>Subject: Lima Hari Bersama Anakku Timothy
>> >
>> >
>> >Syallom,
>> >Rekan-rekan yang dikasihi oleh Kristus,
>> >Berikut sharing, kesaksian dan pengalaman pribadi oleh Sdr. Tjiong Kim
>Gwat
>> >(M'ben).
>> >Semoga menjadi berkat yang juga menguatkan disaat kita mengalami
>hari-hari
>> >yang sulit.
>> >Terimaksih atas kiriman Sdr. Leonard Handjojo dan sampaikan salam kami
>> >kepada
>> >M'ben & Family , kami ikut merasakan duka cita yang mendalam, atas
>> >kepergian Timothy ( Timmy ) yang terkasih. Teringat saat kami banyak
>> >diberkati atas kesempatan untuk mendengarkan lagu-lagu yang indah serta
>> >menguatkan yang dinyanyikan oleh single/vokal group di GKI Samanhudi.
>> >
>> >"Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan !".
>> >Amin !
>> >
>> >Salam dari kami,
>> >Setio + Yanty + Jocelyn
>> >-------------------------
>> >
>> >Lima hari bersama anakku, Timothy
>> >Pengalaman pribadi seorang ayah
>> >
>> >Hari Pertama, Sabtu 8 April 2000
>> >
>> >Suatu hal yang sangat kami nanti-nantikan selama ini akhirnya terwujud
>> >menjadi kenyataan. Istri saya yang mengandung anak kedua kami memasuki
>masa
>> >persalinannya. Karena posisi bayi yang tidak sebagaimana mestinya, istri
>> >saya harus menjalani operasi Caesar, yang dijadwalkan dilaksanakan hari
>> >ini.
>> >
>> >
>> >Sebenarnya kami harus datang ke RS Husada jam 6.00 pagi pada hari ini,
>> >tetapi empat jam sebelum itu ternyata ketuban istri saya pecah sehingga
>> >kami
>> >harus segera berangkat. Walaupun hal seperti ini pernah kami alami pada
>> >waktu menjelang kelahiran anak pertama, kami tetap merasa sediki panik
>> >dibuatnya. Betapa tidak ? Air ketuban yang dikeluarkan istri saya banyak
>> >sekali dan kami jadi agak khawatir kalau-kalau proses persalinan harus
>> >segera dilakukan pagi subuh ini juga.
>> >
>> >
>> >Setelah ditangani oleh para suster jaga, proses persalinan ternyata
masih
>> >bisa ditunda sampai waktu yang sudah disepakati untuk Caesar, yaitu jam
>> >sembilan pagi. Saya merasa sangat lega, sehingga walaupun tidak terlalu
>> >pulas tapi saya dapat meneruskan tidur di bangku-bangku yang ada di
depan
>> >lift lantai lima Graha Husada.
>> >
>> >
>> >Sekitar jam 5.30 pagi saya bangun dan menghubungi mertua saya dengan
>> >ponsel.
>> >Karena keadaan masih dapat terkendali maka saya putuskan untuk tidak
>> >menghubunginya hingga pagi hari, agar mereka tidak menjadi khawatir.
>> >Ternyata sebelum saya menghubunginya, beliau sudah lebih dulu menelepon
>ke
>> >rumah dan menjadi sangat khawatir setelah diberitahu pembantu kami bahwa
>> >kami sudah berangkat ke RS sekitar jam dua pagi. Well, memang terkadang
>> >maksud baik bisa kurang pas hasilnya, bila implementasinya kurang tepat
>> >waktu dan keadaan.
>> >
>> >
>> >Cuma dua orang yang saya rasa sangat perlu untuk dihubungi pagi itu.
Yang
>> >pertama sudah, yang kedua adalah seorang ibu pendeta yang sudah sejak
>tahun
>> >80-an saya kenal. Ketika itu saya masih aktif sebagai pengurus di Komisi
>> >Remaja. Beliau saya kenal sebagai figur yang sangat tegas, tapi juga
>> >sekaligus penuh perhatian. Beliau jugalah yang memberkati pernikahan
kami
>> >hampir lima tahun yang lalu.
