Horison, Juli 2000
Edisi Khusus: 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison
Potret Itu, Gelas Itu, Pakaian Itu
Oleh: Budi Darma
Sungguh menakjubkan, bahwa ketika
hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan, perempuan itu membuka
jendela dan memandang keluar. Alis perempuan itu hitam tebal, melindungi
matanya, dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Ketika melihat
laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan, mata perempuan itu
bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri.
Laki-laki bertubuh kurus jangkung
memang sudah menantikan saat-saat seperti ini, kemudian meloncat ke pekarangan
melalui pagar tanaman, pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi.
Beberapa saat kemudian mereka
berdua sudah berada di dalam kamar. Dengan tangan gemetar, perempuan itu
menutup jendela dengan hati-hati, dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat
apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. Laki-laki bertubuh kurus jangkung
itu juga gemetar.
Lampu di dalam kamar sudah
menyala, tapi sangat samar. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu,
perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Di bawah potret ada
sebuah gelas, terletak di sebuah rak buku kecil. Dan di dalam rak terdapat
beberapa buku, dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu
sangat samar.
Laki-laki itu mengangguk mengerti.
Dia mendekati dinding di sebelah kanan. Matanya berganti-ganti melihat potret
laki-laki itu, kemudian gelas, dan kemudian beberapa buku. Tubuhnya agak membongkok
manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak.
Ketika perempuan itu menjawil
tangan kirinya, perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut
ke dalam potret laki-laki di dinding. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa
dijawil. Dan tahulah dia sekarang, bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding
ke arah sebuah tempat tidur kecil.
"Dia tidak mau potretnya
dipasang di sini."
Belum sempat bertanya apa-apa,
laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari.
Dan ketika perempuan itu membuka almari, terasalah bau enak menebar di dalam
kamar remang-remang itu. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat, beberapa
pakaian laki-laki di dalam almari.
Laki-laki itu terus diam ketika
perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari. Meskipun
demikian, laki-laki itu agak terkejut, ketika melihat pakaian di sebelah dalam
almari itu ternyata penuh cipratan darah. Dan segeralah perempuan itu
mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu.
Setelah perempuan itu menutup
almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur, perempuan itu berjalan ke
arah tombol listrik, dan mematikan lampu bercahaya lemah itu.
"Apakah yang tadi kau lihat
pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu.
"Saya tidak pernah melihat
laki-laki seagung itu. Sungguh agung dia. Jengkal demi jengkal wajahnya
menunjukkan keagungan luar biasa."
"Apa lagi?"
"Apa lagi? Ya, apa lagi?
Tentu saja saya mengagumi dia. Matanya sungguh menakjubkan. Alangkah senangnya
kau menjadi istrinya."
"Apa lagi?"
"Apa lagi? Ya, apa lagi? Saya
yakin dia laki-laki gagah, kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus
jangkung. Dia pasti laki-laki ramah."
"Apa lagi?"
"Apa lagi? Ya, apa lagi? Saya
kagum pada raut wajahnya. Dia pasti mempunyai wibawa besar, wibawa tinggi.
Saya mengaguminya."
"Hanya itu?"
Laki-laki itu kehabisan akal dan
kehabisan kata. Maka berbicaralah dia asal berbicara, tentunya tanpa mengetahui
apa yang dikatakannya:
"Tentu saja tidak. Saya heran
mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. Heran. Saya heran
mengapa takdir tidak memberinya umur panjang, untuk memberikan kesempatan
kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat,
martabat, dan derajat sesamanya."
"Siapa yang mengatakan dia
dihabisi kanker?"
Laki-laki itu diam. Dia ingat,
pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya.
Kalau tidak keliru, dia dipotret sekitar tiga bulan lalu, di Balai Wartawan
ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. Begitu
cepat anak perempuan itu memotretnya, kemudian berjalan bergegas dan
menyelinap di antara sekian banyak orang. Akhirnya laki-laki itu tahu, bahwa
anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan
bermata tajam. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu,
pertemuan dinyatakan bubar. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya, perempuan
beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari
tangannya.
"Laki-laki itulah yang saya
cintai," kata perempuan itu. "Karena itulah potretnya saya pasang di
situ. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah
potretnya. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini.
Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. Dan setiap kali saya merindukannya,
selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. Sering mulut
gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya
melumat-lumat bibirnya. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke
payudara saya, seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya.
Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Setiap kali dia ke
sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Begitu gemar dia
membuka-bukanya, segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya
kenakan."
Laki-laki itu diam. Dia tidak tahu
mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah
"Dari sekian banyak laki-laki
yang saya kenal, dialah laki-laki yang saya cintai," kata perempuan itu
lagi. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi, mengenai
buku-buku itu lagi, dan akhirnya mengenai payudaranya.
"Rupanya laki-laki lain yang
pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Hanya dialah yang sering
membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan
sekian banyak perempuan lain. Senang sekali dia membanding-bandingkan
payudara saya dengan payudara mereka, dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh
mereka. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka,
dengan nada sangat melecehkan mereka, dan tentu saja dengan nada
mengagung-agungkan saya. Betul yang kau katakan tadi, dia laki-laki mengagumkan,
sangat mengagumkan. Bagi saya, mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih
mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. Ingat, Nabi Yusuf tidak suka
merayu, sementara dia suka merayu, yaitu merayu sekian banyak perempuan,
sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali
didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya
dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati
kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa
rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang
pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari
tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi
Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.'
Laki-laki yang potretnya di
"Dan manakah anak perempuan
yang memotret dahulu?"
"Ciumlah tangan saya sebelum
saya menjawab pertanyaanmu."
Belum selesai dia mencium tangan
kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya.
"Ulangilah pertanyaanmu
tadi."
"Manakah anak perempuan yang
memotret dahulu?"
"Anak perempuan? Maaf, saya
tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan
apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak
mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah
kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak
akan mengijinkannya memotret."
"Mengapa?"
