Horison, Januari 2000


 

Sutardji Calzoum Bachri

 

C a r i

 

sisa-sisa api

sampiran pecah tanah

perih bebatuan

sedan abu dan ratap pasir

ludah saat

puing-puing diri

koyak moyak bangunan

menyatu

dalam legam malam

dalam legam siang

 

aku telah melihat muasal api

sebab abu dan bara ini

jauh sebelum api

sebelum bara dan abu

mencipta hamparan

kelam

 

aku telah melihat

bibit api dalam

buah air mata

pada lahan yang digusur

dari pemiliknya

 

pernah kubilang

waspadalah

jangan ikut menanam

bibit api

jangan sampai engkau

dipetik oleh buah

yang menyala

 

maka kini

lihatlah

pada sisasisa nyala

pada sampiran hangus

tanah lebam ini

pada lidah pasir pecah

dan kelu batuan

pada puingpuing diri

remah bangunan

pada pecah pot

dan tenggelam taman

pada sisasisa sangkur

dalam hangus daging

dan gosong tulang

 

yang tinggal hanya lengang

hanya lariklarik

yang pecah angan

hanya baitbait mayit

yang menggamitgamit

mengharap makna

lengang yang mendambakan suara

mengharap ujar

mencari kata

 

ah semoga cepat datang

teratai sebenar kata

dari hamparan kolam

kersang ini

 

lewat sisa-sisa jemari

kucoba menggurat aksara

di pecahan tembok

dan unggun pasir

 

yang ingin kutulis

masih terpendam

dalam bait-bait diam

 

yang kan kuucap

masih terperangkap

dalam kerongkongan

yang tenggelam

 

ah mana gairah

mana seloka

gurindam pantun

talibun bangsaku?

 

hanya irama debu

dalam arang patah

lengang langkah tapak darah

dalam jiwa membeku

puing henyak terbaring

sisa-sisa tari asap dan api

 

seloka luka gurindam lebam

pantun tak bangun

talibun tertimbun

abu dan asap

 

jadilah aku

hutan hangus dan asap

kota debu dan tulang

keluasan tanpa batas

dari remah angan

yang pernah ada

sampiran hancur

lengang dan hampa

mencari muatan makna

agar bisa kembali

menyatu berjiwa!

 

dan di balik timbunan

tahun-tahun tandus

di balik unggun debu

dan tulang

di larik-larik mayit

di puing angan

di kedalaman gosong

air mata

aku merasa

serasa bakal datang kata

kata yang segar

kata yang mencipta

bukan kata

sekedar menunjuk

apa yang sudah ada

bukan sebagaimana kata kuda

menunjuk kuda yang ada di bumi

bukan sebagai kata mawar

menunjuk mawar dan harumnya yang ada

tapi kata yang mencipta

yang muncul dari ketiadaan

meloncat dari kekosongan

 

dari balik puing-puing ini

dari balik gosong nyeri

dari balik abu dan tulang-tulang ini

cepat temukan kata!

sebelum cuaca makin memburuk

sebelum datang lagi El Niño

sebelum datang pula La Niña

agar tak kembali muncul El Dictador

 

wahai bangsaku

keluarlah engkau

dari kamus kehancuran ini

carilah kata

temukan ucapan

sebagaimana dulu

para pemuda menemukan

Kata

dalam sumpah mereka

 

1998

 

Kami Tahu Asal Jadi Kau

 

sal sebab kembali sebab

asal tanah pulang ke tanah

asal darah ke mula darah

asal tahu muasal tahu

kami tahu asal jadi kau

 

kau jadi dari duka kami

yang kau jadikan kudakau

kau jadi dari hati kami

yang kau niatkan sukasukakau

kau jadi dari suara kami

yang kau nyanyikan iramakau

kau jadi dari harihari kami

yang kau hurahurakan semaukau

kau jadi dari mufakat kami

yang kau khianati dengan muslihatkau

 

asal sebab ke bab sebab

asal tanah ke zarah tanah

asal perih ke patah janji

asal jadi ke balik jadi

asal abad ke mula hari

asal duka ke padam caya

kami tahu asal jadi kau

 

kau jadi dari ayat kami

yang kau sampaikan tafsirankau

kau jadi dari bahasa kami

yang kau hajatkan maknakau

kau jadi dari kuasa kami

yang kau genggam semaukau

kau jadi dari angan kami

yang kau lantas angankau

kau jadi dari lugu kami

yang kau jadikan gulagulakau

 

sehebathebat raja muslibat

tak kan dapat ngalahkan rakyat mukjizat

air mata, kami jadikan lautan

membenam engkau sedalamdalam

ya kami jadikan tak

tak lagi kuasa yang kau kenyam

diam jadi gempita serapah

mengenyah engkau ke balik zaman

anak sekolah menjadi tongkat

menghalau kau ke kelam lautan

 

pulanglah kau ke asal pulang

pulang ke asal kau

pulang ke hunian bunian

pulang ke reban jembalang

kembali ke telur setan!

 

tak lagi lugu kami netaskan kau

                             tak

tak hendak kuasa kami netaskan kau lagi

                             tak

tak siang tak malam kami tak erami kau

                             tak

tak undangundang kami mau diselangkangi lagi

                             tak

tak kan lengah anakanak kami

                             tak

guru kalbu kitab sejarah

ngajarkan mereka tak kan netaskan kau

                             tak

 

wahai musang berbulu amanah

wahai ular berkulit nalar

wahai lintah berbulu pemerintah

wahai taring bersungging senyum

wahai zalim berucap salam

pu ... ah!

masuk engkau ke telur setan!

 

1998

 


Rendra

 

Tentang Mata

 

Aku merindukan mata bayi

setelah aku dikhianati mata durjana.

Aku merindukan mata hari

karena aku dikerumuni mata gelap.

Aku merindukan mata angin

karena aku disekap oleh mata merah saga.

Wahai, mata pisau! Mata pisau di mana-mana

 

Mata batin! Mata batin!

Hadirlah kamu!

Hadirlah kamu di saat yang rawan ini.

Wahai, mata batin!

Kedalaman yang tak terkira.

Keluasan yang tak terduga.

Harapan di tengah gebalau ancaman.

 

2 Maret 1998

 

Tentang Mata Pula

 

Mata kejora! Mata kejora!

Mata kekasih dalam dekapan malam.

Dalam kehidupan yang penuh mata bisul,

mata hatiku meronta,

ditawan rangkaian mata rantai!

Sawah gersang tanpa mata bajak.

Mata gergaji merajalela di rimba raya.

Mata badik memburu mata uang.

Mata kail termangu tanpa umpan.

Dan mata sangkur menghunjam ke mata batin.

Mata kejora! Mata kejora!

Mata kekasih dalam dekapan malam.

Padang rumput terancam mata api.

Tetapi, kekasihku, di dalam kalbuku yang murung ini

engkaulah mata air pengharapan.

 

2 Maret 1998

 


 

Yvonne de Fretes

 

Kenangan Pada Sabana

(Pro: Umbu Landu Paranggi)

 

pernahkah kita jumpa di sebuah jamuan di sana, bang?

entahlah,

begitu banyak yang tercecer dalam perjalanan

masa kecil yang sembunyi di kebun jagung

                   (yang kita makan dikala minus beras)

dan di padang luas

yang selalu kudekap kemana pergi

 

pulau yang terpuruk di selatan,

pulau Sumba,

dimana ringkik kuda dan lenguh sapi

tidak pernah ragu dalam menapak sepi

dan gersangnya padang dan bukit

 

sajakku ingin menebar di sabana itu, bang

mungkin kita memang pernah jumpa di sebuah jamuan di sana

 

kata sebuah suara "kau boleh meneruskan rasa rindu itu"

 

Jakarta, 1997

 


 

Tjahjono Widarmanto

 

Nyanyian Brahmana

 

sehabis gerimis mengakhiri percakapannya

dipetiknya harpa, ditiupnya nafiri

dia bernyanyi berlagu-lagu

memaksa angsa-angsa mengibaskan bulu-bulunya.

 

sehabis gerimis dilanjutkannya dialog itu

melalui denting harpa dan siul nafiri

membuat angin jadi terpesona

lantas mengitari dan memahkotainya dengan daun-daun kamboja

sembari mempersembahkan tarian para dewa.

 

sehabis gerimis, bunga teratai itu bermekaran

dalam pelukan samadhi kaki langit

berbaring bersama deru topan

yang tiba-tiba jadi jinak dibuai awan

 

di atas puncak segala, seusai gerimis

seorang brahmana bersama ribuan merpati

menerbangkan damainya nyanyian ke penjuru bumi

jadi hening meditasi wajah bumi dan laut semesta.

 

sehabis gerimis, ikan-ikan beterbangan,

burung-burung berloncatan

angin tenang bermuara sunyi mencumbu awan kaki langit

tak peduli akan mati.

tak pernah peduli!

 

Ngawi, 1996

 


 

Yudhiswara

 

Perenungan Makam

 

setelah pemakaman memulangkan tubuhmu

membawaku di alammu

di alam renung

kematian saling susul menyusul

cerita-cerita nisbi telah dihentikan

sehabis keranda

itukah bis kota terakhir

ah, ada saja debarku menggigil

pergi ke muara

melayat para nelayan

yang mati kesunyian di atas biduk

dengan ikan yang masih menggelepar

itukah diri kita

ada-ada saja pertanyaan nakalmu

setelah pemakaman berakhir

tak ada kembang

tak ada nisan

sebab makam bukan perjalanan terakhir

mengaliri darah sehabis hidup

dari akar sampai ke pucuk

kembalinya ke makam

di cermin aku harus ikhlaskan

segala tangan kaki dan muka

lidah dan jantung menjadi tanah

 

160897

 

Keruh

 

keruh udara tahun ini. kuterpukau

menatapi jalan raya garang warnanya

menempel pada kaos kaos pejalan kaki lima

mobil-mobil menggigil mencium kebencian

dari udara tercemar baunya retak di dalam nafas

jantung terguncang terganggu dari tidurnya

 

kemana anak-anak tanpa bapak itu

cintanya terbang rusuh direlung dukanya

mulut yang berteriak mengotori suasana

berdesingan bau comberan pasar central

lagunya usang perempuan bersuka-suka

keruh udara tahun ini. orang suka

 

: mengenang masa lalu pada belantara daun

  tubuh lunglai tanpa sekolah kau datang

 

2807-1997

 


Horison, Februari 2000


 

Beni R. Budiman

 

Fragmen Pandai Besi

 

          Harry Roesli

 

Lubang angin menempa kering batok kelapa sebagai

Bara yang nyala. Sebuah per baja menderita dalam

Marah yang sempurna. Gubuk bilik hitam pun merah

Gerah seperti membangun rumah dari biji keringat

 

Bau resah menyengat. Lalu beberapa palu melagukan

Nada pilu bertalu. Bunyi dalam nyanyi pandai besi

Yang nyeri. Berlari seperti derap kaki gerombolan

Kavaleri. Musik berisik yang menggoda para paduka

 

Dalam tempat yang sendiri para pandai besi seperti

Geram yang berjanji. Mata air yang terus meneteskan

Doa basah pada bukit batu. Cinta yang keras kepala

Ombak yang setia memimpikan karang menjelma pedang.

