© Jurnal Pemikiran
Islam Vol.1, No.3, September 2003
International Institute of Islamic Thought
Indonesia
Pembaharuan Islam di
Indonesia:
Meneropong Sosok Ahmad Wahib
Andriansyah
Abstract
This article explores Ahmad Wahib’s ideas on Islamic
renewal in Indonesia. He was a Javanese (Indonesian) Muslim reformer that was
hard trying to change Indonesian Muslim society with his full integrity and
uniqueness, whereas Islamic renewal in Indonesia was an elite circumstances. It
was easiest thing for Indonesian Islamic reformer to pursue modernity, as
people in Western world (Christianity) did. However, Islamic renewal
increasingly became complicated in the Muslim world. Even in Indonesia, there
was an afraid to do it since it may could be judged as discrediting Islam. The
locus of discourse in the Islamic renewal must be obey and in line with the
unity and oneness of Islamic society (ummah) as a collective necessity.
There are many disintegrations between Islamic societies because of this
unfinished debate, even in the name of glorious of Islam. The unity and the
oneness of Islamic society must be on top priority, since it was the basic
needs. Henceforth, reformers of Islamic renewal stand on a dilemma between
changing the society for its life today and reaching a sympathy of society for
their holy task.
Keywords: Islamic renewal, Platonic love, independent man in new era,
Ummah
“Now
I see the secret of the making of the best person.
It is to grow in the open air and to eat and
sleep with the earth”
(Walt Whitman)
Sejarah peradaban
atau apapun memang tidak selalu berjalan linear. Bak roda pedati yang sulit
sekali pada tiap-tiap bagiannya mengalami keajegan final, kadang naik, kadang
turun, kadang berhenti sejenak, dan seterusnya. Sesuatu yang sangat wajar, dan
barangkali sudah terlalu biasa didengar. Demikianlah sebuah titah kehidupan
yang mau tak mau diemban seorang anak manusia.
Begitupun
persoalan pembaharuan dalam Islam, tak disangsikan lagi merupakan sesuatu yang
tidak boleh tidak terjadi. Pembaharuan bagi Islam seolah sudah menjadi
determinasi sejarah. Ia terus dan akan selalu terjadi, kalaupun tidak,
nampaknya memang mesti diadakan. Apalagi bila kata pembaharuan Islam
disandingkan dengan hal mana dinamakan kemodernan—yang notabene anak kandung peradaban
Barat.
Namun, nampaknya
pembaharuan dalam Dunia Islam bukan soal diadakan atau tidak. Kalau
persoalannya sekadar menjadi diadakannya pembaharuan atau tidak, agaknya
membincang pembaharuan boleh dianggap
selesai, dan lagi menjadi tidak menarik. Persoalan menjadi lain, manakala
diajukan sebuah pertanyaan: bagaimana cara melakukan pembaharuan Islam itu?
Pertanyaan di
atas amat krusial, bahkan membuahkan perdebatan yang tidak pernah selesai
hingga kini. Banyaknya suara dengan mana pembaharuan Islam dilakukan, makin
memperlambat perkembangan religiusitas Umat Islam. Dimana Umat seharusnya sudah
melangkah ke tahap lanjutan ketimbang dengan hanya bergulat pada soal
religiusitas. Kontestasi antara sikap kembali kepada tradisi, sebagai wujud
sikap atas nama kebaruan Islam dengan sikap menerima kemodernan sebagai ‘jalan
lurus’ sikap hidup, atau mengakomodasi keduanya, menjadi tema yang
berkepanjangan. Karenanya pembaharuan dalam Islam, hingga kini, boleh dibilang
baru pada tahap wacana. Kalaupun memunculkan gerakan, hal itu belum secara
masif dilakukan.
Dalam menyikapi
kemodernan, situasi dan kondisi Dunia Islam memang sangat berbeda dengan Barat.
Berangkat dari tradisi yang berpijak pada doktrin Jesus “berikan apa yang
menjadi hak kaisar pada kaisar, dan yang menjadi hak agama pada agama”.