"Menurut laki-laki yang saya
cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat.
Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering
mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka
potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang."
"Benarkah laki-laki seagung
itu mempunyai jalan pikiran demikian?"
"Memang saya sering menemui
kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya.
Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara
kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri
yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia
tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika
dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek
dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya
tahu, dia berhati agung.
Bagi dia, laki-laki tidak bisa
bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja
diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan
wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru
akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan
Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom
juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan
untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya
habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha
mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi
Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk
memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu
mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk
memperbudak nafsu laki-laki."
Belum sempat laki-laki itu
bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya.
"Setiap laki-laki harus
menjilati kaki saya," katanya.
Setelah selesai menjilati seluruh
bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal,
laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam,
kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman.
Laki-laki itu merasa bahwa malam
telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan.
Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada
seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa
begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu.
Heran benar laki-laki itu, mengapa
tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau
tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah.
Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai
"ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah.
Dia ingat, perempuan itu tidak
pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan
laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan
itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke
Ketika laki-laki itu menanyakan
siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan
bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak
perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan
itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke
Laki-laki itu terus berjalan
tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong
jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia
sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu
melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu,
laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya
bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat
perempuan tadi.
Sementara rasa hausnya memuncak
sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan
tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap
kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan
bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku.
Tiba-tiba laki-laki itu merasa
salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan
terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum
waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan
untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar.
Laki-laki itu masih berdiri
tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas
"Maka berjalanlah dia agar
cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur,
seorang laki-laki menegor dia.
"Mengapa malam-malam
begini kamu berada di sini?"
Dengan cepat dia mengenal siapa
laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus
panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara
urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan
tangan-tangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan
dialah yang selalu mengawasinya di kantor.
"Mengapa malam-malam begini
kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi.
Dia tidak dapat menjawab. Matanya
menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke
payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya
kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan.
Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah
terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa
sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga
perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang
terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak
maksiat.
Rasa haus makin menggorok
kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri,
sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat
menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak
lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap
perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia
tidak mempunyai gelas lain kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu,
katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan.
Ketika laki-laki mencurigakan
menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia
memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata:
"Minumlah sepuas-puasmu,
kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik
saya."
Dia melemparkan timba ke dalam
sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika laki-laki mencurigakan menceritakan
perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan
dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh
air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas.
Laki-laki mencurigakan terus
bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor
laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian,
barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah
lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil
memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu
akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan
kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha
mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar,
selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu.
Selesailah sudah laki-laki
bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu
kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya
berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di
atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah
bekas bibirnya akan dijilat-jilat.
Masih sempat dia melihat
laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi.
Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki
mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa
Ingin sekali dia cepat-cepat
meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan
kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian
menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras
mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri.
Dia mempercepat langkah, tapi
terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika
laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa
membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan
patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia
membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di
Dengan tenang, laki-laki
mencurigakan menggumam:
"Ketahuilah, masalah kebun
kacang hanyalah masalah permukaan. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai
kebun kacang juga bukan masalah berat, Memang saya sering berkelahi, tapi
perkelahian-perkelahian itu, sekali lagi, bukan apa-apa bagi saya. Bagi
musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. Saya
hanya menikmati satu hal, yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis.
Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. Kamu pun sebenarnya iblis. Ketahuilah,
sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. Sesama iblis bisa saling mengganyang.
Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu, saya yakin bahwa iblis di dalam
jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. Benar-benar saya
merasa takut terhadap kamu. Dan setiap kali merasa takut, pasti saya bertindak
terlebih dahulu, tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang."
Dia menggumam dengan kesadaran
penuh, bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Meskipun
demikian, laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa kata-kata perempuan
tadi:
"Laki-laki yang saya cintai
itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. Dia mati
dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. Saya selalu menyimpan
pakaiannya yang berlumuran darah."
Bulan tetap berputar-putar di atas
(Dimuat dalam Horison, Juli 1990)
Jaring-jaring Merah
Oleh: Helvy Tiana Rosa
Apakah kehidupan itu? Cut Dini,
temanku, selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan
luka. Serpihan tanpa makna. Hari-hari yang meranggas lara.
Ya, sebab aku hanya bisa memendam
amarah. Bukan, bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada
gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Tetapi karena aku
tinggal sebatas luka. Seperti juga hidup itu.
Dan kini hari telah semakin gelap. Aku
tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke, menuju
Buket Tangkurak, bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. Dadaku telah
amat sesak, tetapi langkahku makin kupercepat. Lolong anjing malam bersahut-sahutan,
seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Perih. Airmataku
berderai-derai.
“Ugh!”
Aku tersandung gundukan tanah.
Dalam remang malam, kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu,
dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. Mereka menatapku seolah
aku akan berteriak kengerian.
Ngeri?
Oi, tahukah anjing-anjing buduk itu, aku
melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku!
Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan
pada penduduk desa. Aku melihat orang- orang ditembak di atas sebuah truk kuning.
Darah mereka muncrat ke mana-mana. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi,
diperkosa beramai-ramai, sebelum rumah dan suaminya dibakar. Aku melihat
saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. Aku melihat
semua itu! Ya, semuanya. Juga saat mereka membantai … keluargaku, tanpa
alasan.
Ffffffhuuih, kutarik napas panjang.
Jangan menangis lagi, Inong! Kering airmatamu nanti. Meski lelah, lebih
baik meniru anjing-anjing itu.
Aku merangkak dan maju perlahan.
Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. Terus
tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Keringatku mengucur deras,
wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Sedikit pun tak kuhiraukan
bau bangkai manusia yang menyengat hidung.
Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu.
Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Tulang. Banyak tulang. Cakarku terus
menggali. Kutemukan beberapa tengkorak, lalu remah-remah daging manusia.
Ah, di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas
itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah
saat orang-orang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. Di mana?
