Horison, Januari 2000
Sutardji Calzoum Bachri
C a r i
sisa-sisa api
sampiran pecah tanah
perih bebatuan
sedan abu dan ratap pasir
ludah saat
puing-puing diri
koyak moyak bangunan
menyatu
dalam legam malam
dalam legam siang
aku telah melihat muasal api
sebab abu dan bara ini
jauh sebelum api
sebelum bara dan abu
mencipta hamparan
kelam
aku telah melihat
bibit api dalam
buah air mata
pada lahan yang digusur
dari pemiliknya
pernah kubilang
waspadalah
jangan ikut menanam
bibit api
jangan sampai engkau
dipetik oleh buah
yang menyala
maka kini
lihatlah
pada sisasisa nyala
pada sampiran hangus
tanah lebam ini
pada lidah pasir pecah
dan kelu batuan
pada puingpuing diri
remah bangunan
pada pecah pot
dan tenggelam taman
pada sisasisa sangkur
dalam hangus daging
dan gosong tulang
yang tinggal hanya lengang
hanya lariklarik
yang pecah angan
hanya baitbait mayit
yang menggamitgamit
mengharap makna
lengang yang mendambakan suara
mengharap ujar
mencari kata
ah semoga cepat datang
teratai sebenar kata
dari hamparan kolam
kersang ini
lewat sisa-sisa jemari
kucoba menggurat aksara
di pecahan tembok
dan unggun pasir
yang ingin kutulis
masih terpendam
dalam bait-bait diam
yang kan kuucap
masih terperangkap
dalam kerongkongan
yang tenggelam
ah mana gairah
mana seloka
gurindam pantun
talibun bangsaku?
hanya irama debu
dalam arang patah
lengang langkah tapak darah
dalam jiwa membeku
puing henyak terbaring
sisa-sisa tari asap dan api
seloka luka gurindam lebam
pantun tak bangun
talibun tertimbun
abu dan asap
jadilah aku
hutan hangus dan asap
keluasan tanpa batas
dari remah angan
yang pernah ada
sampiran hancur
lengang dan hampa
mencari muatan makna
agar bisa kembali
menyatu berjiwa!
dan di balik timbunan
tahun-tahun tandus
di balik unggun debu
dan tulang
di larik-larik mayit
di puing angan
di kedalaman gosong
air mata
aku merasa
serasa bakal datang kata
kata yang segar
kata yang mencipta
bukan kata
sekedar menunjuk
apa yang sudah ada
bukan sebagaimana kata kuda
menunjuk kuda yang ada di bumi
bukan sebagai kata mawar
menunjuk mawar dan harumnya yang ada
tapi kata yang mencipta
yang muncul dari ketiadaan
meloncat dari kekosongan
dari balik puing-puing ini
dari balik gosong nyeri
dari balik abu dan tulang-tulang ini
cepat temukan kata!
sebelum cuaca makin memburuk
sebelum datang lagi El Niño
sebelum datang pula La Niña
agar tak kembali muncul El Dictador
wahai bangsaku
keluarlah engkau
dari kamus kehancuran ini
carilah kata
temukan ucapan
sebagaimana dulu
para pemuda menemukan
Kata
dalam sumpah mereka
1998
Kami Tahu Asal Jadi Kau
sal sebab kembali sebab
asal tanah pulang ke tanah
asal darah ke mula darah
asal tahu muasal tahu
kami tahu asal jadi kau
kau jadi dari duka kami
yang kau jadikan kudakau
kau jadi dari hati kami
yang kau niatkan sukasukakau
kau jadi dari suara kami
yang kau nyanyikan iramakau
kau jadi dari harihari kami
yang kau hurahurakan semaukau
kau jadi dari mufakat kami
yang kau khianati dengan muslihatkau
asal sebab ke bab sebab
asal tanah ke zarah tanah
asal perih ke patah janji
asal jadi ke balik jadi
asal abad ke mula hari
asal duka ke padam caya
kami tahu asal jadi kau
kau jadi dari ayat kami
yang kau sampaikan tafsirankau
kau jadi dari bahasa kami
yang kau hajatkan maknakau
kau jadi dari kuasa kami
yang kau genggam semaukau
kau jadi dari angan kami
yang kau lantas angankau
kau jadi dari lugu kami
yang kau jadikan gulagulakau
sehebathebat raja muslibat
tak
air mata, kami jadikan lautan
membenam engkau sedalamdalam
ya kami jadikan tak
tak lagi kuasa yang kau kenyam
diam jadi gempita serapah
mengenyah engkau ke balik zaman
anak sekolah menjadi tongkat
menghalau kau ke kelam lautan
pulanglah kau ke asal pulang
pulang ke asal kau
pulang ke hunian bunian
pulang ke reban jembalang
kembali ke telur setan!
tak lagi lugu kami netaskan kau
tak
tak hendak kuasa kami netaskan kau lagi
tak
tak siang tak malam kami tak erami kau
tak
tak undangundang kami mau diselangkangi lagi
tak
tak
tak
guru kalbu kitab sejarah
ngajarkan mereka tak
tak
wahai musang berbulu amanah
wahai ular berkulit nalar
wahai lintah berbulu pemerintah
wahai taring bersungging senyum
wahai zalim berucap salam
pu ... ah!
masuk engkau ke telur setan!
1998
Rendra
Tentang Mata
Aku merindukan mata bayi
setelah aku dikhianati mata
durjana.
Aku merindukan mata hari
karena aku dikerumuni mata gelap.
Aku merindukan mata angin
karena aku disekap oleh mata merah
saga.
Wahai, mata pisau! Mata pisau di
mana-mana
Mata batin! Mata batin!
Hadirlah kamu!
Hadirlah kamu di saat yang rawan
ini.
Wahai, mata batin!
Kedalaman yang tak terkira.
Keluasan yang tak terduga.
Harapan di tengah gebalau ancaman.
2 Maret 1998
Tentang Mata
Mata kejora! Mata kejora!
Mata kekasih dalam dekapan malam.
Dalam kehidupan yang penuh mata
bisul,
mata hatiku meronta,
ditawan rangkaian mata rantai!
Sawah gersang tanpa mata bajak.
Mata gergaji merajalela di rimba
raya.
Mata badik memburu mata uang.
Mata kail termangu tanpa umpan.
Dan mata sangkur menghunjam ke
mata batin.
Mata kejora! Mata kejora!
Mata kekasih dalam dekapan malam.
Tetapi, kekasihku, di dalam
kalbuku yang murung ini
engkaulah mata air pengharapan.
2 Maret 1998
Yvonne de Fretes
Kenangan Pada Sabana
(Pro:
Umbu Landu Paranggi)
pernahkah kita jumpa di sebuah
jamuan di
entahlah,
begitu banyak yang tercecer dalam
perjalanan
masa kecil yang sembunyi di kebun
jagung
(yang
kita makan dikala minus beras)
dan di
yang selalu kudekap kemana pergi
pulau yang terpuruk di selatan,
pulau
dimana ringkik kuda dan lenguh
sapi
tidak pernah ragu dalam menapak
sepi
dan gersangnya
sajakku ingin menebar di sabana
itu, bang
mungkin kita memang pernah jumpa
di sebuah jamuan di
kata sebuah suara "kau boleh
meneruskan rasa rindu itu"
Tjahjono Widarmanto
Nyanyian Brahmana
sehabis gerimis mengakhiri
percakapannya
dipetiknya harpa, ditiupnya nafiri
dia bernyanyi berlagu-lagu
memaksa angsa-angsa mengibaskan
bulu-bulunya.
sehabis gerimis dilanjutkannya
dialog itu
melalui denting harpa dan siul
nafiri
membuat angin jadi terpesona
lantas mengitari dan memahkotainya
dengan daun-daun kamboja
sembari mempersembahkan tarian
para dewa.
sehabis gerimis, bunga teratai itu
bermekaran
dalam pelukan samadhi kaki langit
berbaring bersama deru topan
yang tiba-tiba jadi jinak dibuai
awan
di atas puncak segala, seusai
gerimis
seorang brahmana bersama ribuan
merpati
menerbangkan damainya nyanyian ke
penjuru bumi
jadi hening meditasi wajah bumi
dan laut semesta.
sehabis gerimis, ikan-ikan
beterbangan,
burung-burung berloncatan
angin tenang bermuara sunyi
mencumbu awan kaki langit
tak peduli akan mati.
tak pernah peduli!
Ngawi, 1996
Yudhiswara
Perenungan Makam
setelah pemakaman memulangkan tubuhmu
membawaku di alammu
di alam renung
kematian saling susul menyusul
cerita-cerita nisbi telah dihentikan
sehabis keranda
itukah bis
ah, ada saja debarku menggigil
pergi ke muara
melayat para nelayan
yang mati kesunyian di atas biduk
dengan ikan yang masih menggelepar
itukah diri kita
ada-ada saja pertanyaan nakalmu
setelah pemakaman berakhir
tak ada kembang
tak ada nisan
sebab makam bukan perjalanan terakhir
mengaliri darah sehabis hidup
dari akar sampai ke pucuk
kembalinya ke makam
di cermin aku harus ikhlaskan
segala tangan kaki dan muka
lidah dan jantung menjadi tanah
160897
Keruh
keruh udara tahun ini. kuterpukau
menatapi jalan raya garang warnanya
menempel pada kaos kaos pejalan kaki
mobil-mobil menggigil mencium
kebencian
dari udara tercemar baunya retak di dalam nafas
jantung terguncang terganggu dari tidurnya
kemana anak-anak tanpa bapak itu
cintanya terbang rusuh direlung dukanya
mulut yang berteriak mengotori suasana
berdesingan bau comberan pasar central
lagunya usang perempuan bersuka-suka
keruh udara tahun ini. orang suka
: mengenang masa lalu pada belantara daun
tubuh lunglai
tanpa sekolah kau datang
2807-1997
Horison, Februari 2000
Fragmen Pandai Besi
Harry Roesli
Lubang angin menempa kering batok
kelapa sebagai
Bara yang nyala. Sebuah per
baja menderita dalam
Marah yang sempurna. Gubuk
bilik hitam pun merah
Gerah seperti membangun
rumah dari biji keringat
Bau resah menyengat. Lalu
beberapa palu melagukan
Nada pilu bertalu. Bunyi
dalam nyanyi pandai besi
Yang nyeri. Berlari seperti
derap kaki gerombolan
Kavaleri. Musik berisik yang
menggoda para paduka
Dalam tempat yang sendiri
para pandai besi seperti
Geram yang berjanji. Mata
air yang terus meneteskan
Doa basah pada bukit batu. Cinta
yang keras kepala
Ombak yang setia memimpikan
karang menjelma pedang.
