|
Berhubungan dengan roh
Pada tingkat ilmu tertentu, saya sudah dapat
berkomunikasi dengan roh-roh. Tidak hanya sekedar komunikasi,
bahkan roh-roh itu ada dalam kuasa saya. Saya dapat
mengendalikan mereka.
Saya suruh satu-dua roh untuk pergi
bergelantungan di tubuh seseorang, sampai orang itu merasakan
kesakitan. Kalau saya mau sampai ia jatuh sakit, bahkan mati.
Tapi sampai tingkat jatuh sakit tidak pernah saya lakukan.
Melihat roh-roh itu bisa tunduk sudah merupakan suatu kebanggaan.
Jadi berhubungan dengan dunia roh itu adalah hal biasa. Dan saya
kira setiap taipak atau paranormal, berhubungan dengan dunia roh/gaib
adalah kegiatan sehari-hari.
Berjalan diatas bara api
Untuk masa kini, melihat orang berjalan di atas
bara api, bukan lagi tontonan baru. Tapi pada tahun-tahun 70-an
sampai 80-an, melihat orang berjalan diatas bara api masih
merupakan tontonan yang mendebarkan.
Itulah yang saya lakukan. Apa yang saya baca
dibuku-buku silat Cina dulu, kini saya mempraktekan sendiri.
Saya berjalan-jalan dengan bebas di atas bara api.
Bara itu ditaruh di wadah sepanjang 5 meter
dengan ketebalan bara kira-kira 20 cm. Kalau diinjak,
pergelangan kaki akan masuk seluruhnya. Bagaimana saya bisa
melakukannya tanpa merasa kepanasan? Itulah ke-saktiannya.
Roh-roh itu sangat berperan di sini. Sebelum bara di injak, saya
cabut kekuatan api atau panasnya api. Ini berkat bantuan roh-roh
tadi.
Di hari-hari raya China, biasanya pertunjukan
seperti ini diadakan 25 tahun sekali. Tapi saya dan teman-teman
dapat melakukannya tiap hari. Kami anggap itu adalah main-main
saja, seperti anak-anak bermain petak umpet.
Disiram minyak mendidih
Hampir sama seperti berjalan di atas api.
Disiram minyak mendidih, badan saya tidak melepuh. Dihadapan
orang, memang nampak minyak itu panas. Tapi mereka tidak tahu,
sebelum minyak panas disiramkan, panasnya minyak sudah saya
cabut.
Memang ngeri bagi orang lain. Tapi ini merupakan
permainan yang menyenangkan.
Apalagi pengalaman saya dalam 20 tahun menjadi
pengikut Dewi Kwan Im? Masih ada. Saya bisa raib. Orang tidak
dapat melihat saya, meskipun saya ada di antara mereka. Selain
itu, saya juga bisa memanggil seseorang secara diam-diam dan
orang itu akan datang pada saya secara diam-diam pula. Kalau
saya berdiri 50 meter di belakang Anda dan Anda tiba-tiba
menoleh pada saya, ketahuilah, saya telah menyuruh satu roh
untuk "menarik" kuping Anda ke samping, agar bisa
melihat saya.
Im Yang
Inilah ilmu terakhir yang saya pelajari, bahkan
saya "ciptakan" sendiri, yaitu Im Yang. Ilmu ini dapat
dikatakan sangat berbahaya, kalau kita sengaja memanfaatkannya
secara keliru. Im Yang bisa menolong orang, bisa juga membunuh
orang.
Untuk menguasai Im Yang, saya harus mengumpulkan
12 tengkorak kepala anak kecil, 6 laki-laki dan 6 perempuan. Dan
itu artinya saya harus menyantet 12 anak-anak, untuk memperoleh
tengkorak mereka. Tetapi belum lagi ilmu itu terwujud, saya
mengalami sesuatu yang mengubah seluruh sisa hidupku.
Dewa orang Kristen
Dalam sebuah buku Meditasi, disebutkan bahwa
agama To, yaitu agama saya, memiliki banyak dewa. Selain Dewi
Kwan Im, ada dewa yang bernama Goan Shie Thian Chun, Thai Sang
Lo Khun dan Yo Ong Po Sat. Dewa-dewa ini adalah raja dibidangnya
masing-masing.
Dalam buku meditasi itu ternyata ada nama Yesus.
Yesus disana ditulis sebagai dewanya agama Kristen. Tidak banyak
yang ditulis tentang Yesus, itu sebabnya saya menganggap Yesus
itu tidak lebih hebat dari Dewi Kwan Im atau dewa-dewa lain
tersebut diatas. Bahkan ketika saya membaca Alkitab, saya
menjadi sangat benci dengan nama Yesus itu.
Dikatakan dalam buku Meditasi itu, kalau orang
beragama Budha, Khong Hu Cu atau To, mereka boleh memanggil
dewa-dewa tersebut diatas untuk meminta pertolongan. Tapi bagi
yang beragama Kristen, dapat memanggil nama Yesus.
Papa sakit jantung
Tanggal 30 Nopember 1987, Papa saya mendadak
sakit jantung dan segera dibawa ke Rumah Sakit Gunung Wenang
Manado, langsung dimasukan ke Ruang Gawat Darurat (ICU) karena
kondisinya sudah koma. Kalau orang normal, detakan jantungnya
70, tapi Papa 140.
Ada dua dokter yang menangani penyakit Papa.
Begitu melihat angka 140 di layar monitor, dokter yang satu
berkata, Papa tidak ada lagi harapan. Saya mulai takut, tapi
saya tidak putus asa karena saya belum memanggil dewa-dewaku.