Di mana tangan-tangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di
mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya?
Sekujur tubuhku gemetar menahan
buncahan duka. Aku menggali, terus menggali. Hingga aku semakin lemas dan
akhirnya kembali terisak pilu. Meratapi orang-orang yang kukasihi, yang
beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini.
Sssssssttt!
Tiba-tiba, di antara suara serangga
malam, kupingku mendengar langkah-langkah orang. Sepatu-sepatu lars yang
menginjak ranting dan daun kering. Mereka menuju ke arahku!
Aku harus menyanyi. Ya, menyanyi
nyaring, dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri.
“Perempuan gila itu!” suara seseorang
gusar.
“Sayang, dulu ia cantik…,” ujar
yang lain.
“Ya, juga sangat muda. Ah, sudahlah,
biarkan saja,” kata yang ketiga. “Ia tak berbahaya. Hanya tertawa dan
menangis. ”
Aku pura-pura tidak mendengar
perkataan si loreng-loreng itu. Mereka gila karena mengira aku gila. Tak
tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan,
awan dan udara malam. Bersama desir angin, burung hantu dan lolong anjing
hutan. Bersama bayangan Ayah, Mak, Ma’e dan Agam. Kami menyanyi, kami menari
bungong jeumpa. Lalu aku tersenyum malu, saat Hamzah yang telah meminangku,
melintas di depan rumah dengan sepedanya. Dahulu. Ya, dahulu….
***
“Inong….”
Aku menggeliat. Cahaya mentari
masuk dari celah-celah bilik. Hangat. Ah, di mana aku? Dipan ini penuh kutu
busuk. Berarti…, ya, aku di rumah. Aku bangkit, mencoba duduk.
“Dari mana, Inong? Aku mencarimu
seharian. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak, subuh
tadi.”
Kutatap seraut wajah dalam kherudoung
putih di hadapanku. Cut Dini. Tangannya lembut membelai kepalaku.
“Aku cuma jalan-jalan. Aku tidak
mengganggu orang," jawabku sekenanya.
“Aku tahu. Kau anak baik. Kau tak
akan mengganggu siapa pun…, tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke
rumoh geudong lagi. Berbahaya. Lagi pula kau seorang muslimah. Tidak baik
pergi sendirian,” kata Cut Dini sambil memberiku minum.
Kugaruk-garuk kepalaku. “Therimoung…
ghaseh…,” kuteguk minuman itu.
Cut Dini. Ia sangat peduli. Matanya
pun selalu menatapku penuh pancaran kasih.
Aku kembali merebahkan badan di
atas dipan. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. Aku belum
begitu lama mengenalnya. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga
aktivis masjid. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di
Dulu, setelah keluargaku dibantai
dan aku dicemari beramai-ramai, aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur
yang dalam. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul, menggapai-gapai permukaan. Namun tiada tepi. Aku tak bisa bangkit, bahkan menyentuh
apa pun, kecuali semua yang bernama kepahitan. Aku memakan dan meminum
nyeri setiap hari. Sampai aku bertemu
Cut Dini dan bisa menjadi burung. Segalanya terasa lebih ringan.
Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak.
Aku melempari atau memukul orang-orang yang lewat. Hingga suatu hari
orang-orang desa akan memasungku. Kata mereka aku gila! Hah, dasar orang-
orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. Cut Dini juga yang mengingatkanku
untuk mandi dan makan. Ia menyisir rambutku, mengajakku ke dokter, ke pengajian,
atau sekedar jalan-jalan.
“Baju yang koyak itu jangan dipakai
lagi,” kata Cut Dini suatu ketika.
“Aku suka,” kataku pendek. “Ini
baju yang dijahitkan Mak. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu
datang.”
“Itu baju yang tak pantas dilihat.
Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi,” katanya pelan.
Kupandang baju ungu muda yang
kupakai. Tangannya koyak, ketiaknya juga. Lalu di dekat perut, di belakang…,
bahkan ada sisa-sisa darah kering di
“Aku ingin memakainya,” lirihku.
“Apa aku gila?” tanyaku.
Cut Dini menatap bola mataku
dalam. “Menurutmu?”
Aku menggeleng kuat-kuat. Menggaruk-garuk
kepalaku.
“Kau sakit. Kau sangat terpukul,”
ujar Cut Dini. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. Lalu dengan cekatan membungkus
baju itu dengan koran.
Aku mengangguk-angguk. Terus
mengangguk-angguk, sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. Aku suka
membantah orang, tetapi tidak Cut Dini.
“Sudahlah.”
Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al-
Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. Suaranya kadang berubah. Aku seperti
mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala.
Ah, meski tak mengerti, aku ingin
menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran.
***
Siang itu aku sedang menjadi
burung. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. Aku hinggap di
ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di
“Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar
suara Cut Dini bergetar, di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku.
Aku terbang dan hinggap pada meja
kusam di samping rumah, lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh.
Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini.
“Kami orang baik-baik. Kami hanya
ingin memberikan sumbangan sebesar
Aku nyengir.
“Kami minta ia tidak mengatakan
apa pun pada orang asing. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani
kertas bermaterai ini.”
Cut Dini membaca kertas itu.
Kulihat wajahnya marah. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya,
lebih lekat dari jendela.
“Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan
selama ini, penjagalan di rumoh geudong, mayat-mayat yang berserakan di
Buket Tangkurak, Jembatan Kuning, Sungai Tamiang, Cot Panglima, Hutan
Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi. “Lalu perkampungan tiga ribu janda,
anak-anak yatim yang terlantar…, keji that! Tidak!”
Kedua orang itu tampak gugup dan
sesaat saling berpandangan. “Kami
hanya menindak para GPK. Ini daerah operasi militer. Kami menjaga keamanan masyarakat.”
“Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. “Kenyataannya
masyarakat takut pada siapa? Dulu, banyak yang terpaksa menjadi cuak,
memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari
Gerakan Aceh Merdeka. Tetapi sekarang semua usai. Tak ada tempat bagi orang
seperti kalian di sini.”
