|
Jawa
Barat sejak dahulu sudah menjadi incaran wisatawan.
Petinggi-petinggi kolonial Belanda sejak awal memilih daerah
ini untuk tempat mereka beristirahat. Apa yang membuat
mereka jatuh hati. Tentunya udara yang sejuk serta panorama
alam yang memikat. Dan kami ajak anda ke Ciwedey. Salah satu
lokasi di Jawa Barat yang sejenak bisa membuat anda
melupakan segala rutinitas.
Ciwedey terletak di sebelah selatan kota Bandung. Mereka
yang tinggal di kota besar tidak sulit untuk mencapai lokasi
ini karena jalan yang mulus. Sejauh mata memandang hanya
perkebunan teh yang terhampar.
Sejak dahulu pemerintah kolonial Belanda mengandalkan
pasokan teh dari kawasan ini dan sekitarnya. Sejak itu,
daerah ini menjadi salah satu penghasil teh terbesar di
Indonesia. Selain teh tumbuh subur tanaman strawberi yang
belakangan berkembang menjadi mata pencaharian yang menaikan
taraf hidup penduduk di sini.
Dahulunya, tanaman ini mereka datangkan dari Perancis. Itu
15 tahun yang lalu dan kini menjadi usaha rakyat yang
menguntungkan. Bahkan sebagian penduduk di sini dengan
cerdik mengolahnya menjadi dodol. Ini yang barangkali tidak
terpikirkan orang Perancis sendiri.
Sekotak strawberi ini mereka jual seharga 10 ribu rupiah.
Bersiaplah mengenakan baju hangat bila datang kesini,
apalagi bila malam hari. Baju hangat menjadi sangat
pelindung anda dari udara dingin. Karena Ciwedey berada di
ketinggian sekitar 2000 meter dari permukaan laut.
Minum bandrek adalah cara lain untuk menghangatkan tubuh. Di
Desa Cimangu banyak berdiri kios yang menyediakan minuman
ini. Segelas harganya 2 ribu rupiah. Ehmm pedas, namun
sedikit bisa membuat badan terasa hangat.
Ciwedey adalah kota kecil yang jaraknya tidak jauh dari kota
Bandung. Hanya satu jam perjalanan. Namun kaya dengan
beragam obyek wisata. Kami menuju Ranca Upas, salah satu
tempat yang bisa sedikit menghibur. Sekali lagi jalan ke
tempat ini mulus, namun jalan sempit dan berliku.
Sejak tahun 1980, Pemda setempat telah membuka kawasan
seluas 26 hektar ini untuk tempat hiburan rakyat. 3 hektar
dari kawasan ini sebagian disediakan untuk menangkar rusa.
16 ekor rusa ditempat ini masih liar. Rupanya rusa yang
diternakkan ini menjadi tontonan rakyat yang menarik.
Usep Saifudin sudah 10 tahun bekerja ditempat ini. Dialah
yang bertugas memberi makan dan merawatnya. Selain rumput,
rusa di sini juga gemar memakan ubi. Selain itu Usep juga
harus mengontrol pagar yang melindungi penangkaran ini dari
tangan jahil dan hewan seperti anjing.
Siang itu adalah jam makan bagi rusa di sini. Kehadiran Usep
akhirnya memancing rusa-rusa ini keluar dari semaknya.
Sehingga kami bisa melihatnya lebih jelas. Penangkaran rusa
ini sekalian menjadi obyek wisata yang menarik, sekaligus
bisa menjadi wahana pendidikan.
Itu baru sebagian dari Ciwedey. Kami akan tunjukkan anda ke
suatu tempat yang lebih menarik, namun sekaligus mistik.
Kawah Putih yang Mistis
Kami melakukan perjalanan mendaki menuju ke Gunung Patuha.
Kami akan membawa anda untuk melihat salah satu obyek wisata
yang berada di puncak Gunung Patuha ini. Dari Ciwedey ke
Gunung Patuha ini tidak terlalu jauh hanya 1/2 jam
perjalanan. Melewati hutan cemara palem yang memang tumbuh
subur di daerah beriklim dingin.
Masyarakat di sini sering menyebutnya Gunung Tua, dari nama
itu kemudian berkembang menjadi Patuha. Gunung Patuha
tingginya sekitar 2400 meter dari permukaan laut. Sehingga
udara di sini begitu dingin antara 15 hingga 20 derajat
celsius.

Sebagai sebuah obyek wisata, Patuha telah dilengkapi
fasilitas penginapan dan restoran cukup lengkap. Dan
ternyata dibalik keindahan gunung ini tersembunyi keajaiban
alam yang menajubkan.
Kawah Putih ini terbentuk akibat letusan Gunung Patuha yang
terjadi sekitar abad X silam. Sehingga membentuk danau. Satu
satu lagi kawah yakni Kawah Saat, namun namanya tidak
sepopuler Kawah Putih. Kadar uap dari belerang cukup tinggi.
Selain itu air di danau ini kerap berubah warnanya. Bila
matahari terik, air berubah coklat. Namun yang paling sering
putih, sesuai dengan julukannya.
Ilmuwan Belanda bernama Franz Wilhelm Junghuhn adalah orang
yang pertama kali menemukan kawasan ini sekitar tahun 1837.