>> >
>> >
>> >Saya sebetulnya cuma mengharapkan dukungan doa dan ucapan yang
menguatkan
>> >lewat telepon dari ibu pendeta, tapi ternyata Tuhan lebih mengerti apa
>yang
>> >saya butuhkan. Sekitar jam 8.00, ibu pendeta datang dan terus
mendampingi
>> >kami. Saya mengira sesudah mendoakan istri saya pada waktu mau masuk
>ruang
>> >operasi beliau akan pamit, tapi nyatanya tidak. Saya yakin bahwa Tuhan
>> >sudah
>> >membimbing ibu pendeta untuk terus berada bersama kami sampai operasi
>> >Caesar
>> >selesai. Pada saat operasi berlangsung, datang pula kakak perempuan saya
>> >dan
>> >saudara-saudara dari istri saya.
>> >
>> >
>> >Menit demi menit berlalu, dan sama sekali tidak pernah terlintas di
benak
>> >saya hal yang terjadi kemudian. Sekitar duapuluh menit sesudah jam 9.00
>> >pagi, beberapa suster beserta seorang dokter keluar menemui saya dengan
>> >membawa anak yang baru dilahirkan istri saya. Dokter anak yang menangani
>> >anak kami sambil memperlihatkan anak yang baru lahir, juga
memberitahukan
>> >saya akan kondisi fisik anak saya yang memiliki beberapa kelainan. Mama
>> >mertua saya menangis tersedu-sedu. Saya sedih dan kaget. Dokter juga
>> >bertanya kepada saya apakah anak yang lahir ini akan dirawat intensif
>atau
>> >seadanya saja. Tentu saja saya segera memutuskan untuk dirawat intensif,
>> >bagaimanapun keadaannya sekarang dan apapun resikonya nanti. Yang
>> >pertama-tama saya khawatirkan adalah bagaimana perasaan istri saya bila
>dia
>> >mengetahui hal ini.
>> >
>> >
>> >Selagi istri saya belum sadar dari operasi, anak kami dibawa ke tempat
>> >untuk
>> >merawat bayi prematur. Walaupun cukup umur, tapi karena beratnya yang
>hanya
>> >1,8 kg dan panjang 40 cm, anak kami dikategorikan sebagai bayi prematur.
>> >dokter kemudian mengatakan bahwa ari-ari yang menghubungkan anak kami
>denga
>> >placenta ibunya kecil sekali, sementara dekat tali pusat bayi ada
>> >pembengkakkan usus. Hal ini yang mengakibatkan fisik anak kami kecil
>> >sekali,
>> >yaitu karena makanan yang diterimanya jadi sedikit.
>> >
>> >
>> >Memang Tuhan sudah menyiapkan segala yang terbaik. Ibu pendeta langsung
>> >menghibur serta menguatkan saya dan mengingatkan agar tetap tabah dan
>kuat,
>> >jangan saling menyalahkan dengan istri dan tidak perlu bertanya MENGAPA,
>> >terlebih lagi menyalahkan Tuhan. Beliau juga mengingatkan saya agar juga
>> >menyiapkan diri untuk hal terburuk yang mungkin terjadi, yaitu apabila
>> >Tuhan
>> >mengambil kembali anak kami ini. Hati saya amat sangat menangis dan
>hancur
>> >waktu itu, walaupun tidak terlalu tampak pada raut wajah saya. Saat itu
>> >walaupun gelombang duka melanda begitu keras saya merasa Tuhan sedang
>> >membelai-belai kepala saya sambil menghibur dan menguatkan saya lewat
>> >keberadaan dan setiap perkataan dari ibu pendeta. Ada kekuatan yang
lebih
>> >besar dari gelombang duka tersebut yang mengalir menghangatkan hati dan
>> >jiwa
>> >saya.
>> >
>> >
>> >Saya sadar bahwa sebagai manusia tidak ada yang dapat saya lakukan saat
>ini
>> >selain berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Andaipun saya punya uang
>segudang
>> >saya tetap tidak dapat membeli kesehatan dan hidup bagi anak saya. Oke,
>> >sekarang saya cukup kuat untuk diri saya sendiri tapi bagaimana dengan
>> >istri
>> >saya? Oh Tuhan, berilah saya hikmat dan bijaksana dalam membicarakan hal
>> >ini
>> >dengan istri saya.
