| ARTICLES |
INNERGARDEN2.0
other article : will hardcore goes mainstream
more articles coming soon!
EVERLASTING HOPE NEVERENDING PAIN
Sore itu aku mulai bisa merasakan diriku. Aku seperti terbangun dari tidur yg sudah kujalani selama beberapa hari. Aku ingin bangun dan menyapa dunia tapi seperti ada selubung tak nampak yg menyelimuti tubuhku. Tapi aku sudah sepenuhnya bangun dan kupaksakan diriku untuk membuka selubung itu. Kuhancurkan satu persatu mulai dari bagian atas, samping dan kemudian bawah. Setelah hampir seluruh selubung tersebut hancur mataku mulai nanar menatap cahaya yg sangat menyilaukan yg ada di atasku. Saat mataku mulai terbiasa dengan cahaya tersebut dan mulai bisa memandang ke sekelilingku semuanya masih sangat asing bagiku. Tidak ada seorangpun di sana kecuali benda lonjong aneh berwarna putih kecoklatan dalam jumlah besar dimana di sebagian besar diantaranya menyembul mahluk aneh berbulu dan berparuh. Lalu kuperhatikan diriku. Ternyata diriku menyerupai mereka. Tubuh diselimuti bulu berwarna kuning yg masih berair karena selubung tadi, sepasang tangan yg ternyata adalah sepasang sayap kecil, sepasang kaki kecil dgn tiga buah jari dan......berparuh!
Kemudian baru kuketahui ternyata aku dan saudara-saudaraku adalah seekor (anak) ayam. Aku dilahirkan di sebuah peternakan. Sejak lahir aku belum pernah melihat ayah dan ibuku. Kemanakah mereka? Mengapa mereka tidak pernah mengunjungi kami? Padahal kami sangat ingin melihat dan menjumpai mereka. Bercengkrama dan bermain bersama layaknya sebuah keluarga. Tapi mengapa mereka sepertinya tidak pernah perduli kepada kami? Mengapa yang selalu mengunjungi kami adalah mahluk besar jahat yg selalu memperlakukan kami layaknya sebuah benda tak bernyawa. Mahluk jahat itu jugalah yg memotong paruh kami saat kami baru berumur beberapa minggu. Mereka sungguh kejam! Mereka mencengkram kami dgn tangan kasar mereka dan menjepit paruh kami diantara dua lempeng besi panas. Aku sangat kesakitan waktu itu. Bahkan untuk menjerit kesakitan pun aku tak sanggup. Beberapa saudaraku yg tidak beruntung tidak dapat menanggung rasa sakit tersebut dan akhirnya meninggal. Tidak ada yg dapat kami lakukan kecuali bersedih dan mencoba menahan sakit. Ayah.....bunda......dimanakah kalian?
Sekarang umur kami sudah beberapa bulan. Entah mengapa tapi hanya dalam waktu beberapa bulan ini tubuhku membengkak sangat cepat. Ataukah ini hanya perasaanku saja karena saudaraku2 ternyata toh juga mengalami pertumbuhan yg sangat cepat. Kini “rumah” kami yg kecil ini sudah tidak mampu lagi menampung postur tubuh kami yg semakin membesar. Kini hampir tidak ada ruang kosong lagi untuk kami untuk sekedar berpindah tempat. Tubuh kami saling berdesakan dan bertumpukan di antara sekat2 kayu ini. Tubuh dan kakiku keram karena sepanjang hari berdiri tanpa dapat menggerakan badan sedikitpun. Tapi yg menyedihkan adalah kelakukan sebagian saudaraku. Karena stress mereka saling patuk dan berkelahi. Mengapa di tengah kondisi seperti ini mereka justru saling berkelahi? Tidak cukupkah penderitaan ini sehingga masih harus ditambah dengan saling berkelahi antar sesama? Mengapa nasib ini tidak pernah memanjakan kami? Mengapa kami harus terus menanggung duka sepanjang hidup kami?
