Mendu Tontonan Rakyat Dari Kepulauan Natuna
Penulis: Irhas Mardianti
Mendu merupakan teater tradisional yang terdapat di daerah Riau. Berasal dari pulau Natuna, Anambas, di daerah Bunguran yang merupakan pusat Mendu. Di daerah ini pun terdapat jenis teater lainnya yang disebut Wayang Bangsawan, yang justru banyak mempengaruhi pertunjukkan Mendu. Masyarakat Bunguran menganggap pertunjukkan Wayang Bangsawan lebih lengkap dan bervariasi dibandingkan dengan pertunjukkan Mendu yang sangat sederhana.
Dinamakan Mendu karena dalam pertunjukkannya kebanyakan memainkan ceritera tentang Dewa Mendu yang sangat terkenal di kalangan masyarakat 'suku laut' (orang pesuku) di kepulauan Tujuh.
Bentuk pertunjukkan Mendu tak ubahnya seperti Mak Yong, yaitu dilakukan dengan tarian, nyanyian, berlaku, berdialog dengan iringan biola, gong, beduk, gendang panjang, dan sering ditambah dengan kaleng kosong. Pementasan Mendu selalu diawali dengan bunyi gong yang dipukul bertalu-talu sebagai pertanda bahwa pertunjukkan Mendu akan segera dimulai. Seorang Pawang tampil ke tengah tempat pertunjukkan, melakukan 'persyaratan' khusus (semacam pemujaan) dan berdoa mohon ijin keselamatan dan berkah kepada Sang Dewa Mendu. Upacara ini kemudian diikuti oleh apa yang disebut 'peranta' (dibunyikan gendang, gong, dan beduk yang merasuk) tanda pertunjukkan akan segera dimulai. Begitu selesai peranta, segera muncul tarian diiringi oleh tetabuhan yang menyenangkan, dan pertanda akan segera dimulai acara berladum (acara dimana pemain-pemain Mendu semua keluar ke arena permainan). Acara berladum adalah acara pembuka seluruh pemain keluar untuk memperkenalkan diri dengan gaya menyanyi.
Sudah menjadi tradisi pertunjukkan Mendu, dalam menghidangkan cerita selalu dibuka dengan sidang kerajaan, dimana hadir seluruh staf Raja, seperti Menteri, Wazir, Hulubalang, dan lain-lain. Kemudian mereka memperkenalkan diri dengan peran yang dibawakan, dengan menyebut nama, jabatan, dan negeri tempat cerita berlangsung. Sebagai pembuka cerita, salah seorang pemain menceritakan keadaan negeri tersebut dalam kaitannya dengan cerita yang dihidangkan. Cerita yang dihidangkan umumnya cerita dewa Mendu. Tak ubahnya cerita Ramayana yang panjang, namun untuk tiap pertunjukkan hanya dihidangkan satu 'episode' yang mereka inginkan. Oleh karena itu pertunjukkan Mendu dapat berlangsung: empat minggu, tujuh malam, atau juga semalam.
Mendu merupakan kesenian tradisi dalam bentuk Teater Rakyat, yang bentuknya sangat sederhana. Namun setelah memperoleh pengaruh wayang Bangsawan, Mendu mulai menggunakan panggung lengkap dengan 'layar' sebagai 'dekorasi' dan penyekat pertunjukkan. Pakaian (kostum) yang digunakan sangat dipengaruhi oleh kostum wayang bangsawan, gemerlapan penuh bersulam emas, manik-manik dan sebagainya.
Menurut sejarah Seni Pertunjukkan di Indonesia, pada mulanya menurut tradisi, kesenian merupakan bagian dari sarana adat istiadat atau untuk keperluan upacara agama dan bukan merupakan 'alat ekspresi' berkesenian. Lama kelamaan fungsi kesenian berkembang untuk keperluan bukan saja alat sarana pendidikan, penuangan, tapi juga untuk keperluan hiburan.
Di Laut Cina Selatan pada posisi 4 derajat Lintang Utara dan 108
derajat Bujur Timur terletak Kepulauan Natuna. Kepulauan ini semula
terdiri dari tujuh Kecamatan yaitu Terempa, Letung, Tambelan, Midai,
Sedanau, Serasan, dan Ranai. Namun setelah pemekaran wilayah Kecamatan
Tambelan masuk ke Kabupaten Kepulauan Riau yang semula menjadi induk
dari semua kecamatan di Kepulauan Natuna. Dan Kepulauan Natuna lainnya
membentuk satu kabupaten yaitu Kabupaten Natuna dengan ibukotanya
Ranai.
Kepulauan Natuna baru berpenduduk tetap pada abad XVI, sebelumnya
pulau-pulau ini adalah milik Kerajaan Majapahit (1293-1520). Karena
jauh dari Jawa, pulau tersebut dikuasakan kepada Kerajaan Johor. Di
kepulauan ini dikenal seni teater tradisional yaitu Mendu yang
merupakan tontonan rakyat. Seperti layaknya teater tradisional, mendu
ini berisi gerak-gerik, tarian, nyanyian, dan dialog. Cerita yang
dipentaskan tidak memerlukan naskah tertulis, umumnya para pemain hapal
luar kepala jalan ceritanya. Pemimpin lakon dalam mendu dikenal dengan
sebutan Syeh setingkat dengan sutradara pada sandiwara atau film. Seni
panggung ini hampir serupa dengan Mamanda di Kalimantan Selatan dan
Dulmuluk di Sumatera Selatan.
Istilah mendu berasal dari kata menghibur rindu. Pada zaman dahulu para
saudagar, nelayan, dan petani sangat senang menghibur diri pada malam
hari. Mereka memainkan musik, nyanyian, berpantun sebagai pelepas rindu
pada kampung halaman mereka. Lama kelamaan kata menghibur rindu mereka
singkat dengan sebutan mendu yang akhirnya menjadi tontotan yang sangat
digemari oleh Kepulauan Natuna.