>> >
>> >
>> >Beberapa saat setelah istri saya sadar, saya menemaninya didorong ke
>> >kamarnya di 511-B. Istri saya bertanya tentang keadaan anak kami. Saya
>> >pikir
>> >belum saatnya untuk berterus terang sepenuhnya, jadi saya cuma
mengatakan
>> >bahwa anak kami secara fisik dikategorikan sebagai bayi prematur karena
>> >berat badannya yang kurang dan dirawat secara khusus sehingga dalam
>> >beberapa
>> >hari ini belum bisa dibawa ke mamanya. Terlihat wajah yang agak
penasaran
>> >dari istri saya karena katanya dia belum melihat sama sekali anaknya
>ketika
>> >selesai operasi. Dia hanya mendengar percakapan antara para dokter yang
>> >mengatakan bahwa anaknya kecil. dia juga mendengar tangisan bayi
sejenak,
>
>> >tapi kemudian tidak sadarkan diri karena dokter membiusnya total. Saya
>> >berusaha untuk bisa terlihat gembira oleh istri saya agar dia tidak
>menjadi
>> >khawatir.
>> >
>> >
>> >Ada saudara-saudara dan beberapa sahabat dekat yang datang dan
>mengucapkan
>> >selamat hari ini, tapi hanya dua orang sahabat dan dua orang saudara
yang
>> >saya beritahu kondisi anak saya yang sebenarnya, dengan harapan mereka
>> >dapat
>> >mendukung saya dalam doa agar saya dapat lebih dikuatkan dalam
menghadapi
>> >semuanya ini. Beberapa kali saya datang melihat anak saya yang tempat
>> >perawatannya cukup jauh dari tempat perawatan istri saya. Timothy
>Gabriel,
>> >yang saya panggil Timmy, terbaring lemah di dalam inkubator, sementara
>saya
>> >hanya bisa melihatnya dari balik kaca ruang perawatan bayu prematur.
Saya
>> >tidak dapat menahan air mata saya lagi saat itu. Saya merasa seperti
anak
>> >kecil yang sedang mengadu kepada orangtuanya sambil menangis. Sayapun
>> >mengadukan perkara saya kepada Bapa saya yang di Sorga, dan saya yakin
>Dia
>> >mendengar segala keluhan dan tangisan saya.
>> >
>> >
>> >Hampir semua saudara datang untuk mengucapkan selamat kepada kami hari
>ini.
>> >Ya ... hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. Bukan cuma fisik
saya
>> >yang lelah, tapi jiwa saya juga. Tetapi saya terus berharap pada
kekuatan
>> >yang dari Tuhan dan memang Dia memberikan pada saya. Setelah semua tamu
>> >pulang, malam itu sebelum sayapun pulang, saya mengajak istri saya
>berdoa.
>> >Dalam doa itu kami mengucap syukur atas Timmy, dan kami juga
mendoakannya
>> >supaya cepat normal kembali kondisinya. Hari ini saya belum dapat
>> >menceritakan sepenuhnya pada istri saya masalah anak kami, karena memang
>> >keadaan istri saya belum memungkinkan untuk itu. Malam itu saya pulang
ke
>> >rumah mertua saya dan tidur di sana.
>> >
>> >
>> >Hari Kedua, Minggu 9 April 2000
>> >
>> >Pagi-pagi saya bangun dan segera pergi ke gereja untuk mengikuti
>kebaktian
>> >pertama. Firman Tuhan pagi itu benar-benar menguatkan saya karena sangat
>> >relevan dengan situasi yang sedang saya hadapi. Pendeta Iwan mengatakan,
>> >mudah bagi kita untuk memberikan sekadarnya atau menurut kerelaan kita,
>> >tapi
>> >amat sangat sangat sulit bila kita harus memberikan yang terbaik bagi
>Tuhan
>> >atau sesama kita. Dan itulah yang Tuhan sudah berikan pada kita, yaitu
>yang
>> >terbaik yaitu putra tunggal-Nya sendiri, Yesus Kristus. Apakah kita
rela,
>> >jika saat ini kita diminta untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan ?
