PRODUKSI BERSIH
PENDAHULUAN
Lingkungan telah menjadi bagian yang sangat penting dari bisnis. Berkenaan
dengan pernyataan tersebut, setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu
green consumerism dan lingkungan sebagai non-tariff barrier. Green consumerism
membuat produk-produk harus berorientasi lingkungan dan harus dibuat dengan
proses yang ramah lingkungan. Dilain pihak, banyak negara, terutama masyarakat
eropa, telah mulai memasukkan faktor lingkungan ke dalam perdagangan. Lingkungan
telah dijadikan sebagi non-tariff barrier. Artinya untuk memasuki pasar dengan
kedua karakteristik di atas diperlukan kaji-ulang atas kinerja lingkungan yang
telah kita lakukan selama ini. Apakah sudah sama dengan persepsi para green
consumer ataukah sudah memenuhi persyaratan non-tariff di atas.
Permasalahannya adalah bahwa sebagian dari kita masih menganggap pengelolaan
lingkungan sebagai beban biaya. Contoh paling nyata adalah pengelolaan limbah
yang telah membebani perusahaan. Mengelola lingkungan dengan fokus pengolahan
limbah atau end-of-pipe ini sudah selayaknya ditinggalkan. Kita perlu menggeser
paradigma pengelolaan lingkungan ke arah pencegahan atau up-the-pipe. Salah satu
pendekatan up-the-pipe yang mulai banyak diterapkan adalah Cleaner Production.
Cleaner Production telah mulai diterapkan di banyak negara. Pendekatan ini
ternyata mampu memberikan banyak keuntungan dibandingkan dengan pendekatan
pengelolaan lingkungan yang lain. Pembeda dengan program lingkungan yang lain
adalah kemampuan Cleaner Production untuk memberikan berbagai penghematan,
bahkan dapat berfungsi sebagai 'revenue generator'.
Penerapan Cleaner Production, walaupun dapat dilakukan melalui cara-cara yang
amat sederhana, namun pada kondisi tertentu kadang-kadang memerlukan perubahan
yang radikal. Untuk memujudkan program Cleaner Production yang efektif, ada
beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan. Uraian di bawah akan membahas
faktor-faktor yang menjadi kunci dalam penerapan Cleaner Production.
PERSPEKTIF TENTANG LIMBAH
Pemecahan permasalahan seringkali bergantung pada bagaimana cara kita memandang permasalahan tersebut. Hal ini juga berlaku bagi permasalahan limbah. Ada banyak perpektif tentang limbah, apakah itu perspektif pelaku industri, ahli lingkungan, masyarakat, atau pemerintah. Alangkah baiknya bila kita mengenali berbagai perspektif yang timbul berkenaan dengan limbah tersebut. Pada gilirannya, perspektif tentang limbah tersebut akan menimbulkan sebuah reaksi. Sehingga lahirlah berbagai alat (tools) atau pendekatan untuk mengelola limbah, didasarkan atas persepsi tentang limbah tersebut.
Setidaknya ada delapan perspektif tentang limbah yang dapat diidentifikasi,
yaitu :
TANGGAPAN PERUSAHAAN UNTUK MENGELOLA LINGKUNGAN
Tanggapan perusahaan terhadap upaya untuk mengelola lingkungan pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu reaktif dan proaktif. Beberapa ahli mengaitkan respon tersebut atas dengan tingkat-tingkat dampak aktivitas perusahaan terhadap lingkungan, yaitu:
RESPONS REAKTIF
Respons reaktif umumnya bertujuan untuk memecahkan suatu masalah lingkungan yang telah timbul. Selain itu, pada tahap reaktif, tujuan perusahaan adalah memenuhi regulasi yang berlaku (regulation compliance). Berkaitan dengan tingkat dampak lingkungan, respons ini berada pada tingkat penimbul dampak negatif atau mendekati eliminasi dampak.
Tentunya kita masih ingat akan Bencana Bhopal di India, yang telah menewaskan
sekitar 2.500 orang dan membuat sekitar 200.000 orang menderita sakit. Bencana
ini terjadi karena kebocoran salah satu tangki gas Methyl Isocyanate (MIC) yang
dimiliki oleh perusahaan kimia Union Carbide. Setelah kejadian tersebut, Union
Carbide segera bereaksi untuk memperbaiki sistem pengelolaan lingkungannya.
