Logika (19 Okt 2005 in Pro-Indo.com)

 

Kebenaran tidak selalu dapat dilogikakan, karena kebenaran tidak selalu absolute.

Kebenaran yang kita atau saya bisa resapi selalu berada dalam satu kontext yang terdefinisi.

 

Mungkin sebagian dari anda bingung melihat dua kalimat saya diatas itu. Baiklah saya akan menjelaskan dengan sesederhana mungkin. Kalau kita kembali lagi kepada proses pendidikan yang kita alami mulai dari TK sampai perguruan tinggi, anda akan bisa membayangkan bagaimana proses perkembangan pemikiran seseorang terhadap suatu masalah. Ambillah contoh tentang belajar berhitung dari sekolah dasar sehingga pelajaran kalkulus di perguruan tinggi. Tidak mungkin anda akan memberikan pelajaran kalkulus kepada anak yang masih duduk di SD. Bagaimana anak kelas 1 SD belajar berhitung?

Sangat sederhana bukan? Anda masih ingat ketika ditanya guru kelas satu SD, satu tambah satu, berapa?

Jawaban yang benar pada tingkat ini, tentunya DUA. Pada sekolah menenggah pelajar mulai mengenal konteks dalam pelajaran Kalkulus. Contoh yang sangat sederhana adalah bilang Y ditambah bilangan Y akan berjumlah 2Y (Y+Y=2Y).

 

Lalu bagaimana dengan X+Y? Tentu jawabannya buka menjadi 2X atau 2Y. Jawabanya yang benar adalah X+Y = X+Y atau Y+X. Semakin jauh anda belajar dibangku sekolah semakin anda mengerti tentang konteks. Apakah mungkin 2X+Y=Q? Jawabanya sudah jelas MUNGKIN atau bisa terjadi? Contoh sederhana dari pelajaran kimia. 2 atom Hidrogen dengan 1 atom Oksigen akan membentuk 1 molekul air. Atau yang lebih sederhana lagi 1 atom Hidrogen ditambah dengan 1 atom Hidrogen akan membentuk 1 molekul Hidrogen. Jelas disini konteks memegang peranan penting untuk menunjukkan kebenaran. Kebenaran hanya ada dalam konteks.

 

Banyak orang berpikir bahwa Surat 112 berbicara tentang TUHAN yang ESA, sebenarnya Surat 112 adalah surat SYETAN. Surat yang ditulis oleh KEPALA SYETAN untuk mengikat sumpah dengan manusia yang mau mengikutinya.

 

Kalaupun anda berpikir dan tetap pada pendirian bahwa surat 112 adalah surat tentang TUHAN yang ESA, saya akan memberi argument sebagai berikut:

 

Islam dengan surat 112, menciptakan konteks sendiri, yaitu konteks menurut Al Quran. Konteks ini tidak salah 100 % tapi sangat mendasar, mengandung arti yang mendua dan ambiguous. Keberadaan Tuhan lebih dari apa yang tertulis dalam surat itu, karena kesadaran kita mengetahui kalau keberadaan Tuhan tidaklah terbatas sedangkan kemmampuan manusia untuk mengerti Tuhan sangatlah terbatas. Surat 112 hanya cocok bagi pemula yang ingin mengerti Tuhan.

 

Kalau anda ingin bicara tentang Tuhan dan dimensi Tuhan, konteks yang harus dijabarkan harus mengandung konteks Tuhan, bukan konteks Al Quran itu sendiri. Karena Al Quran sifatnya terbatas sebagai buku yang mempunyai awal and akhir halaman.

 

Saya tidak tahu seberapa banyak dari anda yang cukup mengerti teori relativitas Einstein. Salah satu teorinya beliau mengatakan kecepatan (energi atau benda) tidak mungkin melewati kecepatan cahaya. (kecepatan cahaya sekitar 300 juta meter per detik). Teori beliau ini sangat tepat untuk menerangkan bagaimana 1+1=1 dalam konteks relativitas. Dua benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya, bergerak dalam satu arah atau dengan arah berlawanan, mempunyai kecepatan absolute satu terhadap lainnya sama dengan kecepatan cahaya itu sendiri. Dapatkan anda bisa bayangkan atau anda bisa logikakan!

 

Dari ulasan diatas, apa yang diucapkan Muhammad dalam surat 112 tidaklah terlalu istimewa! Hanya pengetahuan dasar tentang yang Esa, karena Muhammad sendiri tidak pernah mengenal Tuhan. Muhammad menerima wahyu melalu perantara, bukan wahyu dari Tuhan itu sendiri.

 

Adalah suatu kemurahan Tuhan Allah pencipta alam semesta yang telah membukakan tabir dalam kitab Injil, bahwa keberadaan Tuhan tidak terbatas dalam dimensi. Tuhan yang menjadi manusia Yesus adalah suatu bukti kebesaran Tuhan itu sendiri. Disinilah bukti ke Maha Kuasaan Tuhan. Tidak ada illah lain yang sanggup menjadi manusia. Ada ilah lain yang bisa BERUBAH BENTUK menyerupai manusia, tapi TIDAK MENJADI manusia sebagaimana manusia itu sendiri.

 

Karena seperti yang sudah tertulis dalam Alkitab Injil, Firman Tuhan telah menjadi Manusia. Kalau Firman Tuhan diturunkan kepada Musa dalam bentuk Buku Taurat. Firman yang telah diturunkan kepada umat Kristen telah menjadi manusia. Karena itu juga dikatakan barang siapa yang telah menerima Firman, telah menjadi Ciptaan Baru.

 

Hosted by www.Geocities.ws

1