 

1996-1997

 

Camping

 

Di bawah gunung kesepian bergulung dan memuncak

Dan pada hamparan daratan kuabadikan kecemasan

Tebing batu cadas dan pinus-pinus yang mendengus

Angin mengirim cuaca sembab. Hujan tertahan awan

 

Dan dalam suasana temaram pohon karet berbaris

Sujud dalam sakit yang sama. Memberat ke arah

Barat. Burung-burung pun datang dan pergi dalam

Irama yang pasti. Udara seakan sendu mambatu

 

Dan hidup seperti tumpukan tenda yang dibangun

Dan diruntuhkan. Dan kematian berkibar pada tiang

Bendera di suatu perkemahan. Nyanyian yang rindu

Dilantunkan petualang di antara lereng dan jurang

 

1996

 

Di Antara Batu-batu

 

Dia antara batu-batu lumut menari dalam air kali

Ganggang berenang tenang. Dan capung melayang

Bersama belalang. Anak-anak mandi di riang perigi

Nada cinta pun mengalun dibawa angin yang santun

 

Tapi di antara batu-batu, tubuh siapa yang setia

Dalam keramba. Patok-patok yang ditancapkan pada

Batu cadas telah membuat kandas mimpi yang bebas

Kayu dan bambu menjadi kerangkeng yang mengurung

 

Lagu lenggang kangkung. Dan harapan hanya pada

Hujan topan yang bisa mengirim banjir bandang

Sekaligus doa bagi kemerdekaan yang tinggal mimpi

Di keramba mungkin aku hanya ikan yang menghamba

Menanti mati tiba sambil memuja cerita nestapa

 

1996-1997

 

Api Unggun

 

Malam itu tak ada kemarahan paling sempurna

Selain dingin dan gelap yang pekat. Kesepian

Mengekalkan suara burung hantu sebagai gerutu

Pinus dan trambesi mendesis dengan wajah lesi

 

Pada saat seperti itu, api unggunlah kerinduan

Tak tertahan itu. Panas yang mampu mencairkan

Kabut dan embun beku. Tumpukan kayu kering yang

Riang menjadi bara dan abu bagi api yang biru

 

Tapi, sempurnalah mimpi, rindu, dan angan-angan

Karena batu-batu tak mampu menumbuhkan nyala api

Dahan dan ranting menolak perapian. Dan gulita

Tak mencintai cahaya. Tapi memilih tanah basah

 

1996

 

Gerimis Malam

 

Gerimis malam mematahkan remang mercury

Dan bintang jadi ngeri mengulum senyum

Hanya kelelawar berani keluar. Terbang

Di antara pohon jambu batu yang kelabu

 

Gerimis pun memaksa setiap daun kelimis

Seperti habis keramas. Genting-genting

Mengkilap dalam gelap. Bulan pun tiarap

Bayang dan gamang menari seperti dalam

 

Fiksi. Mengejar tubuh lelah seperti gabah

Basah. Dan garis gerimis seakan berbaris

Membentuk barikade-barikade yang bengis

Kerangkeng yang kekal dengan lagu dingin

 

1996-1997

 

Akuarium

 

Ikankah kau yang bicara dalam kaca

Berenang dalam lampu remang

Di luar pecinta terpana pada ekormu

Yang mengundang tualang

 

Segera angan pun terbang pada ranjang

Pada rumah miring di atas tebing

Di bawahnya perigi mengucurkan sunyi

Dan anak sungai menyanyikan lagu nyeri

 

Ikankah kau yang bercanda tanpa baju dan celana

Yang memampangkan peta bagi para pengembara

Dan berjanji memberi arti sepi

 

Di luar bejana dadaku bergetar

Ketika bibirmu menjilat karang

dan tubuhmu bergoyang

 

1996

 

Sanglot

 

Kesedihan bagaimanapun bukan harapan

Tapi biji benalu yang hinggap bersama

Burung. Dan matahari, angin, dan hujan

Mengirim gairah hidup yang baru bertahan

 

Dan paruh burung tak pernah mampu menolak

Makanan. Seperti juga kesedihan tak memilih

Tempat berteduh. Semua daerah baginya indah

Dan sebagai pohonan kita pun ibarat limban

 

Bagi segala kesedihan berjalan. Seperti kematian

Kesedihan menjelma kenyataan yang kita cintai

Mainan yang seringkali membuat takut dan bosan

 

1997

 


Horison, Maret 2000


 

Sutan Iwan Soekri Munaf

 

Tangga

 

Bulan perak di langit gelap. Mampir

Saat menangkap sorot mata jernih. Tubuh pun menjadi transparan

dan kau semakin jauh bergerak. Kendara waktu

mengantarkan rindu ke tempatmu

Bulan perak di langit gelap. Aku rindu

datang. Lihatlah, aku buat tangga menjulang

Aku naik anak tangga demi anak tangga. Kau

masih terlalu jauh. Langit menyembunyikanmu

Dari sini

Bulan perak di langit gelap. Berlayar

di samudera angkasa. Menyampaikan salam perpisahan

dan kembali esok malam menangkap wajahku. Barangkali!

 

Bandung, 7 Oktober 1988

 

Ranjang Malam

 

Manakala engkau tidak lagi terbaring di ranjang

Aku mencari bantal sepi. Sendiri

Barangkali lelah tadi siang akan segera hilang

Engkau akan mengirim bunga dalam mimpi

Aku menghirup: Wangi

 

(Semua tersimpan dalam dengkur

Suara merdu dari atas kasur)

 

Kalau pun aku bangun menggeliat panjang

Aku masih ingin bernafas menikmati bersihnya udara pagi hari

Tinggalkan seribu kisah dalam mimpi

Barangkali siang ini aku lupakan tualang

Engkau duduk di sudut ranjang

menunggu kuhirup sendumu

 

Sungguh!

 

1987-1996

 

Sebaris Gerimis

 

Sebaris gerimis

membasahi kembara panjang

Seorang tualang menjelang petang

belum juga mabuk mereguk waktu

dalam sepi meniti jarak

dan menggali mimpi lagi. Masuk

ke pintu rindu dengan mata menyala-nyala. Buta

Ketika sukma menembus sela-sela hujan

Bisu pun beku

Aku berlari menyelimuti dingin

dan kembali mencari-cari

ke dalam hati, ke dalam jantung

Malam. Pun hamparan kisah menghampiri

Sebaris-sebaris. Tinggal

nama yang terbaca dalam kabut dinihari. Nanti

Aku ingin kembali

 

Jakarta, 1996

 

Begitulah

 

Begitulah. Setiap senja aku selalu menunggu. Ditemani

secangkir teh dan membebaskan diri dari kejaran waktu. Di sini

tidak ada negosiasi — Boleh terjadi transaksi demi transaksi

mengoyak-ngoyak kehidupan. Biarkan di lapangan terjadi

Bukan di sini!

Begitulah. Setiap senja aku selalu menunggumu. Menatap

ke kolam kecil dengan riak air di beranda. Senyap

Kini segala topeng lepas. Kita bisa bicara

Apa saja. Tanpa tema tanpa paksa

Namun langkah belum juga sampai...

Begitulah. Ditemanimu —Makan siang— melupakan sangsai

karena melahap kesempatan yang datang menggoda

Kita duduk dan kau mengemil emping. Cuma mata

banyak berkata. Kita bukan siapa-siapa

Sebab hari tidak pernah akan kembali,

begitu kan? Menatapmu —Sambil mencuri-curi dari balik menu

seperti remaja cinta pertama mau bercumbu

Padahal kita manusia perkasa yang bisa menghitung

rugi-laba sampai ke masa datang

dan selalu tepat mengambil risiko. Berani

Begitukah? Secangkir teh semakin dingin. Langkahmu belum

terdengar. Ikan mas di kolam beranda sudah enggan menari

Aku masih menunggu. Menunggumu.

 

Cililitan Kecil, 25 Oktober 1994

 

Refleksi April

 

Berkali-kali kaki melangkah di pagi hari

Es di jalan dingin menggigit sepatu. Beku

Barangkali waktu menggoda jarak

dan perjalanan pun terbagi-bagi

Aku kehilangan lelah saat mencari-cari jejak

Menari-nari. Berpendar-pendar dalam matamu

Barangkali langkah tinggalkan seribu jalan. Sepi

menyapa berkali-kali malam tadi

Aku kembali ingin rasakan waktu dalam dekapmu

Meniti rindu yang berkepanjangan membelenggu

Semua membayang dalam setiap langkah

Barangkali kini engkau lelah dan tinggal dalam sejarah

Ya, aku tidak ingin lagi duduk dan bercakap ditemani bulan

Bercerita tentang seribu perjalanan dalam satu kematian

Aku kembali ingin bercakap sambil berjalan

Meninggalkan bulan. Meninggalkan tahun. Meninggalkan angan-angan

Berkali-kali mengukur jarak waktu. Berkali-kali engkau menunggu

Semua bisu

 

Langkah kaki masih menembus pagi hari

Es di jalan dingin menggigit sepatu. Beku

 

Jakarta, 1996

 

Surat Pendek

dari Gudang Peluru Dayeuh Kolot

 

Masih kurasakan dengus malam

dalam cahya matamu, Neng.

Berdendang dengan angin dan selendang mayang

tentang negeri yang terbakar dendam

 

“Harus diselamatkan, Neng. Harus diselamatkan!”

 

Suara sendiri menggaung dalam subuh

tentu engkau rasakan

langit hitam negeri ini akan luruh,

sebentar nanti langit perak gemerlapan

 

akan tumbuh, Neng, akan tumbuh...

 

Perlahan sekali, subuh kutembus

antara percakapan rumput-rumput dan angin

antara bayang-bayang dan selendang mayang di leherku

dan wajah bunda pertiwi dalam dada,

Langkahku semakin tertuju ke Gudang Peluru

 

Tentu engkau mengerti,

langkah demi langkah berbagi antara kau dan bunda pertiwi

 

Perlahan sekali, kawat berduri kutembus

antara kantuk serdadu-serdadu penjaga

dan nafsu ingin segera kembali padamu.

 

Dadaku semakin busung ketika menangkap senyummu mampir menggoda

dan bunda pertiwi bertanya-tanya dalam ruang dada

tentang arti gelora dalam perjalanan sejarah mendatang.

 

Perlahan sekali, merayap sunyi sambil kugenggam granat

dan menikmati harum rambutmu masih terasa dalam selendang mayang

berjalan menyusur pagi yang hampir tiba

: Adakah engkau di sana mendengarkan kisahku, Neng?

 

Detik demi detik: Waktu berjalan

 

Dalam sudut kepastian dengan granat di tangan panas kugenggam

dan picu telah dilepas. Ketika ini semilir bayangmu makin menggo­da

Ingin saja kukembali dari gudang peluru dan datang padamu

untuk mengajuk waktu-waktu tersisa

 

“Tidak, Neng.

Kita tebus kemerdekaan dengan menggadaikan cinta kita

pada ladang-ladang mesiu musuh!”

 

Dan kita tanam kemerdekaan dalam dada atas setiap jengkal negri ini

dan kita siram dengan darah dan keringat,

agar tumbuh, Neng, agar selamat...

 

Lambaian tanganmu, ketika melepasku pergi

perlahan terasa.

Mungkin juga seribu pemuda merasa

ketika berpisah: Mengosongkan Bandung!

 

Dan granat ini semakin mesra bercanda, Neng

sambil sayup-sayup membakar tanah selatan

 

“Selamat tinggal, Neng, semua ini untukmu!