Barat lulus ujian mengatasi polemik pembaharuan keagamaan, meskipun tentu saja
tidak kering dari tetesan tinta maupun darah
selama berabad-abad lamanya. Sekularisme menjadi ajimat bagi Barat.
Persepsi terhadap Isa As. yang dilihat tak lebih hanya sebagai pengemban titah
keagamaan dan tidak termasuk pada masalah keduniaan, melepaskan Tuhan dari
gerak sejarah. Keuntungannya, Barat tidak terus-menerus berpusar pada persoalan
relijiusitas, hal ini sudah dianggap selesai. Preseden ini tidak terdapat dalam
Dunia Islam. Muhammad Saw. tidak pernah secara tandas menegaskan, apakah ia
pengemban titah keagamaan saja, dan ataukah juga terutus untuk menyelesaikan
masalah-masalah keduniaan, dalam artian seluas-luasnya. Yang terlihat justru
malah kedua-duanya. Pencitraan Muhammad Saw. seperti ini hampir dianut oleh
sebagian besar Umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia.
Karena itulah
gejala umum yang terjadi dalam Umat Islam, ketika mereka menghadapi situasi
modern, masalahnya nyaris sama. Berputar dalam masalah langkah-langkah yang
mesti dilakukan dalam melakukan pembaharuan. Sayangnya, sedikit sekali orang
yang mau berkubang dalam upaya mencari yang sejati dari apa yang dinamakan
pembaharuan Islam.
Pembaharuan Islam
di Indonesia dari dahulu hingga kini memang sangat elitis sifatnya. Menempuh
cara Barat dalam merengkuh kemodernan barangkali hal paling gampang digulirkan,
namun apakah ia akan efektif di tengah basis material Umat yang sedemikian
berbedanya dengan Barat. Jangan-jangan upaya untuk itu, hanya akan menjadi
cemooh dan tuduhan upaya mendeskreditkan Islam. Karenanya dalam melakukan
pembaharuan Islam, seseorang harus rela menyerahkan diri sepenuhnya dalam
cita-cita itu, dengan segala resiko
apapun yang bakal diterima. Juga harus bersedia memeras tenaga dan pikiran bagi
pemecahan soal-soal bagaimana al-Qur’an hendak ditafsirkan, sejauh mana
relevansi Hadits menjadi pedoman, dan dalam batas-batas mana nilai-nilai islam
maupun sistemnya terwujud di tengah-tengah Umat. Dalam konteks Indonesia, hal
ini masih ditambah satu lagi, yaitu perlunya mempertimbangkan kondisi
masyarakat yang sedemikian plural, baik agama, etnis, maupun kepercayaan.
Inilah realitas masyarakat yang ada. Pada akhirnya, seorang pembaharu Islam di
Indonesia, mau tak mau harus memecahkan secara strategis pada
persoalan-persoalan sikap Umat Islam terhadap syari’ah. Satu hal inilah yang
menjadi pangkal perdebatan hingga kini. Konon hal ini disebabkan Islam di
Indonesia sangat kuat menganut paham Sunni. Dimana kemudian, merujuk namanya,
cita-cita Islam yang ideal haruslah Islam yang meniti pada tradisi sunnah Nabi,
yang pelaksanaanya diupayakan dalam arti kolektivitas (jama’ah). Jadi,
lokus perdebatan keharusan melakukan pembaharuan Islam, tidak boleh
mengorbankan persatuan dan kesatuan Umat dalam kolektivitas. Kalau yang terjadi
kemudian adalah berpotensi memecah Umat, sebaiknya ia tidak diupayakan. Maka,
seorang pembaharu, mengalami dua dilema sekaligus: dilema memperturutkan dan
memenuhi niat suci perubahan bagi Umat; dan dilema mencari anggitan yang paling
dasar bagi upaya pembaharuan, yaitu dukungan Umat.
