Pulau Durai

PASIR PUTIH - Pulau Durai di Laut Cina Selatan dikelilingi pasir putih tempat penyu bertelur. Pada musim bertelur bulan Juni-Agustus, 30 ekor penyu bertelur tiap hari.

WARGA Kecamatan Siantan di Pulau Terempa lebih akrab menyebut Pulau Durai sebagai Pulau Penyu, karena pasir putih yang mengelilingi kawasan Laut Cina Selatan itu menjadi tempat penyu bertelur. Jika musim bertelur tiba, sekitar bulan Juni-Agustus, dalam satu malam 30 penyu betina menggali pasir di Durai untuk menempatkan telurnya di sana.

Pulau Durai dapat dicapai dari Terempa dengan Pompong (perahu bermesin) dalam 3 jam. Pulau ini masih dalam Kecamatan Siantan, salah satu kecamatan dari Kabupaten Natuna. Telur penyu itu tidak dibiarkan menetas, tetapi diambil dan kemudian dijual dengan harga Rp 60 per butir.

La-anik dan keluarganya yang menjadi satu-satunya penghuni Pulau Durai, setiap hari mengumpulkan telur penyu. Telur yang dikumpulkannya tidak boleh dijual kepada orang lain, tetapi harus diserahkan kepada seorang pedagang, yang menurut La-anik sudah mendapat izin dari pemerintah. ''Kalau saya jual kepada orang lain, saya dituduh mencuri,'' kata La-anik yang lahir di Bao Bao Sulawesi Tenggara itu.

Pengusaha yang bernama Raja Hasnan yang tinggal di Terempa itu, menurut informasi, telah mendapat hak mengambil telur penyu dan kelapa di beberapa pulau di kawasan itu, termasuk Durai. Untuk itu dia membayar Rp 60 juta per tahun kepada pemerintah daerah. ''Sekarang kelapa tidak menarik lagi, jadi yang saya kumpulkan hanya telur penyu saja,'' kata La-anik kepada Pembaruan dan Kompas yang berkunjung ke pulau itu beberapa waktu yang lalu.

Menurut informasi, telur penyu dari Durai tersebut dijual Rp 1.500 per butir kepada konsumen. Sementara itu di tempat penangkaran penyu di Cikepu, Jampang Kulon, Sukabumi Jawa Barat, sebutir telur penyu dijual Rp 2.000. Peminatnya cukup banyak karena diyakini telur penyu itu dapat menambah kekekuatan bagi yang memakannya.

Tidak Ditetaskan

Dengan logat Melayu yang kental, La-anik yang merantau dari Sulawesi Tenggara sejak tahun 1957 itu, mengatakan hanya beberapa butir telur penyu yang dibiarkan menetas menjadi penyu. Umumnya telur penyu itu diambil dan diserahkan kepada Raja Hasnan. ''Kalau tidak musim penyu bertelur, paling-paling dalam satu bulan saya mendapat uang Rp 600.000 dari Raja Hasnan dan biasanya kami terima tiga bulan sekali. Istri saya harus mengambilnya ke Terempa, sekaligus belanja kebutuhan di sana,'' ujarnya.

Dengan harga telur penyu per butir Rp 60, untuk mendapatkan Rp 600.000, dia harus menyerahkan 10.000 telur per bulan. Kata La-anik jumlah terbanyak pernah diterimanya dari Raja Hasnan adalah Rp 2,4 juta per bulan. Jika angka itu dibagi dengan harga telur penyu Rp 60 per butir, maka jumlah telur yang diserahkan adalah 40.000 butir. Jika angka ini dibagi 30 hari, maka seharinya diperoleh hampir 1.400 butir. Cukup banyak memang.

Jika sedang musim bertelur jumlah tersebut mudah diperoleh. Satu malam penyu yang bertelur mencapai 30 ekor. Biasanya seekor penyu mengeluarkan telur 80-100 butir.

Jika yang bertelur 30 penyu maka jumlah telur yang diperoleh bisa mencapai 3.000 butir per hari. Sebulan, tinggal dikalikan 30, sehingga angkanya menjadi 90.000 butir.

Apakah La-anik sejahtera dengan penghasilannya itu ? Kelihatan kehidupannya sederhana. Dia tinggal digubuk sederhana bersama istri dan seorang anaknya. Walaupun disitu juga tinggal anggota keluarganya yang lain. Gubuk itu dilengkapi dengan generator listrik, televisi dan VCD. Tapi generator itu akan dimatikan sekitar pukul 22.00 WIB.

Walaupun tinggal di pulau yang terpencil, La-anik sekeluarga banyak dikunjungi tamu. Bukan tamu resmi, tapi awak kapal dari Thailand yang sedang menangkap ikan di kawasan itu. ''Mereka sering datang minta kelapa muda. Tidak dibayar pakai uang, tapi barter dengan minyak dan beras. Seorang kapten kapal pernah membayar saya dengan 100 baht. Sampai sekarang uang itu belum ditukarkan, masih saya simpan,'' katanya.

Nelayan asing yang mampir kadang-kadang jumlahnya cukup banyak. Pernah lebih dari 20 kapal ikan Thailand berlabuh di sini, mereka semua mendarat. Pulau ini menjadi ramai sekali.

Tapi tidak selamanya kehadiran nelayan asing itu membawa kegembiraan. Pernah terjadi dua anak buah kapal ikan Thailand yang badannya penuh dengan luka-luka akibat dipukul dengan rotan tinggal di pulau itu. Dia menunjukan sikap tidak bersahabat, sehingga La-anik juga berupaya mengusir mereka berdua, tapi keduanya melawan dan tetap tinggal di dalam goa di ujung pulau.

Untunglah dengan pesan yang disampaikan melalui nelayan lokal yang mampir di Pulau Durai, akhirnya anggota Marinir Indonesia yang bermarkas di Terempa datang ke Durai menangkap kedua warga Thailand itu. ''Ketika kedua nelayan Thailand masih di Durai, sempat membuat saya waswas, sehingga kemanapun pergi saya selalu membawa parang,'' katanya.

La-anik mengakui, dari apa yang diamatinya ada beberapa induk penyu yang biasa datang bertelur ke Durai, belakangan ini tidak datang lagi. ''Terkadang memang ditemukan jejak orang yang menangkap penyu yang sedang bertelur ke darat. Belum ada upaya pencegahan, karena memang saya sendirian di sini. Semuanya sudah saya laporkan kepada Raja Hasnan,'' ujarnya. Pembaruan/Mansyur Barus


Kirimkan sumbang saran dan kritik ke: Kampung Terempa
1