Rr. Murtiningrum
Prawirorejo,
Memang tak banyak yang berziarah ke makamnya
di belakang Gedung Nasional Indonesia, Jalan Bubutan 85 Surabaya. Namun
di
Ingat Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei, teringat pula pada kisah perjuangan Dr Soetomo, tokoh nasional yang dikenal sebagai bapak Pergerakan
Nasional.
Dokter lulusan STOVIA itu telah mendirikan
perkumpulan Budi Utomo (Boedi Oetomo)
pada 20 Mei 1908 yang kemudian menjadi embrio perlawanan intelektual pada kaum penjajah. Dari
Memang tak banyak yang berziarah ke makamnya
di belakang Gedung Nasional Indonesia, Jalan Bubutan 85 Surabaya.
Namun di
Ibu Murti, sapaan akrab Murtiningrum,
tampaknya melakukan semuanya dengan sangat tulus. Bahkan
ia berjanji akan terus memberikan
pengabdiannya sampai habis sisa umurnya.
“Sampai sisa umur ini habis,
saya tetap akan mengabdi
pada Pak Tom (Dr Soetomo). Sebab ini merupakan wasiat
dari ayah saya, almarhum RM Achmad Prawirorejo,” tuturnya.
Ibu Murti yang kini berumur 61 tahun, hidup sebatang
kara. Ia memang belum pernah menikah.
Hidupnya sehari-hari hanya bertemankan belasan ekor kucing yang tampaknya juga menyayanginya. Di sebuah gubuk
yang hampir roboh di sebelah selatan
makam Dr Soetomo, di situlah Ibu
Murti tinggal.
“Saya punya 14 kucing, yang 9 ekor menemani saya di
rumah dan yang 5 ekor menemani saya
di makam Pak Tom ini,” tutur Ibu
Murti, saat ditemui di makam
Dr Soetomo.
Ibu Murti berkisah, ayahnya, RM Achmad Prawirorejo, merupakan salah seorang dokter
murid Dr Soetomo di sekolah kedokteran
STOVIA di Jalan Nias
Menjelang Pak Tom meninggal,
Achmad diberi wasiat agar selalu menjaga kebersihan makamnya, sehingga generasi bangsa ini akan
selalu mengenang perjuangan Pak Tom. “Wasiat
Pak Tom ini diteruskan oleh ayah kepada saya, dan saya
akan menjaga wasiat itu sampai
mati,” tekad Ibu Murti.
Karena wasiat itulah, Ibu Murti tidak
pernah mengeluh. Ia rela meninggalkan pekerjaannya sebagai guru SD swasta di
Uang sebesar itu, selain
dipakai untuk makan sehari-hari, juga untuk membeli
berbagai keperluan sarana kebersihan, seperti karbol, kain pel, sapu,
kemucing, dan lain-lain.
“Kalau bukan
saya, siapa lagi yang ngurusi makam Pak Tom. Saat ini perjuangan
Pak Tom hampir dilupakan.
Hanya saat-saat menjelang Hari Kebangkitan Nasional saja baru
banyak pejabat yang berkunjung,” kata Ibu Murti sambil
mengelus-elus Tutut, kucing jantan moncong
putih kesayangannya.
Pada masa kampanye menjelang Pemilu legislatif tahun 2004 lalu, lanjutnya, banyak di antara aktivis
dan pengurus partai politik datang berziarah ke makam Dr. Soetomo.
Saat berziarah, lanjut Ibu Murti,
di antara mereka ada yang menangis dan berlinang
air mata.
“Tetapi mereka melakukan itu hanyalah sebagai
propaganda di masa kampanye. Kalau mereka benar-benar
menghargai jasa pahlawan, mengapa hanya datang pada
masa kampanye saja? Buktinya, saat ini mereka tidak pernah
ke sini lagi,”
paparnya.
Saat bercerita itulah, tiba-tiba Ibu Murti
menghela napas panjang. “Terus terang, saya ini
hidup sebatang kara. Kalau
saya meninggal dunia nanti, siapa
yang akan mengurus makam Pak Tom? Apakah ada orang
yang mau menggantikan saya hanya dengan
imbalan Rp 160 ribu/bulan?” tanya
Ibu Murti. Sesaat terlihat matanya mulai berkaca-kaca.
Apakah Ibu cukup hidup
dengan Rp 160 ribu? “Jangan
pernah bilang tidak cukup, tetapi
berapa pun yang kamu terima harus cukup.
Itulah petuah ayah saya,” tuturnya mengenang kata-kata bijak almarhum ayahnya. Dalam hidupnya, lanjut Ibu Murti, ayahnya
selalu memberikan wejangan pada dirinya
agar selalu menikmati yang dimiliki.
Selalu Sumringah
Toh Ibu Murti
lega. Sebab sejak tahun
2002 lalu, makam Pak Tom telah direnovasi oleh Pemprop Jatim.
Sebuah keinginan yang telah ia
perjuangkan sejak lama, tetapi baru mendapatkan
jawaban pada akhir tahun 2001 lalu.
“Terus terang
bertahun-tahun saya mengajukan pada Pemkot
Tuhan benar-benar mengabulkan doa
Ibu Murti. Ia ingat
betul, saat itu, 20 Mei 2001, rombongan pejabat Pemprop Jatim dan
Pemkot Surabaya akan datang berziarah. “Saat itu turun hujan sangat
lebat menjelang kedatangan para peziarah. Lokasi sekitar makam
pun tergenang cukup tinggi. Ketika hujan reda dan rombongan peziarah
datang, banjir belum surut,” kenangnya.
Saat itu Gubernur Jawa
Timur Imam Utomo dan Walikota Surabaya Soenarto (Alm) menyaksikan sendiri kondisi sekitar makam. Dan, tanpa
diminta, gubernur langsung memerintahkan stafnya untuk segera
merenovasi makam.
“Saat itu
hati saya sangat lega, karena
doa saya terkabul. Yang terpenting,
pengabdian saya pada Pak Tom benar-benar membuahkan hasil. Kini makam ini benar-benar
bagus, asri, dan nyaman,” tambahnya.
Dr Soetomo lahir di desa
Ngepeh, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur
pada 30 Juni 1888. Ia meninggal dunia
30 Mei 1938, sehingga tidak dapat menyaksikan
bagaimana bangsa
Menurut Ibu Murti, meski meninggal
dunia sebelum
“Setiap dipotret, Pak Tom selalu tersenyum. Wajahnya sumringah. Bahkan saat
ia sakit dan menjelang meninggal,
ia tetap saja tersenyum,” kenangnya.
Karena itu, lanjutnya, potret wajah Pak Tom yang asli terus menghiasi
dinding kamar tamu rumahnya. “Di saat hati ini sedang
susah, saya akan memandang potret wajah Pak Tom. Saat itu rasanya hati
ini mulai terhibur, karena kalau kita memandang
potretnya, senyum Pak Tom benar-benar tampak nyata, seperti hidup,” kata Ibu
Murti bersemangat.
(DISINFOKOM JATIM)