Aku rela...”

 

Tanganku perlahan

tapi penuh kepastian

dan tenaga. Granat itu kulepas

Granat itu melayang di udara

Berhasil kulempar!

Granat itu lepas!

 

Granat itu melayang dengan anggunnya. Menembus subuh

menerkam sasaran!

Mataku tak pernah lupa

Granat itu meledak!

 

Bunga api di pinggir subuh di sisi pagi

di tepi Bandung Selatan

Mataku tak pernah lupa

Granat itu meledak!

Gudang peluru itu musnah! Gudang peluru itu musnah!

Bergelegar suaranya di Bandung Selatan.

 

Aku puas, Neng, aku puas sekali...

 

Tidakkah engkau lihat semua itu dalam senyumku?

 

Sekarang aku ingin segera kembali padamu, Neng

Ingin kutuliskan kisahku, ingin kuceritakan pengalamanku

dengan selendang mayangmu dalam wangi rambutmu

dengan seluruh getar jiwaku menatap untukmu, Neng

 

Dan langkahku semakin ringan, Neng, semakin ringan

berjalan menujumu. Dan, O, siapa yang terbaring itu?

Wajahnya hancur, tubuhnya luluh tak dapat dikenal

Darah berhamburan di sana-sini

Tapi aku kenal selendang itu, bukankah selendangmu, Neng

Bukankah selendangmu yang kupakai, yang melingkar

di leher tubuh itu?

 

Langkahku semakin ringan dan semakin kasat

Sekali terbang dan sekali terbenam

 

Dari balik mentari

Kusimpan salam untukmu, Neng

 

Bandung, 1983

 


Horison,  April 2000


Soni Farid Maulana

 

Improvisasi dalam Hujan

 

Pecahan air yang melenting dari atas genting

Saat hujan turun bikin komposisi dingin bersambung

Dingin dan angin bolak-balik menyisir pepohonan

Membaca jengkal demi jengkal jejak hujan yang hilang

Di titik pandang. Dengarlah suara gemuruh

 

Yang lambat dan pasti menyapu permukaan bumi

Suara itu adalah suara hujan menimpa beton

Yang nyaring berteriak mencari pepohonan

Dan dingin selalu bersambung dengan dingin

Bertumpuk-tumpuk bagai mentega melapisi kulit,

Daging, tulang juga sumsum. Kau dan aku

 

Saat itu basah dalam hujan yang bergemuruh

Memanggil pepohonan juga rumputan

 

Yang bertumbuhan di balik hari

 

1996

 

Syair Bunga Kangkung

 

Sekuntum bunga kangkung yang ungu

Tumbuh di antara sampah plastik dan bangkai tikus

Rel kereta api membentang di pinggirnya

Cahaya matahari berkilatan dipantulkan air selokan

Diturih timah hitam. Sekuntum bunga kangkung

Yang mekar di situ adalah bahasa juga ayat-ayat sunyi

Yang kerap diwiridkan angin ke relung hati terdalam

 

Air selokan yang coklat kadang hijau muda

Mengalir ke hilir. Sesekali bangkai mujair

Timbul tenggelam, terantuk onggokan sampah, nyangkut

Di sela tetumbuhan kangkung

Di situ jiwaku mengembara ke sebuah ruang yang kelam

Di kedalaman tanah ada jerit akar tetumbuhan

Yang terbakar. Rangka besi berjulangan di pusat kota

 

Dialirkan air selokan ke hulu

Jiwaku berlayar menyisir rumah kertas *)

Kadang kulihat kupu-kupu terbang mengitar

Bunga kangkung. Ada anak kecil berlari

Menangkapnya. Ada ibu-ibu menyabit kangkung

Tampak sehat dan tak berpenyakit jantung

 

Aku mengerti inilah bahasa diisyaratkan angin

Juga sepasukan serangga yang berdengung

Adalah keindahan tersendiri yang bermekaran

Sepanjang rel kereta api. Sepanjang hidup

Berlembah dan berjurang kata-kata

 

1996

*) "Rumah Kertas", lakon teater karya Nano Riantiarno

 

Percakapan

 

Likat lumpur tubuh perempuan

Adalah kesepian yang tiada henti dibentuk

Sang pematung menurut citranya sendiri

Ditatap dan dibetulkan letak lekuk tubuhnya

Yang diolahnya itu. Sebuah tungku perapian

Lalu dinyalakan. Disiapkan pembakaran

 

Kau bagiku adalah ruang yang kerap

Mengekalkan impian-impianku,

Ujarnya. Malam alangkah lindap dan sunyi

Hanya desir rumputan, desir pepohonan

Mungkin denting dedaunan dipetik angin

Cahaya bulan juga suara cengkrik

Menandai batu-batu dan menari dalam diam

Dalam huruf-huruf alam yang berkilauan

Di semesta terbuka

 

Kau adalah ruang bagi imajiku, tanah

Bagi tetumbuhan benihku yang kutanam tanpa

Nafsu, lanjut si pematung sambil

Menghaluskan arsiran palet pada celah berbukit

Di dinding bayang-bayang kelambu bergeseran

Di halaman cahaya lampu dan bulan tampak

Bersilangan, berayun-ayun di antara

Ranting yang dimainkan angin dan lolong

Anjing kegelapan di situ

 

1996

 

Pelayaran malam

 

Tak kutemukan bangkai matahari

Di antara lorong bangunan bertingkat

Selain jejak bulan pada rimbun pepohonan

Sarat debu. Malam yang turun dari hati yang batu

Mengekalkan api sunyi berkobar dari rongga kuburan

 

Perahu waktu berlayar membawaku pergi

Ombak dan gelombang dipelihara ikan hiu

Seberkas cahaya obor di tangan

Kian kelap-kelip dimainkan angin malam

 

Sirip ikan hiu tampak ke permukaan

Wajah yang kelam dan dalam tegak di hadapan

Pelayaran kian jauh dari lepas pantai

Batu-batu karang yang runcing menjulang

Selebihnya lolongan bintang liar

Meledak di bawah akar rumputan

 

1994

 

Ladies Night, 1

 

Duduk dalam diskotek, mendengarkan musik

Melihat orang jingkrak-jingkrak, lantai berkaca

Sungguh tak sedikit pun kudengar hujan jatuh

Dari hatimu. Tak kusangka sejauh itu meruntuhkan

Pohonan di luar senja. Bahkan tak sedetik pun

Terbayang dalam benak, seseorang, ya, seseorang

 

Meregang nyawa, tertimpa bangunan runtuh

Tertimpa perasaan duka teramat kelam

Hanya musik dan gerak orang jingkrak-jingkrak

Yang menyelusup ke dalam ingatan

Serat cahaya bersilangan mengiris asap rokok

Mengiris kesunyian dan kesepianku yang terdampar

Dalam ruangan ini, ruangan sarat musik, orang

Tertawa dan bercintaan dijaring temaram lampu

 

Lalu liuk tubuh ikanmu diam-diam melemparkan

Jiwaku pada sebuah ruang yang asing

Sunyi dan sendiri. Dan kau perawan atau tidak

Bukan urusanku. Ah, mengapa kau memandangku

Seperti itu? Sambil tersenyum kau menghampiriku

Yang duduk, lengket di kursi, tidak berbuat apa-apa

Semisal menjamah dirimu. Bahkan segelas bir

Masih utuh di meja, juga butiran kacang

 

1996

 

Dibangunkan Hujan

 

Malam belum larut benar

Tidurku dibangunkan hujan. Ruang tengah

Yang bocor juga ruang tamu, malam itu

Tampak menjamu hujan. Dan hujan dengan

 

Riangnya menari, melebarkan sayap

Di lantai. Mainan kanak-kanak

Dari plastik tampak mengambang

Hujan makin lebat di luar. Dari ruang tamu

Masuk ke kamar menyapa kasur, menyapa

 

Kaki anakku, hingga bangun

Dan menangis, takut mendengar

Suara hujan yang mengirim irisan

Cahaya, membakar pohonan

 

Setelah puas dengan itu

Dibiarkannya diriku dirangkum

Keheningan yang meliuk

Dipirik detik jam

 

1996

 


Horison, Mei 2000


 

Ajamuddin Tiffani

 

Kemana Kucari, ke Mana

 

begitu kau datang, aku juga datang ke majelis ini

tapi, secepat itu kau pergi

katakan, ke ceruk dan tengah kota yang mana

kau kucari

selain menyongsong deru angin

ketika pertemuan sekilas itu memasungku

 

malam itu, bagai bangsat tengik

aku memasuki semua tempat, di mana kehinaan adalah

kemuliaan; perkelaminan hewani

hingga menjadi si tolol yang bertanya

terdampar di mana aku

 

aku datangi masjid dan surau, dan di tempat

di mana engkau singgah, konon, menambatkan

tali perahumu yang kencana; seperti yang sudah-sudah

kusesali keterlambatan ini, aku tak dapat seperti

belalang, yang lasak mengiris udara, mendekatkan

jarak

 

kuperam ngilu rindu, dan diam-diam menyingkir

ke tepi-tepi, ke inti kekelaman

terpuruk dan hina, menjauh dari tempias rinai

cahaya berlianmu

diam-diam kutangisi khuldi itu sekali lagi

dan ditiap jejak sandar perahumu

menyeru namamu berpuluh ribu kali

 

 

Embun

 

kuburu engkau dengan menapaki tanda-tanda

jejak, sambil bertiti di busur waktu

aku senantiasa terpesona padamu

tak terlalu salah bukan, untuk menjadi terompahmu

 

dengan pengertian yang bagaimana

aku sampai padamu

biar dengan cara yang paling hina sekali pun

 

kau imami kami pada sekali sholat maghrib

tiba pada salam bagi yang di langit

salam bagi yang di bumi

salam bagi yang bermukim

di antara langit dan bumi

seusai itu, engkau pun lenyap

 

sudah tak patut lagikah rumah ini, ya, kekasih

yang tumbuh busuk di degab jantungku

yang kubangun dari bulir darah

dan sumsumku

 

ah, surau yang berada di dalam hatiku

lampu pijar lamat di tanjung yang sepi itukah

dari berjuta-juta, berjuta-juta

sinyalmu, kekasih


 

Bambang Set

 

Sajak Buat U

 

Ketika istri membuka jendela

panas matahari buyarkan mimpi

 

Ketika istri menyodorkan kopi

kubaca koran pagi

 

Ketika istri menyuruh mandi

terdengar senandung di televisi

 

- Kau yang memulai

  dan

  Kau yang mengakhiri-

 

Lagu lama, gaya lama

Penyanyi lama, syair lama

Ah, kuingat peristiwa lama

 

Telah dimulai tapi kapan diakhiri

darah terlanjur lama tumpah

dari tubuh yang di tanahkan

serta waktu yang membusukkan

 

Pohon-pohon Kamboja ber-akapela

menantang suara biduan

 

 

- Kau  yang memulai

  dan

  Tak diakhiri-

 

Seorang wartawan menulis berita

bersumber dari dirinya

Sayang tak ada yang membaca

dibiarkan menjadi rahasia

 

Purwokerto,  1997

 

Requiem Bunga 4

 

berapa kali bertamu

tak pernah ketemu

hanya sering kudapati

paviliun lepas kunci

dimana puntung rokok menyampah

asbak sesak tampung desah

cuma jadi ladang bagi semut-semut

berseraknya biji rambutan

ini barangkali yang kau sebut headline

bagi kaum pinggiran

aku pun tertawa lepas

membentur tembok penuh kelupas

mengusik cicak yang akan menjilat

1/4 cangkir kopi basi yang tersisa

dan masya Allah

vas kado ulang tahun perkawinan

menumpuk dahak kental pada kelopak bunga

siapa tega membusukan cinta

sungguh, rumah ini seperti tak berjendela

tak bisa melihat dunia luar

bukankah bunga tak hanya mawar

mawar tak harus cepat memekar

kau memang  kurang diplomatis

panik dalam menyiasati melencengnya garis

persis ketika melukis

padahal di jagad raya

matahari beda terlihat dari planet lain

beranikah kalau logika menjamin?

