ENAM PRINSIP AHLUS SUNNAH
WAL JAMA'AH
Oleh: Al-Ustadz Agus Su'aidi As-Salafy
==============================================
Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah setiap orang dari manapun asalnya yang mengikuti ajaran Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya baik dalam hal keyakinan, amalan maupun ucapan.
Ada enam prinsip utama yang membedakan antara Ahlus Sunnah al Jama'ah dan lainnya. Apa sajakan enam prinsip utama itu? Di bawah ini akan dijlaskan satu persatu tentang enam prinsip tersebut.
Pinsip Pertama: IKHLAS DALAM BERIBADAH
Ikhlas menurut bahasa artinya, membersihkan atau memurnikan sesuatu dari
kotoran. Sedangkan menurut istilah syar'i, ikhlas adalah membersihkan dan
memurnikan ibadah dari segala jenis kotoran syirik.
Setelah diketahui pengertian ikhlas menurut pengertian syar'i, dapat diambil
kesimpulan bahwa orang dikatakan ikhlas dalam beribadah apabila ia bertauhid dan
meninggalkan segal jenis syirik.
Perlu diketahui, bahwa seseorang itu dikatakan bertauhid apabila meyakini dengan
mantap tiga jenis tauhid dan meninggalkan dua jenis syirik. Lalu apa saja tiga
jenis tauhid yang harus diyakini?
Yang Pertama: Tauhid Rububiyyah, maksudnya kita harus yakin bahwa yag mencipta,
yang memberi rejeki dan yang mengatur alam semesta hanya Allah Ta'ala tidak ada
sekutu bagi-Nya.
Yang Kedua: Tauhid Uluhiyyah, maksudnya kita harus yakin bahwa yang berhak
disembah dan diminta hanya Allah Ta'ala tidak ada sekutu bagi-Nya.
Yang Ketiga: Tauhid Asma' wa Shifat, maksudnya kita harus yakin bahwa Allah
Ta'ala memiliki Nama dan Sifat yang Mulia dan tidak sama dengan makhluk-Nya.
Kita harus meyakini seluruh Nama dan Sifat Allah yang ada di dalam Al-Quran dan
As-Sunnah apa adanya.
Setelah meyakini ketiga jenis tauhid ini, maka wajib meninggalkan dua jenis
syirik yang menjadi musuh bagi orang-orang yang bertauhid.
Yang Pertama disebut Syirik Akbar, yaitu syirik yang menyebabkan pelakunya bisa
dikeluarkan dari Islam. Syirik jenis ini amat banyak jumlshah dan macamnya, di
antaranya adalah: meyakini ada yang mencipta dan yang mengatur alam ini selain
Allah Ta'ala, meminta rejeki atau jodoh kepada orang yang telah mati atau kepada
jin, menolak sebagian atau seluruh Nama dan Sifat Allah Ta'ala dan lainnya.
Yang Kedua disebut Syirik Asyghar, yaitu syirik kecil yang tidak menyebabkan
pelakunya dikeluarkan dari Islam. Namun dosanya lebih besar daripada dosa zina,
dosa mencuri atau kemaksiatan lainnya. Di antara amalan yang termasuk jenis
syirik ini adalah riya' (ingin dilihat oleh orang ketika beribadah), sum'ah
(ingin didengar ibadahnya oleh orang lain), bersumpah dengan nama slain Allah,
memakai jimat dengan keyakinan bahwa kekuatannya bersumber dari Allah. Untuk
yang satu ini bila diyakini bahwa sumber kekuatan itu dari jimatnya, maka sudah
termasuk Syirik Akbar. Dan masih banyak lagi macamnya.
Siapa saja yang telah meyakini tiga jenis tauhid dan meninggalkan dua jenis
syirik ini, maka dia telah ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta'ala. Inilah
prinsip utama Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang terus diperjuangkan. Anda bisa
melihat, mereka terus berdakwah menegakkn tauhid dan memberantas segala penyakit
syirik walaupun banyk kalangan yang menentangnya, mereka memiliki dasar Al-Quran
Surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya: "Dan tidaklah mereka diperintah
kecuali untuk beribadh kepada Allah dengan cara ikhlas dalam melaksanakan
agama-Nya dan Hanif (meninggalkan segala jenis syirik) ..."
