Secara Astronomis wilayah Riau terletak pada 10 05' L.S.-2025' L.. dan antara 100000-109060'. serta antara 6050'-12045' B.B. Secara administrasi propinsi Riau berbatasan dengan Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Jambi. Wilayahnya meliputi propinsi Riau daratan dan propinsi Riau kepulauan. Di daerah Riau daratan terdapat dataran tinggi yang berada di daerah yang berbatasan dengan Sumatra Barat sekaligus merupakan bagian dari pegunungan Bukit Barisan. Sedangkan dataran rendah terdiri dari daerah rawa-rawa dekat pantai, daerah Riau bagian timur.
Daerah Riau memiliki banyak sungai-sungai besar maupun kecil, yang sangat besar fungsinya sebagai sarana transportasi. Adapun beberapa sungai yang besar antara lain: Batang Rotan, Batang Siak, Batak Kampar dan Batang Kuarilan. Sungai-sungai tersebut berserta anak-anak sungai lainnya selain sebagai sarana perhubungan juga sebagai sumber pencaharian berupa perikanan. Sebagian propinsi ini masih ditutupi oleh hutan-hutan lebat yang menghasilkan berbagai jenis kayu seperti Meranti, Kulim, Jelutung dan sebagainya. Sedangkan daerah pantai yang banyak ditumbuhi hutan bakau, sangat baik untuk dijadikan arang kayu. Fauna di daerah ini masih bermacam-macam seperti: gajah, harimau, rusa, kijang, tapir, babi dan lain-;ain yang sebagian sudah mulai berkurang, dan berbagai jenis ikan yang hidup di sungai-sungai.
Penduduk asli propinsi Riau adalah suku bangsa Melayu, yang terbesar di seluruh propinsi ini. Selain itu juga suku-suku pendang dari daerah lain seperti suku bangsa Minangkabau, suku bangsa Bugis, suku bangsa Banjar, Jawa, Batak, Tionghoa, Arab dan lain-lain. Suku-suku pendatang ini sudah lama tinggal di daerah Riau, berasimilasi dengan penduduk setempat. Sesuai dengan alamnya, mata pencaharian penduudk selain bertani di daerah sebelah barat, juga peternakan dan perkebunan. Sedangkan di daerah rawa-rawa dan sepanjang pantai perikanan merupakan mata pencaharian mereka yang utama.
Istilah Riau menurut sebagian penulis berasal dari kata Portugis "Reo" yang berarti perairan. Ada pula yang menyatakan bahwa istilah tersebut berasal dari kata Riuh Rendah. Diperkirakan hal yang terakhir ini disebabkan daerah Riau banyak didapati pantai dan banyak kerajaan sehingga ramai dikunjungi orang.
Secara garis besar, sosial budaya penduduk yang terbesar di daerah Riau dapat dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu: Penduduk dengan latar belakang sosial budaya Melayu dan suku-suku asli lainnya serta penduduk dengan latar belakang sosial budaya Minangkabau. Kelompok kedua ini dapat dijumpai hampir seluruh daerah yang berbatasan dengan propinsi Sumatra Barat.
Pada masyarakat yang berlatar belakang budaya Melayu bentuk susunan keluarga adalah parental, yang berarti suami dan istri sama dalam keluarga kedua belah pihak. Di daerah bekas kerajaan, terdapat keturunan bangsawan yang masih menjaga status dirinya melalui perkawinan endogami . Mereka tidak mengenal adanya ikatan dalam bentuk suku atau klen. Oleh karena itu dalam masyarakat tersebut ketentuan ajaran Islamlah yang dominan, seperti terlihat dalam perkawinan.
Masyarakat daerah Riau yang menganut pola adat Minangkabau sistem kekerabatan diatur menurut adat Minangkabau, yakni garis keturunan adalah menurut garis ibu atau matrilineal. Maksudnya seseorang orang tidak boleh menikahi orang dalam satu suku dengannya.
Seperti halnya suku bangsa lain, maka suku bangsa di daerah Riau, baik yang menganut adat Melayu maupun adat Minangkabau mengenal beberapa upacara adat yang berhubungan dengan siklus hidup manusia. Misalnya upacara kelahiran, upacara khitanan, upacara perkawinan da upacara kematian. Disamping itu upcara yang berhubungan dengan pertanian seperti: upacara turun ke ladang dengan menyembelih kerbau atau lembu kemudian makan bersama-sama upacara ini dimeriahkan pula dengan alat bunyi-bunyian pada masing-masing daerah. Disamping itu diikuti dengan doa bersama seccara agama Is;am, yang selalu dilaksanakan pada setiap upacara adat.
