Vampir dan Kekristenan

(disertai dasar-dasar dari alkitab sendiri)

------------------------------------------------------------------------------

Sebenarnya vampir itu tidak ada. Yang ada adalah ide kematian-kebangkitan dalam kekristenan yang dibawa oleh Paulus. Jadi Christianity adalah vampirisme. Darah, mati dari dunia daging lalu hidup dalam dunia roh, takut kepada sinar matahari (baca: benci kepada akal dan pengetahuan). Semua itu adalah untuk keluar dari hukum akal budi. Padahal hukum yang tidak pakai akal budi itu adalah hukum yang keluar dari nurani, fitrah penciptaan, serta jati diri kita. Memang ajaran kematian-kebangkitan itu adalah ajaran untuk mati dari jati diri kemanusiaan, lalu bangkit kepada jati diri kevampiran. Mari kita mendengarkan ‘hikmat’ pembawa ajaran Vampirisme ini….

 

tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa (MAKSUDNYA: hukum akal budi) yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.   Roma 7:23  

 

Oleh karena itu Paulus telah membuat perjanjian yang lebih baru lagi dari yang dibawakan oleh Yesus sendiri. Sementara Yesus bermaksud untuk menggenapkan hukum akal budi yaitu hukum musa dan para nabi, Paulus justeru menggantinya dengan hukum roh yang tidak dikenal dalam pengajaran Yesus, musa dan para nabi.

 

Ialah membuat kami juga sanggup (MAKSUDNYA: bukan hanya Yesus Nazareth dan murid-muridnya saja) menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis (MAKSUDNYA: lawan dari perjanjian Yesus dan murid-murid)  tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.  2Co 3:6  fs

 

Itu pulalah sebabnya yesus meninggalkan istilah ‘anak manusia’ untuk orang-orang yang datang kemudian, untuk mengidentifikasikan para pendusta yang membawa-bawa nama dirinya untuk membangun kejahatan di muka bumi. Istilah itu dimaksudkan bahwa ajaran apapun yang membawa-bawa nama dirinya, tetapi ia keluar dari jati diri kemanusiaan, maka itulah ajaran palsu, karena dia adalah ‘anak manusia’ bukan ‘anak vampire’.

 

Awal mula dari ide ‘kematian-kebangkitan’ bukan pada peristiwa penyaliban Yesus. Ide itu berawal dari ketidak-mampuan Paulus untuk tunduk di bawah kepemimpinan Petrus / Kefas atas jemaat yang telah dipercayakan oleh Yesus sendiri. Penyaliban Yesus hanyalah sesuatu yang dimanfaatkan oleh Paulus untuk menggambarkan bahwa ajarannya itu berasal dari Yesus. Paulus tidak mau kalah dengan Kefas dan murid-murid …

2Co 11:5  Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu.  

2Co 11:22  Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham!  

2Co 11:23  Apakah mereka pelayan Kristus? --aku berkata seperti orang gila--aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.

 

Paulus selalu merasa lebih pintar dalam segala hal: tentang kepemimpinan, tentang penguasaan ayat-ayat, dan tentang hikmat, bahkan terhadap Sidang Jemaat. Ia seolah-olah ingin selalu didengarkan dan mengatur Jemaat dengan gayanya. Sebagai orang baru, dan sebagai bekas penganiaya dan pembinasa jemaat, itu sangatlah lancang.

 

Di samping itu Petrus dan murid-murid diketahui berasal dari kalangan miskin dan tidak terpelajar, sangat berbeda dengan diri Paulus. Ini semua membuat Paulus sombong. Aturan dalam keimamatan membuat Paulus semakin panas hati karena mau tidak mau ia harus bertuan kepada Petrus, sementara Petrus sendiri bertuan kepada Yesus. Tapi bagi Paulus bertuan kepada Petrus yang orang kampung dan tidak terpelajar adalah kehinaan, walaupun itu adalah tradisi yang sudah biasa dalam tradisi orang-orang Israel. Tapi perasaannya itu disembunyikan oleh Paulus.