1996-1997
Camping
Di bawah gunung kesepian
bergulung dan memuncak
Dan pada hamparan daratan
kuabadikan kecemasan
Tebing batu cadas dan
pinus-pinus yang mendengus
Angin mengirim cuaca sembab.
Hujan tertahan awan
Dan dalam suasana temaram
pohon karet berbaris
Sujud dalam sakit yang sama.
Memberat ke arah
Barat. Burung-burung pun
datang dan pergi dalam
Irama yang pasti. Udara
seakan sendu mambatu
Dan hidup seperti tumpukan tenda
yang dibangun
Dan diruntuhkan. Dan
kematian berkibar pada tiang
Bendera di suatu perkemahan.
Nyanyian yang rindu
Dilantunkan petualang di
antara lereng dan jurang
1996
Di Antara Batu-batu
Dia antara batu-batu lumut
menari dalam air kali
Ganggang berenang tenang.
Dan capung melayang
Bersama belalang. Anak-anak
mandi di riang perigi
Nada cinta pun mengalun
dibawa angin yang santun
Tapi di antara batu-batu,
tubuh siapa yang setia
Dalam keramba. Patok-patok
yang ditancapkan pada
Batu cadas telah membuat
kandas mimpi yang bebas
Kayu dan bambu menjadi
kerangkeng yang mengurung
Lagu lenggang kangkung. Dan
harapan hanya pada
Hujan topan yang bisa
mengirim banjir bandang
Sekaligus doa bagi
kemerdekaan yang tinggal mimpi
Di keramba mungkin aku hanya
ikan yang menghamba
Menanti mati tiba sambil
memuja cerita nestapa
1996-1997
Api Unggun
Malam itu tak ada kemarahan
paling sempurna
Selain dingin dan gelap yang
pekat. Kesepian
Mengekalkan suara burung
hantu sebagai gerutu
Pinus dan trambesi mendesis
dengan wajah lesi
Pada saat seperti itu, api
unggunlah kerinduan
Tak tertahan itu. Panas yang
mampu mencairkan
Kabut dan embun beku.
Tumpukan kayu kering yang
Riang menjadi bara dan abu
bagi api yang biru
Tapi, sempurnalah mimpi, rindu,
dan angan-angan
Karena batu-batu tak mampu
menumbuhkan nyala api
Dahan dan ranting menolak
perapian. Dan gulita
Tak mencintai cahaya. Tapi
memilih tanah basah
1996
Gerimis Malam
Gerimis malam mematahkan
remang mercury
Dan bintang jadi ngeri mengulum
senyum
Hanya kelelawar berani
keluar. Terbang
Di antara pohon jambu batu
yang kelabu
Gerimis pun memaksa setiap
daun kelimis
Seperti habis keramas.
Genting-genting
Mengkilap dalam gelap. Bulan
pun tiarap
Bayang dan gamang menari
seperti dalam
Fiksi. Mengejar tubuh lelah
seperti gabah
Basah. Dan garis gerimis
seakan berbaris
Membentuk barikade-barikade
yang bengis
Kerangkeng yang kekal dengan
lagu dingin
1996-1997
Akuarium
Ikankah kau yang bicara
dalam kaca
Berenang dalam lampu remang
Di luar pecinta terpana pada
ekormu
Yang mengundang tualang
Segera angan pun terbang
pada ranjang
Pada rumah miring di atas
tebing
Di bawahnya perigi
mengucurkan sunyi
Dan anak sungai menyanyikan
lagu nyeri
Ikankah kau yang bercanda
tanpa baju dan celana
Yang memampangkan peta bagi
para pengembara
Dan berjanji memberi arti
sepi
Di luar bejana dadaku
bergetar
Ketika bibirmu menjilat
karang
dan tubuhmu bergoyang
1996
Sanglot
Kesedihan bagaimanapun bukan
harapan
Tapi biji benalu yang
hinggap bersama
Burung. Dan matahari, angin,
dan hujan
Mengirim gairah hidup yang
baru bertahan
Dan paruh burung tak pernah
mampu menolak
Makanan. Seperti juga
kesedihan tak memilih
Tempat berteduh. Semua
daerah baginya indah
Dan sebagai pohonan kita pun
ibarat limban
Bagi segala kesedihan
berjalan. Seperti kematian
Kesedihan menjelma kenyataan
yang kita cintai
Mainan yang seringkali
membuat takut dan bosan
1997
Horison, Maret 2000
Sutan Iwan Soekri
Munaf
Tangga
Bulan perak di langit gelap.
Mampir
Saat menangkap sorot mata
jernih. Tubuh pun menjadi transparan
dan kau semakin jauh
bergerak. Kendara waktu
mengantarkan rindu ke
tempatmu
Bulan perak di langit gelap.
Aku rindu
datang. Lihatlah, aku buat
tangga menjulang
Aku naik anak tangga demi anak
tangga. Kau
masih terlalu jauh. Langit
menyembunyikanmu
Dari sini
Bulan perak di langit gelap.
Berlayar
di samudera angkasa.
Menyampaikan salam perpisahan
dan kembali esok malam
menangkap wajahku. Barangkali!
Ranjang Malam
Manakala engkau tidak lagi
terbaring di ranjang
Aku mencari bantal sepi.
Sendiri
Barangkali lelah tadi siang
akan segera hilang
Engkau akan mengirim bunga
dalam mimpi
Aku menghirup: Wangi
(Semua tersimpan dalam
dengkur
Suara merdu dari atas kasur)
Kalau pun aku bangun
menggeliat panjang
Aku masih ingin bernafas
menikmati bersihnya udara pagi hari
Tinggalkan seribu kisah
dalam mimpi
Barangkali siang ini aku
lupakan tualang
Engkau duduk di sudut
ranjang
menunggu kuhirup sendumu
Sungguh!
1987-1996
Sebaris Gerimis
Sebaris gerimis
membasahi kembara panjang
Seorang tualang menjelang
petang
belum juga mabuk mereguk
waktu
dalam sepi meniti jarak
dan menggali mimpi lagi.
Masuk
ke pintu rindu dengan mata
menyala-nyala. Buta
Ketika sukma menembus
sela-sela hujan
Bisu pun beku
Aku berlari menyelimuti
dingin
dan kembali mencari-cari
ke dalam hati, ke dalam
jantung
Malam. Pun hamparan kisah
menghampiri
Sebaris-sebaris. Tinggal
nama yang terbaca dalam
kabut dinihari. Nanti
Aku ingin kembali
Begitulah
Begitulah.
Setiap senja aku selalu menunggu. Ditemani
secangkir teh dan
membebaskan diri dari kejaran waktu. Di sini
tidak ada negosiasi — Boleh
terjadi transaksi demi transaksi
mengoyak-ngoyak kehidupan.
Biarkan di lapangan terjadi
Bukan di sini!
Begitulah. Setiap senja aku
selalu menunggumu. Menatap
ke kolam kecil dengan riak
air di beranda. Senyap
Kini segala topeng lepas.
Kita bisa bicara
Apa saja. Tanpa tema tanpa
paksa
Namun langkah belum juga
sampai...
Begitulah. Ditemanimu —Makan
siang— melupakan sangsai
karena melahap kesempatan
yang datang menggoda
Kita duduk dan kau mengemil
emping. Cuma mata
banyak berkata. Kita bukan
siapa-siapa
Sebab hari tidak pernah akan
kembali,
begitu
seperti remaja cinta pertama
mau bercumbu
Padahal kita manusia perkasa
yang bisa menghitung
rugi-laba sampai ke masa
datang
dan selalu tepat mengambil
risiko. Berani
Begitukah? Secangkir teh
semakin dingin. Langkahmu belum
terdengar. Ikan mas di kolam
beranda sudah enggan menari
Aku masih menunggu.
Menunggumu.
Cililitan Kecil, 25 Oktober 1994
Refleksi April
Berkali-kali
kaki melangkah di pagi hari
Es di jalan dingin menggigit
sepatu. Beku
Barangkali waktu menggoda
jarak
dan perjalanan pun terbagi-bagi
Aku kehilangan lelah saat
mencari-cari jejak
Menari-nari.
Berpendar-pendar dalam matamu
Barangkali langkah
tinggalkan seribu jalan. Sepi
menyapa berkali-kali malam
tadi
Aku kembali ingin rasakan
waktu dalam dekapmu
Meniti rindu yang berkepanjangan
membelenggu
Semua membayang dalam setiap
langkah
Barangkali kini engkau lelah
dan tinggal dalam sejarah
Ya, aku tidak ingin lagi
duduk dan bercakap ditemani bulan
Bercerita tentang seribu
perjalanan dalam satu kematian
Aku kembali ingin bercakap
sambil berjalan
Meninggalkan bulan.
Meninggalkan tahun. Meninggalkan angan-angan
Berkali-kali mengukur jarak
waktu. Berkali-kali engkau menunggu
Semua bisu
Langkah kaki masih menembus
pagi hari
Es di jalan dingin menggigit
sepatu. Beku
dari
Gudang Peluru Dayeuh Kolot
Masih kurasakan
dengus malam
dalam cahya matamu, Neng.
Berdendang dengan angin dan
selendang mayang
tentang negeri yang terbakar
dendam
“Harus diselamatkan, Neng.
Harus diselamatkan!”
Suara sendiri menggaung dalam
subuh
tentu engkau rasakan
langit hitam negeri ini akan
luruh,
sebentar nanti langit perak
gemerlapan
akan tumbuh, Neng, akan
tumbuh...
Perlahan sekali, subuh
kutembus
antara percakapan
rumput-rumput dan angin
antara bayang-bayang dan
selendang mayang di leherku
dan wajah bunda pertiwi
dalam dada,
Langkahku semakin tertuju ke
Gudang Peluru
Tentu engkau mengerti,
langkah demi langkah berbagi
antara kau dan bunda pertiwi
Perlahan sekali, kawat
berduri kutembus
antara kantuk
serdadu-serdadu penjaga
dan nafsu ingin segera
kembali padamu.
Dadaku semakin busung ketika
menangkap senyummu mampir menggoda
dan bunda pertiwi
bertanya-tanya dalam ruang dada
tentang arti gelora dalam
perjalanan sejarah mendatang.
Perlahan sekali, merayap sunyi
sambil kugenggam granat
dan menikmati harum rambutmu
masih terasa dalam selendang mayang
berjalan menyusur pagi yang
hampir tiba
: Adakah engkau di
Detik demi detik: Waktu
berjalan
Dalam sudut kepastian dengan
granat di tangan panas kugenggam
dan picu telah dilepas.
Ketika ini semilir bayangmu makin menggoda
Ingin saja kukembali dari
gudang peluru dan datang padamu
untuk mengajuk waktu-waktu
tersisa
“Tidak, Neng.