Kesenian yang berkembang di daerah Riau mempunyai sifat yang beraneka ragam. Karena pada masa silam daerah ini banyak didatangi dan dilalui oleh suku-suku bangsa lain dengan kebudayaan yang mereka bawa, maka penduduknya banyak pula berkenalan dengan kebudayaan luar, terutama di daerah Riau kepulauan. Pengaruh kebudayaan ini terlibat dalam senitari, seni suara, seni musik, seni kerajinan dan sebagainya, yang merupakan perpaduan kesenian dari luar dengan kesenian tradisional. Kemudian di daerah yang berbatasan dengan propinsi Sumatera Barat keseniannya mendapat pengaruh kesenian Minangkabau, baik dalam senitari dan senimusik. Sebagai contoh Kesenian Randai yang dikenal oleh masyarakat kabupaten Indragiri Hulu, jelas bahwa bentuk kesenian yang merupakan perpaduan seni drama, seni tari, seni suara dan seni musik berasal dari Minangkabau. Dengan demikian karena perpaduan dengan Kebudayaan khususnya kesenian dari luar itu, berkembanglah kesenian daerah Riau yang kaya dengan berbagai variasi ragam dan corak. Tariannya antara lain : joget yang merupakan tari rakyat, kemudian tari klasik seperti zapin, inai serta tarian kreasi baru seperti tari makan seperti tari makan sirih dan lain-lain.
Seni bangunan yang masih merupakan tradisi adalah membuat rumah di atas tiang, meskipun didaerah kota ada kecenderungan mendirikan rumah di atas tanah dengan model baru. Orang-orang Melayu di kepulauan sengaja mendirikan rumahnya ditepi pantai diatas air laut dengan memepergunakan tiang-tiang tinggi yang cukup banyak. Di daerah Riau kepulauan dikenal beberapa nama bangunan rumah antara lain : rumah rabung atau rumah Bubungan Melayu, rumah Lipat Pandan, rumah Lipat kajang, rumah Perabung melintang dan lain-lain. Sedangkan rumah tradisional di daerah lainnya misalnya rumah Melayu atap kajang, rumah Melayu atap lontik, rumah limas dan sebagainya.
Di Taman Mini Indonesia Indah anjungan Riau terletak di sebelah Selatan Taman Buah. Anjungan ini bersebelahan dengan anjungan daeraj Jambi di sebelah barat, dan anjungan Sumatera Selatan di sebelah selatan, dan di sebelah timur bersebelahan dengan anjungan Sumatera Barat. Anjungan Riau menampilkan 4 buah bangunan dan sebuah gapura atau gabak-gabak. Arsitek bangunan adalah Bapak H. Nahar Effendi dan Ir. Zulkifli Saleh. Pembangunan pertama anjungan Riau hanya menampilkan dua bangunan yakni balai Salaso jatuh dan rumah adat Salaso jatuh kumbar yang dibangun sejak tahun 1974 dan diresmikan tahun 1975. Setelah terdapat musibah kebakaran pada bangunan Salaso jatuh kembar pada tahun 1981 yaitu rumah Melayu atap Limas, rumah Melayu lipat kajang dan rumah Melayu atap lontik.
Bentuk rumah tradisional daerah Riau pada umumnya adalah rumah panggung yang berdiri diatas tiang dengan bangunan persegi panjang. Drai beberapa bentuk rumah ini hampir serupa, baik tangga, pintu, dinding, susunan ruangannya sama saja, Kecuali rumah lontik. Rumah lontik yang dapat juga disebut rumah lancang karena rumah ini bentuk atapnya melengkung keatas dan agak runcing sedangkan dindingnya miringkeluar dengan miring keluar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang. Hal ini melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan terhadap sesama. Rumah lontik diperkirakan dapat pengaruh dari kebudayaan Minangkabau karena kabanyakkan terdapat di daerah yang berbatasan dengan Sumatera Barat. Tangga rumah biasanya ganjil, bahkan rumah lontik beranak tangga lima, Hal ini ada kaitannya dengan ajaran islam yakni rukun islam lima. Tiangnya bentuknya bermacam-macam, ada yang persegi empat, segi enam, segi tujuh, segi delapan, dan segi sembilan. Segi empat melambangkan empat penjuru mata angin, sama dengan segi delapan. Maksudnya rumah itu akan mendatangkan rezeki dari segala penjuru. Tiang segi enam melambangkan rukun Iman dalam ajaran Islam., maksudnya diharapkan pemilik rumah tetap taat dan beriman kepada Tuhannya. Tiang segi tujuh melambangkan tujuh tingkatan surga dan neraka. Klau pemilik rumah baik dan sholeh akan masuk kesalah satu tujuh tingkat surga, sebaliknya kalau jahat akan masuk salah satu jutuh tingkat neraka. Tiang persegi sembilan melambngkan bahwa pemilik rumah pemilik rumah adalah orang mampu.
