�
| |
Artikel - Edisi 14 Oktober 2001 |
| Sepenggal Catatan �Dari Negeri
Minyak� Puisi Keperihan yang Lahir di Tengah Benturan Teks Oleh SONI FARID MAULANA sudah
terlalu lama suaramu kumimpikan
DIAKUI atau tidak, globalisasi informasi telah membawa kita pada sebuah dunia yang penuh dengan �ledakan-ledakan� yang diakibatkan oleh terjadinya berbagai benturan teks. Bunyi ledakan tersebut ada yang membuat jantung kita hampir copot karenanya, atau malah sebaliknya membuat diri kita gembira.Boleh jadi di satu sisi, akibat dari terjadinya benturan teks tersebut, bisa menimbulkan gangguan pada diri kita, yakni kita merasa hidup di tengah-tengah bahaya. Tentang hidup di tengah-tengah bahaya ini, dikatakan Yulia Kristeva dalam bukunya, Power of Horor, yakni kita berada di tengah-tengah situasi kegilaan, penuh dengan kekerasan, bercak darah, dan kematian. Kiranya secara esensial situasi semacam itulah yang terungkap dalam antologi puisi Dari Negeri Minyak (Dewan Kesenian Indramayu, 2001), yang ditulis oleh sejumlah penyair Indramayu saat ini. Terbitnya antologi ini, setidaknya bagi saya merupakan sebuah tanda, bahwa di tengah-tengah denyut kehidupan, kebudayaan, mental dan spiritual yang serba kelam ini � selalu ada dan bahkan selalu lahir orang-orang yang menentang arus tersebut. Orang yang demikian itu � adalah orang senantiasa berada di tengah-tengah arus kesadaran, tidak mau ikut-ikutan gila memperkeruh situasi. Untuk itu, tak aneh kalau ditengah-tengah kondisi yang serba muram, kelam, dan serba tidak pasti itu � Yohanto A. Nugraha lewat puisinya yang terdapat dalam antologi ini, lebih khususnya lagi lewat sebuah karyanya berjudul Lirik Airmata (2001) berseru kepada segenap jiwa mengharapkan rasa cinta hadir sebagai sesuatu yang nyata, yang mampu meredam segala rasa marah, juga membungkam segala tindak kekerasan yang selalu menuai amis darah. Petikan puisi di atas bisa ditafsir demikian � bila hal tersebut dilihat dari jendela yang lain. Sebuah puisi, apapun tema yang ditulisnya, seperti dikatakan Joseph Brodksy, selalu memberikan banyak ruang dan jendela, juga pintu untuk dimasuki oleh apresiatornya. Lantas timbul pertanyaan, puisi sebagai teks, yang banyak pintu dan jendela itu apakah bisa mengatasi berbagai kejahatan yang diakibatkan oleh terjadinya benturan bermacam teks dalam kehidupan kita dewasa ini? Tentu saja kita boleh-boleh saja berharap demikian bahwa puisi mampu mengatasi persoalan tersebut. Namun pada sisi yang lain, kita harus segera pula sadar diri dan sadar ruang bahwa kita tidak bisa mengharap banyak pada puisi; bahwa puisi mampu mengatasi berbagai persoalan sebagaimana yang diharapkan oleh pertanyaan di atas. Kedudukan puisi dalam konteks semacam itu � sekali lagi, hanya sebuah harapan � atau semacam impian yang bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi akal waras kita. Sesuatu itu, yakni, semacam sinyal agar nurani kita senantiasa waspada dalam menghadapi berbagai hal yang serba kelam. Atau setidaknya, pada saat-saat tertentu, ketika kita sejenak menyisih dari dunia ramai, dan tenggelam dalam keheningan, puisi diharapkan mampu pula memberikan nilai-nilai pencerahan bagi batin kita yang sumpek. Dengan adanya harapan semacam ini, ini tidak berarti kita mendewakan 1*) kedudukan puisi lebih penting dari teks-teks lainnya yang bersumber dari kitab suci. Tidak. Tidak demikian. Dan dengan demikian pula, teks puisi tentu saja berbeda dengan teks kitab suci. Puisi adalah gelombang perasaan, luapan emosi yang direnungkan dan diberi bentuk ketika diekspresikan oleh penyairnya, yang secara tekstual berbeda pula dengan teks-teks berita, jurnal-jurnal sosial politik, dan sebagainya. Apalagi dengan teks kitab suci yang datangnya dari langit sana. Berkaitan dengan hal tersebut, lewat antologi ini, lepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, saya mendapatkan berbagai panorama batin yang diekspresikan oleh para penyairnya. Mereka lewat antologi ini, tidak hanya mengetengahkan persoalan cinta, renungan sosial, dan