"Tuhan
Kita: Allah!"
Senin, 18 September 2006
Kaum Pluralis mengatakan, semua agama menuju Tuhan yang satu. Padahal
kelompok-kelompok Kristen berbeda penggunaan nama Tuhan mereka. Baca Catatan
Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-162
Oleh: Adian
Husaini, MA
Salah satu pandangan yang senantiasa dilempar oleh kaum Pluralis Agama
dalam 'mengelirukan' pemikiran kaum Muslim, adalah mengatakan, "semua
agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang satu".
Mereka mengatakan, soal nama "Yang Satu" itu tidaklah penting.
Yang Satu itu dapat dinamai Allah, God, Lord, Yahweh, The Real, The Eternal
One, dan sebagainya. Bagi mereka, nama Tuhan tidak penting. Ada yang menulis:
"Dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Penyayang,
Tuhan Segala agama."
Kita ingat, dulu, ada cendekiawan terkenal yang mengartikan kalimat
syahadat dengan: "Tidak ada tuhan (dengan t kecil), kecuali Tuhan (dengan
T besar).
Tradisi yang tidak tahu dan tidak mempersoalkan nama Tuhan bisa kita
telusuri dari tradisi Yahudi. Kaum Yahudi, hingga kini, masih berspekulasi
tentang nama Tuhan mereka.
Dalam konsep Judaism (agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui
dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka
adalah Yahweh. The Concise Oxford Dictionary of World Religions menjelaskan
'Yahweh' sebagai "The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH, may have
been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never
articulated, least of all in the Jewish liturgy."
Karena tidak memiliki tradisi sanad yang sampai kepada Nabi Musa a.s. maka
kaum Yahudi tidak dapat membaca dengan pasti empat huruf "YHWH".
Mereka hanya dapat menduga-duga, empat huruf konsonan itu dulunya dibaca
Yahweh. Karena itu, kaum Yahudi Ortodoks tidak mau membaca empat huruf mati
tersebut, dan jika ketemu dengan empat konsonan tersebut, mereka membacanya
dengan Adonai (Tuhan).
Spekulasi Yahudi tentang nama Tuhan ini kemudian berdampak pada konsepsi
Kristen tentang "nama Tuhan" yang sangat beragam, sesuai dengan
tradisi dan budaya setempat. Di Mesir dan kawasan Timur Tengah lainnya, kaum
Kristen menyebut nama Tuhan mereka dengan lafaz "Alloh", sama dengan
orang Islam; di Indonesia mereka melafazkan nama Tuhannya menjadi
"Allah"; dan di Barat kaum Kristen menyebut Tuhan mereka dengan
"God" atau "Lord".
Bagi orang Kristen, "Allah" bukanlah nama diri, seperti dalam
konsep Islam. Tetapi, bagi mereka, "Allah" adalah sebutan untuk
"Tuhan itu" (al-ilah). Jadi, bagi mereka, tidak ada masalah, apakah
Tuhan disebut God, Lord, Allah, atau Yahweh. Yang penting, sebutan itu menunjuk
kepada "Tuhan itu". Ini tentu berbeda dengan konsep Islam.
Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, muncul kelompok-kelompok
Kristen yang menolak penggunaan nama "Allah" untuk Tuhan mereka dan
menggantinya dengan kata "Yahwe". Tahun 1999, muncul kelompok Kristen
yang menamakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM) yang
melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah.
Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). Kelompok
ini mengatakan: "Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi bumi. Allah
adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.''
Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat
dan Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000. Kitab Bibel versi
BYH ini mengganti kata "Allah" menjadi "Eloim", kata
"TUHAN" diganti menjadi "YAHWE"; kata "Yesus"
diganti dengan "Yesua", dan "Yesus Kristus" diubah menjadi
"Yesua Hamasiah".
Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya
"Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh" yang menerbitkan Bibel
sendiri dengan nama "Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini". Kelompok
ini menegaskan, "Akhirnya nama "Allah" tidak dapat dipertahankan
lagi." (Tentang kontroversi penggunaan nama Allah dalam Kristen, bisa
dilihat dalam buku-buku I.J. Setyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta:
Wacana Press, 2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi,
2005); juga Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005,
cetakan ke-3).
Itulah tradisi Yahudi-Kristen dalam soal penyebutan nama Tuhan. Sayangnya,
oleh sebagian kaum Muslim atau orientalis Barat, tradisi Yahudi dan Kristen ini
kemudian dibawa ke dalam Islam. Pada berbagai terjemahan Al-Quran dalam bahasa
Inggris, kita menemukan tindakan yang tidak tepat, yaitu menerjemahkan semua
lafaz Allah dalam Al-Quran menjadi "God". Dalam konsep Islam, Allah
adalah nama diri (ismul 'alam/proper name)dari Dzat Yang Maha Kuasa.
