|
|
HIV / AIDS: Contoh Nyata Kegagalan Medis |
||
|
MENGAPA PIJAT SANGAT BERMANFAAT? MENGAPA PIJAT TIDAK BERKEMBANG MENJADI ALTERNATIF TERAPI YANG MENJANJIKAN? GUNAKAN KEJUJURAN DAN AKAL SEHAT ANDA! |
Anda mungkin menuduh, saya adalah orang gila yang hanya mencari sensasi. Itu hak anda. Tetapi saya katakan, hanya orang bodoh yang menutup dirinya terhadap hal-hal baru yang bisa memperkaya cara berpikirnya. Yang ingin saya informasikan adalah realitas yang tidak terbantahkan.
Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh kalangan medis untuk menghadapi masalah HIV-AIDS secara nyata telah menunjukkan hasil yang jauh dari memuaskan. Mengapa gagal? Jawabannya adalah bahwa kalangan medis tanpa disadari telah melakukan hal-hal yang justru sangat tidak rasional. Sebagai contoh, efek samping penggunaan obat-obatan yang sangat intensif yang diberikan kepada penderita HIV-AIDS ternyata justru menyebabkan kemunduran kondisi penderita. Kita saksikan sendiri, bagaimana menderitanya mereka setelah menggunakan berbagai jenis obat-obatan itu. Gejala yang paling nampak adalah penderita mengalami mual yang sangat hebat yang akan menyebabkan muntah berkepanjangan, yang akibatnya penderita tidak mungkin mendapat masukan gizi yang memadai. Gejala lain adalah sakit kepala hebat yang berkepanjangan, yang akibatnya tidur yang berkualitas yang merupakan kebutuhan untuk hidup sehat menjadi barang mewah. Kalau urusan gizi dan kualitas tidur ini masih menjadi masalah, bagaimana mungkin kondisi penderitanya menjadi lebih baik, karena kondisi ini harus mereka jalani dalam rentang waktu yang tidak pendek. Kalangan medis terlalu memaksakan diri, bahwa hanya obat-obatan yang mampu membantu penderita.
Pengalaman saya menolong seorang penderita HIV-AIDS dan sekaligus menderita kanker getah bening (limfoma) di Rumah Sakit DHARMAIS Jakarta sekitar bulan Maret 2006 yang lalu menunjukkan bahwa HIV-AIDS bukanlah penyakit yang terlalu menakutkan. Pengalaman ini sungguh berkesan, karena pasien itu adalah pasien saya yang pertama dan sekaligus satu-satunya yang mengalami masalah kesehatan seperti itu (karena sampai saat tulisan ini dibuat, saya belum pernah menangani pasien ke-dua yang mengalami masalah yang sama). Saya mendapat pelajaran yang sangat penting, betapa terapi pijat yang saya berikan memberi dampak yang sangat luar biasa.
Pasien
yang sudah tidak mampu ditolong oleh rumah sakit tersebut akhirnya dibawa
pulang. Dengan kesungguhan hati, dan tanpa mau dibayar karena bagi saya
kesempatan ini sangat berharga untuk memenuhi rasa ingin tahu saya yang
begitu besar, saya merawat pasien yang sudah siap menyongsong ajal
tersebut. Sungguh,
ini pengalaman yang sangat luar biasa. Pasien itu sehat kembali. Dari
keadaan lemah tak berdaya dan lumpuh karena penyakitnya, pasien ini dapat
beraktivitas kembali seperti halnya orang sehat. Sayang, sekitar empat
bulan kemudian karena berbagai masalah-masalah berat yang mendera (tidak
etis kalau saya sebutkan di sini secara rinci), pasien itu kehilangan
gairah hidupnya dan sudah tidak ingin hidup lebih lama lagi. Hal inilah
yang terutama menyebabkan kematiannya. Pada saat terakhirnya, yang dapat
saya lakukan hanyalah menolong pasien tersebut tetap merasa nyaman,
sehingga tidak ada pemberontakan ketika menjalani saat-saat terakhirnya.
Yang ada hanyalah kepasrahan total, dan sungguh kematian yang sangat indah
yang pernah saya saksikan. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga,
karena saya yang sama sekali belum pernah menangani pasien HIV-AIDS dan
sekaligus menderita kanker getah bening (limfoma), memberi manfaat yang
jauh lebih besar dari apa yang dapat diberikan oleh kalangan medis.
Mengapa
saya yang sama sekali tidak berpengalaman sangat berani merawat pasien
HIV-AIDS yang sampai sekarang masih merupakan hal yang sangat menakutkan
bagi sebagian besar orang? Itu
karena saya berpegang pada satu pola pikir yang sangat berbeda dengan apa
yang dipegang oleh kalangan medis. Kalau kalangan medis berpikir bahwa
virus HIV itu seperti teroris yang harus dibasmi habis, yang sangat saya
yakini adalah tubuh manusia itu mempunyai kemampuan untuk menghadapi virus
HIV. Bagaimana mungkin kita melihat virus seperti teroris yang harus
dibasmi, bukankah virus itu sudah merupakan bagian dari alam semesta?
Kalau manusia tercipta untuk menghuni alam semesta bersama dengan virus
yang juga merupakan bagian dari alam semesta, tubuh manusia itu sudah
pasti dirancang untuk memiliki kemampuan untuk bertoleransi dengan virus.
Seandainya virus mampu memusnahkan kehidupan manusia, sudah sejak ribuan
tahun yang lalu manusia itu cuma tinggal sejarah. Bukankah virus itu sudah
mendiami bumi jauh sebelum manusia ada?
Itulah yang sangat saya yakini kebenarannya. Itu pula yang bisa menjelaskan mengapa kalangan medis tidak berdaya menghadapi masalah seperti flu burung (avian influenza) ataupun seperti penyakit gangguan kronis hati (hepatitis dengan berbagai type). Mereka terlalu memaksakan diri, dan konsep terapi yang diberikan tanpa disadari justru sangat tidak masuk akal. Misalnya, kondisi pada ruang isolasi di mana pasien diperlakukan seperti makhluk asing yang sangat menakutkan, sehingga paramedis harus menggunakan pakaian mirip astronot ketika bertemu pasien. Apakah mereka tidak berpikir, kondisi ini sangat memukul mental penderita yang berakibat buruk pada upaya penyembuhan?
Bagaimanapun
caranya, virus tidak mungkin diperangi. Riset yang dilakukan tidak akan
mampu menghasilkan obat yang benar-benar manjur, karena sebagai makhluk
hidup, virus mempunyai kemampuan untuk bermutasi yang berfungsi untuk
mempertahankan keberadaannya. Riset manusia tidak akan mampu mengejar
kemampuan bermutasi yang dimiliki virus. Yang paling mungkin dilakukan
hanyalah membuat tubuh kita mampu bertoleransi terhadap keberadaan virus,
dan kemampuan ini sebenar-benarnya sudah ada dalam tiap tubuh manusia.
Jika
kalangan medis tidak mengubah pola pikirnya dan tidak rendah hati untuk
berbenah, dunia tetap tidak akan bisa lepas dari masalah-masalah besar di
bidang kesehatan. Karena bagaimana pun, suka atau tidak, kalangan medis
tetaplah menjadi pilihan paling utama untuk urusan masalah kesehatan
bagi sebagian besar orang. Cerita sedih yang ditinggalkan manusia dalam
upaya mempertahankan hidup dan kualitas hidupnya akan terus terulang lagi,....lagi,....lagi,.....lagi,......dan
lagi………
JOHANES
LUNGa
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k
l
m
n
o
p
q
r
s
t
u
v |