Mereka menyewa sebuah perusahaan konsultan untuk merancang suatu sistem
lingkungan yang baru. Dewan direktur kemudian memformalkan sebuah jabatan baru,
yaitu vice president untuk bidang lingkungan hidup .
Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem pengelolaan lingkungan di Union Carbide
ternyata sangat rumit dan sukar dijalankan. Upaya yang dilakukan untuk
mengatasinya adalah menyederhanakan sistem audit lingkungan. Manual audit
lingkungan yang semula tebalnya 35 cm diringkas menjadi 1,25 cm saja. Manual
baru ini lebih membumi dan setiap orang diperusahaan dapat dengan mudah
menggunakannya untuk mengaudit kinerjanya. Union Carbide juga secara agresif
mengaudit fasilitasnya di seluruh dunia. Fasilitas yang tidak mampu memenuhi
persyaratan lingkungan dijual atau ditutup. Sistem pengelolaan lingkungan yang
baru tersebut merupakan salah satu yang terbaik pada saat itu. Tidak puas dengan
membenahi sistem internalnya, Union Carbide juga ikut meratifikasi beberapa
inisiatif lingkungan seperti Responsible Care dan masuk ke dalam kelompok GEMI
(global environmental management initaitive). Ratifikasi ini bertujuan untuk
menunjukkan komitmen Union Carbide untuk terus memperbaiki diri, sekaligus untuk
memperbaiki citra persusahaan.
Apakah berbagai upaya itu cukup? Ternyata tidak. Survei yang dilakukan untuk
mengetahui posisi Union Carbide, selama kurun waktu 1980 - 1990 menunjukkan
kecenderungan sebagai berikut:
Tragedi Bhopal telah menjadi pelajaran berharga bagi industri di seluruh dunia. Namun Union Carbide adalah pengambil pelajaran terbesar darinya. Permasalahan lingkungan yang memakan korban akan sangat membekas di ingatan seseorang. Tindakan reaktif setelah terjadinya bencana akan sangat menurunkan citra perusahaan.
Kasus Union Carbide di atas adalah salah satu tanggapan yang bersifat reaktif.
Tanggapan secara reaktif terjadi bila tindakan yang dilakukan dipicu oleh faktor
eksternal yang dilakukan karena keadaan memaksa. Faktor ini bisa berbentuk
regulasi pemerintah, standar internasional, tuntutan masyarakat, atau bahkan
bencana.
Namun sikap reaktif ini pada dasarnya bukanlah suatu hal yang buruk. Porter dan
Van der Linde menyatakan bahwa dalam banyak hal, regulasi lingkungan ternyata
memiliki implikasi positif terhadap inovasi, produktivitas penggunaan sumber
daya, dan daya saing industri. Dibayangi oleh regulasi lingkungan untuk
menurunkan solvent sampai 90%, 3M berinovasi untuk menghindari penggunaan
solvent dan menggantinya dengan produk berbasis air. Hal yang sama dilakukan
oleh Hitachi. Regulasi Jepang yang mengharuskan kemudahan produk untuk didaur
ulang telah membuat Hitachi untuk mendesain ulang produknya. Hitachi mengurangi
jumlah komponen rakitan sebesar 16% pada produk mesin cuci dan 30% pada produk
vacuum cleaner-nya. Berkurangnya komponen membuat produk menjadi lebih mudah
untuk di-disassembly, sehingga komponennya lebih mudah untuk didaur ulang. Namun
hal terbaik dari desain ulang tersebut adalah berkurangnya waktu dan tingkat
kesulitan perakitan. Hal ini membuat pekerjaan menjadi lebih efisien.
ARCO, barangkali bisa menjadi salah satu contoh yang paling baik tentang
bagaimana caranya mengubah kendala regulasi lingkungan menjadi peluang bisnis.
ARCO yang berbasis di California mampu menyaisati regulasi lingkungan sehingga
berhasil memimpin pasar di wilayah tersebut.
