Nama Lengkap : Herna Jacqueline Christnatasha Pardede, LLB
Lahir : Medan, 11 Desember 1980
Nama Ayah : Jhony Pardede
Nama Ibu : Sri Theresia br Bangun
Anak ke : 1 dari 3 bersaudara
Pekerjaan : General Manager John's Pardede Hotel
Status : Belum Kawin
Agama : Kristen
Hobby : Biasalah Anak Mudanya
Pemain Favourite : Arnaldo Villalba

 

Terbentuk di Keluarga, Dikuatkan di Komunitas

Buah apel jatuh tak bakal jauh dari pohonnya. Pribahasa itu sangat cocok menggambarkan sosok Herna Jacqueline Christnatasha Pardede dilahirkan di keluarga yang gila bola. Hernapun menggilai olahraga yang didominasi oleh kaum Adam itu. Sejak kecil Herna memang sudah sangat lekat dengan dunia si kulit bulat.

Kakeknya, Professor Dr TD Pardede merupakan salah satu legenda sepakbola nasional. Bisa dibilang, beliaulah yang berjasa mengembangkan sepakbola professional di Sumatera Utara. Dengan membentuk club professional pertama di Indonesia, PARDEDETEX.

PARDEDETEX merupakan salah satu club yang disegani di era itu. Bertekad menjadi club teras Indonesia, TD Pardede merekrut bintang timnas era 1970-an sebut saja Iswardi Idris, Sucipto Suntoro, Abdul Kadir, maupun M. Basri. Mungkin lantaran kecewa dengan kondisi persebakbolaan nasional Indonesia, awal 1980-an PARDEDETEX dibubarkan.

Kendati PARDEDETEX bubar, bukan berarti langkah keluarga Pardede di jagad sepakbola nasional terhenti, Johnny Pardede, putra TD Pardede dan ayah dari Herna, lalu membentuk Harimau Tapanuli (Hartap) Medio 1980-an.

Dari sinilah kecintaan Herna terhadap sepakbola dimulai, “saat itu saya selalu dibawa ayah melihat Harimau Tapanuli bertanding”, cerita Herna. Kecintaan kian bertambah kala dia disekolahkan ke Australia, “Saya mulai intens mencintai sepakbola sejak umur 16 tahun. Saat di Australia saya selalu rindu suasana sepakbola di tanah air.” Kata gadis kelahiran 11 Desember 1980 ini.

Sangking dekatnya hubungan Herna dengan sepakbola, rasa saling memiliki terhadap club binaan ayahnya kian tebal. “Pernah suatu waktu pada sebuah turnamen di Medan, Hartap kalah dari PSMS. Setelah pertandingan, saya tak bias berhenti menangis,” kenangnya.

Bukan lantaran tak setia, Herna saat ini beralih mendukung PSMS. Selain tak pernah tampil di Liga Indonesia, Hartap-pun sudah membubarkan diri pada 2004. “Kegilaannya” terhadap sepakbola tent uterus tetap ada. “Penyalurannya” maka sejak akhir 2003 dia bergabung dengan KAMPAK FC alias Kesatuan Anak Medan Pecinta Ayam Kinantan Fan Club.

Setelah bergabung dengan KAMPAK, banyak hal positif yang didapatkan Herna. Selain memperbanyak relasi dan kenalan, dia juga merasa mudah untuk dekat dengan pemain, terutama pemain PSMS. “Empati sayapun tumbuh. Saya jadi paham bagaimana sedihnya para pemain jika mengalami kekalahan,” terangnya.

Sebagai perempuan yang aktif di kelompok supporter, keberadaan Herna banyak mengundang pujian. “Jarang sekali ada supporter apalagi perempuan, yang punya fanatisme terhadap tim kesayangannya seperti dia,” puji Abdi Panjaitan salah seorang pengurus KAMPAK.

Terkait dengan KAMPAK, Herna punya cita-cita mulia. “Saya ingin KAMPAK semakin solid dan lebih dianggap oleh manajemen tim. Saya juga ingin supporter menjadi pemain ke 12 PSMS serta sportif dan dewasa dalam mendukung. Saya mau semua kelompok rukun sehingga bisa menonton dengan tenang,” tekadnya.

Kita tunggu kiprah generasi ketiga keluarga Pardede ini bagi persepakbolaan nasional

Sumber: Tabloid SOCCER, 14 Januari 2006.

GUEST BOOK
Hosted by www.Geocities.ws
GridHoster Web Hosting
1