Ahmad Wahib
Dari sebagian
orang yang mau berkubang dalam lumpur dilema diatas, tersebutlah nama Ahmad
Wahib. Konon dari segi penampakan, pria yang dilahirkan pada tanggal 9 Nopember
1942 di kota Sampang, Madura ini, berperawakan kecil. Praktisnya sangat tidak
meyakinkan orang, bahwa dalam dirinya terdapat gunung api yang sewaktu-waktu
meledak terhadap pembaharuan Islam di Indonesia. Dalam catatan hariannya yang
dibukukan, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib,
bagaimana diungkapkan jalan hidup yang ditempuhnya dalam strategi pembaharuan
Islam di Indonesia menghadapi pemetaan Umat diatas. Pada tanggal 10 April 1972,
ia menulis sebagai berikut:
Kita kaum pembaharu muslim masih terlalu
banyak menoleh kebelakang. Kita masih telalu sibuk melayani serangan-serangan
dari orang-orang muslim tradisional. Kalau ini sampai berjalan lama dan menjadi
kebiasaan saya kuatir kaum pembaharu akan terlibat dalam apologi bentuk baru,
yaitu apologi terhadap ide-ide pembaharuan (yang sudah ada) melawan kaum
tradisional. Bila ini sudah terjadi maka terhentilah sebenarnya kerja
pembaharuan kita.
Umur pembaharuan dikalangan muslim masih
terlalu muda. Karena itu saya sangat kuatir bila dia menyibukan diri untuk: 1.
menangkis dan menyerang muslim-muslim tradisional dengan faham-fahamnya yang
sudah lama tersusun; 2. untuk menyebarkan pikiran-pikirannya yang notabene
belum matang, belum lengkap dan jauh dari utuh. Karena itu sebaiknya kaum
pembaharu memusatkan diri pada ketekunan pemikiran dan perenungan alam suatu
grup kecil untuk mengolah dan mengembangkan konsep-konsep yang ada agar relatif
matang, lengkap dan utuh. Kalau ini tidak dilakukan saya kuatir kita akan
menjadi budak yang mau maju terus dan malu untuk sewaktu-waktu mundur bila
kadang-kadang salah.
Ahmad Wahib
memang seakan sudah berjodoh akan menjadi orang ‘besar’ bagi orang-orang yang concern
terhadap pembaharuan Islam Indonesia—paling minimal bagi pengagum pikiran-pikiran
pembaharuannya. Ada baiknya terlebih dahulu kita lihat siapa sebenarnya ia.
Ahmad Wahib
terlahir sebagai seorang Muslim yang juga Jawa. Laiknya anak-anak Muslim pada
umumnya di Indonesia, ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat kental
dimensi keagamaannya. Apalagi ayahnya, Pak Sulaiman, merupakan seorang pemimpin
sebuah pesantren yang sangat kuat pengaruh dan dikenal luas di kampungnya. Satu
hal yang membedakan Wahib dengan anak-anak Indonesia lainnya, selain memiliki
nasib baik, ia dididik dalam keluarga agamis, dididik dalam sikap keberagamaan
ayahnya yang tebuka dan bebas. Ayahnya memang pengagum setia
pemikiran-pemikiran pembaharu Islam asal Mesir, Muhammad Abduh. Sikap terbuka
inilah yang memungkinkan Wahib menempuh pendidikan umum, berbeda dengan teman
sebayanya yang tidak ada pilihan lain memasuki Madrasah (sekolah agama).
Pendidikan umum ini, dijenjanginya sampai tingkat menengah atas. Selepas
belajar di SMA Pamekasan, Ahmad Wahib melanjutkan studinya ke Yogyakarta. Di
Yogyakarta, ia melanjutkan studi pada Fakultas Ilmu Pasti dan Alam Universitas
Gajah Mada (FIPA- UGM), sealur dengan pendidikannya ditingkat atas sebelumnya.
Tidak banyak diketahui atas dasar apa kemudian, Wahib lebih memilih tinggal di
asrama mahasiswa calon-calon pastur, Asrama Mahasiswa Realino. Dan pada saat
yang sama ia putuskan memasuki organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), satu
hal yang dalam beberapa segi merupakan bentuk komitmennya yang begitu tinggi
terhadap Islam.
