Khotbah Minggu Pagi Juli - Agustus 2002 ~ Pdt JE AwondatuGereja Pentakosta di Indonesia - CianjurJl. K.H. Hasyim Asyari no. 75 Cianjur 43214 - Indonesia. Telp. (62-263) 261161 |
Minggu Pagi, 07 Juli 2002
Selamat pagi, selamat berbakti bertemu lagi dalam nama
Tuhan Yesus Kristus. Renungan kita pada pagi hari ini kita dapatkan dalam kitab
Mazmur 22:25-27
22-25 Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.
22-26 Karena Engkau - Tuhan maksudnya - aku memuji-muji dalam jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia.
22-27 Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya!
Puji Tuhan. Dari tiga ayat ini kita mendapatkan tiga hal. Yang pertama didalam ayat ke 25 kita mempunyai satu Allah yang unik, yang menjawab yang mendengar bahkan mau mengerti keberadaan kita. Dalam ayat ke 2, adalah kita mendapatkan kesaksian dari umat Tuhan dan dalam ayat ke 27, itu adalah satu pengalaman satu akibat dari apa yang kita kerjakan dengan Tuhan. Mari kita akan lihat satu persatu pada pagi hari ini.
Kita melihat ayat yang pertama ayat 25
22-25 Sebab Ia - Tuhan - tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang
tertindas.
Baru tertindas saja kita sudah minder. Apalagi kita sengsara. Rasanya kita nggak enak kalau kita lagi susah kita datang ketemu keluarga kita yang berada. Salah-salah nanti dianggap kita mau pinjam duit. Pada waktu kita sedang butuh pada waktu kita sedang kepepet, kita ada pada posisi underdog, posisi yang tidak menguntungkan. Kita ramah sama seseorang sudah salah. Ramah saja padahal kita nggak ada apa-apa, sudah salah. Karena apa? Karena kita bisa disalah-pahami; kita ramah mau pinjam duit. Itulah kalau orang tertindas, orang yang sedang didalam kesulitan.
Tetapi Puji Tuhan ayat ini berkata kita mempunyai
Tuhan yang tidak akan pernah menilai kita seperti itu. Pada waktu kita sedang
didalam keadaan sengsara yang tertindas, dikatakan : Tuhan tidak akan pernah memandang
hina. Kalau saudara ada kertas Alkitab, saudara pegang dulu ini Mazmur 22, kita
mau lihat dulu Mazmur 34 bagaimana penilaian Tuhan itu kepada umatNya, sayangnya
Tuhan.
34-19 TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.
Saudara lihat disini. Justru ketika umat Tuhan sedang didalam keadaan patah semangat, sedang ada didalam keadaan hancur remuk redam, justru Tuhan mau menemani. Jadi saudaraku saya buat satu lagu Tak pernah kupunya teman Setia seperti Tuhan ... maksudnya itu begitu. Waktu kita lagi susah waktu kita lagi menangis waktu kita lagi kepepet waktu kita ada dalam keadaan depresi waktu istri kita dia tidak mengerti, suami kita aja nggak ngerti, anak kita aja nggak ngerti, orang sekitar kita nggak ngerti, hopeng kita sendiri nggak ngerti apa yang kita sedang hadapi.
Ada satu ibu dia seorang yang sangat pandai mencari uang. Dia kerja disatu restoran. Dari kerja dia jadi manajer. Sampai restoran Jepang itu bilang : Kamu pegang satu restoran. Ngundang saya makan. Saya bawa satu saudara ajak makan. Nangis saudara : Oom, rumah saya punya, mobil saya punya, kepercayaan dari boss saya punya. Nggak kurang. Tapi kenapa saya nggak bisa dimengerti oleh suami saya. Kami sedang proses perceraian. Eh, saya bilang jangan dong. Kami sedang proses. Saya sudah nggak tahan. Saya masih sayang suami saya tapi saya rasanya sudah nggak tahan. Saya pendekin cerita, proses pengadilan. Saya sudah bilang jangan. Proses. Karena suaminya punya simpanan yang tidak bisa dibuang. Bingung kan? Tapi akhir-akhir ini dia bilang : Oom, saya kangen lagi sama suami saya. Saya ingin kembali sama dia. Saya bilang : Pikir dulu dong, waktu mau cerai itu pikir dulu kan saya sudah bilang jangan. Maksa.
Banyak kasus-kasus seperti ini yang tidak nampak ke permukaan dipendem tahan demi nama baik keluarga. Dipendem, nggak mau ngomong sama siapa-siapa. Hancur sendiri. Padahal ada satu teman saudara, yaitu Tuhan. Dia mau berteman dengan orang yang remuk redam hatinya sedang didalam kesusahan kesulitan mau berteman. Mau menjadi teman. Dia tidak merasa jijik waktu kita sedang sengsara. Dia tidak merasa menganggap hina Dia tidak memandang hina.
Maaf ya, maaf. Manusia menilai kita itu dari uang. Itu saudara mesti ngerti. Waktu saya masukkan anak saya sekolah, ada keluarga disana sudah punya rumah disana, antar-antar kesana kemari dia nasehatin anak saya : Rev, orang Amerika itu baik, ramah, baik semuanya ramah. Tapi Revi musti ingat mereka menganggap kita ini warga negara kelas dua. Senyum. Baik. Belanja kasih tip terima kasih, apalagi diajak makan, wah thank you very much. Tapi dia selalu menganggap orang-orang Asia orang yang nomor dua. Ingat itu. Karena meraka anggap orang Asia adalah ngadon ke Amerika mau menikmati kemakmuran mereka. Jadi dianggap nomor dua.
Heran saudara, Tuhan nggak gitu. Tuhan itu sayang
sama saudara sedemikian rupa sampai ketika hati kita sedang remuk redam, Dia mau menemani Dia mau
kelonin kita. Ini hebatnya Tuhan kita. Berikutnya kita kembali kita kepada Mazmur 22,
kita
membaca lagi ayat 25.
22-25 Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang
itu
Ini istilah Perjanjian Lama. Kalau doa tidak dijawab artinya Tuhan itu menyembunyikan wajah. Dia tidak mau melihat Dia menyembunyikan wajah seperti ini, Dia tidak mau ketemu. Ini istilah PL. Tapi kita lihat disini dengan sederhana dikatakan : Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu. Yang saya sangat senang ayat 25 akhir : Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.
Nah, tentu saja ada pertanyaan dong saudara. Pasti ada pertanyaan kalau kita ngulik kita mikir ini pasti ada pertanyaan. Kenapa atuh kita punya Tuhan hebat tapi kita musti berteriak-teriak minta tolong?
Manusia itu sifat lupa saudara! Kalau senang terus aja udah lupa dah sama Tuhan, lupa sama kebaktian. Kembali kita mau lihat Mazmur 34. Dalam Mazmur 34 saudara sekarang kita baca ayatnya yang berikutnya, yaitu ayat ke 20 : Kemalangan orang benar banyak - Bahasa Inggris bilang persoalan orang benar banyak ... tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu. Ada amin saudara? Banyak persoalan. Siapa bilang saya tidak ada persoalan. Banyak. Ini mau mulai Agustus saja udah persoalan udah masuk, saudara. Makanya untung saya bagikan sedikit. Ada panitia Family Camp, sudah saya nggak usah mikir FC. Yang di Jakarta kerja. Masih saja kirim sms, saya daftar dimana oom? Saya daftar dimana? Orang Jakarta padahal orang Ketapang. Ah, saya mau ikut ini. Jemaat Ketapang. Saya bilang itu sama ibu Susan sama suaminya Bapa Hari.
Jadi orang benar itu bukannya nggak ada problem. Ada persoalan tapi kita punya janji. Tuhan melepaskan dari semuanya. Tuhan memberi kepada kita kekuatan untuk mengatasi persoalan kita. Kembali lagi kepada Mazmur 22. Kita melihat Tuhan yang begitu care begitu memperdulikan kepada kita. Tuhan yang baik, Tuhan yang tidak menghina kita Tuhan yang tidak merasa jijik kepada kita. Dia akuan pada kita - itu Tuhan kita. Dia nggak pernah menolak sama kita. Dia tidak menyembunyikan wajah-Nya. Dia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.
Nah, ayat 26 adalah kesaksian.
22-26 Karena Engkau - karena Tuhan - aku - Raja Daud - memuji-muji dalam jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia.
Ada 2 hal. Memuji Tuhan dan membayar nazar. Untuk mengerti ini, saudara musti baca ayatnya yang ke 1. 2:1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar.
Dia membuat satu lagu dengan judul Rusa di kala fajar. Rusa dikala fajar dia mulai membawa rombongannya anak-anaknya dibawa kepadang rumput atau ke tempat air minum. Maka didalam ayat yang lain Mazmur 42 : Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
Nah, itulah awal pertama nya itu disana. Sebelum kita masuk kedalam kesaksian saudara, itu awal pertamanya itu disana. Awal pertama itu kita harus seperti rusa diwaktu fajar. Saudara tentu pagi-pagi tadi sudah bangun sudah beres-beres sudah mandi untuk kebaktian - seperti itu. Seperti rusa waktu fajar mempersiapkan diri mau mencari makanan mau mencari minuman.
Nah, didalam proses rusa mencari air itu mencari Tuhan seperti dia mencari air - apakah kita mencari Tuhan seperti itu nggak? Coba lihat di Puncak. Hari Jumat kemarin saya ditugaskan khotbah di Ketapang jam 7.00 malam. Berangkat dari sini jam 4.00 dari Cianjur, jam 4 kurang seperempat malah, sampai didepan gereja itu setengah delapan. Hari Jumat sampai waktu saya turun saya nggak bisa turun dulu ini kaki ini pegel. Musti dipukul-pukul dulu. Nggak bisa naik gereja mesti tenang dulu, karena kaku kaki saya. Pulang dari sana, pulang jam 9 kurang seperempat sampai sini setengah satu lewat Sukabumi.
Kenapa sih cari apa sih di Puncak saya pikir-pikir ya, orang-orang itu cari apa. Liburan katanya. Ya, cari apa di Puncak? Ah, reuseup we. Bermacet-ria di Puncak. Udah tahu macet, orang Jakarta ke situ lagi kesitu lagi padahal ada tempat lain saudaraku yang tidak macet, kenapa nggak kesitu. Ah, senang mau cari hiburan.
Nah, coba saya pikir kalau orang itu cari Tuhan seperti dia liburan ke Puncak. Orang itu ikut FC daftarnya seperti orang liburan ke Puncak. Baru dia akan punya kesaksian. Selama dia tidak mempunya kerinduan seperti rusa diambang fajar, saudara tidak akan mengalami kesaksian dengan Tuhan. Karena Tuhan hanya bisa dijangkau ... kalau tadi Dia yang menjangkau kita Dia menemani kita dalam kesulitan. Tapi kalau kita mau menjangkau Dia, kita musti rindu musti kangen musti mau. Tidak bisa diitukan oleh orang lain, tidak bisa dibebenjokeun. Tidak bisa. Saya itu maunya Tuhan, ingin Tuhan aja. Kalau saudara rindu kepada Dia seperi rusa rindu air ... Kalau rusa cari air kadang-kadang dia harus cari air ke mata air. Dia tidak mau yang kotor, maunya yang bening - itu rusa.
Karena Engkau karena Tuhan, aku memuji-muji dalam jemaat yang besar. Kenapa
aku mau memuji-muji Tuhan, kenapa aku nggak malu bertepuk tangan, kenapa aku
nggak malu angkat tangan, kenapa aku nggak malu menyembah Tuhan menyanyi? Karena
aku sudah punya pengalaman dengan Tuhan. Aku rindu aku kangen kepadaMu.
Jadi saya menemukan bahwa memuji Tuhan juga nggak bisa dipaksa. Dia musti datang
dari dalam hati dia - sebagai ungkapan pengalaman dia dengan Tuhan, kesaksian dia
dengan Tuhan. Ada nyanyi Haleluyah haleluyah haleluyah .. semangat - itu
pengalaman dia dengan Tuhan. Ada yang nyanyi Haleluyah baru dua kali nyanyi
haleluyah, sudah netes air mata. Ada pengalaman lain dia dengan Tuhan. Makanya
kitab Mazmur itu terdiri dari dua macam nyanyian : Nyanyian suka-cita -
lompat-lompat dan nyanyian terima kasih penuh ucapan syukur dengan air mata berlinang-linang.
Saudara yang mana, tetapi saudara harus punya pengalaman dengan Tuhan. Harus punya pengalaman pribadi bahwa Tuhan itu baik harus saudara sudah mengalami bahwa Tuhan itu menolong saudara. Saudara harus betul-betul haus kepada dia dan saudara hanya bisa dipuaskan oleh FA - musti sampai begitu. Puji Tuhan. Yang kedua. Bukan hanya memuji Tuhan tetapi nazarku akan kubayar didepan mereka yang takut akan Dia. Apa nazar ini? Nazar ini janji tapi janji bukan kepada manusia.
Kalau saya janji sama istri saya, saya janji sama anak saya, saya janji sama manusia yang lain teman - nggak bisa disebut nazar. Itu janji. Tapi nazar adalah janji kita kepada Tuhan. Umpamanya begini : Ah, Tuhan, kalau Tuhan tolong anak saya yang sakit sampai dia sembuh, saya mau serahkan diri untuk dibaptis - untuk yang belum dibaptis. Ya Tuhan, kalau sampai Tuhan tolong, usaha saya ini diberkati Tuhan, saya akan beri lebih banyak waktu untuk Engkau.
Ada satu jago tenis di Kanada. Dia ada persoalan. Lalu dia bernazar : Tuhan kalau sampai Tuhan tolong saya dalam persoalan ini jam-jam tenis saya saya akan kurangi, saya akan ikut gembala sidang untuk mengunjungi tempat-tempat dimana dia biasa kerja. Pas ditolong sama Tuhan. Waktunya musti main tenis dia tinggalkan. Karena dia sudah nazar. Dia ikut gembala sidang lihat orang jompo lihat dia kerja mengunjungi sana-sini. Asal jam tenis, teman-temannya : Ayo tenis. Nggak, saya sudah janji sama Tuhan - itu namanya nazar.
Nah, nazar ini ada bahayanya kalau kita cuma berani nazar tapi kita nggak pernah menepatinya.
Mari kita buka Pengkhotbah 5.
5:1 Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit.
5:2 Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan.
5:3 Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu.
5:4 Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya.
5:5 Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah
- Hamba Tuhan - bahwa engkau khillaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?
5:6 Karena sebagaimana mimpi banyak, demikian juga perkataan sia-sia banyak. Tetapi takutlah akan Allah.
Kembali kepada Mazmur 22. Saudara lihat disini bahaya bernazar sembarangan kalau
kita menunda-nunda nazar. Sudah janji sudah dijawab sama Tuhan, janjinya nggak
ditepati. Waktu saya ke Manado ada eks Cianjur angkatan V satu gadis yang sangat
dipakai Tuhan. Dia membuka 3 jemaat. Luar biasa. Dan dia ingin ketemu saya.
Memang anaknya pandai bicara dan luar biasa, dipakai Tuhan. Dia bilang : Oom
Yoyo, saya ingin bicara. Ibunya adalah pendeta Gereja Kegerakan Pentakosta. Jadi
dia ajak ibunya dia ajak teman-temannya SAC yang lain undang saya makan, makan ikan mas
pinggir laut. Jadi kalau saudara dengar saya makan diundang sana-sini kalau di Manado,
sama makanannya itu-itu juga, kalau nggak ikan mas kangkung, kalau nggak kangkung ya
RW gitu saja. Kacang merah dsb.
