di
balik CD-ku yaitu selangkanganku. Jariku basah seperti ada jelly. Ada apa nih? Seketika
kubuka agak lebar dan aku melongok untuk melihatnya lebih jelas. Santi meraih jariku yang
basah dan menghirup serta menjilatinya, "Enak, asin, gurih, harum selangit!"
terpana aku melihat mulutnya yang bergetar ketika menggumamkan kata-kata itu.
Tangannya menuntunku memasuki celana ketatnya dan terus ke bawah dan di balik CD-nya,
basah juga. Kenapa kami, yah? Bingung juga yah aku waktu itu. Hehehe, aku mulai menyukai
permainan ini. Telapak tanganku ternyata cukup menutupi selangkangannya, ia gesek-gesekkan
dan aku mulai menekan kemaluannya, jari tengahku mulai bermain-main kesana-kemari. Kembali
Santi menggeliat dan mengerang lirih. Duh, apa toilet ini memang kosong yah? Gila juga nih
anak, pakai acara mengerang segala apalagi pakai menjerit.
Eh, seakan ia tahu apa yang kupikir, ia berhenti dan hanya menggigit bibirnya. Aku tidak
tahan, kulumat lagi bibirnya dan kubuka pelan dengan mulutku, dan kami berpagutan lagi.
Lidahku dan lidahnya berkaitan dan lama. Matanya terpejam dan akh.., aku menemukan daging
kecil di dalam, jariku menerobos dan mulai masuk sedikit.
Tiba-tiba meluncur pertanyaan di otakku, refleks kukatakan padanya, "San, kamu pernah
melakukan beginian?".
Ia menjawab pelan, "Belum, Yan.., baru sama kamu."
"Jadi kamu masih gadis, masih punya selaput?", kataku.
"Iya, masih. Pelan aja Yan entar sakit."
"Maaf, San. Lebih baik nggak sekarang, ada kuliah kan."
Kulihat Santi kecewa, tapi demi amannya saja sih, padahal sungguh aku bodoh sekali
pelajaran biologi, jadi aku tidak tahu berapa jarak selaput itu dari luar vagina. Kutarik
jariku dan ia pun menjilatinya sampai bersih. Ok, entar lagi. Enak juga jilatannya.
Singkat cerita, Santi pindah ke rumah tinggalku dan dia tak mau beda kamar. Inginnya satu
kamar denganku. Yah, tidak apa-apa sih, lumayan ada yang menemani. Aku memiliki kebiasaan
bermain gitar di sore hari, karena hanya gitar yang bisa kumainkan. Kini tiap kali aku
mainkan senar gitar Santi selalu menyanyi merdu hanya untukku seorang. Terkadang aku duduk
di kursi malas beranda luar menghadap taman dalam. Santi datang dan duduk mengangkangi
kedua kakiku. Ia suka sekali memakai daster pendek di atas lutut dengan CD yang terlihat
bila angin bertiup agak kencang atau ketika ia mengangkat kakinya. Pokoknya hal-hal mudah
seperti itu sudah cukup merangsang nafsuku. Apalagi bila malam tiba, Santi memakai kimono
sutra yang sekali talinya kubuka, nampaklah semuanya.
Tiap malam ia membuatkan aku susu kegemaranku. Saat aku asyik duduk di komputer sedang
online atau mengerjakan tugas, Santi menghampiriku dan menempel di punggungku. Hal ini
sangat kusukai dan Santi tahu itu. Aku merasakan lekukan bibir kemaluannya, bukitnya dan
ia menempelkannya, merenggangkannya akhhh.., mengaduk-aduk emosiku. Segera aku membalikkan
badanku. Kurengkuh tubuhnya dan kukempit kakinya dengan kedua pahaku yang kuat, kadang
Santi meronta dan aku pun melepaskannya, biasa kami berlarian seperti dua orang kakak
beradik bermain kejar dan tangkap. Aku sungguh menyukai permainan ini. Kadang Santi
tiba-tiba mengerem dan membalikkan tubuhnya dan tentu saja aku menubruknya dan jatuh
bersama bergulingan saling menindih. Nafas kami yang tak beraturan karena berlari-lari
saling memburu dengan kecupan-kecupan yang semakin menambah ketidakberaturannya nafas
kami. Buah dada kami saling menggesek dan, "Berat ah.. Yan", aku lalu dengan
sigap ganti posisi di bawah, dan ia menyeringai puas karena Santi sangat tahu aku sangat
menyayanginya dan tidak mau ia merasa sakit atau apapun. Dan mau tahu apa yang ia lakukan
tiap itu terjadi? Santi mengambil susu itu dan menuangkannya di vaginanya dan aku
menjilatinya hingga kepuasan yang amat sangat pada kami berdua. Coba saja deh atau kalau
siang bisa saja pakai es sirup, dengan dingin yang mengalir pelan rasakan.