Seperti dikatakan
A.H. Johns1, tindakannya memasuki HMI saat itu,
merupakan sebuah tindakan berani. Sebab, pada dekade 60-an itu, terjadi
polarisasi amat intensif dalam pergumulan politik, antara pihak kubu Soekarno
bersama kelompok-kelompok nasionalis radikal dan Partai Komunis Indonesia
(PKI), dengan angkatan bersenjata, dan sayap politik Partai Masyumi yang
terlarang, bersama partai-partai kecil lainnya, dipihak lain. Dan pilihan
berjuang dalam lembaga Islam merupakan pilihan sulit. Terlebih lagi saat itu
Masyumi, yang dianggap ikon pembaharu sekaligus ikon kekuatan Islam menyandang
stigma buruk dimata penguasa, sebagai akibat lanjutan carut-marutnya politik
sebelum Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Masyumi yang kala itu memperjuangkan
syari’at Islam (sebagaimana disinggung diatas, pada lahan inilah pembaharuan
banyak dilakukan), akhirnya dilikuidasi. Namun dihati Umat, Masyumi masih
menjadi harapan tampilnya nuansa Islam dalam penggung nasional. Lewat underbouw-nya
lah, seperti HMI, banyak diteruskan cita-cita perjuangan Masyumi. Dari sini
Wahib, pada tahap selanjutnya, banyak disibukan untuk memikirkan dan
mereka-reka dimanakah posisi ideologis Islam ditengah-tengah beraneka warna
ideologis era 60-an. Iklim kondusif Yogyakarta turut pula membentuk dirinya
dalam pikiran, sikap maupun perbuatan. Selain aktivismenya yang berkobar-kobar
di HMI, ia mencari bahan bakarnya dalam diskusi-diskusi kelompok studi terbatas
Limited group. Disinilah bermulai pikiran-pikirannya yang liar namun
menggugah. Dalam forum ini pula gambaran bagaimana concern-nya terhadap
Islam makin menjadi-jadi. Nilai lebihnya, dalam forum ini pula dimungkinkan
pengungkapan segala unek-unek yang dirasakan setiap anggotanya, mulai dari
masalah-masalah teologis samapi hal-hal yang bersangkutan dengannya, hal mana
tidak lazim bagi kebanyakan Umat Islam saat itu untuk dipertanyakan. Namun,
lama kelamaan, Yogyakarta tidak dirasakannya menantang dan memberi inspirasi
lagi. Dalam catatan hariannya pada tanggal 5 Juli 1969, ia menulis:
Aku sudah terlalu lama di Yogya. Dia sudah
terlalu kering buat suatu inspirasi. Bagiku kota ini tidak inspiratif lagi.
Kapankah keinginanku intik menjelajah dunia ini bisa terlaksana?
Aku benci homogemitas dan suasana monoton.
Aku ingin mencari lingkungan baru yang masih kaya akan inspirasi.
Tahun 1971,
akhirnya ia mencoba mencari lautan inspirasi di kota bernama Jakarta, dan mulai
memikirkan bagaimana merancang masa depannya. Sambil mencari pekerjaan, ia
seringkali mengikuti kuliah-kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (STFD)
dan mengikuti diskusi-diskusi di rumah Dawam Rahardjo, kawan lamanya di HMI
cabang Yogyakarta dulu.
Masa-masa di
Jakarta boleh dibilang masa-masa sulit baginya. Sampai suatu ketika, seorang
pengendara motor berkecepatan tinggi menabraknya di persimpangan jalan Senen
Raya-Kalilio. Hari itu, tanggal 31 Maret malam tahun 1973, Wahib, seorang calon
reporter Majalah Tempo, menghembuskan napasnya yang terakhir.
