PEMIMPIN ‘MANTAN JUGUN IANFU’ MENINGGAL;
Berakhirkah Perjuangan Mardiyem?

KR, Yogyakarta 24/12/2007 09:41:26 
Saya itu ‘ngubeg-ubeg’ Jepang. Tetapi justru orang-orang negara itu yang banyak membantu saya, termasuk membuka wawasan masyarakat jika ada korban yang perlu didengar suaranya.”
KALIMAT yang diucapkan Bu Mardiyem (78) beberapa waktu silam itu, terdengar letih. Ada nada prihatin yang diungkap sesepuh jugun ianfu beberapa waktu lalu, akan perjuangan yang sudah dilakukan beberapa tahun. Korban kekerasan seksual Balatentara Kekaisaran Jepang di masa penjajahan ini memang tanpa letih terus menyuarakan tuntutannya.

Perjuangannya memang tak mengenal letih. Tuntutannya mengenai pertama  adanya permintaan maaf Pemerintah Jepang secara kenegaraan kepada individu-individu eks jugun ianfu. Kedua, Pemerintah Jepang harus memasukkan sejarah mereka. Sehingga isu jugun ianfu harus masuk dalam sejarah Jepang dan yang ketiga adanya kompensasi. Lebih dari 10 tahun perjuangan itu dilakukan, tuntutan itu belum sepenuhnya bisa dipenuhi Pemerintah Jepang.

Meski tuntutan terus digaungkan, namun perjuangan panjang Ibu Mardiyem memimpin tuntutan itu, harus berakhir. Pemimpin mantan jugun ianfu tersebut Kamis (20/12) sekitar pukul 22.30, menghembuskan nafas terakhirnya. Pejuang hak azasi manusia (HAM) yang tidak pernah mengenal letih itu harus tunduk pada kehendak-Nya, setelah sakit-sakitan beberapa lama.
Dengan kepergian Ibu Mardiyem tersebut, berakhirkah perjuangan panjang perempuan kelahiran 2 Februari 1929?

Jawaban jelas: tidak! ”Meski tidak meninggalkan pesan khusus, tetapi beliau meminta dengan sangat agar perjuangan harus diteruskan,” papar Winarto dari Independent Legal Aid Institution (ILAI) Yogyakarta, Jumat (21/12) pagi di rumah duka Suryotarunan NG 1/481 Jl KS Tubun Yogyakarta.

Winarto yang sering mendampingi Ibu Mardiyem, sepenuhnya paham. Perempuan yang sudah dijadikan budak pemuas seksual Tentara Jepang ketika berusia 13 tahun itu ‘memiliki teman’ sekitar 1.150-an orang. ”Bu Mardiyem meminta agar perjuangan itu diteruskan, semata-mata karena paham bahwa hasilnya bukan hanya untuk dia dan para jugun ianfu lain. Tetapi juga untuk menegakkan harga diri perempuan Indonesia,” katanya. Mardiyem menyadari, persoalan yang dihadapi adalah persoalan harga diri perempuan dan harga diri bangsa.
Keberanian dan sikap lugasnya dalam menyampaikan tuntutan, selalu ditunjukkan. Ia terus terang akan mengungkap rasa sakit hati dan tidak terimanya jika disebut sebagai ‘perempuan nakal’. ”Kami ini korban, tolong dipahami,” katanya dulu.

Usia 13 tahun, ia dibawa Jepang ke belantara Kalimatan dengan di-iming-imingi untuk menjadi penyanyi. Namun Mardiyem kecil yang bahkan belum mendapatkan menstruasi itu sudah harus mengalami kejahatan kemanusiaan akibat kebiadaban tentara Jepang bersama ribuan perempuan lain.
Kasusnya memang baru terungkap tahun 1991 silam. Ketika di Jepang diketemukan dokumen yang menyebutkan adanya sekitar 200 ribu perempuan dari pelbagai bangsa dan negara Asia yang dibawa Tentara Kekaisaran untuk dijadikan pemuas nafsu mereka.

Mardiyem kini telah tiada. Namun perjuangan perempuan yang pernah diberi nama Momoye ini tidak akan berhenti sampai di situ. Perjalanan hidup dan perjuangannya telah difilmkan oleh Tomoko dan biografinya sudah disiapkan oleh Koichi Kimura sejak 2003. Sejarah-lah kelak yang akan menentukan apakah perjuangannya membuahkan hasil.

”Ibu meninggal setelah terbaring sakit selama 3 bulan, sebelum sakit rencananya ibu akan ke Amerika Serikat Desember ini,” tutur Mardiyono (60), putra satu-satunya Mardiyem, kepada KR di rumah duka.
Menurut Mardiyono tidak ada pesan khusus Mardiyem kepada anggota keluarga, hanya semangat untuk memperjuangkan nasib mantan jugun ianfu serta menuntut permintaan maaf Jepang kepada mantan jugun ianfu di Indonesia. Harapan lain dari Mardiyem kepada pemerintah Indonesia adalah melakukan sosialisasi kepada generasi muda serta pelurusan sejarah pada kurikulum pendidikan di Indonesia, tentang  siapa dan mengapa terjadi jugun ianfu. Mardiyem tidak setuju dengan sebutan jugun ianfu yang diidentikkan dengan pelacur seperti yang ada di dalam buku sejarah. (Fadmi/Agung)-f

Sumber : www.minggupagi.com

 

 
Hosted by www.Geocities.ws

1