PRINSIP KEDUA: Bersatu Di Atas Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan Pemahaman Salaful Ummah
Banyak aktivis Islam yang saat ini menyerukan
persatuan ummat. Ada yang menggunakan partai sebagai alat pemersatu, ada juga
yang menggunakan suku bangsa bahkan ada juga yang menyatukan ummat dengan slogan
"yang penting muslim." Walaupun keyakinan dan prinsip hidupnya
berbeda-beda, akibatnya terjadi banyak perpecahan di kalangan mereka karena
masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda. Kalaupun secara dhohir mereka
bersatu, bisa dipastikan mereka akan mengorbankan prinsip Al-Qur'an dan
As-Sunnah semata-mata dalam rangka menjaga persatuan antara mereka.
Ahlus Sunnah wal Jama'ah memiliki prinsip persatuan yang mantap dan akan terus
diperjuangkan. Apa itu? Yaitu bersatu di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan
pemahaman salaful ummah. Mengapa harus bersatu di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah?
Karena ini memang perintah dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa
sallam. Lihat Firman Allah Ta'ala dalam surat Ali Imron [3] ayat 103 yang
artinya:
"Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah seluruhnya dan jangan kalian
berpecah belah ... "
Ibnu Mas'ud radliyallahu 'anhu berkata: "Tali Allah" artinya
Kitabullah (Al-Qur'an). (Lihat Tafsir Ibnu Jarir dan lainnya).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Aku tinggalkan
sesuatu untuk kalian. Bila kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak
akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku." (HR. Imam Malik,
Al-Hakim, dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah nomor: 186).
Bila ada yang berkomentar, "banyak kelompok yang mengklaim dirinya di atas
Al-Qur'an dan As-Sunnah, namun kenapa terjadi perbedaan prinsip dan cara pandang
yang menyebabkan mereka terpecah belah?"
Untuk menjawab pertanyaan ini cukup mudah, "karena mereka memahami
Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan kemampuan akal yang disesuaikan dengan keinginan
dan kepentingan kelompoknya." Lalu bagaimana seharusnya? Dalam memahami
Al-Qur'an dan As-Sunnah wajib merujuk kepada pemahaman dan penjelasan dari
Salaful Ummah. Siapa sebenarnya Salaful Ummah itu? Mereka adalah para shahabat
Nabi radliyallahu 'anhum yang betul-betul paham maksud Al-Qur'an dan As-Sunnah
karena merekalah yang langsung mendengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam. Mengapa harus sesuai dengan pemahaman mereka, bukankah mereka juga
manusia seperti kita? Karena mereka dan orang-orang yang mengikuti pemahaman
mereka diridloi oleh Allah Ta'ala. Di dalam Al-Qur'an surat At-Taubah [9] ayat
100 disebutkan yang artinya:
"Generasi pertama dari kalangan shahabat muhajirin dan Anshor serta
orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik, Allah ridlo kepada
mereka dan mereka pun ridlo kepada-Nya."
Di samping itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga memerintah kita
untuk mengikuti pemahaman para shahabat sebagaimana dalam sebuah hadits yang
artinya:
"Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup sepeninggalku nanti, ia akan
melihat perbedaan prinsip yang banyak sekali, untuk itu wajib bagi kalian
mengikuti subbahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk,
peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham dan jauhilah perkara baru
dalam agama, karena setiap perkara baru dalam agama itu bid'ah dan setiap bid'ah
itu sesat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishohihkan oleh Al-Albani dalam
Shohih Sunan Abu Dawud nomor: 4607).
Inilah prinsip persatuan ummat yang harus dijadikan sebagai pegangan.
Barangsiapa yang menggunakan cara lain untuk menyatukan ummat maka ia akan
menuai kegagalan atau mungkin berhasil tetapi bersatu di atas kebatilan.
