INFO

 

 

 

 

Hambali Hambali, nama yang kerap muncul setiap terjadi peledakan bom itu, sungguh orang yang istimewa. Anak Desa Sukamanah, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, siapa duga menjadi orang yang paling di cari di dunia; dia bukan hanya musuh satu negara, melainkan menjadi musuh nomor satu seluruh dunia.

Saking istiwewanya, sampai-sampai Presiden Amerika Serikat, George W Bush, sendiri yang mengumumkan penangkapannya di sebuah kampung di Thailand pada 11 Agustus lalu. Dan, ia pun menjadi rebutan beberapa negara yang mengklaim mempunyai yurisdiksi atas kejahatan yang diperbuat Hambali. Saya kira tak seorang pun di desanya dapat menduga laki-laki alim itu, yang di desanya dikenal dengan nama Encep Nurjaman, menjadi pusat perhatian dunia seperti sekarang. Sungguh!

Hambali diyakini sebagai operator suatu jaringan yang berbahaya, yang oleh PBB dimasukkan dalam daftar teroris, terkait dengan pengeboman di beberapa negara, termasuk serangan 11 September di Amerika Serikat, yang menggemparkan itu. Dia diyakini sebagai anggota jaringan Alqaidah pimpinan Usamah Bin Ladin yang ditakuti.

Opini internasional telah menyakini anak Desa Sukamanah itu orang paling penting dalam jaringan organisasi tersebut. Bom yang meledak di Hotel JW Marriott, Jakarta, beberapa pekan lalu, juga diyakini melibatkan Hambali; ia seperti tiada hentinya mencari mangsa, melumatkan orang-orang tak berdosa! Makanya tak mengherankan apabila ia menjadi buronan internasional.

Tetapi, benarkah opini tersebut? Opini yang berkembang di Indonesia tampak tak segera mempercayai apa yang berkembang dalam opini internasional tersebut. Macam-macam analisis berkembang, dari analisis konspirasi hingga analisis intelijen, yang kemudian memarakkan berbagai unjuk rasa di dalam negeri.

Saya kira ketidakyakinan yang muncul itu bukan berarti ingin menunjukkan pembelaan terhadap tindak teroris itu sendiri, melainkan menuntut suatu pengungkapan yang transparan atas keterlibatan orang dan organisasi yang disebutkan. Sehingga, tidak memberi stigma negatif terhadap salah satu keyakinan. Tampaknya, inilah yang dihindari, bukan ingin membenarkan terorisme. Saya kira tidak ada yang setuju dengan tindak teroris!

Pemerintah Indonesia dengan demikian harus berusaha mendapatkan akses untuk memeriksa Hambali secara langsung. Bukan mendapatkannya dari tangan kedua. Akses kepada Hambali menjadi titik masuk yang penting untuk mengungkapkan semua tuduhan atau opini yang sudah telanjur berkembang itu.

Saya kira analisis apa pun bisa kita kembangkan dalam kaitan dengan kasus ini, tergantung pada perspektif yang kita gunakan, tetapi itu satu-satunya yang benar. Karena, itulah saya lebih mempercayai hard evidence yang diperoleh dari kepingan-kepingan fakta di lapangan, ketimbang analisis-analisis yang dimulai dari suatu perspektif. Dari sinilah kita bisa menemukan siapa sesungguhnya Hambali. 


 

Selasa, 12 Agustus 2003
Menyusupi Kelompok Garis Keras

Dalam laporan tertanggal 11 Desember 2002, Direktur International Crisis Group (ICG) menulis bahwa kecil kemungkinannya, Abu Bakar Ba'asyir menjadi otak serangkaian serangan Jamaah Islamiyah (JI). Laporan tersebut mempercayai bahwa mereka yang tergabung dalam JI yang berkembang di Asia Tenggara itu hanyalah operatornya.

Sosok yang tergolong terlibat serius dalam pemunculan istilah JI adalah Faiz bin Abu Bakar Bafana. Sebutan JI itu dia munculkan setelah bom Bali. Nama Abdullah Sungkar disebut-sebut sebagai pendirinya. Sampai saat ini, sosok Bafana hanya dimanfaatkan ucapannya untuk memojokkan Islam. Latar belakang kehidupan Bafana tidak pernah terungkap jelas.

Laporan itu juga menyebut bahwa dalam kasus bom malam natal di Medan terdapat kaitan misterius antara orang Aceh yang dengan JI dan intelijen militer RI. Tapi, ICG tidak berani menyebut secara tegas soal adanya keterkaitan langsung antara JI dengan intelijen militer.