>> >Apakah
>> >kita bisa berkata seperti Ayub berkata," Tuhan yang memberi, Tuhan yang
>> >mengambil. Terpujilah nama Tuhan !" ? Sekaget kena setrum saya mendengar
>> >pertanyaan itu. Seolah secara langsung Tuhan menanyakan hal itu pada
>saya.
>> >Saya menundukkan tubuh dan jiwa saya untuk merendahkan diri di hadapan
>> >Tuhan
>> >saat itu, dan saya katakan, "Tuhan, Engkau tahu yang terbaik untuk saya
>dan
>> >bagi keluarga saya, juga bagi anak saya Timmy yang baru lahir. Biarlah
>> >kehendak Tuhan yang terjadi dan terima kasih ya Tuhan, karena telah
>> >mengingatkan saya agar saya siap sedia dan rela atas hal terburuk apapun
>> >yang akan terjadi karena saya percaya, Tuhan akan selalu menuntun dan
>> >memberi saya kekuatan untuk menghadapi semuanya." Ketika kemarin ibu
>> >pendeta mengingatkan saya untuk menyiapkan diri bila Tuhan ingin
>mengambil
>> >kembali anak saya, saya belum bisa menerima hal tersebut tapi saat ini,
>> >walaupun dengan sangat berat dan hancur hati, saya merelakan Timmy untuk
>> >pulang kembali kepada Bapa di Sorga.
>> >
>> >
>> >Setelah dari gereja saya mengantar-jemput anak pertama saya ke sekolah
>> >minggu. Inilah kesulitan saya yang berikutnya. Begitu berat rasa hati
ini
>> >karena belum dapat berterus terang pada anak pertama saya, bagimana
>kondisi
>> >adiknya. Saya menjanjikan anak pertama saya untuk langsung menjenguk
>> >mamanya
>> >di RS sepulang sekolah minggu. Dia senang sekali dan mengatakan mau
>melihat
>> >"dede"-nya di RS. Saya tidak bisa bilang apa-apa selain mengiyakan anak
>> >saya
>> >itu, padahal dalam hati saya menangis mendengarnya.
>> >
>> >
>> >Setiba di RS, sudah ada seorang sahabat dekat saya bersama istrinya
>datang
>> >menjenguk. Walaupun kondisi sahabat saya ini masih kurang baik karena
>> >sekitar bulan lalu terkena stroke, tapi dia tetap meluangkan waktunya
>untuk
>> >memberi selamat pada kami. Kami sungguh bersyukur punya sahabat yang
>begitu
>> >memperhatikan. Saya tidak mau merepotkan sahabat saya lebih banyak lagi,
>> >sehingga saya tidak memberitahu dia akan keadaan anak kami.
>> >
>> >
>> >Anak pertama saya penasaran dan terus menanyakan keadaan adiknya. Saya
>> >beritahu bahwa adiknya belum boleh dibesuk, karena kondisinya dianggap
>> >prematur. Untunglah dia punya cukup pengertian, sehingga saya tidak
>terlalu
>> >bersusah hati menjelaskan.
>> >
>> >
>> >Sepanjang hari ini saya lebih mengorientasikan waktu yang ada untuk
>melihat
>> >Timmy. Beberapa kali saya menengok Timmy. Saya lihat kesehatannya hari
>ini
>> >lebih baik dari kemarin. Napasnya jauh lebih teratur dan dia bisa tidur
>> >dengan pulas. Ah Tuhan, bila Kau ijinkan Timmy bertahan, sembuhkanlah
dia
>> >secara total karena kasihan sekali bila si kecil ini harus menanggung
>> >derita
>> >sakit penyakit berlarut-larut. Begitu inginnya saya memeluk serta
>> >menggendong anak saya itu, pasti lebih lagi istri saya. Kasihan dia,
hari
>> >ini tetangga sebelah ranjangnya sudah mulai diberikan anaknya untuk
>disusui
>> >sedangkan dia hanya melihatnya saja. Tidak banyak tamu yang datang hari
>ini
>> >sehingga banyak kesempatan saya untuk bisa bercakap-cakap dengan istri
>> >saya.