Dia nanya sama saya : Oom .. saya ini ingin menikah oom. Wajahnya baik tinggi, makanya saya juga heran : Oom juga heran kenapa kamu belum menikah. Nah, ini oom. Berkali-kali sudah hampir menikah tapi nggak jadi-jadi. Nah saya mau bersaksi sama oom. Waktu di SAC waktu di Cianjur pelajaran Roh Kudus, itu Roh Kudus turun, oom pimpin doa, itu kira-kira setengah jam kita berdoa, Roh Kudus turun, saya sangat sayang cinta sama Tuhan : Oh, Yesus ... Bernazarlah saya : Tuhan, hidup saya hanya untuk Engkau. Saya tidak akan menikah. Hidup saya hanya untuk Tuhan. Saking waktu itu Roh Allah bekerja.
Lalu dia tanya : Apa waktu itu nazar sayalah yang membuat saya ini nggak jadi-jadi kawin? Lalu dia bilang : Apa saya boleh tarik lagi nazar saya atau nggak? Saya bilang : Ini pertanyaan susah bener saya jawab, saya bilang. Waktu kamu bernazar itu sungguh-sungguh nggak? Sungguh-sungguh, oom. Kalau sungguh-sungguh jangan ditarik lagi. Tuhan nanti marah pekerjaanmu jadi rusak. Dikatakan tadi dalam ayat. Jadi bagaimana, oom? Ya, sudah begitu saja. Kalau kamu bernazar tidak mau menikah ya jangan menikah. Dia sedih karena dia ingin menikah. Kenapa saya ngomong kecepetan ya oom. Kenapa saya nazar ya? Nah itu, makanya jangan cepet-cepet ngomong. Dia ingin ke Australia sekarang untuk masuk dalam sekolah alkitab, yang semua muridnya perempuan dan akan masuk didalam pelayanan yang disebut pelayanan hasadah yaitu pelayanan yang dikerjakan seperti oleh suster-suster tetapi bukan Katolik tetapi perempuan semua yang tidak menikah. Tidak tahu apa sudah berangkat apa belum.
Tapi inilah yang saya maksudkan, saya kasih contoh, nazar itu. Mungkin toko kita nggak maju-maju, usaha kita nggak maju-maju - karena nazar belum dibayar. Kalau nazar itu bukan berupa uang, janji kita sama Tuhan itu apa? Mau dibaptis? Lekas baptis. Mau beri sebidang tanah untuk Tuhan, lekas beri sebidang tanah. Karena janjinya begitu. Setelah nazar itu dibayar, maka segala sesuatu akan kembali seperti sedia kala.
Oke, sekarang kita melihat yang terakhir, yang ketiga. Didalam ayatnya yang ke 27, yaitu pengalaman, yaitu akibat. Haleluyah.
22:27 Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya!
Terus terang, saudara, bagi saudara-saudara yang sama dengan saya usianya, diatas lima puluh, keberadaan kita sekarang adalah akibat, buah, dari apa yang kita sudah tanam pada usia belasan tahun sampai umur tiga puluh tahun. Kalau kita punya tanaman saat belasan tahun sampai tiga puluh tahun itu baik, sekarang kita punya keadaan, diatas lima puluh, juga baik. Kalau kita didik anak-anak kita sebaik-baiknya pada waku kecil, sudah besar anak-anak kita akan menjadi penghiburan, akan menjadi pelipur lara dalam masa kita tua.
Jadi, keberadaan kita sekarang adalah hasil, akibat, dari apa yang kita tabur pada waktu kita masih muda. Saya tidak tahu apa ada ibu Cuan Nio? Itu dia punya rumah di Sasak, saudara. Dia jualan lotek. Rumahnya tuh miring, lantai tuh tanah, di pinggir kali Cianjur. Jadi kalau saya masuk rumah, bezuk, ketemu suami, ngobrol, karena anak-anaknya jemaat kita. Hidupnya susah. Rumah aja miring, di kali Cianjur, pinggir kali Cianjur, di Sasak. Tapi setia ikut Tuhan. Itu keluarga Siauw Siang Ji, setia ikut Tuhan. Entahlah, nggak tahu berapa tahun setianya kita, nggak usah tanyalah. Tapi kita lihat sekarang, ibu ini senang. Anak-anaknya jadi orang. Anak-anaknya punya usaha, pekerjaan, dan sebagainya, disayang. Senang - karena setia kepada Tuhan.
Sebaliknya, ada orang yang waktu dulu ngerentenin duit. Jadi rentenir. Padahal sudah ada bank, sudah dengar Firman Allah, jangan jadi rentenir. Ngerentenin duit. Sekarang hidup susah. Lho, saya ini bingung. Aduh Tuhan, yang dulu susah, sekarang senang. Yang dulu ngerentenin duit, kan berarti duitnya banyak, kok sekarang susah? Tuhan mah nggak bisa dibohongin. Bagaimana kita memperlakukan Dia? Kalau kita cari Tuhan, cari Tuhan, cari Tuhan, nanti akibatnya kita nikmati. Tuhan pun cari kita. Kalau kita pada waktu itu kita ngeremehkan Tuhan, ngeremehkan Tuhan, nah nanti akibatnya juga, begitu.
Maka itu saudara-saudara, ayo cari Tuhan. Karena Tuhan tidak akan merasa, menganggap kita jijik, nggak!! Dia akan terima kita, cuman kitanya suka menjauh dari Dia. Nah, saya ini sekarang, gula agak tinggi, gula darah agak tinggi. Saya musti jaga dong. Saya tidak boleh minum Coca Cola, terus Coca Cola, Coca Cola ... bunuh diri, saudara. Coca Cola tuh racun paling jahat untuk orang yang kena gula. Wuih, Coca Cola, ... jahatnya. Apa yang harus saya makan? Paria yang pahit, yang dulu saya nggak beuki, harus makan paria. Saya musti olah raga, musti olah raga, musti olah raga, musti olah raga, musti olah raga. Begitu. Maka orang tidak bisa lihat saya ini kena, karena saya seger, saya sehat, karena saya lawan dengan olah raga. Nah, kalau sekarang saya, saudara, umpamanya kena ada darah tinggi, hayoh terus makan babi tiap hari, sama-sama babi, yah mati dong. Itu adalah akibat dari gelojoh.
Maka kembali kepada Firman Allah, orang yang rendah hati akan makan dan kenyang. Ini adalah akibat. Karena orang yang rendah hati akan mencari Tuhan. Ada amin, saudara-saudara? Orang yang mencari Tuhan akan memuji-muji Dia, biarlah hatimu hidup untuk selama-lamanya. Nih, saya ulangi, orang yang rendah hati akan makan dan kenyang. Dia tahu itu rasa kenyang, karena ada orang yang nggak tahu kenyang. Perut udah gendut, gemuk, makan nggak kenyang-kenyang. Padahal cari uang susah. Nggak kenyang-kenyang dia makan. Duit udah punya, perut nggak kenyang-kenyang. Toko udah tiga, udah empat, nggak kenyang-kenyang. Hayoh weh dagang terus. Hayoh weh dagang, seperti kita mau hidup seribu tahun. No, no, no, no, ingat, ingat. Kita ini udah umur berapa? Kita nih udah kemana? Kita ini sudah dekat ini. Hati-hati, kita ini harus inget sama Tuhan. Ada yang nggak kenyang-kenyang. Ada orang yang katanya ususnya panjang. Baru makan aja satu jam, dia udah makan lagi. Baru makan, dia udah makan lagi. Fitness mah fitness bari ngolomoh coklat. Atuh kumaha? Jadi nggak bisa, saudara-saudara.
Kembali lagi kepada Firman Allah. Orang yang rendah hati akan makan dengan kenyang, orang yang mencari Tuhan akan memuji Tuhan, biarlah hatimu hidup untuk selamanya. Banyak kali yang kita mau hidup tuh perut kita. Biarlah perut kita hidup. Hati musti yang hidup. Hati senang, hati senang, hati musti hidup. Makan mah makan apa aja, saudaraku. Kaya mobil, diisi oli mahal dia jalan, mesinnya. Diisi oli yang murah, dia jalan mesinnya. Kita dikasih makan yang mahal, dia hidup. Dikasih tahu tempe, dia hidup. Dikasih genjer, ya hidup. Makan takokak, ya hidup. Cecendet geramidang, ya hidup. Apapun yang kita makan, hidup. Makan kerupuk sama sambel cuka, hidup. Apa aja hidup, kalau perut mah.
Tapi hati? Bukan uang, saudara, yang penting. Kalau uang itu yang penting, bagaimana Lim Sioe Liong sekarang? Namanya diancur-ancurkan. Bagaimana orang yang pura-pura sakit di Singapur? Karena kalau sembuh, dia musti ke pengadilan di Jakarta. Bagaimana Tommy Soeharto? Anak presiden sampai ditahan di Cipinang, tersangkut uang, tersangkut pembunuhan, tersangkut ini, tersangkut itu. Bagaimana? Yang penting tuh hati.
Nah, saudara, sebagai akhir, saya bilang perhatikanlah roda. Roda tuh kalau berputar kadang-kadang, satu titik, kadang-kadang dia ada dibawah, kadang-kadang dia ada diatas. Ini saya sebut, saya bilang, roda kehidupan, kadang-kadang ada di atas. Ini namanya roda kehidupan. Kita pun begitu. Kadang-kadang kita sehat, tapi ada sakit. Namanya saja manusia. Kadang-kadang kita ada duit lebih sedikit, bisa jalan-jalan ke luar negeri. Kadang-kadang lagi kurang, nggak bisa. Itu roda kehidupan. Jangan waktu kita kurang, terus bersaksi, wah saya punya hidup ini, saya ini orang berkekurangan. Eh, Tuhan kan masih bisa putar, saudara.
Nah, dalam roda ini, roda kehidupan ini, ini semua orang juga sama, orang kristen bukan orang kristen juga sama. Orang Budha, orang Kristen, orang Islam, juga sama. Roda kehidupan. Tapi yang penting dalam roda kehidupan itu porosnya, as-nya ini. Kita musti disini - di as. Jangan dipinggir, kalau dipinggir, kita ikut muter. Di as. Jadi waktu kita ke atas, kita nggak sombong. Waktu kita ke bawah, kita nggak minder. Karena kita selalu di pusat, di as. Kita dibawah, rodanya di bawah, di as kok. Dia di atas, kita di as. Kalau saudara sudah ketemukan rahasia hidup, biarlah hatimu hidup selamanya. Di as terus. Waduh, ayeuna diberkati Tuhan - ah, puji Tuhan, haleluyah. Lagi dalam percobaan - puji Tuhan, haleluyah, sebentarlah, tidak lama, nanti juga lewat.
Sekian renungan Firman Allah. Siapa yang ada keperluan, silakan maju ke depan, kita berdoa bersama-sama.
Minggu Pagi, 14 Juli 2002
Selamat pagi, selamat berbakti bertemu lagi dalam
nama Tuhan Yesus Kristus. Kita akan membuka Alkitab kita bersama-sama didalam
injil Yohanes 15. Kita akan merenungkan FT pada pagi hari ini.
15:6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
15:8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."
Seringkali didalam kehidupan kita, kita dengar bahkan sayapun mendengar bahwa
Tuhan tidak memberi apa yang kita kehendaki tapi Tuhan memberi apa yang kita
butuhkan, perlukan. Dia tidak memberi apa yang kita mau, tapi Dia memberi apa
yang kita butuhkan. Tetapi setelah saya baca, baca, baca, baca, dalam Firman
Allah,
pernyataan itu tidak alkitabiah. Karena didalam ayat ke 7,
15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
Jadi bukan hanya yang kita butuhkan tetapi yang kita kehendaki, kata Yesus. Dan ini pernyataan yang sangat berani dari Tuhan sebab kita seringkali mengukur Tuhan dengan keberadaan kita. Dan kita bilang kita harus tahu diri, Tuhan tidak memberi apa yang kita mau tapi Tuhan memberi apa yang kita perlu. Kalau begitu pernyataan kita, maka kita nggak usah sembahyang lagi, karena Tuhan tahu kita perlu hujan, kita perlu matahari, kita perlu bernafas.
Tetapi kita ini orang-orang yang khusus, orang-orang yang diberkati Tuhan, orang-orang yang disayang sama Tuhan. Dia memberi pernyataan ini, luar biasa : Mintalah apa saja yang kamu kehendaki!
Saudara boleh coba. Terserah saudara. Tetapi ini memerlukan syarat yang sangat berat, dan syarat-syarat ini memang tidak semua orang bisa lakukan ini.
Syaratnya yang pertama itu adalah didalam ayatnya yang
ke-6,
15:6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu
Syarat yang pertama adalah kita tinggal didalam Tuhan. Apa nih pak pendeta artinya tinggal didalam Tuhan? Apa tinggal didalam Tuhan ada hubungannya dengan rajin ke gereja?
Begini saudara, orang yang mau tinggal didalam Tuhan, dia pasti rajin kebaktian. Dia pasti ingin rindu, kangen, selalu merindukan Tuhan. Tetapi orang yang rajin ke gereja belum tentu dia tinggal didalam Tuhan. Orang yang mau jadi pendeta, dia masuk sekolah alkitab. Tapi belum tentu orang yang ke Yayasan Kabar Baik itu dia mau jadi pendeta.
Satu kali datang satu pemuda kira-kira umur 30 tahunan ke Yayasan Kabar Baik. Saya ada disana. Hati kecil saya sudah bilang : Oh, ini mungkin calon siswa mau masuk sekolah alkitab. Dan tentu saja kita senang karena satu siswa pria datang untuk daftar - kira-kira begitu. Tapi dia bilang : Saya mau ketemu oom Awondatu. Saya bilang : Saya sendiri. Dia nangis. Kok, nangis ini. Setelah nangis dia keluarkan 5 paku yang sudah dibikin jadi gepeng, ya, yang sudah ditempa itu pake jadi seperti pisau kecil. Dia bilang : Saya ini, pak, sudah menyimpan paku beracun ini 5 buah untuk membunuh papa saya. Karena dia dendam kepada ayahnya sendiri. Tapi dia tahu ini salah. Tapi dia tidak bisa lepaskan diri dari ini rasa marah benci. Jadi saya minta didoakan. Saya ambil dulu itu pakunya : Ayo, kita doa, apa yang menjadi kepahitan? Dia cerita-cerita tentang ayahnya. Lalu mari kita berdoa. Setelah berdoa, saya bilang : Buang itu supaya Tuhan punya berkat ada sama bapak. Ya. Dia pergi. Paku itu saya masukkan di pohon pisang, tancepin di pohon pisang - pohon pisangnya langsung mati. Memang ada racun. Jadi belum tentu semua yang ke sekolah alkitab mau sekolah alkitab.
Sama seperti tadi orang yang tinggal didalam Tuhan, dia pasti maunya ke gereja saja, maunya kebaktian. Ada acara apa di gereja dia mau ikut saja. Karena dia itu selalu maunya itu terhisab terus, maunya ikut saja dengan acara-acara yang rohani. Ada doa dia mau ikut doa, ada doa puasa dia mau belajar, ada apapun di gereja dia selalu ingin lakukan. Tadi bapak Akun bilang dia dari Cipeyeum setengah empat suami istri untuk kejar kebaktian disini karena dia penerima tamu. Bayangkan saudara. Memang kalau orang rindu, biar jam berapa dia harus dan pasti bukan harus, dia pasti akan datang. Seperti saudara pagi hari ini saya yakin saudara sudah bangun jam 5. Minimal itu saudara untuk datang di kebaktian. Rindu untuk dipenuhkan Firman Allah. Ini salah satu tanda kita tinggal didalam Dia. Ini syarat yang pertama saya rasa tidak terlalu berat. Saudara-saudara mempunya semua syarat ini, yaitu kamu tinggal didalam Aku, kita tinggal didalam Tuhan, ya. Tinggal didalam Tuhan.