Saat ini kami sudah dewasa. Sampai saaat ini kami masih belum bertemu ayah dan ibu kami. Dengan penderitaan yg semakin berat ini kami semakin rindu akan kehadiran mereka. Aku telah kehilangan sebagian saudaraku. Banyak diantara mereka yg meninggal karena penyakit. Kebanyakan adalah karena penyakit pernafasan karena terlalu sering mengirup aroma beracun yg timbul dari kotoran dan kencing kami sendiri. Kotoran dan air kencing yg mengendap di dasar rumah kami yg tak henti2nya mengeluarkan bau tak sedap yg tidak dapat kami hindari. Bahkan seringkali kotoran dan air kencing dari saudara2 kami yg tinggal di atas “rumah” kami mengenai kami. Ingin sekali kami keluar dari “rumah” ini untuk sekedar berlari-lari menikmati sinar matahari. Atau untuk sekedar berjalan-jalan melemaskan kaki dgn mencari-cari makanan segar yg terdapat di alam luar sana. Apakah seluruh hidupku akan kuhabiskan di tempat menyeramkan ini? Tidak bolehkah aku mengetahui seperti apa dunia di luar sana?
Akhirnya pada suatu siang, seorang diantara mahluk jahat itu mengambilku dan beberapa saudaraku. Kami dimasukkan ke sebuah rumah yg ukurannya jauh lebih kecil dari rumah kami selama ini. Mereka memasukkan kami begitu saja dgn kasar seakan-akan kami ini benda tak bernyawa. Kami ditumpuk-tumpuk dan dipaksa berhimpit-himpitan di rumah baru ini. Kemudian rumah baru itu bergerak! Kami dibawa melewati jalan2 dimana semua hal yg kulihat adalah hal yg baru. Walau sedikit penat karena harus berhimpit-himpitan tapi aku sedikit gembira karena bisa melihat dunia luar yg sebenarnya. Setelah beberapa lama perjalanan kami kemudian berhenti. Kami dibawa masuk ke dlm sebuah gedung yg ramai sekali dgn mahluk2 itu. Kaki2 kami diikat dan kami ditidurkan begitu saja di lantai seperti seikat sayuran. Aku takut sekali. Tempat apakah ini? Mengapa tempat ini begitu ramai dan ada begitu banyak mahluk itu di sini?
Setelah beberapa lama tergeletak di lantai, kumelihat seorang ibu berbicara dgn mahluk jahat yg membawaku. Mereka terlihat berbicara dgn serius. Aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan tapi aku mempunyai perasaan bahwa apa yg mereka bicarakan ada sangkut pautnya dgn nasibku dan saudara2ku berikutnya. Setelah beberapa saat berbicara mahluk jahat itu kemudian mengambilku dgn memegang kakiku. Ia seolah-olah sedang memamerkan aku kpd ibu itu, entah apa yg ingin ia pamerkan dariku. Aku berontak ingin melepaskan diri. Aku ingin sekali melarikan diri. Aku rasa ini dia satu2nya kesempatanku. Aku mencoba meronta-ronta. Kugerakkan seluruh badanku sekuat tenaga. Aku tak perduli jika harus menghabiskan seluruh tenagaku untuk melakukan perlawanan ini. Aku rindu kebebasan. Kebebasan untuk menentukan nasibku sendiri. Tapi kemudian.......sebuah pukulan sangat kencang mendarat di kepalaku. Aku hampir pingsan. Kepalaku sakit sekali. Rasanya berputar-putar tapi samar2 masih bisa kulihat mahluk jahat itu menyerahkanku kepada ibu tadi. Kemudian semuanya terlihat hitam pekat.......
Aku tersentak terbangun ketika sepasang tangan mencengkram kakiku dan mengangkatku. Di manakah ini? Mau dibawa ke mana aku? Ternyata aku dibawa ke sebuah halaman dimana kemudian rumah baru berbentuk semacam kubah yg terbuat dari bambu diletakkan di atas kepalaku. Kemudian seorang anak kecil perempuan mendekatiku dan memberiku butiran2 beras yg ada di genggaman tangannya. Tentu saja langsung kusantap habis pemberian itu dgn lahap. Siapakah dia? Mengapa ia begitu baik kepadaku? Bukankah mahluk ini sama seperti mahluk jahat itu? Tapi mengapa ia berbeda dengannya? Ia tak henti-hentinya menatapku dengan pandangan polosnya. Ia seperti ingin mengatakan “hey, maukah kau menjadi temanku?”. Dengan tatapan bersahabat seperti itu ingin sekali aku menjawab “tentu aku ingin menjadi temanmu!”. Hari-hari berikutnya kulalui dengan penuh kegembiraan bermain bersamanya. Kadang ia dengan begitu lembutnya membelai kepalaku. Sentuhan tulus dari seorang anak. Seluruh hidup ku seperti berubah. Ingin kulalui saat seperti ini seumur hidupku.
