© Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.2, Juni 2003

International Institute of Islamic Thought Indonesia

 

 

Kisah-Kisah Al-Qur'an

dan Tawaran “Cara Baru” dalam Membacanya

 

Damanhuri Armadi

 

 

Judul buku    : Al-Qur'an Bukan "Kitab Sejarah": Seni,Sastra dan Moralitas dalam Kisah-kisah Al-Qur'an (Al-Fann al-Qashashi fi al-Qur'an al-Karim)

Penulis          : Muhammad A. Khalafullah

Penerjemah  : Anis Maftukhin dan Zuhairi Misrawi

Penerbit       : PARAMADINA, Jakarta, September 2002

Tebal            : XII + 380 halaman

 

Bagi umat Islam, otentisitas Al-Quran sebagai kitab suci tentu saja tidak menyisakan ruang untuk diperdebatkan. Karena sebagai “teks Samawi”, Al-Qur’an mustahil diselipi kesalahan yang akan menjatuhkan dan mencederai statusnya. Mengikuti sepenggal ayatnya dalam Al-Baqarah, “Itulah Kitab yang tidak menyimpan keraguan apapun di dalamnya. Sebagai petunjuk (al-huda) bagi orang-orang bertakwa.”

Tapi sayangnya, keyakinan tersebut secara kurang tepat acap mendorong absennya tradisi kritis umat Islam, dan lebih ironisnya lagi, kerap menjebaknya dalam penerimaan tanpa reserve atas warisan pemikiran Islam masa lalu. Padahal, semua produk pemikiran yang berserakan dalam gugusan khazanah Islam yang amat kaya itu pada hakikatnya tidak lebih dari produk sejarah yang hampir bisa dikatakan mustahil bisa mengelak sepenuhnya dari tuntutan ruang dan waktu saat pertama kali dimunculkan. Tak pernah ada garansi bahwa “teks-teks turunan” (khazanah intelektual) yang mengalir deras dan lahir dari sumber utama Al-Qur’an itu identik dan menyuarakan secara utuh apa yang seharusnya. Apalagi, semua wacana yang terekam dalam teks-teks warisan masa lalu itu pun tidak mungkin mewadahi dan memperbincangkan problematika yang saat ini tengah dihadapi umat Islam.

Maka eksperimen-eksperimen baru dari para cendekiawan muslim yang muncul belakangan dan mencoba menghadirkan wacana lain yang belum (tidak) digarap sebelumnya sebenarnya selalu memberikan kontribusi berharga bagi keberlangsungan tradisi intelektualisme Islam. Setidaknya menunjukkan betapa polyphonic understanding bukan saja merupakan sesuatu yang absah; tetapi bahkan inherent dalam tradisi intelektual Islam. Dan melimpah-ruahnya kekayaan intelektual masa lalu Islam itu sebenarnya sebuah referensi gamblang, bahwa sejak sejarahnya yang paling dini tradisi intelektual Islam memang menampik penunggalan dan penyeragaman pemikiran.

Apa yang dilakukan cendekiawan Hassan Hanafi dengan proyek Al-Turats wa al-Tajdid-nya, Muhammad Arkoun lewat Naqd al-‘Aql al-Islamy-nya, Nasr Hamid Abu Zaid dengan “konsep teks” (Mafhum al-Nash)-nya, atau Al-Nash wa al-Haqiqah-nya Ali Harb—sekedar menyebutkan beberapa upaya intelektual para pemikir muslim kontemporer yang kini banyak diperdebatkan—-merupakan ragam ijtihad yang dinapasi oleh semangat tersebut. Begitu juga karya Muhammad A. Khalafullah berjudul Al-Qur'an Bukan "Kitab Sejarah": Seni, Sastra dan Moralitas dalam Kisah-kisah Al-Qur'an (edisi arabnya, Al-Fann al-Qashashi fi al-Qur'an al-Karim) yang menawarkan “cara baca lain” atas kisah-kisah yang dikandung Al-Qur’an. Sebuah upaya yang sebenarnya telah hadir dan menjadi wacana publik akademis Dunia Islam jauh mendahului karya-karya yang disebutkan sebelumnya.