Pada saat itu, amandemen terhadap undang-undang pencemaran udara (Clean Air Act)
di Amerika Serikat hendak diluncurkan. Amandemen ini salah satunya mengatur
tingkat emisi pencemar udara kendaraan bermotor. ARCO memanfaatkan amandemen ini
dengan mengubah produknya untuk memenuhi undang-undang tersebut. Diluncurkanlah
EC-1, bensin tanpa timbal dengan kadar Sulfur hanya seperlima dari bensin
konvensional, Benzene 50% lebih rendah, Olefin dan Aromatik 70% lebih rendah,
dan tekanan uap lebih rendah. Formula baru ini mampu menurunkan emisi kendaraan
bermotor. Dipromosikan sebagai produk ramah lingkungan, disertai dengan
undang-undang pencemaran udara yang ketat, segera saja produk ini menjadi
populer di California dan mampu memimpin pasar. Beberapa lama kemudian ARCO
memperbaiki produknya dan mengganti EC-1 dengan EC-Premium yang lebih ramah
lingkungan. EC-premium memiliki kadar benzene hanya 27 % dari bensin
konvensional, dan mampu menurunkan emisi Hidro Karbon sampai 28%,
Karbonmonoksida sampai 21 %, dan emisi karena penguapan sampai 36%. Seperti
pendahulunya, EC-premium juga segera menjadi populer.
Tidak puas dengan kinerjanya, ARCO mengembangkan EC-X yang lebih ramah
lingkungan. Melalui sebuah presentasi ke pemerintah, ARCO menunjukkan
kelebihan-kelebihan EC-X dalam menurunkan tingkat pencemaran udara. Presentasi
ini membuahkan hasil bagi ARCO. Mulai tahun 1996 produk ini akan dijadikan
standar. Bensin yang dijual di seluruh negara bagian minimal harus setara dengan
EC-X.
Di California, setiap pompa bensin milik ARCO rata-rata mampu menjual sebanyak
225.000 galon perbulannya. Angka ini 3 kali lipat dari rata-rata penjualan
bensin di wilayah tersebut. Dengan produk ramah lingkungan, ARCO mampu menjadi
pemimpin pasar. Terbukti bahwa upaya reaktif juga merupakan hal yang baik.
Pertanyaannya, apakah itu cukup? Tampaknya akan sangat sulit bagi industri untuk
terus berubah sejalan dengan perubahan regulasi yang semakin ketat dan
menjangkau dimensi yang semakin luas.
Berkaitan dengan kasus di atas, ada hal yang harus membuat ARCO berpikir keras.
Sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, bensin memiliki pesaing cukup berat,
yaitu metanol dan listrik. Kedua pesaing ini merupakan sumber daya yang dapat
diperbaharui (renewable resources). Keduanya memiliki kinerja lingkungan yang
jauh lebih baik dibandingkan dengan bensin. Permasalahan utama pada saat ini
adalah belum mampunya kedua pesaing itu untuk menyamai tingkat ekonomis dan
kemudahan operasi bensin. Namun bagaimana bila ternyata pasar menuntut produk
dengan label 'renewable resources'. Atau bagaimana bila secara ekonomi dan
kemudahan operasi kedua pesaing tersebut telah menyamai atau bahkan lebih baik
dari bensin? Akan sangat sulit bagi ARCO untuk terus bertahan.
Contoh yang cukup menarik adalah kasus Lockheed pada Tahun 1987 . Berdasarkan
TRI (Toxics Realese Inventory) emissions, dari 25 perusahaan di kelompoknya,
Lockheed adalah pencemar nomor dua terbesar. Melihat hasil ini mereka segera
bereaksi dengan melakukan banyak perubahan untuk memperbaiki kinerja
lingkungannya. Tiga tahun kemudian, pada Tahun 1990, Lockheed telah berhasil
menurunkan pencemarnya sampai 64% dari tingkat emisinya pada Tahun 1987. Sebuah
hasil yang cukup baik. Namun, ketika TRI pada Tahun 1990 itu diumumkan, ternyata
prestasi Lockheed memburuk. Mereka turun satu peringkat dan berhasil menjadi
pencemar paling besar di kelompoknya. Ternyata pesaing berkinerja lebih baik.
RESPONS PROAKTIF
Tahap kedua dari respons perusahaan terhadap lingkungan adalah proaktif. Pada tahap ini, dikaitkan dengan lingkungan, perusahaan telah menempatkan lingkungan dalam salah satu prioritas bisnisnya. Umumnya perusahaan pada tahap ini digerakkan oleh inisiatif mereka sendiri, yang dipandu oleh visi lingkungan yang mereka miliki. Respons ini digerakkan oleh nilai (value driven).
