|
Budaya
Jawa dan Kekerasan Sepakbola
Oleh : Bambang Haryanto
Filsuf Perancis Jean Paul Sartre (1905-1980)
pernah bilang, dalam sepakbola semuanya jadi
rumit karena hadirnya pemain lawan. Dalam
konteks Indonesia, sepakbola makin bertambah
rumit karena hadirnya suporter tim yang
bertanding, sehingga melahirkan lelucon betapa
Indonesia pantas disebut sebagai negara sarang
teroris. Buktinya, mereka legal berkumpul di
stadion-stadion, juga leluasa melakukan aksi
teror ketika tim yang ia dukung kalah.
Aksi teror dan kerusuhan suporter di Jawa Tengah
meledak lagi (12/3/2006) di Jepara. Sebagai
suporter dan football flaneur, istilah dari
penyair Perancis, Charles Baudelaire (1821–1867)
untuk turis bola yang gemar menjelajah kota
untuk nonton sepakbola (di Pulau Jawa sampai
Singapura), saya pribadi kenyang menemui
aksi-aksi brutal suporter sepakbola Indonesia.
Tetapi hal buruk tersebut senyatanya tak hanya
meledak di masa kini.
Adalah Freek Colombijn, antropolog lulusan
Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club
Belanda, secara tajam mengungkap borok tindak
kekerasan dunia suporter sepakbola Indonesia
sejak jaman kolonial hingga kini. Dalam
tulisannya "View from the Periphery : Football
in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan
Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and
Identities (1999), ia memakai pisau bedah dari
perspektif budaya dan politik dalam analisis
yang provokatif.
Ditilik dari kajian budaya, menurutnya, tidak
dapat diingkari bahwa Indonesia kuat dipengaruhi
budaya suku mayoritas, suku Jawa. Budaya Jawa
memiliki pandangan ketat mengenai pentingnya
keselarasan. Perasaan yang terinternalisasi
secara mendalam dalam jiwa orang Jawa adalah
kepekaan untuk tidak dipermalukan di muka umum.
Perasaan demikian memupuk konformitas,
pengendalian tingkah laku dan menjaga ketat
harmoni sosial. Konflik yang terjadi diredam
sekuat tenaga. Reaksi normal setiap orang Jawa
dalam menanggapi konflik adalah penghindaran,
wegah rame, dan mediasi oleh fihak ketiga.
Apabila meletus konflik, terutama ketika saling
ejek dan saling hina terjadi, maka yang muncul
adalah perasaan malu dan kehilangan muka.
Dengan landasan sikap interaksi antarmanusia
tipikal seperti itu, membuat pertandingan
sepakbola menjadi problematis. Sebab sepakbola
adalah konflik eksplisit, dimana seseorang
sangat mudah untuk merasa dihinakan. Adanya
tackle keras, trik licin mengecoh lawan, sampai
keputusan wasit yang mudah ditafsirkan secara
beragam, jelas membuat penghindaran menjadi hal
mustahil. Apalagi ketegangan itu diperburuk oleh
fakta bahwa tindak penghinaan tersebut tidak
hanya berlangsung di muka umum, tetapi
nyata-nyata di depan ribuan pasang mata. Reaksi
tipikal orang Jawa ketika dibawah tekanan
semacam itu adalah ledakan kemarahan dan amuk
tindak kekerasan.
Tesis di atas dapat dinilai parsial dan
hipotetis. Karena argumen yang sama kurang
meyakinkan bila diterapkan untuk kelompok etnis
Indonesia lainnya, yang juga memunculkan tindak
kekerasan serupa dalam teater sepakbola.
Idealnya kemudian, penjelasan secara kultural
tadi direntang dengan menggambarkan kesejajaran
secara spekulatif antara sepakbola dengan budaya
politik, sehingga mencakup pemain dan suporter
dari semua latar belakang etnis di Indonesia.