 

Petrus menjadi tuan karena ia adalah pemimpin Jemaat ketika Paulus berbaptis masuk Jemaat. Bukan Yesus langsung yang membaptisnya, tapi seorang yang bertanggungjawab kepada Petrus di Damsyik, bernama Ananias. Yesus menghendaki ia menjadi ‘anak langsung’ dari Petrsus, bukan anak langsungnya sendiri. Yesus memang telah menyerahkan kapal (Jemaat) untuk dinakhodai oleh Petrus.

 

Mt 16:18  Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.  

 

Kalau Paulus menghianati Petrus, ia juga menghianati Yesus yang telah memberkati kepemimpinan Petrus.

 

Kehambaan dirinya membuat Paulus merasa berat hati melakukan tugas pemberitaan, terutama untuk membela Petrus dan Sidang Jemaat, yang makin hari tidak menyukai agresifitasnya yang tidak etis terhadap imamat yang sah dan yang telah diberkati oleh Yesus sendiri.  Sementara ia sangat suka didengarkan saat ia berbicara di hadapan orang-orang. Ia amat terobsesi dengan menjadi orang suci di mata orang-orang yang ia datangi. Menunjukkan kebolehan dalam penguasaan ayat-ayat kitab-kitab sudah menjadi kegemaran yang tidak mungkin di hilangkan dalam diri Paulus. Sejak kecil ia sudah dilatih untuk menyukai dan memandang penting hal-hal seperti itu dalam lingkungan Farisinya yang dikenal paling taat kepada adat-istiadat nenek moyang.

 

Ketika ia mendapat tugas di Yunani bersama dengan pasangannya Barnabas, dalam keadaan hati yang panas namun tidak bisa berbuat apa-apa itu, panas hati yang ia telan itu, ia mulai dijamah oleh Iblis yang telah menyiapkan konsep Vampirisme untuk Paulus. Ia akan ditarik keluar dari Jemaat Petrus, bahkan ia akan digunakan untuk menyaingi jemaat yang menggenapkan pengajaran para nabi. Bahkan akan membinasakannya untuk kedua kalinya, yaitu apabila misi Paulus nantinya mampu masuk dan menguasai kekerajaan Romawi.

 

Kuasa Iblis mempengaruhi beberapa orang Yunani yang datang dengan seorang imam rumah ibadat agama Zeus, untuk datang mempersembahkan hewan korban dan karangan bunga kepada Paulus dan Barnabas yang sedang berkotbah. Mereka mengira Paulus dan Barnabas sebagai Hermes dan Zeus. Secara reflek Paulus menjelaskan kepada orang-orang itu bahwa diri mereka bukanlah seperti yang dikira. Tapi kejadian ini cukuplah untuk menunjukkan kepada Paulus bahwa ia akan sangat mampu untuk menyaingi jumlah jemaat Petrus nantinya. Justeru disitulah intinya.

 

Ac 14:12  Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara.

Ac 14:13  Maka datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan korban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu.  

 

Mulanya, ia tidak begitu serius menanggapi inspirasi ini karena tidak mungkin ada dua jemaat dalam satu ajaran. Iblis lalu membisikkan: “setidak-tidaknya ada angin segarrrr….”. Paulus mengiyakan dan menyimpannya baik-baik, merasakan itu seolah-olah hanyalah bisikan hatinya. Barnabas tidak mengetahui adanya riak-riak ini dalam pikiran dan hati Paulus. Tentu saja ini rahasia pribadi. Iblis tersenyum melihat Paulus, calon anaknya itu. Anak yang cukup potensial untuk menghalangi kedatangan cahaya pengajaran para nabi kembali bertakhta di muka bumi setelah tenggelamnya Kerajaan Daud.

 

Kebelakang-belakang, kebencian terpendam kepada Petrus, Sidang Jemaat, dan Jemaat Jerusalem, membuat kejadian datangnya imam agama dewa Zeus diatas selalu hadir di benak Paulus: “Kalau saja aku boleh membuat jemaat sendiri, memisahkan diri dari mereka, aku akan merdeka dari mereka. Tidak perlu lagi bertuan kepada mereka. Panas hati yang selalu menyiksaku akan hilang.….

 

Ga 5:1  Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus (Kematian-kebangkitan, red) sama sekali tidak akan berguna bagimu.  