PRINSIP KETIGA : Menta'ati Penguasa Muslim yang Sah
dalam Hal yang Ma'ruf dan Tidak Memberontak
Menggulingkan kekuasaan pemerintah pada saat
ini seolah-olah menjadi tujuan kebanyakan orang. Mereka ingin tokoh idolanya
menjadi pengegang tampuk kekuasaan, lebih-lebih bila sang penguasa memiliki
banyak kelemahan walaupun masih sah dan beragama Islam, mereka berusaha
mati-matian untuk menggulingkan dengan mengatasnamakan rakyat dan keadilan. Ada
juga yang memanfaatkan keadaan untuk merebut pangkat dan jabatan dengan cara
membela sang penguasa habis-habisan bahkan membenarkan seluruh ucapan dan
keputusan walaupun menyimpang jauh dari syari'at Islam. Lalu bagaimana prinsip
Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah dalam menyikapi sang
penguasa?
Dalam Al-Qur'an surat An-Nisa [4] ayat 59 disebutkan: "Wahai orang-orang
yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul dan Ulil Amri (pemimpin/penguasa
muslim) ... "
As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya halaman 183-184 menjelaskan maksud ayat
ini sebagai berikut:
"Allah memerintahkan untuk taat kepada Ulil Amri, mereka adalah pemimpin
negara, hakim atau muftih (ahli fatwa). Karena urusan agama dan dunia tidak akan
berjalan dengan baik melainkan dengan cara taat dan tunduk kepada lil Amri
sebagai wujud taat kepada perintah Allah dan dalam rangka mengharap pahala
dari-Nya. Akan tetapi dengan syarat penguasa tidak memerintah kita untuk berbuat
maksiat. Bila diperintah untuk maksiat maka tidak ada ketaatan sedikitpun kepada
makhluk untuk bermaksiat kepada Kholiq (Allah). Barangkali inilah rahasia tidak
disebutkannya Fi'il Amr (kata perintah) ketika ALlah memerintahkan untuk taat
kepada Ulil Amri dan sebaliknya disebutkan Fi'il Amr (kata perintah) ketika
memerintahkan untuk taat kepada Rasul-Nya. Karena beliau hanya memerintah untuk
mentaati Allah, sehingga barangsiapa yang mentaati beliau sama saja dengan
mentaati Allah Ta'ala. Adapun Ulil Amri baru ditaati bila tidak memerintah untuk
bermaksiat."
Dalam hadits shohih disebutkan, dari Ubadah bin Shomit radliyallahu 'anhu, ia
bercerita:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengambil janji setia
kepada kami, agar kami mendengar dan taat (kepada penguasa) baik dalam keadaan
bersemangat atau lesu, dalam keadaan sulit atau mapan meskipun kami didlolimi,
dan agar kami tidak menggulingkan kekuasaan lalu beliau bersabda: "Kecuali
kalian melihat ada kekufuran yang nyata (pada penguasa) dan kalian memiliki
dalil dari Allah (dalil syar'i) dalam masalah tersebut." (HR. Muslim /
1709, Nasa'i dan lainnya).
Dari keterangan Al-Qur'an dan As-Sunnah inilah, Ahlus Sunnah wal Jama'ah
berprinsip bahwa: Wajib bagi kita mentaati penguasa muslim yang sah dalam hal
yang ma'ruf (bukan maksiat) dan haram menggulingkan kekuasaannya dengan alasan
apapun kecuali memenuhi dua syarat yang telah dijelaskan oleh Asy-Syaikh - bin -
Baz setelah membawakan hadits di atas. Apa dua syarat tersebut?
Yang Pertama : Adanya kekufuran yang nyata pada diri sang penguasa dan kita
menemukan dalil syar'i dalam masalah kekufuran tersebut.
Yang Kedua : Adanya kemampuan untuk menyingkirkan penguasa tersebut dengan cara
yang tidak menimbulkan madlorot yang lebih besar.
Tanpa kedua syarat ini, maka tidak boleh !
(Al-Ma'lum min Wajibil 'Alaqoh Bainal Hakim wal Mahkum, hal 19)
Wahai kaum muslimin, kembalilah kepada petunjuk Allah dan Rosul-Nya, jangan
sekali-kali menentangnya hanya karena semangat yang masih perlu dipertanyakan
yaitu semangat "ATAS NAMA RAKYAT DAN KEADILAN". Wallahul musta'an.
