|
Dalam kesempatan ini saya mau menyaksikan pengalaman
pribadi saya dengan Yesus. Seperti biasanya setiap malam minggu
kami dari kaum pria GPdi mengadakan kebaktian keluarga dari
rumah ke rumah.
Pada sore ini sebenarnya sudah ada bisikan Roh Kudus untuk
lebih cepat berangkat, tapi dasar saya ini keras kepala, saya
tidak hiraukan. Saya berangkat dengan menumpang taksi (sebenarnya
angkot), di tengah jalan hujan turun sangat deras, akhirnya saya
tahu bahwa inilah maksud Tuhan, sayapun mulai meyesali tapi
sudah terlambat. Saya turun dihalte dan tidak dapat
meneruskan dengan berjalan kaki, antara halte dengan rumah
tempat ibadah sekitar 400meter, harus ditempuh dengan berjalan
kaki, saya sudah berputus asa, saya akan gagal beribadah pada
malam itu, beitu pikirku. (Tiba tiba saya diingatkan oleh
kesaksian dengan jemaat yang melakukan penginjilan dipendalaman,
disaat mereka sedang beribadah dan tiba-tiba hujan mau turun,
mereka berseru kepada Tuhan agar hujan tsb tidak membasahi
mereka, Puji Tuhan doa mereka dijawab Tuhan hujan boleh
turun tapi tidak bisa menembus atap yang bolong-bolong yang
terbuat dari daun, mereka bisa teruskan ibadah dengan suka cita).
Ok, saya berkata dalam diri saya, sayapun akan minta kepada
Tuhan agar hujan berhenti dan saya bisa sampai di tujuan dan
dapat beribadah. Dengan seorang diri di halte, saya mulai
naikkan pujian mengangkat tangan menyembah dan sayapun berdoa
didalam nama Yesus agar hujan berhenti. apa yang terjadi semakin
saya berdoa semakin hujan lebat, dan semakin saya berdoa dan
hujanpun semakin lebat.
Aduh bagaimana ini Tuhan......Akhirnya saya bilang sama Tuhan
kalau ini memang kehendak Tuhan .. bahwa saya minta hujan reda
tapi Tuhan malah memberi hujan lebih lebat biarlah kehendak
Tuhan yang terjadi.
(Kemudian saya ingat : Iman harus ada tindakan).
Ok, saya akan mulai.
Dalam nama Yesus, hujan reda! dan saya melangkah...., saya turun
dari halte kemudian saya turunkan kaki saya satu, saya lihat
keatas ko' tidak ada perubahan (padahal saya sudah bertindak
dengan menurunkan kaki saya satu sebagai tindakan awal). Karena
kaki saya sudah mulai basah saya naikkan lagi dan masuk kehalte
lagi.
Akhirnya saya pasrah saja seorang diri di halte itu.
Sekitar lima menit dari saya berdoa dan berpasrah diri, eh
tiba-tiba ada mobil pickup yang meluncur dan berhenti di halte
tersebut, pintu samping dibuka dan disodorkan payung, saya
jadi heran apa maksudnya ini, saya mulai mendekat untuk
mengetahui siapa sih yang ada didalam mobil ini, dari dekat saya
mengetahui bahwa dia adalah jemaat juga yang mau ikut ibadah,
lalu saya menyambut payung dan masuk kedalam mobil tersebut.
Dengan sukacita dan kelegaan sayapun bisa ikut dalam
ibadah kaum Pria tersebut. Ibadahpun dimulai dengan doa
penyembahan, saya renungkan akan peristiwa tadi, kenyataannya
Tuhan menjawab doa saya, bahwa sejak saya berdoa minta hujan
berhenti sebenarnya Tuhan sudah langsung mengerakkan saudara
tadi untuk membawa kendaraan. Dan saya pun bersaksi tentang
kejadian tsb dan saudara kita tsb juga bersaksi bagaimana Tuhan
menggerakkan dia untuk harus beribadah pada malam itu dengan
menbawa kendaraan.
Setelah saya renungkan cinta kasih Tuhan dari kesaksian ini
maka saya dapat kesimpulan:
- Yang saya butuhkan pada saat itu sebenarnya bukan hujan
berhenti, tapi bagaimana saya bisa sampai ke tujuan tanpa
basah kuyup.
- Tenggang waktu dari saya berdoa sampai mobil pickup
berhenti sekitar 5 menit, ini sama dengan saat Tuhan
menggerakkan jemaat yang punya mobil berangkat sampai
dihalte membutuhkan waktu 5 menit.
- Tuhan menberi yang terbaik menurut kehendakNya.
Salam Sejahtera
Mulyono
|