|
|
|
|
|
Benteng cerita legenda yang dirubah menjadi fiksi garing oleh Irman. Bercerita tentang pertahanan sebuah benteng dari serbuan bangsa Belanda jahanam. |
Disadur & dirubah dari Sejarah Benteng Alamo, San Antonio, Texas, USA, awal abad 19. PROLOG BENTENG TB1 Alkisah di sebuah benteng yang mengelilingi Kota Kecil bernama Kota Sipil yang merupakan bagian dari wilayah Indonesia, benteng dan kota ini berhadapan dan berseberangan langsung dengan wilayah Kota Batavia yang masuk ke dalam Koloni Bangsa Belanda. Benteng Sipil ini merupakan pertahanan terakhir bangsa Indonesia dari serbuan Bangsa Belanda yang berasal dari Utara. DI KOTA DEPOK Kota Depok adalah kota besar yang diklaim oleh Bangsa Indonesia yang terdekat ke Benteng Sipil, di kota inilah hiruk pikuk keramaian dan konsentrasi Pasukan Tentara Teknik Sipil berkonsentrasi dan berpusat, Pasukan ini dipimpin oleh Jenderal Rulli seorang jenderal pemimpi yang bercita-cita mengusir Belanda dari Batavia dan tanah Indonesia yang memiliki semangat tinggi dan kemampuan yang hebat. Jenderal Rulli memili seorang tangan kanan dalam urusan militernya yaitu Kolonel Candra, seorang tentara yang handal memiliki banyak anak buah, sangat dihormati namun sikapnya berandalan. Kota Depok dan warganya sedang memperbincangkan tentang Benteng TB1 yang sedang dalam bahaya, terdengar kabar bahwa Pasukan Belanda yang dipimpin langsung oleh Gubernur Jenderalnya yang juga Penguasa Indonesia yang juga seorang tentara, yaitu Jendral Johan Firgar hendak menyerbu Benteng Sipil dan Kota Depok, karena Johan menganggap Benteng TB1 dan Kota Depok adalah bagian dari koloni Belanda di Indonesia. Pemerintah Negara Indonesia sendiri selaku bangsa pribumi, mengirim 2 orang perwira tentara untuk membantu mengamankan dan mempertahankan Benteng TB1 dari serbuan Belanda, yaitu Kolonel Ova Setia dan Letnan Kolonel Fauji Muhammad Bardah, keduanya memiliki misi bekerja sama dengan tentara yang sudah ada pimpinan Jenderal Rulli – Kolonel Candra demi menjaga tanah TB1 dari Belanda. Keduanya dating ke Kota Depok sebelum menuju Benteng TB1 untuk mengadakan pertemuan dengan pemimpin tentara Sipil yaitu Jenderal Rulli. Di kota Depok sendiri, sedang dikunjungi oleh seorang anggota Dewan Negara Indonesia yang sifatnya sering bertentangan dengan para penguasa Indonesia. Anggota Dewan Negara itu adalah Irman Novriandi, anggota dewan yang terkenal jago menembak dan terkenal ketika berhasil membebaskan wilayah Tasikmalaya dari pengaruh Belanda beberapa tahun sebelumnya. PERTEMUAN DEWAN KOTA Keramaian Kota Depok bertambah semarak oleh hiruk pikuk ketika Dewan Kota Depok memutuskan untuk mengadakan rapat untuk membahas mengenai masa depan Benteng TB1 dan Kota Sipil, hadir saat itu Pengacara Dena Hadi Permana, Petani Imal Arofat, Ketua Kaum Negro Deden Yugilar, Pengamat Militer Hilman Yusuf, Pengusaha Fahni Gunari, Jenderal Rulli Hidayat, Kolonel Candra Hidayat, Kolonel Ova Setia, Letnan Kolonel Fauji Muhammad Bardah dan Anggota Dewan Negara Irman Novriandi. Pada intinya pertemuan itu membahas mengenai tindakan apakah yang akan dilakukan mengenai isu dan kabar bahwa Benteng TB1 akan diserbu dan diserang oleh Pasukan Belanda pimpinan Jenderal Johan Firgar, semua tokoh berembuk dan bermusyawarah namun tidak didapat kesamaan pendapat, bahkan