 

…. Bagaimana mungkin aku mejalani pekerjaan ini dengan sakit hati setiap waktu? Setiap pembelaanku untuk mereka adalah sakit hati yang harus aku telan. Ini tidak mungkin. Mengapa aku begini? Mengapa aku tidak sanggup tunduk kepada mereka? Mengapa aku memandang muka? Apakah aku termasuk manusia yang sombong di mata Tuhan? Apakah aku akan melawan Tuhan? Bagaimanakah takdirku di kemudian hari?....

 

Iblis memperhatikan pikiran Paulus, ia hadir dalam pikirannya menyamar sebagai malaikat. Lalu segera memberikan hiburan: “Paulus, kamu pantas merasa seperti itu terhadap mereka. Mereka memang bodoh. Mereka sangat kaku dalam mengelola jemaat, lantaran mereka hanya bisa menangkap ikan di laut, tidak mengenyam pendidikan, bukan? Ide-ide mereka kaku dan buntu, bukan? Jangan merasa bersalah. Mereka hanya tahu apa yang diajarkan saja, selain itu mereka tidak tahu. Mereka tidak seperti kamu. Kamu sangat bijaksana dan mempunyai pengetahuan yang luas serta sangat dalam. Kamu bisa melacak hikmat dengan pikiranmu yang tajam itu, sedangkan mereka tidak bisa melakukannya. Tapi aku akan mengajarkan kamu bagaimana memelintir-melintir hikmat, hehehe. Apakah aturan main keimamatan yang menghalangi kamu, wahai Paulus? Jangan khawatir, itu bukan hambatan. Karena kamu akan dimerdekakan dari mereka. Setelah itu kamu tidak perlu lagi berhamba kepada mereka. Sakit hatimu akan hilang. Semua beban yang memberatimu akan dilepaskan”

 

Paulus jadi bersemangat …..

 

“Janji kerajaan kepada Israel sudah tidak bisa direalisasikan setelah mereka menolak Yesus - utusan dan peringatan terakhir yang dikirim kepada mereka itu. Israel sudah tidak mungkin dirubah. Sebelumnya mereka kera, sekarang mereka sudah berubah menjadi batu. Kalaupun mereka menerima Yesus, mereka akan hidup dalam derita dan tekanan jiwa sepanjang hidup mereka, karena hukum yang bisa diberlakukan kepada hati mereka yang bebal itu hanya hukum-hukum yang keras dan mereka akan terkesan sangat terhina dengan pemberlakuan seperti itu. Lihatlah hukum yang diterapkan oleh Yesus Nazareth itu, hukum cungkil mata.”

 

Mt 5:29  Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.  

 

“Jadi bagaimana cara mengangkat Israel kembali? Apakah mereka akan terkutuk selama-lamanya lantaran penolakan itu?

 

“Tidak juga. Kamulah yang akan menyelamatkan mereka”

 

“Maksudnya?” Paulus antusias.

 

“Mereka hanya terkutuk terhadap Taurat dan Hukum. Dan itu bisa diatur. Hehehe”

 

Paulus langsung nyambung. “Oh iya!! YESS!!” katanya. “Sebagaian beban di punggung saya berguguran, tuan!”, katanya bersemangat.

 

“Bagus, kamu memang pintar. Nalar kamu memang tinggi. Itulah kemerdekaan, Paulus.”

 

Paulus merasa sangat bangga. “Kenapa ini tidak pernah terpikir olehku selama ini ya?” bisik Paulus kepada dirinya sendiri. Tapi didengar dengan jelas oleh Iblis itu dan membuatnya tertawa terbahak ….

 

“HAHAHA. Manusia tidak akan bisa menemukan jalan yang ‘hakiki’ kalau tidak diberi petunjuk. Makanya petunjuk itu disebut karunia”.

 

“Baiklah’ kata Paulus agak kaget diketahui pikirannya. “Jadi aku harus keluar dari Taurat dan Hukum? Bukankah itu murtad, tuan?”

