ajikusuma
�
Renungan
Jika seseorang menertawaimu, kamu bisa mengasihaninya;
tetapi jika kamu menertawainya kamu mungkin tidak akan
bisa memaafkan dirimu.
Jika seseorang menyakitimu, kamu bisa melupakan sakitnya;
tetapi jika kamu menyakiti dia kamu akan selalu ingat.
Sesungguhnyalah orang lain itu bagian diri kamu yang paling
sensitif dalam tubuh lain
Realitas seseorang itu bukan pada apa yang dibukakannya
kepadamu, tetapi pada apa yang ditutupinya darimu.
Karena itu, jika kau ingin memahaminya, jangan dengarkan
apa yang dikatakannya tetapi apa yang tidak dikatakannya.
Kau buta dan aku tuli dan bisu, jadi marilah bersentuhan tangan
dan mengerti.
Sebagian kita seperti tinta dan sebagian lagi seperti kertas.
Dan jika bukan karena hitamnya sebagian kita, sebagian kita
akan bisu.
Dan jika bukan karena putihnya sebagian kita, sebagian kita
akan buta.
Pikiran kita bagai spons; hati kita bagai sungai.
Bukankah aneh kebanyakan dari kita lebih senang mengisap
bukannya mengalir?
Dikutip dari Renungan-renungan Spiritual (Kahlil
Gibran)
Di tengah kebangkitan kesadaran spiritual di pelbagai penjuru dunia belakangan ini, ada pertanyaan menarik yang menyangkut eksistensi agama. Mampukah agama, menjadi alternatif solusi kebingungan dan kegelisahan masyarakat modern? Dapatkah agama, memuaskan dahaga spiritual masyarakat modern belakangan ini?
Deretan pertanyaan menggugat itu, penting dipaparkan. Sebab, agama pernah mengalami masa surut ketika terbelenggu pemahaman sempit dan formalis pemeluknya sehingga tidak mampu memecahkan persoalan kemanusiaan.
Kini, ketika masyarakat modern sedang berada dalam tahapan baru yang menempatkan spiritualitas sebagai alternatif pemecahan berbagai masalah modern, agama kembali mendapat perhatian. Belajar dari pengalaman sebelumnya, ketika agama ditinggalkan, kini agama mau tidak mau harus memberi jawaban �instan� yang langsung dirasakan manusia modern. Bila tidak, kejadian serupa -agama ditinggalkan- akan terjadi lagi.
Sekarang ini seperti dikatakan banyak ahli merupakan era bangkitnya "moral" sebagai tahapan baru setelah masyarakat modern memasuki post modernisme. Manusia, seperti disebut psikolog C.G. Jung, merasakan membutuhkan sesuatu yang disebut non-material, setelah segala kebutuhan material mereka capai namun tak pernah memberikan kepuasan.
Post modernisme, yang secara sederhana, setidaknya dari tahapan dianggap sebagai kelanjutan modernisme, memang memiliki ciri unik. Ada paradok yang sulit dipahami kaca mata awam, yaitu ketika rasionalitas yang menjadi ciri utama modernisme ternyata berjalan beriringan dengan semangat mistis (baca: spiritual) yang secara riil sangat irrasional. Tidak heran kalau muncul pernyataan bombastis yang sangat populer bahwa semakin rasional, manusia semakin bersikap mistis.
Semangat rasional yang menjadi basis berpikir dan bersikap pada masyarakat modern ternyata memerlukan semangat spiritual yang sangat irrasional. Kita menyaksikan, fenomena-fenomena menarik, ketika banyak masyarakat modern mendatangi pelbagai tempat-tempat keramat, pondok-pondok pesantren, orang-orang suci.
Secara sederhana, kita menyebut fenomena ini adalah gambaran bangkitnya semangat kemanusiaan. Ada titik balik, kesadaran kemanusiaan masyarakat modern, setelah terlalu lama berkubang dalam kehidupan rasional yang tak pernah memberi kepuasan. Ada kerinduan "kembali ke kampung halaman" pada masyarakat modern yang sangat rasional itu.