Kita tebus kemerdekaan
dengan menggadaikan cinta kita
pada ladang-ladang mesiu
musuh!”
Dan kita tanam kemerdekaan
dalam dada atas setiap jengkal negri ini
dan kita siram dengan darah
dan keringat,
agar tumbuh, Neng, agar
selamat...
Lambaian tanganmu, ketika
melepasku pergi
perlahan terasa.
Mungkin juga seribu pemuda
merasa
ketika berpisah:
Mengosongkan Bandung!
Dan granat ini semakin mesra
bercanda, Neng
sambil sayup-sayup membakar
tanah selatan
“Selamat tinggal, Neng,
semua ini untukmu!
Aku rela...”
Tanganku perlahan
tapi penuh kepastian
dan tenaga. Granat itu
kulepas
Granat itu melayang di udara
Berhasil kulempar!
Granat itu lepas!
Granat itu melayang dengan
anggunnya. Menembus subuh
menerkam sasaran!
Mataku tak pernah lupa
Granat itu meledak!
Bunga api di pinggir subuh
di sisi pagi
di tepi Bandung Selatan
Mataku tak pernah lupa
Granat itu meledak!
Gudang peluru itu musnah!
Gudang peluru itu musnah!
Bergelegar suaranya di
Bandung Selatan.
Aku puas, Neng, aku puas
sekali...
Tidakkah engkau lihat semua
itu dalam senyumku?
Sekarang aku ingin segera
kembali padamu, Neng
Ingin kutuliskan kisahku,
ingin kuceritakan pengalamanku
dengan selendang mayangmu
dalam wangi rambutmu
dengan seluruh getar jiwaku
menatap untukmu, Neng
Dan langkahku semakin
ringan, Neng, semakin ringan
berjalan menujumu. Dan, O,
siapa yang terbaring itu?
Wajahnya hancur, tubuhnya
luluh tak dapat dikenal
Darah berhamburan di
sana-sini
Tapi aku kenal selendang
itu, bukankah selendangmu, Neng
Bukankah selendangmu yang
kupakai, yang melingkar
di leher tubuh itu?
Langkahku semakin ringan dan
semakin kasat
Sekali terbang dan sekali
terbenam
Dari balik mentari
Kusimpan salam untukmu, Neng
Horison, April 2000
Soni Farid Maulana
Improvisasi dalam Hujan
Pecahan air yang melenting
dari atas genting
Saat hujan turun bikin
komposisi dingin bersambung
Dingin dan angin bolak-balik
menyisir pepohonan
Membaca jengkal demi jengkal
jejak hujan yang hilang
Di titik pandang. Dengarlah
suara gemuruh
Yang lambat dan pasti
menyapu permukaan bumi
Suara itu adalah suara hujan
menimpa beton
Yang nyaring berteriak
mencari pepohonan
Dan dingin selalu bersambung
dengan dingin
Bertumpuk-tumpuk bagai
mentega melapisi kulit,
Daging, tulang juga sumsum.
Kau dan aku
Saat itu basah dalam hujan
yang bergemuruh
Memanggil pepohonan juga
rumputan
Yang bertumbuhan di balik
hari
1996
Syair Bunga Kangkung
Sekuntum bunga kangkung yang
ungu
Tumbuh di antara sampah
plastik dan bangkai tikus
Rel kereta api membentang di
pinggirnya
Cahaya matahari berkilatan
dipantulkan air selokan
Diturih timah hitam.
Sekuntum bunga kangkung
Yang mekar di situ adalah
bahasa juga ayat-ayat sunyi
Yang kerap diwiridkan angin
ke relung hati terdalam
Air selokan yang coklat
kadang hijau muda
Mengalir ke hilir. Sesekali bangkai
mujair
Timbul tenggelam, terantuk
onggokan sampah, nyangkut
Di sela tetumbuhan kangkung
Di situ jiwaku mengembara ke
sebuah ruang yang kelam
Di kedalaman tanah ada jerit
akar tetumbuhan
Yang terbakar. Rangka besi
berjulangan di pusat
Dialirkan air selokan ke
hulu
Jiwaku berlayar menyisir
rumah kertas *)
Kadang kulihat kupu-kupu
terbang mengitar
Bunga kangkung.
Menangkapnya.
Tampak sehat dan tak
berpenyakit jantung
Aku mengerti inilah bahasa
diisyaratkan angin
Juga sepasukan serangga yang
berdengung
Adalah keindahan tersendiri
yang bermekaran
Sepanjang rel kereta api.
Sepanjang hidup
Berlembah dan berjurang
kata-kata
1996
*) "Rumah Kertas",
lakon teater karya Nano Riantiarno
Percakapan
Likat lumpur tubuh perempuan
Adalah kesepian yang tiada
henti dibentuk
Sang pematung menurut
citranya sendiri
Ditatap dan dibetulkan letak
lekuk tubuhnya
Yang diolahnya itu. Sebuah
tungku perapian
Lalu dinyalakan. Disiapkan
pembakaran
Kau bagiku adalah ruang yang
kerap
Mengekalkan impian-impianku,
Ujarnya. Malam alangkah
lindap dan sunyi
Hanya desir rumputan, desir
pepohonan
Mungkin denting dedaunan
dipetik angin
Cahaya bulan juga suara
cengkrik
Menandai batu-batu dan
menari dalam diam
Dalam huruf-huruf alam yang
berkilauan
Di semesta terbuka
Kau adalah ruang bagi
imajiku, tanah
Bagi tetumbuhan benihku yang
kutanam tanpa
Nafsu, lanjut si pematung
sambil
Menghaluskan arsiran palet
pada celah berbukit
Di dinding bayang-bayang
kelambu bergeseran
Di halaman cahaya lampu dan
bulan tampak
Bersilangan, berayun-ayun di
antara
Ranting yang dimainkan angin
dan lolong
Anjing kegelapan di situ
1996
Pelayaran malam
Tak
kutemukan bangkai matahari
Di
antara lorong bangunan bertingkat
Selain
jejak bulan pada rimbun pepohonan
Sarat
debu. Malam yang turun dari hati yang batu
Mengekalkan
api sunyi berkobar dari rongga kuburan
Perahu
waktu berlayar membawaku pergi
Ombak
dan gelombang dipelihara ikan hiu
Seberkas
cahaya obor di tangan
Kian
kelap-kelip dimainkan angin malam
Sirip
ikan hiu tampak ke permukaan
Wajah
yang kelam dan dalam tegak di hadapan
Pelayaran
kian jauh dari lepas pantai
Batu-batu
karang yang runcing menjulang
Selebihnya
lolongan bintang liar
Meledak
di bawah akar rumputan
1994
Ladies Night, 1
Duduk dalam diskotek,
mendengarkan musik
Melihat orang
jingkrak-jingkrak, lantai berkaca
Sungguh tak sedikit pun
kudengar hujan jatuh
Dari hatimu. Tak kusangka
sejauh itu meruntuhkan
Pohonan di luar senja.
Bahkan tak sedetik pun
Terbayang dalam benak,
seseorang, ya, seseorang
Meregang nyawa, tertimpa
bangunan runtuh
Tertimpa perasaan duka
teramat kelam
Hanya musik dan gerak orang
jingkrak-jingkrak
Yang menyelusup ke dalam
ingatan
Serat cahaya bersilangan
mengiris asap rokok
Mengiris kesunyian dan
kesepianku yang terdampar
Dalam ruangan ini, ruangan
sarat musik, orang
Tertawa dan bercintaan
dijaring temaram lampu
Lalu liuk tubuh ikanmu
diam-diam melemparkan
Jiwaku pada sebuah ruang
yang asing
Sunyi dan sendiri. Dan kau
perawan atau tidak
Bukan urusanku. Ah, mengapa
kau memandangku
Seperti itu? Sambil
tersenyum kau menghampiriku
Yang duduk, lengket di
kursi, tidak berbuat apa-apa
Semisal menjamah dirimu.
Bahkan segelas bir
Masih utuh di meja, juga
butiran kacang
1996
Dibangunkan Hujan
Malam belum larut benar
Tidurku dibangunkan hujan.
Ruang tengah
Yang bocor juga ruang tamu,
malam itu
Tampak menjamu hujan. Dan
hujan dengan
Riangnya menari, melebarkan
sayap
Di lantai. Mainan
kanak-kanak
Dari plastik tampak
mengambang
Hujan makin lebat di luar.
Dari ruang tamu
Masuk ke kamar menyapa
kasur, menyapa
Kaki anakku, hingga bangun
Dan menangis, takut
mendengar
Suara hujan yang mengirim
irisan
Cahaya, membakar pohonan
Setelah puas dengan itu
Dibiarkannya diriku
dirangkum
Keheningan yang meliuk
Dipirik detik jam
1996
Horison, Mei 2000
Ajamuddin Tiffani
Kemana Kucari, ke Mana
begitu
kau datang, aku juga datang ke majelis ini
tapi,
secepat itu kau pergi
katakan,
ke ceruk dan tengah
kau
kucari
selain
menyongsong deru angin
ketika
pertemuan sekilas itu memasungku
malam
itu, bagai bangsat tengik
aku
memasuki semua tempat, di mana kehinaan adalah
kemuliaan;
perkelaminan hewani
hingga
menjadi si tolol yang bertanya
terdampar
di mana aku
aku
datangi masjid dan surau, dan di tempat
di
mana engkau singgah, konon, menambatkan
tali
perahumu yang kencana; seperti yang sudah-sudah
kusesali
keterlambatan ini, aku tak dapat seperti
belalang,
yang lasak mengiris udara, mendekatkan
jarak
kuperam
ngilu rindu, dan diam-diam menyingkir
ke
tepi-tepi, ke inti kekelaman
terpuruk
dan hina, menjauh dari tempias rinai
cahaya
berlianmu
diam-diam
kutangisi khuldi itu sekali lagi
dan
ditiap jejak sandar perahumu
menyeru namamu berpuluh ribu
kali
Embun
kuburu
engkau dengan menapaki tanda-tanda
jejak,
sambil bertiti di busur waktu
aku
senantiasa terpesona padamu
tak
terlalu salah bukan, untuk menjadi terompahmu
dengan
pengertian yang bagaimana
aku
sampai padamu
biar
dengan cara yang paling hina sekali pun
kau
imami kami pada sekali sholat maghrib
tiba
pada salam bagi yang di langit
salam
bagi yang di bumi
salam
bagi yang bermukim
di
antara langit dan bumi
seusai
itu, engkau pun lenyap
sudah
tak patut lagikah rumah ini, ya, kekasih
yang
tumbuh busuk di degab jantungku
yang
kubangun dari bulir darah
dan
sumsumku
ah,
surau yang berada di dalam hatiku
lampu
pijar lamat di tanjung yang sepi itukah
dari
berjuta-juta, berjuta-juta
sinyalmu, kekasih
Bambang Set
Sajak Buat U
Ketika
istri membuka jendela
panas
matahari buyarkan mimpi
Ketika
istri menyodorkan kopi
kubaca
koran pagi
Ketika
istri menyuruh mandi
terdengar
senandung di televisi
-
Kau yang memulai
dan
Kau yang mengakhiri-
Lagu
lama,
Penyanyi
lama, syair lama
Ah,
kuingat peristiwa lama
Telah
dimulai tapi kapan diakhiri
darah
terlanjur lama tumpah
dari
tubuh yang di tanahkan
serta
waktu yang membusukkan
Pohon-pohon
Kamboja ber-akapela
menantang
suara biduan
-
Kau yang memulai
dan
Tak diakhiri-
Seorang
wartawan menulis berita
bersumber
dari dirinya
Sayang
tak ada yang membaca
dibiarkan
menjadi rahasia
Purwokerto,
1997
Requiem Bunga 4
berapa
kali bertamu
tak
pernah ketemu
hanya
sering kudapati
paviliun
lepas kunci
dimana
puntung rokok menyampah
asbak
sesak tampung desah
cuma
jadi ladang bagi semut-semut
berseraknya
biji rambutan
ini
barangkali yang kau sebut headline
bagi
kaum pinggiran
aku
pun tertawa lepas
membentur
tembok penuh kelupas
mengusik
cicak yang akan menjilat
1/4 cangkir
kopi basi yang tersisa
dan
masya Allah
vas
kado ulang tahun perkawinan
menumpuk
dahak kental pada kelopak bunga
siapa
tega membusukan cinta
sungguh,
rumah ini seperti tak berjendela
tak
bisa melihat dunia luar
bukankah
bunga tak hanya mawar
mawar
tak harus cepat memekar
kau
memang kurang diplomatis
panik
dalam menyiasati melencengnya garis
persis
ketika melukis
padahal
di jagad raya
matahari
beda terlihat dari planet lain
beranikah
kalau logika menjamin?
