----- Original Message -----

From: Jusuf Achmad

To: [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected]

Sent: Friday, December 31, 2004 11:52 AM

Subject: Fw: "Mencapai Keselamatan"

 

 

----- Original Message -----

From: Jusuf Achmad

To: My Diary

Sent: Friday, December 31, 2004 11:30 AM

Subject: "Mencapai Keselamatan"

 

Greetings with Love (rahman) and Light (rahim) from the One Infinite Creator.

 

"Be careful what you wish for, the worst might happen", demikian kata anak saya yang paling kecil yang baru berumur delapan tahun belakangan ini.  Terjemahanan bebasnya: "Hati-hati dengan apa-apa yang kita inginkan (harapkan, doakan), yang terburuk bisa terjadi".  Banyak manusia secara sadar tidak sadar melemparkan energi negatif, namun tanpa menyadari pepatah: "barang siapa yang menabur angin akan menuai badai".  Energi negatif yang kita lontarkan akan berbalik kepada kita juga.  Jadi seyogyanyalah kita senantiasa menyebarkan energi positif.  Tapi kita tidak mungkin memaksa pihak lain untuk selalu berpikiran positif, jadi bagaimana kita bisa lepas dari imbas energi negatif ini?

 

Katakanlah kita hidup disuatu desa dan katakan pada suatu hari datang suatu "ajaran baru" lalu sebagian menerima dan sebagian lagi menolak.  Setelah berjalan bertahun-tahun terjadilah polarisasi, terjadilah penajaman perbedaan pendapat antara yang menerima dan yang tidak menerima "ajaran baru" tersebut.  Katakanlah pihak yang menolak karena mereka mayoritas dan/atau merasa lebih kuat lalu mengadakan agresi fisik yang merusak pihak lainnya.  Pihak yang diserang karena lebih lemah (lebih sedikit jumlahnya atau kurang nekad) tidak memberikan perlawanan yang berarti.  Namun mereka yang dizolimi sebagian secara terang-terangan ataupun tersembunyi memohon balasan yang dahsyat dari Nya agar ditimpakan kepada "mereka yang tidak mau beriman ini".  Waktu berjalan katakanlah tiba-tiba gunung didekat desa tersebut meletus atau air laut didekat desa tersebut meluap dan membunuh "pihak-pihak yang tidak beriman", tidak pandang bulu yang tua maupun muda bahkan yang masih bayi dan belum tahu apa-apa sekalipun.  Yang terjadi adalah "neraka" termasuk bagi yang masih hidup,  karena yang mati adalah saudara-saudara mereka juga dan yang hidup pula harus bersusah payah menguburkan semua ditambah harus menanggung kesusahan hidup karena rusaknya sarana dan prasarana di desa tersebut.  Matinya orang-orang yang "tidak beriman ini" tidak otomatis membuat kita mendapat kedamaian atau mencapai "sorga", malah sebaliknya.

 

Kalau kita perluas lingkup "Desa" ini bisa kita kembangkan menjadi "Kota Metropolitan", "Pulau", "Negara", "Benua" dan terakhir "Bumi" sendiri.  Bencana bisa berasal dari alam maupun diciptakan langsung atau tidak langsung oleh ulah manusia sendiri.  Kejadian ditahun 1998 yang berpusat di ibukota Jakarta bisa pula kita ambil pelajarannya.  Terlepas direkayasa atau tidak kejadian ini, kebencian sebagian masyarakat Indonesia terhadap etnis tertentu yang secara umum jauh lebih baik secara ekonomi sudah menjadi rahasia / pengetahuan umum.  Pelajaran pahit ini mudah-mudahan bisa dimengerti oleh semua strata masyarakat.  Katakanlah seorang juru parkir yang dengan semangatnya meneriaki ditegakan keadilan lalu merusak dan membakar pertokoan / kantor disekitar tempat ia mencari nafkah.  Lalu dengan gembiranya bisa menjarah sebagian barang-barang orang lain.  Tapi apa yang terjadi pada keesokan harinya dan di hari-hari berikutnya?  Ia kehilangan nafkah pencahariannya, hampir tidak ada lagi mobil/motor yang parkir ditempatnya.  Kesal terhadap pihak-pihak yang dianggap memerosokan ekonomi Indonesia dengan membuat mereka susah lalu menjadi susah sendiri.  "Menghancurkan" pihak-pihak lain yang kita anggap menyusahkan tidak serta merta mengantarkan kita ke "keadaan tanpa kesusahan" atau ke "sorga", malah sebaliknya.