Maka, seharusnya, lafaz "Allah" dalam Al-Quran tidak
diterjemahkan ke dalam sebutan lain, baik diterjemahkan dengan
"Tuhan", "God", atau "Lord".
Beberapa terjemahan Al-Quran bahasa Inggris telah menerjemahkan lafaz
Allah menjadi God. Misalnya, Abdullah Yusuf Ali – dalam The Holy Qur'an --
menerjemahkan "Bismillah" dengan "In the name of God".
Begitu juga, "Alhamdulillah" diterjemahkan dengan "Praise
be to God", dan "Qul Huwallahu ahad" diterjemahkan dengan
"Say: He is God, the One and Only". Kasus yang sama – penerjemahan
nama Allah menjadi God – juga bisa dilihat dalam Terjemah al-Quran bahasa
Inggris yang dilakukan oleh J.M.
Rodwell (terbitan J.M. Dent Orion Publishing Group, London, 2002. Terbit
pertama oleh Everyman tahun 1909). Harusnya, kata Allah dalam al-Quran tidak
diterjemahkan, karena "Allah" adalah nama. Seperti halnya kita tidak
boleh menerjemahkan kata "President Bush" dengan "Presiden
semak", atau nama Menlu AS "Rice" dengan "Menteri
Nasi".
Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sesuai dengan konsep
Pandangan Hidup Islam (Islamic worldview) yang bersifat otentik dan final, maka
konsep Islam tentang Tuhan, juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan,
konsep Tuhan dalam Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam Al-Quran yang juga
bersifat otentik dan final.
Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan
konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain, tidak sama dengan konsep Tuhan dalam
tradisi filsafat Yunani; tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat
modern atau pun dalam tradisi mistik Barat dan Timur. (Syed Muhammad Naquib
al-Attas, Prolegomena to the Metaphysic of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995).
Bait pertama dalam Aqidah Thahawiyah yang ditulis oleh Abu Ja'far
ath-Thahawi (239-321H), dan disandarkan pada Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam
Syaibani, menyatakan: "Naquulu fii tawqiidillaahi mu'taqidiina – bitawfiqillaahi:
Innallaaha waahidun laa syariikalahu." Dalam Kitab Aqidatul Awam – yang
biasa diajarkan di madrasah-madrasah Ibtidaiyah – ditulis bait pertama kitab
ini: "Abda'u bismillaahi wa-arrahmaani—wa bi-arahiimi daa'imil
ihsani." Ayat pertama dalam al-Quran juga berbunyi
"Bismillahirrahmaanirrahiimi", dengan nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz 'Allah' dibaca dengan
bacaan yang tertentu. Kata "Allah" tidak boleh diucapkan sembarangan,
tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana
bacaan-bacaan ayat-ayat dalam Al-Quran.
Dengan adanya ilmul qiraat yang berdasarkan pada sanad – yang sampai pada
Rasulullah saw – maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan
nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa
nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah.
Dengan demikian, "nama Tuhan", yakni "Allah" juga
bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad
mutawatir yang sampai kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan
'spekulasi filosofis' untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah
dikenalkan langsung oleh Allah SWT – melalui Al-Quran, dan diajarkan langsung
cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.
Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat Yang
Maha Kuasa, yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat Allah dan
nama-nama-Nya pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, sehingga tidak memberikan
kesempatan kepada terjadinya spekulasi akal dalam masalah ini. Tuhan orang
Islam adalah jelas, yakni Allah, yang SATU, tidak beranak dan tidak
diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan Dia. (QS 112). Dan syahadat Islam pun begitu jelas: "La
ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah" -- Tidak ada tuhan selain Allah,
dan Muhammad adalah utusan Allah". Syahadat Islam ini tidak boleh
diterjemahkan dengan "Tidak ada tuhan kecuali Tuhan dan Yang Terpuji
adalah utusan Allah".
Kaum Muslim di seluruh dunia – dengan latar belakang budaya dan bahasa
yang berbeda – juga menyebut dan mengucapkan nama Allah dengan cara yang sama.
Karena itu, umat Islam praktis tidak mengalami perbedaan yang mendasar dalam
masalah konsep 'Tuhan'. Karen Armstrong menulis dalam bukunya:
"Al-Quran sangat mewaspadai spekulasi teologis, mengesampingkannya
sebagai zhanna, yaitu menduga-duga tentang sesuatu yang tak mungkin diketahui
atau dibuktikan oleh siapa pun. Doktrin Kristen tentang Inkarnasi dan Trinitas
tampaknya merupakan contoh pertama zhanna dan tidak mengherankan jika umat
Muslim memandang ajaran-ajaran itu sebagai penghujatan." (Karen Armstrong,
Sejarah Tuhan (Terj), 2001), hal. 199-200).
