Copyright © 2013 Pink Kitty By : Ivon Triani

 

  Flag Counter

Flag Counter ;)

Welcome To Kitty's Site ^^

Nonton Yuk:)

Dengar Radio:)

 

 

 

Website counter  

Total Tayangan Laman ^^

 

Ingat Waktu Ya ;)

  

 

Dirumah ini hanya ada aku dan ibuku, aku dibesarkan tanpa seorang ayah. Sejak kecil aku tak pernah melihat sosok ayah yang mengirimku kedunia ini. Ketika aku bertanya kepada ibu tentang ayah, ibu selalu menghindar dari pertanyaan itu. Akhirnya aku pun lelah sendiri untuk bertanya. Aku tahu ibu menyembunyikan sesuatu padaku, tetapi aku tak mau terus membuatnya terbebani dengan pertanyaanku. Toh bagiku ibu lebih dari cukup.

Ibu adalah wanita yang pekerja keras, karena kerja kerasnya lah aku tumbuh dan hidup serba berkecukupan. Walaupun kesibukannya lah yang membuat aku tidak terlalu dekat dengannya. Aku mencoba untuk tidak menuntut, sebisa mungkin aku mencoba untuk dekat dengannya tapi masih saja seperti ada jarak yang memisahkan kami.

Terkadang aku iri melihat teman-temanku yang sering bercerita tentang ibunya, iri melihat mereka bisa bersandar manja dan menceritakan kisah remaja mereka kepada seorang ibu. Mendapat sambutan hangat ketika pulang sekolah dan dapat mencium tangan ibu sebelum berangkat sekolah. Selama 15 tahun aku tinggal dengannya semua itu tak pernah ku alami, ibu seakan tenggelam dalam karirnya.

Tiba-tiba aku teringat pada mimpiku, dalam mimpi tersebut aku seperti sangat dekat sekali dengan seseorang yang kusebut ibu, tapi suara nya bukan suara ibu akupun tak dapat melihat jelas wajahnya. Mimpi itu selalu menghiasi tidurku dan menghantui fikiranku.

Aku pun mulai melahap makanan yang telah disiapkan ibu. Ku bayangkan bila ibu ada disini, pasti akan jauh lebih nikmat. Tak kusadari tetesan bening turun dari mataku, jujur jauh dalam benak hatiku, aku sangat merindukan ibu. Apa ibu juga merasakan apa yang kurasakan ? apa ibu juga merindukan ku ?

***

Aku berbaring di kasur ibu. Tanpa sepengetahuan nya, inilah yang kulakukan setiap kali aku merindukan ibu. Kamar ibu sangat khas dengan mawar merah, dinding dicat dengan corak mawar merah. Begitu pula benda-benda dikamar ibu. Ada satu benda yang membuat ku heran, sebuah lukisan dua orang gadis, satu memegang mawar merah yang kuyakini itu adalah ibu, gadis satunya lagi memegang mawar putih dan paras wajahnya mirip dengan ibu. Apa mungkin itu adik ibu, tapi ibu tidak pernah mengenalkannya padaku. Yang jelas wanita itu tampaknya tidak asing lagi bagiku. Entahlah seperti ada sesuatu yang membuat ku nyaman menatap wajahnya, mungkin karna kami sama-sama menyukai mawar putih. Pernah suatu kali aku menanyakan sosok gadis itu pada ibu, tapi ekspresi ibu sama seperti ketika aku menanyakan ayah padanya. Dan itu membuat ku tidak tega untuk bertanya lagi.

Kudengar handphone ku berbunyi, kucari sumber suaranya dan ternyata handphone ku ada dibawah kasur. Saat ku raba lantai, kurasakan ada sesuatu yang ganjil, satu petak keramik yang tidak rata dengan keramik lantai lainnya. Aku sangat terkejut ketika mengetahui keramik itu bisa dibuka, dan kutemukan sebuah kotak yang terlihat tua di dalamnya. Rasa penasaran pun mendorong ku membukanya, dan didalam kotak itu berisi sebuah album dan beberapa aksesoris yang kelihatannya sudah jadul .