>> >Hari ini dia belum bisa buang gas, jadi masih belum boleh makan dan
>minum,
>> >infusnya juga belum dicabut. Karena kondisi kesehatannya belum stabil
>> >itulah
>> >saya rasa belum waktunya untuk membicarakan masalah anak kami kepadanya.
>> >
>> >
>> >Hari Ketiga, Senin 10 April 2000
>> >
>> >Hari ini saya senang sekali melihat perkembangan kesehatan istri saya.
>dia
>> >sudah bisa buang gas tapi para suster belum memperbolehkan dia lepas
>infus
>> >dulu. Satu botol infus yang sedang dipakai harus dihabiskan dulu baru
>infus
>> >dapat dicabut. Sejak dari hari Sabtu hingga sekarang istri saya cuma
>minum
>> >air beberapa tetes saja hanya untuk membasahi bibir dan kerongkongan.
Dia
>> >begitu senang karena sudah normal kembali boleh makan dan minum. Air
susu
>> >istri saya juga sudah mulai keluar, karena itu tiap beberapa jam dia
juga
>> >mulai disibukkan memerasnya untuk disimpan di botol dan diserahkan ke
>> >suster
>> >agar dikirim ke tempat perawatan Timmy. Karena infus belum dicabut dan
>juga
>> >saya lihat dia masih kesakitan bekas operasinya, saya urungkan niat
untuk
>> >memberitahu istri tentang keadaan anak kami.
>> >
>> >
>> >Saya lihat hari ini Timmy buang air kecil, wah ... seperti air mancur.
>> >Maklum anak lelaki. Senang juga melihatnya, tapi saya juga melihat
>kondisi
>> >anak saya menurun hari ini. Napasnya agak tersengal dan tidurnya pun
agak
>> >gelisah. Bilirubin anak saya juga tinggi hari ini, sehingga dia mulai
>> >disinar. Tubuhnya yang masih sangat kecil itu belum juga bertambah
>beratnya
>> >hingga hari ini. Beberapa kali saya menengok anak saya. Ada suster jaga
>> >yang
>> >baik, dan ada yang agak judes karena mungkin merasa agak terganggu oleh
>> >saya
>> >yang sering bolak-balik ke tempat itu.
>> >
>> >
>> >Melihat perkembangan kesehatan anak saya yang bukannya positif tapi
malah
>> >negatif, saya hanya dapat mendoakannya. Saya tetap yakin bahwa Tuhan
tahu
>> >yang terbaik, dan Ia juga bekerja dalam segala perkara untuk
mendatangkan
>> >kebaikan bagi saya. Saya tidak berharap banyak untuk dapat mengetahui
>> >rencana Tuhan, tapi saya sungguh mengharapkan dapat dikuatkan dan
>menerima
>> >apapun yang Tuhan rancangkan dalam hidup saya dan apapun itu, pasti
bukan
>> >rancangan yang buruk atau rancangan kecelakaan. Saya juga berharap besok
>> >bisa memberitahu istri saya akan keadaan anak kami ini dan meminta
hikmat
>> >dari Tuhan agar dapat dengan bijak dan dapat pula menguatkan istri saya.
>> >
>> >
>> >Hari Keempat, Selasa 11 April 2000
>> >
>> >Hari yang ditunggu-tunggu untuk memberitahukan keadaan Timmy pada istri
>> >saya
>> >tiba. Saya sangat menghawatirkan istri saya, takut kalau-kalau ia
>> >terguncang
>> >dan sangat sedih sehingga membuat kesehatannya terganggu. Saya mula-mula
>> >bingung harus mulai dari mana mengatakannya dan kapan saat yang tepat
>untuk
>> >membicarakannya. Tapi sungguh, Tuhan menolong dan menyiapkan segalanya.
>> >Pada
>> >sore hari sekitar jam 16.30 saya punya kesempatan berdua dengan istri.
