Vampir dan
Kekristenan
(disertai dasar-dasar dari alkitab sendiri) ------------------------------------------------------------------------------ Sebenarnya vampir itu tidak ada. Yang ada adalah ide kematian-kebangkitan
dalam kekristenan yang dibawa oleh Paulus. Jadi
Christianity adalah vampirisme. Darah, mati dari dunia daging lalu hidup
dalam dunia roh, takut kepada sinar matahari (baca: benci kepada akal dan
pengetahuan). Semua itu adalah untuk keluar dari hukum akal
budi. Padahal hukum yang tidak pakai akal budi itu
adalah hukum yang keluar dari nurani, fitrah penciptaan, serta jati diri kita.
Memang ajaran kematian-kebangkitan itu adalah ajaran untuk
mati dari jati diri kemanusiaan, lalu bangkit kepada jati diri kevampiran.
Mari kita mendengarkan ‘hikmat’ pembawa ajaran Vampirisme ini…. tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku
melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan
membuat aku menjadi tawanan hukum dosa (MAKSUDNYA: hukum akal budi) yang ada di
dalam anggota-anggota tubuhku. Roma Oleh karena itu Paulus telah membuat
perjanjian yang lebih baru lagi dari yang dibawakan oleh Yesus sendiri. Sementara Yesus bermaksud untuk
menggenapkan hukum akal budi yaitu hukum musa dan para nabi, Paulus justeru
menggantinya dengan hukum roh yang tidak dikenal dalam pengajaran Yesus, musa
dan para nabi. Ialah
membuat kami juga sanggup (MAKSUDNYA: bukan hanya Yesus Nazareth dan
murid-muridnya saja) menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru,
yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis (MAKSUDNYA: lawan dari perjanjian Yesus dan murid-murid) tetapi dari Roh,
sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan. 2Co 3:6 fs Itu pulalah sebabnya yesus meninggalkan istilah ‘anak
manusia’ untuk orang-orang yang datang kemudian, untuk mengidentifikasikan para
pendusta yang membawa-bawa nama dirinya untuk
membangun kejahatan di muka bumi. Istilah itu dimaksudkan bahwa ajaran apapun
yang membawa-bawa nama dirinya, tetapi ia keluar dari jati diri kemanusiaan,
maka itulah ajaran palsu, karena dia adalah ‘anak manusia’ bukan ‘anak vampire’. Awal mula dari ide ‘kematian-kebangkitan’
bukan pada peristiwa penyaliban Yesus. Ide itu berawal dari ketidak-mampuan Paulus untuk tunduk di bawah
kepemimpinan Petrus / Kefas atas jemaat yang telah dipercayakan oleh Yesus
sendiri. Penyaliban Yesus hanyalah sesuatu yang
dimanfaatkan oleh Paulus untuk menggambarkan bahwa ajarannya itu berasal dari
Yesus. Paulus tidak mau kalah dengan Kefas dan murid-murid … 2Co 11:5 Tetapi menurut pendapatku sedikitpun
aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu. 2Co 2Co Paulus selalu merasa lebih pintar dalam segala hal: tentang
kepemimpinan, tentang penguasaan ayat-ayat, dan tentang hikmat, bahkan terhadap
Sidang Jemaat. Ia seolah-olah ingin selalu didengarkan
dan mengatur Jemaat dengan gayanya. Sebagai orang baru, dan
sebagai bekas penganiaya dan pembinasa jemaat, itu sangatlah lancang. Di samping itu Petrus dan murid-murid
diketahui berasal dari kalangan miskin dan tidak terpelajar, sangat berbeda
dengan diri Paulus. Ini
semua membuat Paulus sombong. Aturan dalam keimamatan membuat Paulus
semakin panas hati karena mau tidak mau ia harus
bertuan kepada Petrus, sementara Petrus sendiri bertuan kepada Yesus. Tapi bagi Paulus bertuan kepada Petrus yang orang kampung dan tidak
terpelajar adalah kehinaan, walaupun itu adalah tradisi yang sudah biasa dalam
tradisi orang-orang Petrus menjadi tuan karena ia adalah
pemimpin Jemaat ketika Paulus berbaptis masuk Jemaat. Bukan
Yesus langsung yang membaptisnya, tapi seorang yang bertanggungjawab kepada
Petrus di Damsyik, bernama Ananias. Yesus menghendaki ia
menjadi ‘anak langsung’ dari Petrsus, bukan anak langsungnya sendiri. Yesus memang telah menyerahkan kapal (Jemaat) untuk dinakhodai oleh
Petrus. Mt
Kalau Paulus menghianati Petrus, ia
juga menghianati Yesus yang telah memberkati kepemimpinan Petrus. Kehambaan dirinya membuat Paulus merasa berat hati
melakukan tugas pemberitaan, terutama untuk membela Petrus dan Sidang Jemaat,
yang makin hari tidak menyukai agresifitasnya yang tidak etis terhadap imamat
yang sah dan yang telah diberkati oleh Yesus sendiri. Sementara ia sangat
suka didengarkan saat ia berbicara di hadapan orang-orang. Ia
amat terobsesi dengan menjadi orang suci di mata orang-orang yang ia datangi. Menunjukkan kebolehan dalam penguasaan ayat-ayat kitab-kitab sudah
menjadi kegemaran yang tidak mungkin di hilangkan dalam diri Paulus.