Dunia menawarkan dosa, Tuhan menawarkan hidup benar - saya mau tinggal didalam Tuhan - gitu,, loh. Setan ngajak balas dendam, Tuhan ngajak mengampuni - saya mau tinggal didalam Tuhan. Dunia menawarkan serakah tanpa batas, Tuhan mengajarkan sudah cukup - saya mau tinggal didalam Tuhan. Dunia memberi pilihan banyak manis-manis yang ujungnya kepada maut tapi Tuhan punya jalan sempit, tapi ujungnya kepada kehidupan - saya mau tinggal didalam Tuhan. Maka ada nyanyian Dunia manis .. Sungguh manis .. Tapi Yesus termanis .. Dunia indah .. Sungguh indah .. Tapi Tuhan terindah .. Dunia kaya Dunia hebat .. Tapi Yesus lebih hebat .. Dunia cinta penuh cinta .. Tapi Yesus tercinta.
Anak-anak sekolah minggu suka nyanyi itu walaupun mereka belum mengerti. Nanti kita sudah dewasa baru kita bilang amin ini nyanyian. Siapa bilang dunia tidak menarik? Menarik tapi karena saya mau dapat apa saja yang saya mau, saya mau tinggal didalam Tuhan. Waduh, cape nih baru siskamling Badan bilang udah lah tidur terus. Tapi hati kecil diketuk sama Tuhan : Ayo bangun kebaktian pagi - saya mau tinggal didalam Tuhan, ya. Nah itulah, ciri-cirinya kurang lebih seperti itulah tinggal didalam Tuhan.
Tetapi itu tidak cukup - ada syarat yang kedua. Syarat yang kedua : Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu ...
Yang ke-dua ini firman Tuhan tinggal didalam kita. Kalau tadi kita ember masuk didalam sumur, saya tinggal didalam Tuhan, ember masuk kedalam sumur, kita turunkan ember ini masuk dalam sumur, kita sudah masuk dalam Tuhan.
Nah, yang kedua ini airnya masuk dalam ember. Kenapa sudah kita masukkan ember kedalam sumur ... Saya ini banyak pengalaman timba air karena mungkin waktu saya masih remaja itu paling banyak saya timba air disumur belakang gereja ini. Dulu nggak ada sumur pompa ya, wah mahal kita nggak bisa beli. Tapi timba air dengan tenaga. Nah, kalau kita timba air lalu kita angkat itu ember kok enteng terus - itu embernya bocor. Jadi air bisa masuk didalam ember tapi keluar lagi, tidak tinggal didalam ember karena embernya bocor. Perbaiki .. perbaiki .. mama saya punya langganan dulu tukang patri kecrek .. kecrek lewat di pinggir gereja. Tukang patri berhenti. Sabaraha ieu tah ember bocor? Ah, gampang, tilu perak setengah. Ayo jadi. Panaskan saudaraku, lalu ambil timah ditambal. Setelah ditambal pakai lagi timba - tidak lagi bocor. Airnya tinggal didalam ember.
Kenapa orang sering ke gereja tapi nggak berubah-berubah karakternya? Sebab dia bocor, Firman Tuhan tidak bisa tinggal didalam hatinya, ya. Dengar .. keluar .. hilang .. lupa. Dengar khotbah lupa. Tadi di gereja khotbah naon pendeta? Teuing. Poho deui. Ember ceunah di patri. Jadi sering lupa. Karena apa? Bocor. Tetapi kalau sudah diperbaiki .. Nah, ini banyak yang membuat bocor. Biasanya ember bocor itu karena karat. Karat dalam Firman Allah selalu bicara dosa. Kalau dalam hidup kita ada dosa, biar kecil tersembunyi sedikitpun, kecil saja - itu bikin hati kita jadi bocor - Firman Allah tidak bisa masuk. Masuk tapi keluar lagi. Masuk keluar lagi. Masuk keluar lagi.
Hari Jumat malam saya khotbah di Karawang. Yang antar saya satu boss. Boss ini punya perusahaan besar di Jakarta, suami istri antar saya karena supir saya sakit. Dia antar pakai mobil sampai di Karawang. Mobilnya mobil baru masih indreien. Dari Karawang dia antar saya lewat Sukabumi sampai rumah jam 1 malam. Sekarang dia masih tinggal di Cipanas. Kalau oom perlu ke Jakarta, saya bisa antar lagi. Saya bilang : Kenapa you antar-antar, ada supir semua. Saya ingat Firman Tuhan saja oom. Begitu antar oom saja masih di jalan baru antar 20 menit saja udah telepon itu dari toko : Barang laku katanya, dua. Sampai katanya sudah 100 Km telepon lagi itu dari kantor laku barang 3 jadi lima. Kalau saya di kantor saja paling satu hari satu. Ini ngantar oom satu hari udah lima laku, jadi mending nganter oom. Ada Firman Tuhan didalam hati. Ada Sabda Tuhan.
Begitu saya umumkan di Karawang. Saudara ini Karawang ini gereja macam-macam saudara kumpul. Tiap bulan sekali. Jadi pengurusnya juga dari macam-macam gereja. Kumpul minta saya khotbah. Saya bilang : Siapa yang mau ikut Family Camp, saya bilang. Ngomong saja begitu, 25 orang daftar. Langsung. Nah, kenapa ya saya bilang teh di Karawang ini mani tok-cer pisan. Ngomong ayeuna langsung daftar. Naha ai di Cianjur mah ngomong geus 6 bulan ngomongna daftarna tahun hareup. Barangkali ada yang bocor. Marilah saudaraku kita periksa hati kita barangkali hati kita ini bocor sampai Firman Tuhan itu tidak masuk didalam hati kita.
Nah, kalau orang dari Karawang ikut saudara, itu sudah ongkos berapa. Dan mereka bukan orang kaya. Mereka orang biasa-biasa saja tapi karena mereka hatinya sudah penuh dengan Firman, sudah terisi dengan Sabda Tuhan. Ingin FirmanNya tinggal didalam hati, dia ikut. Toko warung dia tinggalin dia punya pabrik punya bengkel ditinggalkan hanya mau dengar Firman Allah - Family Camp. Cirebon 8 orang. Langsung, daftar langsung. Bandung sudah masuk. Padahal dengar khotbah saya cuma di Family Camp. Orang-orang Cirebon itu. Tapi langsung. Mari saudara-saudara kita renungkan betapa sukarnya Firman tinggal didalam hati daripada kita tinggal didalam Tuhan. Kita tinggal didalam Tuhan masih jauh lebih mudah daripada FirmanNya tinggal didalam kita. Tapi karena saya ingat apa saja yang aku kehendaki Dia bisa kasih, saya mau Firman Allah tinggal didalam saya.
Saya mengeluarkan uang 5 juta rupiah untuk membantu jemaat di Cianjur yang tidak mampu ikut Family Camp. Dan saya juga membantu 5 juta untuk yang di Jakarta. Karena jemaat di Jakarta juga ada yang susah. Untuk membantu. Saya mungkin satu-satunya pengkotbah pembicara yang tidak terima kolekte. Tapi pembicara yang saya akan undang semua akan dapat itu kolekte. Tapi saya tidak akan terima. Karena saya ingin supaya jemaat saya dapat keuntungan, jemaat saya dapat berkat, jemaat saya dapat kekuatan, jemaat saya dapat kemenangan!
Apa saya tidak perlu uang? Aduh, saya lagi perlu-perlunya uang. Tapi saya yakin Firman Tuhan jauh lebih perlu. Firman Tuhan didalam hati umatNya jauh lebih perlu. Yang saya bingung itu begini. Ikut Family Camp? Moal ah, teu boga duit, kecuali kalau dibantu. Ayo atuh dibantu. Embung, ah. Hor, jadi kumaha atuh? Nggak mau ikut kecuali dibantu, da teu boga duit. Ai dibantu, moal ah. Geus we atuh ngomong moal daripada loba teuing acara kieu kitu kieu kitu.
Tapi itu salah satu ungkapan bahwa Firman tidak tinggal didalam hati. Lain kan kalau ngomongnya : Aduh, urang teh hayang, kumaha atuh nya, kekuatan ieu aduh, kekuatan ieu teu mampu, teu neupi kadinya, kumaha atuh nya ieu? Pan lain kalau kitu mah. Ayo, kalau dibantu. Ah, lamun dibantu mah daek ah, daek ah. Oke ah. Lain.
Jadi kembali lagi kepada ini ungkapan Firman tinggal didalam hati. Yusuf, saudara, dimasukin sama koko-kokonya ke sumur, digaplokin, dijual ke Mesir. Di Mesir di fitnah lagi dia sama tante girang, masuk penjara. Akhirnya dia jadi Perdana Menteri. Saudara, seorang yang sudah digaplokin orang, dimasukin ke sumur, terus difitnah sama orang : Kamu berjinah sama istri orang. Ditendang, mungkin dipukulin sama Potifar, masuk ke penjara. Sekarang dia jadi Perdana Menteri. Dia angkat jari saja, Yusuf, saudaraku, Potifar dihukum penggal kepala gampang. Istri Potifar, dia katakan sama Firaun : Baginda Firaun, ini istri Potifar yang finah saya, saya tidak berbuat apa-apa sama dia, tapi dia bilang dulu dia fitnah saya saya berbuat jinah sama dia. Saya minta dia dihukum. Oh, Firaun bilang : Silakan dia dihukum. Dan kalaupun Yusuf bilang, penggal kepala. Penggal kepala. Kasih sama singa, kasih sama singa. Saudara-saudaranya datang.
Tapi karena Firman Tuhan tinggal didalam Yusuf, nggak ada itu mau balas dendam. Potifar nggak diapa-apain, istrinya yang masukin ke penjara, nggak diapa-apain. Saudara-saudaranya yang masukin dia, yang fitnah dia, yang jual dia, yang masukin dia ke sumur, malah dipeluk, dicium, nangis. Ini saya nih saudaramu. Papa bagaimana, suruh pindah kesini.
Kenapa nggak ada dendam? Sebab ada Firman Tuhan. Yusuf nggak bilang begini, heuh siah ku urang, kakak-kakak saya ini, kamu dulu tenggelamkan saya di sumur kosong, sekarang aku cangcang, cangcang. Bere sireum rarangge, sireum rarangge. Nggak akan dimatikan, tapi supaya dia tobat saja, kasih sireum rarangge, semut rangge, semut merah. Nggak. Kenapa? Ada Firman kok dalam hatinya. Maka orang yang ada Firman didalam hatinya, nggak suka ngomongin orang. Walaupun orang itu bersalah dia nggak suka ngomongin orang. Dia tidak akan bicara busuk dari orang itu, walaupun orang itu bersalah. Karena apa? Karena ada Firman didalam hatinya.
Orang yang ada Firman didalam hatinya, tidak akan simpan salah orang, tidak akan menjadi pendendam. Orang yang punya Firman didalam hatinya, gampang dinasehati, nggak akan ngelawan papa sama mama. Nggak akan iya didepan, tapi dibelakangnya tidak. Bahkan saya berani katakan, orang yang ada Firman di dalam hatinya, nggak butuh pengawas. Nggak butuh, karena Firman Tuhan sendiri menjadi pengawas. Firman Tuhan sendiri menjadi balancing factor, menjadi faktor keseimbangan, ya.
Waktu Yusuf hanya berdua dengan istri Potifar, Firman Tuhan yang menjadi balancing factor. Nggak usah ada orang lihat, tapi dia tetap. Maka orang yang ada Firman dalam hatinya tidak akan korupsi. Saya bangga tiga tokoh kristen di MPR/DPR itu anti korupsi, tiga-tiganya. Bicaranya keras. Dan itu kita sudah undang dua kali, bicara dari reuni siswa siswi, Prof. Dr. Sahetapi. Kerasnya luar biasa, tapi dengar nyanyian Tuhan Yesus setia, dia nangis. Baru tahu ada lagu ini, katanya. Dia nggak peduli presiden, dia nggak peduli siapa dia nggak peduli. Dia lempeng aja, karena ada Firman Tuhan. Firmannya tinggal di dalam dia.
Maka kalau istri-istri yang ada Firman dalam hatinya, dia akan sayang, tunduk sama suami, nurut. Suami yang ada Firman dalam hatinya, dia tidak akan selingkuh. Dia akan sayang sama istrinya, dia akan jujur, dia akan bela istri. Biasa istrinya yang masak air, tapi karena istrinya lagi hamil, suaminya yang masak air. Biasa istrinya yang pijitin dia, tapi karena istrinya sedang hamil, dia yang pijitin istri. Karena ada Firman dalam hatinya. Apalagi kalau dia tahu istrinya ini punya bayi kembar tiga, uh....lebih sayang lagi.
Jadi kembali kepada Firman. Inilah, jikalau kamu tinggal di dalam Aku, dan FirmanKu tinggal di dalam kamu - Ini dua - mintalah apa saja yang kamu kehendaki. Iya eui, ayeuna urang bisa menta naon wae. Nah, disini balancing factor itu. Walaupun Firmannya bilang, minta apa saja yang kamu kehendaki, tapi pasti orang yang punya Firman di dalam hati, tidak mungkin minta yang nggak-nggak. Contoh. Nggak mungkin kita minta sama Tuhan, Tuhan jadikanlah Cianjur ini ibukota Amerika Serikat. Nggak bisa, saudara, nggak bisa. Walaupun ini apa yang kamu kehendaki, kita kehendaki. Kan tidak masuk akal, tidak masuk akal, nggak bisa. Tuhan, saya ingin menikah dengan Lady Di, umpamanya. Nggak bisa, dia sudah ada suami, umpamanya waktu masih hidup. Tuhan saya ingin begini, saya ingin begitu ... yang melawan, melawan kehendakNya. Yang melawan, Tuhan jadikanlah matahari terbit dari barat dan terbenam di timur. Wah, cilaka, nanti kaki kita ke atas, kepala kita ke bawah.
Dibanyak hal, walaupun Yesus bilang, minta yang kamu kehendaki. Saya mau kasih ilustrasi, saya harap saudara mengerti. Ada dua tokoh alkitab, satu dalam Perjanjian Lama, satu dalam Perjanjian Baru. Ditanya sama Tuhan sama, apa yang kamu kehendaki Aku perbuat kepadamu? Dalam Perjanjian Lama itu adalah Raja Salomo. Begitu dia jadi raja, malamnya mimpi. Tuhan datang, sama kaya gini. Minta Salomo, apa saja yang kamu mau, minta, Aku pasti kasih. Jadi kalau waktu itu Salomo minta yang macem-macem, pasti dikasih. Tapi karena dia ada Firman di dalam hatinya, dia bilang : Tuhan, berilah aku hati yang berbudi. Itu saja. Hati yang penuh akal budi untuk men-judge, untuk memimpin bangsaMu yang besar ini. Saya ini perlu hati yang berbudi. Nah, kata Tuhan - deal! Kamu pasti dikasih hati yang berbudi. Walaupun kamu tidak minta kekayaan, Akupun kasih, kata Tuhan. Walaupun kamu tidak minta hikmat, Aku kasih hikmat.
Jadi pada waktu itu kalau Salomo minta kekayaan, dikasih. Tapi belum tentu dikasih hati yang berbudi. Tapi karena dia minta sesuai dengan kehendak Tuhan, saya minta hati yang berbudi, Tuhan. Deal, Aku kasih! Dan karena walaupun kamu tidak minta kekayaan, Aku kasih kekayaan. Ingat saudara, kekayaan tidak usah diminta. Kepandaian, kepintaran, nggak usah diminta. Mintalah hati yang berbudi!