Pengamat Militer Hilman Yusuf bersitegang dengan Jenderal Rulli mengenai rencana pengiriman pasukan ke Benteng TB1.Pengamat Militer Hilman mendesak Jenderal Rulli untuk segera mengirim pasukannya ke Benteng TB1 demi mempertahankan benteng dan kota dari Belanda, namun Jenderal Rulli menolak dengan alas an mengirimkan pasukan ke Benteng TB1 akan berbahaya, karena apabila seluruh pasukan dikirim ke Benteng TB1, maka Kota Depok dan wilayah Bogor raya tidak akan terlindungi. Hampir saja Hilman dan Rulli baku hantam berkelahi, karena pada waktu itu Asisten Rulli yaitu Kolonel Candra dating dan menghentikan keributan, dia segera menarik Jenderal Rulli keluar dari pertemuan. Kolonel Candra mengatakan kepada Rulli untuk tenang menghadapi keadaan ini, memang dalam satu sisi Jenderal Rulli ingin membantu pasukan di Benteng TB1 namun disisi lain dia tidak bias membiarkan Kota Depok dan wilayah Bogor raya tak terlindungi. Jenderal Rulli terdiam sesaat, kemudian dia berkata kepada Kolonel Candra dan memerintahkannya untuk pergi ke Benteng TB1 dan membantu pasukan yang berada disana mewakili Jenderal Rulli. MENUJU BENTENG TB1 Esoknya, Kolonel Candra dan 50 anak buahnya (pasukannya) meninggalkan Kota Depok dan menuju ke Benteng TB1, sementara itu anggota dewan Kota Depok kembali mengadakan pertemuan dan mereka sepakat juga mengirimkan bantuan pasukan ke Benteng TB1 untuk membantu. Tepat 24 jam berikutnya, Pasukan Dewan Kota Depok berangkat menuju Benteng TB1, dipimpin oleh Perwira Tentara Negara Kolonel Ova Setia dan asistennya Letnan Kolonel Fauji Muhammad Bardah. Pasukan Dewan Kota ini bukan tentara sungguhan, kebanyakan mereka hanyalah orang orang biasa namun memiliki tekad membantu Benteng TB1 dan mempertahankannya dari Belanda. Rombongan Pasukan dari Kota Depok ini tiba di benteng sipil pada sore harinya, mereka langsung turun dari kuda dan mengamati keadaan sekitar, mereka memperhatikan bahwa rombongan tentara pimpinan Kolonel Candra telah tiba terlebih dahulu di Benteng TB1, benteng yang menjadi pertahanan terakhir bangsa Indonesia menghadapi perkampungan Belanda yang letaknya hanya 100 meter di luar benteng sebelah utara. Benteng ini sebelumnya hanya dijaga oleh beberapa orang tentara pimpinan Mayor Zulham Tardeni. Keesokan harinya, Pimpinan Tentara Dewan Kota Kolonel Ova harus meninggalkan benteng karena akan mengadakan pertemuan dengan Jenderal Rulli di Kota Depok, oleh karena itu dia menyuruh kepada bawahannya Letnan Kolonel Fauji untuk menjaga Benteng TB1 dan harus bias bekerja sama dengan Kolonel Candra yang agak berandalan. CANDRA DAN FAUJI Setelah Kolonel Ova pergi, Letnan Kolonel Fauji segera menghadap Kolonel Candra, Fauji meminta Candra agar mengatur pasukannya yang tidak rapid dan tidak tertib, namun Kolonel Candra tidak mau menuruti permintaan Fauji, karena Candra menganggap bahwa dia lebih tau tentang Benteng TB1 dan karena pangkatnya lebih tinggi daripada Fauji, nyaris keduanya bertengkar di hadapan para penduduk dan pasukan di Kota TB1, beruntung Anggota Dewan Negara yang legendaries Irman dating dan menghentikan pertengkaran, dia memperingatkan keduanya untuk tidak berseteru dan lebih berkonsentrasi menghadapi ancaman Jenderal Johan dari Belanda. KEDATANGAN JENDERAL JOHAN Beberapa hari kemudian situasi Kota dan