religius saja. Ada juga yang mengetengahkan tema-tema alam, yang boleh jadi hal yang demikian itu � sekarang ini nyaris luput dari perhatian kita selama ini � karena kita begitu sibuk menangkis berbagai akibat dari terjadinya berbagai benturan teks dalam diri kita sendiri sebagaimana yang kita alami dan kita saksikan selama ini. Dalam pandangan saya, Sri Sunarti lewat puisinya Silhuet (2001) dalam antologi ini lebih memperhatikan tema-tema alam daripada tema-tema lainnya. Tema yang diungkapnya itu, boleh jadi nyaris tenggelam di tengah-tengah tema lainnya, seperti tema sosial politik dan penyelewengan hukum yang kian marak diperbincangkan orang. Perbincangan hal tersebut kini bukan hanya sebatas wacana saja tetapi telah pula menjelma menjadi aksi dan reaksi. Sri yang menghindar dari persoalan-persoalan yang demikian itu, lewat puisinya itu berkata: Ada bias merah/ tegak lurus/ Menerpa hamparan bumi/ sekilas halimun menutupi// Ada bias merah/ membentuk garis-garis/ Bagai kilatan kristal/ turun menyambangi/ pagi// Atau seperti puisi lainnya masih dari penyair yang sama, di bawah ini:� Kemilau Aku berjalan di arak gerimis
Tentu saja, apa yang diungkap oleh Sri lewat dua buah puisinya itu, bukanlah sebuah pelarian, jika ia memang menghindar dari tema-tema sosial politik dan penyimpangan hukum dalam pengertian seluas-luasnya. Ia adalah sebuah muara untuk katarsis, yang menyadarkan kita � bahwa keterikatan manusia dengan alam tidak bisa diputus oleh apapun, kecuali jika oleh kematian yang datang menjelang. ** ADALAH S.A Kierkegaard, filsuf Denmark, yang mengatakan bahwa pada akhirnya manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dan pilihan yang diambilnya itu tentu saja bersangkutan dengan baik dan buruk, yang kemudian setelah itu; ia harus mampu menentukan keberpihakannya atas apa yang dipilihnya itu. Kalau kita sependapat dengan apa yang dikatakan Kierkegaard, maka diakui atau tidak � apa yang diucap oleh para penyair Indramayu yang karya-karyanya terdapat dalam antologi ini, merupakan sebuah pilihan atas sebuah sikap apapun namanya dalam mereaksi suatu hal yang berdenyut di seputar hidupnya. Yang menjadi masalah sekarang adalah seberapa jauh atau seberapa sungguh-sungguhkah para penyair ini telah menentukan sikapnya dalam memaknai hidup atas apa yang dipilihnya itu? Berkaitan dengan hal tersebut tak bisa disangkal adanya sebuah makna yang bisa memikat kita dari sebuah puisi yang kita baca itu, antara lain disebabkan atau ditentukan oleh adanya sikap yang tegas dari penyairnya dalam mereaksi sebuah persoalan yang menghampiri dirinya secara khas dan personal sifatnya. Dengan kata lain, yakni dirinya mampu memposisikan pikiran dan perasaannya secara signifikan ketika berhadap-hadapan dengan berbagai gejolak hidup dan kehidupan yang kian memanas, dan kian berantakan bangunan moral yang dihadapinya, yang selama ini idealkannya. Penyebab terjadinya semua itu, bukan semata-mata ditentukan oleh berhasilnya manusia dalam mencipta, menguasai, sekaligus menyalahgunakan canggihnya teknologi dalam pengertian seluas-luasnya. Akan tetapi lebih ditentukan oleh sebuah sikap yang bersebab pada jiwa yang limbung, yang mengabaikan pentingnya nilai-nilai silaturahmi, religiusitas, dan spiritualitas dalam kehidupan kita dewasa ini. Apa yang direaksi oleh sejumlah penyair Indramayu ini � terlihat jelas lewat puisi-puisinya yang perih, yang lahir di tengah-tengah benturan teks lebih khususnya lagi dengan latar belakang menjelang tumbangnya rezim Orde Baru hingga berkuasanya rezim Reformasi yang juga belum memberikan kepastian hidup, hukum, politik, ekonomi, maupun budaya bagi rakyatnya. Lebih jelasnya, berlangsungnya gegap-gempita pembangunan yang terjadi di hadapan kita selama ini, selalu berjalan dengan dua kutub magnit yang selalu bertolakbelakang; yakni terjadi berbagai hal yang bersifat kontradiktif, gelap-terang, bahagia-menderita, tenang-teror, dan berbagai hal lainnya. Sungguh cermat, dalam sebuah esainya Mesin Hasrat: Libido, Ekstasi, dan