Kesadaran keagamaan
Berbeda dengan proses beragama konvensional, yang biasanya karena pengaruh dan faktor genetis, atau lewat akulturasi budaya serta bentuk-bentuk proses keterikatan beragama lainnya yang umumnya sederhana, kembalinya kesadaran keagamaan masyarakat modern yang bertitik tolak dahaga spriritual, berada dalam posisi berimbang (tawar menawar). Kesadaran keagamaan mereka, berangkat dari satu kesadaran kebutuhan spiritual dengan pertimbangan rasional.
Masyarakat modern saat masuk ke dalam semangat keagamaan baru bertitik tolak
pertimbangan matematis, untung rugi. Mereka memasuki semangat keagamaan apabila memang benar-benar dirasakan memberi manfaat, mampu memuaskan dahaga spiritual yang tidak mereka dapatkan di lingkungan mereka yang rasional.
Dengan pendekatan baru itu, agama apapun di dunia ini berada pada posisi sebagai layaknya "dagangan." Hanya agama yang benar-benar marketable, yang memberi kepuasan dan memenuhi dahaga spirituallah yang mendapat tempat atau yang menjadi pilihan masyarakat modern.
Pada konteks ini agama di seluruh dunia benar-benar diuji eksistensinya, apakah memang mampu memberi solusi persoalan kekeringan spiritual atau hanya sekedar menjadi semacam stempel dan identitas personal. Keterikatan keagamaan seperti dikatakan al-Qur'an benar-benar berada pada posisi yang jauh dari kesan memaksa atau kesan yang terkondisikan. Masyarakat memasuki agama dengan kesadaran penuh, berdasarkan pertimbangan kebutuhan spiritual.
Sepintas, kita melihat ada arogansi manusia. Namun, sebenarnya ini adalah bagian dari proses kesadaran kemanusiaan yang bertumpuh landasan hidup rasional. Untuk mendapatkan sesuatu yang irrasional, yang memuaskan dahaga spiritual, masyarakat modern menggunakan rasionalitasnya, pertimbangan untung ruginya. Keterikatan keagamaan sangat pragmatis, atas dasar tuntutan kebutuhan.
Agresivitas penyebaran agama, yang biasanya lewat pendekatan retorika, apalagi yang penggunakan rayuan-rayuan material, tidak cukup menarik bagi masyarakat modern. Agama tidak bisa lagi "dijajakan atau dipromosikan" lewat pendekatan syimbolik karena masyarakat modern kurang memperhatikan lagi formalisme beragama. Mereka membutuhkan kepuasaan batin yang riil dan bukan asesoris yang marak tapi kering secara rohani.
Persambungan
Salah satu ciri masyarakat modern saat sekarang ini adalah penggunaan perangkat rasio dan pertimbangan efektivitas, efisiensi pada segala segi kehidupan. Tidak ada sejengkal langkahpun yang lepas dari pertimbangan-pertimbangan rasional.
Dengan paradigma hidup seperti itu, maka kebutuhan masyarakat modern terhadap agama, tidak dapat lepas dari kebutuhan rasionalitas mereka. Ini artinya, walau pun manusia mencari nilai spiritual, namun mereka tidak akan pernah mengorbankan paradigma rasional yang menjadi basis sikap hidup mereka. Mereka mencari kepuasan spiritual yang tidak memaksa mereka meninggalkan rasionalitas yang sudah terbangun.
Di sinilah, terasa bahwa hanya agama yang memberi ruang gerak berpikir dan bersikap rasionallah yang akan menjadi sasaran pencarian semangat rohani. Hanya agama yang relevan dengan iklim berpikir dan semangat rasionallah, yang menjadi pilihan masyarakat modern.