Tiang utama adalah tiang tuo, yang terletak pada pintu masuk sebelah kiri dan kanan, dan tiang ini tidak boleh disambung karena sebagai lambang rasa hormat kepada orang tua. Di daerah lain yakni pada suku Melayu di kepulauan, tiang yang dianggap penting adalah tiang Seri yang terdapat di keempat sudut rumah. Baik tiang tuo maupun tiang seri tak boleh bersambung dan terbuat dari kayuyang besar. Susunan ruangan secara garis besar dibagi 3 bagian : Selasar yang ada 3 perbedaan yakni selasar luar, selasar jatuh dan selasar kedalam. Yang dinamakan selasar keluar adalah selasar atau serambi yang terpisah dari rumah induk. Bila selasar itu bersambung dengan rumah induk tepi lantainya lebih rendah, disebut selasar jatuh. Sedangkan selasar yang bersatu dengan rumah induk disebut selasar dalam. Selasar luar dalam kehidupan sehari-hari dipergunakan untuk anak-anak bermain,sedangkan dalam upacara tertentu seperti perkaawinan dan kenduri dipergunakan sebagai tempat tamu-tamu dan para pemuda.selasar jatuh berfungsi sebagai menerima tamu biasa serta untuk meletakan alat pertanian atau nelayan, sedangkan selasar dalam tempat menerima tamu yang dihormati. sesudah selasar adalah rumah induk, walaupun tidak memakai sekatan atau dinding-dinding pemisah tapi dibagi kedalam tiga ruangan. yakni ruang muka,ruang tengah dan ruang dalam. ruang muka berfungsu sebagai ruang tamu keluargaserta tempat tidur bila ada tamu yang menginap. ruang tengah berfungsi sebagaitempat menerima tamu orang-orang tua atau keluarga dekat yaitu keluarga yang mukrim (tidak boleh mengadakan hubungan perkawinan oleh agama islam ). sedangakan ruangan dalam dipakai untuk tempat kaum ibu,serta keluarga perempuan. anak -anak juga tidur diruangan ini kecuali anak laki-laki yang berumur 7 tahun keatas, tidurnya diruang tengah. anak gadis tidur bersama orang perempuan tua di ruangan dalam atau tidur diloteng
pada bangunan tradisional melayu riau terdapat suatu ruangan sebagai penghubung antara rumah induk dengan dapur atau perapian yang disebut talo yang dipergunakan untuk beristirahat bagi orang tua nenek, kakek, ibu/ayah mertua bila mereka tinggal dirumah tersebut.juga untuk meletakan sebagian alat pertanian. penanggah atau dapur adalah tempat memasak dan makan keluarga. susunan ruangan pada rumah lontik juga terdiri hanya 3 ruangan saja karena sesuai dengan alam nartigo, yakni tata pergaulan dalam kehidupan masyarakat . pertama alam berkawan. yakni pergaulan sesama warga kampung digambarkan dalam ruangan muka. kedua,alam bersanak yakni kaum kerabat dan keluarga dilambangkan dengan ruangan tengah, ketiga alam semalui yakni kehidupan pribadi dan rumah tangga, tempat menyimpan segala rahasia dilambangkan dengan ruang belakang, tempat memasak .pembagian ruangan ini dalam beberapa pembatasan oleh adat tertentu, melainkan karena fungsinya.
ruangan bawah lantainya lebih rendah dari lantai rumah induk dan dipisahkan oleh dinding dan bendul. ruangan bawah ini disebelah kanan bila kita masuk di sebut ujung bawah. berfungsi sebagai tempat duduk ninik mamak dan undangan upacara tertentu . dalam keadaan sehari-hari di gunakan sebagai tempat sembahyang, maka disitu selalu disediakan tiksar sembahyang. ruangan bawah sebelah kiri di sebut pangkal rumah fungsinya sebagai tempat duduk nini mamak pemilik rumah atau disebut ninik mamak nan punyo soko. Sehari-harinya dipergunakan untuk tempat tidur ninik mamak tersebut. Oleh sebab itu di ruangan ini disediakan lapik/tikar ketiduran.