 

Ketidak sadaran ini bukan hanya monopoli pihak-pihak yang kurang terpelajar.  Contohnya belakangan ini: Cina dianggap ekonominya berkembang terlalu pesat (overheating) oleh pihak barat, terutama A.S., lalu ingin mengerem laju pertumbuhan ini karena dianggap menyusahkan/mengancam perekonomian mereka.  Baru saja ada usaha-usaha dari Beijing untuk mengerem perekonomian mereka (karena ada tekanan), pengusaha-pengusaha A.S. sendiri malah berteriak-teriak karena penurunan ekonomi Cina berdampak kepada ekonomi Asia dan akhirnya akan kembali berdampak negatif terhadap banyak perusahaan-perusahaan A.S. sendiri.  Seperti juga perang di Irak banyak membawa kesedihan / kesusahan di pihak A.S. sendiri.  "Nafsu" untuk menghilangkan "ketidak beresan" dipihak lain rupa-rupanya menimbulkan "ketidak beresan" dipihak sendiri.

 

Kesadaran spiritual bahwa kita ini sesungguhnya satu adanya (Kesadaran Tauhid) memang tidak dimiliki mayoritas manusia bumi saat ini.  Tidak ada cacat dengan keterbatasan ini, karena segala sesuatu ada proses pembelajarannya.  Kita tidak mungkin bisa memaksa pihak lain untuk selalu berpikiran positif, namun mereka adalah mayoritas penduduk bumi di akhir zaman ini.  Sesungguhnya "Armagedon" di bumi ini adalah lontaran energi negatif mayoritas penduduk bumi sendiri dan diperkeruh oleh pihak-pihak yang senang "bermain" dengan energi negatif baik secara terang-terangan ataupun tersembunyi.

 

Imbas energi negatif (ketidak damaian) yang timbul sekarang ini hanya bisa diredam atau ditanggulangi dengan "kekuatan" spiritual seperti yang disebutkan dalam Surah Ar-Rahman: 

 

Al-Quran 55:33 : Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup  menembus  penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.
YUSUFALI: O ye assembly of Jinns and men! If it be ye can pass beyond the zones of the heavens and the earth, pass ye! not without authority shall ye be able to pass!
PICKTHAL: O company of jinn and men, if ye have power to penetrate (all) regions of the heavens and the earth, then penetrate (them)! Ye will never penetrate them save with (Our) sanction.
SHAKIR: O assembly of the jinn and the men! If you are able to pass through the regions of the heavens and the earth, then pass through; you cannot pass through but with authority.

 

Dalam Surah ini dikatakan Jin dan Manusia mempunyai sorganya masing-masing.  Dengan kekuatan spiritual ini kita akan bisa mencapai kedamaian atau "sorga", ketenangan yang tak tergoyahkan oleh segala kondisi disekeliling di dunia ini.  Apakah jenis kekuatannya sama? Tentu saja tidak, malah berlawanan.  Pihak yang mengikuti jalur Jin menggunakan kekuatan keterpisahan, pembelahanan, teknologi/alam mencontohkan dengan energi yang ditimbulkan dengan pembelahan atom uranium yang maha dahsyat.  Sedangkan jalur Manusia lebih mengutamakan kekuatan penyatuan, teknologi/alam mencontohkan energi yang ditimbulkan dengan penyatuan atom hidrogen yang tidak kalah dahsyatnya.  Alam juga mencontohkan untuk melakukan kedua hal di atas tidaklah mudah.  Untuk mendapatkan energi memerlukan energi pula, jadi tidak mungkin tanpa usaha.  Kedamaian, ketenangan yang konotasinya sedikit usaha justru hanya bisa dicapai dengan banyak usaha / energi, suatu paradox yang kita masing-masing seyogyanya pecahkan.