“Sudahlah, ambil saja uang ini buat anda. Lupakan
saja gadis gila itu.”
Apa? Gadis gila?? Kukepakkan
sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Kulempar mereka dengan apa pun
yang kutemui di meja dan di lantai. Aku berlari ke dapur, dan kembali menimpuki
mereka dengan panci dan penggorengan. Mereka berteriak-teriak seperti anak
kecil dan berebutan ke luar rumah. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku!
Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka
menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak!
“Inong….”
Aku berhenti melempar. Aku
berhenti jadi burung ajaib. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan.
“Masya Allah, nanti perabotan itu
rusak,” suara Cut Dini, tetap lembut. “Benahi yang rapi lagi, ya. Aku mau
shalat lohor dulu,” katanya.
“Mengapa aku tak pernah diajak
salat?” protesku. “Dulu aku shalat bersama keluargaku, sebelum aku bisa jadi
burung,” tukasku.
“Jangan menjadi burung, bila ingin
shalat seperti manusia,” kata Cut Dini tersenyum.
***
“Keluar, Zakariaaa! Keluar! Atau
kami bakar rumah ini!!”
Aku terbangun dan mengucek kedua
mataku.
Ketika pintu dibuka, tiba-tiba
saja Ayah diseret ke luar, juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat
Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak, beberapa tangan kekar
merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Dzikir
itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati.
“Ini pelajaran bagi anggota GPK!”
teriak seorang lelaki berseragam. Kurasa ia seorang pemimpin. “Zakaria dan keluarganya membantu anak
buah Hasan Tiro sejak lama!”
Warga desa menunduk. Mereka tak
mampu membela kami. Dari kejauhan kulihat api berkobar. Puluhan orang ini
telah membakar beberapa rumah!
“Jangan ada yang menunduk!”
Aku gemetar mendengar bentakan
itu.
“Ayo lihat mereka. Kalian sama
dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi.
“Kami bukan GPK!”suara Ma’e.
Ulon hana teupheu sapheu!”
“Lepaskan mereka. Kalian salah
sasaran!” Ya Allah, itu suara Hamzah!
“Angkut orang yang bicara itu!”
Aku melihat Hamzah dipukul
bertubi-tubi hingga limbung, lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Airmataku
menderas.
“Siapa lagi yang mau membela?”tantang
lelaki penyiksa itu pongah.
“Kami tidak membela, mereka memang
bukan orang jahat,” suara Geuchik Harun. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin.
Jiibandum ureung biasa.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada
sebatang pohon.
Serentetan tembakan segera
menghunjam tubuh Geuchik Harun, lalu Ma’e abangku! Aku histeris. Tak jauh,
kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi, lalu Ayah yang berlumuran darah!
Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk.
“Bawa mereka ke bukit dekat jalan
buntu! Juga gadis itu!”
Aku meronta, menendang, menggigit,
mencakar, hingga aku letih sendiri. Dan aku tak ingat apa-apa lagi, saat tak
lama kemudian, nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku!
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya.
“Astaghfirullah, Inong! Inong,
bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku.
Airmataku menganak sungai,
tetapi aku tak bisa bangun, sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang
sepertiku di sini, di dalam jaring-jaring merah ini.
“Inong, istighfar….”
Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan
jaring. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke
Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan
jaring ke
Tak ada yang mendengar. Sebuah
pelukan yang sangat erat kurasakan. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes
dan bercampur dengan aliran air di pipiku.
“Allah tak akan membiarkan
mereka, Inong! Tak akan! Kau harus sembuh, Inong! Semua sudah berlalu.
Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. Tegar, Inong! Tegar! La hawla wala
quwwata illa bi 'l-Lah….”
Kabur.
Lalu tak jauh di hadapanku, kulihat
beberapa o-rang. Di antaranya berseragam. Tiba-tiba takutku naik lagi ke
ubun-ubun. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat.
“Ia hanya satu dari ribuan korban
kebiadaban itu, Pak. Tolong, beri kami keadilan. Bapak sudah lihat sendiri.
Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!”
Takut-takut kuintip lelaki tegap
yang sedang menatapku ini. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk
menangkapku lagi?
“Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!”
teriakku. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya.
"Pergiiiiii!" aku menceracau.
Sekujur badanku bergetar, terasa berputar. Orang-orang ini tersentak,
menatapku kasihan. Hah, apa
peduliku?! Aku ingin berteriak, mengamuk, memporakporandakan apa dan
siapa pun yang ada di hadapanku! Aku….
Tiba-tiba suaraku hilang. Aku berteriak,
tak ada suara yang keluar. Aku menangis tersedu-sedu, tak ada airmata yang
mengalir. Aku mengamuk panik, tetapi
kaku. Aku mencari bunyi, mencari bening, mencari gerak. Tak ada apa pun.
Cuma luka nganga.
“Inong…, mereka akan membantu
kita….”
Aku terkapar kembali. Menggelepar.
Berdarah dalam jaring.***
Cipayung, 1998
Referensi:
- Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh, 5 Agustus 1998.
- Gatra, Republika, Terbit, Kompas ( semua terbitan Agustus 1998).
- Buletin Kontras no 1/Agustus 1998.
Daftar istilah:
Buket Tangkurak : Bukit
Tengkorak
Geuchik : Kepala
Desa
Cuak : orang yang jadi mata-mata
tentara
Ma’e : panggilan untuk Ismail
Mak : Mak
rumoh geudong : rumah gedung (tempat
penjagalan)
Mane : nama desa di Pidie
ureung-ureung : orang-orang
that : sekali
ulon hana teupheu sapheu :
saya hanya orang biasa
therimoung ghaseh :
terima kasih
kherudoung : kerudung
(Dimuat dalam Horison, April 1999)
Pemahat Abad
Oleh: Oka Rusmini
Kopag menjatuhkan pisau ukirnya
yang runcing. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Semua gara-gara dia
mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Seperti bau daun-daun kering dan kayu
basah. Aneh, dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu
semakin mendekat.