Yang kedua, dalam Perjanjian Baru itu, Bartomeus yang buta. Udah tahu buta, ditanya sama Tuhan : Apa yang engkau mau Aku perbuat? Itu musti jujur. Bartomeus bilang : Tuhan, aku ingin melihat. Sudah, imanmu menyembuhkan engkau, melihat. Dia melihat. Dan saudara, Bartomeus ini melihat, lalu dia ingin ikut Yesus. Kemanapun Yesus jalan, dia ikut Yesus terus. Karena dia sudah lihat, siapa yang menyembuhkan dia.
Sekarang pertanyaan yang ketiga, dia beri kepada saudara. Barangsiapa yang tinggal didalam Aku, dan FirmanKu tinggal didalam kamu, minta apa saja. Silakan saudara minta apa saja. Apa saja saudara minta sama Tuhan. Pasti orang itu akan meminta yang sesuai dengan Firman tinggal di dalam dia. Kemaren saya kirim sms, siapa yang perlu bantuan doa, kirimkanlah sms kepada saya sekarang juga. Dari sekian banyak sms yang datang minta bantuan doa, ada satu sms yang berbunyi begini: Saya mohon bantuan doa, supaya saya hidup benar dihadapan Tuhan. Ini luar biasa. Yang lain ada yang minta kesembuhan, ada yang minta anaknya sekolah. Ada satu orang dari Malang, itu anaknya tiga itu mati semua, saudara. Anaknya tiga meninggal. Punya anak, meninggal. Punya anak, meninggal. Tiga, meninggal semua. Sekarang dia minta didoakan, karena dia ingin menjadi hamba Tuhan. Namanya Samuel Sunoto, ketemu di Youth Camp. Ada satu juga gadis dari Malang : Oom, saya mau masuk sekolah alkitab, tapi saya minta Tuhan, saya lulus dulu ujian ini. Setelah lulus, saya mau masuk sekolah. Macem-macem. Tapi yang saya ini kagum-kagum, ini, minta bantuan doa supaya saya hidup berkenan dihadapan Tuhan. Luar biasa. Minta apa saja yang engkau kehendaki dan kamu akan menerimanya.
Syarat yang ketiga. Ayat 8 : Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."
Syarat yang ketiga adalah berbuah-buah. Dulu pemudi-pemudi, yang sekarang sudah jadi oma-oma, itu bikin pertunjukkan dari ayah saya. Ini mungkin tidak pernah lagi dipertunjukkan di hari natal. Berbuah-buah, sembilan macam, na...na...na..na..na, itu buahnya disambung-sambung. Terus udah nyanyi berhenti, mulai. Buah ini - ini adalah buah melambangkan kesabaran. Buah ini - ini lambang kasih.
Betapa indahnya kalau kita berbuah-buah. Dirumah saya ada tiga pohon mangga, saudara. Tiga diluar, satu di dalam. Yang diluar itu yang satu ini suka diambilin orang, yang satu ini, ah saya bilang tebang aja. Tebang aja. Gundul aja, tinggal batangnya. Eh... dia keluar lagi, keluar lagi buah. Heran. Yang di dalam, udah pake rabuk, udah pake gombong, udah pake vitamin, udah pake ini, udah pake itu, cuman daun aja, nggak berbuah-buah. Nah, yang didepan itu, ditebang, berbuah lagi. Maka kalau orang kristen berbuah, ditebang apapun juga, dibikin sulit usahanya sama orang - eh, ... tetap aja berbuah. Berhasil terus. Difitnah, eh.. berbuah aja dia mah terus. Diteken, eh, dia mah berbuah aja terus.
Sebagai ayat terakhir, mari kita buka Mazmur pasal 1, dan kita akan membaca ayatnya yang ke 1-3 :
1:1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN - atau Firman Tuhan -, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Saya tidak panjangkan Firman Tuhan. Tapi adakah diantara saudara sedang ada di dalam kesulitan, dalam problem, perlu bantuan doa - silakan dia maju kedepan. Kita akan berdoa bersama-sama.
Minggu Pagi, 28 Juli 2002
Saudara-saudara, selamat bertemu, berbakti lagi dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Sebelum kita menuju kepada perjamuan kudus, kita akan melihat beberapa ayat dari Sabda Tuhan. Pertama-tama kita lihat I Korintus 13, kita akan membaca ayatnya yang ke 1.
13:1. Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.
13:4. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
13:8. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
13:10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.
Apa yang dimaksud oleh rasul Paulus ketika dia menuliskan 13 ayat dari 1 Korintus
13 ini? Dia sedang berbicara tentang sama dengan Tuhan, sama dengan Kristus.
Menjadi sama dengan Tuhan! Didalam ayat 12 dia berkata : Sekarang kita melihat
dalam cermin satu gambaran yang samar. Kita belum bisa mengerti sedalam-dalamnya
tentang Tuhan. Kalau saudara merasa saudara sudah tahu tentang Tuhan, saudara
belum mengerti apa-apa, malahan saudara ini sama sekali tidak tahu apa-apa.
Karena lebih dalam kita didalam Tuhan, kita akan lebih tidak mengerti Dia. Kita
tidak akan mengerti siapa dan bagaimana Tuhan itu punya gerakanNya, punya
cara kerja cara karyaNya itu - sukar kita pantau.
Tetapi dalam ayat 12 Rasul Paulus berkata : Sekarang aku masih samar-samar mengetahui tentang Dia tetapi nanti kita - berarti termasuk kita juga - akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku dikenal.
Nah, Tuhan kan kenal kita sampai dalam-dalamnya. Pikiran kita, kita nggak ngomong Dia sudah tahu. Betapa hebatnya kalau kita bisa kenal Tuhan seperti Tuhan kenal kita. Tetapi bukan itu yang saya mau khotbah. Itu kerinduan ingin jadi seperti Tuhan. Menjadi seperti Dia.
Yohanes menulis juga didalam I Yohanes 3, didalam
suratnya kepada pengikut-pengikut Kristus, I Yohanes 3:2 dikatakan disana
3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi
- Apa saudara? - sama seperti Diaa, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.
Lihat, Yohanes juga ingin menjadi seperti Dia maka dia juga menulis kata-kata
tadi bahwa kita sekarang belum tahu belum nyata apa keadaan kita kelak akan
tetapi kita tahu nanti apabila Kristus menyatakan diriNya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam
keadaanNya yang sebenarnya.
Kembali lagi kita akan melihat apa yang dituliskan oleh rasul Paulus dalam I Korintus 10. Paulus disana menulis kembali satu keterangan, yaitu ayat 1, dst.
10:1. Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut.
10:2 Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.
Ini belum menjadi pengikut Kristus. Baru mau jadi pengikut Musa. Satu jemaat tidak akan melebihi gembalanya. Tidak pernah saya dengar ada jemaat lebih rohani dari gembalanya. Nggak pernah. Orang Israel saudara-saudaraku itu ingin jadi seperti Musa, ingin menjadi pengikut Musa, ingin menjadi seperti Musa. Paulus berkata ingin seperti Kristus. Yohanes menulis kita akan jadi sama seperti Dia. Jadi kita harus punya target. Jangan ke gereja ke gereja atau aja cuman acara ke gereja. ya. Datang .. duduk .. dengar .. duit kolekte .. pulang. Tapi kita harus punya target - kita ingin jadi seperti Dia. Bahkan dalam I Korintus 13 tadi Paulus berkata : Walaupun aku punya bahasa roh bahasa malaikat, kita ngerti segala macam bahasa, aku tidak punya kasih - aku seperti gong, aku seperti simbal. Aku bisa memindahkan gunung dengan iman yang luar biasa tapi aku tidak punya kasih - aku tidak ada gunanya. Aku memberikan hartaku memberi diriku dibakar sekalipun tapi aku tidak punya kasih - aku tidak ada gunanya.
Nah, sekarang kita sudah mulai melihat apa yang penting dan apa yang tidak terlalu penting. Untuk jadi sama seperti Dia. Apa untuk jadi sama seperti dia itu dengan bahasa roh? Tidak. Apa untuk jadi sama seperti Dia itu punya iman yang memindahkan gunung? Tidak. Apa menjadi sama seperti Dia itu dengan menyerahkan diri untuk dibakar? Tidak, sekali lagi tidak. Karena dikatakan : Tanpa aku punya kasih, aku seperti simbal dipukul. Ribut. Jadi saudara-saudara, didalam pengiringan kita kepada Tuhan itu, ada yang kita pakai sekarang karunia dari Tuhan tapi nanti di Surga nggak ada. Contoh. Iman. Kita pakai di dunia. Dalam dunia kita perlu iman. Perlu iman untuk dapat uang, perlu iman untuk bekerja, perlu iman untuk berdoa, perlu iman untuk membuka usaha baru. Kita perlu iman untuk buka toko, perlu iman untuk buka bengkel, perlu iman untuk berkarya, perlu iman untuk sekolah, perlu iman untuk berdoa supaya Tuhan mencukupkan segala keperluan kita sehari-hari. Kita perlu iman.
Tapi di Surga? Kita tidak perlu iman lagi. Maka tadi I Korintus 13 : Iman akan hilang. Bahasa Roh. Sekarang kita perlu karena dalam I Korintus berkata : Waktu kita berbahasa roh, kita punya iman dikuatkan. Tetapi nanti di Surga kita nggak pakai. Kita bisa mengerti bahasa. Luar biasa. Saya kenal satu orang Israel saudara dia bisa 12 bahasa. Waduh, waktu saya ketemu di Israel, saya bilang : What's your name? Saya bilang, namamu siapa, pakai bahasa Inggris. Dia bilang : Nama saya Moshe, dari Wamena. Wamena itu orang Irian, saudara. Dia sudah ke Irian. Dia bisa bahasa Jepang, Itali, Belanda, Jerman, Inggris. Tapi ada saya bilang, you bahasa yang saya tahu, tapi kamu belum tahu. Ada 2 bahasa. Apa itu? Sayang bilang : Bahasa Sunda dan bahasa Roh, kamu tidak tahu. Dia ketawa. Tahu Alkitab. Tapi kita tahu 12 bahasa. Seperti Ratna Sari Dewi, dia bisa berbagai-bagai bahasa. Bung Karno dia bisa bicara bahasa Perancis, bahasa Jerman, bahasa Belanda - luar biasa. Gus Dur pun bisa bahasa Arab. Tetapi nggak ada kasih, katanya, nggak ada gunanya. Karena di Surga kita nggak pakai lagi itu bahasa.
Jadi apa yang tidak hilang di Surga, tidak hilang disini, itu adalah kasih. Ternyata dengan kasih inilah kita bisa jadi seperti menjangkau Kristus. Saya pakai ilustrasi sederhana saja, tentu dalam hubungan kita mengasihi Tuhan.
Nah, kita mengasihi Tuhan bukan dengan mulut. Aku mengasihi Yesus .. Bukan hanya dengan lagu .. Dengan segenap hatiku .. Ku cinta Dia .. Walau aku tak mengerti .. JalanMu yang sukar ini .. Kadang-kadang Tuhan ijinkan kita masuk dijalan yang kita tidak mengerti. Sukar. Tapi kita harus tetap mengasihi Dia. Untuk jadi seperti Musa mereka masuk didalam baptisan laut dan baptisan awan. Untuk jadi seperti Yesus, aduh, susahnya luar biasa, untuk jadi seperti Pak Awondatu ikut family camp. Pasti dia ikut karena ingin jadi seperti pemimpinnya. Ingin taat dulu.
Nah, sekarang saya kasih ilustrasi sederhana. Bagaimana saya bisa berkata saya ini cinta kepada Tuhan tapi saya kasar sama istri saya, saya bentak-bentak istri saya, saya kasar sama dia, kurang ajar sama dia, saya bentak-bentak, saya punya kelakuan ini - ini contoh. Saya punya kelakuan, wah ... Itu tidak bisa. Bagaimana seorang istri bisa bilang : Oh, Tuhan saya cinta kepadaMu. Tuhan aku mengasihi Engkau tapi dia tidak taat sama suami yang kelihatan - Tuhan belum kelihatan. Bagaimana kita mau bisa sama dengan Yesus yang belum nampak, kitapun belum bisa sama menuruti taat kepada gembala yang nampak!
Berapa hari yang lalu ada orang Jakarta saudara, sekeluarga. Ini jiwa baru, aduh, belum mau dibaptis, jiwa baru, suami istri. Banyak pertanyaan. Tapi dia bilang : Saya sudah tanya banyak pendeta cuma bapak bisa jawab. Puji Tuhan, saya bilang. Dia tanya-tanya, dia sayang sekali sama saya. Pak, didekat rumah saya itu ada tukang jual babi panggang, pak. Itu enaknya luar biasa. Bapak saya akan bawa sedikit. Dan dia ini raja teh, saudara. Dia punya teh ini luar biasa. Segini aja teh ada yang 400 ribu ada yang 800 ribu. Memang tehnya teh obat, dan teh dari Cung Kuo. Sudahlah, ini buat bapak makan ya pak. Begitu sampe, aduh memang daging babi sudah tidak ada itunya, minyaknya sudah tidak ada, dikhususkan untuk saya. Tapi bapak musti ambil tisu tempelin pegang supaya minyaknya keluar lagi. Makan. Saking sayangnya saya makan 3 potong saja makan dikunyah, minum teh pak? Enak nggak, pak? Enak. Saya ingin jadi seperti dia karena dia raja teh ini. Makan lagi pak. Minum pak, lagi pak? Nanti ah, buat nanti malam, buat besok. Dibungkus. Pengerja laki-laki bereskan ditempat dekat lemari. Malam saya cari hilang. Mana ini hilang? Pengerja panggil. Mana hilang ini, daging babi saya? Sudah dibuang. Mana? Tidak sengaja dibuang, katanya sama pengerja, pengerja perempuan buang. Ambil dimana dibuangnya? Ditempat sampah. Ambil. Sudah berceceran. Ambil. Akhirnya nggak diambil, pengerja perempuan bilang : Saya ngaku, oom, saya makan semua. Dua dosanya. Berdusta, saya sudah buang dan dua, dia makan makanan yang sebetulnya dia tidak boleh makan. Itu makanan gembala dihabisin. Kalau kamu makan masih bagi-bagi sama pengerja lain, masih masuk akal saya, kamu makan sendirian habis. Dua orang. Jadi saya ingat cucu saya kalau dia sudah makan jeruk habis, dia sudah ...
Jadi yang kasih sama saya babi panggang, gimana babinya enak? Saya bilang sudah habis. Kenapa ... Dimakan kucing, kucing betina. Itu satu hal yang tidak akan dan tidak mungkin dan tidak boleh dikerjakan oleh anak SD pun tidak boleh. Ini murid sekolah alkitab makan habis. Mau jadi seperti gembala. Dibungkus kok itu, bukan didapur adanya. Ada diruang saya, kok dimakan. Saya usir, saya suruh pulang, nangis-nangis minta ampun.
Sukar sekali ya saudara ya. Karena dalam I Korintus 10 untuk jadi seperti Musa mereka makan makanan yang sama. Waduh, caranya salah. Dia minum minuman yang sama. Tapi apa kata Tuhan? I Korintus 10 mayoritasnya orang Israel, Tuhan tidak suka. Mati ditengah jalan, mati 32 ribu orang, mati karena berjinah, karena bersungut mati. Kenapa? Sukar sekali ya untuk jadi sama seperti Tuhan.
Maka kita ini, kata orang Jawa bilang : Jangan iya iya o ... jangan sok. Maksud saya sok disini itu kita seringkali kaya anak kecil gitu, wah kayanya kita sudah disini saudara tapi kita ternyata kualitasnya masih dibawah. Karena apa? Karena bahasa roh tidak diukur sama Tuhan. Iman tidak diukur sama Tuhan. Imanmu sudah menyembuhkan engkau tapi tidak diukur sama Tuhan. Tidak. Yang diukur itu kasih. Nah, kasih ini nampak dalam apa? Dalam taat.