Ruangan tengah juga dibagi menjadi dua, yakni ujung tengah disebelah kanan masuk dan Poserek disebelah kiri. Ujung tengah dalam keadaan sehari-hari digunakan untuk tempat tidur pemilik rumah, sedangkan pada upacara perkawinan dipergunakan untuk tempat gerai pelaminan. Sesuai dengan fungsinya ruangan ini disediakan tempat tidur berupa gerai maupun katik. Poserek, dalam keadaan sehari-hari digunakan untuk tempat tidur keluarga perempuan anak-anak, atau tempat berkumpul orang tua perempuan dan anak-anak. Pada rumah Melayu atap limas dan rumah Melayu atap lontik terdapat loteng yang dipergunakan untuk tempat memingit anak-anak gadis mereka. Di loteng ini gadis-gadis tersebut membuat kerajinan tangan seperti memekat, manyulam, menganyam dan mengaji. Sebelum keruangan belakang yang disebut palapuan, terdapat ruang penghubung yang disebut Telo atau Sulopandan, yang berfungsi sebagai tempat meletakkan barang-barang keperluan sehari-hari. Sedangkan Padapuan selain untuk tempat memasak, juga dipergunakan sebagai tempat menerima tamu kaum ibu dan tempat makan keluarga. Kolong rumah biasanya dipergunakan untuk menyimpan kayu bakar, untuk kandang ayam, tempat bertandang dan lain-lain.
Balai salaso jatuh adalah bangunan seperti rumah adat tapi fungsinya bukan untuk tempat tinggal melainkan untuk musyawarah atau rapat secara adat. Sesuai dengan fungsinya bangunan ini mempunyai macam-macam nama antara lain : balairung sari Balai Penobatan, Balai Kerapatan dan lain-lain. Bangunan tersebut kini tidak ada lagi, didesa-desa tempat musyawarah dilakukan di rumah Penghulu, sedangkan yang menyangklut keagamaan dilakukan di masjid. Begitu pula Balai adat di Kabupaten Kampar yang disebut Balai Gadang kini tidak ada lagi.
Balai salaso jatuh mempunyai selasar keliling yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah, karena itu dikatakan Salaso jatuh. Semua bangunan baik rumah adat maupun balai adat diberi hiasan terutama berupa ukiran. Semakin banyak ukiran pada bangunan rumahnya, semakin tinggi pula status sosial bagi pemiliknya. Ragam hias uliran tersebut kebanyakan meniru bentuk tumbuh-tumbuhan dan ada pula bentuk binatang yang sudah distilir, dan mempunyai nama-nama tertentu. Bagian-bagian rumah yang diberi ukiran antara lain tangga, tiang, dinding, pintu, jendela, ventilasi dan puncak atap. Ukiran pada tanggal disebut ombak-ombak atau lebah bergantung, ukiran diatas pintu dan jendela disebut lambai-lambai, ukiran dibagian bawahnya disebut kisi-kisi atau ukiran semut beriring, itik pulang petang, ukiran pada tiang disebut ukiran tiang gantung, karena seakan-akan ukiran itu menempel atau menggantung, ukiran disetiap bidang yang memanjang atau melengkung disebut ukiran kalok paku, ukiran pada pinggiran atau ujung atas dan bagian bawah tiang bernama puccuk rebung, kemudian hiasan pada cucuan atap disebut Sayap layangan atau sayap layang-layang, ukiran pada langit-langit dan ventilasi bermotif banga-bangaan disebut bunga melur, bunga cina, bunga manggis, bunga sakaki dan sebagainya. Di puncak atap selalu ada hiasan kayu yang mencuat keatas bersilangan dan biasanya hiasan ini diberi ukiran yang disebut Salembayung atau Sulobuyung.