 

“Kalau tidak, kamu akan terikat dengan perjanjian yang menjunjung tinggi Taurat dan Hukum. Itu artinya kamu akan tetap terkutuk. Apakah kamu ingin berstatus terkutuk? Waktu untuk Taurat dan Hukum sudah habis bagi Israel. Israel sudah tidak mungkin ‘dihidupkan’ dengan Hukum. Atau, mereka sudah mati. Mereka tidak akan sanggup. Lagi pula masuk ke yang ‘lebih baik’ itu bukan murtad namanya, justeru terpilih. AHAHAH”.

 

“Baiklah. Lalu apa penggantinya, tuan? Dan bagaimana itu disebut benar?”

 

“Hehehe, aku segera menganugerahkannya kepadamu. Masalah bagaimana itu disebut benar, nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya. Hari ini aku mengangkat kamu sebagai rasul” malaikat samaran itu berlagak serius.

 

JELEGGEEERRRR!!!! Paulus merasakan seperti ada petir melintasi jagad raya di hadapannya dengan suara gelegar yang dahsyat setelah mendengar pernyataan itu. Tak lama kemudian seolah-olah serasa dihembus oleh angin yang paling sejuk yang pernah ia rasakan. Ia tak mampu berkata-kata. Serasa bunga-bunga berjatuhan, berterbangan menerpa tubuhnya yang berada dalam spot light di tengah-tengah alam yang tiba-tiba menjadi gelap hanya menampakkan dirinya. Bunga-bunga tersebut berjatuhan dari sumber cahaya spot light itu. Paulus mabuk. Melayang-layang. Kontan ia merasa merdeka dari Petrus, dan melihat Petrus begitu kecil di hadapannya. Ia melihat juga bagaimana ia mengejar jumlah jemaat Petrus lalu meninggalkannya jauh di belakang. Ia seperti sedang menonton film tentang kemerdekaan dari penjajahan. Sakit hatinya lenyap seketika, diganti oleh semangat yang menggebu-gebu untuk memulai suatu jemaat yang baru, dengan perjanjian yang lebih baru lagi. Untuk membuktikan bahwa dirinya lebih hebat dan lebih mampu dari Petrus. Ia akan membuktikan bahwa selama ini memang ia selalu benar, tidak pernah salah. Iblis tertawa terbahak-bahak melihat Paulus yang mabuk kepayang. Kali ini Paulus tidak dibiarkan mendengar tawanya.

 

“Tapi bagaimana konsep perjanjian yang lebih baru ini” Paulus bertanya kepada malaikat samaran itu.

 

“Konsepnya: KEMATIAN-KEBANGKITAN!! ……”

 

Sementara, perjanjian baru Yesus adalah pernjanjian yang menghormati hukum Taurat dan pengajaran para nabi ….  Mt 5:17  "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.  

 

“Kematian-kebangkitan?” kata Paulus, “Hmmm?… berarti…. mati dari Hukum Taurat, termasuk mati dari pengajaran Yesus, lalu bangkit hidup dalam hukum …….. bangkit dalam hukum apa, tuan?”

 

“Tidak ada hukum!! Pokoknya ‘KASIH!!’ Bilang aja hukum kasih, titik!!”

 

“Hmmm?Letak ‘kasih’ nya? Kok saya agak bingung nih?”

 

“Gini lho Paulus, kalau kamu berada dalam tubuh ‘jemaat yang lebih baik’ dengan roh penghidup yang ‘lebih baik’ seperti yang aku sedang ajarkan kepada kamu ini, berarti kamu berada dalam ‘KASIH’, yaitu ‘KASIH KARUNIA’”.

 

Oh .. jadi KASIH disini memangnya harus diterjemahkan ‘kedalam’ ya? Kok begitu? Kasih itu setahu saya,  ‘memberi’, ‘berbuat’, ‘berkorban’…. Bisa tuan jelaskan? Saya agak keder.”

 

“Ini bukan Hukum Taurat!! Kalau Taurat, kasihnya ‘keluar’; perbuatan, memberi, berkorban. Kita bukan kasih-memberi. Kasih kita ‘kedalam’; menerima dan bukan perbuatan. Kita kasih-diberi. Enakan mana coba, kasih-diberi atau kasih-memberi?!”