Yesus itu mengasihi bapaknya karena dia mau minum cawan dosa sampai dia tubuh dan jiwa. Nah, di perjamuan kudus ini gambarannya karena Dia ini mengasihi Bapak dan mengasihi dunia. Dia taat.
Jadi salah satu tanda dari kasih itu taat dan menurut. Dan kalau saya sudah bilang menurut dan saya sudah bilang taat itu artinya ada pengawas atau tidak ada pengawas dia tetap taat. Dulu waktu gereja ini dibangun yang pertama, sebelum ini dibangun, yang pertama. Ada satu pengerja sekarang sudah jadi gembala sidang di Jawa Timur, Hasan, dia pengerja kita. Oom, biar saja saya yang ngawasin bangunan, oom. Betul? Betul, saya ngawasin bangunannya. Oke. Dia mau menjadi ngawasin bangunan. Saya datang saudaraku jam setengah dua mau lihat bangunan. Saudara Hasan itu lagi jongkok didepan gereja ini sambil tidur tutup mata, mulutnya gini .. gini karena ada lalat. Lalatnya itu sampai 2 bertiga mungkin lalatnya itu mencium bau mulutnya Hasan itu mirip-mirip tempat sampah. Saya diem disebelah dia, saya duduk sebelah dia. Saya deketin telinganya saya nafas nafas fuh .. fuh .. fuh. Saya nggak apa-apa kalau dia cape mau tidur silahkan tapi dia janji biar saya awasi. Loh, kalau pengawasnya semua kaya begini tidur, bagaimana. Lalu saya tepuk tangan didekat telinganya sembari berteriak : Hei ... Ya oom, saya sudah datang, oom, saya sudah datang. Kenapa kamu tidur?
Kita ingin jadi disini, saudaraku. Kita ini kita ngomongnya saya ini sudah disini tapi faktanya kita masih dibawah. Maka kita harus punya target ikut Tuhan itu. Kita musti punya target. Saya sebetulnya tidak usah ke Jakarta sekarang saya diem saja disini sudah kebaktian. Tapi tadi malam di telepon sama ibu yang diberkati Tuhan anaknya kembar tiga itu. Ingin diserahkan dikebaktian kita. Dia orang GKI. Ingin pak Awondatu yang doakan karena saya yang doakan dia. Ya, sudah, musti kesana. Cape ya sudah, targetnya harus begitu.
Kembali lagi kepada Firman Allah. Kita harus mau punya target seperti Dia. Jangan hanya sudah mati saja dikuburan lalu di peti mati si pendeta bilang : Sekarang almarhum sudah ada disisi Tuhan. Semua yang mati yang dalam Tuhan semua disisi Tuhan. Nggak mungkin yang mati yang meninggal : Sekarang almarhum ada disisi kolam. Nggak mungkin saudara. Semua ada disisi Tuhan, kalau meninggal.
Tapi yang saya maksud sekarang, apakah kita sama seperti Dia? Lihat Petrus. Kalau Engkau betul Kristus, ijinkan aku jalan diatas air sama seperti Engkau. Ingin ada target. Yesus bilang jalan. Jalan. Pada waktu dia jalan, itu kondisi Petrus sama dengan Yesus. Tapi ketika dia dengar ini ketakutan kengerian, dia tenggelam. Betapa sukarnya untuk jadi sama. Karena waktu dia berjalan itu sama seperti Yesus. Saya ulangi ya, saudara. Kalau orang jalan diatas air itu nggak begini ... Orang jalan diatas air bagaimana kira-kira, coba saja saudara. Air kan nggak diem begini. Laut bergelora. Bayangkan orang jalan diatas air bagaimana. Coba kira-kira bagaimana kira-kira? Kira-kira bagaimana? Karena apa? Karena dari air itu tidak ada sesuatu benda yang keras yang dia bisa berdiri.
Jalan dengan iman itu gitu saudara. Besok bagaimana ya usaha saya ya. Besok makan apa, ya. Besok pekerjaan saya bagaimana, ya. Itu jalan diatas air. Besok bagaimana ya tutup barang ini. Gimana uang saya cukup ya - kita jalan diatas air. Dan kalau saudara sudah ngomong begitu besok gimana ya, besok gimana ya - kecemplung.
Percayalah Tuhan jaga, Tuhan pelihara saudara. Itu jalan diatas air. Memang jalan diatas air .. tapi Yesus bilang : Jalan, ayo ..
Waduh, jalan mungkin gayanya bagaimana bukan dibikin-bikin air bergelombang. Maka nafas itu mahal, saudara-saudara. Nafas itu mahal. Tuhan mah kasih udara tidak bayar. Kalau kita sudah sakit, oksigen musti bayar. Nafas itu mahal. Maka kita itu harus bersyukur, begitu buka mata kita masih bernafas dan bernafasnya masih sehat, kita bilang terima kasih Tuhan. Tuhan masih percayakan saya oksgen yang free of charge. Kita mau jadi sama seperti Tuhan. Jadi dulu seperti pimpinan. Orang yang mau jadi seperti saya pimpinannya dia tidak akan ngomongin orang. Karena saya nggak suka ngomongin orang. Dia tidak akan bisik-bisik dibelakang-belakang. Kalau di gereja bahasa ... tapi kalau diluar ngomongin orang. Wah, kurang perhatian ya gembala kurang perhatian. Wah, kaum perempuan kurang perhatian. Saya bilang : Ini orang kalau dia gereja wah Roh Kudus, tapi kalau diluar roh wedus - tidak jadi sama seperti pimpinan. Kalau digereja nyanyi wah ... tapi dirumah cakar suami. Dirumah tempeleng istri, buat apa. Kasih yang penting. Ngebantah sama orang tua, lah buat apa. Nggak ada gunanya. Jadi pakailah yang dipakai oleh Tuhan. Kasih. Karena apa? Di Surga kasih nggak hilang. Di Surga kasih tetap dipakai. Didunia dipakai, di Surga dipakai. Ini yang kekal sampai selama-lamanya itu kasih Allah. Maka kita nyanyi Kasih Allah melingkup saya .. Lingkupi saya selama-lamanya. Kalau iman nggak selama-lamanya. Sampai di surga iman nggak dipakai. Kalau kasih itu selama-lamanya.
Maka pada pagi hari ini maukah saudara-saudara digendong disayang sama Tuhan dalam asuhan gendongannya Tuhan, dalam asuhan gendongannya kasih Allah? Pada pagi hari ini kita mau masuk dalam perjamuan kudus. Mari para pelayan perjamuan kudus maju ke depan. Kita mau digendong dalam asuhannya.
Minggu Pagi, 04 Agustus 2002
JANGAN KUATIR
Selamat pagi, selamat berbakti didalam nama
Tuhan Yesus Kristus. Pada pagi yang berbahagia ini mari kita merenungkan Firman
Tuhan
kembali yang kita bisa baca bersama-sama dari Matius 6:25. Demikian bunyinya :
6:25. "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
Perikop ini adalah salah satu dari ajaran emas dari Yesus Kristus. Ajaran emas dari Yesus Kristus itu dari Matius 5 sampai Matius 7. Dan Matius 6 ini ada ditengah-tengah antara Matius 5 dan Matius 7. Kemudian Dia berkata kepada kita mengenai satu hal yang paling menjadi penyakit manusia, yaitu kuatir. Nampaknya kekuatiran ini juga melanda umat Tuhan. Apa yang kamu akan makan, apa yang kamu pakai, apa yang kamu minum. Kita repot dengan bisnis sehari-hari karena kita kuatir kita tidak makan. Kita berdagang berusaha membanting tulang mencari uang karena kita kuatir anak-anak kita tidak makan, anak-anak kita tidak sekolah, dst. dst.
Waktu kita muda, kita mengumpulkan uang mungkin untuk kita hari tua, waktu kita menikah dan lain sebagainya. Tetapi tahukah saudara bahwa kekuatiran adalah iman yang terbalik? Jadi kebalikan dari iman itu kuatir. Kuatir itu adalah iman yang terbalik. Kalau saya menghadap kesana ini iman dan dibelakang saya ini arahnya kuatir. Seperti kalau saudara sedang berhadapan saudara menghadap ke utara, saudara bertanya dimana selatan. Tidak usaha bertanya karena saudara sudah tahu kalau utara disana, selatan dibelakang saudara. Jadi kalau saya tahu kalau disana itu iman, saya berbalik 180 derajat disini adalah kuatir.
Itu sebabnya Yesus bikin satu perikop khusus mengenai jangan. Jangan itu satu larangan. Jangan kamu kuatir. Kuatir itu dosa. Kita anggap kuatir itu tidak dosa oh salah. Kuatir itu dosa yang besar. Karena satu : dengan kekuatiran saudaraku, iman kita jadi lumpuh. Lumpuh. Kita ikut Tuhan tetapi iman kita lumpuh. Karena kita ada kuatir. Kenapa? Karena kuatir adalah iman yang terbalik. Yesus berkata apa yang kamu percaya terjadi. Sebaliknya apa yang kamu kuatir juga terjadi. Itu sebabnya Dia katakan jangan kamu kuatir karena soal makan soal minum soal pakai - itu dituntut oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dikatakan didalam ayatnya yang ke 32 : Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
Jadi kalau kita orang kristen tapi kita kuatir, apa kita marah apa tidak kalau Tuhan bilang kita tidak mengenal Tuhan, kita tidak mengenal Kristus. Karena apa saudara-saudaraku? Yang mengenal Tuhan, dikatakan, akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Sebab begini. Dengan kita kuatir kita tidak bertambah satu meter. Dengan kita kuatir saudara-saudaraku, umur kita tidak bertambah panjang satu hari. Dengan kita kuatir jawaban doa tidak datang lebih cepat. Dengan kita kuatir saudara-saudaraku, uang kita tidak bertambah, dengan kita kuatir saudara-saudara, toko kita tidak diberkati, dengan kita kuatir saudara-saudaraku suka-cita damai sejahtera tidak akan dapat.
Jadi kekuatiran ini mempunyai dampak yang sangat
luas. Kita akan mulai memikirkan soal kuatir ini dengan apa yang terjadi .. kita
lihat Matius 6. Tapi kita lihat dulu Lukas 10, apa yang terjadi dengan Maria dan
Marta.
10:38. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.
10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,
10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."
10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
Ternyata waktu Marta melayani, Yesus melihat satu benih yang sangat berbahaya, yaitu benih kekuatiran. Ini dalam melayani. Kita bisa ganti dengan kata-kata lain : kamu dagang tapi kuatir, kamu sekolah tapi kuatir, kamu beribadah ke gereja tapi kuatir, kamu kerja di kantor di perusahaan tapi kuatir. Kuatir, dan dikatakan menyusahkan diri dengan banyak perkara. Ini orang kalau kuatir dia bikin susah bukan orang lain - dirinya sendiri dengan banyak perkara.
Ada satu peribahasa bilang begini : Jangan pinjam matahari besok, jangan hidup dengan bayangan kemarin. Ada orang yang sering hidup. Ssekarang nih hari minggu nih, tanggal 4 Agustus, tapi dia hidup di tanggal yang sudah lewat. Dia memikirkan kejadian yang sudah lewat, dia menyesalkan kejadian yang sudah lewat, yang tidak akan kembali lagi. Lalu dia mulai kuatir dari hal hari esok. Dia mulai kuatir seminggu dari sekarang. Dia mulai kuatir sebulan dari sekarang, dia mulai kuatir satu tahun dari sekarang. Dia tidak memikirkan hari ini waktu dia hidup. Inilah jahatnya kekuatiran; dia melumpuhkan iman, dia membuat kita terseok-seok berjalan tidak bisa tegak karena banyak kekuatiran.
Hanya satu yang penting, katanya Tuhan Yesus, hanya satu yang perlu - Maria telah memilih bagian yang terbaik. Saya suka pakai istilah begini saudara. Seekor ayam. Kita makan ayam. Yam cah di restoran. Ada cakar ayam, wah enak cakar ayam. Tapi tahukah saudara bahwa cakar ayam bukan bagian yang terbaik dari ayam. Ada yang suka brutu. Saudara tahu brutu ya, tunggir. Saudara belum ngerti tunggir, bujur dari ayam. Wah, itu paling minyak, paling nikmat katanya itu. Tapi tahukah saudara bukan itu yang terbaik. Waktu kami masih kecil ayah sangat menderita kalau tukang ayam lewat mama panggil : Ayam sini. Yang dipanggil bukan paha yang dibeli bukan dada, yang dibeli leher sama kepala karena paling murah. Digoreng. Saya bilang : Ma, kenapa beli itu? Ah, ini juga sama. Mama bilang enak sama. Papa saya kasih lihat isep-isep lehernya. Kepala, otaknya. Tapi tahukah saudara itu bukan bagian yang terbaik. Sayap ayam enak tapi bukan yang terbaik. Ada yang suka bikin gorengan usus ayam, enak tapi bukan yang terbaik. Yang terbaik itu bagian dada disebut white meat, daging putih - itu the best, yang terbaik. Itu tidak ada penyakit disitu. Itu sehat makan itu. Putih dagingnya, bagian dada. Saudara makan sapi. Kaki sapi betul kaki sapi enak tapi itu bukan yang terbaik. Kerupuk kulit sapi enak rangu tapi bukan yang terbaik. Lidah sapi nikmat tapi bukan yang terbaik. Otak sapi, wuih hati-hati. Jeroan sapi, wuih hati hati. Buntut sapi, sop buntut enak tapi bukan yang terbaik Kalau begitu yang terbaik yang mana? Usus sapi, uh bahaya bisa kolesterol. Jeroan babat enak tapi wis hati-hati. Yang enak apa? Daging has, itu bagian yang terbaik yang tidak banyak. Makan itu aman.
Maka saudara-saudara dalam kekristenan juga ada. Nyanyi baik tapi bukan yang terbaik. Banyak yang baik tapi bukan yang terbaik. Hanya satu yang perlu, katanya Yesus. Dan Maria sudah memilih yang terbaik yang tidak akan diambil daripadanya. Kenapa? Dia duduk dikaki Yesus dan dengar Firman Allah. Kalau saudara suka duduk dikaki Yesus dan dengar Firman Allah, saudara tidak akan menipu orang dan saudara tidak akan ditipu orang. Maka kata Yesus : Hendaklah engkau cerdik seperti ular tapi tulus seperti merpati. Karena kalau kita tulus saja seperti merpati tidak cerdik, kita ditipu orang. Kalau kita cerdik seperti ular tidak tulus seperti merpati, kita nipuin orang. Tapi kalau kita cerdik seperti ular, tulus seperti merpati - kita tidak menipu orang dan kita tidak ditipu orang.