Makna dari ukiran-ukiran tersebut antara lain untuk motif flora seperti : kelok palem atau kelok pakis melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Karena ukiran ini bentuknya melingkar-lingkar keatas maupun kebawah juga mengandung arti kehidupan manusia yang penuh dengan liku-liku kadang-kadang nasibnya baik, tapi tidak selamanya harapan manusia terkabul, sehingga diharapkan lagi dalam berusaha. Ukiran pucuk rebung melambangkan kesuburan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia, ukiran bunga-bungaan melambangkan keserasian dan kedamaian didalam rumah tangga. Ukiran lebah yang distilir mempunyai bahwa ketiga binatang tersebut dapat dijadikan contoh, misalnya lebah adalah binatang senang bergotong royong dan binatang pekerja, begitu pula semut. Maka hendaknya kerukunan dan keakraban sesama anggota keluarga dan masyarakat, juga kerukunan dan ketenangan dalam rumah tangga. Sedangkan ukiran Salembayung Sulo Buyung mengandung makna pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Rumah yang memakai hiasan Sulobayungbiasanya termasuk orang yang terhormat dan terkemuka di dalam masyarakat. Warna-warna dalam ukiran adalah merah, putih, kuning, biru, hijau dan hitam. Warna putih mengandung arti kesucian, lambang kebersihan dan ketabahan, warna merah melambangkan kekerasan, kuning melambangkan kekuasaan, biru melambangkan keperkasaan di lautan dan lambang kedewasaan, hijau melambangkan kesuburan dan kemakmuran, sedang warna hitam mempunyai arti keperkasaan dan kesungguhan. Banyaknya ragam hias ukiran yang terdapat dalam bangunan rumah adat Melayu Riau juga menunjukkan tingkat kebangsawanan pemiliknya.
Rumah-rumah adat serta balai adat di anjungan Riau dijadikan tempat pameran benda-benda budaya dan kesenian tradisional. Pada rumah lontik, ruangan didalamnya digunakan sebagai ruang kantor serta perpustakaan. Pada bangunan balai adat Selaso jatuh diperagakan pakaian adat daerah Riau beserta pengantin Riau lengkap dengan pelaminan serta dilengkapi dengan gerai atau tingkatan yang menunjukkan derajat sang pengantin. Gerai paling tinggi adalah sembilan para raja. Sedangkan orang biasa boleh menggunakan gerai tiga atau dua.
Dalam mengenakan adat dan kesenian tradisional daerahnya disalah satu kolong bangunan dipamerkan juga jalur atau sampan yang sangat panjang lengkap dengan pendayungnya. Tentunya ada hubungan dengan permainan pacu jalur yang sering tampil pada upacara-upacara tertentu didaerahnya. Di anjungan Riau pada hari minggu dan hari libur setiap bulan dipergelarkan kesenian tradisional baik senitari seperti tari zapin, Melayu asli yakni Ranggam Melayu dan Gozal. Disamping pergelaran di anjungan, orkes Senandung Riau. Anjungan Riau juga mengadakan pegelaran digedung-gedung pertemuan dan Hotel-hotel di Jakarta. Anjungan Riau telah banyak dikunjungi tamu-tamu dari Negara lain, baik tamu resmi maupun rombongan yang sifatnya tidak resmi.
Mereka Yang Tertinggal Dan Terlupakan.
Media Indonesia, Kamis, 04 April 2002.
Menyusuri jalan-jalan selebar satu hingga tiga meter di ibu kota Kecamatan Siantan, Tarempa, Riau, begitu banyak spanduk terpasang. Begitu juga dengan kota atau desa lain yang tersebar di pulau-pulau yang berada dalam wilayah Kabupaten Natuna, Provinsi Riau.
Spanduk-spanduk itu merupakan buah karya swadaya masyarakat. Beragam kalimat terbentang, isinya adalah ungkapan dukungan bagi pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang rancangan undang-undangnya masih dalam pembicaraan di tingkat panitia kerja (Panja) DPR di Jakarta.
Pada spanduk yang dipasang di Pasar Tarempa tertulis 'Kami Masyarakat Natuna Tetap Ingin Bergabung dengan Provinsi Kepulauan Riau'. Spanduk lainnya: 'Bergabung dengan Provinsi Riau Kita Miskin, Bergabung dengan Provinsi Kepulauan Riau Kita Sejahtera'.
Gaung pembentukan provinsi baru memang tengah in di kalangan masyarakat penghuni pulau-pulau yang tersebar di perairan antara mulut Selat Malaka hingga ke Laut Cina Selatan yang selama ini hanya menjadi bagian Provinsi Riau.
Pada pertengahan bulan lalu, di Ranai--ibu kota Kabupaten Natuna--berkumpul para kepala desa dari kepulauan Natuna dan Kepulauan Anambas. Mereka mengadakan musyawarah besar untuk membahas nasib embrio provinsi mereka.
Perjalanan para petinggi desa dari berbagai pulau menuju Ranai, yang terletak di Pulau Natuna Besar itu, bisa dibayangkan sebagai sebuah pelayaran heroik. Dengan menumpang pompong, perahu tempel yang ditumpangi paling banyak lima orang, mereka mengarungi ombak Laut Cina Selatan yang terkenal ganas antara 12 hingga 24 jam perjalanan.
