Rela Melepaskan Keinginan
Ada
kesaksian yang indah dari hal-hal sederhana. Seseorang mengaku
begini
"Kalau saya lagi kepingin sekali makan es krim, saya malah
tidak
mau makan es krim. Tetapi kalau keinginan saya itu biasa-biasa
saja,
boleh makan
boleh
tidak, saya tidak ragu lagi makan es krim. Kalau saya sangat
ingin
sekali nonton TV, saya memutuskan untuk tidak nonton. Kalau saya
sangat
ingin sekali piknik, saya justru tidak mau piknik." Ini adalah
type
orang yang belajar untuk menguasai diri, mengendalikan kehendaknya.
Corrie
Ten Boom, seorang pejuang iman di negeri Belanda yang lolos
dari
keganasan Nazi pernah menasihatkan, "Jangan pegang sesuatu di
tanganmu
terlalu erat. Kalau Tuhan mau ambil hal itu, nanti menyakitkan."
TuhanYesus
mengajarkan kita tentang apa arti mengosongkan diri. Ia
saja
yang punya segala-galanya, rela melepaskan segala-galanya. Ia
rela
menyangkal diriNya. Sebelum liburan sekolah di Indonesia yang
baru
lalu, bertepatan dengan adanya SEA Games ke 19, seorang hamba
Tuhan
wanita
sangat
ingin sekali mengajak anak-anaknya piknik. Ia berdoa kepada Tuhan.
Suatu
hari seseorang anggota jemaat menelponnya, "Bu, saya tergerak
untuk
memberi uang Rp. 2 juta sore nanti"
Hamba
Tuhan ini senang, tentu saja.
Pada
pagi harinya seorang kenalan meminta tolong kepadanya. Teman ini
bercerita
bahwa ada seorang mahasiswa di Negeri Belanda yang perlu
bantuan
keuangan untuk pulang ke Indonesia. Ketika hamba Tuhan ini
menerima
uang sejumlah Rp. 2 juta pada sore harinya, Tuhan bertanya
kepadanya,
"Mana yang lebih penting,
piknik
atau menolong mahasiswa di Belanda itu ?"
Hamba
Tuhan yang taat ini tahu, Tuhan meminta agar uang Rp.2 juta itu
dikirimkan
untuk mahasiswa yang kesulitan itu. Segera ia menukarkan
uangnya
dengan Gulden dan ditransfer ke rekening pemuda itu.
"Jangan
pegang sesuatu di tanganmu terlalu erat..." begitu nasihat
Corrie
Ten Boom. Apakah yang ada di genggaman tangan anda yang begitu
erat
itu ? Karier ? Suami ? Isteri ? Pacar ? Uang? Anak ? Hobby ?
Gelar
Sarjana ?
Tuhan
sering menguji kita, mana yang lebih utama Tuhan atau sesuatu
yang
ada dalam genggaman tangan kita. Bagaimana reaksi kita kalau Ia
meminta
"Ishak" kita, meminta buah hati kita, meminta kesayangan kita?
Apakah kita
relakan ?
Kita
adalah anak-anak tebusan. Apakah kita punya hak menggenggam erat
sesuatu
bagi diri kita sendiri ? Kita telah mati terhadap dosa dan
segala
keinginannya yang membawa pada kebinasaan, apakah kita masih punya
keinginan
melirik dosa ?
"Barangsiapa
tidak memikul salibnya dan
mengikut
Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan
nyawanya,
ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan
nyawanya
karena Aku, ia akan memperolehnya." Mat 10 : 38-89