Kembali lagi kepada renungan kita : jangan kuatir! Satu tentara muda pangkat Kopral mau masuk dalam peperangan. Sudah masuk tentara. Si komandan lihat dia pucat gemetar keluar keringat dingin. Komandannya bilang : Kenapa kamu? Bapak komandan, siap lapor. Saya jujur. Takut. Takut apa kamu? Takut mati, pak komandan. Duduk. Komandan bilang : Kalau kamu berperang, itu ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama kamu ditaruh digaris depan atau kamu ditaruh digaris belakang. Kalau kamu ditaruh digaris belakang tenang jangan takut jangan kuatir karena jauh dari peluru. Kamu cuma bikinin logistik makanan minuman. Tetapi kalau kami dikirim nanti di garis depan ada dua kemungkinan, kamu ditaruh ditempat yang berbahaya atau kamu ditaruh ditempat yang tidak berbahaya. Kalau kamu ditaruh ditempat yang tidak berbahaya sudah jangan kuatir aman, kalau kamu ditaruh ditempat yang berbahaya ada dua kemungkinan - kamu kena tembak atau kamu tidak kena tembak. Kalau kamu tidak kena tembak puji Tuhan syukur aman tidak usah takut tapi kalau kamu kena tembak ada dua kemungkinan - kamu terkena tembakan dibagian yang berbahaya atau hanya keserempet peluru. Kalau kamu hanya keserempet peluru sedikit saja tidak apa-apa dibalut sembuh tapi kalau kamu ditembak kena ditempat yang berbahaya ada dua kemungkinan - kamu mati atau kamu luka parah tapi tiidak mati sembuh lagi. Kalau kamu luka parah tidak mati sembuh lagi sudah tenang sembuh lagi dan kalau kamu mati kamu tidak usah takut lagi - sudah mati. Oh ya komandan, kalau begitu saya mikir juga. Iya.
Jadi saudara-saudara ada banyak hal yang seringkali kita pinjam kekuatiran, pinjam ketakutan sesuatu yang belum terjadi. Dulu kita punya bapak RT dibelakang bapak Dendi ini punya pameo. Orang Sunda itu punya pameo Aji Palang Siang. Orang Sunda itu Aji Palang Siang ini kalau mau beli apa-apa itu sudah dipikirin takutnya dulu - itu Aji Palang Siang. Mau beli mobil Colt entong euweuh irungan, mobil Colt teh kitu tah deple. Euweuh irungan. Mun tabrakan teh paeh. Nggak jadi mau beli mobil Colt. Beli mobil Kijang, wah ulah. Kijang mah tiada duanya, dari gigi satu langsung clek ke gigi tiga. Nggak ada duanya. Teu jadi beli Kijang. Mau beli Mitsubishi Kuda, ulah kotor. Nggak jadi beli Mitsubishi Kuda. Mau beli diesel, wah ati-ati diesel mah gibrig nyareuri awak mun naik mobil diesel. Nggak jadi. Jadi selama satu tahun nggak jadi beli mobil. Karena yang dilihat jeleknya dulu. Mobil ini deple, euweh irungan ke tabrakan paeh eungke. Beli mobil ini awas, beli motor ulah motor mah gilindingna komo anu persegi ulah. Ah itu Aji Palang Siang. Jadi dia nggak beli-beli, dia nggak kerja-kerja.
Waktu saya latih anak saya berenang Revi tapi jangan ditiru saudara. Dia umur 7 tahun saya lempar saudara ke kolam renang. Saya lempar. Dia nangis-nangis. Saya peluk lagi. Saya bilang begini : Rev, air ini bukan musuh, air ini teman. Dia nangis. Bilang : Air ini teman .. air ini teman. Air ini teman Revi .. air ini teman Revi. Ini teman Revi. Coba Revi diam jangan goyang diem .. ngambang. Dia diem. Tuh ngambang kan. Sekarang belajar berenang. Akhirnya dia berenang, dia menjerit : Pa, lihat. Revi bisa nyeberang dari sini ke sini. Yang dua meter lebih. Dia menyeberang.
Kita seringkali kuatir. Belum berenang sudah kuatir dulu. Pake pakaian mah waduh pake selempag pake baju renang tapi nggak mau masuk di air. Kuatir engke kaleuleup. Masa duduk didarat bisa kaleleup saudara lihat air. Nah, inilah orang yang kuatir. Aji Palang Siang.
Nah, Tuhan Yesus berkata : Jangan kuatir. Adiknya
Yesus itu namanya Yakobus. Dia kita lihat tulisannya dalam Yokobus pasal 1
dibelakang. Adik Yesus tapi
beda ayah, Yesus dari Roh Kudus, tapi Yakobus dari Yusuf. Ayatnya yang ke 5
mulai.
1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya.
1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
Disini kuatir dipakai istilah baru bimbang, wavering. Yang saya ingin saudara tahu ayat 7 begitu saudara kuatir, begitu saudara bimbang - tidak ada satupun yang saudara dapat dari Tuhan. Sebab ayat 8 bilang mendua hati. Kalau kita ini jemaat normal, sehat, kita berjemaat disatu gereja - itu normal. Tapi kalau minggu ini saudara berjemaat di gereja ini, nanti Rabu saudara berjemaat di gereja lain, Kamis saudara berjemaat di gereja Katolik, sabtu saudara kebaktian di Advent - saya pikir saudara jemaat nggak normal. Jangan disebut abnormal tapi nggak normal lah. Sebab orang yang normal mah satu jemaat tetap saja disini. Ya, kalau mau jalan-jalan sekali mau dengar oke, no problem tapi kalau sudah kukurilingan terus nggak normal.
Demikian juga kita punya iman. Coba saudara sekarang saudara tidur menginap disatu hotel malam ini tapi nginapnya di dua hotel. Saudara tidur di hotel A dari jam 7 sampai jam 10. Ah, pindah ah tidur di hotel B. Da bayar dua-duanya juga. Orang akan bilang ini orang nggak normal, masa tidur dari jam 7 sampai jam 10 di hotel A, dari jam 10 dia tidur sampai jam 2 di hotel B. Eh, pagi-pagi jam 2 jam 3 dia pindah lagi ke hotel A. Sarapan di hotel B, makan siang di hotel A. Nggak normal. Nggak sehat.
Demikian juga iman yang mendua hati nanti iya percaya sama Yesus ya saya percaya Tuhan saya percaya akan dapat berkat, nanti dia grogi aduh kuatir bagaimana ya, apa uang saya hilang apa nggak ya, aduh gimana ya. Nanti wah bagaimana saya sembuh saya sehat saya percaya tapi bagaimana ya saya punya penyakit ini berat ya. Dokter bilang tidak ada harapan. Tapi bagaimana ya oh saya percaya saya dapat jodoh, Tuhan akan kirim jodoh buat saya tapi bagaimana saya punya umur sudah 99 tahun, gimana ya. Sedangkan Sarah saja 90 tahun bisa punya anak sama Tuhan, kalau Tuhan mau. Jadi orang yang begitu, saudara-saudaraku, itu saya punya istilah, imannya iman pantai. Kaau saudara lihat di pantai, air laut datang, pasang naik, dia kerendem air. Nanti kalau pasang surut, dia kering, seperti darat. Nanti kalau pasang naik, dia basah lagi, seperti laut. Kalau pasang surut, dia kering. Jadi entar basah, entar kering, entar basah, entar kering. Entar percaya, entar grogi, entar percaya. Itu bimbang. Itu khawatir.
Jangan kuatir, kataNya. Itu dicari oleh orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Kalau orang yang kafir, khawatir, takut di bank, itu memang biasa. Tetapi saudara sebagai umat Tuhan, jangan kuatir. Kita punya Tuhan yang menjamin, ya. Bank di Indonesia, saya tidak ada yang percaya. Satupun tidak ada yang saya percaya. Betul. BCA lah, bangkawarah lah, bank apa - saya nggak ada yang percaya. Bank, saudara. Maka itu hati-hati dengan uang. Hati-hati meminjamkan uang. Kita taruh uang di bank saja waktu ada kerusuhan, wah, mau ditutup bank. Desas-desus, ambil uang, nggak ada uang di bank. Musti pemerintah kasih lagi. Kemana itu uang? Uang-uang kita? Nggak ada saya percaya bank. Termasuk bank pemerintah. Bank Amerika yang ada di Indonesia, kita pun tidak bisa percaya. Maka hati-hati dengan uang. Hati-hati menaruh uang, meminjamkan uang, itu hati-hati. Ada jaminan apa tidak? Kalau iklan mah angin surga. Dengan menaruh uang di bank, saudara mendapatkan satu point dan akan ditukarkan dengan Baby Benz. Boro-boro Baby Benz, kacang asin ge teu meunang. Jadi saudara-saudara, hati-hati nih, diiming-iming Baby Benz. Dari sekian juta orang yang taruh uang, Baby Benz nya satu. Kalau Tuhan yang bilang, jangan kuatir, saudara bisa percaya. Karena Dia menjamin, jangan khawatir. Nah, obatnya apa? Kita kembali kepada Matius 6, sebagai ayat yang terakhir, Dia beri jaminan kepada kita. Ayatnya yang ke 33 : Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Jadi nomor satukan Kerajaan Allah. Prioritaskan Kerajaan Tuhan, baru nanti apa yang kita perlu untuk makan, untuk minum, dan untuk pakai, akan ditambahkan kepadamu. Cari dulu Kerajaan Surga, nanti segala sesuatu akan ditambahkan kepadamu. Saudara tahu, tambahan itu bonus. Jadi Dia lihat dulu saudara. Dia lihat saudara mengutamakan Dia, mengerjakan Dia, setia di kebaktian dengan benar, dengan baik. Saya ulangi, dengan benar, dengan baik, dengan setia, betul-betul ikut Tuhan baik-baik, semua yang saudara perlu itu ditambah sebagai bonus. Jadi itu ... buat Tuhan itu urusan nomor dua. Aku tambah kepadamu.
Maka itu, ayat 34 : Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
Saudara, janganlah kita jadi seperti kepiting. Kepiting itu jalan nggak pernah kedepan, saudara, kepinggir. Saya juga bingung, kenapa yah? Kepiting kaki delapan loh, saudara. Maju kek ke depan, kakinya delapan. Kita aja kaki dua maju kedepan. Ini kaki delapan kenapa nggak ke depan, kepinggir. Banyak orang kristen kaya kepiting. Nggak berani menghadapi fakta ya. Berani pinjem, enggak berani bayar. Begitu ada problem, dia nggak berani lagi muncul, takut. Kepiting dia. Capit mah gede, wuah ..., capit, serem, ari leumpang ka gigir.
Mari, biar kita cuma punya dua kaki, kita jalan ke depan. Karena kita punya Tuhan. Jangan kuatir. Mari, pagi hari ini, siapa yang ada keperluan, yang perlu dibantu doa, ada keperluan rumah tangga, keluarga, mata pencaharian, pekerjaan, sakit penyakit, apapun juga - saya senang membantu saudara dalam doa. Mari maju kedepan, kita berdoa bersama-sama. Bes. Jangan kamu kuatir ...
Minggu Pagi, 11 Agustus 2002
JERITAN TANPA SUARA
Selamat pagi, selamat berbakti bertemu lagi dalam nama
Tuhan Yesus Kristus. Markus 7:31
7:31. Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.
7:32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.
7:33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
7:34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah!
7:35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
7:36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.
7:37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."
Judul khotbah saya pada pagi ini adalah Jeritan tanpa suara. Kalau saya berkata jeritan tanpa suara, mungkin saudara sudah bisa menggambarkan oh, maksudnya bapak pendeta adalah orang yang bisu ini memang menjerit tanpa suara. Tetapi saya berbicara kepada hati nurani kita masing-masing. Ada jeritan hati saudara masing-masing yang tidak keluar dari mulut, yang orang lain tidak bisa dengar. Kalau saudara mau menjerit mengatakan itu, saudara takut saudara malu. Saudara takut dihinakan. Tetapi disini kita akan melihat satu cerita bagaimana Yesus datang ke daerah danau Galilea ditengah-tengah daerah Dekapolis, sama sekali daerah ini asing bagi orang-orang Yahudi.
Disana dikatakan didalam Matius 4 daerah seberang sungai Yordan, daerah yang masih ditutupi kegelapan. Dan disitu orang membawa kepadanya seorang yang tuli dan yang gagap. Tuli dan juga gagap. Bahasa Inggris berkata tuli dan bisu. Pada waktu dia dibawa, orang-orang itu memohon kepadaNya supaya Ia meletakkan tanganNya atas orang itu. Siapa orang ini? Tidak dituliskan. Namanya siapa, saya tidak tahu. Hanya dituliskan dia ini orang tuli dan orang yang gagap.
Jadi kalau Yesuspun bicara, dia tidak bisa dengar. Kalau dia ingin bicara dia ingin menjerit, jeritannya tidak terdengar. Pernahkah saudara berpikir betapa susahnya orang seperti ini. Omongan orang dia tidak bisa dengar. Tapi dia sendiri tidak bisa bicara, omongannya dia tidak bisa didengar orang.
Hari-hari ini saudara-saudaraku adalah hari-hari dimana banyak orang yang tuli. Maksud saya tuli bukan tuli secara tuli pendengaran tetapi tuli telinga rohani. Tiap minggu dia ke gereja. Tiap minggu dia dengar Firman Tuhan. Mungkin baca majalah rohani, mungkin dengar kaset khotbah, mungkin di televisi dia mendengar pemberitaan Firman Tuhan. Dia belajar sesuatu yang baik. Oh, dia tahu sesuatu yang tidak baik. Tetapi yang saya mau katakan disini tuli, dia tidak menurut apa yang diajarkan, dia tidak mengikuti apa yang menjadi ajaran dari Fiman Allah. Dia hanya beragama kristen tetapi dia tuli, dia tidak mendengar, dia tidak menurut Firman Allah. Sangat khusus sekali, sangat sedih saya melihat secara umum kaum muda diseluruh Indonesia diseluruh dunia. Belum pernah saya lihat kaum muda setuli jaman sekarang. Mereka ke gereja rajin mereka berbakti, rajin bermain musik, bernyanyi, mengadakan aktifitas gereja - tapi sayang tuli kepada Firman Allah. Tidak bisa dengar Sabda Tuhan, tidak bisa dan tidak mau mendengar. Dia mau tetapi tuli tidak mendengar. Jadi pantas cerita ini ada disana.
Saudara-saudara, kalau ada diantara saudara punya keluarga, ya ... karena tadi malam saya di sms oleh satu orang yang punya satu keluarga, masih muda umur 30 an, punya istri, anak dan punya pabrik textile. SMS saya adalah yang famili nya, yang suka main golf sama saya. Dia sms saya : Tolong kirim murid ko Yoyo siapa saja setiap hari Kamis untuk berkhotbah di rumah rehabilitasi narkoba, khusus untuk berkhotbah kepada adik saya ini keluarganya dari jam 7 malam sampai jam 9 malam. Hanya itu yang diijinkan oleh dr Sarengat didaerah Lido.
Apa ini orang adalah orang yang kafir? Dia sudah kristen bahkan istrinya aktifis gereja, istrinya suka memimpin pujian. Tapi disinilah saudara yang saya katakan tuli terhadap Firman Allah. Dia tidak dengar Sabda Tuhan, dia tidak dengar nasehat Tuhan. Apa istri tidak cantik? cantik; apa anak tidak gagah? gagah; uang tidak ada? ada. Tetapi disinilah tuli terhadap Firman Allah. Saya balas sms : bagaimana dengan antar jemput karena murid saya kalau dibawa kesana suruh jalan kaki dia nggak tahu Lido dimana, pake mobil turun naik berapa jam. Jangan takut antar jemput akan diatur kemudian. Memang orang berada. Tapi disini kita lihat orang yang punya kapasitas sudah pegang pabrik, saudara-saudara, tidak ada kurang. Tapi tuli. Tuli.
Nah, di Cianjur ada istilah norek. Norek itu bukan torek. Torek itu tuli, kalau norek dia bandel. Dia bandel. Ah, norek we. Maksudnya norek itu bandel. Dia sudah tahu itu salah tapi terus aja dia kerjain. Itu tuli. Nah, orang Manado ada istilah pongo. Pongo itu bukan tuli lagi saudara; dia tidak tuli tapi dikasih nasehat itu salah tapi dia kerjakan terus - itu pongo. Bandel. Memang Tuhan akan bertindak, Tuhan akan menghukum orang-orang seperti ini, tapi kan sayang. Maka ini orang-orang yang penuh kasih sayang dia bawa ini orang tuli dan gagap ini kepada Yesus supaya Yesus meletakkan tangan. Nampaknya saudara, sudah nggak bisa lagi nasehat manusia orang-orang seperti ini. Hanya jamahan tangan Tuhan yang bisa merubah dia. Amin saudara-saudara?