“Buat apa ibu menyimpan semua ini di tempat rahasia?” pikirku. Di cover album ada sebuah tulisan yaitu Beloved Sister. Kubuka lembaran setiap album, rata-rata dalam foto itu selalu ada dua orang yang sama seperti lukisan di dinding kamar ibu. Dugaan ku yang mengatakan bahwa wanita itu adalah adik ibu ternyata benar ketika kulihat di lembaran akhir ada foto keluarga ibu dan wanita itu bersama kakek dan nenek. Tapi anehnya mengapa mereka tak pernah menceritakan padaku bahwa ibu punya adik? Dan dimana sebenarnya keberadaan adik ibu?

Aku pun beralih pada sebuah bingkai bercorak mawar merah. Dan foto didalamnya membuat ku terpana. Dua orang pria, dua lainnya adalah ibu dan adik ibu. Tampak didalam foto, ibu dirangkul mesra oleh seorang pria, dan adik ibu bersama dengan seseorang, yang sepertinya aku tahu siapa dia. Tidak salah lagi, aku yakin pria satu ini pasti pak Doni.

Pak Doni adalah pemilik sebuah tempat kursus music yang sekarang aku tekuni. Beliau sangat baik kepadaku dan ibu, beliau juga memang pernah mengatakan bila ia dan ibu sudah berteman sejak lama. Aku tahu pak Doni memiliki rasa pada ibu, dapat dilihat caranya melihat ibu dan perhatiannya pada ibu. Aku setuju saja bila ibu menikah dengannya, tapi masalahnya ibu tak pernah berpikir untuk menikah lagi.

Fokusku pun tertuju pada pria yang satunya, di dalam foto ia dan ibu terlihat mesra, apa mungkin dia ayah ku? Tiba-tiba terbesit dalam benak ku untuk bertanya pada pak Doni. Aku yakin beliau tahu jawabannya.

***

Kulangkahkan kaki ku menuju ke tempat kursus, rasanya tidak sabar lagi untuk mengikuti kursus musik siang ini. Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat dihadapan ku. Lagi-lagi Alvin, dia seperti ekor saja yang selalu membuntutiku dimana pun aku berada. Dasar aneh !

Dia turun dari motornya dan berjalan disampingku tanpa bicara apapun. Yang ada hanya sebuah senyum khas nya. Kupercepat langkahku, dia terlihat kesulitan karena harus membimbing motornya. Aku pun tak perduli, siapa suruh untuk berbuat hal konyol seperti itu.    

“Aduh, aww….” Erangnya.

Aku akhirnya luluh melihat kaki nya tersandung batu dan motornya hampir saja jatuh.

“Awas!” aku pun menghampiri nya, “kamu gak apa-apa kan?”

“Ciee perhatian amat sih,” godanya genit. Ekspresi ku pun berubah 180 derajat.

“Hei, jangan pergi dong! Aduh sakit nih,” Alvin memasang tampang seperti orang yang memelas.

“Kalau begini terus aku bisa telat, mau kamu apa sih?” aku pun geram.

“Nah itu dia, biar gak telat bareng aku aja naik motor, mau ya?” tanyanya sok manis.

Akhirnya aku pun menerima permintaan Alvin dengan beberapa pertimbangan. Dengan syarat aku meminta Alvin untuk berhenti sebelum sampai di depan gerbang tempat kursus ku. Sesampai di dekat gerbang.  Aku pun turun, dan mengucapkan terima kasih.

“Lo, kok turun disini? Tanggung ni.”

Aku tak menghiraukan dan langsung saja meninggalkannya. Kulihat tempat kursus ku masih sepi. Aku datang lebih awal satu jam, berharap bisa bertemu dengan pak Doni. Bukannya lebih cepat  aku mengetahui jawabannya itu akan lebih baik. Aku mengetuk pintu ruang kerja pak Doni.

“Iya, masuk!” terdengar ada sahutan dari dalam, Pak Doni mempersilahkan ku duduk.

“Ada apa fa ?” Tanya pak Doni ramah.