 

Kekuatan Keterpisahan

 

"Mereka yang mati akibat bencana-bencana itu akibat ulah mereka sendiri.  Beruntunglah kita tidak seperti mereka karena keselamatan ini adalah atas usaha kita sendiri.  Bagi mereka usaha mereka dan bagi kita usaha kita.  Kita tidak perlu bersedih atas kenaasan mereka, kita harus selalu bahagia / ceria atas kelebihan yang kita punyai".  Cirinya adalah adanya rasa keterpisahan bagi mereka yang "dikaruniai keselamatan" dengan mereka yang "dilaknat" Tuhan. [Bagaimana bayi pantas mendapat "laknat"Nya, sepertinya diasumsikan bahwa Tuhan bisa menghitung dosa yang akan datang, jadi dosa bisa di "Nett Present Value" (NPV) kan].  Jadi pendeknya untuk apa bersedih atas mereka yang memang pantas mendapat "hukumanNya" walaupun mereka saudara sendiri.  Tentunya di jalur Jin ini pandangan di atas tidak terang-terangan diungkapkan malah bisa tersembunyi di bawah sadar (sepintas lalu mereka mirip di jalur Manusia).  Secara tersembunyi terobsesi oleh kesuksesan/kebahagian dan alergi/benci pada kesusahan/kegagalan. Pihak-pihak yang terang-terangan mengungkapkan pandangan di atas mengikuti jalur Iblis, seolah-olah Tuhan tidak mempunyai "hati", tidak mempunyai sifat pemaaf sama sekali seperti mereka sendiri.  Kondisi tidak "berhati" ini justru bisa "menenangkan" mereka, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi.

 

Kekuatan Penyatuan

 

Apapun yang terjadi tidak lepas dari rencanaNya.  Kebahagian dan kesedihan kita terima semua apa adanya.  Selalu dalam ketenangan dan kedamaian baik menghadapi kebahagiaan maupun kesedihan, tidak pernah ceria berlebihan tidak pula pernah tenggelam dalam kesedihan.  Tidak merasa lebih "suci" dari mereka yang kena bencana, namun tidak merasa kurang "beriman" ketika  ditimpa musibah.  Kebahagian dan kesusahan adalah pelajaran-pelajaran yang harus dilalui semua, tidak terobsesi oleh kesuksesan/kebahagian dan tidak pula alergi pada kesusahan/kegagalan.  Menerima semua sebagai suatu pelajaran yang berharga.  Cirinya merasa satu dengan semuanya baik terhadap mereka yang "berkelebihan" maupun mereka yang "berkekurangan" dalam arti yang seluas-luasnya.  Kecintaan kepada semua, apapun orientasi mereka, menjadi sumber ketenangan / kedamaian.  Hati ini, kecintaan tanpa pamrih ini menjadi pengikat terhadap semua sebagai pantulan dari "RahmatKu (kecintaanKu) melingkupi segala sesuatu".  Menuju ke Semua adalah Satu adanya, sesungguhnya yang ada di Alam Raya ini hanya Dia yang Satu.

 

[Al-Quran mengajarkan pencerahan baik untuk jalur Manusia maupun Jin].

 

Belum Mencapai Salah Satu

 

Umumnya manusia belum bisa mencapai salah satu energi di atas, oleh karena itu berada dalam ketidak-damaian, kesusahan, keputus-asaan.  Namun hal ini bukan berarti suatu yang cacat dalam ciptaan-ciptaanNya.  Ini semua adalah pengalaman keterbatasan.  Pengalaman yang belum pernah kita rasakan sebelumnya di kampung halaman sejati kita semua.  Yakni di Alam Ketakberhinggaan (Alam Illahiah) tempat asal kita semua, cepat atau lambat kita semua akan kembali kealam ini. Alam Ketakberhinggaan bisa kita apresiasi lebih jauh setelah kita mengenal arti keterbatasan.  Tuhan jauh lebih besar dari Takberhingga, Dia yang menciptakan semua alam termasuk Alam Ketakberhinggaan.  Alhamdulillahirrabilallamin.  Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam - baik alam yang nyata maupun yang gaib (pujian yang tulus muncul dari terlihatnya kesempurnaan dalam seluruh ciptaan-ciptaanNya, termasuk gelap/terang - suka/duka). 

 

May we always be in peace,

 

Jusuf Achmad.

 

Untuk bahasan kedewasaan spiritual lebih lanjut lihat website:

http://www.geocities.com/jachmad

http://www.geocities.com/jachmad/English.html

 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1