MEDIA INFORMASI DARI DAN UNTUK WARGA NGANJUK DI JABODETABEK
INDONESIA
RUANG NOSTALGIA
Nonton Bareng Roedy Hartono
Jangan mengira acara nonton bareng yang marak sekarang ini beloem ada di jadoel (jaman doeloe). Itoe keliroe besar. Di akhir-akhir tahoen 60an dan awal 70an di Nganjoek masih jarang orang poenya TV hitam poetih apalagi TV warna dan antenanya poen amat tinggi. Antena parabola mana ada. Zaman itoe mulainya kejayaan jawara boeloetangkis kita yaitoe Roedy Hartono, ibaratnya pendekar silat yang baru muncul langsung mengalahkan lawan-2nya. Kalo zaman sekarang nonton bareng banyak dilakoekan di resto-2 atau cafe-2, maka kami waktoe itoe coekoep nonton bareng sambil berdiri di samping Pendopo Kabupaten Nganjoek bersama rakyat lainnya seperti tukang becak, tk. jualan makanan dll. TV hitamnya dipasang agak tinggi sehingga semoea penonton bisa melihat. Begitoelah zaman doleoe, merakyat tapi coekoep mengasyikkan.
Stadionkoe, stadionmoe....
Kawoela moeda Nganjoek sekarang moengkin kalo main bola di stadion Ploso. Itoe kalo ada yang hobi, sebab orang Nganjoek soeka nonton bola, tapi tak begitoe soeka main sepakbola. Makanya sejak zaman doeloe Persenga, klub bola di Nganjoek hanya tinggal nama tanpa gema tanpa suara. Apalagi sejak stadion Bogo yang didalam kota beralih menjadi Gedoeng Joeang 45. Doeloe teman-teman main bolanya di stadion Bogo ini. Joega di stadion ini sering didatangkan kloeb-kloeb bola beken, semisal Persebaya dengan pemain-pemain topnya kala itoe. Doeloe kami kalo pertandingan antar sekolah mainnya di aloen-aloen. Stadion Bogo tinggal kenangan, namoen stadion Ploso beloem menggeliat, malah yang sering boeat konser Dangdoet, yang nonton pemain Persenga?..he..he
Bisa Renang di Kali
Akhir tahoen 60an, kota Nganjuk beloem punya yang namanya kolam renang. Ndeso banget yah. Ya memang, saat itu Nganjoek cukup terbelakang. Kalo warga Nganjoek ingin belajar renang moesti pergi ke kolam renang Koewak Kediri ataoe Madioen. Baroe awal tahoen 70an Nganjoek poenya kolam renang di Kramat. Sebeloem ada kolam renang itoe, kami bersama teman-teman biasa belajar renang di dam kali Werungotok (Timur kota Nganjuk Utara makam Kristen), kadang di kali bawah jembatan KA seberang terminal bus Nganjoek yang baroe sekarang, ataoe ke seboeah belik di Bagor Selatan. Jadi sayang kalo kawoela moeda Nganjuk sekarang jarang yang ke kolam renang di Kramat itoe. Joega sayang kalo kolam renangnya sendiri nggak teroeroes.
Pasar Malam
Tahoen-tahoen setelah hoeroehara G30S/PKI tahun 1965, di Aloen-aloen Nganjoek sering diselenggarakan pasar malam rakyat dengan tiket masoek terjangkaoe. Maklum setelah tahoen yang mencekam penoeh darah rajapati berlaloe, masyarakat haoes akan hiboeran. Acara hiboeran yang digelar coekoep banyak, antara lain Wayang orang Tjipto Kawedar yang saat itoe sangat popoeler di Jatim, tong setan, komedi poetar, moesik band, permainan keberoentoengan, sirkoes dsb. Panggoeng band (zaman doeloe nama groep band sering pakai kata COMBO dibelakangnya, misalnya band Zainal Combo) ada dipojok aloen-aloen sebelah oetara depan LP, sedang WO Tjipto Kawedar berada di pojok oetara depan arca. Percaya ataoe tidak WO Tjipto Kawedar panggoengnya terbakar bahkan sampai doea kali. Coekoep mengenaskan. Dan itu menjadi tanda-tanda kemoendoeran groep WO ini. Bebarapa tahoen kemoedian WO ini pamornya semakin menoeroen dan akhirnya boebar tidak pernah bangkit kembali. Sayang sekali. Apalagi di zaman sekarang, seni tradisional seperti wayang orang, wayang koelit,loedroek, ketoprak, reyog, kentroeng dsb semakin langka penggemarnya. Bahkan kalaoe tidak ada yang poenya perhatian dan melestarikan niscaya akan poenah tinggal sejarah.
Layangan dan Budeng
1. Dulu, tahun 60-an, alun-alun nganjuk masih belum dibangun seperti sekarang. Yang ada wringin kurung di tengah dan pohon-pohon beringin serta asam di pinggirnya. Wah kalau musim asam kami anak-anak rebutan mengumpulkan. Di alun-alunnya sendiri dulu masih banyak yang main layangan dengan benang gelasan. Setiap orang punya "resep" sendiri untuk menggelas benang, yang jagonya salah satunya kalau tidak salah namanya Pak Darman. Ada yang masih ingat tidak?
2. Kalau dulu awal tahun 60-an kita naik mobil atau bus liwat Wilangan atau Saradan, waduh, buanyak sekali budengnya (semacam kera), sehingga harus pelan-pelan liwatnya. Tahun-berganti tahun ruang kehidupan mereka didesak oleh permukiman manusia, sehingga sekarang boleh dikatakan tidak ada lagi seekorpun kera di situ. Sayang, kan?
[Sumbangan bung S.Suwono,lagi tinggal di Jerman]
Bioskop Pakai Istirahat
Era 60-70an adalah masa jaya bioskop Jl Megantoro. Maklum TV, video masih langka di zaman itu. Bahkan pada awal masa keemasan Rudi Hartono sang maestro boeloetangkis kami bersama teman-teman terpaksa nonton TV oemoem hitam putih di samping pendopo kabupaten saat pertandingan Thomas Cup dimana Rudi di usia 17 tahoen secara mengejoetkan mengalahkan lawan-lawanya. Bioskop Megantoro adalah satoe-satoenya hiboeran malam di zaman itoe tak ayal setiap week end atau liboeran selaloe penoeh penonton. Yang sangat berkesan adalah, kala film sedang seroe-seroenya dipoetar tiba-tiba lampu penerangan menyala dan layar terpampang "ISTIRAHAT", bahkan bisa doea kali. Itoelah teknologi proyektor pemoetar film zaman doeloe yang sekarang tinggal kenangan, bahkan juga bioskopnya sendiri soedah lama almarhoem diterjang kemajoean zaman.
DAWET DUNGDET
Anda yang berada di Nganjuk era 70 an mungkin jadi pelanggan dawet Dungdet yang lokasinya deket kali Kedungpedet racikan seorang nenek, atau paling tidak pernah dengar keberadaannya yang cukup kesohor zaman itu. Dulu sehabis sekolah rasanya kurang mantap kalau belum menikmati dawet Dungdet. Sekarang dawet Dungdet tinggal kenangan selain karena tempatnya disebelah kali Kedungpedet sudah berubah menjadi perkantoran dan terminal bus, juga tidak diwariskan kepada anak cucu untuk melanggengkannya.
.......
....
.....
....
...