Sejak kecil ia sudah dilatih untuk menyukai dan
memandang penting hal-hal seperti itu dalam lingkungan Farisinya yang dikenal
paling taat kepada adat-istiadat nenek moyang. Ketika ia mendapat tugas di Yunani
bersama dengan pasangannya Barnabas, dalam keadaan hati yang panas namun tidak
bisa berbuat apa-apa itu, panas hati yang ia telan itu, ia mulai dijamah oleh Iblis
yang telah menyiapkan konsep Vampirisme untuk Paulus. Ia
akan ditarik keluar dari Jemaat Petrus, bahkan ia akan digunakan untuk
menyaingi jemaat yang menggenapkan pengajaran para nabi. Bahkan akan membinasakannya untuk kedua kalinya, yaitu apabila misi
Paulus nantinya mampu masuk dan menguasai kekerajaan Romawi. Kuasa Iblis mempengaruhi beberapa orang
Yunani yang datang dengan seorang imam rumah ibadat agama Zeus, untuk datang
mempersembahkan hewan korban dan karangan bunga kepada Paulus dan Barnabas yang
sedang berkotbah. Mereka
mengira Paulus dan Barnabas sebagai Hermes dan Zeus. Secara
reflek Paulus menjelaskan kepada orang-orang itu bahwa diri mereka bukanlah
seperti yang dikira. Tapi kejadian ini cukuplah untuk menunjukkan kepada
Paulus bahwa ia akan sangat mampu untuk menyaingi
jumlah jemaat Petrus nantinya. Justeru disitulah intinya. Ac 14:12
Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena
ia yang berbicara. Ac 14:13
Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar
kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang
Mulanya, ia tidak begitu serius
menanggapi inspirasi ini karena tidak mungkin ada dua jemaat dalam satu ajaran.
Iblis lalu membisikkan: “setidak-tidaknya ada angin segarrrr….”. Paulus mengiyakan dan menyimpannya
baik-baik, merasakan itu seolah-olah hanyalah bisikan hatinya. Barnabas tidak mengetahui adanya riak-riak ini dalam pikiran dan
hati Paulus. Tentu saja ini rahasia pribadi. Iblis tersenyum melihat Paulus, calon anaknya itu. Anak yang cukup potensial untuk menghalangi kedatangan cahaya
pengajaran para nabi kembali bertakhta di muka bumi setelah tenggelamnya
Kerajaan Daud. Kebelakang-belakang, kebencian terpendam kepada Petrus,
Sidang Jemaat, dan Jemaat Jerusalem, membuat kejadian datangnya imam agama dewa
Zeus diatas selalu hadir di benak Paulus: “Kalau saja aku boleh membuat jemaat
sendiri, memisahkan diri dari mereka, aku akan merdeka dari mereka. Tidak perlu lagi bertuan kepada mereka. Panas hati yang
selalu menyiksaku akan hilang.…. Ga 5:1 Supaya kita
sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena
itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu,
Kristus (Kematian-kebangkitan, red) sama
sekali tidak akan berguna bagimu. …. Bagaimana mungkin aku mejalani
pekerjaan ini dengan sakit hati setiap waktu? Setiap
pembelaanku untuk mereka adalah sakit hati yang harus aku telan. Ini tidak mungkin. Mengapa aku begini?
Mengapa aku tidak sanggup tunduk kepada mereka? Mengapa aku memandang muka? Apakah aku
termasuk manusia yang sombong di mata Tuhan? Apakah aku akan melawan Tuhan? Bagaimanakah takdirku di kemudian hari?....” Iblis memperhatikan pikiran Paulus, ia
hadir dalam pikirannya menyamar sebagai malaikat. Lalu segera memberikan
hiburan: “Paulus, kamu pantas merasa seperti itu terhadap mereka. Mereka memang bodoh. Mereka sangat kaku
dalam mengelola jemaat, lantaran mereka hanya bisa menangkap ikan di laut,
tidak mengenyam pendidikan, bukan? Ide-ide mereka kaku
dan buntu, bukan? Jangan merasa bersalah.