Kegilaan 2*) pakar postmodernisme dari Bandung, Yasraf Amir Piliang mengungkapkan hal itu, bahwa: di dalam politik, misalnya, logika sado- masokisme telah menjauhkan politik dari tatanan etika. Politik menjadi semacam politik kekerasan terhadap diri sendiri (rakyat sendiri) � sado-masokisme politik. Penguasa mengembangkan di dalam dirinya fantasi-fantasi politik dan kekuasan, dan mengaitkan fantasi ini dengan logika mempertahankan diri (death instinct), dengan logika penghancuran, termasuk penghancuran rakyatnya sendiri, bangsanya sendiri; penghancuran yang radikal, destruksi dalam wujudnya yang ekstrem, yang di dalamnya nilai kemanusiaan lenyap selamanya. Mesin-mesin kekuasaan yang dikuasai oleh hasrat yang telah lepas kembali menjelma menjadi sebuah mesin penghancur yang menakutkan � the destructive machine. Gambaran dari dunia yang demikian itu, digambarkan Yasraf dengan penuh penghayatan. Untuk itu, apa yang dikatakannya dalam esainya itu � menjadi penting untuk kita cermati, sekaligus kita jadikan ujung tombak, golok, atau apa saja � untuk membongkar jiwa kita sendiri; seperti apa wujudnya di tengah-tengah hidup segelap ini. Adanya keinginan menjadikan jiwa kita sebagai ujung tombak untuk membongkar segala arus kesadaran, agar kita senantiasa aktual dan senantiasa signifikan dengan keadaan zaman yang melingkupinya, setidaknya diisyaratkan pula penyair Acep Syahril dengan bahasa yang lain, lewat puisinya Surat Reformasi untuk Ida (1998). Dalam puisinya itu, Acep antara lain pada salah satu baiknya berkata: ida hari ini orang-orang menuliskan sejarah dengan/ genangan darah atau air mata di antara kebengisan/ wangi nyawa dan tebaran kemboja spanduk dan/ grafiti terus bicara di situ hati nurani berkumandang/ terang seperti kilatan-kilatan mata pedang kobaran amarah/ membakar segala dinding jiwa kata-kata berubah/ jadi api yang menghanguskan lapar dan ketertindasan/ para penjarah yang dulu tertawa kini kembali dijarah/ wajah mereka pucat kota-kota jadi satu warna/ riuh gemetar//. Kemelut sosial-politik tanpa hati semacam itulah � yang membuat kita terperangah dan segera kita tersadar karenanya, bahwa kita hidup di tengah-tengah bahaya, yakni terkikisnya persoalan-persoalan religius, mental dan spiritual, yang menyebabkan kita bisa kehilangan arah dalam bertindak. Untuk itu itu tak aneh kalau Agus Supardi, dalam konteks yang lain lewat puisinya Nestapa (11/00) bicara pula seperti ini: Di tanah kering bulan sandar/ tanpa cahaya/ Duka daun, sungai geram bertanya: siapa salah?// Nestapa bunda, putranya gamang dihela masa/ Nestapa nalar sukmaku, menatap buih dan langit jelaga// Siapa bakar kota!/ Nestapa angin, kabarkan kematian cinta kita atas amanah hidup ini// Demikian pula Supali Kasim dalam puisinya di bawah ini berkata:� Surat-surat Sunyi tak tercatat dalam memori, berapa kali
� Begitulah setangkai makna bisa dipetik dari paparan-paparan puisi yang dilahirkan oleh para penyair Indramayu, yang kini hadir dan mengalir di tengah-tengah sejarah puisi Indonesia kini � yang keberadaannya tidak lagi didominasi oleh para penyair yang hidup di kota-kota besar seperti Jakarta, Denpasar, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Lampung, serta beberapa kota lainnya. Indramayu bangkit dalam dunia sastra, seiring dengan kembangkitan sastra di Tasikmalaya dan juga Cirebon, yang antara lain di dua kota tersebut dimotori oleh Acep Zamzam Noor, Saeful Badar, dan Ahmad Syubbanuddin Alwy. ** PAUL VALERY dalam esainya Mata Pelajaran Puitik 3*) mengatakan, bahwa karya-karya jiwa manusia, sajak atau yang lainnya, hanya dapat dihubungkan dengan sesuatu yang melahirkan dirinya sendiri, dan sama sekali tidak dapat dihubungkan dengan apapun yang lainnya. Ini artinya kondisi psikologis yang disebabkan oleh lingkup sosial politik yang melatari jiwa penyairnya adalah merupakan sebuah sumber dari lahirnya puisi-puisi yang terkumpul dalam antologi ini. Tema-tema yang demikian sangat terasa pula dalam sejumlah puisi yang ditulis oleh Moh. Herry Saripudin, Syarofin