Benteng TB1 mendadak riuh karena rombongan tentara Belanda pimpinan Jenderal Johan dan Kolonel Rahmat tiba di kota Batavia yang hanya 100 meter diluar benteng. Ketakutan mencekam kota Benteng TB1 karena Pasukan Belanda pimpinan Jenderal Johan berkekuatan 10000 pasukan dan harus dihadapi hanya oleh sekitar 500 pasukan yang ada dan bertahan di dalam benteng TB1. Kedatangan pasukan Belanda pimpinan Jenderal Johan disambut meriah oleh masyarakat Kota Batavia yang merupakan Koloni Belanda, seluruh Pasukan disambut dan mulai melakukan formasi siap tempur dengan Benteng TB1. Setelah pasukan TB1 para warga kota Batavia yang berkhianat atau sering memberikan bantuan kepada Benteng TB1 diseret ke pendopo Kota Batavia, disana mereka ditembak mati oleh algojo Jenderal Johan. Besok harinya asisten Jenderal Johan, yaitu Kolonel Rahmat dan Kolonel Kumis menuju ke wilayah perbatasan antara Kota Batavia dengan Benteng TB1, kedatangan mereka dilihat oleh Pasukan yang ada di Benteng TB1, tak lama kemudian Kolonel Candra dan seorang asistennya mendekati Kolonel Rahmat. Kolonel Rahmat yang merupakan sahabat Kolonel Candra meskipun berbeda bangsa, memberikan sepucuk surat kepada Kolonel Candra yang berasal dan ditulis oleh Jenderal Johan, yang intinya meminta seluruh Pasukan di Benteng TB1 untuk menyerah atau mati. Setelah membaca surat tersebut, Kolonel Candra kembali masuk ke dalam Benteng TB1 dan memberitahukan isi surat tersebut kepada seluruh pasukan, mendengar hal itu Letnan Kolonel Fauji yang berjiwa muda dan sangat membenci Belanda, menembakan satu meriam kanon ke arah Kota Batavia dan mengenai salah satu gedung, mendapat serangan meriam kanon Jenderal Johan marah dan menyuruh anak buahnya untuk melakukan balasan, maka meluncurlah puluhan meriam kanon dari arah Batavia ke Depok dan menghancurkan beberapa gedung, menewaskan beberapa pasukan dan mencederai puluhan pasukan dan yang pasti serangan meriam kanon Belanda juga mengenai dan mencederai Kolonel Candra.. FAUJI MENGAMBIL ALIH Hantaman meriam kanon pun berakhir hanya dalam beberapa menit dan memberi kerusakan terhadap Benteng TB1, pasukan TB1 yang bertahan didalam benteng mulai dihinggapi rasa ketakutan yang mendalam, Letnan Kolonel Fauji mulai memerintahkan beberapa pasukan dan rakyat sipil di benteng TB1 untuk membuat saluran parit jebakan tepat diluar benteng TB1 untuk mengantisipasi serbuan tentara Belanda yang hendak menyerang benteng. Sementara itu Kolonel Candra yang terluka karena serangan meriam kanon, dibawa ke dalam sebuah bangunan untuk dirawat oleh Ketua Budak Negro Deden, Karena Kolonel Candra luka luka cukup parah, maka Letnan Kolonel Fauji mengangkat dirinya sebagai pemimpin sementara pasukan benteng TB1, dibantu oleh Anggota Dewan Negara Irman keduanya mulai melakukan siasat dan tindakan tindakan untuk menghadapi serangan pasukan Belanda. Irman mulai mengawasi pembangunan parit diluar tembok benteng TB1 sekaligus memperhatikan gerak gerik pasukan Belanda yang ada di Batavia dengan teropong, sementara Letnan Kolonel Fauji mulai menulis surat yang ditujukan kepada Pemimpin Pasukan Indonesia di wilayah Bogor Raya yaitu Jenderal Rulli untuk membantu pasukan pertahanan di benteng TB1 dengan cara memberikan bantuan tentara ke Benteng TB1. Setelah surat selesai, Fauji meminta