Mereka hanya tahu apa yang diajarkan saja, selain itu
mereka tidak tahu. Mereka tidak seperti kamu. Kamu sangat bijaksana dan mempunyai pengetahuan yang luas serta
sangat dalam. Kamu bisa melacak hikmat dengan
pikiranmu yang tajam itu, sedangkan mereka tidak bisa melakukannya. Tapi
aku akan mengajarkan kamu bagaimana
memelintir-melintir hikmat, hehehe. Apakah aturan main
keimamatan yang menghalangi kamu, wahai Paulus? Jangan
khawatir, itu bukan hambatan. Karena kamu akan
dimerdekakan dari mereka. Setelah itu kamu tidak perlu lagi
berhamba kepada mereka. Sakit hatimu akan
hilang. Semua beban yang memberatimu akan dilepaskan” Paulus jadi bersemangat ….. “Janji kerajaan kepada Mt
5:29 Maka jika
matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih
baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan
utuh dicampakkan ke dalam neraka. “Jadi bagaimana cara mengangkat “Tidak juga. Kamulah yang akan menyelamatkan mereka” “Maksudnya?” Paulus antusias. “Mereka hanya terkutuk terhadap Taurat
dan Hukum. Dan itu
bisa diatur. Hehehe” Paulus langsung nyambung. “Oh iya!! YESS!!”
katanya. “Sebagaian beban di punggung saya berguguran, tuan!”, katanya bersemangat. “Bagus, kamu memang pintar. Nalar kamu memang tinggi. Itulah kemerdekaan, Paulus.” Paulus merasa sangat bangga. “Kenapa ini tidak pernah terpikir olehku
selama ini ya?” bisik Paulus kepada dirinya sendiri. Tapi didengar
dengan jelas oleh Iblis itu dan membuatnya tertawa terbahak …. “HAHAHA. Manusia tidak akan bisa menemukan
jalan yang ‘hakiki’ kalau tidak diberi petunjuk. Makanya
petunjuk itu disebut karunia”. “Baiklah’ kata Paulus agak kaget
diketahui pikirannya. “Jadi aku harus keluar dari Taurat dan Hukum? Bukankah itu murtad, tuan?” “Kalau tidak, kamu akan terikat dengan
perjanjian yang menjunjung tinggi Taurat dan Hukum. Itu artinya kamu akan tetap
terkutuk. Apakah kamu ingin berstatus terkutuk? Waktu untuk Taurat dan Hukum sudah habis bagi “Baiklah. Lalu apa penggantinya, tuan? Dan bagaimana itu disebut benar?” “Hehehe, aku segera menganugerahkannya
kepadamu. Masalah bagaimana itu disebut
benar, nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya. Hari ini aku mengangkat kamu sebagai rasul” malaikat samaran itu
berlagak serius. JELEGGEEERRRR!!!! Paulus merasakan
seperti ada petir melintasi jagad raya di hadapannya dengan suara gelegar yang
dahsyat setelah mendengar pernyataan itu. Tak lama kemudian seolah-olah
serasa dihembus oleh angin yang paling sejuk yang pernah ia
rasakan. Ia tak mampu berkata-kata. Serasa bunga-bunga
berjatuhan, berterbangan menerpa tubuhnya yang berada dalam spot light di
tengah-tengah alam yang tiba-tiba menjadi gelap hanya menampakkan dirinya.
Bunga-bunga tersebut berjatuhan dari sumber cahaya spot light itu. Paulus mabuk. Melayang-layang.