Arba MF, Abdul Aziz Ha Em El-Basyroh, Dedi Apriadie Raswin, Nurochman Sudibyo, dan Saptaguna � dengan gaya pengucapan yang variatif tentunya. Memang betul bahwa hal-hal yang bersifat religiusitas terasa semerbak dalam sejumlah puisi Abdul Aziz Ha Em El-Basyroh, tapi pokok pembicaraan dari puisi-puisinya itu � ternyata tidak lepas dari hal-hal yang bersifat kontekstual dengan keadaan zaman yang melingkupi jiwa penyairnya, baik seperti yang diungkap dalam puisinya Tadarus Kematian, Airmata Masjid, maupun Balongan. Demikian pula dengan Syarofin Arba MF, sekalipun tidak eksplisit menyatakan persoalan tersebut, namun sangat terasa getarnya, penuh dengan daya pukau dan renungan yang memikat sebagaimana terungkap dalam puisinya di bawah ini:� Dari Halaman Rumahmu apalagi yang kau isyaratkan diammu mengungkit kecemasan apalagi yang kau gumamkan
Ya saat ini, kita memang hidup di sebuah negeri yang sarat dengan penyelewengan hukum, tindak kekerasan, korupsi, manipulasi politik maupun ekonomi. Boleh jadi negeri yang demikian itu, di satu sisi adalah juga negeri antah berantah, sebuah negeri yang berada di luar hal-hal yang kita idealkan selama ini. Negeri semacam itulah rupanya yang ditentang keberadaannya oleh para penyair yang menyuarakan kedalaman hatinya lewat antologi ini. Paling tidak, demikianlah uraian singkat atas pembacaan yang singkat pula terhadap antologi ini, dengan mengesampingkan pembicaraan hal-hal yang bersifat teknis tentang apa dan bagaimana puisi harus ditulis. Hal ini dikesampingkan, karena setiap penyair pastilah punya argumennya sendiri, mengapa saya menulis seperti ini, dan tidak menulis seperti itu; atau tidak mau terseret oleh arus besar perpuisian Indonesia, yang jalur pengucapannya telah dan tengah dirintis antara lain oleh Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail, dan Sutardji Calzoum Bachri. Hal yang menarik dicermati dari antologi ini adalah, lepas dari segala kelemahan dan kelebihannya, yakni tidak sibuk dengan berbagai upaya menemukan gaya pengucapan baru, yang sering dibilang orang bereksperimentasi. Rata-rata para penyair yang mengekspresikan karya-karyanya dalam antologi ini lebih memperhatikan kedalaman dari tema-tema yang diungkapnya. Dengan demikian puisi-puisinya menjadi terasa hidup, penuh daya pesona, dan kadang menggetarkan, dikarenakan para penulisnya mengenal betul letak dan sisi tema yang hendak ditulisnya. Semoga dengan terbitnya antologi ini, kelak dikemudian hari disusul dengan terbitnya antologi puisi tunggal dari para penyair yang ada di dalam antologi ini. Dengan demikian wajah kepenyairan mereka akan semakin tampak wujudnya, baik dalam bersikap, maupun dalam hal mengekspresikan perasaan batinnya secara estetik. Dan puisi, sekalipun dunia rekaan, ia lahir bukan dikhayal-khayalkan, ia senantiasa berhubungan erat dengan teks-teks lainnya yang berdenyut di seputar dirinya. Teks-teks itu adalah kehidupan itu sendiri. Adanya rujukan semacam inilah, yang menyebabkan antologi ini menjadi berharga untuk dibaca dan diambil maknanya. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah teks puisi Goenawan Mohamad yang berbunyi seperti ini:� Kwatrin Tentang Sebuah Poci 4*) Pada sebuah keramik tanpa nama itu Apa yang berharga pada tanah liat ini
Setidaknya, apa yang dikatakan oleh Goenawan Mohamad lewat puisinya itu, memberikan sebuah gambaran yang lain akan antologi ini, sebagaimana yang telah saya paparkan di atas. *** � Bandung, 7 Oktober 2001 1*) Bagaimanapun juga kedudukan puisi tidak bisa disejajarkan dengan teks-teks yang bersumber dari kitab suci. Sebagaimana dikatakan Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, dan juga Prof. Dr. A. Teeuw dalam beberapa esainya yang pernah saya baca, puisi adalah dunia rekaan. Saya sependapat dengan keduanya. Ia adalah sebuah dunia yang dihadirkan dari lintasan-lintasan pengalaman batin seseorang atas apa yang dialaminya selama itu. Ia bukan sesuatu yang turun dari langit sebagaimana para nabi dan rasul menerima wahyu dari Allah SWT. |