Manusia Merdeka
di Jaman Baru
Kalau saja Wahib
tidak menulis catatan harian, dan atau kalaulah Djohan Effendi, teman dekatnya,
tidak dapat menemukan catatan-catatan itu, barangkali Wahib tidak akan dikenal
sebagai seorang yang amat concern terhadap pembaharuan Islam. Apalagi
dengan terbitnya buku catatan harian Wahib, sedikit banyak memiliki gaung
gelombang yang resonansinya mengena banyak kalangan anak-anak muda
sesudahnya.
Seperti dikatakan
Walt Whitman, manusia besar selalu lahir dari alam, barangkali lebih tepat lagi
pengalaman. Kehidupan Wahib yang seorang muslim, seorang yang berbudaya Jawa,
ditambah pergaulannya dengan orang-orang Katolik langsung dari
kantong-kantongnya, pergulatan dalam HMI, menjadikannya manusia yang berdaya
serap tinggi yang tidak pernah kehilangan dahaga. Pada 6 Oktober 1969, ia
menulis:
…Memang aku dahaga. Dahaga akan segala
pengaruh. Karena itu kubuka bajuku, kusajikan tubuhku yang telanjang agar
setiap bagian dari tubuhku berkesempatan memandang alam luas dan memperoleh
bombardemen dari segala penjuru. Permainan yang tak akan pernah selesai ini
sangat mengasyikan.
Dengan belajar
dari kehidupan yang ia lambarinya secara langsung, menjadikannya manusia yang
siap menampung segala hal, yang dalam bayangan orang lain barangkali tidak
mungkin. Bahkan ia sampai pada tekad enggan untuk dikotak-kotakan kedalam
golongan tertentu masyarakat. Ia menginginkan orang lain menerimanya dalam arti
manusia sesungguhnya. Manusia yang tidak berbeda hanya karena ideologi dan
keyakinan yang dinautnya. Pada 9 Oktober 1969, ia menulis:
Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan
sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan
komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang
disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu
kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana
saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat.
Memahami manusia sebagai manusia.
Agaknya Wahib
sudah sangat bosan mendapati sikap-sikap orang sekelilingnya yang cenderung
menilai orang lain bukan karena pribadinya tapi lebih karena kepada apa orang
itu berafiliasi. Secara kontekstual, pendirian Wahib ini mendapat relevansinya
dengan keadaan politik 60-an yang sangat carut-marut. Berbagai faksi politik
saling curiga mencurigai satu dengan lainnya, bahkan sudah sampai pada tahap
mengkhawatirkan.
Masa-masa ini
merupakan masa paling bergejolak dalam sejarah Indonesia. Luka psikologis yang
dialami Wahib, yang disebabkan oleh kenyataan yang nampak dihadapannya mulai
dari krisis ekonomi yang sedemikian parah, intrik politik yang melahirkan kup
oleh PKI pada 1965, pembantaian atas orang yang dituduh sebagai PKI setelah
gagalnya kup tersebut, mengajarkannya
banyak hal, yang mendorong segenap energinya untuk berbuat sesuatu untuk
bangsanya. Dan yang paling dekat ialah pembaharuan pemahaman terhadap Islam.
Pemuda yang hidup
masa sebaya Wahib, seperti diutarakan oleh penggerak pembaharuan lain, Soe Hok
Gie, merupakan manusia-manusia baru. Bahkan, barangkali generasi baru, atau
lapisan baru seperti termuat dalam pengantar redaksi Kompas pada Agustus
1969, yang dikutip oleh Daniel Dhakidae:
Tanpa kita sadari di bumi Indonesia kini
telah tumbuh suatu lapisan baru, pemuda-pemuda, pemudi-pemudi Indonesia
yang dilahirkan setelah tahun 1945__generasi kemerdekaan Indonesia2.