“Siapa itu?”
“Titiang.1 Luh Srenggi.”
“Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag
semakin menggigil. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Tangannya
jadi lapar. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Pisau-pisau yang runcing
terbayang di otaknya. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi
wujud laki-lakinya.
"Katakan padaku, siapa kau?!”
"Titiang yang akan melayani
seluruh keperluan Ratu.2 Mulai hari ini dan seterusnya.” Suara itu terdengar
gugup.
“Siapa tadi namamu?” Kopag mulai
menenangkan dirinya sendiri.
“Luh Srenggi.” Suara itu terdengar
bergetar. Suara itu adalah suara perempuan. Apa yang terjadi dengan dirinya?
Kopag memaki dirinya sendiri. Aneh sekali, tiba-tiba saja dia seperti
ditenggelamkan ke lautan. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran, kasih sayang,
dan sangat tulus. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Inilah perempuan
itu, perempuan yang dicarinya berabad-abad. Sekarang Hyang Widhi mengirim
untuknya. Seorang perempuan, benarkah suara ini milik seorang perempuan?
Ketika Kopag akan mengambil
tongkatnya, Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Tangan mereka bersentuhan. Kopag
semakin gelisah. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. Luar biasa.
Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang
pohon, atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun.
Baru kali ini Kopag merasakan
bisa menikmati hidupnya. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif
terhadap benda hidup yang bernama manusia. Biasanya dia hanya dijadikan
objek, sekedar mendengarkan keputusan
orang-orang terdekatnya. Apa pun yang dikatakan orang- orang di sekitarnya, Kopag harus
patuh. Kali ini, dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran
yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran
yang telah menjadi ukuran mereka.
“Apakah di bumi ini wujud
kebenaran itu sudah seragam, Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir, “bahkan
untuk menilai keindahan itu, aku juga harus memakai kriteria mereka?”
“Kebenaran mereka? Aku tidak yakin
mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag
terdengar penuh tekanan. Pikirannya kacau!
Kopag sadar, sangat sadar.
Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Karena tak ada
perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Tapi, apakah
orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan
mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat
digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag
menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Kecantikan yang dia
lihat dengan pikiran, perasaan, dan keindahannya sendiri. Salahkah?
Kecantikan perempuan muda itu
adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Tubuhnya seperti lekukan kayu.
Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Dia adalah kayu terindah dan tercantik.
Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Menghargai
keindahan yang dititipkan alam padanya. Bahkan Gubreg, pelayan tua itu, juga
tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun
itu. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag
terhadap perempuan?
***
Kehidupan telah memaksa bocah
laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag, agar orang-orang mudah mengenalinya
dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Dia anak laki-laki
kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Gelar Ida Bagus menunjukkan
bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana, kasta tertinggi dalam
struktur masyarakat
Laki-laki itu harus berperan
sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Alangkah
ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan, bisa dibuat sebuah pementasan.
Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan, di sanalah
dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma
bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya, hidupnya.
Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Dia memberi
Kopag poin, yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Dia bisa mengubah kayu
kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Kopag
telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Kopag tidak saja memahat kayu, dia
memahat pikirannya, otaknya, juga impian-impiannya. Untuk pertama kali, alam
menyerah pada kekuasaannya, seperti Kopag juga menyerah pada
kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Kebutaan yang mengikuti dia
terus-menerus.
***
Kopag menarik nafasnya
dalam-dalam. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke
mana dia pergi. Jujur saja, Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada
dunianya. Dunia yang diinginkan. Sebuah kesunyian dengan pagar-pagar keindahan.
Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping.
“Apa bisanya adikmu yang buta itu?
Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya.
Ada-ada saja yang diributkannya. Tanaman di halaman samping rusak atau
terinjak kakinya, kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu
tersangkut tongkatnya, atau posisi piring dan gelas berubah di dapur.
Suara iparnya itu akan terus
menari-nari di sekitar telinganya. Bagaimana mungkin perempuan konon kata
orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar.
Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Nama perempuan itu Ni Luh
Putu Sari. Karena dia bukan kaum Brahmana, perempuan itu harus mengubah namanya
menjadi Jero Melati. Karena perempuan Sudra, perempuan kebanyakan itu telah
menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya.
Orang-orang di luar hanya tahu
bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa, kulitnya yang sering jadi pujian,
pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki.
Aneh sekali, Kopag sering berpikir, bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian
yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Iparnya yang luar biasa
kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya.
Bagi Kopag, perempuan itu adalah
pemain sandiwara yang ulung. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk
masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Perempuan itu benar-benar serius
untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana, dia harus menunjukkan
pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga
bangsawan. Itu yang dirasakan Kopag, ketika untuk pertama kali iparnya itu
menyalaminya. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk.
Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka, dia mencium bau darah.
Anyir. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat
mungil, merah, dan sangat pas. Bahkan Gubreg, parekan, pelayan setia yang
merawat Kopag sejak kecil, selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa
mendapatkan perempuan tercantik di desa.
Masih kata Gubreg, Ni Luh Putu
Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati
itu memiliki kulit yang sangat indah. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja
“Luar biasa kecantikan Jero
Melati, Ratu.”
“Seperti apa perempuan cantik itu,
Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Aku ingin tahu, aku juga ingin
merasakan. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu.”
Laki-laki tua itu terdiam.
Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam.
“Anak itu buta, Gubreg. Menanggung
dosa ayahnya. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan
yang dilakukan anakku. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Kegelapan itu
jadi milik cucuku yang paling abadi. Aku masih percaya kehidupan itu bisa
diajak bicara. Kau bisa lihat,
“Gubreg, kau belum jawab
pertanyaanku. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu
beringin ini? Dingin, tapi mampu memikatku. Lihat, Gubreg, aku selalu
tersentuh. Gubreg, rasa apa yang sering membuatku meluap, apa ini rasa yang dimiliki
laki-laki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan.
Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag
memang sudah besar, sudah menjelang dua puluh
Laki-laki setengah baya itulah
yang membuat Gubreg, jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Kadang-kadang dia
bacakan buku-buku bahasa asing, yang diterjemahkannya, tentang Michelangelo Buonorrty,
yang konon, kata Frans, pematung jaman Renaisans.
“Kau tidak ingin menjawabnya,
Gubreg?”
“Jangan bertanya yang aneh-aneh
pada titiang, Ratu. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Tanyakan pada
laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan.
Laki-laki tua itu sekarang ini
jadi cepat marah. Dadanya sering mendidih. Rasanya baru mendengar satu huruf
keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar.
Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Laki-laki bule itu telah
memberinya didikan yang baru, perhatian yang lain. Kopag tidak lagi
membutuhkannya.
“Gubreg, tubuhku gemetar setiap
menyentuh pisau-pisau ini. Keruncingannya, ketajamannya, begitu indah. Begitu
penuh misteri. Luar biasa, Gubreg.”
Kilatan matahari menjilati
keruncingan pisau pahat itu. Gubreg menyaksikan, betapa sinar matahari yang
perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja
keruncingannya. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Di
tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin, angkuh dan selalu lapar.
Sampai menjelang tengah malam,
Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi laki-laki. Perasaan apa yang
sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Takut sekali menjawab pertanyaan
tentang esensi menjadi laki-laki.
***
Pagi-pagi sekali, Kopag sudah
membuka jendela studionya.
“Aku ingin bercerita padamu,”
suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu.
“Tentang apa lagi, Ratu?”
“Kecantikan perempuan.”
“Titiang...titiang tidak bisa
menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Semua orang, Ratu, memiliki
penilaian khusus tentang hal itu. Perempuan itu....”
Suara Gubreg terdengar patah.
Berkali-kali dia menarik nafas. Dia mengerti. Sangat paham. Dia juga
laki-laki, dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika
pertama kali menampar wujud manusianya. Begitu parah, dan teramat menggelisahkan
ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Rasa
itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak, dan tulang-tulangnya yang
mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali.
Waktu itu Gubreg seorang laki-laki
kumal empat belas tahun. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga
mandi di sungai Badung. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan
menjepit batang-batang tubuhnya. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu
naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Kaki perempuan itu putih, dan
mampu meledakkan otaknya. Terlebih, Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg
menggosok punggungnya dengan batu kali. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari
ini masih melekat erat di tubuhnya. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang
dipinjam Gubreg pada hidup. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa
menyerang tubuhnya. Dia gelisah, dia luka, karena kelaparannya adalah
kelaparan yang tidak pada tempatnya. Sebagai laki-laki Sudra, kebanyakan,
dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Perempuan
junjungannya, perempuan yang sangat dihormatinya. Tak ada yang bisa
diceritakan kegelisahannya, dia adalah laki-laki tak berguna, yang hidup dari
belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Setiap mengingat batas yang ada antara
dirinya dan Dayu Centaga, Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Dia
sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Hyang Widhi, Gubreg
sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Tubuhnya jadi pucat. Keluarga
Griya mencarikan dia seorang Balian, dukun.
Balian tua itu memberinya
jampi-jampi. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran
pernafasannya. Kata Balian itu, Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir
sungai. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Masih kata Balian tua
itu, tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Berkat
kekuatan Gubreg, Dayu Centaga tidak terkena. Justru Gubreglah yang kena kemarahan
si penunggu sungai. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg, keluarga Griya
membawa sesaji untuk penunggu sungai.
Gubreg tidak bisa bercerita
tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Dia pasrah ketika Balian
tua...memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Katanya agar roh jahat tidak
mengenai keluarga Griya. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya, Gubreg
bersedia menjalankan runtutan upacara itu.
Tak seorang pun tahu, komunikasi
Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg tidak sakit, tidak juga kesambet
setan. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya, karena aliran sungai dalam
tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil, tetapi sudah menyerupai air bah. Dan
Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Demi Hyang Widhi, dia
merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Cinta yang tidak mungkin
dihapus. Cinta yang membuatnya jadi batu, dingin, tidak lagi bisa menikmati
kegairahan manusiawi sebagai manusia. Sampai sekarang, menjelang tujuh puluh
Kalau sekarang Kopag bertanya
seperti apa kecantikan itu, Gubreg paham. Sesuatu yang dahsyat telah
dititipkan alam pada tubuhnya.
Gubreg menatap tajam tubuh Kopag
yang sedang merampungkan pahatannya.
“Gubreg, kau belum juga jawab
pertanyaanku,” suara Kopag terdengar pelan. Dia menarik nafas berkali-kali,
“Gubreg, kau ingat kata-kata Frans?”
“Yang mana?”
“Frans mengatakan keliaranku
membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo
Picasso, Guemica. Pada dasarnya aku selalu penasaran, Gubreg. Kenapa kayu-kayu
ini selalu mengajakku berdiskusi, mengajakku bicara, berdialog, dan
berpikir. Aku selalu ingin tahu, selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu
itu. Rasa ingin tahu yang begitu besar, sampai menguliti otakku, tanganku, tubuhku.
Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Impian-impian yang dimiliki oleh
po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya, mem-besarkan tubuhnya, sampai
akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Aku juga memiliki
impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Suatu hari Frans dan
seorang temannya mengatakan, pahatanku tentang perempuan sangat sempurna.
Kata mereka, sangat surealis. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat
kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham, yang
memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan.
Gubreg, aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Kayu-kayu
dan pisau telah memberiku mata yang lain.”
Gubreg tetap diam. Dia mencoba memahami
sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag,
seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya, diajar memahami kehidupan.
Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia
perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh
hidupnya untuk mengabdi.
Berkat Kopag, keluarga besar ini
kembali bisa hidup. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor
dari dalam dan luar negeri. Sekarang ini keluarga ini tentram. Jero Melati
tidak pernah ceriwis, perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya.