Kami saling menjaga, menyayangi, dan berusaha memberikan kepuasan. Namun pernah suatu
ketika ia sakit demam, duh aku bingung sekali. Kukompres ia kalau panas dan kuselimuti ia
sewaktu dingin menyerangnya. Tapi ia tak mau selimut, ia mau tubuhku menyelimutinya dan
sekali lagi ia sangat tahu kalau aku benar-benar hanya bertindak sebagai penghangat
tubuhnya dengan kekhawatiran di wajahku yang sangat dihafalnya. Santi sangat menyukai
sikapku yang melindungi dan menyayanginya. Sikap yang dapat membedakan kapan bermain dan
kapan harus menjaga dan merawat.
Santi sangat akrab dengan keluargaku, begitu juga aku. Keluarganya dan keluargaku telah
saling mengenal dan tidak mempermasalahkan hubungan kami. Aku bungsu dari empat
bersaudara, kupunya 1 orang kakak laki-laki dan 2 kakak perempuan sedangkan Santi sulung
dari tiga bersaudara, 1 orang adik perempuan dan 1 orang adik laki-laki. Kemana pun kami
selalu berdua, ke supermarket beli bahan kebutuhan sehari-hari, ke mall untuk cari pakaian
atau keperluan lain, ke toko-toko buku, ke bioskop buat nonton, dan lain-lain kecuali
kalau aku dan ia sedang memiliki aktivitas yang berbeda. Aku senang berorganisasi dan
berolah raga sedangkan ia suka melukis dan bermain musik.
Dini hari saat fajar tiba, sambil tidur aku selalu merasakan sesuatu yang berdenyut di
bawah dan refleks aku menempel lekat ke tubuhnya, entah itu punggung dengan sentuhan
pantat hangatnya atau langsung perut dengan bukit kembar dan selangkangan yang mengaitku.
Santi mengerti kebiasaanku di setiap fajar dini hari dan kami pun saling menggesek.
Sekali merengkuh tubuhnya, ia jatuh menindihku dan berbaring tiduran di tubuhku. Enak
katanya, merasakan pelukanku yang hangat, maklum kota ini lumayan dingin. Pokoknya kami
melakukan itu kapan saja. Tidak ada bosan-bosannya, soalnya kami mulai ahli sih. Kami
mengubah posisi setiap kali mulai bosan dan yahud juga!
Aku mulai mengerti apa yang namanya liang garba itu. Wah, indah sekali, berapa jarak
selaputnya, apa itu clitoris, dan perlu dicatat, sampai kini selaput itu belum robek. Aku
tidak mau kalau ia sakit, jadi mulutku hanya mengecup, mengulum dan lidahku menjilati agak
ke dalam. Ia sangat menyenangi posisi di atas dan aku di bawah. Terkadang aku bertahan
cukup lama, kasihan Santi sudah 2-3 kali keluar baru aku keluar. Kalau aku tentu saja suka
posisi kaki saling mengait dan selangkangan kami saling menempel dan bergesek semakin
kencang, jadi kami bisa orgasme bersama. Tahu kan caranya. Begini, kuangkat kaki kirinya,
kuselipkan kaki kiriku, dan kedua kaki kami saling membelit. Posisi ini menyebabkan cairan
kental dari kedua kemaluan kami yang keluar bersamaan bercampur dan euunaaaak sekali.