Tahap awal dari sikap proaktif terhadap lingkungan adalah assurance dari seluruh
kegiatannya yang berkaitan dengan lingkungan. Perusahaan akan terus berupaya
untuk mengidentifikasi dan memitigasi sumber-sumber resiko lingkungan yang
mempengaruhi liabilitas finansial, asalkan biaya identifikasi dan mitigasi
resiko itu tidak lebih besar dari biaya tanggung jawab atas resiko tersebut.
Tahap berikut dari sikap proaktif ini adalah mengintegrasikan lingkungan ke
dalam bisnis. Perusahaan akan berusahan meningkatkan efisiensi dengan
meminimalkan limbah. Pendekatan yang cukup banyak dilakukan adalah Cleaner
Production. Dikaitkan dengan dampak lingkungan, respons pada tahap ini akan
berada di sekitar mitigasi dampak dan kadang cenderung memberikan dampak positif
terhadap lingkungan.
DOW Chemical memiliki visi lingkungan yang cukup baik, mereka telah berpikir
dalam jangka menengah. Pada Tahun 1996, DOW meluncurkan program untuk
memperbaiki kinerja lingkungan dan keselamatan nya di seluruh fasilitasnya di
dunia. Program ini memiliki rentang waktu 10 tahun. Program ini diperkirakan
akan memberikan Return on Investment (ROI) sebesar 30-40% pada Tahun 2005.
Sasaran yang ingin mereka capai adalah penghematan:
Total seluruh penghematan adalah 1,8 milyar US$, atau setara dengan 1% pendapatan selama sepuluh tahun.
DuPont Agricultural (DA) juga memiliki tindakan proaktif dengan visi jauh ke
depan. DA adalah penghasil bahan kimia pelindung tanaman. Mereka mengembangkan
produk baru secara cukup radikal. Herbisida baru hasil temuan DuPont ini akan
mampu memberikan penghematan luar biasa. Dosis yang diperlukan hanya
seperseratus sampai sepersepuluh dari herbisida konvensional. Penghematan ini
selain menurunkan biaya juga akan memberikan dampak lain. Kemasan herbisida
menjadi lebih kecil sehingga kuantitas limbah kemasan juga akan berkurang.
Monsanto Corporation memberikan respons proaktif terhadap lingkungan. Monsanto
telah memposisikan dirinya sebagai perusahaan yang berbasis pada sustainable
development . Untuk mewujudkannya mereka memiliki tim yang disebut sebagai seven
sustainability teams. Tim ini terdiri atas:
Terlihat betapa tingginya komitmen monsanto terhadap lingkungan.
FAKTOR PENGHAMBAT
Setelah membahas tentang respons perusahaan kita akan memasuki bagian yang lebih bersifat manajemen, yaitu faktor penghambat dan faktor penentu keberhasilan program Cleaner Production. Kita akan mulai dengan faktor penghambat.
Faktor penghambat dapat berasal dari luar maupun dari dalam perusahaan. Faktor
penghambat eksternal umumnya timbul akibat rendahnya penegakan regulasi
lingkungan, terlalu ketatnya regulasi lingkungan, rendahnya kepedulian
masyarakat terhadap lingkungan, dan rendahnya insentif lingkungan.
Sedangkan faktor penghambat internal meliputi sikap sulit menerima perubahan,
faktor teknis, faktor finansial, dan faktor kultur perusahaan.
Sulit Menerima Perubahan. Faktor ini paling sering muncul untuk menjadi
penghambat dalam perapan Produksi Bersih, jauh di atas faktor finansial dan
teknologi. Berdasarkan suatu studi, ada beberapa sikap dan pernyataan yang
sering menjadi penghambat, yaitu:
FAKTOR TEKNIS
Hambatan faktor teknis merupakan hambatan yang relatif paling ringan
dibandingkan dengan kedua hambatan diatas. Umumnya hambatan ini karena kurangnya
informasi teknis tentang produksi bersih. Sekali manajemen dankaryawan telah
memiliki informasi tentang teknik Produksi Bersih, maka program akan sangat
mudah dijalankan di perusahaan. Kajian literatur, aliansi dengan pihak yang
pernah melakukan program Produksi Bersih, pelatihan karyawan, dan penggunaan
konsultan akan mampu menghilangkan hambatan teknis ini.