Rasionalitas adalah kenyataan sosial yang tidak bisa diingkari masyarakat modern. Mengabaikan rasionalitas berarti melepaskan hidup dari kondisi kekinian. Dan, masyarakat modern, betapapun membutuhkan semangat rohani, tidak akan pernah lepas dari iklim sosial yang mensyaratkan kemampuan berpikir.
Di tengah kenyataan-kenyataan iklim sosial dan titik tolak kesadaran keagamaan masyarakat modern yang pragmatis itu, agama Islam sebenarnya bisa memainkan perannya. Sebagai agama yang menurut fisikawan nuklir Dr. Mahdi Ghulyani sangat memberi peluang dan mendorong semangat berpikir, Islam dapat hadir menjadi pilihan menarik kesadaran keagamaan masyarakat modern.
Tuntutan semangat spiritual dan kebutuhan pemuasan rohani yang tetap memberi peluang bersikap rasional, mendapat tempat cukup luas dalam Islam. Rasionalitas dibiarkan berkembang, beriringan dengan kebutuhan semangat spiritual manusia. Ada keseimbangan antara semangat esoterik dan eksoterik.
Secara obyektif, berdasarkan kenyataan-kenyataan ajaran Islam baik yang ada dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah, Islam memiliki potensi besar untuk memainkan peran di tengah kompleksitas masalah kemanusiaan saat sekarang ini. Tentu, kalau Islam tidak dicincang dengan pemahaman sempit sebatas fiqih yang lebih menekankan aspek ceremonialnya ketimbang khakekat Islam itu sendiri.***
Puasa saat Ber-mi�raj Ruhani
Mi�raj adalah diberangkatkannya seorang manusia untuk berdekatan dengan Allah, dan ini mungkin bisa dicapai. Terlepas dari banyaknya interpretasi tentang bertemunya Nabi dengan Allah (yang menurut saya pribadi sangat tidak mungkin) dalam kisah Isra Mi�raj, bisalah disimpulkan bahwa yang dimaksud mi�raj disini adalah perjalanan ruhani mendekati Allah.
(1)
Kenapa kita harus melakukan perjalanan? Pada esensinya, kita semua sedang melakukan perjalanan, dan perjalanan ini secara fitrinya kembali ke asalnya, yaitu Allah. Kita ini berjalan mendekati Allah dengan berbagai jalan yang berbeda, dengan pintu yang berbeda. Ada yang puas dengan perjalanan ibadah sosial, ada yang tenggelam dalam wirid dan tarekat, dan ada pula yang suka dengan pengayaan intelektual dalam seminar dan diskusi. Dari Dia-lah dan menuju Dia-lah kita kembali (Inna lillahi wa Inna Ilaihi roji�un). �Sesungguhnya aku sedang berangkat menuju Tuhanku dan Dia akan memberikan petunjuk padaku (QS 38:99)�.
Kenapa mesti ruhani? Seperti diungkapkan Rousseau, manusia yang kerjanya hanya berpikir semata adalah binatang yang dideprivasi. Pengagungan rasio dengan meninggalkan keruhanian melahirkan perasaan nihilis. Suatu tatanan teratur tanpa tujuan, canggih tapi rakus. Karenanya, jauh hari, Flaubert, seorang sastrawan Perancis, berkali-kali mengingatkan Immanuel Kant akan bahaya pemberhalaan rasionalitas dan budaya yang bakal dilahirkannya. Budaya yang nihilis, budaya yang kosong akan kesejukan keruhaniaan. Ini bertentangan dengan kodrat manusia itu sendiri. Manusia pada esensinya adalah makhluk dua dunia, dunia material dan dunia spiritual. Keduanya saling membantu manusia untuk membawa dirinya ke tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi, membawanya kembali ke asalnya. Itu sebabnya agama adalah fitrah manusia. Itu sebabnya pula, ibadah-ibadah dalam Islam disamping mempunyai aspek material (seperti ritual, sosial, kultural) juga secara bersamaan mempunyai aspek spiritual.