PRINSIP KEEMPAT : Menggapai Kemulyaan dengan Ilmu Syar'i
Kita semua sepakat bahwa tujuan hidup manusia
di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Ta'ala sebagaimana yang telah
ditegaskan di dalam Al-Qur'an surat Adz-Dzariyat [51] ayat 56. Oleh sebab itu,
merupakan keharusan bagi kita untuk mengerti, apa yang dimaksud dengan ibadah
itu? Apakah ibadah hanya sebatas sholat, puasa, haji atau lainnya? Ibnu
Taimiyyah dala kitabnya Al-'Ubudiyyah halaman 38 menjelaskan bahwa ibadah itu
mencakup segala perkara yang dicintai dan diridloi Allah Ta'ala baik berupa
ucapan maupun perbuatan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.
Setelah kita mengerti makna ibadah, kita wajib mengerti macam-macam ibadah
secara terperinci agar kita bisa menunaikan tugas dengan baik dan benar. Dari
sini timbul pertanyaan, dari mana kita bisa mengetahui secara rinci macam-macam
ibadah yang dicintai dan diridloi Allah Ta'ala? Mampukah akal kita
menyimpulkansendiri perincian tugas ibadah itu?
Untuk mengetahui secara rinci ibadah yang dicintai dan diridloi Allah Ta'ala
tidak bisa disimpulkan dengan akal kita, tetapi harus ada petunjuk langsung dari
Allah Ta'ala yang menugaskankita untuk beribadah kepada-Nya. Petunjuk itu
bernama Al-Qur'andan As-SUnnah yang telah dijelaskan secara rinci oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para shahabatnya radliyallahu
'anhum. Singkat kata, wajib bagi kita mempelajari Al-Qur'andan As-Sunnah agar
kita bisa menunaikan tugas ibadah dengan baik dan benar. Perlu diketahui, bahwa
Al-Qur'an dan As-Sunnah itulah yang disebut "ILMU SYAR'I" sebagaimana
dijelaskan oleh Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma dan lainnya. Lihat "Al-Ilmu
Asy-Syar'i" halaman 8-10 karya Abdurrahman Abul Hasan Al-'Aizuri.
Oleh sebab itu, siapa saja yang mempelajari ilmu syar'i dan mengamalkannya
berarti ia telah menjalankan tugas ibadah dengan baik dan benar. Barangsiapa
telah menunaikan tugas dengan baik, ia layak mendapat kemulyaan dan kehormatan
dari Allah Ta'ala. Di dalam Al-Qur'an surat Mujadalah [58] ayat 11 disebutkan:
"Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di
antara kalian."
As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya halaman 846 berkata: "di dalam ayat
ini terdapat keutamaan ilmu syar'i, dan buah dari ilmu itu adalah beradab dan
beramal atas dasar ilmu tersebut."
Dalam hadits shohih juga ditegaskan:
"Barangsiapa yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan, maka Allah jadikan
paham agama ini."
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullah dalam Fathul Bari juz 1 halaman
222 menjelaskan: "Dari hadits ini dapat dipahami, bahwa orang-orang yang
tidak paham agama dan dasar-dasarnya, ia tidak akan mendapat kebaikan
sedikitpun."
Ahlus Sunnah wal Jama'ah memahami hal ini, untuk itu mereka gigih dan
bersemangat untuk mempelajari ilmu syar'i dan mengamalkannya dengan baik dan
benar. Mereka punya prinsip yang mantap dan mengagumkan, yakni "BERILMU
SEBELUM BERKATA DAN BERAMAL" untuk menggapai kemulyaan.
PRINSIP KELIMA: Wali Allah adalah Orang yang Beriman dan Bertaqwa
Bila kita mengamati sejenak keadaan ummat,
kita akan mengetahui satu masalah yang sangat "ngetren". Apa itu?
Yakni adegan-adegan luar biasa yang membuat sebagian orang merasa kagum. Ada
yang tidak mempan ditusuk senjata tajam, ada yang bisa makan "beling"
seperti makan kerupuk, ada yang tidak "penyet" digilas mobil, ada yang
kepalanya dipenggal lalu bisa langsung sambung dan yang sejenisnya.