>Saat
>> >itu tetangga sebelah kiri istri saya sudah pulang tadi pagi, sedangkan
>yang
>> >sebelah kanan sedang mandi. Mama mertua saya sedang turun membeli
>sesuatu.
>> >Sebelum mulai berbicara, saya berdoa dalam hati, "Ya Tuhan Yesus,
>tolonglah
>> >saya !".
>> >
>> >
>> >Istri saya menangis mendengar cerita saya tentang Timmy, tapi dia
sungguh
>> >adalah istri yang sangat tabah hati. Saya katakan, besok pagi kita semua
>> >akan menengok keadaan Timmy, juga anak pertama kami boleh melihat
adiknya
>> >yang belum pernah dilihatnya selama ini. Saya sangat bersyukur karena
>hari
>> >ini kami sebagai suami istri sudah bisa berbagi di dalam mengatasi
>masalah
>> >keluarga dan dengan kekuatan dari Tuhan, kami sanggup mengatasinya. Saya
>> >sungguh lega karena beban yang saya pikul sendiri sejak dari hari Sabtu
>> >yang
>> >lalu, akhirnya dapat kami share bersama. Setelah itu, bersama kami
>> >membawanya di dalam doa, dan menyerahkannya pada Tuhan Yesus yang kami
>> >yakin
>> >mengerti apa yang terbaik bagi kami semua.
>> >
>> >
>> >Hari Kelima, Rabu 12 April 2000
>> >
>> >Hari ini sesuai dengan rencana, saya mengajak istri dan anak pertama
saya
>> >untuk melihat keadaan Timmy. Kami menjenguknya setelah jam besuk pagi
>> >berakhir agar tidak terlalu menyolok perhatian orang-orang lain yang
juga
>> >membesuk. Saya mendorong istri saya yang duduk di kursi roda, karena
>memang
>> >tempat perawatan Timmy yang agak jauh dan istri saya juga baru bisa
>> >berjalan
>> >perlahan-lahan sekali. Anak pertama saya sangat senang sekali membantu
>> >mendorong mamanya. Dalam hati, saya terus berdoa agar Tuhan menolong
>istri
>> >saya, supaya dia bisa kuat dan tabah dalam menghadapi semua ini.
>> >
>> >
>> >Saya sadar, pasti istri saya sangat prihatin dengan kondisi Timmy dan
>> >sangat
>> >ingin menggendong dan memeluk anak yang baru saja dilahirkannya itu.
Saya
>> >minta kekuatan dari Tuhan agar saya dapat dikuatkan dan juga membantu
>> >menguatkan istri saya, yang saat ini pasti sangat lemah baik secara
fisik
>> >maupun mental. Sayapun berdoa terus agar Tuhan menjadikan istri saya
kuat
>> >dan sanggup bertahan di badai yang sedang melanda keluarga kami ini.
Saya
>> >yakin, saat itu juga Tuhan menjawab doa saya dan meluluskan permintaan
>> >saya,
>> >karena saya dapat langsung melihat dan merasakan ketabahan istri saya
>yangs
>> >sungguh diluar perkiraan saya saat itu. Dia hanya sedikit menitikkan air
>> >mata, dan cepat-cepat menghapusnya agar tidak membingungkan anak pertama
>> >kami. Anak pertama kami belum dapat memahami kondisi adiknya, jadi dia
>> >tidak
>> >banyak bertanya. Terima kasih ya Tuhan, atas segala kebaikkanMu.
>> >
>> >
>> >Sekitar setengah jam lebih kami berada di tempat itu, kemudian kami
>kembali
>> >ke tempat perawatan istri saya. Tidak lama kemudian anak pertama kami
>> >pulang
>> >bersama saudara istri saya. Setelah makan siang, istri saya memompa air
>> >susunya dan saya membawanya ke tempat Timmy. Saya sangat terkejut
melihat
>> >kondisi Timmy yang sangat merosot bila dibandingkan dengan tadi pagi.