Setiap ibadah kita karenanya adalah suatu perjalanan ruhani, suatu mi�raj ruhani. Saat kita sholat misalnya. Di saat kita mengucap takbiratul ihram, di saat itu pula kita memulai mi�raj ruhani kita. Karena di saat itulah segala sesuatu yang bukan Allah disingkirkan dan dihancurkan. Seperti layaknya naik pesawat terbang, saat itu kita telah berpamitan pada dunia fana ini. Seperti ujaran Nietzsche, kita telah memalugodam �tuhan� menuju ke �Tuhan�. Perhatian kita lalu ditujukan semata pada Allah, dunia sekarang kita semata terpusat hanya pada Sang Pencipta. Kita kini sudah berada dalam pesawat terbang yang tinggal landas dengan tujuan akhir, menuju ke Allah. Bisakah kita sebagai manusia yang kualitasnya jauh di bawah Rasulullah mencapai mi�raj?
Dalam Qur�an disebutkan bahwa ada mereka yang dikaruniai anugerah demikian tinggi dengan bermi�raj yaitu mereka yang tergolong sebagai nafsul-muthma�innah, yaitu jiwa-jiwa yang tenang, yang damai, atau yang berbahagia. Sebagaimana disebutkan:
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah (bepergianlah) kamu semua kepada Tuhanmu. Tuhan kamu ridha pada kamu dan kamu pun ridha kepada Tuhanmu (dengan kata lain: kamu kembali ridha dan Aku memanggilmu juga dengan ridha). Maka mulailah bergabung dengan hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku dan kemudian masuklah ke dalam surga-Ku (QS 89:27).
Perjalanan inilah yang dimaksud Ibnu Arabi, sang Sufi Besar, dalam al-Futuhat al-Makkiyah, sebagai perjalanan senang hati, perjalanan kegembiraan, perjalanan keridhaan (ruju� ikthiari) yang dikontraskan dengan ruju idhthihari, perjalanan terpaksa, yaitu kematian. Perjalanan senang hati inilah mi�raj ruhani. Keridhaan Allah yang didambakan setiap insan muslim diberikan dengan senang hati oleh Allah kepada jiwa yang nafsul-muthma�innah, sebagaimana mereka pun berbahagia dengan keridhaan Allah. Mereka, karenanya, bergabung dengan hamba-hamba Allah, menjadi hamba-hamba-Nya, dan masuk ke surga-Nya. Ini pula yang mungkin dimaksud sebagai tingkat ketiga ibadah oleh Imam Ali bin Abi Thalib dalam salah satu mutiara ajarannya bahwa orang yang beribadah kepada Allah itu dibagi tiga. Yang pertama ibadah budak, yang dilakukan hanya karena takut dengan siksaan majikannya (dalam hal ini tentu saja Allah). Yang kedua ibadah pedagang, yang dilakukan hanya karena mengharapkan pahala. Dan kemuncaknya adalah ibadah orang merdeka, yang dilakukan hanya kecintaan dan rasa syukur mereka pada Allah. Ibadah terakhir inilah ini yang didambakan oleh Rabi�atul-Adawiyyah, seorang Sufi wanita masyhur sebagaimana syairnya:
Ya Allah, bila aku beribadah karena takut akan nerakamu
Masukkan aku ke dalamnya
Ya Allah, bila aku beribadah karena ingin akan surgamu
Tolakkan aku dari dalamnya
Ya Allah, bila aku beribadah karena Engkau semata
Masukkan aku bersama kekasih-kekasih-Mu.