Saya bersaksi di kebaktian kaum muda. Saya katakan kenapa orang kristen itu paling susah berdoa. Susah disuruh berdoa. Suruh nyanyi, hayu. Suruh kebaktian, hayu. Tapi disuruh berdoa susah bangeut. Padahal doa itu penuh dengan kuasa.
Nah, ada satu anak gadis, ibunya orang pantekosta. Ini anak gadis sesat, saudara-saudara. Dia cari kerjaan yang gajinya satu hari 150 ribu satu malam. 150 ribu lima belas tahun yang lalu luar biasa besar. Ibu kasih nasehat, dia sudah tuli. Nggak bisa berbuat. Dikasih nasehat jangan itu kamu berdosa sama Tuhan kamu berdosa sama diri sendiri. Jangan berbuat itu, jangan kerja itu, cari kerja yang baik yang halal. Dia tetap kerja itu. Akhirnya kepada siapa lagi dia mengadu kalau bukan sama Tuhan. Dia datang sama bapak pendeta : Tolong oom, .. kebetulan pendetanya teman kita dari Rangkasbitung, pendeta Pongayou yang kebetulan sekarang agak tuli dia .. tapi tuli tua. Tapi dia dengar-dengaran kepada Firman Allah. Agak kurang dengar. Bikin bedstone dirumahnya. Ayo kita sembahyang ibu, hanya doa yang bisa menolong. Bikin bedstone jam lima sampai jam 6 jam setengah 7. Bedstone sembahyang. Lagi sembahyang-sembahyang saudara, di Ancol sang anak lagi dandan. Merah-merah bibir, bikin putih pipi, bikin biru mata - seperti bendera Belanda. Merah putih biru dan saudaraku rambut, ya, untuk bekerja yang 150 ribu satu malam.
Sementara dia dandan saudara-saudara, dia dengar satu suara dari kaca itu : Pulang. Kaget dia. Dari kaca. Dia lihat kiri kanan tidak ada orang. Ah, dia anggap ini suara hatinya sendiri. Dicuekin aja, dia masih tuli. Kemudian keluar dari kamar hotel naik lift turun kebawah. Didalam lift dia sendirian, suara itu datang kembali : Pulang! Wah, dia mulai dag .. dug .. dag .. dug .. tapi dia masih keras hati dia masih turun kebawah. Yang jemput sudah ada taksi sudah disiapkan. Silahkan masuk. Dia masuk taksi, dari dalam taksi keluar lagi suara itu : Pulang! Dia menangis, gemetar tidak tahan. Kuasa Allah terjadi. Dia bilang sama supir taksi : Tolong ke alamat ini. Bukankah harus kesana? Tidak, ke alamat ini, ke alamat dimana pendeta dengan ibunya sedang berdoa dengan beberapa jemaat. Ketika dia sampai dirumah dia lupa lagi, dia lari dia ketuk pintu rumah nya : mama, mama. Sang ibu dengar suara anaknya dia lompat dia tidak ragu siapa lagi kalau bukan anaknya. Dia lompat, dia buka pintu, pemandangan yang sangat mengharukan. Anak berlari kepangkuan ibunya dan bilang : mama ampuni saya, saya orang berdosa. Saya sadar saya bertobat. Mamanya bilang : mama ampuni, Tuhan juga ampuni. Ayo kembali sama Tuhan berdoa. Akhirnya dibawa dalam doa.
Hanya Tuhan yang bisa merubah. Orang yang suka norek, orang yang suka tuli, orang yang susah dinasehati, orang yang sukar diperbaiki - cuman Tuhan dah. Nggak bisa kita pakai tenaga kekuatan kita, cuma Tuhan aja Tuhan jamah, Dia bisa tolong sama dia. Lalu sesudah Yesus ayat 33 memisahkan dari dari orang banyak. Ternyata Yesus ini saudaraku suka memisahkan orang ini dari orang banyak karena kadang-kadang orang banyak sering hanya mau jadi penonton, tidak mau jadi pelaku. Hanya mau jadi penonton.
7:33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu,
Saudara bisa bayangkan Yesus mulai berkomunikasi dengan orang yang bisu dan tuli. Saudara bisa bayangkan tidak? Yesus kan tidak akan ngomong. Saya akan berdoa buat kamu, ya, dia kan tuli. Kemungkinan dalam pemikiran saya, kemungkinan, Yesus memakai kegerakan. Saya, Aku, mau buka telinga kamu supaya kamu bisa dengar. Karena orang bisu tuli sudah pakai bahasa tangan isyarat. Waktu saya dipanggil Gus Dur, menghadap dia, dia bukan bisu bukan tuli, dia buta. Kira-kira dari pintu masuk dari sini ke tembok saya masuk dari tembok dia diininya. Saya bilang selamat malam Gus. Dia bilang selamat malam. Dia angkat tangan begini. Saya disana dia disini, dia kasih tangan selamat malam. Apa kabar pak Yoyo? Kita harus ngerti dia buta. Nah, sekarang kalau kita ngomong sama orang tuli selamat malam dia nggak dengar. Coba saudara ngomong selamat malam sama orang tuli bagaimana kira-kira apa tutup mata supaya gelap kelihatan malam. Nggak, musti ada istilah.
Jadi Yesus bicara mungkin : Aku mau doakan telingamu. Tidak mungkin Yesus akan berkata : Aku mau doakan telingamu, lalu dijewer telinganya. Tak mungkin. Tapi aku mau buka telinga, ya. Saudara kita yang bandel yang harus dijewer tapi orang ini yang telinganya mau disembuhkan. Oh ya dia manggut ya, ya. Masukkan ke telinganya lalu ia meludah. Saya tidak tahu meludah kenapa dan untuk apa. Dan ia meraba lidah. Kemungkinan begini saudara. Dia meludah itu gini. Dia ulurkan lidahNya, kasih lihat lidahNya, Aku mau supaya kamu bisa bicara. Lalu tangan Tuhan pegang lidah mulut orang itu. Bayangkan saudara satu jari masukkan ditelinga satu jari pegang lidah orang itu. Apa mau dicekik apa mau gimana nih. Tapi Dia menengadah ke langit. Oh saudara, kalau Yesus sang Putera Allah saja masih menengadah ke langit, siapa kita kalau kita selalu menengok ke bawah : lihat urusan-urusan sehari-hari terus, pikiran-pikirannya yang dibumi terus .. Kolose 3:2. Tetapkanlah pikiranmu kepada perkara-perkara yang diatas, bukan perkara yang didunia.
Kalau saudara-saudara dulu - sekarang sudah nggak ada - kalau dulu, kira-kira 10 tahun yang lalu di Cianjur suka ada yang suka lihat kebawah itu tukang puntung rokok dia suka-suka cari dia lihat tapi sekarang sudah tidak ada. Banyak orang sekarang saudaraku masih suka lihat kebawah, tidak suka lihat kepada Tuhan. Ingat bahtera Nuh. Coba saudara bayangkan bahtera Nuh. Bahtera yang begitu besar binatang-binatang masuk cuman satu pintu satu jendela. Tingkat satu tidak ada pintu, tingkat dua ada pintu - pintu masuk, tingkat 3 hanya jendela satu diatas. Maksudnya apa? Supaya Nuh itu tidak lihat kekanan, tidak lihat kekiri, tidak lihat kedepan, tidak lihat kebelakang - dia cuma bisa lihat keatas. Maka Yesus bilang seperti jaman nabi Nuh, demikianlah jaman diakhir jaman ini. Belajar kita nggak usah lihat kanan, lihat kiri, lihat salah orang. Nggak usah lihat belakang - kegagalan kita; nggak usah lihat kuatir untuk hari depan. Jangan. Lihat saja kepada Tuhan. Pandang kepada Tuhan Dia yang mengadakan dan menyempurnakan iman. Maka saudara-saudara akan sukses dan berhasil.
Ketika itu Dia berkata :
Efata!, artinya: Terbukalah!
7:35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
Papa saya almarhum dulu berdoa untuk bapa Cang Hok di Cibadak, keluarga dari bapak Budiarto. Bapak Cang Hok ini tidak bisu; dia bisa ngomong tapi satu hari dia bisu. Dia tidak kegereja dia belum mau ke gereja. Satu hari dia bisu. Tidak bisa bicara. Lalu saudara-saudara, dipanggillah ayah saya doakan. Didoakan. Rambut sudah panjang dia tidak keluar kamar. Dia tidak bisa bicara. Pada waktu didoakan dia sembuh, dia mengaku waktu dia sembuh dia rasa ada orang tarik besi-besi panjang kira-kira 7 sampai 10 besi dari mulutnya panjang besi-besi. Begitu yang terakhir dicabut dia bisa bicara. Ketika dia bicara, saudaraku, dia senang berbakti kepada Tuhan. Akhirnya dia mulai mundur .. mundur .. mundur, nggak ke gereja lagi. Bisu lagi. Panggil lagi papa saya. Didoakan lagi. Begitu juga terjadi lagi. Ada lagi dia lihat sendiri ada orang seperti tarik banyak besi dari mulutnya; dia bicara lagi. Sejak itu dia kebaktian sampai dia meninggal dia tidak meninggalkan gereja lagi.
Nampaknya disini saudara lihat kata 'terbukalah' cocok. Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Tidak belajar dulu, tidak les dulu ngomong. Orang nggak pernah bicara, orang bisu sekarang langsung ngomong bicara dengan baik. Saya yakin kalau Tuhan jamah anakNya jamah kita, kita akan suka dengar-dengaran kepada Tuhan. Dan omongan kita omongan yang baik : nggak akan ngadu-ngadukan orang, nggak akan ngebohong, nggak akan pinjam uang lupa bayar, saudara-saudaraku tidak akan fitnah orang, nggak akan saudaraku ngomel, sama suami tidak suka melawan, tidak suka maki-maki istri, nggak suka cakar suami, ya. Kata-katanya baik, kata-katanya mempunyai ... nggak usah les lagi dia langsung bicaranya baik. Perkataannya baik, bicaranya baik, tidak pelo, ya.
Dulu saya kenal ada satu pendeta temannya ibu saya, pendeta Wong Miauw Hua dari .. asli masih dari Tiongkok tapi dia jadi pendeta di Indonesia, di GBIS dia. Saya diundang khotbah sama dia. Wah, kalau ngomong sama dia musti hati-hati dengar baik-baik karena saya juga hampir nggak ngerti. Coba saja kalau dia ngomong begini saudara ngerti nggak : Sodala-sodala dala alkita ada satu laja-laja daud suka maen musik tinton tinton. Ngerti nggak? Saya juga tidak ngerti tahu apa maksudnya. Baru belakangan saya mengerti saudara-saudara : didalam alkitab ada satu raja, raja Daud suka main musik .. tingtong tingtong, katanya begitu .. main kecapi. Diatas nyonya tidak ada lamai. Ibu-ibu pada marah .. diatas nyonya tidak ada lamai. Padahal diatas dunia tidak ada damai, maksud dia. Tapi karena dia pelo diatas nyonya tidak ada lamai, katanya. Kita menyanyi satu nyanyian Tuhan Yesus dolong gelobak. Kedengarannya begitu, Tuhan Yesus kok dorong gerobak. Maksudnya Tuhan Yesus tidak berubah, saudaraku. Makanya jangan pelo, puji Tuhan.
Kembali lagi kepada Firman Allah. Ayat 36
7:36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.
Saudara, perbuatan baik itu dilarang-larang jangan diomongin malah ... minyak wangi sebetulnya nggak usah pasang iklan. Minyak wangi sama duren itu nggak usah pasang iklan, ya. Saudara beli duren nggak usah pasang iklan ngomong sama orang saya beli duren. Nggak usah. Eeurab, orang kan ngomong : beli duren nya? Sebab bau duren. Duren nya sudah habis apapun saudara baru makan duren maaf saudara bertahak saja, sudah bau duren. Baru makan duren. Apalagi minyak wangi. Maka saudara dikatakan oleh Firman Allah. Firman Allah katakan : jangan dikatakan kepada siapa-siapa, malahan makin tersebar perbuatan Tuhan. Orang tuli mendengar, orang yang gagap bicara. Saya belum terangkan orang kristen banyak juga yang gagap. Nggak suka bersaksi. Nggak berani bersaksi. Dia kalau sembahyang makan dirumah berani. Begitu di restoran besar banyak orang malu dia takut. Pake majalah pake koran kompas dia tutupi .. ssssttt. Apa pak, kata pelayan, air es pesan? Oh bukan .. bukan, saya lagi sembahyang. Kita malu.
Ada suami-istri suka undang saya makan di Jakarta. Istrinya memang sering saya : ibu, maju ke depan. Ibu Elisabet berdoa. Dia berdoa. Suaminya nggak suka berdoa dan nggak berani berdoa. Satu kali di restoran saya bilang : bapak berdoa. Oom, istri saya saja oom. Saya sudah sering dengar istrimu, sekarang kamu berdoa. Saya nggak bisa, oom. Kalau kamu nggak berdoa, saya nggak makan. Iya deh. Tundukkan kepala. Saya buka mata karena lama saudara tidak keluar suaranya. Waktu saya buka mata dia tarik napas, lalu dia berdoa : Bapa .. Lama sekali. Saya lihat lagi, ngomong lagi : Bapa .. Saya jawab : ya? Sekarang? Oh, nggak gagap lagi. Sekarang saya bilang kenapa panjang amat nih doa makan karena dia sembahyang wah, janda-janda duda-duda didoain semua saudara-saudara, karena dia sudah gape istilah orang Jakarta sudah pandai berdoa, ya.
Saya yakin Tuhan akan merubah saudara. Saya khotbah dulu saya tidak akan lupa 7 Februari 68, 5 menit saya khotbah di Sekolah alkitab. Lima menit saya khotbah, saya tidak tahu mau khotbah apa lagi, saya menangis. Karena sudah tidak tahu mau apa lagi. Saya baru kelas 1. Nah, waktu saya menangis murid-murid yang lain apalagi kelas 2 dikira itu Roh Kudus, jadi mereka ikut menangis. Mereka berdoa. Saya bilang kebetulan mereka berdoa terus. Terus mereka bilang waduh luar biasa itu murid kelas 1, katanya dia 5 menit khotbah semua menangis. Padahal kita gugup nggak tahu lagi apa yang mau dikatakan. Dulu saya gagap sekarang saya bisa bicara.
Rsul Paulus berkata : aku seorang yang gagap, aku tidak pandai bicara. Itu sebabnya 1 Korintus 2:4 adalah ayat emas
saya disekolah alkitab : Pemberitaanku bukanlah pemberitaan dengan hikmat yang
menarik hati orang tapi dengan kuasa .. dengan kuat kuasa demonstrasi kuasa
Allah. Itu sebabnya kembali kepada Firman Allah, saudara-saudara, mari kita datang
kepada Tuhan sebab ayat 37 berkata
7:37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."
Siapa punya anak punya keluarga mungkin tuli secara rohani, susah dinasehati, tidak menurut - biarkan Yesus menjamah dia. Saya yakin Yesus akan menolong mereka semua. Mari kita berdiri kita masuk dalam doa. G. Kasih Yesus indah dalam hidupku ...
Minggu Pagi, 25 Agustus 2002
SAHABAT
Selamat pagi, selamat bertemu berbakti dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Renungan Firman Allah pada pagi hari ini kita buka dari Injil Markus 2
2:1. Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah.