Pada suatu pagi mahluk dewasa yg sepertinya ayah dari sahabat kecilku menghampiriku dan mengambil ku. [pisaunya mana, nak?|ayamnya udah ayah pegang nih!] Lalu kulihat seorang mahluk kecil lainnya yg sepertinya kakak dari sahabat kecilku menghampiriku dengan menggenggam sesuatu yg berkilat di tangannya. [nih pisaunya, yah] [kamu aja yg motong, nak] [nggak mau ah, yah....takut] [lho...jadi laki2 tuh harus pemberani, nak. Moso cuman motong ayam aja nggak berani? Ya udah siniin pisaunya. Kamu perhatiin ayah ya]. Kemudian bocah kecil itu menggenggam kakiku sangat erat sementara mahluk dewasa tadi mencengkram kepalaku tak kalah eratnya. Ada apa ini? Mau diapakan aku. Aku yakin mereka pasti sama baiknya dengan sahabat kecilku jadi tidak akan terjadi sesuatu padaku. Tapi instingku mengatakan bahwa aku dalam bahaya. Tiba-tiba kurasakan sebuah benda tajam mengiris kulit leherku. Mengoyak bulu dan kulit ariku. Menembus lapisan kulit dalam dan memotong venaku. Darah membanjir dari nadi yg terputus di leherku.......sakit.....perih......pedih!!!!! Sayatannya semakin dalam mengiris leherku. Kurasakan seluruh tubuhku mengejang hebat. Aku meronta-ronta kesakitkan. Darah mengucur dimana-mana. Seluruh darah yg ada di tubuhku seperti disedot oleh penyedot raksasa yg tidak kelihatan. Masih kurasakan sakit yg teramat sangat. Kali ini bukan hanya di bagian leher tapi di sekujur tubuhku. Aku merasa sangat kedinginan.........Sangat dingin. Apakah ajal sudah mendekatiku? Seperti inikah rasanya mati? Mengapa mereka membunuhku? Apa salahku sebenarnya? Mengapa mahluk2 itu selalu memusuhiku? Kemudian samar-samar dlm ajalku kulihat sahabat kecilku berteriak-teriak histeris dgn kata2 yg tak pernah kumengerti. [Bunda....ayah sama kakak jahat. Mereka membunuh ayamnya Sekar. Ayamnya kenapa dibunuh Bunda? Dia kan baik sama Sekar. Ayah sama kakak kok jahat banget Bunda? Sekar nggak mau main sama mereka lagi]. Seorang ibu tampak memeluk sahabatku dengan sangat erat. Pelukan yg selama ini sangat kudambakan......Mungkin inilah kesempatanku untuk bertemu ayah ibuku. Kesempatan untuk dipeluk dengan hangat oleh mereka. Kesempatan untuk merasakan rasanya menjadi bagian sebuah keluarga. Selamat tinggal sahabat kecilku. Terima kasih atas kebaikanmu. Lalu berangsur-angsur pandanganku memburam.........menghitam.......hilang.
[ayamnya enak ya yah? Bunda emang jagonya masak opor.]. [Sekar, ayamnya dimakan dng.....nanti keburu diabisin kakak lho.] [bodo.....Sekar nggak mau. Ayah sama kakak jahat. Pokoknya Sekar nggak mau makan ayam lagi.] [lho...kemarin2 kamu doyan banget makan ayam. Kenapa sekarang jadi nggak mau. Yg tadi itu nggak usah kamu pikirin. Hewan itu diciptakan memang untuk dimakan sama manusia.] [Pokoknya Sekar nggak mau. Hewan itukan punya perasaan juga. Buktinya kemaren dia mau maen ama Sekar. Coba Papa disuruh makan si Barney, mau nggak?].
ps: sejak saat itu 9 years old Sekar menjadi vegetarian sampai saat ini. Barney, seekor anjing crocker, masih hidup hingga kini dan menjadi salah satu sahabat terbaiknya.
.dedicated to everyone who fight for the same belief.