Purwokerto, 1997
Iyut Fitra
Laut
setelah
kutinggalkan pelayaran, cuaca berubah
dan
musin pun diganti angin atas warna yang lain
sebegitu
aku bermusuh dengan rasa asin, penungguan
lalu
melambai diri pada segenap kenangan
tapi
kekuatan apa lagi melingkari, yang datang mengetuk
malam,
sehingganya aku membaca kembali masa lalu
yang
kau tuliskan di dada kanak-kanak pencari lokan
"atas
nama badai, datanglah! sebab telapak
yang
kita gariskan tak akan pupus dihapus pantai"
entah,
mengapa kau ajak lagi aku ke laut
sedangkan
rasa lain tengah kupersiapkan
September, 1997
Herwan FR
Potret Lelaki Penempuh
Gibran
mengajarimu bersilaturahmi dengan
diri
sendiri. Kesetiaan, teka-teki yang selalu
tersimpan
dalam tubuh. Kata-kata tidak harus
terkabarkan
dengan wujud. Dan kasih lelaki penahan
rindu
bertahun lebih kekal dari abad. Rindu yang
ia
tiupkan mampu menyentuh cinta wanita pilihan.
Kesabaran
perlahan bangkit dari tubuhmu.
Kepiluan
menjelma bibir yang sunyi. Lengking biola
mematahkan
waktu. Bulan pucat di ujung cemara--
Tubuhmu
menjelma seribu pertanyaan. Lelaki penempuh
yang
begitu malu akan kesejatian dan pengakuan.
Tri Astoto Kodarie
Ziarah Pagi
lelah yang membawaku
menuju pekuburan waktu
dan suara rintih angin
dalam desau yang dingin
untuk siapa ziarah ini
jika gelisah yang dituju
untuk siapa ziarah ini
jika langkah menjadi jemu
ziarah pagi yang senyap
mungkinkah menyingkap
cerita tidur panjangmu
yang berlumut dan berdebu
jadilah ziarah bagai
kupu-kupu
yang selalu menjebakku
dalam rona kembang yang
semu.
1996-1997
Horison, Juni 2000
Georg Trakl
Kepada Elis Muda
Itulah tanda keruntuhanmu.
Bibirmu meminum kesejukan banyu cadas biru.
Biarkan, bila dahimu berdarah perlahan,
dongeng-dongeng purbakala
serta penafsiran samar tentang makna burung
beterbangan.
Tapi, kau melangkah halus merambah dalam malam
Yang penuh digantungi buah anggur yang ungu,
Dan kau gerakkan lenganmu semakin indah dalam
biru.
Di tempat matamu serupa bulan.
O Elis, betapa lama sudah, engkau mati.
Tubuhmu setangkai bunga hyazinthe,
Ke dalamnya seorang biarawan nenggelamkan
jari-jari pucatnya.
Kebisuan kita adalah goa yang hitam,
Keluar darinya terkadang melangkah hewan lembut
Yang perlahan mengatupkan kelopaknya yang berat.
Lalu meneteslah embun hitam di atas pelipiskau,
Emas penghabisan dari bintang yang runtuh sudah.
Catatan:
Puisi-puisi diterjemahkan dari bahasa Jerman
oleh Berthold
Damshäuser bersama Ramadhan KH.
Horison, Agustus 2000
Aslan
Abidin
Prometheus
(buat
seorang perempuan asing yang kuantar ke pelabuhan
semata
karena selama beberapa hari bersama; kami menjalin
affair
tak menjanjikan.)
di
pelabuhan yang dikepung melankoli —di antara bau
bacin
dan cemas kecopetan— kulepas kau ke negerimu
di
utara. kucium pipimu kiri-kanan; angin berkesiur di
telingaku.
kutepuk pundakmu; angin menggerai
anak-anak
rambutmu.
“aku
suka negerimu. tapi aku
tak
ingin tinggal. aku takut harus memeluk satu
agama,
dan percaya bahwa surga ada di akherat. aku
ingin
kembali ke negeriku.
tempat
surga sedang dibangun,” katamu.
di
sudut pelabuhan, tertambat sebuah kapal peti kemas;
tua dan
kesepian. di rusuknya ada tulisan berkarat: navieras
de
puerto rico. mungkin pengangkut rempah-rempah,
atau
budak, apa bedanya. semua bangsa rasanya telah
menjelma
penjajah di kepalaku.
juga
laut di depan mataku, seperti
kemaluan
seorang pelacur; menganga dilayari
kapal-kapal
dan lelaki-lelaki ke negeri-negeri
jauh.
“ikutlah
ke negeriku,” bujukmu.
“di
sana —bahkan setelah tua sekalipun, di setiap akhir
tahun—
kau masih dapat jadi sinterklas, membayangkan
dirimu
naik kereta salju yang ditarik kijang bertanduk
panjang
dan menipu ribuan anak-anak.”
tapi
kapal yang meraung seperti monster kesakitan itu
telah
membawamu. seperti kau, aku ternyata tak melambai. tak
ada
yang hilang apalagi kosong di dadaku.
aku
hanya tiba-tiba merasa ingin seperti nuh: menjadi
satu-satunya
nakhoda yang berlayar di atas bumi
yang
tenggelam.
Makassar,
1998
Di Terminal
Landungsari
-kepada
Pikong
“kujemput
kau di terminal landungsari. aku
datang
dengan t-shirt hitam bertuliskan namamu,” janjimu
di telepon.
tapi di terminal landungsari semua orang
bergegas.
seperti keberangkatan atau kepulangan yang
tak
pernah jelas.
kau
jemput di mana aku di
antara
debu dan deru bis yang bising begini?
kau
jemput di mana aku di
antara
suara tuter dan jerit kondektur yang pekak begini?
semua
orang menulis namanya sendiri di bajunya. tak kutemukan
namaku.
juga di dinding wc yang penuh coretan, tak satupun
tertulis
namaku.
tapi
namamu, hanya namamu dapat kutangkap, dalam tulisan
tanganmu
yang kukenal: “pikong pernah ke sini. dengan
t-shirt
kuning bertuliskan: pikong!”
Malang,
1997
Sebuah Pantai dalam
Sebuah Menhir
di
pantai tempat kau pernah menyerahkan tubuhmu
kepada
matahari, dan pada pasir di mana pernah tergenang sumsumku.
gerimis
terus menimbun jejak-jejak kakimu.
juga
masih ada angin yang menyimpan lipatan wangi rongga dadamu
seperti
tertinggal sepenggal pegal di situ. tapi kau,
seperti
gelombang, tak pernah datang dari tempat beranjak.
tak
pernah mampu kupahami pantai ini. yang menguburmu,
menenggelamkan
laut di matamu.
“di
pantai ini, kita hanya menunggu giliran dikubur. jadi berhentilah
mengenang
buah dadaku,” ucapmu.
ketika
itu, aku membuat dua gundukan di
pasir
dan kuletakkan bulatan coklat kecil di atasnya. tapi
itu
dulu, saat pantai belum ditanami
beton
Makassar,
1995
Masuk Keluar Mall:
Ingatkan Aku Pada Banyak Orang
masuk
ke sebuah mall, disambut
gadis-gadis
pelayan dengan buah dada yang siap menerima. melihat
gadis-gadis
pengunjung melompat-lompat
seperti
ikan di atas bara: cina, jawa, bugis, arab, dst.
memegang-megang
pakaian dalam impor dan
membayangkan
kemaluan orang asing. kemaluan-kemaluan
yang
diposkan dari benua-benua baja. dan
di
sini, kita mencocok-cocokannya dengan kemaluan
sendiri
di kamar pas. sementara di sudut lain,
kita
menertawakan tomat dan wortel yang mirip kemaluan
sendiri.
berstanding-party
membaca buku agama:
jalan-jalan
ke neraka, dan buku konsultasi seks: bagaimana
membebaskan
diri dari onani. keluar dari sebuah mall, disambut bocah peminta-
minta
yang ingatkan aku pada musa, peminta-minta tua
dengan
mata terpejam yang ingatkan aku pada
gandhi.
aku tiba-tiba ingat juga pada judas. o di mana dia ketika
dibutuhkan
seorang pengkhianat seperti sekarang ini. di antara
dengung
eskalator dan gemuruh tas plastik, aku hanya
mendengar
woody allen, ia seperti bersabda: “aku berbelanja,
maka
aku ada!”
keluar
dari sebuah mall,
dan
hanya sanggup menyelipkan sebuah buku sajak tipis bersampul
gelap
di jaket: ingatkan aku pada chairil
Makassar,
1996
Horison, September 2000
Afrizal
Malna
Orang Hilang Ada Orang
Pecah
1998
Rumah Kata
— Bulan Ibau
Malam mulai menyusun lagi
sebuah buku dari hati yang tak pernah tidur. Aku berjanji padamu untuk merangkai
bunga malam itu. Seperti kerinduan yang meminta air matanya sendiri. Suara
becak berdering, sebuah rangkaian besi di atas aspal jalan. Kita pulang
bersama, aku tahu, sambil membuat malam bertambah panjang. Tapi ke mana kita
mau pulang? Rumah kita hanya ada dalam cinta. Sebuah pohon jambu air tumbuh.
