GUA JEPANG YANG TIDAK SELESAI
EkaHindra
* Peneliti Independen Jugun Ianfu Indonesia
Di Bandung terdapat goa peninggalan Jepang yang dibangun pada saat balatentara Jepang melakukan invansi ke Bandung tahun 1942-1945. Goa Jepang terletak di Perbukitan Pakar, Dago atas. Lokasi ini sangat tepat dipilih Jepang untuk pembangunan benteng pertahanan karena berada di dataran paling tinggi di atas kota Bandung.
Saat itu Jepang baru saja merebut Hindia Belanda (Indonesia) dari tangan Belanda yang menyerah tanpa syarat,
setelah kalah dalam pertempuran hebat selama 8 hari dengan Kaigun Jepang di perairan Laut Jawa 8 Maret 1942.
Goa Jepang berada di dalam rimbunnya hutan rakyat yang diresmikan pertama kali tanggal 23 Agustus 1965 oleh Gubernur Jawa Barat Brigjen (Purn.) Mashudi dengan nama Taman Wisata. Kemudian berganti nama menjadi Taman Hutan Ir.H.Djuanda setelah diresmikan oleh Presiden Soeharto tanggal 14 Januari 1985. Taman hutan ini dibuka untuk umum sebagai lokasi wisata. Lokasi Goa Jepang dapat ditempuh dengan berjalan kaki, letaknya sekitar 300 meter dari pintu gerbang utama.
Bagian atas goa Jepang ditumbuhi rimbunan pepohonan, beberapa pohon berumur ratusan tahun memiliki akar yang telah merayap turun kebawah hingga menembus kerasnya batu cadas diluar dinding goa. Melihat goa Jepang sama saja melihat produk perang yang berlumuran darah manusia. Goa ini tidak mengalami renovasi fisik sama sekali setelah Jepang bertekuk lutut kepada sekutu tahun 1945.
Untuk membangun goa seluas 350 meter persegi, Jepang mempekerjakan secara paksa sekitar 300 penduduk laki-laki Priangan dengan kondisi hidup yang sangat memprihatinkan. Dibalut udara dingin mengigit kulit dengan fasilitas hidup yang minim ratusan laki-laki yang dipaksa bekerja siang malam membangun goa. Para pekerja paksa ini dikenal dengan sebutan Romusa. Menurut pemandu wisata Bapak Sumedi yang telah bertugas sejak tahun 1985, saat itu para Romusa hanya diberi upah sebesar 5 sen dan beras ¼ cangkir setiap harinya.
Pembangunan goa dimulai dengan mengikis permukaan tanah bukit pakar hingga menemui lapisan keras batu cadas. Goa Jepang dibangun ke bawah perut bumi dengan kedalaman sekitar 25 meter, para Romusa membangun siang malam goa pertahanan itu dengan cara memahat lapisan keras batu cadas mulai dari bagian atas sampai ke bawah dengan cara menggali tanah sampai kedalaman sekitar 4 meter menyerupai terowongan. Lebar goa utama sekitar 4 meter, sedangkan goa lainnya sekitar 2 meter. Goa tersebut dibangun melintang dari arah utara 5 lorong utama, ke selatan 3 lorong utama.
Memasuki goa Jepang, sama dengan memasuki periode kebrutalan dimana nyawa manusia sama sekali tidak berharga, kengerian sudah menunggu di gelap gulitanya goa yang tidak dilengkapi dengan penerangan cahaya lampu. Sebenarnya instalasi listrik sudah dipasang ketika peresmian kedua tahun 1985. Namun dinginnya suhu udara di dalam goa sanggup memadamkan cahaya lampu. Berbekal lampu senter sewaan, setiap lorong goa menjadi saksi bisu tewasnya ratusan Romusa dengan mengenaskan dalam proses membangun goa pertahanan ini selama 3 tahun dan juga terbunuhnya ratusan prajurit Jepang yang dibantai sekutu akhir tahun 1945.
Kelembaban udara yang tinggi menjadikan goa ini berhawa dingin mencekam. Cahaya matahari yang tak mampu menembus ke dalam goa menjadikan lantai goa yang berupa tanah malah menyerupai butiran tanah mengeras sebesar kepalan tangan manusia dewasa. Sehingga lantai goa memiliki tekstur bulat-bulat yang menonjol keluar, sekilas dalam pendaran cahaya lampu senter seperti pola karpet coklat bermotif bulat.
Goa yang tidak sempat selesai ini dimaksudkan menjadi benteng pertahanan militer Jepang. Tempat ini cocok dijadikan gudang amunisi dan juga sebagai pos pengintai untuk melihat gerak gerik musuh dan penduduk di bawah kaki Bukit Pakar. Jepang keburu kalah dan pembangunan goa ini terhenti begitu saja. Menelusuri tiap lorong goa bagian selatan membuktikan bahwa goa masih dalam tahap pengerjaan. Oleh karena selain 5 lorong utama menghadap ke bagian timur dan 3 ventilasi udara yang panjangnya lebih dari 10 meter, tidak ada lagi lorong lainnya yang bisa tembus keluar goa. Beberapa lorong yang dimaksudkan sebagai pintu tembus kearah barat, selatan dan utara berujung buntu. Di dalam goa terdapat 3 ruangan untuk tempat tidur prajurit yang berada dalam lokasi lorong yang berbeda. Kondisi goa bagian utara layak untuk ditelusuri dengan aman.
Sedangkan goa di bagian selatan dengan 3 lorong menghadap kearah timur, kondisinya buruk. Jalan setapak menuju goa dipenuhi rapat tanaman hutan, ini menunjukan bahwa lokasi goa bagian selatan jarang dikunjungi orang. Mulut lorong goa pertama nyaris tertutupi berbagai macam tanaman hutan dan bau menyengat musang dari dalam goa. Tidak pernah ada yang orang yang memasuki goa ini oleh karena bagian tengah goa telah mengalami keruntuhan sejak dua puluh tahun silam. Lorong goa kedua baru tergali beberapa meter dari mulut goa dengan tinggi goa yang tidak lebih dari setengah meter. Sedangkan lorong goa ketiga diperkirakan sebagai ruang tahanan (penjara) karena sebelumnya terdapat pintu besi sebagai penutup mulut goa.
Goa Jepang sebagai bukti situs sejarah invasi militer Jepang di Indonesia kurang difasilitasi oleh pengelolanya. Minimnya informasi mengenai sejarah invasi Jepang di Indonesia menjadikan situs sejarah berupa goa ini seakan merupakan memorabilia yang berdiri sendirian, tanpa ada penjelasan sejarah yang utuh dari periode kelam perang Asia Pasifik. Terutama penjelasan yang memadai mengenai keberadaan Romusa. Indonesia punya sejarah yang kelam mengenai Romusa yang dipaksa bekerja siang malam membangun infra struktur militer Jepang sebagai pendukung sarana perang Asia Pasifik di seluruh wilayah Pasifik.
Di lokasi sekitar goa, tidak ditemukan peta denah bagian dalam goa, sehingga menyulitkan pengunjung untuk mengetahui konstruksi goa secara nyata. Pengunjung hanya bisa melihat lorong goa dari cahaya seadanya dari lampu senter dan penjelasan sejarah yang minim dari para pemandu wisata amatiran yang merupakan penduduk lokal. Tidak heran situs perang yang sangat penting ini tidak terlalu diminati publik luas, kecuali oleh anak-anak sekolah yang diwajibkan datang atau para pemerhati sejarah periode Jepang.
Bandung, 3 Maret 2008
|