Pertunjukan mendu biasanya dimulai pada malam hari sekitar pukul 21.00
WIB, dan kadang-kadang berlangsung semalam suntuk. Karena ini hiburan
rakyat panggung mendu sangat sederhana biasanya dipentaskan di tanah
lapang. Para penonton bisa menonton sesuka hati, apakah dengan membawa
tikar ataupun hanya dengan berdiri saja walaupun berjam-jam lamanya.
Sebagian penonton adalah petani dan nelayan yang bekerja berat pada
siang hari. Tontonan inilah sebagai hiburan mereka.
Cerita yang dipentaskan seperti Hikayat Dewa Mendu, apabila dimainkan
seluruhnya berlangsung selama 44 malam. Namun, cerita ini jarang
dilakonkan karena selain panjang juga memerlukan biaya yang sangat
besar. Biasanya cerita yang dimainkan adalah penggal hikayat yang
biasanya tamat dalam 3 atau 7 malam paling panjang 14 malam.
Pertunjukan ini dibuka dengan Ladun, yaitu tarian pembuka, para pemain
keluar berpasang-pasangan dan berperan sebagai rakyat jelata serta
wakil rakyat. Mereka menari sambil berpantun. Selesai berladun, beduk
ditabuh para pemain mengambil posisinya masing-masing dan dilanjutkan
dengan Wayat. Pada bagian ini Raja bernyanyi dan yang hadir
menjawabnya. Selesai Raja bernyanyi barulah para pemain berperan
menurut tokohnya masing-masing seperti tokoh Raja, Permaisuri, Raja
Beruk yang welas-asih, Menteri, hulubalang-hulubalang, Selamat dan
Selabe yang jenaka, jin dan tokoh-tokoh lainnya. Tontonan rakyat ini
ditutup dengan Beremas yang artinya berkemas-kemas untuk pulang.
Uniknya pada tontonan rakyat ini adalah pada bagian Beremas, lagunya
dikemas menyentuh perasaan, tidak jarang penonton bercucuran air mata
mendengarnya dan hal inilah yang membuat mereka datang lagi untuk
menonton pertunjukan pada malam berikutnya.
Seni panggung ini menggunakan bahasa Melayu, dan permainnya memiliki
pencitraan yang kuat. Pencitraan atau imajinasi adalah daya dalam batin
kita untuk membayangkan atau menggambarkan suatu peristiwa sehingga
peristiwa tersebut benar-benar dimengerti bagi penonton dan sesuai
dengan kenyataannya. Meskipun pemain Mendu berasal dari kalangan rakyat
biasa, namun mereka memiliki kemampuan pencitraan yang kuat sehingga
mereka sanggup memerankan tokoh apa saja.
Ringkasan Hikayat Dewa Mendu
Semandung Desa adalah seorang Raja yang bertakhta di Negeri Khayangan.
Baginda mempunyai dua orang putra yang tua bernama Dewa Mendu sedangkan
yang bungsu bernama Angkaran Dewa. Mereka adalah kakak-beradik yang
rukun, selalu bersama dalam setiap kesempatan, selangkahpun tak mau
berpisah. Pada suatu hari mereka menghadap ayahandanya untuk
diperkenankan turun ke bumi. Karena keinginan yang kuat dan tidak bisa
ditawar-tawar lagi, akhirnya dengan berat hati Semandun Dewa
mengambulkan permintaan mereka, Namun baginda mengajukan syarat pada
keduanya yaitu mereka tidak diperkenankan pulang ke khayangan apabila
mereka tidak berhasil menumpas kezaliman di muka bumi. Dengan mengemban
amanat ayahandanya merekapun turun ke bumi, dan sesampainya mereka di
bumi, mereka terdampar di laut Khalzum beberapa hari lamanya dan
ditolong oleh nenek Kabayan yang murah hati.
Mereka sempat tinggal
bersama orang tua tersebut beberapa lama. Secara tidak sengaja mereka
bertemu dengan Siti Mahadewi putri Raja Langkadura dari Kerajaan
Antarpura. Tuan Putri nantinya disunting oleh Dewa Mendu, dan
dikaruniai seorang putra yang diberi nama Kilau Cahaya. Mereka sempat
terpisah bertahun-tahun lamanya karena Dewa Mendu ditugaskan membantu
Raja Firmansyah dari kerajaan Tursia, berperang melawan musuhnya.
Sementara pada waktu bersamaan Raja Beruk menyerang Kerajaan Antarpura
tanpa sepengetahuan Dewa Mendu dan menculik Siti Mahadewi. Permaisuri
pada saat itu berbadan dua. Perang yang terjadi di Kerajaan Tursia
berlangsung 17 tahun lamanya dan selama itu pula Dewa Mendu putus
hubungan dengan Kerajaan Antarpura.
Setelah perang usai Dewa mendupun
pulang Kerajaan Antarpura, betapa terkejutnya ketika ia mengetahui
bahwa keluarganya diculik oleh Raja Beruk. Ia pun mencarinya dan
akhirnya mereka berjumpa dan berkumpul kembali. Raja Beruk ternyata
baik hati selama permaisuri diculik, ia dianggap sebagai anak sendiri
sedangkan Kilau Cahaya dianggap cucunya. Akhir hikayat Dewa Mendu
kembali ke Khayangan setelah berhasil menumpas kezaliman di muka bumi.
Demikianlah Hikayat Mendu ini, meskipun belum begitu dikenal di tempat
lain namun memiliki tempat tersendiri di hati penggemarnya.