Anehnya, para penonton yan gkebanyakan ummat Islam, secara langsung memberi
gelar kehormatan "WALI ALLAH" kepada para pendekar kebanggaan mereka
itu. Benarkah orang-orang sakti seperti itu disebut Wali Allah? Apa sebenarnya
pengertian dan ciri-ciri Wali Allah menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah?
Allah Ta'ala telah menyatakan di dalam Al-Qur'an surat Yunus [10] ayat 62 yang
artinya: "Ingatlah, sesungguhnya Wali Allah itu tidak akan takut dan tidak
bersedih hati, mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa."
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya (2/442) menjelaskan:
"Allah Ta'ala menyatakan bahwa para wali-Nya adalah orang-orang yang
beriman dan bertaqwa, siapa saja yang benar-benar bertaqwa maka ia layak disebut
Wali Allah Ta'ala."
Di dalam Al-Qur'an banyak disebutkan ciri-ciri Wali ALlah, di antaranya adalah:
Pertama: Beriman dan bertaqwa (QS. Yunus [10]: 62), Kedua: Mengikuti Sunnah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (QS. Ali Imron [3]: 31), Ketiga:
Mencintai dan dicintai Allah Ta'ala, karena merekasayang kepada kaum muslimin
dan tegas di hadapan orang-orang kafir, mereka berjihad fii sabilillah dan tidak
takut celaan apapun. (QS. Al-Maidah [5]: 54).
Di dalam As-SUnnah As-Shohihah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dalam
Kitab Ar-Riqoq bab At-Tawadlu' (7/190) dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu
disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan ciri-ciri
Wali Allah, yaitu mereka rajin mengamalkan amalan sunnah setelah menunaikan
amalan wajib.
Lalu, apakah hal-hal yang luar biasa yang terjadi pada diri seseorang itu
termasuk ciri utama Wali Allah? Perlu diketahui bahwa hal-hal yang luar biasa
yang terjadi pada diri seseorang itu ada beberapa jenis: Yang pertama disebut
Mu'jizat, ini terjadi pada diri para Nabi dan Rasul. Yang kedua disebut Irhash,
ini terjadi pada diri calon Nabi dan Rasul. Yang ketiga disebut Karomah, ini
terjadi pada diri Wali Allah selain para Nabi dan Rasul. Yang keempat disebut
Istidroj atau Sihir, ini terjadi pada diri pala wali syaithon.
Dari sini dapat diketahui bahwa Wali Allah itu kadang-kadang diberi hal-hal yang
luar biasa dan ini disebut karamah. Namun perlu diingat bahwa karamah ini bukan
ciri utama Wali Allah dan tidak bisa dipelajari. Adapun adegan-adegan luar biasa
yang saat ini semarak di masyarakat lebih condong kepada istdroj atau sihir
dengan beberapa alasan: Yang pertama, pelakunya tidak memiliki ciri-ciri Wali
Allah Ta'ala. Yang kedua, hal-hal luar biasa yang mereka tampilkan bisa
dipelajari, terbukti mereka punya perguruan-perguruan yang mengajarkan seperti
itu.
Singkat kata, Ahlus Sunnah wal Jama'ah berkeyakinan bahwa Wali Allah itu adalah
orang-orang yang beriman dan bertaqwa, baik mendapat karamah maupun tidak,
PRINSIP KEENAM : Mensukseskan Gerakan Tashfiyah dan Tarbiyyah
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu'allimi
dalam kitabnya "Fadhlullah As-Shomad" (1/17) menyatakan, ada tiga
penyebab perpecahan dan kelemahan kaum muslimin saat ini, Yang pertama: tidak
bisa membedakan antara ajaran Islam yang murni dan ajaran yang disuspkan ke
dalam Islam, Yang Kedua: kurang yakin dengan kebenaran Islam, dan Yang ketiga:
tidak mengamalkan Islam secara utuh.