Karya yang semula disertasi Khalafullah di bawah bimbingan Amin Al-Khuli ini memang menyebal dari arus utama metodologi tafsir yang diwariskan dan kemudian secara massif dilestarikan dalam studi-studi tafsir. Tawaran pendekatan sastra untuk memahami kisah-kisah dalam Al-Qur’an ini--yang melawan mainstream tafsir yang biasanya memosisikannya sebagai teks-teks sejarah dan karenanya bisa dibuktikan validitas historisnya--tak pelak memantik kontroversi berkepanjangan. Karena, sebagai konsekuensi dari metodologi yang tawarkannya itu, teks-teks kisah dalam Al-Qur’an dipandangannya sebagai bukan teks sejarah; melainkan teks-teks sastra yang dipilih Al-Qur’an sebagai mediator demi kemudahan penyampaian pesan-pesan dasarnya.

Maka jika para mufassir kerap memergoki jalan mampat dalam menelisik kebenaran fakta-fakta sejarah yang didedahkan Al-Qur'an, itu tentu saja bukan tanpa penyebab yang mendasarinya. Tetapi, menurut Khalafullah, buntunya upaya tersebut sebenarnya samasekali tidak berkait-kelindan dengan persoalan orisinalitas atau otentik-tidaknya Al-Qur'an, seperti biasanya dituding para orientalis, sebagai kitab suci yang diyakini kebenarannya oleh umat Islam. Orisinalitas Al-Qur'an tidak dengan sendirinya tercederai dengan kegagalan para penafsir dalam menunjukkan validitas kisah-kisahnya. Sebab, baginya, Al-Qur'an bukanlah kitab sejarah yang merekam segala peristiwa dan hal ikhwal yang benar-benar pernah terjadi. Kegagalan dalam membuktikan kesahihan sejarah tersebut karenanya harus dianggap sebagai sesuatu yang logis belaka.

Apa yang lebih melatarbelakangi kebuntuan dan pada gilirannya juga tidak memadainya seluruh tafsir yang menjelaskan kisah-kisah Al-Qur'an sejatinya bertolak dari kekeliruan metodologi yang ditempuh dalam praksis penafsiran. Artinya, karena mengandaikan sejarah yang dikisahkan teks-teks kitab suci sama dan sebangun dengan apa yang direkam teks-teks sejarah pada umumnya, para penafsir pun akhirnya secara salah telah menggunakan metodologi sejarah dalam menafsirkannya.

Dalam (sejarah) literatur tafsir, telah hadir beragam usaha yang dimunculkan para mufassir ketika kesulitan-kesulitan dalam penafsiran--seperti tidak nyambung-nya antara isi kisah Al-Qur'an dengan fakta-fakta sejarah, misalnya--hadir menghadang. Satu dari beragam alternatif jalan yang ditempuh dalam penafsirannya adalah dengan meletakkan teks-teks kisah tersebut sebagai ayat-ayat mutasyabihat (polinterpretable). Sehingga, sebagai konsekuensi yang mengikutinya, muncullah beragam tafsir yang berbaku debat seputar validitas sejarah dalam Al-Qur'an dan ironisnya selalu tak memuaskan.

Padahal, tutur Khalafullah, kalau saja para mufassir menyadari bahwa sejarah yang dinarasikan kitab suci tak bisa disamakan dengan "teks sejarah konvensional", tetapi diposisikan layaknya teks sastra dan didekati dengan pendekatan sastra juga, hiruk-pikuk yang berlangsung cukup panjang dan tidak produktif itu tak akan terjadi.

Demikianlah beberapa penggal argumen dan tawaran yang coba disodorkan Muhammad A. Khalafullah dalam menafsirkan kisah-kisah Al-Qur’an lewat buku Al-Qur'an Bukan "Kitab Sejarah", Seni, Sastra dan Moralitas dalam Kisah-Kisah Al-Qur’an ini.

 

Dengan titik pijak yang menyangkal mainstream tafsir itu, ia pun kemudian menawarkan metodologi barunya (baca: metodologi sastra) dalam menghampiri teks-teks kisah yang dirangkum Al-Qur'an. Sebuah tawaran yang--layaknya semua pemikiran baru yang menyebal dari arus utama--menyeretnya dalam pusaran konflik dan mengundang banyak kalangan konservatif  membombardirnya dengan pelbagai tuduhan serta fitnah.