Kadang dengan cara ini Santi sudah sangat kewalahan mengatur nafas, memekik dan menggeliat
kencang, tempat tidurku pun berantakan tiap kali kami main di kamar. Perlu dicatat,
selesai permainan dan mandi, tempat tidurku kembali sangat rapi karena Santi orang yang
sangat rajin dan menjaga kebersihan. Tidak sepertiku, ceroboh.
Kalau di dapur saat ia memasak aku merengkuhnya dan mengecup lembut lehernya serasa kami
sepasang suami istri selayaknya, mendudukkannya di meja dan biasa aku rentangkan kedua
paha itu dan mulai mencumbuinya, kubuka celanaku dan kugesekkan CD-ku ke CD-nya. Enak lho.
Kalau kami bermain di kamar mandi, yah seperti dua anak kecil yang berteriak-teriak
kegirangan saling menyiram tempat-tempat sensitif yang sudah sangat kami hapal sambil
menciumi tempat-tempat itu. Bath-up yang sudah mulai terisi dengan busa sabun kuoleskan ke
seluruh tubuhnya, terutama di-xxx-nya, pelan karena aku takut kalau ada apa-apa. Santi
senang sekali terlentang di atas tubuhku, "Nyaman, Yan?" katanya sambil mencari
di mana pinggangku. Kupeluk erat ia, kurasakan gunungku menekan punggungnya dan satu hal
aku nggak senang posisi ketika ia membalikkan badannya tepat ke arahku (di bath-up).
Pernah ia coba dan aku tidak enjoy melihat kesulitannya mencumbuiku.
Permainan di beranda pun kami buat berbeda, seperti sepasang kekasih yang tenang saling
membelai dan menata taman sambil tiduran di luar, kami sangat menikmati tidur di atas
rumput yang lembut. Cuma kadang aku sangat risih melihat semut. Jadi kami nggak begitu
memaksakan diri tiduran di taman. Atau aku cemburu dan takut sama semut, kalau-kalau semut
itu memasuki area xxx dan menggigit vagina kekasihku. Akhh kan kasihan Santi hanya bisa
meringis kesakitan. Nah, kalau yang ini, di tempat tidur kami seperti dua orang gila yang
selalu tergila-gila. Banyak posisi yang kami lakukan, pasti kalau dapat dengan alami
melakukanya. Intinya cuma satu, ikuti kata hati, kalau mau stop ya stop, mau nge-sun, sun
saja, mau membelai, belai aja, kalau mau maju yah maju, kalau mau ganti yah ganti posisi,
begitu saja, sepele. Dan seperti telah menjadi suatu kewajiban bagi Santi untuk selalu
membersihkan punyaku dan aku begitu juga, menjilati dan saling menghangati kedua vagina
kami dengan telapak tangan yang saling kami selipkan di antara kedua paha kami dan
hehehehe. Hangat kan, coba deh.
Pernah suatu ketika aku berkonsultasi ke seorang ahli dan beliaunya menjawab kalau aku
sebenarnya termasuk transexsual, berjiwa dan bertingkah laku laki-laki namun tubuh wanita,
jadinya setengah-setengah dengan hormon yang lebih banyak jenis laki-laki. Yang umum sih
salah satu lebih besar dan mengikuti hormon kelaminnya. Kalau aku mau, kata beliaunya bisa
saja bedah kelamin. Tapi biaya yang dikeluarkan pun sangat besar. Yah, sudahlah aku
seperti ini saja. Dan selama ini Santi selalu mendampingiku entah sampai kapan. Sudah dua
tahun ini aku nyambi bekerja di kontraktor dan aku menikmatinya. Dengan gaji yang lumayan
tinggi, aku sebenarnya sanggup menghidupi kami berdua dengan 3 orang sekaligus, misalnya.
Mungkin selesai kuliah ini, selesai semuanya. Aku pernah tanyakan kepadanya dan ia hanya
tersenyum saja. Ia berkata "Yan, jangan pikir sekarang, apa yang terjadi besok adalah
misteri bagi kita semua, kecuali hal-hal yang telah kita persiapkan", dan kalian tahu
sampai saat ini aku belum tahu apa maksud dari perkataannya.
T A M A T
< Kembali ke halaman sebelumnya >
|
|