Bahkan, kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Saat ini
galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling
diakui di
Gubreg tahu tak ada yang
diinginkan Kopag. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak
ada uang. Hanya satu yang ditangkap Gubreg, Kopag memerlukan perempuan.
***
“Kita harus carikan seorang istri
untuk Ratu,” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Mendengar komentar itu,
Jero Melati tersenyum.
“Bagaimana kalau dia kawin dengan
calon yang telah kusiapkan.”
“Jero sudah punya calon?”
“Ya. Aku sudah memikirkannya
jauh-jauh hari.”
“Siapa?”
“Adik perempuanku,” jawab
perempuan itu serius. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Untuk pertama
kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Benar
kata Kopag, perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Otaknya hanya
berisi kehormatan.
“Kau harus bisa meyakinkan dia
bahwa adikku layak menjadi istrinya.” Suara perempuan itu terdengar mirip
perintah dan pemaksaan. Gubreg diam. Dia tahu, adik Jero Melati adalah perempuan
paling liar dan nakal. Kata orang-orang kampung, adik Jero Melati bisa menjual
tubuhnya. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Sayang, dia tidak
tahan miskin. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri.
***
“Gubreg. Aku ingin bicara!” Kali
ini suara Kopag terdengar serius. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira
arah pembicaraan Kopag.
“Ratu. Ratu ingin apa lagi? Jangan
menakuti titiang. Ratu terlihat sangat gelisah.”
“Ya. Aku ingin kawin, Gubreg.”
Suara Kopag terdengar sangat serius.
“Maaf Ratu, titiang juga sudah
membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.”
“Apa kata mereka.”
“Mereka setuju. Bahkan merekalah
yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.” Gubreg mengangkat wajahnya,
ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Aneh! Wajah itu tetap seperti
batu.
“Aku sudah memiliki calon. Kali
ini pilihanku tidak bisa diubah!”
“Siapa?”
“Luh Srenggi.”
“Ratu...?!” Gubreg seperti
tercekik. Luh Srenggi, apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh
Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag, membersihkan
studionya menyiapkan makan, dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan
itu bukan perempuan, dia lebih mirip makhluk yang mengerikan, kakinya pincang,
punggungnya bongkok, ada daging besar tumbuh di atasnya, matanya yang kiri
bolong, dia hanya memiliki satu mata. Wajahnya juga rusak berat. Kulitnya begitu
kasar. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Sadarkah dia, tahukah
dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat.
“Aku telah menidurkan perempuan
itu setiap malam, Gubreg. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Kulitnya juga
kulit kayu. Kau tahu, ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya, aku
tenggelam dan habis. Dia adalah perempuan tercantik. Perempuan yang mengalahkan
kecantikan kayu-kayuku. Ketika dia telanjang, tak ada sebuah pisau pun bisa
menandingi ketajamannya. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku.”
Gubreg ambruk. Sebuah pisau pahat
menembus dadanya yang tipis.***
1.
Saya
2. Panggilan kehormatan untuk
bangsawan
(Dimuat dalam Horison, Maret 2000)
Menjadi Batu
Oleh: Taufik Ikram Jamil
Dinihari.
“Pasti dari Jim,” kata hatiku.
Sambil mengangkat gagang telepon
itu, aku membayangkan Jim kembali tercungap-cungap menceritakan keluarga Niru
menjadi batu. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, mengapa harus
menjadi batu, dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka. Berkali-kali
ia ulangi pertanyaan tersebut, ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya
menghadapi kenyataan itu.
“Ketika kutinggalkan sekejap tadi,
hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu,” kata Jim
seperti yang sudah kuduga, ya seperti yang sudah kuduga. “Aku kira sebentar
lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu, tergolek bagai barang tak berguna.
Tapi mereka manusia
Aku diam, tetapi aku sudah
membayangkan, pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan
mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia. Tetapi manusia yang telah
menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya, padahal bagian terpenting
dalam hidup adalah memfungsikan diri. Sampai pada kalimat tersebut, Jim akan
tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu
yang abstrak. Jangan-jangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri
juga.
“Tapi mengapa harus menjadi batu?”
tanya Jim. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya. “Tak masuk
akal, menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati,” kata Jim.
Beberapa saat ia terdiam.
“Ya, mereka membunuh diri,” simpul
Jim. Cepat-cepat ia mengatakan, “Oh, betapa mengerikan. Aku takut....”
“Jim...!” panggilku. Tak ada
jawaban. “Jim!” ulangku.
“Kau
Tentu saja aku tahu karena akulah
yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru, sekitar 150 km dari sini, lantas
berkenalan dengan Niru. Ya, Niru masih bujang bedengkang waktu itu; tak lama
setelah berkawan akrab dengan Jim, ia yang kawin dengan orang sekampungnya,
tetap memandu Jim di lapangan. Tak mengherankan kalau di antara keduanya
terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas.
Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru,
aku menjadi perantara hubungan mereka berdua. Ketika Jim dikukuhkan sebagai
doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi, Niru dan aku
diundang menghadiri acara tersebut. Sayang, Niru tak mau datang dengan alasan
yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim.
Hasil penelitian Jim di desa Niru
sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku, barangkali disebabkan
perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya
sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. Dalam kerangka yang lebih kecil
dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana
di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi,
tetapi masyarakatnya terbelakang. Suku Montai, begitu orang menamakan asal
Niru, sebenarnya hampir tergolong primitif, tetapi hidup di tengah ladang
minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya. Belum lagi pembangunan perkebunan
besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya. Suku Montai berdampingan
dengan hal-hal yang wah itu, namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti
tak dapat diukur lagi secara metrik, tetapi oleh waktu. Sesuatu yang sebenamya
secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai, tetapi banyak
orang lain lagi termasuk aku. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri
terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun.
“Halo..., Hallo...,” Jim agak
berteriak. “Kau dengar atau tidak?”
“Teruskan, teruskan....”