Kalah dan Amuk
Dalam budaya demokrasi, kalah-menang secara fair
play merupakan bagian sah suatu kompetisi. Di
pentas Piala Dunia 2002 kita diberi keteladanan
ketika tuan rumah Korea Selatan atau Jepang
mengalami kekalahan, ternyata tidak terjadi
kerusuhan sama sekali. Hal sebaliknya justru
meletus kerusuhan di Moskwa ketika Rusia
dikalahkan oleh Hidetoshi Nakata dan kawan-kawan.
Sementara itu di pentas sepakbola Indonesia,
kerusuhan masih mudah meruyak ketika suatu tim
mengalami kekalahan. Realitas ini menegaskan
betapa dalam masyarakat non-madani, bahwa ide
mengenai kompetisi yang selalu melibatkan
konflik, belum berurat dan berakar. Bahkan
perilaku menjunjung tinggi sportivitas dipandang
sebagai hal bodoh. Teater sepakbola Indonesia
kaya dengan contoh pelecehan terhadap
sportivitas olahraga.
Misalnya dalam pertandingan terakhir putaran
kedua Kompetisi Perserikatan PSSI Wilayah Timur
1988, tuan rumah Persebaya digulung Persipura
dengan skor fantastis, 0 - 12. Persipura dengan
kemenangan itu berarti menyisihkan peluang PSIS
Semarang sebagai juara bertahan 1986/1987 untuk
berlaga ke Senayan. Tetapi kemenangan fantastis
itu, semua publik sepakbola mengetahuinya,
merupakan kemenangan yang tidak wajar, diatur
para eksekutif kedua tim perserikatan tersebut.
Dalam perempat-final Piala Tiger 1998 di Hanoi,
Vietnam, terjadi peristiwa aib yang melibatkan
tim nasional Indonesia. Peristiwa hitam itu
terjadi ketika tim yang bertanding, baik tim
Thailand atau pun Indonesia, sama-sama tidak
menggubris etika dan roh olahraga itu sendiri,
yaitu sportivitas.
Kedua tim berusaha mati-matian agar memperoleh
kekalahan pada akhir pertandingan. Tujuannya,
agar terhindar bertemu tuan rumah Vietnam di
semi final. Saat skor 2-2 pada perpanjangan
waktu, pemain Indonesia Mursyid Effendi menembak
ke gawang timnya sendiri. Kiper Indonesia tidak
berusaha menepis. Justru banyak pemain Thailand
berusaha menjaga gawang timnas Indonesia agar
tidak kebobolan.
Semua ilustrasi menyedihkan itu menunjukkan
semangat berkompetisi secara fair play masih
impian langka di Indonesia. Berdasar pendapat
banyak ahli, memang itulah cermin sejati bangsa
Indonesia yang lebih condong sebagai sosok
masyarakat non-madani ketimbang masyarakat yang
demokratis. Kalau terus seperti ini, kapan
Indonesia bisa masuk Piala Dunia ? Antonio
Gramsci pernah bilang, sepakbola merupakan model
masyarakat individualistik yang membutuhkan
prakarsa, kompetisi dan konflik. Tetapi
segalanya diatur oleh peraturan tidak tertulis
yaitu hukum fair play.
Mari kita introspeksi diri. Apakah masyarakat
kita selama ini telah kondusif untuk mekarnya
segala prakarsa, berbudaya sehat dalam
berkompetisi, arif menyelesaikan beragam konflik,
sekaligus patuh terhadap segala peraturan
tertulis dan tidak tertulis secara konsekuen ?
Selama kita belum mengalami perubahan budaya
seperti disyaratkan Gramsci, jangan harap
prestasi sepakbola kita bisa ikut berbicara di
pentas dunia. Hari-hari mati prestasi sepakbola
Indonesia masih teramat panjang sekali. Dan
kerusuhan antarsuporter seperti yang meledak di
Jepara itu pasti masih terus terulang dan
terulang kembali ! (Artikel ini dengan
penyuntingan telah dimuat di Harian Kompas Jawa
Tengah, 4 April 2006).
Sumber: http://suporter.blogspot.com/
|