Tersebutlah pada sebuah kerajaan bernama Antarpura, diperintah oleh
seorang raja yang maha bijaksana, bergelar Langkedura. Rakyat seisi
negeri berada dalam keadaan aman dan tenteram, hal ini tentunya berkat
bijak dan adilnya sang raja. Langkedura mempunyai istri yang sangat
cantik bernama Siti Mahdewi. Selain negeri yang aman dan tenteram,
Antarpura juga terkenal dengan semerbak kuntumnya Siti Mahdewi sebagai
permaisuri ke mana-mana.
Pada sebuah kerajaan lain yang bernama Antarsina, hiduplah seorang raja
bergelar Laksemalik yang pada usianya yang sudah sangat dewasa, namun
belum punya istri jua. Laku dari perbuatan raja dalam memerintah
Antarsina sangat bertolak belakang dengan kerajaan Antarpura. Hal ini
membuat rakyatnya demikian takut, Laksemalik dikenal garang dan sering
berbuat tidak adil kepada rakyatnya.
Berita kecantikan puteri Siti Mahdewi ternyata sampai juga ke
Laksemalik, hasrat hati ingin memiliki pun mulailah tumbuh. Tak peduli
apakah dia sudah bersuami atau belum, yang penting Mahdewi harus bisa
dipersuntingnya.
Itulah penggalan awal cerita yang terdapat pada seni pertunjukan
"Mendu". Seni pertunjukan berasal dari India ini memang sangat mirip
dengan hikayat Dewa Mendu dan penyebarannya pun sangat luas sampai ke
daerah Kamboja tak terkecuali Riau. Setidaknya untuk di Riau,
daerah-daerah penyebaran seni pertunjukan ini meliputi pulau Pinang,
Bunguran Timur dan Barat, Pulau Tujuh (Kepulauan Riau), Midai, Pulau
Laut, Siantan dan segenap wilayah Natuna.
Permainan ini sebetulnya merupakan cerita pentas (baik pentasnya ada
atau tidak), di mana beberapa unsur seni berkolaborasi secara kental,
diantar dengan dialog, akting, tari, nyanyi, musik, yang semuanya itu
dibuat sengaja berlebih-lebihan. Akting dan dialog (yang
berselang-seling dengan nyanyian) tersebut dilakukan dengan gerak dan
gaya yang melembak dari ukuran alamiah.
Tari-tarian dalam seni pertunjukan Mendu ini, bukanlah sekadar kolase
atau tempelan, tetapi unsur yang seyogianya, bersebati dengan
unsur-unsur seni lainnya dalam keutuhan seni pertunjukan ini. Dan
justru kolaborasi dari beberapa unsur seni inilah yang membuat Mendu
menjadi indah dan beda dari pertunjukan-pertunjukan lainya.
Tiba-tiba tambur pun berbunyi dengan warna ketegasan. Serta-merta
pemimpin permainan yang disebut Syeh Mendu memberi tanda, isyarat atau
semboyan perintah kepada penabuh tambur, hal ini disebut "buka tanah".
Madah pun dibaca, dan bunyi-bunyian memainkan lagu Ladun. Satu per satu
atau sepasang demi sepasang pemain masuk ke gelanggang. Lalu adegan
demi adegan silih berganti, rangkaiannya berselang-seling. Adegan demi
adegan tak putus-putus sampai cerita itu selesai sepenggal demi
sepenggal.
"Demi kecantikan Siti Mahdewi, kecintaan maharaja Laksemalik pun tak
bisa dibendung lagi. Maka dikirimlah utusan untuk meminang Siti Mahdewi
nan jelita tersebut ke Antarpura. Sungguh di luar dugaan, ternyata Raja
Langkedura secara mentah-mentah menolak pinangan Laksemalik dan
peperangan pun tak bisa dihindarkan. Namun karena kesaktian Langkedura
dan kehebatan para laskar kerajaan, Laksemalik terpaksa menerima
kekalahan. Tapi bagaimanapun dia tak terima, maka raja yang jahat
tersebut minta tolong kepada sahabatnya yang sakti, Pendekar Bandan.
Pendekar ini pun berangkat. Dan akhirnya dia bisa mengubah Siti Mahdewi
menjadi seekor gajah putih. Raja Langkedura pun jadi benci karena
permaisurinya sudah menjadi binatang, dia pun membuang istrinya
tersebut ke hutan sambil memerintahkan untuk dibunuh. Namun berkat
pertolongan Dewa Mendu, Siti Mahdewi kembali ke kerajaan dengan kembali
ke asal, putri nan cantik.
.
Selain bercampur beberapa unsur seni di dalam pertunjukan Mendu ini,
cerita ini juga merupakan cerita pentas yang mempertentangkan antara
dua kubu dengan kasat mata, simbol-simbol yang dipakai pun sangat tegas
dan mengacu kepada hitam di atas putih, kiri atau kanan, jahat atau
baik.
Apabila satu penggalan cerita selesai, maka dilakukanlah suatu upacara
yang diberi nama Beremas, semacam tarian bersama yang dipandang sebagai
bentuk tolak bala. Konon pada waktu itulah para penari bisa melepaskan
mambang dan peri dari panggung tempat bermain.
Secara keseluruhan seni pertunjukan ini yaitu: tambur peranta, madah
dari Syeh Mendu, berladun, wayat, cerita mendu (akting, dialog, tari
dan nyanyi) dan beremas.