Benarlah apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam kepada para shahabatnya. Dari Abu Najih Al-'Irbadl bin Sariyah, ia
bercerita: Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberi nasehat
kepada kita, nasehat yang membuat hati bergetar dan air mata bercucuran. Kita
berkata: Wahai Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- seperti nasehat ini
adalah nasehat perpisahan (nasehat terakhir), untuk itu berilah kami wasiat!
maka beliaupun bersabda:
"Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla
dan tetap mendengar dan taat (dalm hal yang baik -pent.) walaupun kalian
diperintah oleh pengasa dari budak Habsy. Sesungguhnya, siapa saja di antara
kalian yang masih hidup sepeninggalku nanti, pasti melihat banyak perselisihan,
maka wajib atas kalian untuk tetap berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah
khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk, peganglah sunnah itu dan gigitlah
dengan gigi geraham (jangan sampai lepas) dan jauhilah perkara-perkara yang baru
yang disusupkan ke dalam agama karena sesungguhnya setiap perkara baru yang
disusupkan ke dalam agama itu bid'ah, dan setiap bid'ah itu sesat." (HR.
Abu Dawud, Tirmidzi dan dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shohihul Jami' nomor:
2546).
Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'aalihi wa sallam dengan jelas
menyatakan bahwa penyebab perpecahan ummat dan kelemahannya adalah tidak bisa
membedakan antara sunnah beliau dan bid'ah yang disusupkan ke dalam ajaran
agama. Di samping itu beliau juga memberikan solusinya dengan cara berpegang
teguh dan mengamalkan sunnah beliau (ajaran Islam yang murni).
Berangkat dari sinilah, Ahlus Sunnah wal Jama'ah berusaha sekuat tenaga untuk
mensukseskan gerakan Tashfiyah dan Tarbiyah. Lalu apa yang dimaksud dengan
Tashfiyah dan Tarbiyah itu?
Tashfiyah adalah gerakan pemurnian ajaran Islam dengan cara menyingkirkan segala
keyakinan, ucapan maupun amalan yang bukan berasal dari Islam. Sedangkan
Tarbiyah adalah usaha mendidik generasi muslim dengan ajaran Islam yang murni,
yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman para shahabat
radliayallahu 'anhum.
Dalam rangka mensukseskan gerakan ini, Ahlus Sunnah wal Jama'ah terus menerus
memperingatkan ummat dari segala bentuk penyimpangan baik berupa kekufuran ,
kesyirikan , kebid'ahan maupun kemaksiatan, di samping itu juga meluruskan
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi baik yang ada di kitab-kiatb yang
tersebar di tangan ummat maupun pernyataan-pernyataan sesat dari orang-orang
yang tidak punya rasa takut kepada Allah Ta'ala, dan yang termasuk program ini
adalah memisahkan antara hadits shohih dan hadits dlo'if. Ini semua dinilai
sebagai amar ma'ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban kita semua.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Menyuruh ummat untuk mengikuti sunnah dan
melarang mereka dari kebid'ahan termasuk Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan termasuk
amal sholeh yang paling utama." (Minhajus Sunnah: 5/253).
Semoga dengan gerakan Tashfiyah dan Tarbiyah ini, kaum muslimin sadar dan mau
kembali ke agama Islam yang murni sehingga pertolongan Allah akan datang.
Wallahul musta'an.
Maroji':
1. Syarh Al-Ushul As-Sittah, Asy-Syaikh Utsaimin
2. Tanbil Dzamil Uqul As-Salimah, Asy-Syaikh 'Ubaid Al-Jabiri
3. Sittu Durar min Ushuli Ahlil Atsar, Asy-Syaikh Abdul Malik Ramdloni
4. At-Tashfiyyah wat Tarbiyyah, Asy Syaikh Ali Hasan
5. Tafsir Al-Karimir Rahman, Asy-Syaikh As-Sa'di
6. Qowaid wa Fawaid, Asy Syaikh Nadlim Muhammad Sulthon
7. Karamatu Auliya'illah, Al-Imam Al-Lalikai
8. Al-Furqon Baina Auliya'ir Rahman wa Auliya'is Syaithon, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah
Dikutip dari
Buletin Jum'at Al-Jihad Edisi Jum'at