|
Buat saudara-saudaraku yang
terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Anak-anak yang kita miliki adalah
anugerah yang indah dan luar biasa. Namun membesarkan, merawat
dan menjaga anak di tengah dunia yang menuju kehancuran ini
tidaklah mudah. Apalagi bagi kita yang bekerja, waktu yang kita
bisa berikan buat mereka amatlah terbatas. Kalau kita tidak
pernah bisa mengawasi 24 jam sehari 7 hari seminggu, kita harus
yakinkan ada orang lain yang kita percaya untuk merawat mereka.
Percaya 100% itu amatlah jarang, kalaupun ada yang kita percaya
untuk merawat keperluan jasmani anak, ada kekuatiran lain dengan
perkembangan psikologis anak yang cenderung mengikuti orang yang
merawatnya.
Berangkat dari keadaan di atas,
tidak ada jalan lain kecuali kita serahkan anak-anak kita dalam
penjagaan Allah. Serahkan anakMu pada Tuhan, kalau di gereja
Saudara tidak ada acara penyerahan anak, serahkan dia dalam doa
pribadimu bersama suami/istrimu.
Berikut kesaksian dan pengalaman
saya, dalam menyerahkan anak saya, Jean Benedict (Benny) Nugroho,
setiap hari dalam perlindungan Allah.
Sebelum anak saya lahir, bahkan
sebelum istri saya hamil, saya sudah minta agar Tuhan beri saya
anak laki-laki. Belajar beriman ceritanya. Satu saat saya lewat
toko buku Gramedia, dan saya segera mengajak istri saya mampir
untuk melihat buku nama-nama anak. Mencari nama yang masuk rekor
tercepat saya kira, karena begitu saya lihat nama dan artinya
dekat dengan kasih atau anugerah langsung saya tunjuk, dan
katakan pada istri saya, "yang ini bagus ya?". Nama
depan dan tengah segera kami dapatkan dalam tempo kurang dari 15
menit, istri saya catat. Jadi kami hemat biaya beli buku
nama-nama anak.
Sejak hamil (setelah 3 bulan di
USG ternyata memang Tuhan beri laki-laki, lho!), setiap pagi dan
malam hari, kami selalu doa bersama bergantian, pagi saya berdoa,
malam giliran istri saya. Dalam doa kami, kami selalu
menyebutkan nama kecil calon anak kami ini: Benny. We always
call him by his name. Dan setiap hari saya tumpang tangan ke
atas perut istri saya memberkati Benny. Saya tidak peduli
pendapat dokter yang menyatakan bahwa pendengaran anak mulai
terbentuk usia 6 bulan ke atas.
Saya ingat Musa yang tidak pernah
mendengar firman Tuhan sejak bayi sampai dewasa, di besarkan di
Mesir. Namun ternyata roh Allah bersama dia dan dia tahu firman
Allah, tidak ada kesempatan lain dia mendengar kecuali saat
dalam kandungan.
Waktu anak saya lahir, tidak ada
tanda-tanda kelainan. Semua berjalan baik, 5 hari sesudah lahir,
kami boleh pulang dengan bilirubin Benny 5. Biasanya acuan RS,
bila bilirubun bayi <10, bayi diperbolehkan pulang. 2 hari
kemudian, kami periksa kembali dan bayi dinyatakan sehat,
diminta 2 hari lagi datang tapi sebelumnya periksa darah. Jadi 2
hari kemudian kami periksa darah Benny, dan hasilnya kami bawa
ke dokter tsb. Sangat mengagetkan kami karena ternyata bilirubin
Benny meningkat drastis jadi 17,9. FYI, bayi kemungkinan
mengalami kelainan syaraf otak bila bilirubin >20. Jadi Benny
sudah dinyatakan kritis, langsung opname dan diterapi blue
light. Kapasitas untuk NICU (ruang gawat darurat bayi) sudah
penuh, tapi dokter minta bagaimana caranya kalau bisa blue light
dilakukan 2 in 1 (mestinya untuk 1 bayi, jadi untuk 2 bayi).
Malam itu juga langsung albumin (orang sering sebut plasma) di
berikan. Apa yang terjadi keesokan harinya? Bilirubin Benny
justru meningkat jadi 19,5.
Bersambung
|