Generasi-generasi
baru ini, seperti diungkap Daniel Dhakidae, adalah:
Mereka bukan orang yang takjub melihat kaki
langit baru, yang terkagum-kagum kepada Barat model Sutan Takdir Ali Sjahbana;
mereka bukan “pemuda bambu runcing”; mereka adalah generasi yang dididik dalam
optimisme setelah penyerahan kedaulatan, dalam mitos-mitos tentang kemerdekaan
dan harapan besar terhadap “kejayaan Indonesia di masa depan”; mereka dalah
generasi yang dibius oleh semangat “progresif revolusioner” model Soekarno;
tetapi terutama generasi inilah yang mengalami kehancuran cita-cita itu
semuanya, demoralisasi dalam segala bidang, kehancuran kepercayaan kepada
generasi-generasi yang terdahulu3.
Kenyataan pahit
yang terjadi terhadap bangsanya sendiri barangkali hal biasa. Masa kemerdekaan,
kenyataan tersebut boleh dibilang santapan dari hari ke hari. Namun tragisnya,
kesengsaraan dan kepedihan itu bukan disebabkan oleh bangsa lain, tapi oleh
anak-anak bangsa yang dulu berjuang untuk rakyat. Tunas idealisme yang dulu
ditanamkan kepada kalangan muda ditanggalkan pada saat belum lagi kokoh
menghujam ke langit. Wahib merupakan salah seorang dari berjuta pemuda
Indonesia yang mengalami ‘pengkhinatan’ dari elite bangsanya sendiri.
Pernah suatu ketika, dalam catatan hariannya pasa 6 Juni 1969, ia berujar:
Aku tidak mengerti keadaan di Indonesia ini.
Ada orang yang sudah sepuluh tahun jadi tukang becak. Tidak meningkat-ningkat.
Seorang tukang cukur bercerita bahwa dia sudah 20 tahun bekerja sebagai tukang
cukur. Penghasilannya hampir tetap saja. Bagaimana ini?
Pada 20 Pebruari
1970, Wahib menulis:
Pada saat ini terlihat bahwa seluruh
sikap-sikap mental mengalami degradasi di Indonesia, termasuk sikap mental
bertanggung jawab.
Beberapa orang yang pada mulanya kelihatan
sangat potent untuk berwatak penuh tanggung jawab, ternyata menjadi pelempar
tanggung jawab. Ada suatu bahaya bahwa masyarakat Indonesia akan menjadi society
of responsibility shifters. Karena itu dari kalangan anak-anak muda di
samping orang-orang tua, haros tampil beberapa orang yang berani melawan arus ini
dan menegakan suatu masyarakat yang bertanggung jawab.
Sikap berdiam
diri jelas bukan prototype Wahib. Sebagaimana maklum, ia akhirnya
memasuki HMI sebagai wahana perjuangannya. Namun begitu, ia masih sangat
menaruh harapan besar terhadap insan-insan kreatif yang tidak kenal lelah untuk
membangun cita-cita. Romantisme terhadap apapun hanya akan menjadi apologia.
Dan sikap apologia inilah sebenarnya yang menjadikan bangsa Indonesia, dimana
Umat Islam bagian terbesarnya, terlalu depensif dalam hidup. Umat Islam hanya
bisa sebatas reaksi ketimbang melakukan aksi. Karena itu menjadi manusia yang
merdeka, otonom, harus menjadi cita-cita dan segera diwujudkan dalam alam
pembaharuan. Untuk itu Wahib, menulis pada 16 Agustus 1970, sebagai berikut:
Cara bersikap kita terhadap ajaran Islam,
Qur’an dan lain-lain sebagaimana terhadap Pancasila harus berubah, yaitu dari
sikap sebagai insan otoriter menjadi sikap insan merdeka, yaitu insan yang
produktif, analitis dan kreatif.
Cinta Platonik
Seringkali dalam
kehidupan, kita dihadapkan pada banyak hal yang tak terduga, dari semula yang
begitu matang direncanakan. Sosok Wahib yang sangat sederhana, barangkali
bersahaja, sama halnya dengan cara pandang hidupnya. Wahib bukanlah seseorang
yang selalu mesti menetapkan dirinya berpikiran hal-hal yang besar. Ia
sepenuhnya sadar akan begitu lemah kemampuan komunikasinya dengan orang lain.