 

Purwokerto, 1997

 


Iyut Fitra

 

Laut

 

setelah kutinggalkan pelayaran, cuaca berubah

dan musin pun diganti angin atas warna yang lain

sebegitu aku bermusuh dengan rasa asin, penungguan

lalu melambai diri pada segenap kenangan

 

tapi kekuatan apa lagi melingkari, yang datang mengetuk

malam, sehingganya aku membaca kembali masa lalu

yang kau tuliskan di dada kanak-kanak pencari lokan

 

"atas nama badai, datanglah! sebab telapak

yang kita gariskan tak akan pupus dihapus pantai"

entah, mengapa kau ajak lagi aku  ke laut

sedangkan rasa lain tengah kupersiapkan

 

September, 1997

 


Herwan FR

 

Potret Lelaki Penempuh

 

Gibran mengajarimu bersilaturahmi dengan

diri sendiri. Kesetiaan, teka-teki yang selalu

tersimpan dalam tubuh. Kata-kata tidak harus

terkabarkan dengan wujud. Dan kasih lelaki penahan

rindu bertahun lebih kekal dari abad. Rindu yang

ia tiupkan mampu menyentuh cinta wanita pilihan.

 

Kesabaran perlahan bangkit dari tubuhmu.

Kepiluan menjelma bibir yang sunyi. Lengking biola

mematahkan waktu. Bulan pucat di ujung cemara--

Tubuhmu menjelma seribu pertanyaan. Lelaki penempuh

yang begitu malu akan kesejatian dan pengakuan.

 

Bandung, 1997

 


Tri Astoto Kodarie

 

Ziarah Pagi

 

lelah yang membawaku

menuju pekuburan waktu

dan suara rintih angin

dalam desau yang dingin

 

untuk siapa ziarah ini

jika gelisah yang dituju

untuk siapa ziarah ini

jika langkah menjadi jemu

 

ziarah pagi yang senyap

mungkinkah menyingkap

cerita tidur panjangmu

yang berlumut dan berdebu

 

jadilah ziarah bagai kupu-kupu

yang selalu menjebakku

dalam rona kembang yang semu.

 

1996-1997

 


Horison,  Juni 2000


 

Georg Trakl

 

Kepada Elis Muda

 

Elis, bila burung amsel memanggil di rimba gelap,

Itulah tanda keruntuhanmu.

Bibirmu meminum kesejukan banyu cadas biru.

 

Biarkan, bila dahimu berdarah perlahan,

dongeng-dongeng purbakala

serta penafsiran samar tentang makna burung beterbangan.

 

Tapi, kau melangkah halus merambah dalam malam

Yang penuh digantungi buah anggur yang ungu,

Dan kau gerakkan lenganmu semakin indah dalam biru.

 

Ada semak berduri bersuara

Di tempat matamu serupa bulan.

O Elis, betapa lama sudah, engkau mati.

 

Tubuhmu setangkai bunga hyazinthe,

Ke dalamnya seorang biarawan nenggelamkan jari-jari pucatnya.

Kebisuan kita adalah goa yang hitam,

 

Keluar darinya terkadang melangkah hewan lembut

Yang perlahan mengatupkan kelopaknya yang berat.

Lalu meneteslah embun hitam di atas pelipiskau,

 

Emas penghabisan dari bintang yang runtuh sudah.

 

 

Catatan:

Elis = nama lelaki

 

Puisi-puisi diterjemahkan dari bahasa Jerman

oleh Berthold Damshäuser bersama Ramadhan KH.

 


Horison,  Agustus 2000


 

Aslan Abidin

 

Prometheus

 

(buat seorang perempuan asing yang kuantar ke pelabuhan

semata karena selama beberapa hari bersama; kami menjalin

affair tak menjanjikan.)

 

di pelabuhan yang dikepung melankoli —di antara bau

bacin dan cemas kecopetan— kulepas kau ke negerimu

di utara. kucium pipimu kiri-kanan; angin berkesiur di

telingaku. kutepuk pundakmu; angin menggerai

anak-anak rambutmu.

 

“aku suka negerimu. tapi aku

tak ingin tinggal. aku takut harus memeluk satu

agama, dan percaya bahwa surga ada di akherat. aku

ingin kembali ke negeriku.

tempat surga sedang dibangun,” katamu.

 

di sudut pelabuhan, tertambat sebuah kapal peti kemas;

tua dan kesepian. di rusuknya ada tulisan berkarat: navieras

de puerto rico. mungkin pengangkut rempah-rempah,

atau budak, apa bedanya. semua bangsa rasanya telah

menjelma penjajah di kepalaku.

 

juga laut di depan mataku, seperti

kemaluan seorang pelacur; menganga dilayari

kapal-kapal dan lelaki-lelaki ke negeri-negeri

jauh.

 

“ikutlah ke negeriku,” bujukmu.

“di sana —bahkan setelah tua sekalipun, di setiap akhir

tahun— kau masih dapat jadi sinterklas, membayangkan

dirimu naik kereta salju yang ditarik kijang bertanduk

panjang dan menipu ribuan anak-anak.”

 

tapi kapal yang meraung seperti monster kesakitan itu

telah membawamu. seperti kau, aku ternyata tak melambai. tak

ada yang hilang apalagi kosong di dadaku.

 

aku hanya tiba-tiba merasa ingin seperti nuh: menjadi

satu-satunya nakhoda yang berlayar di atas bumi

yang tenggelam.

 

 

Makassar, 1998

 

Di Terminal Landungsari

-kepada Pikong

 

“kujemput kau di terminal landungsari. aku

datang dengan t-shirt hitam bertuliskan namamu,” janjimu

di telepon. tapi di terminal landungsari semua orang

bergegas. seperti keberangkatan atau kepulangan yang

tak pernah jelas.

 

kau jemput di mana aku di

antara debu dan deru bis yang bising begini?

kau jemput di mana aku di

antara suara tuter dan jerit kondektur yang pekak begini?

 

semua orang menulis namanya sendiri di bajunya. tak kutemukan

namaku. juga di dinding wc yang penuh coretan, tak satupun

tertulis namaku.

 

tapi namamu, hanya namamu dapat kutangkap, dalam tulisan

tanganmu yang kukenal: “pikong pernah ke sini. dengan

t-shirt kuning bertuliskan: pikong!”

 

Malang, 1997

 

Sebuah Pantai dalam Sebuah Menhir

 

di pantai tempat kau pernah menyerahkan tubuhmu

kepada matahari, dan pada pasir di mana pernah tergenang sumsumku.

gerimis terus menimbun jejak-jejak kakimu.

juga masih ada angin yang menyimpan lipatan wangi rongga dadamu

seperti tertinggal sepenggal pegal di situ. tapi kau,

seperti gelombang, tak pernah datang dari tempat beranjak.

 

tak pernah mampu kupahami pantai ini. yang menguburmu,

menenggelamkan laut di matamu.

 

“di pantai ini, kita hanya menunggu giliran dikubur. jadi berhentilah

mengenang buah dadaku,” ucapmu.

 

ketika itu, aku membuat dua gundukan di

pasir dan kuletakkan bulatan coklat kecil di atasnya. tapi

itu dulu, saat pantai belum ditanami

beton

 

Makassar, 1995

 

Masuk Keluar Mall:

Ingatkan Aku Pada Banyak Orang

 

masuk ke sebuah mall, disambut

gadis-gadis pelayan dengan buah dada yang siap menerima. melihat

gadis-gadis pengunjung melompat-lompat

seperti ikan di atas bara: cina, jawa, bugis, arab, dst.

 

memegang-megang pakaian dalam impor dan

membayangkan kemaluan orang asing. kemaluan-kemaluan

yang diposkan dari benua-benua baja. dan

di sini, kita mencocok-cocokannya dengan kemaluan

sendiri di kamar pas. sementara di sudut lain,

kita menertawakan tomat dan wortel yang mirip kemaluan

sendiri.

 

berstanding-party membaca buku agama:

jalan-jalan ke neraka, dan buku konsultasi seks: bagaimana

membebaskan diri dari onani. keluar dari sebuah mall, disambut bocah peminta-

minta yang ingatkan aku pada musa, peminta-minta tua

dengan mata terpejam yang ingatkan aku pada

gandhi. aku tiba-tiba ingat juga pada judas. o di mana dia ketika

dibutuhkan seorang pengkhianat seperti sekarang ini. di antara

dengung eskalator dan gemuruh tas plastik, aku hanya

mendengar woody allen, ia seperti bersabda: “aku berbelanja,

maka aku ada!”

 

keluar dari sebuah mall,

dan hanya sanggup menyelipkan sebuah buku sajak tipis bersampul

gelap di jaket: ingatkan aku pada chairil

 

 

Makassar, 1996

 


Horison,  September 2000


Afrizal Malna

 

Orang Hilang Ada Orang Pecah

 

Ada orang hilang. Tapi ada orang pecah juga. Presiden yang telah membunuh demokrasi, jatuh. Tangan dan lehernya mengeluarkan gergaji. Tapi dewan perwakilan rakyat harus dibuat lagi. Seperti membuat matahari dari daun pisang. Ada orang hilang, kata Tita. Tanah telah memuntahkan tubuhnya kembali. Sepatu tentara berjatuhan dari mulutnya. Ada orang hilang. Gedung parlamen berbau mayat, dapurnya juga berbau mayat. Presiden harus dibuat lagi. Kabinet harus dibuat lagi. Tapi ada orang hilang, kata Tita. Matanya ditutup politik yang terbuat dari gergaji. Tanah muntah. Tak bisa lagi menumbuhkan tanaman. Ada orang pecah. Tanaman muntah. Tak bisa lagi berbuah. Hutan membakar dirinya sendiri, seperti apa di jari-jemari tanganku. Bangunan juga telah membakar dirinya sendiri. Ada orang dibakar, terbakar. Ada orang diperkosa. Ada negeri diperkosa juga. Tanah diperkosa. Tita, ada orang hilang, seperti aku menculik diriku sendiri semalam. Parlemen harus dibuat. Mahasiswa menyerahkan badannya di depan tombol diktaktor. Tapi berbisik-bisik … ada orang hilang. Tema-tema pecah, seperti bayangan negeri ini. Tapi berteriak juga: ada orang hilang! Mayat yang gosong. Kepercayaan yang telah menyimpan mayat. Ada bahasa yang mengancam lehermu. Kepercayaan yang pecah. Ah, apa kabar amerika? Tanah yang pecah juga oleh kekerasan bahasa politik. Anak-anak tak bisa minum susu, tak bisa sekolah. Buku-buku mahal. Padi tak berbuah lagi. Ada gunung meletus. Rakyat harus dibuat. Demo harus dibuat. Ada tempat penyiksaan. Tulang-tulang digali dari lehermu. Pintu parlemen digergaji. Tita, ada orang hilang. Tapi ada orang pecah juga, seperti bayangan negeri ini. Ada matahari, lembut, terbuat dari daun pisang. Kemari. Dengar. Ini negeri untukmu. Jangan begitu memandangku. Aku mayat. Mayat politik. Yang pernah diculik. Di siksa. Jangan menguburku seperti itu, seperti mengubur negeri ini. Jangan. Kemari. Dengar. Ini tanganku. Masih hangat. Seperti pembalut politik yang telah menutup matamu. Kemari. Mari. Masih ada seratus tahun lagi di sini, ini, di tanah ini.

