|
Terbentuk
di Keluarga, Dikuatkan di Komunitas
Buah apel
jatuh tak bakal jauh dari pohonnya. Pribahasa
itu sangat cocok menggambarkan sosok Herna
Jacqueline Christnatasha Pardede dilahirkan
di keluarga yang gila bola. Hernapun menggilai
olahraga yang didominasi oleh kaum Adam
itu. Sejak kecil Herna memang sudah sangat
lekat dengan dunia si kulit bulat.
Kakeknya, Professor Dr
TD Pardede merupakan salah satu legenda
sepakbola nasional. Bisa dibilang, beliaulah
yang berjasa mengembangkan sepakbola professional
di Sumatera Utara. Dengan membentuk club
professional pertama di Indonesia, PARDEDETEX.
PARDEDETEX merupakan
salah satu club yang disegani di era itu.
Bertekad menjadi club teras Indonesia,
TD Pardede merekrut bintang timnas era
1970-an sebut saja Iswardi Idris, Sucipto
Suntoro, Abdul Kadir, maupun M. Basri.
Mungkin lantaran kecewa dengan kondisi
persebakbolaan nasional Indonesia, awal
1980-an PARDEDETEX dibubarkan.
Kendati PARDEDETEX bubar,
bukan berarti langkah keluarga Pardede
di jagad sepakbola nasional terhenti,
Johnny Pardede, putra TD Pardede dan ayah
dari Herna, lalu membentuk Harimau Tapanuli
(Hartap) Medio 1980-an.
Dari sinilah kecintaan
Herna terhadap sepakbola dimulai, “saat
itu saya selalu dibawa ayah melihat Harimau
Tapanuli bertanding”, cerita Herna.
Kecintaan kian bertambah kala dia disekolahkan
ke Australia, “Saya mulai intens
mencintai sepakbola sejak umur 16 tahun.
Saat di Australia saya selalu rindu suasana
sepakbola di tanah air.” Kata gadis
kelahiran 11 Desember 1980 ini.
Sangking dekatnya hubungan
Herna dengan sepakbola, rasa saling memiliki
terhadap club binaan ayahnya kian tebal.
“Pernah suatu waktu pada sebuah
turnamen di Medan, Hartap kalah dari PSMS.
Setelah pertandingan, saya tak bias berhenti
menangis,” kenangnya.
Bukan lantaran tak setia,
Herna saat ini beralih mendukung PSMS.
Selain tak pernah tampil di Liga Indonesia,
Hartap-pun sudah membubarkan diri pada
2004. “Kegilaannya” terhadap
sepakbola tent uterus tetap ada. “Penyalurannya”
maka sejak akhir 2003 dia bergabung dengan
KAMPAK FC alias Kesatuan Anak Medan Pecinta
Ayam Kinantan Fan Club.
Setelah bergabung dengan
KAMPAK, banyak hal positif yang didapatkan
Herna. Selain memperbanyak relasi dan
kenalan, dia juga merasa mudah untuk dekat
dengan pemain, terutama pemain PSMS. “Empati
sayapun tumbuh. Saya jadi paham bagaimana
sedihnya para pemain jika mengalami kekalahan,”
terangnya.
Sebagai perempuan yang
aktif di kelompok supporter, keberadaan
Herna banyak mengundang pujian. “Jarang
sekali ada supporter apalagi perempuan,
yang punya fanatisme terhadap tim kesayangannya
seperti dia,” puji Abdi Panjaitan
salah seorang pengurus KAMPAK.
Terkait dengan KAMPAK,
Herna punya cita-cita mulia. “Saya
ingin KAMPAK semakin solid dan lebih dianggap
oleh manajemen tim. Saya juga ingin supporter
menjadi pemain ke 12 PSMS serta sportif
dan dewasa dalam mendukung. Saya mau semua
kelompok rukun sehingga bisa menonton
dengan tenang,” tekadnya.
Kita tunggu kiprah generasi
ketiga keluarga Pardede ini bagi persepakbolaan
nasional
Sumber: Tabloid SOCCER,
14 Januari 2006.
|