Puisi-Puisi Terjemahan
Poems translated into Indonesian
oleh/by
Yohanes Manhitu
Pintu
(Judul sumber:
La puerta)

Karya:
Alfredo Garc�a Valdez


Di mana pun kauberada: di dasar laut, di pucuk bintang, di rongga pepohonan, di dasar batu prasasti, pun di bola mata perempuan, pintu terbuka dan tertutup. Hujan kerinduan atau tegangan hasrat sanggup membukanya. Pasir mimpi menumpuk di ambangnya. Dan di atas pintu, nama sejatimu terukir dengan garam. Di baliknya �kan kaujumpai ia yang lain, sosok sejati, yang pergi berkeluyuran selagi kaumenangis, tidur atau bercinta.

Pintu lambangkan perjanjian yang mengikatmu dengan dunia kematian, pun dengan alam kehidupan. Di baliknya tiada selir ataupun perpustakaan: ini bukan ilmu tentang aksara atau daging. Pintulah engsel yang satukan surga dan neraka; pintulah piston yang pompakan lautan teduh, jua berbadai; dan pintulah rongga pengatur alur nafasmu sebagai orang mati, pun sebagai orang hidup.

Oh harapan, kaulah kepolosan bocah yang langkahi ambang pintu dan lanjutkan permainan mengasyikkan. Sang kekasih simak cakapmu penuh sabar dan mencari jejak-jejak kata wasiat, mengelusmu di tidurmu dan temukan kunci di antara tulang-belulangmu. Bila ia sanggup lewati pintu itu, ia bakal menjelma jadi sosok utuh, yang berjalan-jalan selagi kaumenderita, bekerja atau tertawa.

Oh harapan, kaulah kepolosan bocah yang nekat mengusik si macan diam.



Diterjemahkan di Jogja pada tgl 9 Juni 2002
dari La puerta, karya Alfredo Garc�a Valdez
Sumber: Majalah Biblioteca de M�xico,
N�mero Cuarenta/Julio-Agosto de 1997




Kidung Musim Gugur
(Judul sumber:
Chanson d�Automne)

Karya:
Paul VERLAINE


Sedu mengalun
Dawai biola
Musim gugur
Menyayat kalbu
Dengan lara
Menjemukan.

Segala sesak dada,
Pucat wajah, tatkala
Lonceng bendentang,

Kuterkenang
Hari-hari silam
Bercucuran air mata;

Dan kupergi
Terseret badai
Melayang-layang
Kian ke mari,
Bagai sehelai
Daun kering.



Diterjemahkan di Kupang pada tgl 15 Maret 2004



Oh Bumi, Nantikan Daku
(Judul sumber:
Oh tierra, esp�rame)

Karya:
Pablo Neruda


Pulangkan daku, oh mentari,
ke takdir kasapku,
hujan hutan tua,
kembalikan padaku aroma dan pedang-pedang
yang lepas dari angkasa,
kedamaian sunyi padang rumput dan karang,
kelembapan tepi-tepi sungai,
bau pohon cemara,
angin yang riang laksana jantung
yang berdetak di tengah sesak kegelisahan
araucaria yang besar.

Bumi, kembalikan padaku kado-kado sejatimu,
menara-menara kesunyian yang dahulu
menjulang dari ketakziman akar-akar mereka.
kuingin kembali jadi sosok masa silamku
dan belajar untuk berpaling dari bisikan kalbu
bahwa di antara segala sosok alamiah,
aku mungkin hidup atau hadapi maut;
tak mengapa jadi satu batu baru, batu kelam,
batu sejati yang hanyut oleh sungai.

Diterjemahkan di Jogja pada tgl 18 Mei 2004



Potret di atas Karang
(Judul sumber:
El retrato en la roca)

Karya:
Pablo Neruda


Ya, kukenal dia, dan kulewatkan sederet tahun bersamanya,
dengan hakekatnya yang berasal dari emas dan batu,
ia seorang lelaki yang letih �
di Paraguay ia tinggalkan ayah dan bundanya,
anak-anaknya dan semua keponakannya,
ipar-iparnya yang paling akhir,
pintunya dan ayam-ayamnya,
serta beberapa buku yang setengah terbuka.
Ada suara ketukan pintu.
Ketika ia membukanya, ia disambar polisi
dan mereka menderanya tanpa kata ampun
sehingga ia ludahkan darah di Prancis, di Denmark,
di Spanyol, di Italia, dan bergerak ke sana kemari,
kemudian ia mati dan tak lagi kulihat wajahnya,
tak lagi kudengar kesunyiannya yang dalam;
lalu suatu ketika, pada suatu malam berbadai,
dengan salju yang turun menyelubungi
sebuah mantel licin di daerah pegunungan,
di punggung seekor kuda, di sana, di kejauhan,
kulayangkan pandang dan kulihat sahabatku di sana �
parasnya kini terukir di permukaan sebuah batu,
dan raut wajahnya menantang cuaca liar,
dalam rongga hidungnya angin meniupkan
rintihan seorang lelaki yang tanggung siksa.
di sana, pengasingan temukan titik akhir.
kini ia hidup di tanah airnya walau berwujud batu.


Diterjemahkan di Jogja pada tgl 18 Mei 2004



Cinta, api yang menyulut tanpa rupa
(Judul sumber:
Amor � fugo que arde sem se ver)

Karya:
Lu�s Vas de Cam�es


Cinta, api yang menyulut tiada rupa;
Cinta, luka yang timbul tanpa terasa;
Cinta, sakit membingungkan tanpa perih;

Cinta, benci tapi rindu;
Cinta, kesunyian yang berlalu di tengah insan;
Cinta, tak pernah puas akan kesukaan;
Cinta, memelihara harta dari kehilangan;

Cinta, hasrat menuju perangkap niat;
Cinta, melayani yang menang, sang penakluk;
Cinta, memiliki yang jadi belati kesetiaan mematikan.