Puasa, sebagaimana sholat, adalah juga suatu upaya mi�raj ruhani. Mi�raj inilah yang melahirkan manusia-manusia takwa, manusia dua dunia, spiritual dan material, manusia nafsul-muthma�innah. Bagaimana ini bisa berhubungan? Tujuan puasa adalah �supaya kamu semua menjadi orang-orang takwa� (QS 2:183) sedang manusia-manusia takwa adalah mereka yang �tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan di akhirat� (QS 10:62-64). Thus, orang taqwa adalah mereka yang disebut semula sebagai nafsul-Muthma�innah. Puasa, bila dilakukan secara benar, karenanya membawa kita bermi�raj, bersua dengan Kekasih, berasyik-masyuk dengan kecintaan dengan-Nya. Kita tidak lagi �mati� ruhani, mati spiritual, tak ubahnya mesin yang tenggelam dalam rutinitas sehari-hari, entah sebagai homo economicus atau homini lupus. Kita �dihidupkan� karena ruhani kita telah bertemu dan menjadi cahaya. Puasa melahirkan mereka yang �semula mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia"�(QS 6:122).
Disaat kita membaca niat berpuasa, seperti halnya takbiratul ihram, di saat itu kita pula beranjak meninggalkan nafsu negatif kita, mengarahkan nafsu kita ke arah yang positif, dengan kata lain mengontrol nafsu menuju tuntunan: �Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidupku, dan matiku lillahi Rabbil �alamin. Membuang nafsu adalah hal yang mustahil, sebagaimana yang telah dicoba oleh mereka yang suka uzlah dalam sufisme, dan mereka yang tenggelam asketisme kebiaraan. Mereka yang suka menyepi, seperti Santa Thomas, atau Suhrawardi, demi menghilangkan nafsu mereka, memuja self-denial sebagai jalan mendekati Tuhan. Dampak yang mereka wariskan adalah dampak individualisme.
Mengumbar nafsu pun, seperti ujaran Freud bahwa melepaskan nafsu daripada mengikatnya adalah lebih sehat, membawa dampak yang besar bagi kehidupan sosial. Keduanya, bertentangan dengan kodrat manusia. Pengontrolan, bukan pengekangan, dan bukan pula pelepasan, menjadikan manusia lebih tinggi daripada malaikat (yang tercipta tanpa nafsu) dan hewan (yang tercipta hanya dengan nafsu). Nafsu diciptakan Allah bukan untuk menggoda manusia, tapi malah sarana untuk lebih mendekati-Nya, menjadi ciptaan-Nya yang tertinggi keutamaannya.
(2)
Arti �lillah� dalam lillahi rabbil �alamin mempunyai tiga makna; karena Allah (lam berarti sebab), untuk Allah (lam berarti tujuan), dan kepunyaan Allah (lam berarti milik). Mungkin layak bila pengartian ini disejajarkan dengan klassifikasi Sayyid Haydar Amuli, seorang Sufi Besar, atas ibadah ini yang dibagi ke dalam tiga kelompok. Ibadah kaum Syari�ah, atau kaum Scripturalists, yang dilakukan hanya melulu demi memenuhi ketentuan syariah. Lalu ibadah kaum Thariqah, atau kaum Spiritualists, yang menekankan konsep keruhanian dalam ibadah syariah. Sedang yang terutama adalah ibadah kaum Haqiqah, atau kaum Gnosticists, yang mementingkan pencapaian esensi ketuhanan dan realita Tuhan dalam setiap ibadahnya.
Beribadah bukan karena Allah gampang ditandai dan biasanya lebih mudah diobati (bukan berarti mudah untuk diobati). Ibadah ini adalah ibadah yang dilakukan karena mencari ridha manusia, dan cenderung mengarah pada riya�. Bila anda memberikan sumbangan, anda ingin semua orang tahu bahwa anda seorang dermawan.