Dari 140, tiba-tiba naik secara mendadak menjadi
172. Dokter yang lain datang dan berkata, Papa dibawa pulang
saja, apa saja yang Papa minta dituruti saja.
Tidak! Masih ada waktu bagiku untuk memanggil
dewa-dewaku. Saya mundur beberapa langkah ke belakang dan
bersemedi. Saya mengucapkan mantra-mantra, memanggil dewa Goan
Shie Thian Chun. Dalam ilmu Cina yang saya pelajari, Goan Shie
Thian Chun adalah raja ilmu. Saya minta dia, dengan segala ilmu
yang kumiliki, agar dapat menolongku untuk menyembuhkan Papa.
Tapi tiada jawaban.
Saya panggil dewa yang lain, yaitu Thai Sang Lo
Kun. Dia adalah raja doa. Saya minta supaya dia menjawab doaku,
yaitu menyembuhkan Papa. Tapi tidak ada tanggapan. Papa terkapar
tak berdaya.
Dewa Yo Ong Po Sat adalah raja obat. Saya
panggil nama Yo Ong Po Sat agar bertindak segera. Papa sedang
gawat. Saya meditasi dengan berkeringat. Saya ucapkan
mantra-mantra, tapi dewa yang kusanjung hanya membisu.
Terakhir saya panggil Dewi Kwan Im. Ini dewa
terakhir yang menjadi tumpuan harapan. Setelah ini tidak ada
lagi dewa yang saya miliki. Tapi sama saja dengan yang lain.
Tidak ada reaksi. Detakan jantung Papa di layar mo-nitor masih
tetap 172.
Saya heran. Ke mana perginya segala ilmu yang
kupelajari selama 20 tahun menjadi pengikut Dewi Kwan Im?
Mengapa dulu saya begitu sakti, namun kini kesaktian itu hilang?
Saya menangis. Saya kecewa, untuk apa 20 tahun
saya menghabiskan banyak waktu di Klenteng untuk bersemedi,
bertapa dan belajar bermacam-macam ilmu sakti? Bukankah dalam
buku Bersemedi, kita boleh memanggil dewa yang sesuai dengan
agama kita bila membutuhkan pertolongan?
Rasanya saya ingin memanggil nama Yesus, tapi
Dia bukan dewa saya. Dia dewanya orang Kristen, lagi pula Yesus
adalah dewa yang paling ku benci. Tidak mungkin aku memanggilNya,
selain itu Yesus belum tentu lebih hebat dari Dewi Kwan Im.
Papa tergeletak bagaikan mayat. Apa lagi yang
harus ku lakukan? Segala upaya telah dilakukan? Segala upaya
telah dilakukan. Tapi angka 172 tak juga mau beranjak turun.
"Yesus", kataku tiba-tiba, "kalau
Engkau mau menyembuhkan Papaku, aku mau menjadi pengikutMu"
lanjutku. Aku kembali mendekati tempat tidur, dimana Papa
tergeletak. Tak sengaja mataku terbelalak melihat kelayar
monitor. Dari angka 172 mulai bergerak turun, 171, 170, 169,
168….terus turun sampai 160. Turun lagi 150. Persis diangka
148, teriakan Papa mengejutkan semua yang ada di ruangan itu.
"Aku hidup lagi’, teriak Papa, sambil menggerakan
tubuhnya, seolah ada sesuatu yang baru saja masuk ke dalam tubuh
itu.
Mengapa Papa berkata "Aku hidup lagi"
? Apakah tadinya dia sudah mati? Saya tidak terlalu
memperdulikan itu, sebab aku sendiri belum hilang dari rasa
terkejut. Beberapa menit yang lalu aku masih memohon-mohon
kepada dewa Goan, dewa Thai, Yo dan Dewi Kwan Im. Aku tidak
menyangka secepat ini aku menjadi pengikut Yesus, sesuatu yang
tak pernah terpikirkan kemarin, tadi pagi sampai sejam yang lalu.
Secepat inikah aku beralih keyakinan? Apakah dewa-dewa itu tidak
akan murka kalau aku membelot?
Dibaptis
Melihat Papa sudah sembuh, malam saya tidak bisa
tidur. Bukan karena stress, tapi saya sangat bahagia, terkejut
dan kagum sudah bercampur baur. Bagaimana mungkin saya menjadi
Kristen hanya dalam sekejab.
Tiga minggu setelah mujizat di RS Gunung Wenang,
Manado itu, saya memberi diri dibaptis (selam) di Gereja
Pantekosta di Indonesia (GPdI) Manado.
Pengalaman yang menakjubkan ini setiap kali saya
saksikan di gereja-gerja atau persekutuan doa, kapanpun saya
sempat menyaksikannya.
Meskipun saya sibuk di kantor (Bapak Eddy Tatimu
adalah Direktur PT. Innimexintra Jakarta- Red) tapi tiap kali
ada undangan kebaktian, saya selalu sempatkan diri untuk
menyaksikan kemurahan Tuhan pada saya ini. Tentu saja saya harus
pandai –pandai mengatur waktu antara kerja dan pelayanan,
supaya tidak ada pihak yang dirugikan.
Waktu saya terima Yesus, istri saya juga, Thio
Mei Lin ikut terima Yesus, bersama dua anak kami, Stanley Tatimu
dan Cicilia Tatimu, yang kini sudah beranjak remaja. Saya
berbahagia karena anak dan istri saya sangat mendukung saya,
tidak hanya dalam pekerjaan, tapi juga dalam pelayanan.
|