Deden untuk mengirimkan surat tersebut ke Jenderal Rulli yang sedang berada di Depok. PERMOHONAN KE RULLI Maka pergi dan berangkatlah Deden dengan mempergunakan Kuda hitam menuju ke Kota Depok untuk menyampaikan harapan Fauji dan seluruh pasukan yang berada di benteng TB1. Sementara itu Letnan Kolonel Fauji bersama dengan Irman mulai mengatur pertahanan Benteng TB1, dengan mengatur pos pos penjagaan oleh Pasukan TB1 dan menanam beberapa ranjau dan mengatur posisi meriam kanon untuk berjaga jaga akan serangan tentara Pasukan Belanda pimpinan Jenderal Johan, yang hanya tinggal menunggu waktu untuk menyerbu, menyerang dan menghancurkan benteng TB1. Sehari kemudian, Deden tiba di Kota Depok dan langsung menuju ke Jenderal Rulli yang sedang melakukan diskusi dengan beberapa tokoh penting kota Depok. Deden menyerahkan surat Letnan Kolonel Fauji kepada Jenderal Rulli, setelah membaca surat dari Fauji, Rulli menyampaikannya kepada seluruh tokoh kota Depok. Hampir seluruh elemen tokoh penting Kota Depok meminta Jenderal Rulli untuk segera pergi ke Benteng TB1 dengan membawa banyak pasukan demi membantu pasukan TB1 yang bertahan di benteng. Namun Jenderal Rulli tidak bergeming dia mengatakan dia tidak bias mngirim seluruh pasukannya ke Benteng TB1, karena kepergian seluruh pasukan ke Benteng TB1 akan membahayakan wilayah Bogor Raya dan Kota Depok, meskipun dalam hatinya dia ingin membantu sahabat sahabatnya yang berada di Benteng TB1. Ucapan Jenderal Rulli ini ditentang seluruh pihak termasuk oleh Kolonel Ova yang merasa bersalah meninggalkan Letnan Kolonel Fauji di Benteng TB1, seluruh tokoh kota Depok yaitu Dena, Hilman, Imal, Fahni dan Hanni mendesak Jenderal Rulli untuk bergerak ke benteng TB1, namun Jenderal Rulli tetap dengan pendiriannya, dia bahkan meminta Deden untuk tetap tinggal di kota Depok dan tidak kembali ke Benteng TB1 msekipun Deden hendak kembali ke Benteng TB1. Sementara itu Kolonel Ova yang merasa tidak puas dengan yang dilakukan oleh Jenderal Rulli membangkang dan membawa sekitar 50 pasukannya menuju Benteng TB1 demi membantu pasukan TB1 yang bertahan didalam benteng. Keesokan harinya rombongan Kolonel Ova dan 50 pasukannya tiba di Benteng TB1 dan disambut pasukan TB1 yang bertahan di dalam benteng, meskipun akhirnya mereka kecewa karena yang dating hanya 50 pasukan pimpinan Kolonel Ova, masih kurang untuk menghadapi 10000 pasukan Belanda pimpinan Jenderal Johan dan asistennya Kolonel Rahmat dan Kolonel Kumis. SERBUAN KE BENTENG Di Kota Batavia, Jenderal Johan melakukan pertemuan dengan seluruh perwira pasukan untuk menyusun rencana menyerbu Benteng TB1, setelah menerima kabar bahwa ada Anggota Dewan Negara Irman yang ikut berjuang didalam Benteng TB1, Johan senang karena jika Irman berhasil ditangkap dapat membuat dirinya melakukan penawaran dan pemaksaan terhadap dengan Pemimpin Negara Indonesia. Disusunlah rencana oleh Jenderal Johan dan disepakati bahwa penyerangan akan dilancarkan malam hari pada keesokan harinya. Sementara itu pasukan yang bertahan TB1 mulai merasakan kejemuan dan keletihan dan rasa was was karena hingga beberapa hari Pasukan Belanda belum juga menunjukkan tanda tanda akan menyerbu Benteng TB1. Hingga disuatu malam yang hening di dalam benteng TB1 dimana seluruh pasukan sedang tertidur pulas