Tapi bagaimana kebajikan hatinya bisa lahirkan
Tali persahabatan dalam hati setiap insan,
Bila cinta yang sama jadi seteru dirinya?

Diterjemahkan di Jogja pada tgl 18 Mei 2004



OBROLAN
(Judul sumber: Causerie)

Karya: Charles Baudelaire


Kau langit indah musim gugur, cerah dan merah jambu!
Tapi kesedihan dalam diriku bergelora bagai lautan,
dan dengan surut ia biarkan kenangan pahit
endapan getirnya di bibir kesalku.

- Tanganmu menyusup sia-sia di dadaku yang rasakan nikmat;
yang ia cari, sobat, tempat yang diobrak-abrik
oleh cakar dan gigi buas wanita. -
Jangan lagi kau cari hatiku; para monster telah melahapnya.

Hatiku kini mahligai tercemar lautan manusia;
di sana orang saling sanjung, saling bunuh dan cakar rambut
- Wangi-wangian mengitari buah dada polosmu!

O Keindahan, racun jiwa yang ganas! ia kau suka!
Dengan mata baramu, yang bersinar gemerlap,
Hanguskan sobekan-sobekan yang telah simpan nafsu!



Diterjemahkan di Jogja 07 Januari 2005



ANGIN
(Judul sumber: Viento)

Karya: Octavio Paz


Berkidung dedaunan,
menari buah-buah pir di pohon;
berkisar bunga mawar,
mawar angin, bukan pohon mawar.
Gumpalan demi gumpalan awan
melayang bermimpi, jadi ganggang udara;
seluruh jagat raya
beredar bebas iringi mereka.

Segalanya bagai cakrawala;
bergetar galah apiun
dan seorang perempuan telanjang
temani angin di punggung ombak.

Aku bukan siapa-siapa,
aku tubuh mengapung, sinar, juga gelora;
segalanya dari angin
dan anginlah udara pengembara.


Diterjemahkan di Jogja 26 Desember 2004



ULURKAN TANGANMU
(Judul sumber: Dame la mano)

Karya: Gabriela Mistral


Ulurkan tanganmu dan �kan berdansa kita,
ulurkan tanganmu dan ku�kan kau cinta.
Berdua �kan serupa sekuntum bunga
serupa sekuntum bunga, itu saja�

Berdua �kan senandungkan satu syair,
dalam irama yang sama kau �kan berdansa.
Bagai sebutir gandum �kan bergelinding kita,
bagai sebutir gandum, itu saja�

Namamu Mawar dan aku Harapan,
tapi namamu �kan lepas dari ingatanmu,
sebab kita �kan berpadu, satu dansa
di bukit dan itu saja�


Diterjemahkan di Jogja 10 Januari 2004


=============================================================
More Translations
=============================================================


Rembulan Terbenam
(Judul Sumber:
Moonset)

Karya:
Monica Manolachi


Kutengah menanti, kasih,
Di hamparan padang sunyi.
Anganku berembus lembut,
Di antara pepohonanmu.

Kumenanti di kejauhan
Di saat yang keliru.
Langkah �kan susuri jalan
Di sepanjang mimpi-mimpimu.

Kan kuceritakan kisah,
Tentang sepasang langit
Yang bermain dengan bintang-bintang
Ketika awan-awan tengah berdengkur.

Telah kuminta pepohonan
Untuk temukan dedaunan rindu
Yang sanggup pulangkan mereka
Di rumah aram-temaram.

Hanya di saat-saat ini
Andai kau bisa datang,
Maka aku �kan jadi,
Nyanyian air yang deras.

Lalu kau �kan tahu,
Ufuk berawan apiun
Itu satu kecupan langit
Yang dilindungi mentari.

Rumput tumbuh gembira
Dan cahaya pun tercurah
Membilang bintang di malam,
Satu demi satu, dan mereda.

Kutinggal di padang.
Rembulan makin tenggelam.
Sebaiknya sekarang kau pergi,
Karena hatinya tengah menanti.


Diterjemahkan di Jogja, 3 Pebruari 2005



Kau tak �kan pernah tahu
(Judul asli: Nunca lo sabr�s)

Karya:
Mae Stanescu


hari ini kau kubayangkan
di tengah lautan dalam jam tanganku
yang menjauhiku dengan tiap ombaknya
menghapus jejakmu di wajah kulitku
menggiringku bagai perahu rapuh
di negeri-negeri asing bagiku

telah kuberangan di udara yang kau hirup
sementara di sini tubuhku kuoles dengan wewangian
dan bertanya apakah di sana kau hirup bauku
yang sebarkan namamu yang kau lepas hangus

telah kubayangkan segala yang indah dan bukan
sepinya sang waktu
hingga mentari
pejamkan matanya
dan malam penuhiku dengan mimpi

esok kita �kan lebih jauh daripada hari ini
tak ada yang lebih nyata daripada jarak ini
di antara kita �kan tumbuh kota dan musim
dan lautan �kan cari jawara dan babad baru

tapi di akhir segalanya
bila suatu hari nanti mentari pejamkan letih matanya
dan beranjak tinggalkan malam
yang selubungi luka, pasir
kau �kan kubayangkan

dan kau tak �kan pernah
tak �kan pernah kau mengetahuinya


Diterjemahkan di Jogja, 15 Pebruari 2005



You are back to my poetry page.
All rights reserved
Copyright @ 2002, Page Design by Yohanes Manhitu
(Yogyakarta, Saturday, 9 June 2002)
Hosted by www.Geocities.ws

1