Pemerintah Belanda dahulu memanfaatkannya untuk
mengeksplorasi belerang. Kadar belerang memang masih cukup
tinggi di sini dan baunya sangat menyengat. Bisa menyebabkan
burung yang melintas di atas kawah ini mati seketika.
Sejak dahulu masyarakat di sini percaya kawah ini tempat
bersemayamnya jin dan roh halus, sehingga mereka takut
mendatanginya. Namun dari hasil penelitian ilmuwan Belanda
itu kawah ini justru menyimpan kandungan belerang yang
tinggi dan akhirnya Belanda lah yang menikmati
keuntungannya.
Kawah Putih ini sejak tahun 1987 telah menjadi obyek wisata
dan menyedot banyak pengunjung. Pemandangan yang eksotis
serta iklim yang sejuk menjadi daya tarik wisatawan untuk
menghabiskan liburan mereka. Namun diantara mereka ada
sebagian yang datang ke sini untuk berziarah. Dan itu mudah
sekali mengenalinya. Dari pakaian dan atribut yang mereka
kenakan. Mereka ini masih menyakini kepercayaan leluhur
mereka ratusan tahun silam. Bahwa tempat ini ada
penunggunya.
Semua ini tidak lepas dari sejarah panjang Kawah Putih bagi
sebagian masyarakat Sunda dan uniknya di zaman serba maju
ini kepercayaan itu masih mereka pegang kuat. Sejumlah
petilasan menjadi bukti. Bahkan sejak lama kawasan ini
tempat pertemuan dengan para makluk gaib. Salah satu makluk
gaib itu adalah macam jadi-jadian yang kabarnya adalah nenek
moyang mereka dari Kerajaan Pajajaran yang bersemayam di sini.
Memanggil Macan
Kawah Putih berada di Bandung Selatan yang jaraknya hanya
1,2 jam perjalanan dari Kota Bandung. Ratusan orang setiap
hari datang ke tempat ini untuk menikmati fenomena alam yang
hanya ada beberapa di Indonesia. Berada dikawasan ini memang
terasa lain. Jauh dari keramaian serta iklim yang dingin
menusuk tulang. Suasana ini bagi sebagian orang akhirnya
menimbulkan kesan tersendiri.
Telah
kami katakan sebelumnya, Gunung Patuha atau Kawah Putih ini
bagi sebagian masyarakat di sini dipercaya bermukim leluhur
mereka. Sehingga dibalik keindahannya Kawah Putih ternyata
tempat yang kramat dan mistik.
Diantara wisatawan sebagian dari mereka adalah penziarah
yang masih menyakini itu. Mereka datang dari berbagai
daerah. Dan mudah sekali mengenalinya. Mereka percaya di
kawasan ini ada sosok macan jadi-jadian berwarna putih
yang kabarnya adalah tunggangan para leluhur Sunda dari
Kerajaan Pajajaran. Ada sejumlah situs yang dikeramatkan di
sini. Seperti Kawah Saat dan petilasan Sunan Rama.
Kami menemukan banyak sisa sesajen. Isak adalah salah satu
pawang yang bisa menghadirkan sosok macan gaib itu. Sebagian
masyarakat di sini mempercayai kemampuan dia. Sehari-hari ia
bekerja sebagai tukang parkir dikawasan wisata. Sepertiga
hidup ia habiskan dikawasan ini. Jadi jangan tanya seluk
beluk jalan dikawasan ini karena Isak hafal diluar kepala.
Kami meminta Isak untuk menyiapkan segala ritual yang
dibutuhkan untuk menghadirkan sosok macan gaib itu. Alat
untuk menghadirkan macam jadi-jadian itu cukup banyak.
Kepandaian itu katanya diwariskan dari ayahnya.
Ia menyiapkan sejumlah sesaji. Ada buah-buahan tuju rupa,
kopi, tembakau dan rempah-rempah. Sehingga menebar bau yang
macam-macam. Kamipun membakar api unggun. Menurut Isak, api
unggun ini akan memancing macan itu keluar.
Ditengah dinginnya malam kamera kami akhirnya menangkap mata
seekor macan. Isak menyakini mata itu adalah milik seekor
macan kumbang. Isak memang cerdik. Macan itu adalah macan
sungguhan yang masih banyak berkeliaran di sini. Cahaya api
unggun telah memancingnya keluar.
Terserah bila Isak dan kawan-kawan menganggapnya sebagai
macan jadi-jadian. Bagi kami kehadiran hewan liar itu adalah
keberuntungan karena tidak mudah memang mengamati dari dekat
macan yang memiliki daya jelajah sangat luas.
Kami tertarik dengan kemampuan Isak. Kepandaiannya
mengundang macan dengan cara-cara yang unik ini sebenarnya
adalah atraksi yang menarik.
Kawah Putih masih terjaga dengan baik. Populasi satwa liar
langka dikawasan hutan yang masih dilindungi ini masih cukup
banyak. Ternyata Jawa Barat masih memiliki suatu tempat
dimana bisa berwisata sambil menikmati alam yang masih
lestari.
Sumber : Indosiar.com
|