termasuk yang bertugas di pos pos jaga dan hanya Irman yang masih terbangun karena tidak bias tidur di dalam benteng TB1, tepat diluar tembok Benteng TB1 pasukan Belanda dibawah komando Jenderal Johan, Kolonel Rahmat dan Kolonel Kumis mulai bergerak secara perlahan dan diam diam menuju kea rah Benteng TB1, tidak ada suara sama sekali ketika hamper seluruh pasukan Belanda menuju ke Benteng TB1 sehingga tidak menimbulkan kecurigaan ke pasukan TB1 yang sedang tertidur didalam benteng TB1. Hingga suatu keesalahan yang dilakukan seorang anggota Pasukan Belanda yang salah bergerak sehingga menimbulkan suara yang cukup keras, yang ternyata didengar oleh telinga Irman yang kebetulan masih terbangun, Irman melihat kea rah luar Benteng dan melihat ribuan pasukan Belanda menyerbu benteng TB1, dia mengarahkan senjatanya dan menembak mati seorang Pasukan Belanda dan berteriak membangunkan seluruh pasukan TB1 yang sedang tertidur didalam benteng, seluruh [asukan pun akhirnya terbangun dan dimulailah perang perebutan benteng TB1. Pasukan TB1 yang baru terbangun dari tidurnya belum siap menghadapi ribuan pasukan Belanda yang tioba tiba menyerbu ke dalam Benteng, seluruh meriam kanon dari dalam benteng dinyalakan dan meledak diberbagai tempat diluar benteng dan menewaskan puluhan prajurit Belanda. Ribuan pasukan Belanda tidak dapat dihadapi oleh Pasukan TB1, mereka terdesak, Pasukan Belanda mulai masuk ke dalam benteng, ratusan Prajurit TB1 telah tewas terkena tembakan dan sabetan pedang pasukan Belanda, seluruh pasukan mencoba untuk menjaga pintu Benteng agar tidak dijebol Belanda, namun gagal, pintu benteng jebol dan ribuan tentara menyerbu masuk, seluruh tentara TB1 yang ada di garis depan tewas, sebagian mundur ke dalam, bahkan Mayor Zulham yang memimpin Pasukan Meriam Kanon pun tewas terkena tembakan Belanda. TERAKHIR Ribuan tentara Belanda menyergap masuk, hamper sebagian besar Pasukan TB1 telah tewas atau gugur, bahkan Letnan Kolonel Fauji pun sempat beradu pedang dengan beberapa Pasukan Belanda sebelum akhirnya tewas setelah mendapat tusukan pedang prajurit Belanda. Pasukan Belanda pun menyerbu masuk ke dalam bangunan dimana Kolonel Candra tengah terbaring karena luka luka pada waktu serangan meriam kanon, dengan sepucuk senjatanya Candra berhasil menembak beberapa pasukan Belanda, sebelum pada akhirnya Candra pun tidak berdaya dan tewas setelah diberondong tembakan pasukan Belanda. Hanya tersisa sedikit pasukan TB1 yang masih bertahan termasuk anggota Dewan Negara Irman, mereka mundur ke belakang benteng namun terdesak, sehingga mereka harus menghadapi ribuan tentara Belanda, karena pertempuran yang tidak seimbang, sisa sisa pasukan TB1 itu dikalahkan dan ditembak sementara Irman ditangkap pasukan Belanda. Benteng TB1 telah jatuh ke tangan Belanda Jenderal Johan, seluruh pasukan TB1 telah tewas ditangan Pasukan Belanda, dan hanya tersisa Irman yang ditangkap pasukan Belanda. Dia dibawa ke hadapan Jenderal Johan, Jenderal Johan bersedia mengampuninya asalkan dia mau berlutut di depan Johan, Irman tidak mau dan Jenderal Johan menyuruh anak buahnya untuk membunuh Irman, namun ditahan Kolonel Rahmat yang meminta Johan untuk memberi ampun kepada Irman, namun Johan tidak menuruti, disuruhnya Pasukannya untuk menembak dan gugurlah Irman. PROBLEMA