Bagi kaum Pluralis Agama, siapa pun nama Tuhan tidak menjadi masalah,
karena biasanya mereka memandang, agama adalah bagian dari ekspresi budaya
manusia yang sifatnya relatif. Karena itu, tidak manjadi masalah, apakah Tuhan
disebut Allah, God, Lord, Yahweh, dan sebagainya. Mereka juga mengatakan, bahwa
semua ritual dalam agama adalah menuju Tuhan yang satu, siapa pun nama-Nya.
Nurcholish Madjid, misalnya, menyatakan, bahwa:
"... setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap
Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu
adalah jalan dari berbagai Agama." (Lihat, buku Tiga Agama Satu Tuhan,
(1999), hal. xix).
Seorang Pluralis pendatang baru, juga menulis dalam buku terbarunya,
"Semua agama itu kembali kepada Allah. Islam, Hindu, Budha, Nasrani,
Yahudi, kembalinya kepada Allah."
Pandangan yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama,
yaitu Allah, adalah pandangan yang keliru. Hingga kini, sebagaimana dipaparkan
sebelumnya, di kalangan Kristen saja, muncul perdebatan sengit tentang
penggunaan lafal "Allah" sebagai nama Tuhan. Sebagaimana kaum Yahudi,
kaum Kristen sekarang juga tidak memiliki 'nama Tuhan' secara khusus. Kaum
Hindu, Budha, dan pemeluk agama-agama lain juga tidak mau menggunakan lafaz
"Allah" sebagai nama Tuhan mereka.
Kaum musyrik dan Kristen Arab memang menyebut nama Tuhan mereka dengan
"Allah" sama dengan orang Islam. Nama itu juga kemudian digunakan
oleh Al-Quran. (Al-Quran memang menyebutkan, jika kaum musyrik Arab ditanya
tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka akan menyebut
"Allah". (Lihat QS 29:61, 43:87).
Tetapi, perlu dicatat, bahwa Al-Quran menggunakan kata yang sama namun
dengan konsep yang berbeda. Bagi kaum musyrik Arab, Allah adalah salah satu
dari Tuhan mereka, disamping tuhan Lata, Uza, Hubal, dan sebagainya. Karen
Armstrong menyebut, ketika Islam datang, 'Allah' dianggap sebagai 'Tuhan
Tertinggi dala keyakinan Arab kuno'. (Lihat, Karen Armstrong, op cit, hal.
190).
Karena itu, dalam pandangan Islam, mereka melakukan tindakan syirik
terhadap Allah. Sama dengan kaum Kristen, yang dalam pandangan Islam, juga
telah melakukan tindakan syirik dengan mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan.
Karena itulah, Nabi Muhammad saw – sesuai dengan ketentuan QS al-Kafirun –
menolak ajakan kaum musyrik Quraisy untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan
masing-masing secara bergantian.
Jadi, tidak bisa dikatakan, bahwa orang Islam menyembah Tuhan yang sama
dengan kaum kafir Quraisy. Jika menyembah Tuhan yang sama, tentulah Nabi
Muhammad saw akan memenuhi ajakan kafir Quraisy.
"Katakan, hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang
kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak
pernah menjadi peyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula)
menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah
agamaku." (QS 109).
QS al-Kafirun ini menjadi dalil bahwa karena konsep Tuhan yang berbeda –
meskipun namanya sama, yaitu Allah -- dan cara beribadah yang tidak sama pula,
maka tidak bisa dikatakan bahwa kaum Muslim dan kaum kafir Quraisy menyambah
Tuhan yang sama. Itu juga menunjukkan, bahwa konsep Tuhan kaum Quraisy
dipandang salah oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga cara (jalan) penyembahan
kepada Allah. Karena itulah, nabi Muhammad dilarang mengikuti ajakan kaum kafir
Quraisy untuk secara bergantian menyembah Tuhan masing-masing.
Sebagai Muslim, kita meyakini, Islam adalah agama yang benar. Tuhan kita
Allah, yang nama-Nya diperkenalkan langsung dalam Al-Quran. Tidaklah patut kita
membuat teori-teori yang berasal dari spekulasi akal, dengan menyama-nyamakan
Allah dengan yang lain, atau menserikatkan Allah dengan yang lain, sebagaimana
dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Pluralis Agama. Wallahu a'lam.
(Bojonegoro, 15 September 2006/www.hidayatullah.com ).
Catatan Akhir Pekan adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com