Teh panas. Lalu suara ledakan. Api. “Apakah kamu baik, Ibau?”
Beras, gula dan minyak
goreng mulai menjadi politik. Orang membuat partai-partai baru, seperti
memencet tombol tv. Menciptakan seorang presiden yang memimpin dengan menyimpan
api pada setiap kata. Ia yang membakar pusat-pusat akademika untuk api politik.
Lalu mengirim bangkai sebuah
Aku genggam seluruh jemari tanganmu,
seperti kerinduan yang meminta air matanya sendiri. Lalu cinta seperti
pita-pita hitam yang terikat di lengan kiri, memasang kembali sayap-sayap
malaikat pada punggung setiap orang. Membiarkan ketakutan pergi dari setiap
hati. Dan kata mulai membuat rumah baru lagi di situ. Membiarkan cahaya
matahari membuat tanaman di halaman. Pada daun jendela yang terbuka, bermain
bola di ruang buku, ikut membuat langit di hatimu. Seperti suara becak yang
memasuki genggaman tanganmu.
1998
Ibuku
Nanti malam ibu akan datang,
mengajariku membaca lagi. Rambutnya
keriting. Ibu memakai kebaya
kalau mengajakku pergi. Dulu kebayanya
masih diriwon. Matanya
seperti kebun jeruk. Tidak ragu lagi, ibu tidak
mati. Aku tidak mengantarnya
ke pemakaman. Dia akan datang lagi, pergi
bersamaku naik perahu ke
Cilincing. Beli sepatu di Cikini. Tapi jam
sembilan malam tadi aku tak
tahu wajahnya yang terakhir, senyum dan
tawanya yang lepas. Ibu
seperti menari di atas air. Tubuhnya tambah
besar, tambah berat,
dipenuhi gula. Ibu bilang sekarang saya orang tanpa
daya dan upaya. Ibu bilang
setiap orang tidak memiliki apa-apa. Ibu
bilang setiap orang akan
pergi. Lalu tubuh ibu tambah berat, bersama
tanah dan semut-semut.
Bersama langit dan kematian nama-nama di
keningku. Aku pasang gorden,
aku bersihkan kaca jendela dan halaman dari
daun-daun kering. Rambut ibu
masih keriting. Mata ibu masih kebun jeruk.
Seorang kekasih terus
menemaniku di situ. Dan ibu akan mengajakku lagi
berenang di empang samping
rumah. Airnya dingin. Memberi makanan anjing.
Melihat dari jendela yang
tinggi: pekarangan yang penuh dengan susunan jejakmu. Dan kelambu harus
ditutup. Kaki harus dibersihkan. Di luar, tangan malam sedang merusak kebun
jeruk.
Badaruddin
Emce
Riwayat Waktu
"8
Desember 1996
sendirian dari desa
Kedu"
Apa bedanya dengan batu-batu
di galengan?
Pada riwayat panjangmu
Juga tersandar batang jagung
kering.
Awan juga seperti kabut!
Membakar rambut manusia.
Sindoro-Sumbing tanpa
puncak,
Hujan merawat sekumpulan kijing
Lalu menghilang.
Tak ada kata-kata besar hari
itu!
Seperti paranormal
Pohonan menyusun wujud hijau
Dan sebersit rindu dalam
hati
Hari serasa sudah larut
malam.
Bersama istri ngeloni anak.
Tapi gemuruh ombak pantai
selatan
Belum meruntuhkan batu-batu
pikiranku.
Berombongan orang turun
gunung.
Pipi tergores dingin kaca.
Seorang wanita tua nggendong
Seikat kacang panjang.
Hidup pun baru akan
Dan boleh tidak segelas
penuh.
1996
Awal Oktober,
Pukul 15.13 Cilacap
Di sini angin membuatku
bersin.
Apa-apa yang aku rasakan
Terlempar dalam bulatan
lendir.
Lelehan batu
Di mana kata-kata
Tak mampu mengembalikannya
Jadi bunga.
Terkadang dengan teman
Yang belum berkeluarga
Aku dapat melihat pohon
pisang
Tidak seperti apa pun.
Satu tangkai daunnya yang
robek
Terjuntai ke atas trotoir
Melindungi bumi dari hujan.
Selebihnya aku menyukai
kemunafikan.
Banyak sudah yang aku
takuti.
Sekilas punggung
Nusakambangan
Tumbuh tiang;
Kawat listrik terbentang
Ke lautan lepas;
Menjelang Maghrib
Kalong dan sebangsanya,
Tidak seperti biasanya,
Menyerahkan malam
Kepada makhluk
Yang sedang mabuk.
Mungkin kemunafikan
Lebih mirip kearifan.
1996
Slarang Field,
Kesugihan
Lelaki itu-itu juga melempar
kondom basah
Ke sawah.
Mudah-mudahan ini pasangan
terakhir,
Bakal menetap di bumi.
Entah dari desa apa berasal,
Adam-Hawa entah bukan,
Berbimbingan ke barat yang
mendesak
Ingin dipadamkan.
Sekali lagi
Sore jadi surga yang
menjelma di ladang-ladang,
Pencari pasir tidak merasakan
Detak was-was jantungnya.
Limabelas tahun sudah,
bersama para santri,
Serayu tua menanti -
Di desanya malam tidak hanya
Dilewati kawat bermil-mil
panjang.
Air, mukjizat musim hujan,
Selalu deras nuju muara.
Ini yang dikhawatirkan
angin,
Bukit dan awan -
Rimbun anak pisang berakar
di tepian
Menghisap semena-mena Cinta
yang ditabur
Dengan benar dari pinggir
jembatan.
Esoknya, semangka yang
terangkat
Dari rumpunnya
Tinggal merahnya bercecer
dalam kencing.
1996
Buah dan Hewan
dalam Lukisan Sokaraja
Basah kebun oleh
Percintaan bulan-matahari.
Sebuah rantingdaun
Diiring pendar-pendar di
air,
Enak sekali njuntai
Dari hutan seberang.
Kemudian beberapa butir buah
Jadi seperti dibebaskan.
Hatiku tak lebih merah
Dari jeritannya bukan?
Di bumi ini
Sungguh terjadi.
Sungguh terjadi,
Bersama beberapa ekor
anaknya
Seekor babi hutan
Tengah minum
Di pinggir telaga ini.
Dan kau mencari mereka
dariku,
Nyaris memaksaadakan.
Siapa gitu berani
Melukis bunga
Tanpa manusia?
1993/1995
Ronggeng Selendang
Hijau Pupus Pisang
untuk Kang Ahmad Tohari
Pelajaran pertama segera
berakartunjang.
Karang menjulang diusap
angin saban hari
Mungkin meja perjamuan.
Tumbuhlah dalam pikiran,
Pohon bertugas menghantar
buah kelangenan,
Lalu ketakutan menyirami
Dari arah yang tak bisa
dipahami.
Tak patut, di kerajaan laut
ini
Berhasrat selendang hijau
pupus pisang.
Selepas panen, kutemukan
diriku
Masih seorang perawan.
Selepas panen, kutemukan
diriku
Masih seorang perawan.
Lewat lorong para raja pula,
Kusaksikan, para siluman,
Seperti celana berserakan,
Bebas berkata-kata,
Minum dan
Membanting gelas kehidupan.
Lalu seekor anjing jantan
Menjilati kemaluan
betinanya.
Aku pun tetap seorang rewang!
Tarianku masih bergetaran
bunga merahkuning
Pinggir jalan.
1996
Iyut Fitra
6 Februari (2),
Selamat Pagi Usia
kembang-kembang itu terus
bermekaran, datang dan mereka kirim
setiap gendang riuh, padaku jauh
terpukau ruang gelap: sunyi
dengan dada yang sama, warna
merah jambu merobek hari
mungkin sebagai malin,
“bunda, di mana rantauku?”
hanya rambutku yang memutih
oleh waktu, dan kapal-kapal
senantiasa melengking
melambai diri
ini lilin, entah ucap siapa
bila terbakar usia akan
susut
maka siapkanlah sebuah
perpisahan
saat upacara yang dinamakan
kelahiran, dulu
berbagai-bagai kematian pun
telah ditulis di atas perjalanan
dan insan segera mengerti
cara menangis, maka bersalamlah
ketika kereta yang sama
melintas-lintas mengulang jejak
mungkin sudah waktunya kita
bijaksana, bahwa usia
hanyalah kembang di antara
takdir-takdir sebelum pertemuan
dengan tuhan
Payakumbuh, Februari 1998
Malam Kesatu
seperti bulan yang lalu
melintas tak terdekap
kutulis lagi cerita yang
sama: kita dua angsa putih
gamang berlayar menabuhkan
kelahiran menuju kehidupan
atau mungkin perjalanan
mengunjungi kematian
lagu sakral itu kembli kita
rangkai, di tengah musim
yang terus gugur orang-orang
bermain bayang-bayang
dan kita mendekapnya, entah
itu suara adzan
atau upacara yang
dipanggilkan lewat lonceng gereja
tapi seolahnya kita bagai
adam dan hawa yang tidak paham
dengan tarian tuhan,
terpukau angin yang meniup sepanjang
padang, dan buahnya tak
pernah tuntas kita petik
“ceritakanlah padaku tentang
sorga, atau dongengkan saat
anggun memberikan malam
kepada gondan!” bisikmu ragu
dan kita terasa makin dekat
atau berjauh, asing
menjalin jemari dengan satu
sinar yang tak dimengerti
kelahiran ini! kehidupan dan
perjalanan ini!
o, kematian yang menumbuhkan
ruang dansa di kubur-kubur
kitakah itu yang mengusung
keranda, bernyanyi-nyanyi
lalu berdoa bersama, tentang
rahasia yang bertaburan
: kita dua angsa putih
kehilangan warna
lelap dan berdekap untuk kelahiran
atau menuju kematian
lama kita tunggu tuhan di
Isbedi
Stiawan ZS
Saatnya Aku Mengerti
buat
ibuku, ratminah
sisakan garam dari tubuhmu,
ibu. sudah bermalam-malam
kukeringkan air laut untuk menajamkan
pisau usiaku
tapi kenapa aku lebih suka
menikmati garam yang didulang
dari tubuhmu?
aku tak pernah jadi perahu
di lautmu, ibu. padahal,
telah kurekam beribu-ribu
ayatmu di hatiku. jadi lembar-
lembar kitab yang terbuka: tapi
wajahmu selalu hilang
dan datang
seperti gambar televisi yang
tak mampu kubaca
ibu, ingin kukeringkan air
laut dari tubuhmu hingga jadi garam biar
lauk hari-hariku punya rasa.
ingin kuperas garam dari tubuhmu
dengan sejuta matahari yang
kupetik dari pohonNya
saatnya kini aku mengerti
garam dari tubuhmu sangat kurindu. padahal
laut yang bergelora dari
sela-sela hatimu mulai menepi, dan
aku kembali ziarah ke dalam
mimpi-mimpi besarmu
yang belum juga seluruhnya
rampung!
ibu,
aku ingin kembali ziarah ke
dalam pangkuan lautmu. seperti perahu
yang masuk ke galangan
lantaran telah karat. sebab peradaban
telah membuatku makin jauh
dari lidah asin-manismu.