Ini menjadi ciri tersendiri buatnya. Wahib sampai suatu ketika juga sepenuhnya
insaf bahwa selama ini hanya banyak berolah rasa dengan dirinya sendiri, hal
mana menjadi titik kelemahan yang diakuinya sedikit banyak menghambat kemajuan
dalam pendekatan ide-idenya.
Kelemahannya ini
membuat Wahib tidak pernah menemukan cinta sesungguhnya pada seorang wanita
khusus, seolah ada saja ketakutan yang serba nir alasan. Pada tahap tertentu,
ketakutan itu terjadi lebih karena umurnya yang sudah cukup dewasa, namun belum
ada kejelasan untuk memiliki teman hidup. Sehingga, ketakutan-krtakutannya itu
kerap mewujud dalam mimpi-mimpinya. Tulis Wahib pada tanggal 26 Maret 1969:
Aku terbangun oleh mimpi yang mengerikan
setelah 4 jam tidur malam ini. Masih jam 2.15. Aku kesal menunggu pagi. Aku
teringat pada...yang mengembalikan aku pada kenangan masa kanak-kanak di mana
aku baru mengenal cinta dari buku-buku komik dan roman murahan. Oh, aku
teringat pada rambutnya yang mayang mengurai, warna keputih-putihan pada
pipinya dan tubuhnya yang tidak begitu langsing. Aku teringat bagaimana dia
bermain-main dihalaman rumahku. Aku tak tahu lagi di mana dia sekarang. Ah,
romantisitas sekali menoleh masa lalu. Adakah ini tanda-tanda bahwa aku telah
apologetik dalam erotik? Apologetik yang kubenci? Tidak, aku tak mau apologi.
Aku akan berjuan keras menghadapi masa kini dan nantiku.
Cinta yang
sebatas pergulatan dalam “ideation” itulah yang nampaknya mengungkungi
Wahib, tidak hanya pada ketika ia mencintai lawan jenisnya saja. Pada banyak
hal pun ia mengalami itu. Bagaimana misalnya kecintaannya pada HMI.
Keinginannya untuk melakukan pembaharuan di tubuh HMI, akhirnya hanya menjadi
angan-angan yang tak pernah kesampaian. Eksodusnya Wahib dari HMI, pasti bukan
karena ia sudah tidak kerasan di dalamnya. Lebih dari apapun kecintaanya pada
HMI tidak pernah luntur. Sayangnya, seperti kepahitan hidup yang kerap
dirasakannya, ia harus menghadapi situasi yang serba dilematis antara
mempertahankan idealisme, keterbukaan, kebebasan, dengan berdiam diri
ditengah-tengah ketidak wajaran yang terjadi di lingkungannya sendiri.
Wahib memendam
penyesalan yang dalam, sebab ikrar cinta sucinya bersama HMI dihalangi dan
tidak diberi ruang pemuasannya. Dalam pada itu, dia menulis dalam bentuk
aforisme pada 14 Agustus 1969:
HMI bukan sekedar alat
yang bisa diganti dengan lain alat
HMI bukan sekadar saluran
yang bisa ditukar bergantian
terasa...HMI telah menjadi nyawa kita
HMI telah ada dalam urat dan nadi kita
dia ada dalam keriangan kita
dia ada dalam kesusahan kita
dia ada dalam kecabulan kita
dia ada dalam ke kanak-kanakan kita
HMI telah menghisap dan mengisi
jaluran-jaluran darah kita
walaupun begitu perpidahan ini kita
lakukan juga
kita tidak boleh tercekam oleh emosi
yang akan membuat kita terus termangu,
keragu-raguan dalam perpisahan
relakanlah segalanya
buat yang masih tinggal
Dalam keadaan
seperti ini Wahib sepertinya merasakan kesepian amat dalam, bahkan kadang
merasa pula keadaan frustasi akan kepahitan hidup. Namun bukan sikapnya pula ia
pantang menyerah. Satu hal yang amat disesalinya ialah bila orang lain
menanggung hasil-hasil perbuatannya yang berdampak negatif, tidak lebih dari
itu ia selalu menghadapi kepahitan dengan selalu tersenyum. Yang paling
dikhawatirkan Wahib mengenai kepahitan hidup yang silih berganti mendera,
adalah kehilangan pembacaan onjektif terhadap gejala sosial yang masih tetap
dipegangnya. Oleh sebab itu, ia mencari pemecahan lain yang bertujuan menjaga
tingkat objektivitas pandangannya sekaligus mempertajam analisa pemahamnnya. Ia
tuliskan hal ini pada 20 April 1970, demikian:
Dengan membaca aku melepaskan diri dari
kenyataan yaitu kepahitan hidup. Tanpa membaca aku tenggelam sedih. Tapi
sebentar lagi akan datang saatnya dimana aku tidak bisa lagi lari dari
kenyataan. Kenyataan yang pahit tidak bisa dihindari teris-menerus berhubung
dualitas diri yaitu jasmani dan roahani. Sebentar lagi kenyataan akan
menangkapku dan aku belum tahu bagaimana saat itu harus kuhadapi.
