|
15 Mei 06 11:19 WIB
Pergantian Pelatih PSMS Sudah Sangat Mendesak
Medan, WASPADA Online
Penggantian pelatih PSMS Medan sudah sangat
mendesak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi,
kalau tim yang dibiayai uang rakyat ini Rp14
milyar (APBD Kota Medan) tak mau gagal menerobos
putaran delapan besar Liga Djarum Indonesia 2006
yang memperebutkan Piala Presiden RI.
Dua kekalahan beruntun pada pertandingan tandang
tim yang dipimpin Ketua Umum Drs H Abdilah Ak
MBA ini di Jakarta dan Tangerang itu, bukan
karena kelemahan pemain melainkan karena
ketidakmampuan pelatih dalam menerapkan strategi
dan menurunkan materi pemain maupun melihat
kelemahan lawan.
Demikian kesimpulan pemerhati PSMS yang
dihubungi secara terpisah di Medan, Minggu
(14/5), menanggapi kegagalan PSMS menghadapi
Persija Jakarta (kalah 0-1) dan Persikota Kota
Tangerang (0-2) menilai kondisi PSMS ke delapan
besar semakin gawat.
Bayangkan untuk lolos kepertandingan tersebut,
PSMS harus merebut kemenangan enam pertandingan
kandangnya dan nilai empat di awaynya ke Celegom
(melawan Persitara Jakarta Utara) dan Tangerang
(menghadapi Persita.
Enam pertandingan kandang itu lawan-lawan yang
dihadapi bukan tim ayam sayur tetapi lawan
tangguh dan yang mengalahkan PSMS di kandangnya
sendiri seperti PSIS Semarang, Persekabpas
Pasuruan, Sriwijaya FC, Semen Padang serta Arema
Malang dan Persijap Jepara.
"Ketua Umum Abdilah yang Walikota Medan itu
harus membuka mata untuk menerima
masukan-masukan, bukan hanya menerima laporan
dari orang-orang yang ditempatkannya di
kepengurusan PSMS," kata mereka. Seandainya Bang
Dillah panggilan akrabnya Abdilah ini tetap
mempertahankan pelatih M Khaidir, berarti dia
memang menginginkan PSMS hancur, kata mereka dan
sependapat selain pelatih, kroni-kroninya Ketua
Umum yang hanya membuat masalah di kubu maupun
di kepengurusan PSMS selayaknya dibuang.
"Saya sependapat kalau orang yang tidak berguna
di squad PSMS dibuang saja jangan lagi
dipertahankan, karena masih banyak orang lain
yang mau berkorban demi kebangkitan PSMS," ujar
Ketua Komisi C DPRD Medan Drs Hendra DS yang
juga pengurus PSMS yang membidangi teknik.
Hendra yang merasa cukup kesal atas kekalahan
beruntun PSMS yang dimanajeri Drs H Ramli MM dan
Drs H Randiman Tarigan padapertandingan
tandangnya di Jakarta dan Tangerang, menilai
kekalahan itu akibat pelatih yang kurang mampu
untuk memanfaatkan situasi maupun strategi.
Buat apa lagi dipertahankan pelatih seperti ini
apalagi dia terlalu memanjakan pemain akibatnya
rasa tanggungjawab pemain terhadap PSMS sudah
benar-benar luntur. Seperti contoh terlalu
bebasnya pemain untuk bepergian dengan izin
pelatih dan tidak lagi memikirkan tim yang
dibelanya, disamping itu kurang bersedianya
pelatih berkomunikasi ataupun bertukar pikiran
demi kebaikkan PSMS.
Selain Hendra, Ilhamsyah juga mengakui demikian.
PSMS menurut Ilhlam jadi korban tim-tim Pulau
Jawa yang mulai bahu-membahu meloloskan tim se
daerahnya, seperti contoh PSIS Semarang yang
memberi angin kepada Persekabpas dengan memberi
kemenangan 2-0. Begitu juga ketika Persija
membantu Persitara dari ancaman degradasinya,
ini tidak menjadi rahasia umum lagi.
"Ini harus diantisipasi, bukan tidak mungkin
mereka ingin menjerumuskan PSMS supaya tidak
masuk empat besar di Wilayah Barat. Sekarang ini
PSMS sudah berada di posisi kelima dan Persikota
mulai mengamcamnya," kata salah seorang ketua
Golkar di Medan ini.
Ilham yang mengakui dia langsung menyaksikan
perlawanan PSMS terhadap Persija di Lebak Bulus,
menemukan tidak terlihatnya rasa penyesalan dari
kalangan pemain maupun offisial PSMS atas
kekalahan tersebut. "Mereka seperti tidak merasa
bertanggungjawab teradap PSMS, padahal telah
dibayar dengan nilai ratusan juta rupiah dari
uang rakyat, begitu juga pengorbanan dari
manajer tim Drs H Ramli MM maupun asisten
manajer tim Drs H Randiman Tarigan," sesalnya.
(m24)
(am)
Sumber : http://waspada.co.id 15 Mei 2006
|
|
|
 |
Sponsors |
|
| |
|