|
JSJXYZ: Swatch, Miles, Leica and DVDs |
|
Born Again Mosleem (Wawancara Imaginer dengan Malaikat Kecil)
2 Hari sebelum Idul Fitri, Subuh baru kulewati, termenung sunyi, hampa dan tersenyum. Tiba tiba aku melihat seorang anak kecil berambut hitam memakai seperti baju Pakistan di sudut ruang kamar ku. Tersenyum, dan dari tubuhnya mengeluarkan wangi semerbak melati. Giginya putih bagaikan mutiara, dan pancaran matanya seperti bulan purnama.
Kecil: Assalamu'alaikum wahai jiwa yang kosong.
Aku: Mu'alaikum salam wahai anak kecil.
Kecil: Wah mau jadi bayi lagi yah?
Aku: Bagaimana bisa, yang jelas saya akan punya bayi lagi. Insya Allah bulan Maret tahun 2000 ini.
Kecil: Well, kan kamu sudah puasa dan sudah taubat jadinya seperti bayi lagi dong. Born Again Mosleem.
Aku: Wah kok kamu kaya orang Nasarani sih ada Born Again Christian sekarang ikut-ikutan Born Again Mosleem. Kreatif dikit dong.
Kecil: Nah yang kaya gini nih. Maksud saya kan setelah puasa seharusnya kita kembali ke fitrahnya. Kita mengintrospeksi apa yang sudah kita lakukan dan apa yang ingin kita lakukan dengan fitrah yang baru, semangat baru dong! Lagian pula kan kamu pasti sudah sering dengar kalau setelah bulan Ramadhan itu manusia seperti dilahirkan kembali. Tetapi saya tahu kok dari senyum sinis kamu, memang banyak juga yang puasanya cuma lapar dan haus saja tetapi belum ke tahap born again muslim. Nah disini yang kita mesti belajar dari saudara kita yang beragama Kristiani, dimana mereka mengenal gerakan born again. Ini seharusnya lebih mudah untuk dilakukan kaum muslim, karena kita sebelum born again kita melewati periode 30 hari lamanya menyabarkan diri menjauhkan nafsu duniawi dll. Setelah born again, kamu harusnya seperti seorang professional baru dapat MBA ditugaskan di perusahaan yang sudah bagus.
Kaget juga didalam hatiku, anak kecil ini jangan-jangan orang halus yang ingin mencobaku. Bulu kuduku merinding dibuatnya.
Kecil: OK, sekarang konsep born again ini kamu harus terapkan. Ingat tidak kamu pernah baca bukunya Ali Syariati yang berjudul Sejarah Nabi dari Hijrah hingga Wafatnya?
Aku mengangguk dan memikir bagaimana dia tahu tentang buku yang pernah ku baca di tahun 1995 itu.
Kecil: Disitu kan Ali Syariati memperlihatkan Hijrahnya Nabi dan sahabat-sahabatnya bukan hanya hijrah secara badaniah saja tetapi juga rohaniah. Secara mental yang baru mereka datang ke Madinah dan bersemangat menghidupkan kehidupan Islami yang menghormati suku dan agama lain dan membangun kota bersama. Ali Syariati juga mengajak pembaca untuk melakukan hijrah rohani didalam diri kita masing-masing seperti kita ini baru masuk ke kota Madinah dan siap membangun Islam, agama yang lurus di sisi Allah ini.
Aku: Cil (baca Kecil), tapi kan itu dulu, coba lihat sekarang saudara-saudara kita banyak sekali yang ditindas di Ambon, Bosnia dll. Apakah itu tidak cukup. Di Masjid saja minggu lalu Ustadnya marah-marah dan teriak mengenai Jihad fissabilillah. Hayo!
Kecil: Perang itu adalah jalan terakhir yang ditempuh. Tapi ingat tidak? Ada salah satu surat di Al'Baqorah tentang diciptakannya agama bermacam-macam sehingga kamu dapat berlomba-lomba dalam kebaikan. Nah ini kan fair play rulenya dari Allah. Kalau udah ada rule of the gamenya, kita hadapi dunia ini seperti berlomba berbuat kebaikan. Jangan mentang-mentang agama lain memberi makan kaum kita dan kita bilang membujuk pengikut Islam untuk berpindah agama, tetapi sebaliknya kita harus lebih perduli dari kaum lainnya dalam berbuat kebaikan. Masa dijaman Madinah, Islam menjadi panutan dalam berbuat kebaikan kepada kaum Nasrani dan Yahudi, sekarang malahan kamu mengeluh soal itu. Berbuat dong.
Aku dibuatnya malu, kakiku sedikit kesemutan.
Kecil: Katanya kamu MBA tapi kok tolol banget sih. Kan di kelas MGMT 100 (baca management level awal) diajari, if you don't take care your customers, somebodyelse will. Dalam konsepnya fair play nya Allah ini memungkinkan. Dan anda sebagai Khalifah, bukan hanya Hamba, itu artinya anda itu wakilnya Allah diatas muka bumi. Anda punya saham terhadap Surga yang dijanjikanNya. Kalau begitu anda harus dong service customernya Allah dan calon prospektus. Dan servicenya itu sekali lagi dengan kebaikan dan ajaran-ajaran lainnya, seperti amal, sopan, dan lain lain.
Aku: Iyah tapi kan mereka banyak duitnya, ada dari kita yang kaya tapi pelit. Startnya dari mana dong untuk kompetisi dalam berbuat kebaikan dengan mereka.
Kecil: Kamu sih apa apa diukurnya pakai uang. Coba perbuatan baik itu banyak yang gratis modalnya tapi besar pahalanya. Contohnya menjaga kebersihan, mengajarkan ilmu pengetahuan, menuntun orang buta, dan yang paling gampang senyum.
Aku: Yah Ok yang itu bisa, tapi kita nggak usah muna deh modal kan juga perlu untuk mengejar ketertinggalan umat Islam dalam perlombaan itu.
Kecil: Ada satu pepatah jaman doeloe, kalau mau kasih si miskin jangan ikannya tapi pancingnya. Kita harus set up skala prioritas. Dalam hal ini pertama adalah Ukuwah Islamiyah dahulu. Kalau kita bersatu saling menghormati sesama muslim yang percaya dalam Tauhid melebihi dari kita bertoleransi dengan agama lain. Kedua prioritas di bidang Iman dan Taqwa. Ketiga di bidang Iptek, nah ini yang penting perannya. Pakai dong Internet ataupun sumbangkan buku-buku dan komputer. Kalau sumber daya manusianya udah top ditambah asas imtaq, wah keren kan, nah itu baru namanya born again mosleem.
Kupejamkan mataku dan dalam hatiku mengatakan bener juga si kecil ini. Ketika kubuka mataku ternyata dia sudah tidak ada di pojok, tetapi kudengar di kejauhan ada yang mengucapkan Surat Wal' Asr.
Demi Masa, seungguhnya manusia itu dalam kerugian, ��kecuali mereka yang beramal soleh dan saling nasehat menasehati dalam ke benaran dan dalam kesabaran.
Suara itu hilang tetapi wanginya masih ada. Am I a Born Again Mosleem? Wallahualam.
JSJXYZ Feb. 2000
Updated again on 2004
|
|