Paparan ini mengingatkan kita pada peristiwa yang terjadi pada 1980-an. Waktu itu, muncul kelompok yang dikenal sebagai Komando Jihad. Organisasi ini dipimpin H Ismail Pranoto (Hispran) dan H Danu. Komando Jihad menjadi salah satu model operasi intelijen yang memanfaatkan gerakan Islam.

Kelompok ini menjadi aliran Islam yang menentang gerakan sekularisasi dan simbol-simbol anti agama. Mereka kemudian dicap sebagai gerakan radikal yang berbahaya.
Sikap keras kelompok ini ternyata tidak tumbuh alami. Belakangan diketahui bahwa Komando Jihad itu organisasi 'jadi-jadian' yang dibina Ali Murtopo. Bahkan dalam pengakuannya di pengadilan, H Danu mengaku bahwa dirinya direkrut BAKIN. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk menghantam kelompok Islam sendiri.

Aktivis Islam periode 1970-1980, Abdul Qadir Jaelani, mengungkapkan bahwa keberadaan Komando Jihad itu terkait erat dengan gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Waktu itu, NII diajak kerja sama oleh Ali Murtopo untuk memerangi komunis. NII dipilih karena anggotanya memiliki ruh jihad yang tinggi melawan berbagai simbol kafir.

''Saya sudah peringatkan kepada Saudara Danu untuk tidak mudah percaya dengan intel. Di mana-mana, intel sulit dipercaya,'' katanya. Tapi seruan itu tak mendapat reaksi. Kerja sama berlangsung, dan akhirnya muncul istilah Komando Jihad yang menjerumuskan orang NII sendiri. Sebagian tokoh yang terlibat dalam Komando Jihad memang sempat ditahan. Tapi, kabarnya, mereka kemudian dilepaskan diam-diam.

Operasi serupa juga pernah dilakukan Ali Murtopo melalui Daarul Islam (DI) yang mulanya dirintis Kartosuwiryo. Direktur ICG, Sidney Jones, dalam salah satu laporannya pernah menulis bahwa menjelang pemilu 1977, geliat politik Islam makin terasa. Bersamaan dengan itu, Ali Murtopo kemudian menggiatkan kembali DI.

Selanjutnya, DI menjadi salah satu organisasi yang dianggap merongrong pemerintah RI. Akibatnya, waktu itu kebanyakan masyarakat menjadi takut dengan kegiatan yang berdekatan dengan arus politik Islam. Singkatnya, nama Islam menjadi cemar.

Dalam beberapa kasus, fenomena JI dengan DI dan Komando Jihad memiliki kemiripan. Istilah JI tiba-tiba dimunculkan dan dikaitkan dengan tindakan teror yang menakutkan masyarakat. Orang-orang yang sekarang ditangkap karena terkait dengan istilah JI, juga diinformasikan termasuk kalangan yang sangat bersemangat untuk berjihad melawan yahudi dan nasrani.

''Kemudian, semangat mereka dimanfaatkan oleh jaringan intelijen asing untuk menghantam Islam sendiri,'' tambah Abdul Qadir. Orang-orang seperti Imam Samudra, Amrozi, dan sebagainya itu, kata dia, kemungkinan besar hanya menjadi pelaksana. Otak dan rencana operasi itu sendiri bukan datang dari kelompok mereka.

Dugaan masuknya intelijen asing ini, oleh Abdul Qadir juga dikaitkan dengan banyak kepentingan. Selepas komunis tidak mewujud dalam kekuatan nyata, hegemoni barat menjadikan Islam sebagai musuhnya. Kemudian, negara-negara pendukung hegemoni barat, yakni Israel, AS, dan sekutunya, berusaha menghancurkan peradaban Islam.

Indonesia termasuk salah satu negara berpenduduk Islam paling banyak.
Pada waktu yang bersamaan, lanjut pria yang pernah dikaitkan dengan kasus Tanjung Priok itu, Singapura juga ingin mendapatkan sumberdaya alam Indonesia dengan mudah.

Jika Indonesia hancur, keinginan tersebut mudah sekali terpenuhi. Akibatnya, berbagai agen asing yang membuka perwakilan di Singapura, termasuk Mossad (agen Israel), dan MI-6 (Inggris), ikut memainkan peran.
Masuknya intelijen Israel ke Indonesia bukanlah 'barang' baru.