Tetapi, layaknya para pembaru yang tetap gigih mempertahankan "kebenaran" yang diyakininya, Khalafullah pun tampak tak bergeming. Metodologi sastra baginya niscaya segera mengambil alih metodologi sejarah dengan topangan argumen, bahwa jika metodologi sejarah yang ditempuh, maka akan muncul beberapa kebuntuan sebagai konsekuensi negatifnya.

Pertama,  penafsiran yang dilakukan akan gagal menyibak tabir kisah karena unsur-unsur sejarah yang ada dalam kisah-kisah tersebut adalah materi sastra dan konstruksi kisah-kisahnya pun pada umumnya bersifat (di)samar(kan). Kedua, metodologi sejarah juga akan kesulitan mendedahkan rahasia pengulangan-pengulangan kisah dalam Al-Qur'an. Penafsiran dengan menggunakan metodologi sejarah akhirnya akan gagal menunjukkan rahasia mengapa sebuah kisah diulang-ulang dalam versi berlainan tentang pelaku (dan peristiwa) sejarah yang sama.

Di samping dua hal di atas, pendekatan sejarah pun, menurut Khalafullah, akan kesulitan memecah-cairkan kebenaran sejarah yang dikisahkan kitab suci saat dicocokkan dengan sejarah yang secara umum telah diketahui.

Dari sinilah cendekiawan asal Mesir ini berhenti dalam sebuah simpul argumen, bahwa makna-makna sejarah yang direkam Al-Qur'an tak lebih sebagai pelajaran dan contoh bagi umat Islam. Ia, karenanya, harus dikeluarkan dari domain (kajian) sejarah. Sebab historisitas (nilai sejarah) sejatinya bukanlah tujuan utama dari kisah-kisah Al-Qur'an.

Dengan menyadari setidaknya tiga kelemahan yang menghinggapi metodologi sejarah tersebut, dan memilih metodologi sastra sebagai alternatifnya, maka penafsiran diharapkan akan terbebaskan dari bias israiliyyat--unsur-unsur "asing" yang mencemari proses penafsiran Al-Qur'an --, mampu membeberkan tujuan-tujuan kisah yang sarat pesan-pesan moral, terhindar dari pemahaman keliru tentang rahasia pengulangan-pengulangan kisah, dan bebas dari keharusan setia pada suatu tafsir tentang kebenaran kisah-kisah Al-Qur'an. Dengan mengunakan metodologi sastra ini pula proses penafsiran kisah-kisah Al-Qur'an tak lagi harus dibebani tugas untuk mungurai validitas kesejarahannya.   

          Dalam metodologi sastra, kisah-kisah yang dirangkai Al-Qur'an tidak akan diandaikan sebagai teks yang mendedahkan data-data sejarah yang bisa ditelisisk otentisitasnya dengan menggunakan metodologi sejarah. Karena bangunan kisah-kisah tersebut diyakini sekadar berangkat dari keyakinan umum para audiens yang disapanya seperti biasa dilakukan para sastrawan saat hendak meramu suatu kisah.

Walhasil, dengan memposisikan kisah-kisah tersebut tak lebih sebagai kisah-kisah sastra yang tidak selamanya harus sama dan identik dengan peristiwa-peristiwa yang dicatat buku-buku sejarah; tuduhan-tuduhan para orientalis seputar "keganjilan-keganjilan" sejarah yang dihadirkan Al-Qur'an, dan kebuntuan para penafsir untuk menjelaskannya secara memadai; akan berakhir dengan hadirnya tafsir kisah-kisah yang justru lebih berhasil mengundang para pembaca untuk mendulang hikmah dan kearifan sebagai teladan yang musti diikuti. Bukan mempersoalkan dan menyangsikan "kebenaran sejarah"-nya yang memang tidak dimaksudkan sebagai tujuan dari kisah-kisah Al-Qur’an tersebut. Wafauqa kulli dzi ‘ilmin ‘aliim!

 

Damanhuri Armadi, alumni KMI Gontor Ponorogo. Saat ini tengah menyelesaikan kuliahnya di jurusan Bahasa Arab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan, Bandar Lampung. Aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung dan sesekali menulis opini dan resensi di media lokal dan nasional.

 

© Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.2, Juni 2003

International Institute of Islamic Thought Indonesia

 

Kembali ke Daftar Isi

Hosted by www.Geocities.ws

1