PSMS 2004 PSMS 2005

powered by Google

Kembali ke Depan
15 Mei 06 11:19 WIB
Pergantian Pelatih PSMS Sudah Sangat Mendesak


Medan, WASPADA Online
Penggantian pelatih PSMS Medan sudah sangat mendesak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, kalau tim yang dibiayai uang rakyat ini Rp14 milyar (APBD Kota Medan) tak mau gagal menerobos putaran delapan besar Liga Djarum Indonesia 2006 yang memperebutkan Piala Presiden RI.

Dua kekalahan beruntun pada pertandingan tandang tim yang dipimpin Ketua Umum Drs H Abdilah Ak MBA ini di Jakarta dan Tangerang itu, bukan karena kelemahan pemain melainkan karena ketidakmampuan pelatih dalam menerapkan strategi dan menurunkan materi pemain maupun melihat kelemahan lawan.

Demikian kesimpulan pemerhati PSMS yang dihubungi secara terpisah di Medan, Minggu (14/5), menanggapi kegagalan PSMS menghadapi Persija Jakarta (kalah 0-1) dan Persikota Kota Tangerang (0-2) menilai kondisi PSMS ke delapan besar semakin gawat.

Bayangkan untuk lolos kepertandingan tersebut, PSMS harus merebut kemenangan enam pertandingan kandangnya dan nilai empat di awaynya ke Celegom (melawan Persitara Jakarta Utara) dan Tangerang (menghadapi Persita.

Enam pertandingan kandang itu lawan-lawan yang dihadapi bukan tim ayam sayur tetapi lawan tangguh dan yang mengalahkan PSMS di kandangnya sendiri seperti PSIS Semarang, Persekabpas Pasuruan, Sriwijaya FC, Semen Padang serta Arema Malang dan Persijap Jepara.

"Ketua Umum Abdilah yang Walikota Medan itu harus membuka mata untuk menerima masukan-masukan, bukan hanya menerima laporan dari orang-orang yang ditempatkannya di kepengurusan PSMS," kata mereka. Seandainya Bang Dillah panggilan akrabnya Abdilah ini tetap mempertahankan pelatih M Khaidir, berarti dia memang menginginkan PSMS hancur, kata mereka dan sependapat selain pelatih, kroni-kroninya Ketua Umum yang hanya membuat masalah di kubu maupun di kepengurusan PSMS selayaknya dibuang.

"Saya sependapat kalau orang yang tidak berguna di squad PSMS dibuang saja jangan lagi dipertahankan, karena masih banyak orang lain yang mau berkorban demi kebangkitan PSMS," ujar Ketua Komisi C DPRD Medan Drs Hendra DS yang juga pengurus PSMS yang membidangi teknik.

Hendra yang merasa cukup kesal atas kekalahan beruntun PSMS yang dimanajeri Drs H Ramli MM dan Drs H Randiman Tarigan padapertandingan tandangnya di Jakarta dan Tangerang, menilai kekalahan itu akibat pelatih yang kurang mampu untuk memanfaatkan situasi maupun strategi.

Buat apa lagi dipertahankan pelatih seperti ini apalagi dia terlalu memanjakan pemain akibatnya rasa tanggungjawab pemain terhadap PSMS sudah benar-benar luntur. Seperti contoh terlalu bebasnya pemain untuk bepergian dengan izin pelatih dan tidak lagi memikirkan tim yang dibelanya, disamping itu kurang bersedianya pelatih berkomunikasi ataupun bertukar pikiran demi kebaikkan PSMS.

Selain Hendra, Ilhamsyah juga mengakui demikian. PSMS menurut Ilhlam jadi korban tim-tim Pulau Jawa yang mulai bahu-membahu meloloskan tim se daerahnya, seperti contoh PSIS Semarang yang memberi angin kepada Persekabpas dengan memberi kemenangan 2-0. Begitu juga ketika Persija membantu Persitara dari ancaman degradasinya, ini tidak menjadi rahasia umum lagi.

"Ini harus diantisipasi, bukan tidak mungkin mereka ingin menjerumuskan PSMS supaya tidak masuk empat besar di Wilayah Barat. Sekarang ini PSMS sudah berada di posisi kelima dan Persikota mulai mengamcamnya," kata salah seorang ketua Golkar di Medan ini.

Ilham yang mengakui dia langsung menyaksikan perlawanan PSMS terhadap Persija di Lebak Bulus, menemukan tidak terlihatnya rasa penyesalan dari kalangan pemain maupun offisial PSMS atas kekalahan tersebut. "Mereka seperti tidak merasa bertanggungjawab teradap PSMS, padahal telah dibayar dengan nilai ratusan juta rupiah dari uang rakyat, begitu juga pengorbanan dari manajer tim Drs H Ramli MM maupun asisten manajer tim Drs H Randiman Tarigan," sesalnya. (m24)

(am)

Sumber : http://waspada.co.id 15 Mei 2006
Sponsors
 
GUEST BOOK
Hosted by www.Geocities.ws

1