Sementara itu kabar tentang jatuhnya Benteng TB1 dan dibantainya seluruh pasukan pertahanan TB1 oleh Pasukan Belanda tiba ke Kota Depok, seluruh masyarakat di Kota Depok diliputi kesedihan atas gugurnyaa seluruh saudara saudara mereka di benteng TB1. Seluruh Tokoh Kota Depok meminta Jenderal Rulli untuk mengambil tindakan, namun Jenderal Rulli malah meminta seluruh rakyat Depok untuk segera evakuasi ke wilayah Kota Bogor dan meninggalkan kota Depok. Seluruh masyarakat pun meninggalkan kota Depok menuju kota Bogor. Jenderal Johan pun menerima informasi bahwa pasukan Jenderal Rulli dan masyarakat Kota Depok telah mundur ke Bogor, dia pun segera membentuk tim, sebagian tim kembali ke Batavia, sebagian bertahan di Benteng TB1 dan sebagian termasuk dirinya menuju Bogor untuk mengejar pasukan Jenderal Rulli. DUA JENDERAL BERHADAPAN Dalam perjalanan menuju Bogor, seluruh tokoh meminta ketegasan Jenderal Rulli dan jangan menjadi pengecut, akhirnya Jenderal Rulli pun mengambil tindakan, seluruh masyarakaat agar menuju Bogor, sementara dia dan kekuatan 3000 pasukannya kembali ke Kota Depok untuk menghadapi Belanda pasukan Jenderal Johan. Rombongan pasukan Jenderal Johan yang hendak mengejar Rulli tiba di Kota Depok yang sudah ditinggalkan, mereka pun beristirahat sebelum melanjutkan pengejaran ke Kota Bogor. Sementara itu di kejauhan Jenderal Rulli dan pasukannya mengamati gerak gerik pasukan Belanda Jenderal Johan, setelah yakin dia memerintahkan anak buah dan pasukannya untuk bersiap karena akan segera menyerang Pasukan Belanda di Depok. Sebelum bertempur, Jenderal Johan meminta seluruh pasukannya untuk bertempur dengan kekuatan penuh dengan mengingat pejuang pejuang di benteng TB1 yang telah mengorbankan nyawanya demi menjaga kedaulatan Indonesia, dia meminta pasukannya untuk tegar dan membalaskan dendam para korban yang telah berjuang di TB1. Setelah itu dengan komando dan pekikannya Jenderal Rulli memimpin 3000 pasukannya untuk turun menuju Kota Depok untuk menyerang sekira 5000 pasukan Jenderal Johan dalam perang terbuka secara berhadapan langsung. Kedatangan Pasukan Jenderal Rulli tidak disangka oleh Jenderal Johan dan pasukannya, mereka pun segera berhadapan, pertempuran terbuka tak ter-elakkan, saling tembak peluru, meriam kanon dan sabetan pedang terjadi, kota Depok bergejjolak akibat pertempuran dua kekuatan pasukan berbeda bangsa, setelah beberapa waktu terlihat bahwa pasukan Jenderal Rulli berhasil menghanurkan pasukan Jenderal Johan, sebagian pasukan lari ke Batavia dan sebagian bertahan termasuk Jenderal Johan dan kedua asistennya Kolonel Rahmat dan Kolonel Kumis, namun karena kegemilangan pasukan Jenderal Rulli, pasukan Belanda Jenderal Johan pun kalah, bahkan dua asisten Johan yaitu Kolonel Rahmat dan Kolonel Kumis pun tewas dalam pertempuran dahysat ini, dan tidak beberapa lama Pasukan Jenderal Rulli pun memenangkan pertempuran. MELEPAS PERGI Jenderal Rulli membiarkan Jenderal Johan pergi menuju Batavia dengan selamat tanpa dibunuh, Rulli hanya meminta Jenderal Johan dan Belanda untuk segera meninggalkan Batavia dan tanah Indonesia, karena apabila tidak dituruti bangsa Indonesia akan segera melawan karena bangsa Indonesia tidak ingin tanah airnya dikuasai oleh bangsa asing yang tidak memiliki hak atas Indonesia.
|
|