 

1998

 

 

Rumah Kata

                             — Bulan Ibau

 

Malam mulai menyusun lagi sebuah buku dari hati yang tak pernah tidur. Aku berjanji padamu untuk merangkai bunga malam itu. Seperti kerinduan yang meminta air matanya sendiri. Suara becak berdering, sebuah rangkaian besi di atas aspal jalan. Kita pulang bersama, aku tahu, sambil membuat malam bertambah panjang. Tapi ke mana kita mau pulang? Rumah kita hanya ada dalam cinta. Sebuah pohon jambu air tumbuh. Teh panas. Lalu suara ledakan. Api. “Apakah kamu baik, Ibau?” Kota ini memiliki sejarah yang liar, di balik panggung-panggung politik penuh pecahan kulit telur, tulang-tulang ayam, dan deretan toko berdagang es campur.

 

Beras, gula dan minyak goreng mulai menjadi politik. Orang membuat partai-partai baru, seperti memencet tombol tv. Menciptakan seorang presiden yang memimpin dengan menyimpan api pada setiap kata. Ia yang membakar pusat-pusat akademika untuk api politik. Lalu mengirim bangkai sebuah kota, memecah alat-alat kekuasaan untuk menyelamatkan diri. Tak melihat anak-anak mulutnya tak lagi berbau susu. Semua, semua yang menjadi tontonan pedagang modal di luar sana.

 

Aku genggam seluruh jemari tanganmu, seperti kerinduan yang meminta air matanya sendiri. Lalu cinta seperti pita-pita hitam yang terikat di lengan kiri, memasang kembali sayap-sayap malaikat pada punggung setiap orang. Membiarkan ketakutan pergi dari setiap hati. Dan kata mulai membuat rumah baru lagi di situ. Membiarkan cahaya matahari membuat tanaman di halaman. Pada daun jendela yang terbuka, bermain bola di ruang buku, ikut membuat langit di hatimu. Seperti suara becak yang memasuki genggaman tanganmu.

 

1998

 

 

Ibuku

 

Nanti malam ibu akan datang, mengajariku membaca lagi. Rambutnya

keriting. Ibu memakai kebaya kalau mengajakku pergi. Dulu kebayanya

masih diriwon. Matanya seperti kebun jeruk. Tidak ragu lagi, ibu tidak

mati. Aku tidak mengantarnya ke pemakaman. Dia akan datang lagi, pergi

bersamaku naik perahu ke Cilincing. Beli sepatu di Cikini. Tapi jam

sembilan malam tadi aku tak tahu wajahnya yang terakhir, senyum dan

tawanya yang lepas. Ibu seperti menari di atas air. Tubuhnya tambah

besar, tambah berat, dipenuhi gula. Ibu bilang sekarang saya orang tanpa

daya dan upaya. Ibu bilang setiap orang tidak memiliki apa-apa. Ibu

bilang setiap orang akan pergi. Lalu tubuh ibu tambah berat, bersama

tanah dan semut-semut. Bersama langit dan kematian nama-nama di

keningku. Aku pasang gorden, aku bersihkan kaca jendela dan halaman dari

daun-daun kering. Rambut ibu masih keriting. Mata ibu masih kebun jeruk.

Seorang kekasih terus menemaniku di situ. Dan ibu akan mengajakku lagi

berenang di empang samping rumah. Airnya dingin. Memberi makanan anjing.

Melihat dari jendela yang tinggi: pekarangan yang penuh dengan susunan jejakmu. Dan kelambu harus ditutup. Kaki harus dibersihkan. Di luar, tangan malam sedang merusak kebun jeruk.

 


 

Badaruddin Emce

 

Riwayat Waktu

                        "8 Desember 1996

                   sendirian dari desa Kedu"

 

Apa bedanya dengan batu-batu di galengan?

Pada riwayat panjangmu

Juga tersandar batang jagung kering.

 

Awan juga seperti kabut!

Membakar rambut manusia.

 

Sindoro-Sumbing tanpa puncak,

Hujan merawat sekumpulan kijing

Lalu menghilang.

 

Tak ada kata-kata besar hari itu!

Seperti paranormal

Pohonan menyusun wujud hijau

 

Dan sebersit rindu dalam hati

Hari serasa sudah larut malam.

Bersama istri ngeloni anak.

 

Tapi gemuruh ombak pantai selatan

 

Belum meruntuhkan batu-batu pikiranku.

Berombongan orang turun gunung.

 

Pipi tergores dingin kaca.

 

Seorang wanita tua nggendong

Seikat kacang panjang.

Hidup pun baru akan

Dan boleh tidak segelas penuh.

 

1996

 

Awal Oktober,

Pukul 15.13 Cilacap

 

Di sini angin membuatku bersin.

Apa-apa yang aku rasakan

Terlempar dalam bulatan lendir.

 

Ada yang serupa

Lelehan batu

Di mana kata-kata

Tak mampu mengembalikannya

Jadi bunga.

 

Terkadang dengan teman

Yang belum berkeluarga

Aku dapat melihat pohon pisang

Tidak seperti apa pun.

 

Satu tangkai daunnya yang robek

Terjuntai ke atas trotoir

Melindungi bumi dari hujan.

 

Selebihnya aku menyukai kemunafikan.

Banyak sudah yang aku takuti.

 

Sekilas punggung Nusakambangan

Tumbuh tiang;

 

Kawat listrik terbentang

Ke lautan lepas;

 

Menjelang Maghrib

Kalong dan sebangsanya,

Tidak seperti biasanya,

Menyerahkan malam

Kepada makhluk

Yang sedang mabuk.

 

Mungkin kemunafikan

Lebih mirip kearifan.

 

1996

 

Slarang Field,

Kesugihan

 

Lelaki itu-itu juga melempar kondom basah

Ke sawah.

 

Mudah-mudahan ini pasangan terakhir,

Bakal menetap di bumi.

 

Entah dari desa apa berasal,

Adam-Hawa entah bukan,

Berbimbingan ke barat yang mendesak

Ingin dipadamkan.

 

Sekali lagi

Sore jadi surga yang menjelma di ladang-ladang,

Pencari pasir tidak merasakan

 

Detak was-was jantungnya.

Limabelas tahun sudah, bersama para santri,

Serayu tua menanti -

 

Di desanya malam tidak hanya

Dilewati kawat bermil-mil panjang.

Air, mukjizat musim hujan,

Selalu deras nuju muara.

Ini yang dikhawatirkan angin,

Bukit dan awan -

 

Rimbun anak pisang berakar di tepian

 

Menghisap semena-mena Cinta yang ditabur

Dengan benar dari pinggir jembatan.

 

Esoknya, semangka yang terangkat

Dari rumpunnya

Tinggal merahnya bercecer dalam kencing.

 

1996

 

Buah dan Hewan

dalam Lukisan Sokaraja

 

Basah kebun oleh

Percintaan bulan-matahari.

 

Sebuah rantingdaun

Diiring pendar-pendar di air,

 

Enak sekali njuntai

Dari hutan seberang.

 

Kemudian beberapa butir buah

Jadi seperti dibebaskan.

 

Hatiku tak lebih merah

Dari jeritannya bukan?

 

Di bumi ini

Sungguh terjadi.

Sungguh terjadi,

 

Bersama beberapa ekor anaknya

Seekor babi hutan

Tengah minum

Di pinggir telaga ini.

 

Dan kau mencari mereka dariku,

Nyaris memaksaadakan.

 

Siapa gitu berani

Melukis bunga

Tanpa manusia?

 

1993/1995

 

Ronggeng Selendang Hijau Pupus Pisang

                                   

          untuk Kang Ahmad Tohari

 

Pelajaran pertama segera berakartunjang.

Karang menjulang diusap angin saban hari

Mungkin meja perjamuan.

 

Tumbuhlah dalam pikiran,

Pohon bertugas menghantar buah kelangenan,

 

Lalu ketakutan menyirami

Dari arah yang tak bisa dipahami.

 

Tak patut, di kerajaan laut ini

Berhasrat selendang hijau pupus pisang.

 

Selepas panen, kutemukan diriku

Masih seorang perawan.

 

Selepas panen, kutemukan diriku

Masih seorang perawan.

 

Lewat lorong para raja pula,

Kusaksikan, para siluman,

Seperti celana berserakan,

Bebas berkata-kata,

Minum dan

Membanting gelas kehidupan.

 

Lalu seekor anjing jantan

Menjilati kemaluan betinanya.

 

Aku pun tetap seorang rewang!

 

Tarianku masih bergetaran bunga merahkuning

Pinggir jalan.

 

 

1996

 


Iyut Fitra

 

 

6 Februari (2), Selamat Pagi Usia

 

kembang-kembang itu terus bermekaran, datang dan mereka kirim

setiap gendang riuh, padaku jauh terpukau ruang gelap: sunyi

dengan dada yang sama, warna merah jambu merobek hari

mungkin sebagai malin, “bunda, di mana rantauku?”

hanya rambutku yang memutih oleh waktu, dan kapal-kapal

senantiasa melengking melambai diri

 

ini lilin, entah ucap siapa

bila terbakar usia akan susut

maka siapkanlah sebuah perpisahan

 

saat upacara yang dinamakan kelahiran, dulu

berbagai-bagai kematian pun telah ditulis di atas perjalanan

dan insan segera mengerti cara menangis, maka bersalamlah

ketika kereta yang sama melintas-lintas mengulang jejak

mungkin sudah waktunya kita bijaksana, bahwa usia

hanyalah kembang di antara takdir-takdir sebelum pertemuan

dengan tuhan

 

Payakumbuh, Februari 1998

 

Malam Kesatu   

 

seperti bulan yang lalu melintas tak terdekap

kutulis lagi cerita yang sama: kita dua angsa putih

gamang berlayar menabuhkan kelahiran menuju kehidupan

atau mungkin perjalanan mengunjungi kematian

 

lagu sakral itu kembli kita rangkai, di tengah musim

yang terus gugur orang-orang bermain bayang-bayang

dan kita mendekapnya, entah itu suara adzan

atau upacara yang dipanggilkan lewat lonceng gereja

tapi seolahnya kita bagai adam dan hawa yang tidak paham

dengan tarian tuhan, terpukau angin yang meniup sepanjang

padang, dan buahnya tak pernah tuntas kita petik

“ceritakanlah padaku tentang sorga, atau dongengkan saat

anggun memberikan malam kepada gondan!” bisikmu ragu

dan kita terasa makin dekat atau berjauh, asing

menjalin jemari dengan satu sinar yang tak dimengerti

kelahiran ini! kehidupan dan perjalanan ini!

o, kematian yang menumbuhkan ruang dansa di kubur-kubur

kitakah itu yang mengusung keranda, bernyanyi-nyanyi

lalu berdoa bersama, tentang rahasia yang bertaburan

 

: kita dua angsa putih kehilangan warna

lelap dan berdekap untuk kelahiran atau menuju kematian

lama kita tunggu tuhan di sana, di sana

 

Padang, Februari 1998


 

Isbedi Stiawan ZS

 

Saatnya Aku Mengerti

 

            buat ibuku, ratminah

 

sisakan garam dari tubuhmu, ibu. sudah bermalam-malam

kukeringkan air laut untuk menajamkan pisau usiaku

tapi kenapa aku lebih suka menikmati garam yang didulang

dari tubuhmu?