Saat itu adalah saat yang paling pahit.
Penutup
Agak sulit
mengukur sejau mana posisi Wahib dalam pembaharuan Islam. Namun, paling tidak
kita dapat melihatnya dari respon Umat Islam terhadapnya tidak lama setelah
catatan hariannya dibukukan. Penerbitan buku ini bukan hanya mengundang
polemik, tapi juga ‘shock’ ditengah-tengah Umat Islam. Persis seperti
yang pernah disinyalir olehnya, bahwa terkadang kita harus melakukan kejutan-kejutan
terhadap kejumudan cara pandang Umat. Sampai akhir hayatnya pun ternyata Wahib
masih setia dalam garis perjuangannya.
Dalam hal
pemikiran keagamaan, khususnya keislaman, Wahib sampai saat ini memang masih
menyisakan semangat ‘pemberontakan’ keagamaan, meskipun baru terjadi pada
kantong-kantong komunitas masyarakat scope terbatas. Agaknya pembaharuan
Islam Indonesia dalam taraf tertentu memang agak tehambat. Sebabnya boleh jadi
karena pendekatan kaim pembaharu terkadang tidak simpatik, apalagi kebanyakan
mereka tidak menghujam dalam pada segi pengaruh. Kekhawatiran ini sebenarnya
yang didedahkan Wahib semasa hidupnya.
Pembaharu Islam
sampai saat ini, nampaknya masih tetap
berkutat dalam wacana ketimbang aksi. Sehingga banyak orang yang kontra-pembaharuan
mengatakan bahwa model “rethinking” Islam—menempatkan Islam sebagai
fakta sejarah—dalam pembaharuan Islam saat ini hanya mengganti kemasan tidak
pada isi.
Agaknya yang
belum dilakukan Wahib dalam pembaharuan Islam adalah berusaha melakukannya pada
basis dan dari masyarakat itu sendiri. Tidak bijak juga mempermasalahkan
persoalan Umat dengan tidak melibatkan Umat. Partisipasi masyarakat pada
akhirnya mau tak mau harus dipertimbangkan dalam proses pembaharuan Islam. Wallahu
a’lam bi al-shawab.
Catatan:
1 A.H.
Johns, Sistem Atau Nilai-nilai Islam? Dari Balik Catatan Harian Ahmad Wahib,
Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an, vol II, no.2,Th.1992
2 Daniel
Dhakidae, Soe Hok Gie: Sang Demonstran, dalam pengantar Soe Hok Gie:
Catatan Seorang Deminstran, (Jakarta: LP3ES,1993)
3 Ibid.
Andriansyah, tokoh muda
Bekasi, alumnus PP Annida ul-Islamy, Bekasi. Kini tengah menyelesaikan
studinya di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, pada jurusan Tafsir Hadits
© Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.3, September 2003
International Institute of Islamic Thought
Indonesia