2:2 Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka,
2:3 ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.
2:4 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.
2:5 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"
2:6 Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya:
2:7 "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"
2:8 Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?
2:9 Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?
2:10 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--:
2:11 "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"
2:12 Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."
Saya ingin berbicara mengenai indahnya persahabatan. Saudara-saudara, kalau kita punya teman, peng you, itu belum tentu dia jadi sahabat kita. Seorang teman belum tentu jadi sahabat. Seorang sahabat lain sekali dengan teman. Saudara bisa punya teman. Hari ini saja saudara bisa cari teman, gampang. Tapi untuk mencari seorang sahabat, itu susah sekali. Sukar mencari seorang sahabat. Dan Yesus berkata dalam Yohanes 15 Aku tidak memanggil kamu lagi hamba tetapi Aku memanggil kamu sahabat, ya.
Nah, pada satu hari Yesus sedang mengadakan kebaktian, mengajar di satu rumah, rumah orang. Orang-orang begitu banyak .. masuk didalam rumah sehingga jalan masukpun penuh sesak. Orang tidak bisa masuk lagi. Sedang mengajar-mengajar demikian, ributlah diatas karena rumah jaman dulu itu saudara hanya segi empat saja, jadi gentengnya itu nggak begini kalau orang di Israel sampai sekarang tapi rata aja begini rumah itu. Karena jarang hujan disana dan ditempat atas ini kadang-kadang orang membuat jemuran, orang menjemur makanan, jemur pakaian dan lain lain, ya. Bata-bata yang diatas itu, ya di semen sih disemen, tapi semen jaman dulu seperti kapur ya, bisa dibuka. Nah, saudara bisa bayangkan sedang mengajar, dibongkarlah persis diatas atap ini, dibongkar. Turunlah orang lumpuh diusung diatas tempat tidur pakai tali turun kebawah oleh empat orang.
Kalau saudara perhatikan ayatnya yang ke 3 ... digotong oleh empat orang.
2:4 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.
2:5 Ketika Yesus melihat iman mereka ...
Saudara perhatikan itu nggak .. ketika Yesus melihat iman mereka. Bukan iman orang lumpuh ini tapi iman mereka. Siapa yang disebut mereka? Adalah 4 orang yang menggotong. Tidak ditulis namanya siapa, tidak ditulis apakah ini keluarga teman, tetangga atau kenalan tetapi yang sudah pasti, empat orang ini pasti sahabat. Sahabat dari orang lumpuh ini. Sampai Tuhan Yesus berkata Dia melihat iman mereka. Tahukah saudara bahwa karena saudara datang kebaktian disini, saya bisa lihat iman saudara karena saudara datang. Tetapi Yesus bisa melihat jauh lebih dalam kedalam hati, Dia bisa melihat iman mereka yang menurunkan orang sakit ini.
Saya katakan tadi sahabat lain dengan teman. Itu orang banyak yang dibawah bisa saja teman tapi untuk menggotong orang lumpuh naik dulu keatas lalu membongkar tembok diatas, turunkan persis didepan Yesus - itu memerlukan sahabat, memerlukan persahabatan yang sejati.
Nah, kalau saudara-saudara berpikir, ya .. ada satu
peribahasa orang Amerika berkata : Janganlah kamu takut didalam kesusahan kalau kamu
masih punya sahabat - bukan teman. Sahabat. Sahabat, saudaraku. Banyak orang
berteman tapi ujung-ujungnya mau pinjam duit. Banyak yang begitu. Sudah pinjam
duit hilang tidak kelihatan lagi. Ditagih-tagih nanti sore, ditagih sore nanti
pagi, ya. Pakai nubuatan-nubuatan segala ditagih. Itu bukan sahabat. Seorang
sahabat saudara-saudara luar biasa. Empat orang ini dikatakan iman mereka ...
2:5 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"
Saudara lihat tidak, empat orang, ya. Lihat kedepan.
Empat orang iman. Kok, yang diampuninya ini? Empat orang sahabat. Yesus
bilang : Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni! Karena empat sahabat ini,
Yesus berkata kepada orang lumpuh ini. Nampak betul, Yesus menghargai orang
lumpuh ini karena menghargai iman dari empat sahabat ini. Empat sahabat ini
bertujuannya satu : membawa yang lumpuh ini untuk masuk didalam ruang kebaktian
supaya dia ketemu Yesus, supaya dia bisa ditolong. Karena orang lumpuh sudah
tidak bisa jalan, tidak bisa berbuat apa-apa, ya.
2:6 Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam
hatinya - mengkritik, dsb - :
2:7 "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"
Disinilah datangnya tradisi. Betapa bedanya tradisi dengan Yesus. Menurut tradisi, membuka genteng waktu ada orang sedang bicara, itu tidak sopan. Menurut tradisi sedang ada yang khotbah genteng dibuka turunkan orang dari atas, itu sangat tidak sopan. Tetapi menurut iman, Tuhan menghargai sedemikian. Jadi ada 3 hal yang tradisi selalu menjadi penghalang bagi orang-orang kristen. Tiga hal mengenai tradisi. Dan tradisi ini lebih bahaya dari penyakit kanker. Lebih bahaya dari penyakit jantung, lebih bahaya dari penyakit-penyakit yang lain.
Satu. Tradisi suka berkata begini : Saya sakit begini lumpuh ini kehendak Tuhan. Itu tradisi yang saya sering dengar itu orang ngomong. Saya sakit sakit menderita begini, ini adalah kehendak Tuhan. Kalau orang-orang saat itu mengikuti tradisi, orang lumpuh itu tidak akan dibawa di kebaktian, orang lumpuh itu akan tetap dirumah karena menurut mereka menurut tradisi ya, dia sakit itu mungkin sudah suratan takdir sudah kehendak Tuhan. Ini bahaya nya tradisi. Nggeus geuring kitu mah nggeus we lah narimakeun. Terima saja sudah sakit begitu, sudah memang sudah begitu, sudah. Sudah, mungkin ini kehendak Tuhan, saya sakit begini kehendak Tuhan. Apa kata Firman Allah? Diatas bukit Golgota Yesus mati. Oleh bilur-bilur-Nya, segala sakit penyakit sudah disembuhkan. Apa buktinya? Ternyata orang lumpuh ini dibawa kepada Yesus dan Yesus menyembuhkan dia. Kalau menurut tradisi ya disebut kehendak Tuhan, saya sakit begini. Tidak. Tradisi itulah yang menghalangi kuasa Tuhan, tradisi itulah yang kita percaya seringkali, ya.
Yang kedua. Tradisi berkata : Kita orang berdosa, mana mungkin kita ini diampuni. Kita orang banyak salah banyak dosa. Nggak mungkin kita diampuni. Kalau nabi bisa, kalau orang suci bisa. Kita orang biasa, mana bisa kita diampuni. Tiap hari kita berlumur dosa. Apa kata Yesus kepada orang lumpuh ini : Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni. Lawan tradisi itu. Ini tradisi kebiasaan yang tidak baik. Yang lebih bahaya dari penyakit kanker. Banyak orang sehat tidak sakit kanker tapi dia kena tradisi : Waduh, saya punya dosa tidak bisa diampuni lagi. Bisa, siapa bilang nggak bisa.
Di Amerika ada satu pembunuh, dimasukkan penjara. Dia sudah membunuh beberapa orang secara beruntun karena orang melihat wajahnya saja sudah takut. Oleh karena dia berbuat disatu negara bagian yang tidak melakukan hukuman mati jadi dia luput dia tidak kena hukuman mati tapi dia kena hukum seumur hidup dipenjara. Ada satu hamba Tuhan sering lewat-lewat di penjara itu membawa traktat; traktat itu kesaksian yang ditulis, di selebaran - itu traktat. Tiap hari dia masukkin, tiap sel dia masukkin. Begitu masuk sel orang ini, dia masukkan kertas : selamat pagi, pak. Dia masukkan kertas. Ini bapa dia terima dia robek-robek ini kertas. Besok, ini pendeta lewat lagi di sel itu, dia masukkin lagi kertas yang sama. Ini pembunuh tidak banyak omong dia robek-robek. Selama satu minggu keras traktat yang dikasih dirobek terus. Sampai pada satu hari mungkin bosan dia merobek, dia tidak robek, dia biarkan saja itu kertas. Pas itu traktat menghadap sama dia tertulis : walaupun dosamu merah kirmizi sekalipun, Aku akan jadikan putih seperti bulu domba. Yesaya 1:18.
Jadi dia panggil itu pendeta : Mister. Dipanggillah dia. Apa yang ditulis ditraktat ini betul? Betul. Apa betul Tuhan bisa mengampuni dosa orang jahat? Betul. Apa orang yang dipenjara seperti saya dosanya bisa diampuni? Bisa. Kamu tidak mengerti yang kamu katakan, apa seorang pembunuh bisa diampuni dosanya? Bisa. Saya bunuh bukan satu orang, saya bunuh sudah beberapa orang, apa saya bisa diampuni? Bisa, asal bapak percaya, asal terima Tuhan Yesus. Dosa seperti apapun juga, Dia bisa ampuni.
Saudara-saudara, tiba-tiba tangannya gemetar dan dia menangis seperti anak kecil, ya. Dan dia turun kebawah berlutut dan dia menangis. Pendeta juga ikut berlutut hanya dihalangi jeruji besi. Boleh saya berdoa? Kadang-kadang ada orang lewat, kadang-kadang ada sipir penjara lewat, dia suka minta rokok ini orang tapi bukannya rokok diambil sipir penjara dipegang digebuk-gebukin ke besi, memang galak orangnya. Tapi hamba Tuhan ini tidak takut dia peluk dan berdoa dia nangis. Dia masih tanya : apa betul saya orang jahat pembunuh yang berantai ini yang tidak ada harga sampah masyarakat bisa diampuni? Bisa. Didoakanlah. Dibawa kepada Yesus Kristus. Lalu tiap hari dikasih traktat baru.
Mulai ada perubahan diwajahnya. Cerah. Dalam satu tahun saudara-saudara, penjahat ini menjadi kepala bagian dari sel blok itu. Dia pegang kunci, dipercaya. Setelah beberapa tahun kemudian, dia dilepaskan dari situ, dia kerja dibagian kantor beres-bereskan sherif punya surat, dan sebagainya, membantu.
Akhirnya saudara-saudaraku, dia tidak lagi dirantai tidak lagi apa pakai seragam dia pakai seragam polisi penjara. Silahkan kerja. Dapat gaji. Dia dihukum tapi dia membantu, dia dapat gaji. Kemudian saudara karena laporan masuk ke atasan bahwa orang ini berubah setelah dia menerima Yesus, lalu apa yang terjadi? Ada satu usulan coba dikurangi tahun-tahunnya dari seumur hidup itu. Dikurangi. Tapi orang lihat lagi ini orang berubah baik, luar biasa baik. Saya tidak mau terus, saya mau bicara sekarang, orang itu menjadi hamba Tuhan. Dia melayani Tuhan dia menjadi pendeta, saudaraku, membawa banyak jiwa. Siapa bilang orang dosa tidak bisa diampuni; siapa bilang orang jahat tidak bisa berubah. Jangan percaya tradisi yang berkata bahwa orang jahat orang berdosa tidak bisa diampuni. Dosa kita - dosa saudara, dosa saya bisa diampuni asal kita bertobat, asal kita kembali kepada Tuhan. Asal kita menerima dia sebagai Yesus dan Juru Selamat pribadi kita.
Yang terakhir. Tradisi yang terakhir. Ayat 11.
2:11 "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"
2:12 Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."
Tradisi yang ketiga, itu yang berkata begini : Kalau saya sakit ini, ini untuk kemuliaan Tuhan. Dia sakit tapi dia sakit itu untuk kemuliaan Tuhan. Dia menderita, dia menderita itu untuk kemuliaan Tuhan. Dia banyak hutang, dia banyak hutang itu untuk kemuliaan Tuhan. Salah, tradisi yang berkata begitu. Justru waktu mereka melihat orang ini sembuh, mereka memuliakan Tuhan. Ada haleluyah saudara? Ketika mereka melihat orang itu, mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."
Saudaraku, tiga hal ini terjadi luar biasa. Kenapa? Karena adanya persahabatan, karena adanya ho peng yang sejati. Ho peng, saudara, persahabatan, dia tidak ingin ambil keuntungan dari sahabat. Saya bersahabat sama B. Kalau saya bersahabat, saya tidak akan ambil keuntungan dari kekurangan dia. Umpama. Dia lagi perlu uang, dia mau jual barang. Dia sudah jual barangnya dibawah harga. Karena kita sahabat, kita tekan lagi, udahlah lebih murah lagi, kita kan sahabat. Oh, sahabat nggak begitu. Sahabat mah kalau bisa nolong. Udah harga yang dia kita kasih kalau kamu masih mau pakai duit pakailah uang saya - itu sahabat. Sahabat itu nggak neken. Amsal berkata : sahabat yang dekat jauh lebih baik daripada saudara yang jauh.
Yohanes 15:13
15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
Sekarang Yesus yang besar Tuhan sendiri berkata pagi hari ini bahwa kita, saudara dan saya adalah sahabat-sahabatnya. Dia tidak mau ambil keuntungan dari kita. Kalau kita mau ambil keuntungan dari Dia, Dia persilahkan karena Dia sahabat kita. Waktu kita sakit datang sama Dia, kita minta kesembuhan. Kalau kita sakit kalau kita lemah kita minta kekuatan dari Tuhan. Kamu adalah sahabat-Ku.
Saya mau tutup dengan satu ilustrasi. Saudara semua tahu Pangeran Charles dari Inggris. Suaminya Lady Di. Kalau ini kamar tidurnya kamar besar, ada ruangan besar disini yang dijaga oleh tentara-tentara Inggris. Lalu sampai diluar ini, halaman sampai dipinggir jalan itu pintu gerbang, itu disini juga sudah komputer sudah anjing pelacak sudah tentara-tentara dengan senjata otomatik jaga dia punya pangeran Charles. Tidak sembarang orang bisa masuk.
Apa yang terjadi? Hanya ada tiga orang yang boleh masuk kesana. Nggak usah pake lewat-lewat penjaga. Tiap pagi, itu tiga orang datang dan kalau tiga orang itu datang, yang penjaganya sudah manggut saja, buka saja, 3 orang itu lari-lari sampai keruang sini. Yang jaga disini juga manggut dibukain pintu lari. Nggak ketok lagi kamarnya pangeran Charles, dibuka, kadang-kadang ditendang dia masuk Charles dibangunin ... ayo, bangun .. bangun .. bangun, kita main polo. Karena pangeran Charles pemain polo naik kuda yang pukul itu. Ayo, kita main polo. Siapa tiga orang ini? Sahabatnya. Teman baiknya. Sahabat.
Jadi pangeran Charles sudah ngomong kalau tiga
orang ini datang, jangan diperiksa-periksa biarkan dia masuk - dia sahabat saya.
Pagi hari ini Yesus berkata : saudara adalah sahabat Dia. Kalau saudara
mau datang kepada Yesus, tidak usah pakai penjaga-penjaga, langsung saudara datang
: Tuhan Yesus tolong saya. Saudara langsung kepada hadirat-Nya. Darah dan tubuh-Nya
ada dihadapan kita dan Dia siap menolong kepada kita, siap melayani kepada
kita.
--<><--
________________________________________________________________________
Situs ini bersifat informasi umum, khususnya bagi saudara-saudara seiman,
berisi tentang sejarah singkat Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur,
Yayasan Kabar Baik, Sekolah Umum, Jadwal Ibadah serta Berita Aktual.
Perubahan terakhir situs ini tanggal : 26 Agustus 2002