 

aku tak pernah jadi perahu di lautmu, ibu. padahal,

telah kurekam beribu-ribu ayatmu di hatiku. jadi lembar-

lembar kitab yang terbuka: tapi wajahmu selalu hilang

dan datang

seperti gambar televisi yang tak mampu kubaca

 

ibu, ingin kukeringkan air laut dari tubuhmu hingga jadi garam biar

lauk hari-hariku punya rasa. ingin kuperas garam dari tubuhmu

dengan sejuta matahari yang kupetik dari pohonNya

 

saatnya kini aku mengerti garam dari tubuhmu sangat kurindu. padahal

laut yang bergelora dari sela-sela hatimu mulai menepi, dan

aku kembali ziarah ke dalam mimpi-mimpi besarmu

yang belum juga seluruhnya rampung!

 

ibu,

aku ingin kembali ziarah ke dalam pangkuan lautmu. seperti perahu

yang masuk ke galangan lantaran telah karat. sebab peradaban

telah membuatku makin jauh dari lidah asin-manismu.

 

Madura, Juni 1996

 

Sudah Lama

Aku Mendinginkan Dada

 

Kau tahu, sudah lama aku mendinginkan dada

di depan lemari es itu. Ini hari, ketika matahari

yang kau tunggu kembali muncul dengan teriknya,

aku sudah diam di depan pintunya. Kutunggu ia

menyambut kedatanganku. Lalu bersalaman, berkata-kata

untuk beberapa jenak. Menyebut-nyebut yang fana dan

abadi: setelah itu kulemparkan batu kerikil ke liang

yang satu jua. Kutunggu lama suara sampainya...

 

Kau tahu. sudah lama aku berdiri di bukit ini juga,

memandang orang-orang yang turun dari perahu tua-

itu. Lalu berenang untuk berabad-abad...

 

Dan, kutunggu badai reda. Kucium banjir seperti

aku mengencani Adibah. Sebab, bencana dan bahagia

begitu dekat di bibir kita.

 

1997

 

Anak Perempuan itu

 

anak perempuan itu mengejar bayang-bayang:

kematian itu suci. apakah kau mau hewan?

 

lebih suci mengejar bayang-bayang ke balik

taman sunyi itu. ini bukan dunia binatang!

 

kulihat anak perempuan itu pun terbang

ke balik awan. dan kado yang suci itu,

 

kado yang suci berikan kepada Tuhan

kematian ini karena takdir-Mu juga

 

tak ada yang lebih bahagia

selain mempertahankan selembar mahkota!

 

ya!

 

1997

 

Aku Selalu Mengabarkan,  Adibah

 

aku terus mendatangimu. dan pada lembar-lembar waktu

aku terjemahkan napas parfummu yang satu. sambil tidur-

tiduran di belantara, kuhitung pula langkah-langkah

kita sejak mula ibu-bapak dilempar dari sana

 

sampai aku hafal wajahmu ketika menangis dan tertawa. kutulis

dalam lembar-lembar buku yang terus  kubawa keluar masuk

kota-kota yang tak kukenal. karena cintamu, kutepis segala

yang menggoda

 

selalu ingat buah kuldi itu, pesanmu setiap aku ingin kerja

atau pergi ke lain kota. lalu kutulis pesan itu jadi surat

yang kulayarkan ke dalam nuraniku.

 

itu sebabnya, adibah, aku selalu mengambarkan tentang

gambar tanganku yang terpanggang di kota lain. lewat telepon, atau

lewat percakapan yang panjang pada sepertiga malamku

lalu kuledakkan dadaku di hadapanmu, dan kuminta kau

menatapnya pula dengan cinta

 

aku ingin lembar sajadah ini jadi surat suciku untukmu, jika

kabel telepon tak sampai menghubungi pengaduanku. aku ingin pena ini

jadi lidahku, jika surat yang kukirim tak sampai ke pangkuanmu.

adibah, jadilah cahaya bagi cintaku yang membakar

buah kuldi setiapkali ingin tunas!

 

Bengkulu 1995-Surabaya 1996

 

Tragedi

 

aku mencium bau busa dari mulutmu. kepada

perempuanmu di rumah sudah kupesan: suara lelaki

secepat gerakan angin. siapa mampu membaca

geraknya?

 

kemarin aku memburu kau di antara lobi-lobi

hotel dan pub. juga di arena bola sodok yang

anyir alkohol. kutahu kau tak ditemani

perempuanmu yang berenang di air matanya

sendiri.

 

lelaki, o lelaki. mengapa kau jual

kepasrahan perempuan di pasar sandiwara?

 

1997

 

 


Horison, Oktober 2000


Oka Rusmini

 

Di Depan Meja Rias

 

sebatang lipstik mendekat. Aromanya liar.

dengan pandai dilumatnya bibirku.

dia meneteskan:

arak, kekentalan susu, dan aroma asin

 

aku melihat topeng

menari-nari lewat mataku

 

(seorang laki-laki mendekat)

 

Kau perlukan segenggam bedak.

kurebut

kucairkan di wajahku

aku mulai mengurai butir-butir itu

menutupi lubang pori-pori wajahnya.

Pori-pori itu diam, menikmati kehangatannya

 

Sebatang pensil alis mengangkat dirinya tinggi-tinggi.

Dia pandai memainkan huruf-huruf di atas  mataku.

dia mulai melukis dan membuat huruf baru

katanya: huruf ini hanya milik perempuan

 

(seorang laki-laki mendekat)

 

dia kagumi keliaran warna-warna yang melekat.

aku mulai menggeliat, agak panas.

benda-benda itu terus menahanku.

aku berloncatan, mengurai diriku.

 

hati-hati kubakar wajahku.

 

(laki-laki itu menjauh)

 

Denpasar, Januari 1997

 

Frans II

 

capung menata bulunya

merapatkan mimpi kanak-anak

sebuah ruang

ditutup kafan

Frans,

rahasia malamkah itu

dengan sayap merpati kupinjam urat lahir

anak-anak

menunggu kau pulang

badik, atau jala mengeram di otak

 

“anak-anak biasa menelan garam”

 

perempuan itu menyepuh dewi Sri.

kulitnya bersisik

dia telah pandai mengurai dagingnya

Frans,

kau kah itu.

 

di sana gelap

air garam mengurai tubuhnya

kau melaut

mengumpulkan benih air

 

“anak-anak biasa menelan mimpi”

 

perempuan itu menutup mata

“kujual batang hidup, akar pasir, dan sekeping cinta”

 

kaukah itu Frans

sebuah pulau

terhimpit. Batu-batu tumbuh di urat jarimu.

 

 

Denpasar, 1997

 

Pesta Api

 

                   dayu werdi,

brahmana, ksatria, sudrakah nafsumu?

aku pernah memecahkan sungai

ketika kau rampas taliku untuk menyelamatkan tarianmu

rasa laparmu terus meninggi menembus otakku

retak.

 

                   dayu werdi,

aku ingin pergi ke sorga, konon tuhan melukis wajahnya di kakimu

ijinkan aku mengintip. sedikit saja.

apa warna sorgaku? hitam. putih.

kulihat sorgamu terlalu rakus melahap warna.

mungkin aku bisa memilih ilalang atau kebun bunga.

lalu sepertimu bercumbu dengan lelaki di sana.

mulutku menari. laparku meluap. tubuhku berair.

hutan-hutan di balik kakiku akan menanam bau harum.

kupu-kupu atau kumbangkah yang akan mengisapnya?

 

                   dayu werdi,

telah kau tidurkan darahku.

dekat rumput yang menguning.

penuh luka. aku juga mencium rasa sakit.

segumpal bau busuk melahirkan kembang.

cintakah kau tanam dalam dagingku?

         

                   dayu werdi,

kau  mulai pandai menanam hati.

menghidangkan mata.

lihat! kulitku penuh sisik panah.

jangan mendekat. darahmu tak lagi bisa menghidupkan api.

 

                   dayu werdi,

aku menanam keping sejarah sorgamu.

ceritakan sedikit tentang dongeng perempuan.

lapar.

beratus hari mengemis.

aku terus berlari. berikan sorgamu.

mana wajah tuhanmu?

aku telah menaburkan bibit wujudku.

semua jadi liar.

panas.

aku menemukan tali.

belajar meledakkan tubuhku.

anak-anakkah mengintip dari rahimku.

seperti apa aku?

meminang dagingku atau membuangnya untuk kesuburan bumi.

 

                   dayu werdi,

kau terus berteriak.

meretakkan otak. meletuskan upacara kecilku.

katamu:

“jaga anak-anakku”

cepat!

cium kakiku pinang sorga di telapakku.

aku telah pandai memetik darah.

dari permainan nafsumu.

 

September-Oktober 1996

 

 

 

Sketsa

 

kubayangkan anak-anaku menanam luka

di ladang air mata dan darah

orang-orang datang menata wajah dan pikirannya

inikah kebun itu?

yang sempat kupetik dari garangnya laut dan muntahan biji pasir

setiap membuka mata

sayapku patah sesaji menguburkan helai rambutku di pekarangan

ada nanah berpesta di ujung upacara ini

 

inikah kebun itu?

sebuah gua diwarna gelap dan sunyi

 

aku telah lama menata hari-hari

dalam genggam jariku yang mulai tak pandai melukai janur

bahkan wajah tuhan turun naik

memompa nafas yang kadang liar dan dingin

 

inikah kebun itu?

harus kembali kutata

sementara anak-anakku hanya bisa menengadah

sambil makan dagingku dengan buas.

 

rasa sakit itu

telah kugantung di seluruh rongga tulangku.

dan sisa upacara yang mulai sedikit basi.

 

inikah kebun itu?

selalu lapar dan penuh hiasan kepingan biji pasir.