Kontan ia merasa merdeka dari Petrus, dan melihat
Petrus begitu kecil di hadapannya. Ia melihat juga
bagaimana ia mengejar jumlah jemaat Petrus lalu meninggalkannya jauh di
belakang. Ia seperti sedang menonton film tentang
kemerdekaan dari penjajahan. Sakit hatinya lenyap seketika,
diganti oleh semangat yang menggebu-gebu untuk memulai suatu jemaat yang baru,
dengan perjanjian yang lebih baru lagi. Untuk membuktikan
bahwa dirinya lebih hebat dan lebih mampu dari Petrus. Ia akan membuktikan bahwa selama ini memang ia selalu benar,
tidak pernah salah. Iblis tertawa terbahak-bahak melihat
Paulus yang mabuk kepayang. Kali ini Paulus tidak
dibiarkan mendengar tawanya. “Tapi bagaimana konsep perjanjian yang
lebih baru ini” Paulus bertanya kepada malaikat samaran itu. “Konsepnya: KEMATIAN-KEBANGKITAN!! ……” Sementara, perjanjian baru Yesus adalah pernjanjian yang
menghormati hukum Taurat dan pengajaran para nabi …. Mt “Kematian-kebangkitan?” kata Paulus, “Hmmm?… berarti…. mati dari Hukum Taurat, termasuk mati dari
pengajaran Yesus, lalu bangkit hidup dalam hukum …….. bangkit
dalam hukum apa, tuan?” “Tidak ada hukum!! Pokoknya ‘KASIH!!’ Bilang aja hukum
kasih, titik!!” “Hmmm? … Letak ‘kasih’ nya? Kok saya
agak bingung nih?” “Gini lho Paulus, kalau kamu berada dalam tubuh ‘jemaat
yang lebih baik’ dengan roh penghidup yang ‘lebih baik’ seperti yang aku sedang
ajarkan kepada kamu ini, berarti kamu berada dalam ‘KASIH’, yaitu ‘KASIH
KARUNIA’”. “Oh .. jadi
KASIH disini memangnya harus diterjemahkan ‘kedalam’ ya? Kok
begitu? Kasih itu setahu saya, ‘memberi’, ‘berbuat’, ‘berkorban’….
Bisa tuan jelaskan? Saya agak
keder.” “Ini bukan Hukum Taurat!! Kalau Taurat, kasihnya ‘keluar’;
perbuatan, memberi, berkorban. Kita bukan
kasih-memberi. Kasih kita ‘kedalam’; menerima dan
bukan perbuatan. Kita kasih-diberi. Enakan mana coba, kasih-diberi atau kasih-memberi?!” Paulus tidak menjawab, hanya mengikuti
dengan seksama. Supaya
dia mengerti betul maksudnya, walaupun dia sendiri merasakan hal ini agak aneh
di hati nuraninya. Bahkan aneh sekali. “Sudah sudah!!, jangan pake hati
nurani!!” kata malaikat samaran ini, mengetahui pikiran Paulus. “Kalau kamu pake nurani,
nantinya kamu akan kembali kepada hukum Taurat lagi. Kita
harus berlawanan dengan Hukum Taurat, bukan? Makin jauh dari Hukum
Taurat makin jauhlah kita dari kutukan, bukan? Hari ini aku
mengajarkan kepada kamu bahwa perbuatan itu tidak dapat menyelamatkan. Kita harus melupakan Hukum sekarang. Hanya
imanlah yang menyelamatkan. Ucapan syukur dan pujian
di bibir lah yang menyelamatkan. OK? Kamu dan
pengikutmu nggak usah capek-capek dengan berbagai perbuatan. Ya … nanti kalau ada konflik dikit-dikit dalam ajaran tidak apa-apa
lah. Yang penting “Tapi tuan, bukankah orang yang tidak
mengenal hukum adalah orang yang tidak mengenal Tuhan? Dan bukankah Yesus sendiri mengatakan
bahwa pada hari terakhir manusia akan dihakimi berdasarkan perbuatan?” 2Pe 3:17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang
kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah,
supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal
hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. Mt “Shut up!! Allah sudah meninggalkan kalian! Sekarang, kalau
Dia mau memberi kalian bagian, kalian hanya akan
dikasih sisa-sisa oleh-Nya melalui bangsa lain yang akan dia pilih untuk
menggantikan kalian! Tapi …. aku akan menghindarkan
kamu dari mendapatkan sisa-sisa itu. Kamu akan
mempertahankan nama baik “Maafkan saya, tuan, yang masih sangat
diliputi oleh Hukum Taurat. Maklum saja
saya dibesarkan dalam tradisi itu” “Kamu dimaafkan anakku, karena aku
mengasihimu, karena kasihku sangat besaaaarrrr untukmu, HAHAHAHAHAHA. Untuk sementara, pelajaran kita sampai
disini dulu. Dicerna baik-baik yang sudah diterima.
I’ll be back, lho”. “Mau kemana? Kapan ketemu lagi, tuanku?” tanya
Paulus. JRENG…..!! Malaikat samaran itu
menghilang, tidak memperdulikan pertanyaan Paulus. Tapi ada suara tawa
malaikat samaran itu yang menggema …..
|