Madura, Juni 1996
Sudah Lama
Aku Mendinginkan Dada
Kau tahu, sudah lama aku
mendinginkan dada
di depan lemari es itu. Ini
hari, ketika matahari
yang kau tunggu kembali
muncul dengan teriknya,
aku sudah diam di depan
pintunya. Kutunggu ia
menyambut kedatanganku. Lalu
bersalaman, berkata-kata
untuk beberapa jenak.
Menyebut-nyebut yang fana dan
abadi: setelah itu
kulemparkan batu kerikil ke liang
yang satu jua. Kutunggu lama
suara sampainya...
Kau tahu. sudah lama aku
berdiri di bukit ini juga,
memandang orang-orang yang
turun dari perahu tua-
itu. Lalu berenang untuk
berabad-abad...
Dan, kutunggu badai reda.
Kucium banjir seperti
aku mengencani Adibah.
Sebab, bencana dan bahagia
begitu dekat di bibir kita.
1997
Anak Perempuan itu
anak perempuan itu mengejar
bayang-bayang:
kematian itu suci. apakah
kau mau hewan?
lebih suci mengejar
bayang-bayang ke balik
taman sunyi itu. ini bukan
dunia binatang!
kulihat anak perempuan itu
pun terbang
ke balik awan. dan kado yang
suci itu,
kado yang suci berikan
kepada Tuhan
kematian ini karena
takdir-Mu juga
tak ada yang lebih bahagia
selain mempertahankan
selembar mahkota!
ya!
1997
Aku Selalu
Mengabarkan, Adibah
aku terus mendatangimu. dan
pada lembar-lembar waktu
aku terjemahkan napas
parfummu yang satu. sambil tidur-
tiduran di belantara, kuhitung
pula langkah-langkah
kita sejak mula ibu-bapak
dilempar dari
sampai aku hafal wajahmu
ketika menangis dan tertawa. kutulis
dalam lembar-lembar buku
yang terus kubawa keluar masuk
kota-kota yang tak kukenal.
karena cintamu, kutepis segala
yang menggoda
selalu ingat buah kuldi itu,
pesanmu setiap aku ingin kerja
atau pergi ke lain
yang
kulayarkan ke dalam nuraniku.
itu sebabnya, adibah, aku
selalu mengambarkan tentang
gambar tanganku yang
terpanggang di
lewat percakapan yang
panjang pada sepertiga malamku
lalu kuledakkan dadaku di
hadapanmu, dan kuminta kau
menatapnya pula dengan cinta
aku ingin lembar sajadah ini
jadi
kabel telepon tak sampai
menghubungi pengaduanku. aku ingin pena ini
jadi lidahku, jika
adibah, jadilah cahaya bagi
cintaku yang membakar
buah kuldi setiapkali ingin
tunas!
Bengkulu 1995-Surabaya 1996
Tragedi
aku mencium bau busa dari
mulutmu. kepada
perempuanmu di rumah sudah
kupesan: suara lelaki
secepat gerakan angin. siapa
mampu membaca
geraknya?
kemarin aku memburu kau di
antara lobi-lobi
hotel dan pub. juga di arena
bola sodok yang
anyir alkohol. kutahu kau
tak ditemani
perempuanmu yang berenang di
air matanya
sendiri.
lelaki, o lelaki. mengapa
kau jual
kepasrahan perempuan di
pasar sandiwara?
1997
Horison, Oktober 2000
Di Depan Meja Rias
sebatang
lipstik mendekat. Aromanya liar.
dengan
pandai dilumatnya bibirku.
dia
meneteskan:
arak,
kekentalan susu, dan aroma asin
aku
melihat topeng
menari-nari
lewat mataku
(seorang
laki-laki mendekat)
Kau
perlukan segenggam bedak.
kurebut
kucairkan
di wajahku
aku
mulai mengurai butir-butir itu
menutupi
lubang pori-pori wajahnya.
Pori-pori
itu diam, menikmati kehangatannya
Sebatang
pensil alis mengangkat dirinya tinggi-tinggi.
Dia
pandai memainkan huruf-huruf di atas
mataku.
dia
mulai melukis dan membuat huruf baru
katanya:
huruf ini hanya milik perempuan
(seorang
laki-laki mendekat)
dia
kagumi keliaran warna-warna yang melekat.
aku
mulai menggeliat, agak panas.
benda-benda
itu terus menahanku.
aku
berloncatan, mengurai diriku.
hati-hati
kubakar wajahku.
(laki-laki
itu menjauh)
Denpasar,
Januari 1997
Frans II
capung
menata bulunya
merapatkan
mimpi kanak-anak
sebuah
ruang
ditutup
kafan
Frans,
rahasia
malamkah itu
dengan
sayap merpati kupinjam urat lahir
anak-anak
menunggu
kau pulang
badik,
atau jala mengeram di otak
“anak-anak
biasa menelan garam”
perempuan
itu menyepuh dewi Sri.
kulitnya
bersisik
dia
telah pandai mengurai dagingnya
Frans,
kau
kah itu.
di
air
garam mengurai tubuhnya
kau
melaut
mengumpulkan
benih air
“anak-anak
biasa menelan mimpi”
perempuan
itu menutup mata
“kujual
batang hidup, akar pasir, dan sekeping cinta”
kaukah
itu Frans
sebuah
pulau
terhimpit.
Batu-batu tumbuh di urat jarimu.
Denpasar,
1997
Pesta Api
dayu werdi,
brahmana,
ksatria, sudrakah nafsumu?
aku
pernah memecahkan sungai
ketika
kau rampas taliku untuk menyelamatkan tarianmu
rasa
laparmu terus meninggi menembus otakku
retak.
dayu werdi,
aku
ingin pergi ke sorga, konon tuhan melukis wajahnya di kakimu
ijinkan
aku mengintip. sedikit saja.
apa
warna sorgaku? hitam. putih.
kulihat
sorgamu terlalu rakus melahap warna.
mungkin
aku bisa memilih ilalang atau kebun bunga.
lalu
sepertimu bercumbu dengan lelaki di
mulutku
menari. laparku meluap. tubuhku berair.
hutan-hutan
di balik kakiku akan menanam bau harum.
kupu-kupu
atau kumbangkah yang akan mengisapnya?
dayu werdi,
telah
kau tidurkan darahku.
dekat
rumput yang menguning.
penuh
luka. aku juga mencium rasa sakit.
segumpal
bau busuk melahirkan kembang.
cintakah
kau tanam dalam dagingku?
dayu werdi,
kau mulai pandai menanam hati.
menghidangkan
mata.
lihat!
kulitku penuh sisik panah.
jangan
mendekat. darahmu tak lagi bisa menghidupkan api.
dayu werdi,
aku
menanam keping sejarah sorgamu.
ceritakan
sedikit tentang dongeng perempuan.
lapar.
beratus
hari mengemis.
aku
terus berlari. berikan sorgamu.
mana
wajah tuhanmu?
aku
telah menaburkan bibit wujudku.
semua
jadi liar.
panas.
aku
menemukan tali.
belajar
meledakkan tubuhku.
anak-anakkah
mengintip dari rahimku.
seperti
apa aku?
meminang
dagingku atau membuangnya untuk kesuburan bumi.
dayu werdi,
kau
terus berteriak.
meretakkan
otak. meletuskan upacara kecilku.
katamu:
“jaga
anak-anakku”
cepat!
cium
kakiku pinang sorga di telapakku.
aku telah
pandai memetik darah.
dari
permainan nafsumu.
September-Oktober
1996
Sketsa
kubayangkan
anak-anaku menanam luka
di
ladang air mata dan darah
orang-orang
datang menata wajah dan pikirannya
inikah
kebun itu?
yang
sempat kupetik dari garangnya laut dan muntahan biji pasir
setiap
membuka mata
sayapku
patah sesaji menguburkan helai rambutku di pekarangan
ada
nanah berpesta di ujung upacara ini
inikah
kebun itu?
sebuah
gua diwarna gelap dan sunyi
aku
telah lama menata hari-hari
dalam
genggam jariku yang mulai tak pandai melukai janur
bahkan
wajah tuhan turun naik
memompa
nafas yang kadang liar dan dingin
inikah
kebun itu?
harus
kembali kutata
sementara
anak-anakku hanya bisa menengadah
sambil
makan dagingku dengan buas.
rasa
sakit itu
telah
kugantung di seluruh rongga tulangku.
dan
sisa upacara yang mulai sedikit basi.
inikah
kebun itu?
selalu
lapar dan penuh hiasan kepingan biji pasir.
Oktober
1996
Sajak Kartu-kartu
malam
usai menciumi tubuhku
ombak
sempat menenggelamkan tikungan tidur yang kutanam dalam otak
satu
kecupan
satu
luka pada potongan batang tubuh
atau
ruas-ruas asing yang menguliti aroma perempuanku
menggiring
sel-selku pada-mu
satu
tumpuk sajak-sajak
yang
hanya dipahami para pengelana
tak
mengajariku arti duniamu
dalam
sembayang-mu
tuhan
meletakkan abu-nya dikeningmu
kau
taburkan dalam ladang-ladang gelisahku
“ini
setangkup api dari kedinginan sajadahku”
aku
melihat mata menggelinding
mendekati
mata kaki, dibunuhnya nyala dupaku
orang-orang
hanya pandai menata kebun
memandikan
ketelanjangan kita
bahkan
setelah kita telanjang
tak
pernah kita kenali tubuh kita
“ini
setangkup bunga dari kelaparan bungaku”
Mei
1996
Frans
ini
yang pertama kali
kukenal
bau itu
lorong-lorong
gelap
dengan
lentera yang membusuk
di
gua-gua
setiap
nafas kau cat
ikan-ikan
melepas siripnya
terus
bersetubuh
kukenal
bau itu. Frans
lewat
perjalanan yang kupinjam
pada
kanvas, dan bau cat
aku
menatah batu
melewati
ranting
dan
menggenggam akar
Frans,
meletuskah
dia
bersama
kubangan gelapku
yang
melumuri patahan nafas
Denpasar,
Agustus 1997
Totem
(kelahiran)
tubuhku meneteskan abu
utat-ulat menguliti setiap
perjalanan yang kupentaskan
mereka baru belajar menanam
akar
di setiap liang nafasku
kukalungkan nafsu bulan
retakan lumut melekat pada
setiap batu
mereka mengisapnya
batu-batu diletakkan di
kepala
para perempuan menopang bumi
aku hanya bisa mengumpulkan
pecahan keringat
dan menggulung setiap abu
yang retak
Denpasar,
1997
Menjadi Ibu
aku meloncat-loncat.
