Pertunjukan Mendu Versus Turunnya Para Dewa

Penulis: Sahrul Tombang

Tersebutlah pada sebuah kerajaan bernama Antarpura, diperintah oleh seorang raja yang maha bijaksana, bergelar Langkedura.
Rakyat seisi negeri berada dalam keadaan aman dan tenteram, hal ini tentunya berkat bijak dan adilnya sang raja. Langkedura mempunyai istri yang sangat cantik bernama Siti Mahdewi. Selain negeri yang aman dan tenteram, Antarpura juga terkenal dengan semerbak kuntumnya Siti Mahdewi sebagai permaisuri ke mana-mana.

Pada sebuah kerajaan lain yang bernama Antarsina, hiduplah seorang raja bergelar Laksemalik yang pada usianya yang sudah sangat dewasa, namun belum punya istri jua. Laku dari perbuatan raja dalam memerintah Antarsina sangat bertolak belakang dengan kerajaan Antarpura. Hal ini membuat rakyatnya demikian takut, Laksemalik dikenal garang dan sering berbuat tidak adil kepada rakyatnya. Berita kecantikan puteri Siti Mahdewi ternyata sampai juga ke Laksemalik, hasrat hati ingin memiliki pun mulailah tumbuh. Tak peduli apakah dia sudah bersuami atau belum, yang penting Mahdewi harus bisa dipersuntingnya.

Itulah penggalan awal cerita yang terdapat pada seni pertunjukan "Mendu". Seni pertunjukan berasal dari India ini memang sangat mirip dengan hikayat Dewa Mendu dan penyebarannya pun sangat luas sampai ke daerah Kamboja tak terkecuali Riau. Setidaknya untuk di Riau, daerah-daerah penyebaran seni pertunjukan ini meliputi pulau Pinang, Bunguran Timur dan Barat, Pulau Tujuh (Kepulauan Riau), Midai, Pulau Laut, Siantan dan segenap wilayah Natuna.

Permainan ini sebetulnya merupakan cerita pentas (baik pentasnya ada atau tidak), di mana beberapa unsur seni berkolaborasi secara kental, diantar dengan dialog, akting, tari, nyanyi, musik, yang semuanya itu dibuat sengaja berlebih-lebihan. Akting dan dialog (yang berselang-seling dengan nyanyian) tersebut dilakukan dengan gerak dan gaya yang melembak dari ukuran alamiah.

Tari-tarian dalam seni pertunjukan Mendu ini, bukanlah sekadar kolase atau tempelan, tetapi unsur yang seyogianya, bersebati dengan unsur-unsur seni lainnya dalam keutuhan seni pertunjukan ini. Dan justru kolaborasi dari beberapa unsur seni inilah yang membuat Mendu menjadi indah dan beda dari pertunjukan-pertunjukan lainya.

Tiba-tiba tambur pun berbunyi dengan warna ketegasan. Serta-merta pemimpin permainan yang disebut Syeh Mendu memberi tanda, isyarat atau semboyan perintah kepada penabuh tambur, hal ini disebut "buka tanah". Madah pun dibaca, dan bunyi-bunyian memainkan lagu Ladun. Satu per satu atau sepasang demi sepasang pemain masuk ke gelanggang. Lalu adegan demi adegan silih berganti, rangkaiannya berselang-seling. Adegan demi adegan tak putus-putus sampai cerita itu selesai sepenggal demi sepenggal.

"Demi kecantikan Siti Mahdewi, kecintaan maharaja Laksemalik pun tak bisa dibendung lagi. Maka dikirimlah utusan untuk meminang Siti Mahdewi nan jelita tersebut ke Antarpura. Sungguh di luar dugaan, ternyata Raja Langkedura secara mentah-mentah menolak pinangan Laksemalik dan peperangan pun tak bisa dihindarkan. Namun karena kesaktian Langkedura dan kehebatan para laskar kerajaan, Laksemalik terpaksa menerima kekalahan. Tapi bagaimanapun dia tak terima, maka raja yang jahat tersebut minta tolong kepada sahabatnya yang sakti, Pendekar Bandan. Pendekar ini pun berangkat. Dan akhirnya dia bisa mengubah Siti Mahdewi menjadi seekor gajah putih. Raja Langkedura pun jadi benci karena permaisurinya sudah menjadi binatang, dia pun membuang istrinya tersebut ke hutan sambil memerintahkan untuk dibunuh. Namun berkat pertolongan Dewa Mendu, Siti Mahdewi kembali ke kerajaan dengan kembali ke asal, putri nan cantik.

. Selain bercampur beberapa unsur seni di dalam pertunjukan Mendu ini, cerita ini juga merupakan cerita pentas yang mempertentangkan antara dua kubu dengan kasat mata, simbol-simbol yang dipakai pun sangat tegas dan mengacu kepada hitam di atas putih, kiri atau kanan, jahat atau baik.

Apabila satu penggalan cerita selesai, maka dilakukanlah suatu upacara yang diberi nama Beremas, semacam tarian bersama yang dipandang sebagai bentuk tolak bala. Konon pada waktu itulah para penari bisa melepaskan mambang dan peri dari panggung tempat bermain.

Secara keseluruhan seni pertunjukan ini yaitu: tambur peranta, madah dari Syeh Mendu, berladun, wayat, cerita mendu (akting, dialog, tari dan nyanyi) dan beremas.


Kirimkan sumbang saran dan kritik ke: Kampung Terempa
1