 

Paulus tidak menjawab, hanya mengikuti dengan seksama. Supaya dia mengerti betul maksudnya, walaupun dia sendiri merasakan hal ini agak aneh di hati nuraninya. Bahkan aneh sekali.

 

“Sudah sudah!!, jangan pake hati nurani!!” kata malaikat samaran ini, mengetahui pikiran Paulus.  “Kalau kamu pake nurani, nantinya kamu akan kembali kepada hukum Taurat lagi. Kita harus berlawanan dengan Hukum Taurat, bukan? Makin jauh dari Hukum Taurat makin jauhlah kita dari kutukan, bukan? Hari ini aku mengajarkan kepada kamu bahwa perbuatan itu tidak dapat menyelamatkan. Kita harus melupakan Hukum sekarang. Hanya imanlah yang menyelamatkan. Ucapan syukur dan pujian di bibir lah yang menyelamatkan. OK? Kamu dan pengikutmu nggak usah capek-capek dengan berbagai perbuatan. Ya … nanti kalau ada konflik dikit-dikit dalam ajaran tidak apa-apa lah. Yang penting kan kita meninggalkan hukum. Agak bersesuaian dengan nafsu manusia. Gimana? Asyik khaaannn??” Iblis itu tersenyum sambil memainkan alisnya yang hitam pekat.

 

“Tapi tuan, bukankah orang yang tidak mengenal hukum adalah orang yang tidak mengenal Tuhan? Dan bukankah Yesus sendiri mengatakan bahwa pada hari terakhir manusia akan dihakimi berdasarkan perbuatan?”

 

2Pe 3:17  Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.  

 

Mt 16:27  Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.  

 

“Shut up!! Allah sudah meninggalkan kalian! Sekarang, kalau Dia mau memberi kalian bagian, kalian hanya akan dikasih sisa-sisa oleh-Nya melalui bangsa lain yang akan dia pilih untuk menggantikan kalian! Tapi …. aku akan menghindarkan kamu dari mendapatkan sisa-sisa itu. Kamu akan mempertahankan nama baik Israel dan akan menentukan sisa-sisa untuk siapa yang kamu mau kasih sisa-sisa. Camkan itu baik-baik. Dan Yesus manusia itu, dia sudah membuat hukum yang menghina kalian, menghina Israel. Congkel mata, lempar ke dalam laut, dan masa baru mikirin cewek saja kamu terhitung berzina? Kalian akan hidup dalam tekanan jiwa sepanjang hidup kalau mengikuti dia. Lagi pula, dengan ikut Yesus manusia itu, kamu menjadi hamba Kefas! Mau? Masa seorang calon imam menjadi hamba tukang ikan? Gengsi dong ….. Sekarang akulah tuhanmu, akulah penolongmu, wahai Paulus anakku. Ingat juga itu baik-baik. Akulah Yesus yang sebenarnya, yang patut kamu ikuti. Aku ini bukan yesus-manusia, tetapi yesus rohani yang ikut nemplok ditubuh yesus Nazareth itu. Akulah maksud dari semua peristiwa itu. Yesus Nazareth itu tetap mengajarkan hukum akal budi. Sedangkan aku mengajarkan hukum roh yang lebih tinggi lagi, hehehehe. Dia adalah untuk orang-orang mengharapkan berkat melalui hukum akal budi yang rendahan. Tapi kamu harus menjadi berkat bagi orang-orang melalui hukum roh yang lebih tinggi ini. OK?”

 

“Maafkan saya, tuan, yang masih sangat diliputi oleh Hukum Taurat. Maklum saja saya dibesarkan dalam tradisi itu”

 

“Kamu dimaafkan anakku, karena aku mengasihimu, karena kasihku sangat besaaaarrrr untukmu, HAHAHAHAHAHA. Untuk sementara, pelajaran kita sampai disini dulu. Dicerna baik-baik yang sudah diterima. I’ll be back, lho”.

 

“Mau kemana? Kapan ketemu lagi, tuanku?” tanya Paulus.

 

JRENG…..!! Malaikat samaran itu menghilang, tidak memperdulikan pertanyaan Paulus. Tapi ada suara tawa malaikat samaran itu yang menggema …..

 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1