Mantan Pangkopkamtib, Soemitro, dalam biografi yang ditulis Ramadhan KH, menyebutkan bahwa Mossad pernah bekerja sama dengan intelijen Indonesia untuk melawan gerakan RMS. Waktu itu, satu tim Mossad dari Singapura datang ke Indonesia dan merancang pelatihan untuk tentara dan intelijen Indonesia. Bukan tidak mungkin, fakta yang dituturkan Soemitro ini, terus berjalan sampai sekarang, dan ikut merancang serangkaian peledakan.

Mereka tentu saja tidak mungkin berani menampakkan diri dalam menjalankan operasinya. Operator lokal dimanfaatkan untuk menjadi eksekutornya. Operator lokal ini pula yang harus berani pasang badan untuk menanggung risiko setelah operasi berjalan.

Tidak mudah untuk membongkar keterkaitan operator lokal dengan aktor intelektual serangkaian aksi bom. Mereka biasanya menggunakan jaringan tertutup yang berlapis. Lapisan yang satu dengan yang lain, hanya dihubungkan oleh satu rantai. Mereka yang berada di luar rantai penghubung, hanya mengetahui rekan yang berada dalam lapisan yang sama. Pola seperti itu ditempuh sengaja supaya aktor intelektual tidak sampai tersentuh publik. irf

Minggu, 27 Juli 2003
Bangsa yang Membutuhkan Kumandang Doa
Oleh : KH Hasyim Muzadi

"Hamba-Ku telah memperlakukan Aku dengan tidak adil. Ia berdoa kepada-Ku dan Aku merasa malu jika tidak mengabulkan doanya, tapi ia terus bermaksiat kepada-Ku tanpa merasa malu kepada-Ku," firman Allah SWT dalam Hadits Qudsi.

Bangsa Indonesia yang selama ini dikenal amat religius, sangat menjunjung nilai-nilai ketimuran, sarat dengan keagungan adat, memiliki tingkat toleransi yang sungguh tinggi; dalam beberapa tahun terakhir sungguh telah jatuh dalam sumur tanpa dasar dengan setumpuk persoalan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Jangankan berpikir bagaimana keluar dengan selamat, memiliki kesempatan untuk melihat diri sendiri saja sungguh sulit dalam kegelapan sumur tersebut. Pada saat-saat seperti itu, kesadaran betapa kecilnya diri ini, betapa tak kuasanya bangsa ini, dan betapa butuhnya kita akan sebuah pertolongan, datang berdentam dengan kuat di dalam dada.

Kita lantas berusaha mencoba mencari diri sendiri dalam kegelapan dengan lentera kesadaran yang datang mendadak. Inilah kesempatan emas bagi kita mensyukuri karunia kesadaran. Kesadaran betapa jauhnya kita meninggalkan Allah dan betapa sulitnya untuk kembali. Tindakan bersyukur yang kita lakukan adalah sebuah karunia yang tentu harus kita syukuri.

Karena terlalu jauh kita meninggalkan garis Tuhan, maka kita mulai menyadari betapa sulitnya mencari jalan untuk pulang. Ketika Ibrahim Alahis Salam ditanya Tuhan, "Fa Aina Tadzhabun" (Hendak ke mana kalian pergi), maka ia lantas menjawab, "Inni Dzaahibun Ilaa Robbi Sayahdiin" (Sungguh hamba pergi menuju Tuhan, maka Ia akan memberi hamba hidayat). Ketika itulah, terasa betapa pentingnya arti sebuah doa untuk pulang kepada Allah.

Kenapa bangsa ini memerlukan doa, karena jumlah problema yang ada jauh melampaui kekuatan yang kita punya, bahkan seandainya pun kekuatan itu disatukan. Apalagi kalau kekuatan yang tercecer-cecer, yang tampaknya dalam hari-hari ini justru anak bangsa saling melemahkan, saling membunuh dalam arti yang luas untuk kepentingan pragmatis, sesaat, sempit, dan amat primordial.

Ketika kita mencoba mengumpulkan satu-satu persoalan yang kita hadapi, lantas muncul kesadaran; sungguh suatu kemustahilan dengan kemampuan orang-perorang akan ada recovery secara cepat dalam kehidupan berbangsa pada tahun-tahun mendatang.

Sebagai orang beragama seharusnya kita kembali kepada Allah dengan segala kesadaran diri yang paling tinggi, bukan sebatas janji yang terucap tetapi harus dengan prilaku. Nah prilaku apa yang diperintah Allah sebenarnya?

Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mereorientasi diri serta bermuhasabah, apa sebenarnya yang paling rusak dalam diri bangsa. Kalau mencermati betapa beratnya persoalan yang kita hadapi, maka perhatian kita langsung tertumbuk ke soal moralitas. Moral adalah fondasi sebuah tahta yang menyangga pilar-pilar negara.

