MEMBINASAKAN HIV
Oleh: NMA Kita harus
akui dihadapan Tuhan bahwa HIV adalah ‘form of life’ yang terbentuk dan
tiba-tiba muncul akibat dari perbuatan-perbuatan
kita yang tidak selaras dengan hukum keseimbangan yang bersemayam di
seluruh tubuh alam semesta ini, termasuk yang bersemayam di bumi kita. Hukum keseimbangan itu bisa dikatakan
roh yang ditiupkan oleh Tuhan sendiri untuk menjadi dasar segala keselarasan
atau bahkan disebut Kehendak Tuhan,
yang tidak boleh dilanggar oleh
manusia dalam aktifitas kehidupannya, karena akan menimbulkan konsekwensi
yang buruk bagi manusia sendiri yang di hidup di muka bumi.
AGAMA disusun oleh para nabi supaya kita mempunyai cara hidup yang sedemikian rupa agar kita menjalani kehidupan yang TETAP berada dalam batas-batas, supaya kita AMAN. Hidup yang seperti itulah yang disebut dengan hidup dalam kesalehan, hidup dalam keridhoan. Inilah hidup yang diizinkan. Kita berada di territorial kekuasaan dan Kerajaan Tuhan, kita harus mengetahui cara hidup yang diizinkan-Nya, sebab kita sudah terjalin menjadi satu dengan pola dan Hukum Keseimbangan. Kita perlu seorang nabi untuk mengulangi pekerjaan nabi-nabi terdahulu untuk merakitkan kita suatu cara hidup yang diizinkan oleh Tuhan, bagaimana kita menggunakan Kitab Tuhan, untuk zaman kita sekarang ini hingga 1000 tahun ke depan. Kesalah-pahaman kita tentang Kehendak Tuhan telah membuat kita melakukan banyak hal yang bertentangan dengan hukum keseimbangan yang tidak boleh dilanggar itu. Jadi kita sendirilah yang telah menciptakan life forms yang tidak diharapkan itu masuk dalam kehidupan kita. PERBUATAN-PERBUATAN kita lah yang telah menjebol dinding yang membatasi antara dunia kita dengan dunia HIV, termasuk bibit-bibit penyakit yang muncul sebelumnya dan yang akan muncul di masa-masa mendatang. Itulah akibat dari kita tidak mengenal Kehendak Tuhan, dengan kita selalu melanggar Hukum Keseimbangan. Kita telah salah-paham tentang bagaimana cara mencari kebahagiaan, kita telah salah-paham tentang bagaimana jalan mendapatkan keuntungan dalam hidup, kita telah salah-paham tentang jalan memperoleh kepuasan. Kita telah salah-paham tentang bagaimana mencapai keberartian hidup dan kemuliaan. Dalam satu perkataan: kita telah salah-pahan tentang bagaimana berbakti kepada Tuhan. Disinilah letaknya maksud penulis bahwa kita salah-paham tentang Kehendak Tuhan. TAPI ….. walaupun Tuhan mencambuk dan menghukum kita atas PERBUATAN-PERBUATAN kita yang telah lalu, serta merasakan kepada kita, juga menguji kita, dengan akibat pahit dari PERBUATAN-PERBUATAN kita itu, Dia tidak membenci kita. Dia hanya menginginkan kita kembali lagi kepada-Nya, karena Dia mencintai kita. Kita mesti bersatu dan bertemu dengan-Nya dalam kehendak, satu dalam kehendak, yaitu hidup selaras dengan hukum keseimbangan (kalau secara fisik kita adalah satu dengan Tuhan karena kita adalah ciptaan-ciptaan-Nya) supaya kita tidak menjadi ‘benda asing’ dalam TUBUH TUHAN. Kalau kita ‘benda asing’ bagi Tubuh Tuhan, berarti kita adalah bagian dari tubuh bukan-Tuhan, dan selain dari Tuhan itu adalah Iblis. Mari kita perhatikan perkataan-perkataan ini:
Dengan mengombinasikan dua sifat Tuhan ini, dengan amat yakin, kita akan bisa menyimpulkan bahwa AIDS itu ada obatnya. Untuk menyembuh-tuntaskan, bukan hanya sekedar untuk mempertahankan status ‘negatif’, tetapi benar-benar untuk membunuh HIV itu sendiri sampai tuntas dalam tubuh manusia. Dengan keyakinan seperti itu, dan dengan berharap kepada ampunan dan rahmat Tuhan, seseorang harus menemukan obat untuk membunuh HIV ini. Mudah-mudahan dengan kata-kata yang sederhana ini, penulis telah memberikan semangat dan dorongan kepada para ilmuwan yang terkait untuk terus berjuang menemukan obat pemusnah HIV. Salam |