FAKTOR FINANSIAL
Kesulitan finansial pada dasarnya bukan merupakan faktor penghalang yang cukup kuat. Permasalahan finansial berkaitan dengan Produksi Bersih umumnya hanya dijumpai pada perusahaan berskala kecil. Pada perusahaan skala menengah sampai besar, permasalahan ini nyaris tidak ada. Permasalahnya lebih terletak pada bagaimana meyakinkan investor atau pengambil keputusan untuk berinvestasi pada program Produksi Bersih.
Produksi Bersih bukan merupakan cost center. Produksi Bersih adalah bagian dari
investasi bisnis yang mampu memberikan keuntungan dan penghematan. Sama seperti
investasi lain, Produksi Bersih juga memiliki berbagai ukuran pencapaian program
yang dapat dinyatakan dalam ukuran-ukuran ekonomi biasa, seperti break event
point (BEP), internal rate of return (IRR), return on investment (ROI), maupun
berbagai manfaat yang kurang nyata (less tangible). Proposal yang baik akan
menguraikan seluruh ukuran-ukuran kinerja ini dan itu akan mempermudah investor
dan pengambil keputusan untuk membiayai program. Proposal yang baik akan
menghilangkan faktor finansial sebagai hambatan. Namun bila hal sebaliknya
terjadi, maka faktor finansial akan menjadi hambatan yang cukup besar. Dengan
kata lain perbaikilah proposal anda.
KULTUR PERUSAHAAN
Kadangkala walaupun semua hambatan di atas dapat dilalui, masih saja program tidak berjalan dengan baik. Permasalahannya, pergeseran paradigma dari end-of-pipe ke up-the-pipe memerlukan perubahan. Banyak terjadi bahwa kultur perusahaan tidak siap menerima perubahan ini.
FAKTOR KUNCI
Setelah mengeliminasi seluruh faktor penghambat di atas, perusahaan perlu pula mengembangkan faktor-faktor kunci keberhasilan penerapan Cleaner Production. Faktor kunci ini meliputi:
KOMITMEN MANAJEMEN PUNCAK
Barangkali ini adalah faktor terpenting dalam memulai keberhasilan program Cleaner Production. Komitmen dan Dukungan yang jelas dan kuat dari manajemen puncak sangat diperlukan agar konsep produksi bersih dapat diterima di seluruh lapisan organisasi. Komitmen ini perlu disebarluaskan secara jelas, termasuk: pernyataan formal kebijaksanaan produksi bersih, tujuan yang hendak dicapai, penetapan tanggung jawab, penetapan sumberdaya, dan pemantauan kinerja.
Ketika 3M melakukan program 3P (pollution prevention pays), pihak manajemen
puncak, secara eksplisit, menyatakan bahwa 3P adalah bagian tidak terpisahkan
dari bisnis yang dijalankan 3M. Mereka juga menyebarluaskan strategi konkrit
yang harus dijalankan oleh seluruh lapisan organisasinya. Hal yang sama juga
dilakukan oleh Du Pont yang bahkan membentuk sebuah struktur baru yang mengelola
lingkungan pada tingkat Vice President. Yang lebih menarik dari Du Pont adalah
pernyataan CEO mereka yang menyatakan bahwa CEO bukan sekedar Chief Executive
Officer tetapi juga Chief Environmental Officer.
Hal yang senada ternyata juga dilakukan oleh perusahaan lain yang akan
menerapkan Produksi Bersih. Komitmen manajemen puncak adalah awal segalanya,
terlepas dari mana dimulainya inisiatif. Apakah inisiatif dimulai dari pihak
manajemen ataupun inisiatif dimulai oleh karywan operasional, komitmen manajemen
puncak mutlak diperlukan untuk menjalankan program Produksi Bersih. Penggabungan
antara komitmen manajemen puncak dengan pendekatan bottom-up akan memberikan
hasil yang efektif.
