Kembali ke Depan

Tajukrencana
Momen yang Tepat untuk Kembalikan Kejayaan PSMS Medan


KETIKA persepakbolaan di tanah air masih dalam status amatir dan belum mengenal liga profesionalisme seperti saat ini, siapa tidak mengenal PSMS (Persatuan Sepakbola Medan dan Sekitarnya), sebuah kesebelasan asal Medan Sumatera Utara yang kerap menjadi juara nasional. Di samping nama-nama besar seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, Persebaya Surabaya dan PSM Makassar, PSMS merupakan kesebelasan yang sangat ditakuti lawan-lawannya. Bersama kesebelasan yang disebut, di atas PSMS selalu bergantian merajai persepakbolaan di tanah air. Tidak hanya level nasional, ketika itu tepatnya era 50-an hingga pertengahan 80-an, PSMS bahkan mampu menjuarai Marah Halim Cup yang pesertanya berasal dari luar negeri seperti Birma (sekarang Myanmar), Korea Selatan maupun Utara, Jepang maupun Malaysia.

Namun ketika era amatir berakhir dan beralih ke liga profesional maka berakhir pulalah prestasi PSMS Medan. Ayam Kinantan (julukan yang diberikan untuk PSMS Medan) tidak mampu berkokok lagi. Ketika “sahabat lama” seperti Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSM Makassar maupun PSIS yang namanya di era perserikatan tidak terdengar, sudah merasakan nikmatnya gelar liga profesional, PSMS hanya bisa menonton. Bahkan dua tahun lalu kesebelasan kebanggaan warga Medan dan Sumatera Utara ini sempat turun “kasta” dari divisi utama ke divisi satu. Untung hanya setahun saja dan bisa kembali lagi berkompetisi bersama tim elit tanah air lainnya.

Banyak hal yang menyebabkan prestasi PSMS Medan tidak bisa kembali berjaya seperti masa keemasan dulu. Salah satu penyebabnya adalah pengelolaannya yang tidak profesional. Dulu pada saat kompetisi divisi utama masih dijalankan secara amatir, PSMS masih bisa menjadi juara walaupun dikelola secara amatir. Namun ketika kompetisi itu sudah dikelola secara profesional (walaupun belum benar-benar profesional) tapi PSMS Medan masih dikelola secara amatir maka hasilnya yang diperoleh adalah seperti apa yang kita lihat selama ini.

Dulu perpindahan pemain walaupun diperbolehkan namun sangat jarang terjadi. Nuansa fanatisme daerah masih sangat kental sekali. Pemain walaupun dibayar sangat murah, fanatisme kedaerahannya tidak pernah luntur. Karena saat itu dipercayakan memakai kostum PSMS saja sudah merupakan kebangaan yang saat besar sekali. Tapi hal seperti itu tidak berlaku lagi saat ini. Lihatlah beberapa pemain asal Medan yang dibesarkan PSMS saat ini menjadi pemain inti kesebelasan lain. Apakah mereka ini patut dipersalahkan? Jawabannya tidak. Saat ini berlaku hukum ekonomi, siapa yang berani bayar mahal maka dialah yang mendapat. Apakah hal ini merupakan paku mati? Seperti disebutkan di atas, liga sepakbola kita merupakan liga profesional tapi belum profesional sepenuhnya.

Untuk itu apabila pengurus ingin mengembalikan kejayaan kesebelasan ayam kinantan ini, maka pengelolaannyapun harus dilakukan secara profesional pula. Profesional di sini bukan harus seperti profesionalisme yang kita lihat sekarang di liga-liga Eropa. Dalam perekrutan pemain misalnya, terutama pemain lokal setempat. Mereka ini sebenarnya soal gaji atau transfer tidak minta terlalu muluk-muluk. Hanya saja selama ini mereka kurang mendapat perhatian sehingga ketika ada pendekatan yang dianggap lebih kekeluargaan maka mereka pindah.

Saat ini merupakan momen yang paling tepat bagi PSMS Medan untuk kembali meraih kejayaan seperti yang pernah dirasakan beberapa puluh tahun yang lalu. Soal dana rasanya tidak masalah lagi sebab puluhan milyar dana dari APBD Kota Medan tahun 2006 sudah dialokasikan untuk itu. Soal pemain demikian juga. Saat ini walaupun belum sempurna betul tapi dari komposisi pemain yang ada cukup memadai untuk mencapai gelar itu. Yang perlu dijaga adalah kebersamaan. Inilah merupakan salah satu kunci yang harus dipertahankan. Ingat keberhasilan PSMS tidak hanya bisa terwujud hanya berkat pengurus saja namun perlu dukungan dari semua pihak termasuk para suporter dan media di daerah ini. Untuk itu pengurus PSMS diingatkan untuk selalu menjaga hal yang satu ini. Jangan sampai momentum emas yang sudah di depan mata bisa hilang hanya kesalahan atau ulah segelintir oknum tertentu saja. ****

 

Sumber: Analisa, 27 Januari 2006

Sponsors
 
GUEST BOOK
Hosted by www.Geocities.ws

1