 

Oktober 1996

 

Sajak Kartu-kartu

 

malam usai menciumi tubuhku

ombak sempat menenggelamkan tikungan tidur yang kutanam dalam otak

satu kecupan

satu luka pada potongan batang tubuh

atau ruas-ruas asing yang menguliti aroma perempuanku

menggiring sel-selku pada-mu

satu tumpuk sajak-sajak

yang hanya dipahami  para pengelana

tak mengajariku arti duniamu

dalam sembayang-mu

tuhan meletakkan abu-nya dikeningmu

kau taburkan dalam ladang-ladang gelisahku

 

“ini setangkup api dari kedinginan sajadahku”

 

aku melihat mata menggelinding

mendekati mata kaki, dibunuhnya nyala dupaku

orang-orang hanya pandai menata kebun

memandikan ketelanjangan kita

 

bahkan setelah kita telanjang

tak pernah kita kenali tubuh kita

 

“ini setangkup bunga dari kelaparan bungaku”

 

Mei 1996

 

Frans

 

ini yang pertama kali

kukenal bau itu

lorong-lorong gelap

dengan lentera yang membusuk

di gua-gua

setiap nafas kau cat

 

ikan-ikan melepas siripnya

terus bersetubuh

 

kukenal bau itu. Frans

lewat perjalanan yang kupinjam

pada kanvas, dan bau cat

 

aku menatah batu

melewati ranting

dan menggenggam akar

 

Frans,

meletuskah dia

bersama kubangan gelapku

yang melumuri patahan nafas

 

 

Denpasar, Agustus 1997

 

Totem

(kelahiran)

 

tubuhku meneteskan abu

utat-ulat menguliti setiap perjalanan yang kupentaskan

mereka baru belajar menanam akar

di setiap liang nafasku

 

kukalungkan nafsu bulan

retakan lumut melekat pada setiap batu

mereka mengisapnya

 

batu-batu diletakkan di kepala

para perempuan menopang bumi

 

aku hanya bisa mengumpulkan pecahan keringat

dan menggulung setiap abu yang retak

 

Denpasar, 1997

 

Menjadi Ibu

 

aku meloncat-loncat. Melubangi tanah. Memisahkan air     

kubayangkan boneka-boneka kecil meloncat dari perutnya.

 

“aku yang jadi ibu. duduklah. Aku akan mengeram seperti ayam

perutku akan meletus”

 

(semua mata menatapku. Mereka berpegangan erat

sesekali membetulkan mahkota daun di atas kepala)

 

Aku tak lagi meloncat. Sebuah jalan menawarkan hidupnya untukku.

 

“jadilah  kau perempuan. Membesarkan langit dan menyuburkan bumi”

 

(kali ini aku yang menatap suara itu.

suara yang menuntut hak.)

 

Aku mulai mempelajari aroma.

dipecahkan serat tubuhku. aku harus menumbuhkan ladang

seorang peladang akan menanam benihnya. Lengkap dengan cangkul tajam.

dia akan lukai tubuhku.

dia alirkan darah dari dua kakiku.

darah yang menunjukkan wujud laki-lakinya.

lubang yang memberi jalan untuk manusia

apa yang kudapat?

 

luka

rasa sakit

keabadian

 

Denpasar, Maret 1997

 

Lelaki Itu

 

dalam kepala yang penuh dilingkari api

kau menabuh setiap daging yang kau sembelih

lalu lahirlah aku

dengan kalung pedang.

otak yang tak henti-henti menjatuhkan lahar

membakar sawah

bahkan melebur gunung

rata di depan alis mataku

 

suatu hari kau datang dengan sepotong daging perempuan

daging itu meloncat-loncat di tanah

lahirlah adikku

aneh sekali dia tak memiliki api

gelap.

kau memanggil para dewa mendudukkan sejajar denganku.

mata anakmu membakar sesaji

juga menelan genta pendeta

perempuanmu melolong

membagi-bagi tubuhnya di tanah

menggeser tempat dudukku.

katanya: ”anakku laki-laki”

aku tetap tegak. bau bangkai melingkar di tubuh anaknya.

orang-orang berbisik tanpa kata.

mencari silsilah di daun lontar.

tak ada nama-nama.

aku melemparkan satu-satu rambutku.

seorang perempuam melilitkan udara

kau duduk mengipasi dengan kidung

lahirlah adikku.

katamu: ”perempuan”

aku mencoba menyentuh kulitnya. tak ada api.

perempuan di sampingmu memecahkan rahimnya.

aku mencari matamu. ternyata kau juga bukan laki-laki.

 

 

Desember, 1996

 


Horison, November 2004


Seamus Heaney

 

Semenanjung

 

Manakala tak ada yang bisa kau ucapkan, berkendaralah santai

Pada suatu hari menyusur semenanjung.

Langit menjulang di atas galangan

Terhampar tak berbatas hingga kau tak bakal sampai.

 

Namun lintasi saja, meski tak bakal kau temu selain bentangan.

Pada senja, cakrawala turun mereguk pantai dan bukit,

Ladang usai terbajak melulur dinding terlabur kapur

Dan kaupun kembali dalam gelap. Kini kenangkan

 

Bibir pantai-pantai yang kilau dan bayang pohonan

Bergoyang, di mana hempasan ombak tercabik menjadi serpihan kain

Burung bangau mencangkung di atas kaki-kaki mereka

Pulau-pulau mengayuh diri ke dalam kabut.

 

Dan kembalilah pulang, masih tanpa sesuatu terucap

Kecuali bahwa kini dapat kau maknai seluruh panorama

Dengan begitu: benda-benda dijumpa bersih dalam rupa sempurna

Air dan tanah begitu lengkap.

 

1969

 

Pohon Harapan

 

Aku mengingatnya sebagai sebuah pohon harapan yang telah mati

Dan melihat akar dan rantingnya terangkat ke surga

Jejak-jejak hujan dari semua itu telah menjelma salju dingin

Beterbangan tertiup angin

 

Kebutuhan demi kebutuhan mencemari kesehatannya

Getah tumbuhan dan kulit kayu: koin dan peniti dan paku

Muncul dan mengalir darinya seperti ekor bintang jatuh

 

Baru terbentuk dan larut. Aku tak punya sebuah gambaran

Tentang sebuah pohon yang batangnya tumbuh tinggi

Menembus awan basah, tentang wajah-wajah yang mendongak

Ke tempat di mana pohon itu tegak.

 

1987 

 

Stasiun Barat

 

 

Pada malam pertamaku di Gaeltach, seorang perempuan tua berkata padaku dalam bahasa Inggris: "Kamu akan baik-baik saja." Aku duduk di tepian ranjang mencuri dengar bahasa Irlandia yang lancar, lewat dinding, rindu pada ujaran yang dulu kumusnahkan tanpa sisa.

Aku telah datang ke Barat untuk menghirup kepenuhan cuaca. Angan-angan menghembuskan aroma sup pada wajahku, mereka mencampurkan debu potongan kuburan dengan liur puasa dari keyakinan yang mengolesi bibirku. Ephete, desak mereka. Aku tersipu, tetapi hanya mencapai sedikit kata-kata.

Tak satu pun wejangan singgah dalam hari-hariku di sebuah loteng ketika               semua di sekelilingku tampak bergerak menuju yang diramalkan. Tetapi masih akan kukenang Stasiun Barat, pasir putih, batuan keras, cahaya mendaki garis edarnya melintas Rannafast dan Errigal, Annghry dan Kincasslagh: nama-nama yang dapat dijinjing seperti batu-batu altar, elemen-elemen yang tak mungkin tertinggal.

 

1975

 

Incertus

 

Aku pergi berpura-pura ke dalam sana, mengejarnya dalam bahasa latin gerejani yang lembut, menandainya di bawah upayaku seperti sebuah gumpalan basah. Tak tentu. Jiwa yang tipis berontak dan semua itu. Kepatuhan yang sempurna.

O ya, aku merambat sebelum berjalan. Salinan nama samaran purba terhampar di sana seperti kebusukan yang bersembunyi.

 

1975

 

Sajak-sajak di atas diterjemahkan oleh: Agus R. Sarjono & Nikmah Sarjono

 

 

Octavio Paz

 

Sepasang Tubuh

 

Sepasang tubuh berhadap-hadapan

adalah sepasang ombak

dan malam adalah lautnya.

 

Sepasang tubuh berhadap-hadapan

adalah sepasang batu

dan malam adalah gurunnya.

 

Sepasang tubuh berhadap-hadapan

adalah sepasang akar

menjalar ke pusat malam.

 

Sepasang tubuh berhadap-hadapan

adalah sepasang pisau

dan malam mengguriskan kilatnya

 

Sepasang tubuh berhadap-hadapan

adalah sepasang bintang jatuh

di langit kosong cakrawala.

 

Epitaph Penyair

 

Dia mencoba bernyanyi, bernyanyi

untuk melupakan

Kenyataan hidupnya yang dusta

dan untuk mengingat

kehidupan dustanya yang nyata.

 

 

Batu Alam

 

          untuk Roger Munier

 

Cahaya terhampar menelantarkan surga

Bergerombolan orang-orang bergerak tergesa

Matanya redup dikepung cermin kaca

 

Alam terbentang membludak bagai insomnia

dataran tulang membatu

 

Musim gugur tak bertepi

Rasa haus mengeluarkan mata airnya yang tersembunyi

Batang terakhir tanaman lada berkhotbah di gurun pasir

 

Tutuplah matamu dan dengarkan cahaya menyanyi:

Terik bersarang di kedalaman telingamu

 

Tutup mata dan buka telinga

Tak ada seorangpun, tidak juga dirimu

Segala yang bukan batu adalah cahaya

 

 

Jalan

 

Sebuah jalan yang panjang dan sepi

Kulalui dalam kegelapan dan aku tersandung

jatuh dan bangun, dan tersaruk, kakiku

menjejak dingin batuan dan kering daunan

Seseorang di belakangku juga menjejak batuan, dedaunan:

Jika langkah kuperlambat, ia melambat

jika aku berlari, ia pun berlari. Aku menoleh: tak ada siapa-siapa

Segalanya gelap dan tak berpintu

Belok dan kuputari lagi sudut-sudut ini

yang senantiasa menuntunku ke jalanan

di mana tak seorangpun menungguku, tak seorangpun

mengikutiku,

di mana aku mengejar seseorang yang tersaruk

jatuh bangun, dan saat menoleh untuk memandangku

ia akan berkata: tak ada siapa-siapa.

 


Wislawa Symborska

 

Di Bawah Sebuah Bintang Kecil

 

Aku minta maaf pada peluang

karena menyebutnya penting.

Aku minta maaf pada penting jika ternyata aku keliru.

Tolong jangan marah, kebahagiaan, jika kau kuambil sebagai hakku

Semoga kematianku sabar melihat kenangan-kenanganku menghilang.

Aku minta maaf pada waktu atas segala dunia yang kuintip tiap detik

Aku minta maaf pada cintaku di masa lalu

karena mengira bahwa yang terakhir adalah yang pertama.

Maafkan aku, wahai perang yang jauh karena pulang membawa bunga.

Maafkan aku, wahai luka yang menganga, karena menyuntik jariku.

Aku minta maaf atas segala perbuatan jahatku pada mereka

yang menangis dari kedalaman.

Aku minta maaf pada mereka yang menunggu di stasiun Kereta

karena telah tertidur hari ini  pada jam lima subuh.

Maafkan aku, wahai harapan yang melolong-lolong,

karena tertawa dari waktu ke waktu.

Maafkan aku, wahai gurun, karena aku tak menyuruhmu

berlari demi sesendok air.

Dan engkau, rajawali, tak berubah dari tahun ke tahun

selalu di sarang yang sama,

Tatapan matamu selalu tepat berada di titik yang sama dalam ruang

Maafkan aku, bahkan jika ternyata engkau telah mati kaku

Aku minta maaf pada pohon-pohon yang ditebang demi empat kaki meja

Aku minta maaf pada pertanyaan-pertanyaan besar atas jawaban-jawaban kecil

Kebenaran, tolong jangan begitu pedulikan aku

harga diri, bermurah hatilah. Beranaklah bersamaku, o misteri keberadaan bersamaan dengan itu kutarik benang peristiwa dari keretamu.