Komitmen manajemen puncak ini harus dinyatakan secara eksplisit, misalnya dengan
diintegrasikan ke dalam visi dan misi perusahaan. Tujuh elemen eco-efficiency
yang telah dikembangkan oleh World Business Council for Sustainable Development
di bawah ini mungkin dapat dijadikan sebagai contoh dalam menetapkan visi, misi,
dan strategi perusahaan.
Dalam berbisnis, kita tidak semata-mata berhubungan dengan pelanggan dan investor/pemegang saham. Namun, pada dasarnya setiap pihak akan sangat terkait dengan bisnis yang kita jalankan. Berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, pemerintah sebagai lembaga yang berkaitan dengan regulasi lingkungan akan sangat terkait dengan kita. Citra lingkungan perusahaan di mata masyarakat secara umum akan sangat mempengaruhi kinerja perusahaan. Pelanggan yang mulai peduli terhadap lingkungan dan cenderung memposisikan dirinya sebagai green consumer akan sangat memperhatikan kinerja lingkungan dari produk yang akan dibelinya. Beberapa tujuan ekspor seperti Masyarakat Eropa misalnya, telah menetapkan lingkungan sebagai non-tariff barrier, yang bila tidak dipenuhi akan sangat sulit bagi kita untuk menjual produk ke sana.
Hal yang bisa diambil dari contoh-contoh di atas adalah bahwa bisnis akan sangat
terkait dengan berbagai pihak yang berkepentingan dengan kualitas lingkungan.
Lingkungan adalah tempat kita hidup. Sangat wajar bila semua pihak merasa
berkepentingan dengannya. Bila bisnis ingin berjalan dengan baik, maka segala
pihak yang terkait harus kita perhitungkan. Stakeholder yang terkait dengan
bisnis misalnya, Pemerintah, Konsumen, Karyawan, Lembaga Swadaya Masyarakat,
Masyarakat Internasional, Pengecer, Distributor, Pemasok/Supplier, atau
Kontraktor
KETERLIBATAN KARYAWAN
Sebuah program yang tidak didukung sepenuhnya oleh karyawan akan menjadi sia-sia belaka. Karyawan perlu diikutsertakan dan diberdayakan. Banyak sekali contoh-contoh bahwa program produksi bersih ternyata berawal dari hal-hal sederhana yang diusulkan oleh karyawan. Manajemen puncak perlu akomodatif dalam menerima usulan karyawan, sejauh itu mendukung komitmen perusahaan. Libatkanlah karyawan sejauh mungkin, maka mereka akan merasa menjadi bagian tak terpisahkan dari program Produksi Bersih.
Salah satu upaya untuk melibatkan dan memberdaykan karyawan adalah melalui
pelatihan. Setidaknya ada dua alasan penting mengapa karyawan perlu diberi
pelatihan tentang produksi bersih, yaitu:
Pelatihan dapat diberikan dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhannya. Namun setidaknya ada empat jenis pelatihan yang dapat diberikan, yaitu:
Kebijaksanaan produksi bersih perlu dikomunikasikan ke segenap lapisan organisasi. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan awareness tentang kebijaksanaan tersebut pada seluruh karyawan. Komunikasi ini akan sangat bermanfaat untuk:
Penciptaan dan Peningkatan iklim kepedulian/awareness sangat perlu dilakukan untuk mengubah kultur lama ke kultur Produksi Bersih.
PENGUKURAN KINERJA
Tolok ukur, sebuah kata ajaib yang membuat kita dapat membandingkan diri kita dengan sesuatu. Pengukuran kinerja membuat perusahaan mampu untuk memantau tingkat kesuksesan dan membandingkannya dengan kinerja masa lalu atau dengan pesaing lain. Pengukuran juga dapat menunjukkan bahwa sumberdaya yang tersedia telah ditempatkan secara sesuai serta dapat dipergunakan sebagai alat evaluasi.
Ada suatu 'resep' yang cukup baik untuk membentuk suatu sistem pengukuran kinerja lingkungan. Resep ini disebut sebagai The Ten C's , yaitu:
PENUTUP
Sebagai penutup ada sebuah kutipan yang cukup baik untuk direnungkan. The success of strategic environmental management depends, in great part, on a company's ability to integrate it into the business organization - a responsinsibility that rest with the environmental management team. To avoid the Green Wall, the environmental path must become one with the business path.