Ketika fondasi ambruk, tentu akan tampak samar karena letaknya di bawah permukaan. Tetapi ambruknya fondasi akan langsung dapat kita ketahui melalui runtuhnya pilar-pilar bangunan. Selanjutnya dengan mudah dapat ditebak. Fondasi yang ambruk dan pilar-pilar yang runtuh telah menyebabkan bangunan amblas.

Dalam kondisi moral rusak berat, sudah barang pasti sebuah sistem tidak akan mampu berbuat apa-apa, apalagi menolong. Ironisnya, kerusakan moral ini telah pula mengakibatkan terpelantingnya pilar-pilar negara seperti hukum, politik, ekonomi, pertahanan, pendidikan, budaya, integritas nasional. Sungguh tak terbayangkan, kerusakan moral telah mengantarkan bangsa ini kepada sebuah kerusakan menyeluruh, lengkap, sempurna. Sungguh!

Tanpa harus diajarkan, semua kita tahu bangsa ini secara formal memiliki sarana dan prasarana hukum. Hukum formal ada, hukum kognitif ada, hukum positif juga. Tetapi karena tidak memiliki landasan moral, hukum itu tidak akan bermuara pada keadilan. Inilah bedanya law (al-Hukmu) dengan justice (al-'Adaalatu).

Sebagai sebuah norma, law membutuhkan orang untuk memutar law menjadi keadilan. Ketika orangnya, prasarananya, dan equipment-nya tidak dialiri moral, hukum tak lebih dari sebuah catatan tertulis.

Lebih dahsyat lagi, hukum bisa menjadi alat kedzaliman dan penindasan. Pemeo berikut ini akan jadi saksi abadi. Kalau ada orang kecil kena perkara dia tentu akan ditanya kena pasal berapa? Tetapi kalau orang ''gede'' berduit terkena perkara ia akan tanya berapa harga pasal itu?

Untuk menggambarkan kasus serupa, tentu tak akan sulit. Hukum nyata-nyata berpihak kepada kepentingan. Hukum positif dan kognitif jadi lumer, karena tidak ada justice morality; moral keadilan. Hukum bisa tegak kalau bangsa ini bersama-sama bersatu dalam bangunan justice.

Lantas bagaimana kondisi moral politik? Tak jauh berbeda. Sama-sama rusak secara mengesankan. Moral politik adalah ketika rakyat memberikan kepercayaan kepada pemimpin untuk berkuasa dan menggunakan amanah kekuasaan untuk kemaslahatan semua (al-Mashaalih al-'Ammah). Produk-produk kekuasaan seharusnya mengalir kepada masyarakat dalam bentuk kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, ketenteraman.

Politik dapat dikatakan bermoral apabila ia berbanding lurus dengan kebutuhan rakyat. Bukan dari rakyat oleh rakyat untuk pemimpin. Politik para pemegang kekuasaan, telah mengalami keruntuhan moral dalam pilar eksekutif, legislatif, dan bahkan yudikatif. Siapa yang bisa memperbaiki? Kalau masalahnya sistem politik, baiklah kita diskusikan tetapi ketika moral politik yang rusak siapa yang memperbaiki?

Di era terdahulu, eksekutif leluasa melakukan sentralisasi tindak korupsi. Kini sejak era desantralisasi dan otonomi, kejahatan itu menjangkau ke daerah. Lembaga legislatif telah menjelma menjadi makhluk legalisator bukan legislator.

Meski terjadi resettlement sistem ketatanegaraan, tetapi tindak pengkhianatan kepada rakyat juga mengalami proses resettlement. Di sinilah kita sadari, betapa hancurnya political morality.

Kini saatnya kita melakukan muhasabah, lalu datang ke Hadlirat Allah dengan doa-doa, mengetuk sambil berharap pintu dibuka. Doa adalah senjata orang beriman. Hentikan bermaksiat, akuilah kita melakukan kesalahan, bersikap jujur kepada Dzat Maha Tinggi. Lantas kita bersiap untuk ridla atas semua yang akan diputuskan Allah untuk kita.

Yakinlah, karena tiada henti kita mengetuk, Allah akan segera membuka pintu bagi kita. Karena sesuai firman-Nya, Ia malu jika tidak bisa memenuhi kebutuhan hamba-Nya. Jangan peduli apakah kita akan didengar, karena itu justru akan mengurangi kejujuran keikhlasan kita kepada-Nya. "Dihalangi berdoa adalah lebih menyedihkan hati daripada terhalangi untuk terkabulnya sebuah doa."
 

 

   

 
 

 

 

 

 

 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1