Jiwaku, jangan kau ambil hati bahwa hanya engkau

yang  kumiliki dari dulu hingga kini.

Aku minta maaf pada segala sesuatu karena aku tak bisa

berada di semua tempat pada saat yang bersamaan.

Aku minta maaf pada setiap orang karena aku tak dapat

menjadi separoh wanita dan separoh pria.

Aku tahu aku tak akan dibenarkan selama aku masih hidup

jangan bebani aku dengan kehendak untuk sakit, wahai pidato

karena aku membawa kata-kata yang berat,

Berilah aku tugas yang berat sehingga kata-kata itu akan tampak ringan.

 

 

Surat Ucapan Terima Kasih

 

Aku berhutang sangat banyak

pada mereka yang tak kucintai.

Yang membuat aku merasa lega adalah

bahwa seseorang lebih membutuhkan mereka

 

Yang membuatku bahagia adalah

bahwa aku bukan merupakan srigala bagi biri-biri mereka.

 

Damai yang kurasakan bersama mereka,

kebebasan-

Cinta tidak akan dapat menggantikan atau mengambilnya.

 

Aku tidak menunggu mereka

seperti daun jendela -yang membuka dan menutup

 

Hampir sesabar jam matahari

Aku memahami

Apa yang tidak dapat dipahami oleh cinta

dan memaafkan

sedangkan cinta tak bakal pernah.

 

Dari sebuah kencan  hingga ke sebuah surat

hanyalah beberapa hari atau minggu

bukan untuk selamanya.

 

Perjalanan dengan mereka selalu berlangsung lancar

mendengarkan konser-konser musik

mengunjungi katedral-katedral

melihat-lihat pemandangan.

 

Dan ketika tujuh belas buah bukit dan sungai

terbentang di antara kita,

bukit-bukit dan sungai-sungai itu dapat ditemukan pada petaku.

Mereka patut mendapat pujian

jika aku hidup dalam sebuah ruang tiga dimensi

yang tak lirik dan tak retorik

dengan cakrawala asli yang bergerak

 

Mereka sendiri tidak menyadari

betapa mereka berpegang pada tangan-tangan mereka yang kosong.

 

"Aku tak berhutang apapun pada mereka,"

akan begitulah kira-kira jawaban cinta

 

pada pertanyaan terbuka ini.

 

Senyum

 

Dunia ini lebih suka melihat harapan daripada hanya mendengar tentangnya.

Dan itulah sebabnya mengapa para negarawan harus tersenyum

Gigi-gigi mereka yang seputih mutiara menunjukkan

bahwa mereka masih penuh dengan keceriaan.

Permainan ini sangat rumit, cita-cita kita jauh dari gapaian

hasilnyapun masih tidak jelas -maka kadang-kadang

kita perlu melihat sederet gigi yang ramah dan bersinar.

 

Para kepala negara harus memamerkan sepasang alis mata yang tidak berkerut

di sepanjang bandara, di ruang konferensi.

Mereka harus mewujud sebuah gigi besar yang "wow!"

sementara menggilas daging atau menekan masalah-masalah yang mendesak.

Wajah-wajah mereka adalah jaringan-jaringan yang meregenerasi dirinya sendiri

membuat hati kita berdengung dari lensa-lensa kamera kita yang mendekat.

 

Ilmu kedokteran gigi beralih menjadi keahlian berdiplomasi

menjanjikan pada kita abad keemasan esok hari

Keadaan bertambah sulit, dan karenanya kita perlu melihat

tawa deretan gigi yang cemerlang, geraham-geraham yang beritikad baik

Waktu kita masih belum cukup aman dan waras

bagi wajah-wajah untuk menunjukkan kesedihan biasa.

 

Para pemimpi tetap berkata, "Persaudaraan umat manusia

akan membuat tempat ini sebuah surga yang tersenyum"

 

Aku tidak begitu yakin. Negarawan itu, karenanya

tak memerlukan latihan olah wajah

kecuali dari waktu ke waktu: Ia merasa enak

Ia gembira ini musim semi, dan karenanya ia pindahkan wajahnya

Tetapi memang sudah sifat manusia, sedih.

Maka biarlah begitu. Itupun tidak begitu buruk.

 


 

Pablo Neruda

 

Malam ini, Dapat Kutulis…

 

Malam ini dapat aku tulis sajak paling sedih

 

Aku tulis, misalnya: 'malam berkeping

dan menggigil, biru, bintang-bintang di jauhan.'

 

Angin malam berpusing di angkasa dan bernyanyi.

 

Malam ini dapat aku tulis sajak paling sedih

Aku cintakan dia dan kadang dia cintakan aku juga

 

Di malam seperti ini aku peluk dia dalam dekapan

Aku ciumi dia berkali-kali di bawah langit abadi tak bertepi

 

Aku cintakan dia dan kadang dia cintakan aku juga

Bagaimana seseorang bisa berpaling dari memuja mata besarnya yang berbinar

 

Malam ini dapat aku tulis sajak paling sedih

Untuk memikirkan tak lagi ia milik aku. Untuk merasakan diri kehilangan dia

 

Untuk mendengar malam tak tepermanai, yang kian menganga tanpa dia

Dan sajak-sajak berjatuhan ke jiwa seperti embun di atas rumputan

 

Bagaimana mungkin cinta aku tak bisa menahannya

Malam berkeping dan dia bersama aku tak ada

 

Itulah semuanya. Di jauhan seseorang menyanyi. Di jauhan

Jiwa aku tak menentu karena kehilangan dia

 

Pandanganku mencari-cari dia, seperti berlarian mengejar dia

Hatiku mencari-cari dia, tapi dia bersamaku tak ada

 

Malam-malam yang sama membikin putih pohonan

Waktu itu, kita tak lagi sama.

 

Aku tak lagi hasratkan dia, tentu saja, tapi betapa aku hasratkan dia

Suara aku coba mencari angin untuk menyentuh daun telinga dia

 

Yang lain. Dia bakal jadi milik yang lain. Seperti dulu sebelum ciumanku.

Suara dia. Tubuh dia yang gemilang. Mata dia yang kekal.

 

Aku tak lagi hasratkan dia, tentu saja, tapi mungkin aku hasratkan dia.

Cinta pendek saja, hendak melupakan alangkah panjangnya.

 

Bermalam-malam seperti ini malam aku peluk dia dalam dekapan

jiwaku tak menentu karena telah kehilangan dia.

 

Ini duka penghabisan yang dia buat untuk menyengsarakan aku

Dan inilah puisi terakhir yang aku tulis untuk dia

 

 

Oh Bumi, Tunggulah Kami

 

Kembalikan aku, oh matahari

Pada nasibku yang liar

Hujan hutan purba

Bawakan aku wewangian dan pedang-pedang

yang jatuh dari langit

Kedamaian wingit dari padang rumput dan bukit batu

Kebasahan pada tepian sungai

Aroma pohonan

Angin yang berdegup bagai hati

Mendentumi gelisah tanpa istirah

Puncak-puncak jati.

 

Bumi, kembalikan hadiahmu yang murni padaku

menara-menara kesunyian yang mawar

dari kekhusukan akar-akarnya.

Aku ingin kembali jadi yang belum kualami

Dan belajar untuk kembali dari kepekatdalaman ini

di antara segala yang alami

tak masalah; aku bisa hidup atau tak

menjadi sebuah batu lagi, batu yang gelap

batu sejati yang dibawakan laluan sungai.

 

1964

 


Derek Walcott

 

Jeruk Hari Minggu

 

Wahai jeruk-jeruk yang sedih

Berpeganglah erat-erat,

Pada mangkuk bumimu,

cahaya pada dagingmu yang lebih pahit,

 

Biarkan kilauan sebuah jeruk

menjadi zirahmu

hari minggu yang telanjang ini,

 

Cahayamu yang masif

berpantulan pada perisai-perisai buah apel

Begitu nyata mereka

bagai dilapisi lilin,

 

berbagilah kesunyianmu yang masam

dengan kenangan ini perempuan

akan hari-hari minggu buah yang lain,

hingga dengan konsentrasi

engkau tumbuh, sebuah  ruas jari

dari topi-topi baja

Penyangga bagi segala ihwal,

 

Kota-kota bersegi enam tempat lebah-lebah

mati secara murni demi rasa manis

Lampu-lampumu

akan menjadi yang terakhir padam

 

Di atas meja yang terpelitur ini,

Hari minggu ini, yang menuntut lebih

Dibanding nasib lilin-lilin

Dari para penakluk yang bertopi baja

Mati seperti lebah-lebah

Menggandakan Kenangan-kenangan

di dalam kepalanya yang keemasan

 

Ketika senja hari tersamar jadi lila,

Biarkan lampu-lampumu bertanah dalam bumi

yang menggelap ini

 

Mangkuk, masih hidup, tetapi sebuah kehidupan

yang jauh di bawah airmata atau keriangan

embun, keceriaan, bias lampu neon

 

Dari suatu senja yang mengaburkan

bentuk ini perempuan yang terbujur

 

Sebuah jeruk

Sebuah lampu tak berpendar.

 

 

Rindu Laut

 

Sesuatu telah memindahkan kembali raungan-raungan

dalam telinga rumah ini,

Menggantung tirai-tirainya yang tak tertiup angin

Memukau cermin-cermin

Hingga pantulannya kekurangan intisari

 

Yang terdengar bagai gemeretak tanah

                                      di bawah kincir angin,

menjadi sebuah pemberhentian mati;

Ketiadaan yang menjadi tuli;

Sebuah hembusan.

 

Sesuatu itu telah menggelindingi bukit-bukit ini

Menuruni pegunungan,

Membuat isyarat-isyarat aneh

Mendorong pensil ini

Menembusi kehampaan yang tebal kini.

 

Menakut-nakuti lemari-lemari dengan kesunyian

melipati cucian-cucian apak

seperti bebajuan yang ditinggalkan orang mati

Tepat setelah

Si mati diperlakukan baik-baik oleh yang dicintai.

 

Tak masuk akal mengharapkan untuk segera ditempati.

 

Anggur Laut

 

Pelayaran yang bersandar pada cahaya

Itu lelah akan pulau-pulau,

Sebuah sekunar melayari Karibia

 

Karena rumah dapat menjadi odyseus

yang berkampung halaman di laut Aegea;

yang dirindukan ayah dan suami,

 

Di bawah anggur-anggur masam

Yang basi     

Ibarat seorang pezina mendengar nama nausicaa

Pada setiap lengkingan burung camar

 

Ini tak akan membawa perdamaian pada siapapun

Peperangan yang purba

Antara obsesi dan tanggung jawab

Tak bakal pernah selesai dan bakal selalu sama

 

Karena sang penjelajah lautan atau seseorang di pantai

Kini tergopoh menyeret sandalnya pulang

Sejak perang Troya menghembuskan kobaran apinya yang terakhir

 

Dan batuan besar raksasa buta menyembul di antara ombak

Yang di puncak gelombangnya sajak-sajak enam seuntai sampai

pada kesimpulan ombak yang kelelahan.

 

Tetapi tak cukup lagi kini

Sastra Yunani dan Romawi mampu menghibur hati.

 

 

(Sajak-sajak di atas diterjemahkan Agus R. Sarjono dan Nikmah Sarjono, dari berbagai sumber).

 


 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1