Melubangi tanah. Memisahkan air
kubayangkan
boneka-boneka kecil meloncat dari perutnya.
“aku
yang jadi ibu. duduklah. Aku akan mengeram seperti ayam
perutku
akan meletus”
(semua
mata menatapku. Mereka berpegangan erat
sesekali
membetulkan mahkota daun di atas kepala)
Aku
tak lagi meloncat. Sebuah jalan menawarkan hidupnya untukku.
“jadilah kau perempuan. Membesarkan langit dan
menyuburkan bumi”
(kali
ini aku yang menatap suara itu.
suara
yang menuntut hak.)
Aku mulai
mempelajari aroma.
dipecahkan
serat tubuhku. aku harus menumbuhkan ladang
seorang
peladang akan menanam benihnya. Lengkap dengan cangkul tajam.
dia
akan lukai tubuhku.
dia
alirkan darah dari dua kakiku.
darah
yang menunjukkan wujud laki-lakinya.
lubang
yang memberi jalan untuk manusia
apa
yang kudapat?
luka
rasa
sakit
keabadian
Denpasar,
Maret 1997
Lelaki Itu
dalam
kepala yang penuh dilingkari api
kau
menabuh setiap daging yang kau sembelih
lalu
lahirlah aku
dengan
kalung pedang.
otak
yang tak henti-henti menjatuhkan lahar
membakar
sawah
bahkan
melebur gunung
rata
di depan alis mataku
suatu
hari kau datang dengan sepotong daging perempuan
daging
itu meloncat-loncat di tanah
lahirlah
adikku
aneh
sekali dia tak memiliki api
gelap.
kau
memanggil para dewa mendudukkan sejajar denganku.
mata
anakmu membakar sesaji
juga
menelan genta pendeta
perempuanmu
melolong
membagi-bagi
tubuhnya di tanah
menggeser
tempat dudukku.
katanya:
”anakku laki-laki”
aku
tetap tegak. bau bangkai melingkar di tubuh anaknya.
orang-orang
berbisik tanpa kata.
mencari
silsilah di daun lontar.
tak
ada nama-nama.
aku
melemparkan satu-satu rambutku.
seorang
perempuam melilitkan udara
kau
duduk mengipasi dengan kidung
lahirlah
adikku.
katamu:
”perempuan”
aku mencoba
menyentuh kulitnya. tak ada api.
perempuan
di sampingmu memecahkan rahimnya.
aku
mencari matamu. ternyata kau juga bukan laki-laki.
Desember,
1996
Horison, November 2004
Seamus Heaney
Semenanjung
Manakala tak ada yang bisa kau ucapkan,
berkendaralah santai
Pada suatu hari menyusur semenanjung.
Langit menjulang di atas galangan
Terhampar tak berbatas hingga kau tak bakal
sampai.
Namun lintasi saja, meski tak bakal kau temu
selain bentangan.
Pada senja, cakrawala turun mereguk pantai dan
bukit,
Ladang usai terbajak melulur dinding terlabur
kapur
Dan kaupun kembali dalam gelap. Kini kenangkan
Bibir pantai-pantai yang kilau dan bayang
pohonan
Bergoyang, di mana hempasan ombak tercabik
menjadi serpihan kain
Burung bangau mencangkung di atas kaki-kaki
mereka
Pulau-pulau mengayuh diri ke dalam kabut.
Dan kembalilah pulang, masih tanpa sesuatu
terucap
Kecuali bahwa kini dapat kau maknai seluruh
panorama
Dengan begitu: benda-benda dijumpa bersih dalam
rupa sempurna
Air dan tanah begitu lengkap.
1969
Pohon Harapan
Aku mengingatnya sebagai sebuah pohon harapan
yang telah mati
Dan melihat akar dan rantingnya terangkat ke
surga
Jejak-jejak hujan dari semua itu telah menjelma
salju dingin
Beterbangan tertiup angin
Kebutuhan demi kebutuhan mencemari kesehatannya
Getah tumbuhan dan kulit kayu: koin dan peniti
dan paku
Muncul dan mengalir darinya seperti ekor bintang
jatuh
Baru terbentuk dan larut. Aku tak punya sebuah
gambaran
Tentang sebuah pohon yang batangnya tumbuh
tinggi
Menembus awan basah, tentang wajah-wajah yang
mendongak
Ke tempat di mana pohon itu tegak.
1987
Stasiun Barat
Pada malam pertamaku di Gaeltach, seorang
perempuan tua berkata padaku dalam bahasa Inggris: "Kamu akan baik-baik saja."
Aku duduk di tepian ranjang mencuri dengar bahasa Irlandia yang lancar, lewat
dinding, rindu pada ujaran yang dulu kumusnahkan tanpa sisa.
Aku telah datang ke Barat untuk menghirup
kepenuhan cuaca. Angan-angan menghembuskan aroma sup pada wajahku, mereka
mencampurkan debu potongan kuburan dengan liur puasa dari keyakinan yang
mengolesi bibirku. Ephete, desak mereka. Aku tersipu, tetapi hanya mencapai
sedikit kata-kata.
Tak satu pun wejangan singgah dalam hari-hariku
di sebuah loteng ketika semua di sekelilingku tampak bergerak
menuju yang diramalkan. Tetapi masih akan kukenang Stasiun Barat, pasir putih,
batuan keras, cahaya mendaki garis edarnya melintas Rannafast dan Errigal,
Annghry dan Kincasslagh: nama-nama yang dapat dijinjing seperti batu-batu
altar, elemen-elemen yang tak mungkin tertinggal.
1975
Incertus
Aku pergi berpura-pura ke dalam
O ya, aku merambat sebelum berjalan. Salinan
nama samaran purba terhampar di
1975
Sajak-sajak di atas diterjemahkan oleh: Agus R. Sarjono & Nikmah
Sarjono
Sepasang
Tubuh
Sepasang tubuh berhadap-hadapan
adalah sepasang ombak
dan malam adalah lautnya.
Sepasang tubuh berhadap-hadapan
adalah sepasang batu
dan malam adalah gurunnya.
Sepasang tubuh berhadap-hadapan
adalah sepasang akar
menjalar ke pusat malam.
Sepasang tubuh berhadap-hadapan
adalah sepasang pisau
dan malam mengguriskan kilatnya
Sepasang tubuh berhadap-hadapan
adalah sepasang bintang jatuh
di langit kosong cakrawala.
Epitaph Penyair
Dia mencoba bernyanyi, bernyanyi
untuk melupakan
Kenyataan hidupnya yang dusta
dan untuk mengingat
kehidupan dustanya yang nyata.
Batu
Alam
untuk
Roger Munier
Cahaya terhampar menelantarkan surga
Bergerombolan orang-orang bergerak tergesa
Matanya redup dikepung cermin kaca
Alam terbentang membludak bagai insomnia
dataran tulang membatu
Musim gugur tak bertepi
Rasa haus mengeluarkan mata airnya yang
tersembunyi
Batang terakhir tanaman lada berkhotbah di gurun
pasir
Tutuplah matamu dan dengarkan cahaya menyanyi:
Terik bersarang di kedalaman telingamu
Tutup mata dan buka telinga
Tak ada seorangpun, tidak juga dirimu
Segala yang bukan batu adalah cahaya
Jalan
Sebuah jalan yang panjang dan sepi
Kulalui dalam kegelapan dan aku tersandung
jatuh dan bangun, dan tersaruk, kakiku
menjejak dingin batuan dan kering daunan
Seseorang di belakangku juga menjejak batuan,
dedaunan:
Jika langkah kuperlambat, ia melambat
jika aku berlari, ia pun berlari. Aku menoleh:
tak ada siapa-siapa
Segalanya gelap dan tak berpintu
Belok dan kuputari lagi sudut-sudut ini
yang senantiasa menuntunku ke jalanan
di mana tak seorangpun menungguku, tak
seorangpun
mengikutiku,
di mana aku mengejar seseorang yang tersaruk
jatuh bangun, dan saat menoleh untuk memandangku
ia akan berkata: tak ada siapa-siapa.
Wislawa
Symborska
Di
Bawah Sebuah Bintang Kecil
Aku minta maaf pada peluang
karena menyebutnya penting.
Aku minta maaf pada penting jika ternyata aku
keliru.
Tolong jangan marah, kebahagiaan, jika kau
kuambil sebagai hakku
Semoga kematianku sabar melihat
kenangan-kenanganku menghilang.
Aku minta maaf pada waktu atas segala dunia yang
kuintip tiap detik
Aku minta maaf pada cintaku di masa lalu
karena mengira bahwa yang terakhir adalah yang
pertama.
Maafkan aku, wahai perang yang jauh karena
pulang membawa bunga.
Maafkan aku, wahai luka yang menganga, karena
menyuntik jariku.
Aku minta maaf atas segala perbuatan jahatku
pada mereka
yang menangis dari kedalaman.
Aku minta maaf pada mereka yang menunggu di
stasiun Kereta
karena telah tertidur hari ini pada jam
Maafkan aku, wahai harapan yang melolong-lolong,
karena tertawa dari waktu ke waktu.
Maafkan aku, wahai gurun, karena aku tak
menyuruhmu
berlari demi sesendok air.
Dan engkau, rajawali, tak berubah dari tahun ke
tahun
selalu di sarang yang sama,
Tatapan matamu selalu tepat berada di titik yang
sama dalam ruang
Maafkan aku, bahkan jika ternyata engkau telah
mati kaku
Aku minta maaf pada pohon-pohon yang ditebang
demi empat kaki meja
Aku minta maaf pada pertanyaan-pertanyaan besar
atas jawaban-jawaban kecil
Kebenaran, tolong jangan begitu pedulikan aku
harga diri, bermurah hatilah. Beranaklah
bersamaku, o misteri keberadaan bersamaan dengan itu kutarik benang peristiwa
dari keretamu.
Jiwaku, jangan kau ambil hati bahwa hanya engkau
yang
kumiliki dari dulu hingga kini.