“Maaf mengganggu pak, emm beginii…” aku sedikit canggung dan gugup untuk menanyakan hal ini.

“Gak apa-apa fa, ngomong aja.” Pak Doni tersenyum melihat tingkah ku.

Melihat senyum itu, kecanggungan ku pun berkurang. Aku langsung bercerita apa yang ku temukan semalam. Kulihat wajah pak Doni berubah cemas ketika aku menanyakan sosok pria yang bersama ibu di foto itu. Pak Doni menarik nafas panjang dalam diam.

“Pak Doni, bapak tahu siapa dia kan ?” aku memelas.

“Emm, maafkan bapak. Bapak tidak bisa menjelaskan semua ini.” Terdengar penyesalan dalam suara nya.

“Tapi kenapa pak? Apa salah saya sehingga saya tidak boleh tahu ?” aku tak bisa menahan air mata ku, semuanya begitu saja keluar.

***

Semenjak siang itu , rasanya semua semangat ku hilang seketika. Rasanya semua hampa, aku yakin pak Doni tahu. Tapi kenapa semua orang ingin merahasiakan nya dariku.

Aku turun dari angkot, hari ini aku pulang sekolah lebih awal karena kondisi ku yang tidak baik. Alvin dan beberapa guru telah menawari diri untuk mengantarku, tapi aku menolak.

Kulihat dua mobil terparkir di depan rumah ku, mobil ibu dan mobil pak Doni. Kenapa pak Doni ada disini, pikirku. Apa ada sesuatu yang terjadi pada ibu. Aku pun bergegas lari. Sesampai di depan pintu, kudengar ibu menangis, aku pun semakin panic.

Tapi langkah ku terhenti seketika, ketika mendengar ibu mengatakan, “aku tak sanggup memberitahu syifa kalau dia bukan anak kandungku, jujur aku tak sanggup kehilangannya. Aku tak mau dia tahu.”

Seperti tersambar petir,  aku terjatuh kaki ku mendadak lemas. Dunia seakan berhenti berputar, air mata ku turun dengan derasnya. Apa ini mimpi? tuhann bangunkan aku dari mimpi ini… aku mohon.

Kulihat ibu dan pak Doni keluar, terlihat sekali kepanikan dari wajah ibu.

“Ibu itu tidak benar kan? Katakan itu tidak benar?”

“I…itu benar nak, maafkan ibu…maafkan ibu.” Ibu tertunduk lemas sambil menggenggam tangan ku

“Tidak…Ibu pasti bohong.” Aku berlari meninggalkan mereka, kudengar teriakan ibu. Aku terus berlari, aku ingin lari dari mimpi ini. Aku ingin lari sejauh mungkin.

***

Entah sudah berapa lama aku berada di taman ini, entah sudah berapa banyak tetesan air mata yang keluar. Aku tak sanggup berkata apa-apa, begitu pula Alvin. Entah sejak kapan anak ini ada disini bersamaku. Setidaknya kehadirannya  bisa menenangkan ku.

“Ini juga berat buat ibu mu. Cobalah berbicara baik-baik dengan nya, yakinlah dia sekarang sangat membutuhkan mu.”

“Tapi dia bukan ibu kandung ku.”

“Fikirkan siapa yang menjaga mu sewaktu kecil, siapa yang selalu memberikan yang terbaik untukmu. Memang dia bukan orang yang melahirkanmu. Tapi ingat kau tak akan jadi seperti sekarang ini tanpa dia.”

Dalam hati aku membenarkan perkataan Alvin, ibu ya tetap ibuku. Apapun yang terjadi dia tetap ibuku. Ku bulatkan tekadku untuk pulang dan menyelesaikan permasalahan ini.

Terima kasih Alvin, terima kasih kau telah menyadarkan ku.

***

Ibu menyambutku, dia memeluk ku seakan-akan tak ingin melepaskan ku. “Jangan tinggalkan ibu nak, ibu mohon. Ibu sayang padamu.”