Dari masyarakat Desa Ulu Maras, Pulau Jemaja (Kepulauan Anambas), yang ditemui Media, pembentukan provinsi sendiri bagi wilayah mereka memang sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.
"Kepala Desa kami tengah ke Ranai untuk menghadiri musyawarah besar, entah kapan kembalinya, tapi kami berharap pertemuan itu dapat mendesak orang-orang di Jakarta untuk segera menyetujui provinsi bagi kami," ujar Agustami, seorang nelayan yang menjadi tokoh muda di Ulu Maras, yang berpenduduk 211 KK.
Pernyataan bapak dua anak itu mendapat dukungan rekan sedesanya, Serman, dengan mengungkapkan berbagai keluh kesah masyarakat sedesanya berkaitan dengan ketertinggalan daerah mereka selama ini.
Di Kecamatan Jemaja yang beribu kota di Letung, saat ini hanya tersedia satu sekolah tingkat atas, dengan beberapa sekolah tingkat pertama dan sekolah dasar yang tersebar di setiap desa.
Masalah transportasi menjadi krusial di sini. Pasalnya, bagi warga yang memiliki anak masih bersekolah, apalagi melanjutkan pendidikannya ke Letung, transportasi yang tersedia hanya pompong yang tak semua warga memiliki. Di samping ongkosnya mahal, waktu tempuh ke tujuan bisa memakan waktu dua-tiga jam.
Beberapa warga memang memiliki sepeda motor sebagai salah satu alternatif, dan mereka bersedia untuk menjadi pengojek paruh waktu, tetapi untuk ke Letung harus merogoh Rp20.000 sekali jalan. "Bensin di sini Rp4.000 per liter," ujar Serman.
Hal yang paling menyedihkan bagi penduduk di desa-desa terpencil yang sebagian besar menggantungkan hidup di laut itu, adalah beroperasinya nelayan Thailand di perairan mereka. "Mereka memiliki kapal besar sebagai induk, lalu menurunkan perahu-perahu untuk masuk ke pantai. Dengan pukat harimau dan bom, lalu kami kebagian apa?" tandas Agustami.
Menurut Agustami dan Serman, dan dibenarkan warga lain yang ikut berkumpul di rumah Kepala Desa Ulu Maras, selain mengancam mata pencarian mereka, para nelayan Thailand itu juga berani menyerang penduduk. "Mereka membawa senjata api, salah seorang teman kami hilang beberapa bulan lalu karena pompong-nya dihantam nelayan Thailand," tambahnya.
Mereka belum menyerah, persoalan tersebut disampaikan ke Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Agustami dan 10 rekannya, dengan biaya sendiri, dua bulan lalu, mendatangi DPR dan Departemen Kelautan. Keduanya pulang ke Jemaja tanpa harapan.
Kecuali pada persoalan nelayan Thailand itu, kondisi di Pulau Jemaja dan Pulau Siantan dapat dikatakan lebih lumayan dari pulau-pulau lain. Di Pulau Laut, yang merupakan salah satu pulau paling utara dari wilayah darat kita di Laut Cina Selatan, keadaan lebih terisolasi lagi.
Di sana hanya ada satu sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama yang masih berstatus kelas jauh dan menempati ruang serbaguna Pos AL sebagai tempat belajar mengajar. Guru-guru yang ditempatkan di sini jarang yang dapat bertahan setengah tahun. Mengharapkan gantinya, dibutuhkan waktu paling tidak dua tahun.
Salah seorang pendidik yang kebetulan warga Pulau Laut, Tabrani, akhirnya merekrut beberapa warga yang berpendidikan setingkat SMA untuk menjadi guru honorer. Bagi murid yang menyelesaikan SD di pulau itu, di SMP mereka kembali akan menjumpai Tabrani dkk yang juga mengajar di sekolah lanjutan tersebut. "Ya, apa boleh buat, yang penting anak-anak kami bersekolah," kata Agustami.
Memang memiliki provinsi sendiri tidak menjamin persoalan mereka akan segera terselesaikan. Namun, rentetan birokrasi dalam mencari jawaban persoalan setidaknya akan terpangkas jika Provinsi Kepulauan Riau berdiri. Paling tidak menurut mereka yang selama ini memang tertinggal dan terlupakan. (Hasbunal M Arief/N-2)