Aku minta maaf pada segala sesuatu karena aku
tak bisa
berada di semua tempat pada saat yang bersamaan.
Aku minta maaf pada setiap orang karena aku tak
dapat
menjadi separoh wanita dan separoh pria.
Aku tahu aku tak akan dibenarkan selama aku
masih hidup
jangan bebani aku dengan kehendak untuk sakit,
wahai pidato
karena aku membawa kata-kata yang berat,
Berilah aku tugas yang berat sehingga kata-kata
itu akan tampak ringan.
Aku berhutang sangat banyak
pada mereka yang tak kucintai.
Yang membuat aku merasa lega adalah
bahwa seseorang lebih membutuhkan mereka
Yang membuatku bahagia adalah
bahwa aku bukan merupakan srigala bagi biri-biri
mereka.
Damai yang kurasakan bersama mereka,
kebebasan-
Cinta tidak akan dapat menggantikan atau
mengambilnya.
Aku tidak menunggu mereka
seperti daun jendela -yang membuka dan menutup
Hampir sesabar jam matahari
Aku memahami
Apa yang tidak dapat dipahami oleh cinta
dan memaafkan
sedangkan cinta tak bakal pernah.
Dari sebuah kencan hingga ke sebuah
hanyalah beberapa hari atau
minggu
bukan untuk selamanya.
Perjalanan dengan mereka selalu berlangsung
lancar
mendengarkan konser-konser musik
mengunjungi katedral-katedral
melihat-lihat pemandangan.
Dan ketika tujuh belas buah bukit dan sungai
terbentang di antara kita,
bukit-bukit dan sungai-sungai itu dapat
ditemukan pada petaku.
Mereka patut mendapat pujian
jika aku hidup dalam sebuah ruang tiga dimensi
yang tak lirik dan tak retorik
dengan cakrawala asli yang bergerak
Mereka sendiri tidak menyadari
betapa mereka berpegang pada tangan-tangan
mereka yang kosong.
"Aku tak berhutang apapun pada
mereka,"
akan begitulah kira-kira jawaban cinta
pada pertanyaan terbuka ini.
Senyum
Dunia ini lebih suka melihat harapan daripada
hanya mendengar tentangnya.
Dan itulah sebabnya mengapa para negarawan harus
tersenyum
Gigi-gigi mereka yang seputih mutiara menunjukkan
bahwa mereka masih penuh dengan keceriaan.
Permainan ini sangat rumit, cita-cita kita jauh
dari gapaian
hasilnyapun masih tidak jelas -maka
kadang-kadang
kita perlu melihat sederet gigi yang ramah dan
bersinar.
di sepanjang bandara, di ruang konferensi.
Mereka harus mewujud sebuah gigi besar yang
"wow!"
sementara menggilas daging atau menekan
masalah-masalah yang mendesak.
Wajah-wajah mereka adalah jaringan-jaringan yang
meregenerasi dirinya sendiri
membuat hati kita berdengung dari lensa-lensa
kamera kita yang mendekat.
Ilmu kedokteran gigi beralih menjadi keahlian
berdiplomasi
menjanjikan pada kita abad keemasan esok hari
Keadaan bertambah sulit, dan karenanya kita perlu
melihat
tawa deretan gigi yang cemerlang,
geraham-geraham yang beritikad baik
Waktu kita masih belum cukup aman dan waras
bagi wajah-wajah untuk menunjukkan kesedihan
biasa.
akan membuat tempat ini sebuah surga yang
tersenyum"
Aku tidak begitu yakin. Negarawan itu, karenanya
tak memerlukan latihan olah wajah
kecuali dari waktu ke waktu: Ia merasa enak
Ia gembira ini musim semi, dan karenanya ia
pindahkan wajahnya
Tetapi memang sudah sifat manusia, sedih.
Maka biarlah begitu. Itupun tidak begitu buruk.
Pablo
Neruda
Malam
ini, Dapat Kutulis…
Malam ini dapat aku tulis sajak paling sedih
Aku tulis, misalnya: 'malam berkeping
dan menggigil, biru, bintang-bintang di jauhan.'
Angin malam berpusing di angkasa dan bernyanyi.
Malam ini dapat aku tulis sajak paling sedih
Aku cintakan dia dan kadang dia cintakan aku
juga
Di malam seperti ini aku peluk dia dalam dekapan
Aku ciumi dia berkali-kali di bawah langit abadi
tak bertepi
Aku cintakan dia dan kadang dia cintakan aku
juga
Bagaimana seseorang bisa berpaling dari memuja
mata besarnya yang berbinar
Malam ini dapat aku tulis sajak paling sedih
Untuk memikirkan tak lagi ia milik aku. Untuk
merasakan diri kehilangan dia
Untuk mendengar malam tak tepermanai, yang kian
menganga tanpa dia
Dan sajak-sajak berjatuhan ke jiwa seperti embun
di atas rumputan
Bagaimana mungkin cinta aku tak bisa menahannya
Malam berkeping dan dia bersama aku tak ada
Itulah semuanya. Di jauhan seseorang menyanyi.
Di jauhan
Jiwa aku tak menentu karena kehilangan dia
Pandanganku mencari-cari dia, seperti berlarian
mengejar dia
Hatiku mencari-cari dia, tapi dia bersamaku tak
ada
Malam-malam yang sama membikin putih pohonan
Waktu itu, kita tak lagi sama.
Aku tak lagi hasratkan dia, tentu saja, tapi
betapa aku hasratkan dia
Suara aku coba mencari angin untuk menyentuh
daun telinga dia
Yang lain. Dia bakal jadi milik yang lain.
Seperti dulu sebelum ciumanku.
Suara dia. Tubuh dia yang gemilang. Mata dia
yang kekal.
Aku tak lagi hasratkan dia, tentu saja, tapi
mungkin aku hasratkan dia.
Cinta pendek saja, hendak melupakan alangkah
panjangnya.
Bermalam-malam seperti ini malam aku peluk dia
dalam dekapan
jiwaku tak menentu karena telah kehilangan dia.
Ini duka penghabisan yang dia buat untuk
menyengsarakan aku
Dan inilah puisi terakhir yang aku tulis untuk
dia
Oh
Bumi, Tunggulah Kami
Kembalikan aku, oh matahari
Pada nasibku yang liar
Hujan hutan purba
Bawakan aku wewangian dan pedang-pedang
yang jatuh dari langit
Kedamaian wingit dari
Kebasahan pada tepian sungai
Aroma pohonan
Angin yang berdegup bagai hati
Mendentumi gelisah tanpa istirah
Puncak-puncak jati.
Bumi, kembalikan hadiahmu yang murni padaku
menara-menara kesunyian yang mawar
dari kekhusukan akar-akarnya.
Aku ingin kembali jadi yang belum kualami
Dan belajar untuk kembali dari kepekatdalaman
ini
di antara segala yang alami
tak masalah; aku bisa hidup atau tak
menjadi sebuah batu lagi, batu yang gelap
batu sejati yang dibawakan laluan sungai.
1964
Derek
Walcott
Jeruk
Hari Minggu
Wahai jeruk-jeruk yang sedih
Berpeganglah erat-erat,
Pada mangkuk bumimu,
cahaya pada dagingmu yang lebih pahit,
Biarkan kilauan sebuah jeruk
menjadi zirahmu
hari minggu yang telanjang ini,
Cahayamu yang masif
berpantulan pada perisai-perisai buah apel
Begitu nyata mereka
bagai dilapisi lilin,
berbagilah kesunyianmu yang masam
dengan kenangan ini perempuan
akan hari-hari minggu buah yang lain,
hingga dengan konsentrasi
engkau tumbuh, sebuah ruas jari
dari topi-topi baja
Penyangga bagi segala ihwal,
Kota-kota bersegi enam tempat lebah-lebah
mati secara murni demi rasa manis
Lampu-lampumu
akan menjadi yang terakhir padam
Di atas meja yang terpelitur ini,
Hari minggu ini, yang menuntut lebih
Dibanding nasib lilin-lilin
Dari para penakluk yang bertopi baja
Mati seperti lebah-lebah
Menggandakan Kenangan-kenangan
di dalam kepalanya yang keemasan
Ketika senja hari tersamar jadi lila,
Biarkan lampu-lampumu bertanah dalam bumi
yang menggelap ini
Mangkuk, masih hidup, tetapi sebuah kehidupan
yang jauh di bawah airmata atau keriangan
embun, keceriaan, bias lampu neon
Dari suatu senja yang mengaburkan
bentuk ini perempuan yang terbujur
Sebuah jeruk
Sebuah lampu tak berpendar.
Rindu
Laut
Sesuatu telah memindahkan kembali
raungan-raungan
dalam telinga rumah ini,
Menggantung tirai-tirainya yang tak tertiup
angin
Memukau cermin-cermin
Hingga pantulannya kekurangan intisari
Yang terdengar bagai gemeretak tanah
di
bawah kincir angin,
menjadi sebuah pemberhentian mati;
Ketiadaan yang menjadi tuli;
Sebuah hembusan.
Sesuatu itu telah menggelindingi bukit-bukit ini
Menuruni pegunungan,
Membuat isyarat-isyarat aneh
Mendorong pensil ini
Menembusi kehampaan yang tebal kini.
Menakut-nakuti lemari-lemari dengan kesunyian
melipati cucian-cucian apak
seperti bebajuan yang ditinggalkan orang mati
Tepat setelah
Si mati diperlakukan baik-baik oleh yang
dicintai.
Tak masuk akal mengharapkan untuk segera
ditempati.
Anggur
Laut
Pelayaran yang bersandar pada cahaya
Itu lelah akan pulau-pulau,
Sebuah sekunar melayari Karibia
Karena rumah dapat menjadi odyseus
yang berkampung halaman di laut Aegea;
yang dirindukan ayah dan suami,
Di bawah anggur-anggur masam
Yang basi
Ibarat seorang pezina mendengar nama nausicaa
Pada setiap lengkingan burung camar
Ini tak akan membawa perdamaian pada siapapun
Peperangan yang purba
Antara obsesi dan tanggung jawab
Tak bakal pernah selesai dan bakal selalu sama
Karena sang penjelajah lautan atau seseorang di
pantai
Kini tergopoh menyeret sandalnya pulang
Sejak perang Troya menghembuskan kobaran apinya
yang terakhir
Dan batuan besar raksasa buta menyembul di
antara ombak
Yang di puncak gelombangnya sajak-sajak enam
seuntai sampai
pada kesimpulan ombak yang kelelahan.
Tetapi tak cukup lagi kini
Sastra Yunani dan Romawi mampu menghibur hati.
(Sajak-sajak di atas diterjemahkan
Agus R. Sarjono dan Nikmah Sarjono, dari berbagai sumber).