Itulah kata-kata ibu yang membuat ku merasa bersalah, aku janji bu aku tak akan meninggalkan mu. Ibu pun menceritakan yang sebenarnya, dan sekali lagi aku harus menerima kenyataan pahit.

Ternyata adik ibu, tepatnya wanita yang bersama ibu di dalam foto itu adalah ibu kandung ku. Dan pria yang menjadi pacar ibu, atau yang merangkul ibu di foto itu adalah ayah ku. Ibu mengatakan bahwa dahulu ibu berpacaran dengan ayah kandungku, dan ibu kandungku adalah pacar pak Doni. Hingga pada saat ibu dan ayah ku ingin menikah, ayah pergi membawa ibu kandungku ke luar negeri.

Beberapa bulan selanjutnya ibu menerima surat dari ayah, kalau ayah telah menikahi adik ibu dan tengah mengandung seorang anak yaitu aku. Semua pihak keluarga yang mengetahui hal tersebut tidak menyangka apa yang telah diperbuat oleh kedua orangtua ku. Karna merasa bersalah dan ingin meminta maaf, ketika umurku 3 tahun. ­­Ayah dan ibu kandungku pulang. Sayang nya pesawat yang kami tumpangi mengalami kecelakaan, orangtua ku tak bisa diselamatkan. Sementara aku yang masih kecil diberikan kesempatan oleh tuhan untuk hidup di dunia. Ibu yang berhati emas bak malaikat pun memutuskan merawat dan membesarkan ku, tanpa menghiraukan apa yang telah diperbuat oleh orangtua ku.

Tak terbayangkan berapa banyak pengorbanan yang ibu lakukan, dan betapa mulianya hati ibu. Ia merelakan waktu nya untuk ku, ia bertahan dalam kesendiriannya untuk membesarkan ku. Dan semua itu dilakukan nya tanpa meminta balasan.

***

Satu bulan telah berlalu semenjak rahasia itu terbongkar. Ibu dilamar oleh pak Doni, awalnya ibu belum siap dan ingin menolak lagi. “Ayolah bu, biarkan aku merasakan mempunyai ayah.” Bujuk ku, akhirnya hati ibu luluh. Dan pernikahan pun diselengggarakan.

Aku sangat senang, kupandangi  empat orang yang ada didalam foto yang dulu kuambil dari kotak milik ibu. Sekarang aku mempunyai dua orang ayah dan dua orang ibu, yang menyayangi ku. Aku terlelap dengan mimpi yang indah, dan sekarang aku dapat melihat dengan jelas wajah wanita dan pria yang selalu mendatangi tidurku. Wanita itu mengelus rambutku, dan menciumi kening ku dengan lembut. Aku merasa sebagai anak yang paling beruntung di dunia ini, karna aku mempunyai dua bidadari, yang selalu hidup dihatiku dan selalu memberikan perlindungan di kehidupan ku.

Terimakasih ibu. . . J

­­

~ Selesai I ~

 

 

dua Ibu di Dua Dunia

 

Oleh Ivon Triani

 

“Sosok yang menjelma sebagai malaikat hadir dalam setiap waktu. Kasih dan sayangnya yang putih membuat semua hitamnya lenyap dalam semua pandangan. Keikhlasan dan

keuletannya membuat semua lubang tertutup dengan sendirinya. Dirinya hadir sendiri tanpa pendamping, kuat dan tegak berdiri menghadapi hamparan angin di udara.

***

Aku duduk termenung diantara riuh suara anak-anak kelas, fikiranku hanya tertuju pada satu hal yang membuatku selalu penasaran yaitu bunga tidurku. Sebuah mimpi yang selalu datang sejak empat tahun lalu, mimpi itu selalu membawaku menuju angan kesenangan yang tak terhingga. Tetapi mimpi itu juga yang selalu membawaku pada jurang ketakutan, karena mimpi itu

selalu datang kepadaku tanpa alasan yang jelas.

Lamunan ku pun terbuyar, ketika ada suara yang memanggil namaku. Suara yang akhir-akhir ini tidak asing lagi di telingaku.

“Hai fa, kok ngelamun sih? Gak ke kantin?”