>> >Napasnya sangat susah dan diapun menangis disela-sela desahan napasnya
>yang
>> >sulit itu. Saya sangat sedih melihat hal itu, tapi tidak ada yang dapat
>> >saya
>> >lakukan untuk membantu. Hanya doa yang dapat saya naikkan pada Tuhan,
>> >karena
>> >Dia adalah Allah yang bukan hanya mengerti tapi juga Allah yang peduli.
>> >
>> >
>> >Saya berlari kembali ke tempat perawatan istri saya, dan membicarakan
>> >kondisi Timmy padanya. Istri saya menangis tapi tidak berlama-lama. Saya
>> >minta dia mendoakan anak kami dan saya segera kembali ke tempat Timmy.
>> >
>> >
>> >Saya terus mendampingi anak saya dari sejak saat itu. Saya diijinkan
>untuk
>> >memasukkan tangan saya ke kotak inkubator anak saya. Baru saat itulah
>saya
>> >dapat menjamah anak saya sejak dia dilahirkan empat hari yang lalu.
Siang
>> >itu dokter anak saya datang dan saya berkonsultasi dengannya. Dokter
>> >memeriksa kondisi anak saya dan mengatakan bahwa agak sulit bagi anak
>saya
>> >untuk bisa bertahan. Setelah dokter pergi, saya hanya bisa menangis,
>berdoa
>> >dan menyanyi pada saat itu. Saya menangis bukan karena menyesalkan semua
>> >ini, tapi saya minta Tuhan mengasihani anak saya agar dia tidak
menderita
>> >berlarut-larut. Saya berdoa, bila memang Tuhan mau sembuhkan anak saya
>> >biarlah Timmy bisa sembuh total, tapi kalaupun rencana Tuhan lain
biarlah
>> >penderitaannya tidak berkepanjangan. Saya juga menyanyikan lagu-lagu
yang
>> >dapat menguatkan, menghibur dan agar saya dapat lebih berserah bersandar
>> >pada kekuatan Tuhan. Dari sekitar banyak lagu-lagu yang saya nyanyikan,
>ada
>> >dua yang sangat berkesan dan sangat menguatkan saya yaitu:
>> >
>> >
>> >1. Mataku Tertuju PadaMu. Kata-katanya adalah :
>> > Mataku tertuju padaMu, segnap hidupku kusrahkan padaMu
>> > Bimbing aku masuk rencanaMu, tuk membesarkan kerajaanMu
>> > Ku mau mengikuti kehendakMu ya Bapa, ku mau slalu menyenangkan
>hatiMu
>> >
>> >2. Bapa Surgawi. Kata-katanya adalah :
>> > Bapa Surgawi, ajarku mengenal betapa dalamnya kasihMu.
>> > Bapa Surgawi, buatku mengerti betapa kasihMu padaku.
>> > Semua yang terjadi di dalam hidupku, ajarku menyadari Kau selalu
>> >sertaku.
>> > Bri hatiku slalu bersyukur padaMu, karna rencanaMu indah bagiku.
>> >
>> >Sampai sekitar jam 17.00 sore saya terus menangis, berdoa dan menyanyi.
>> >Saya
>> >melihat anak saya sudah lebih tenang dan dapat tidur dengan pulas.
>Napasnya
>> >sudah lebih teratur, dan dia sudah tidak menangis lagi. Saya bersyukur
>pada
>> >Tuhan dan memasrahkan anak saya ini padaNya. Melihat keadaan yang
>membaik,
>> >ibu suster jaga juga senang, dan dia menganjurkan saya untuk melihat
>> >kondisi
>> >istri saya sambil meyakinkan saya bahwa anak saya pasti akan dijaganya
>> >dengan baik. Saya sudah lebih tenang ketika saya meninggalkan anak saya
>> >untuk melihat keadaan istri saya.
>> >
>> >
>> >Waktu bertemu dengan istri saya, saya menceritakan kondisi anak saya dan
>> >juga mengatakan apa yang dokter katakan pada saya, bahwa kemungkinan
>untuk
>> >Timmy bertahan sangat kecil. Organ tubuhnya di bagian dalam sudah banyak
>> >kelainan dan komplikasi. Istri saya walaupun sangat sedih, tapi pada
>> >akhirnya dapat memasrahkan Timmy pada Tuhan. Hanya beberapa saat setelah
>> >dia
>> >menyatakan penyerahannya pada Tuhan atas diri Timmy, suster memanggil
>saya
>> >untuk segera ke tempat perawatan anak saya itu.
