Republika Online edisi:
11 Oct 1999

Moskow Akui Serangannya di Chechnya Kenai Warga Sipil

MOSKOW -- Untuk pertama kalinya, Ahad (10/10), Moskow mengakui bahwa serangan pasukan-pasukannya di Chechnya telah mengenai warga sipil. Pernyataan ini muncul di sehari setelah pihak berwenang Chechnya menyataan belasan nyawa, termasuk warga sipil Chechnya, telah melayang dalam bentrokan hari Sabtu antara pasukan Rusia dan tentara Chechnya.

Menlu Rusia Igor Ivanov menyatakan kematian dan cedera yang dialami warga Chechnya adalah ''tragedi bagi keluarga korban yang bersangkutan dan seluruh negeri.'' Ia mengabaikan klaim jumlah korban yang diungkap oleh pemerintah Chechnya, bahwa sedikitnya 700 warga sipil Chechnya telah menjadi korban serangan pasukan Rusia.

Menurut Ivanov, jumlah korban yang jatuh relatif sedikit. Dan karenanya, ujarnya, Rusia tak perlu menghentikan operasinya di Chechnya. Yang kini harus dilakukan Rusia, tambahnya, adalah mengupayakan agar tidak jatuh korban lebih banyak lagi.

Sejak dimulainya operasi Rusia di Chechnya, akhir September lalu, Pemerintah Chechnya telah berkali-kali menuding Rusia menimbulkan kerugian dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Namun tuduhan itu selalu dibantah Moskow, yang berkeras mereka hanya memburu para gerilyawan Muslim.

Gerilyawan Muslim dari berbagai etnik di Kaukasus, dipimpin mantan pejuang Chechnya, Shamil Bessayev, telah dua kali merambah Dagestan, yang merupakan wilayah kedaulatan Rusia, sejak Agustus lalu. Mereka mencita-citakan terbentuknya sebuah negara Islam di Kaukasus.

Gerakan kelompok ini mendapatkan dukungan dari sejumlah warga Dagestan. Rusia menudingnya telah menyalakan semangat separatisme di Dagestan, juga telah mendalangi serangkaian pemboman di wilayah Moskow sejak Agustus lalu, yang telah menelan sekitar 300 jiwa.

Tudingan ''terorisme'' itu selalu dibantah kelompok Bassayev. Pun begitu, Rusia tak percaya dan berupaya memburu kelompok yang diyakininya membangun basis-basis pertahanan di wilayah Republik Chechnya.

Rusia menggelar operasi udara untuk menumpas basis-basis kelompok itu sejak akhir September lalu. Selanjutnya mulai awal Oktober lalu, Rusia mulai mengerahkan pasukan daratnya ke Chechnya.

Kenekadan Rusia ini ditanggapi Pemerintah Chechnya sebagai isyarat perang. Dan akibatnya, hampir setiap hari terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara tentara Chechnya dan Rusia.

Pertempuran hari Sabtu terjadi di desa Vinogradnoe, yang terletak sekitar 20 km dari ibu kota Chechnya. Masih di hari yang sama, sebuah desa lainnya, Pravoberezhnoe, diberitakan dibombardir oleh kekuatan Rusia. Belasan orang --tentara dan warga sipil-- tewas dalam insiden-insiden itu, ungkap pihak berwenang Chechnya.

Lebih dari 150 ribu warga Chechnya telah mengungsi ke luar wilayah republik sempalan Moskow itu sejak serangan udara dimulai. Sedangkan jumlah korban jiwa dan korban cedera dari kedua pihak terus berjatuhan.

Menteri Kesehatan Chechnya, Umar Khanbiyem, menyatakan mayoritas warga Chechnya yang kini cedera karena pertempuran melawan pasukan Moskow diperkirakan akan tewas dalam waktu dekat. Hanya sekitar 10 persen dari mereka yang diperkirakan akan selamat, tambahnya.

Sementara itu, Rusia yang mengaku telah kehilangan 37 tentara sejak memulai operasinya, dikabarkan makin mendapat kecaman dunia internasional sehubungan dengan aksinya di Chechnya.

AS telah menuding aksi Rusia itu melanggar kesepakatan tentang penempatan pasukan sebagaimana tersurat dalam Kesepakatan Eropa. Tudingan ini dibantah Moskow, yang menyamakan aksinya di Chechnya dengan aksi NATO di Kosovo.

Menurut Menlu Ivanov, kesepakatan tahun 1990 itu memperkenankan pengerahan pasukan sementara. Lagi pula, tambah Ivanov, Rusia telah memberitahu Barat sebelum kekuatan militernya bergerak ke Chechnya. n afp/rin


Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta � PT Abdi Bangsa 1999

Hosted by www.Geocities.ws

1