Seorang anak laki-laki pun menghampiriku dan duduk tepat di hadapan ku. Aku hanya memasang tampang dingin, tak ingin menjawab pertanyaanya.

“Hmm, nanti sakit loh. Ke kantin yuk !” dia mencoba membujuk ku sambil memamerkan barisan gigi nya yang rapi.

“Gak nafsu dan gak mau.” Aku menekankan setiap suku kata yang ku keluarkan.

Dia tetap membujuk ku, sampai Dila teman sekelasku berkata padanya, “sama aku aja vin, aku mau ke kantin ni !”

Alvin pun tak menjawab dia bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dengan memasang tampang seperti orang yang sedang kalah judi. Aku bersyukur dalam hati akhirnya cowok itu menyerah juga. Menurutku Alvin adalah cowok paling aneh yang pernah ku kenal. Buat apa coba dia selalu membuntuti ku dan melakukan hal-hal yang konyol, walaupun terkadang dia menghibur ku dengan kekonyolan nya itu.

Ternyata dugaan ku salah, Alvin belum menyerah. Dia kembali menghampiriku dengan dua mangkuk mie ayam kesukaanku dan dua gelas es jeruk.

“Nih aku bawain mie ayam mang bejo, pasti kamu suka.” Dia menyodorkan mangkuk dengan wajah yang menurutku sok imut.

“Buat apa ?” tanyaku cuek.

“Yah buat dimakan lah, dihirup boleh kalo bisa.”

Aku tetap tak bergeming, walaupun sebenarnya aku lapar  apalagi ditambah bau sedap dari mie ayam itu. Tapi aku berusaha tidak peduli. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam perutku, dan Alvin pun menyadarinya.

“Hahaha… tuh cacing dalam perut udah pada ribut, ayolah gak usah malu-malu.” Aku yakin pasti sekarang muka ku memerah, seperti udang goreng dalam mie ayam itu. “Siapa bilang, dasar sotoy !” aku berusaha bersikap sebiasa mungkin.

Tapi dia malah menyuapi ku, entah angin apa yang membuat mulutku terbuka dan menerima suapan nya. Lantas semua mata memandang ke arah kami, dan anak kelas pun bersorak menggoda kami berdua. Suasana kelas pun mulai memanas, kurasakan tatapan api yang membara dari setiap mata anak-anak perempuan di kelasku. Bagaimana tidak, Alvin adalah ketua osis sekaligus seorang atlit hebat disekolah kami. Setiap sisi mata selalu tertuju padanya, tetapi tidak bagiku. Tidak bisa dipungkiri, Alvin memang memiliki wajah yang bisa menarik perhatian setiap wanita. Tetapi dia pula yang membuat ku dihujani pertanyaan setiap harinya, mungkin tepatnya pertanyaan belaka untuk membelakangkan ku. Pertanyaan-pertanyaan itu sangat mengganggu ku, salah satu nya pertanyaan yang pernah dilontarkan senior padaku.

“Kamu pake apa sih? Kok  Alvin bisa ngejer kamu gitu!” Hati seolah terbakar oleh kobaran api yang membumbung tinggi, tetapi fikiran berusaha memadamkannya dengan hembusan udara biru agar sang pemilik hati tak tahu akan bekasnya.

Aku berlari keluar kelas, kudengar langkah kaki menyusulku dari belakang. Aku tak menghiraukan panggilan Alvin. Aku ingin pergi dan tak ingin dibuat malu lagi olehnya.

***

Kulangkahkan kaki menuju rumahku, perlahan pintu utama ku buka dan salam terlontar dari mulutku. Seperti biasanya tak ada jawaban, ku hempaskan tubuhku di atas sofa. Setelah kunetralkan kembali tenaga ku yang hilang, aku beranjak ke meja makan. Masih juga sama, ibu telah menyiapkan makan siang ku disana.

 

 

 

 

 

 

           

Here Is My Great Moment !

Follow Me :

       

 

 

 

 


 

Calender  :D

Cuteki free a card
 

                                    Home        My Self        Articles        Quotes

 

Welcome To My Fantasy !