>> >
>> >
>> >Sesegera mungkin saya berlari dan ketika saya tiba, saya langsung
>> >menghampiri anak saya. Saya berkata padanya, "Timmy, ini papa. Pulanglah
>ke
>> >rumah Bapa yang di Sorga. Papa dan mama sudah merelakanmu. Selamat jalan
>> >Sayang." Masih ada dua kali Timmy menarik dan menghembuskan napasnya,
>untuk
>> >kemudian diam selama-lamanya.
>> >
>> >
>> >Mata saya hanya sedikit berkaca-kaca. Tidak banyak lagi air mata yang
>> >tersisa, karena memang sudah sangat banyak yang terbuang sejak siang
>tadi.
>> >Walaupun demikian, ada kelegaan yang Tuhan berikan di tengah badai duka
>> >yang
>> >sangat hebat melanda saat itu. Seolah saya dapat merasakan seperti yang
>> >Timmy rasakan, yaitu fisik yang sangat berasa sakit kemudian tidak lagi
>> >terasa sakit, bahkan terasa sangat ringan dan nyaman. Terima kasih
Tuhan,
>> >walaupun saya sangat berduka tapi Tuhan sudah mengangkat segala
kesakitan
>> >dan penderitaan anak saya. Saya juga sangat yakin, bahwa Timmy saat ini
>> >juga
>> >sudah bersama-sama dengan Bapa yang di Sorga.
>> >
>> >
>> >Penutup
>> >
>> >Lima hari bersama Timmy mengajarkan pada saya banyak hal. Hal
pembaharuan
>> >penyerahan diri saya kepada Tuhan. Hal untuk menyadari bahwa Tuhan
selalu
>> >ada dan memberi kekuatan pada saat kita membutuhkan. Hal bahwa Tuhan itu
>
>> >sangat baik. Hal bahwa seharusnya kita dapat berkata seperti Ayub
berkata
>> >"Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan !". Hal
>> >bahwa bila kita sepenuhnya berserah pada Tuhan, kita akan menerima
>limpahan
>> >kekuatan dan kecukupan untuk dapat menanggung segala perkara yang harus
>> >kita
>> >tanggung, seburuk apapun perkara itu. Saya sangat bersyukur karena Tuhan
>> >sudah mengabulkan semua kerinduan saya untuk bisa lebih mengenal dan
>> >mengerti kasih Tuhan, serta menyadari rencana Tuhan yang indah bagi
saya,
>> >seperti lagu Bapa Surgawi yang sering saya nyanyikan.
>> >
>> >
>> >Saya tuliskan semua yang saya alami dan rasakan ini, supaya bila suatu
>saat
>> >saya lupa atau merasa sulit untuk bersyukur kepada Tuhan, saya dapat
>> >membacanya, sehingga kembali diingatkan akan kebaikanNya dan dapat
>> >bersyukur
>> >padaNya selalu apapun yang terjadi. Saya juga berharap tulisan ini dapat
>> >menjadi berkat bagi semua yang membacanya. SEGALA PUJI, HORMAT DAN
SYUKUR
>> >ADALAH HANYA BAGI TUHAN SELAMA-LAMANYA. Amin.
>> >
>> >
>> >Note
>> >
>> >Tulisan ini disampaikan oleh Sdr. Tjiong Kim Gwat (M'ben) kepada saya
>untuk
>> >sharing dan boleh disebar-luaskan untuk bahan kesaksian. Sdr. Tjiong Kim
>> >Gwat adalah aktivis, koordinator Vocal Group kami di GKI Samanhudi dan
>> >telah melayani sejak lebih 25 tahun yang lalu. Terima kasih buat semua
>pembaca,
>> >semoga menjadi berkat yang juga menguatkan disaat kita mengalami
>hari-hari
>> >yang sulit.
>

Hosted by www.Geocities.ws

1