Beribadah karena Allah adalah beribadah karena anda tahu Allah memerintahkannya. Ibadah ini jelas lebih tinggi nilainya dari ibadah sebelumnya. Anda mungkin berhasil mengangkat perasaan riya� dari hati anda sedemikian sehingga apa yang anda lakukan semata hanya memenuhi perintah Allah. Anda mungkin selamat dari mencari ridha dari manusia tapi anda belum tentu selamat dari mencari keridhaan diri anda sendiri. Saat anda beramal, anda mangharap Allah menggantinya dengan yang lebih baik untuk anda. Saat anda memberikan pertolongan kepada orang lain, anda berharap suatu saat Allah akan menolong anda bila dalam kesulitan. Anda mempraktekkan bacaan-bacaan tertentu untuk mengharapkan agar anda dikaruniai suatu kelebihan dari manusia lain. Anda, seperti kata Imam Khumayni, belum keluar dari �rumah� anda. Anda masih terpenjara dalam ego anda. Khumayni memberikan contoh dengan melakukan sholat malam yang ditujukan untuk meningkatkan penghidupan. Memenuhi doa-doa dengan permintaan berikan ini dan itu, benda-benda duniawi. Ibadah-ibadah ini, ujar beliau sah, tapi ibadah ini bukan ditujukan pada Allah, melainkan ditujukan pada keinginan-keinginan duniawi dan pemuasan hawa nafsu. Ibadah yang dilakukan mengharapkan surga dan ketakutan akan neraka juga tergolong pada ibadah ini. Beliau berkata bahwa ibadah itu menyebabkan si pelaku, �menyembah berhala besar, induk dari segala berhala, berhala dari hawa nafsunya sendiri.� Ibadah karena Allah belum tentu ibadah untuk Allah.
Ibadah untuk Allah datang melalui keinginan untuk Allah semata. Ibadah kita persembahkan sebagai suatu hasil upaya kita yang terbaik bagi yang kita sayangi. Seperti kita membelikan hadiah yang paling bagus buat anak kita, untuk membuat ia senang, membuat ia disayangi dan menyayangi kita. Ibadah yang demikian adalah ibadah dimana kita baru keluar dari �rumah� kita. Ibadah ini, kata Sayyid Haydar Amuli, menghasilkan akhlak mulia dan pencerapan sifat-sifat Allah. Ini selaras dengan hadis nabi: �jadikan sifatmu, sifat Allah�. Maksudnya adalah kita mempunyai sifat-sifat, ambil contoh rahman dan rahim, yang diturunkan dari ke-maha-rahman-an dan ke-maha-rahim-an Allah. Tentu, ini jelas bukan berarti kualitasnya sama.
Sedang ibadah tertinggi adalah yang menjadikan ibadah itu kepunyaan Allah. Disini kita mengalami annihilasi, kita lebur, kita menjadi nothing. Hanya satu hal yang wujud, itulah esensi Allah, karenanya segala yang ibadah yang kita lakukan menjadi milik Allah seperti ayat berikut: �� bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar�� (QS 8:17). Disinilah kita tenggelam ke dalam lautan tawhid. Disini tiada lagi terpikir neraka atau surga, hukuman atau pahala. Ibadah kita adalah ibadah yang bukan hanya keluar dari �rumah� kita tapi bergerak ke �rumah� Allah. Kecintaan telah membutakan kita dari semua pamrih dan alasan, mengarahkan kita hanya pada satu esensi, Allah. Pertemuan dengan-Nya bukan hanya kenikmatan tapi ekstasi. Hanya ada satu di benak kita bertemu dengan sang Kekasih selama dan sebanyak mungkin. Disinilah kita kembali dengan ridha dan Allah memanggil kita juga dengan ridha. Disinilah puncak mi�raj ruhani kita, munculnya kita menjadi nafsul-muthma�innah.
Puasa mengajak kita ber-mi�raj ruhani, memberangkatkan ruh kita, memperbaiki dan mempersiapkan ruh kita untuk �bertemu� dengan Allah. Di penghujung ramadhan ini, maka pertanyaannya sudahkah ruh kita bermi�raj bertemu dengan asalnya? Bila belum, mohon ampunlah, karena kita telah membuang ramadhan, mengkhianati nikmat umur, dan mengagungkan nafsu. Semoga Allah mengampuni kita dan memanjangkan umur kita untuk bersua kembali dengan bulan maghfirah, bulan ramadhan.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1419 , MOHON MAAF LAHIR-BATIN
Debu Canberra,
Edwin Arifin,
12 January 1999