“Aku takut, sangat takut. Aku
belum pernah setakut ini.”
Aku menarik napas. Tampaknya aku
harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon, ketakutannya
terasa semakin besar. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti
tindakan apa yang diharapkannya dariku, hubungan kami terputus. Cukup
lama aku membiarkan gagang telepon melekap di
telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi, tetapi yang terdengar hanya
tut ... tut ... tut....
***
Dinihari.
Aku membayangkan saat ini Jim
berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer
dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu, menuju rumah
sahabat kami tersebut. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di
tubuhnya, dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak. Sebentar ia tercegat di
pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk, cahaya
pelita sudah menyergap mukanya. Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir
keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. Angin
berkibar, wajahnya pun terlihat berayun. Jim kembali memutarkan badannya, turun
ke tanah. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80
sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. Menengadah.
Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam
tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya, malah ia semakin gelisah.
Jim tak tahu apa yang harus
dilakukannya. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah
Niru. Berat. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut. Kaki
sampai dada lelaki itu sudah membatu, tinggal mukanya yang ranum seperti tidak
mengalami apa-apa, mengajak Jim berbincang. Tak jauh dari Niru, enam anak kecil
juga dalam keadaan demikian, menusuk-nusuk hati Jim. Juga Siah istri Niru yang
tergeletak dekat dapur, membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu
hamparan yang terasa amat asing.
“Aku panggil Tuk Batin ke sini,”
kata Jim.
“Jangan!”
“Bontik?”
“Jangan. Duduk saja di sini,
sebelum fajar menyingsing,” kata Niru.
“Atau Katik, Leman, Raut, dan...
.”
Terdengar Niru ketawa kecil.
Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. Jim mengikuti arah
mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya. Terasa begitu cepat
waktu berlalu, padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih
berbicara perkara biasa-biasa saja. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam
pertemuan dua sahabat lama itu. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya
seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan
angin di luar. Dulu, menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar, ke pinggir
hutan selatan. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik
sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini
meskipun membuat hati mereka sayup, juga mampu menghidangkan suasana lain.
Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun
Jim.
Saat pertarna kali menelepon dini
hari tadi, Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru
dan keluarganya seperti tiba-tiba. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke
luar yang dengan senyum ditolak Niru, lelaki itu akhimya mengeluarkan
kakinya. Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu. Jim terpelanting, tetapi
tak lama kemudian ia cepat menguasai. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan
istrinya, Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini.
Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin
banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu.
“Tapi Niru, anak-anak, dan
istrinya seperti tidak mengalami apa-apa,” kata Jim lewat telepon beberapa jam
lalu. “Sungguh, semula aku tak percaya. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan
ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri
bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. Aku memegang batu
itu, keras sebagaimana layaknya batu. Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim
bertubi-tubi. Cepat pula ia bertanya, “Kau percaya cerita ini?”
“Percaya.”
“Kau percaya?”
“Karena kau tak mungkin
berbohong.”
“Ya, aku tak mungkin berbohong.”
“Dan kau mendengar bagaimana Niru
terus berbicara seperti biasa. Ia akan menceritakan ikan yang menghilang
dari sungai, damar yang sulit dicari, dan....”
“Bagaimana kau tahu?”
Aku berdehem.
“Bagaimana kau tahu?” desak Jim.
“Lantas, apa lagi yang dapat dikatakan
Niru?”
“Dan menjadi batu sebenarnya
bukan pilihan kan? Tetapi mengapa
mereka menjadi batu?”
Aku ingin menjawab pertanyaan
itu, tetapi hujatan Jim _ya, aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja
meluncur dari mulutnya. Aku ingin mengatakan, tapi nantilah .... Ya, nanti
saja. Apalagi waktu itu, tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku
hanya dapat mendengar suara tut ... tut ... tut ....
“Sungguh aku tak dapat mengerti
kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan.”
Apa yang dapat dilakukan dengan
menjadi batu, sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia. Ia
sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. Ia hanya mau mengenang masa-masa
lampau, soal-soal kemesraan, dan bercerita tentang kayangan yang sudah
hilang,” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang
dalam telingaku. “Ini sungguh amat menakutkan aku. Aku takut,” sambung
Jim, terdengar suaranya tersendat-sendat.
***
Sampai menjelang subuh, telepon
masih terlentang. Belum ada lagi panggilan dari Jim, tapi aku yakin bahwa ia
segera menelepon. Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan
terjaga karena suara batuk istriku. Kudengar juga suara anakku mengerang.
Kendaraan mulai lewat di depan rumah. Dari jendela, aku melihat bulan
tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah
jalan. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah
ini. Ia seperti duduk di ruang tengah, membaca majalah berita yang kubeli sore
tadi. Kakinya terkepang, kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa
ia menyenangi bacaan itu.
“Mengapa kau tak pernah bercerita
tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan
hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam, mungkin tujuh tahun
yang lalu. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan
kepadaku. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil
majalah tersebut sambil lewat saja, tak sedikit pun membacanya kecuali memandang
gambar-gambar hamparan batu tersebut. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya
berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa, “Mengapa kau tak pernah cerita ada
hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di
sini?”
Sebagai jawabannya aku memandang
langit-langit, kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama
penulisnya. Tanpa sengaja aku memandang gambar batu-batu yang berbentuk
manusia, tilam, sendok, lesung, bantal, bahkan alat kelamin lelaki maupun
perempuan, yang pernah kusaksikan beberapa kali.
Tak ada tanggapan Jim terhadap
jawabanku itu. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya, malahan masuk ke dalam kamar
yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. Tak lama kemudian ia
sudah keluar lagi dengan amat necis. Bau parfumnya menyengat sampai aku
harus mendengus-denguskan hidung. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat
kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. Menyulut rokok sebatang dan
menghisapnya dalam-dalam, ia kemudian mengatakan ingin keluar. Tak diajaknya
aku, tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena
malam itu aku menunggu tamu, seorang teman lama. Dini hari, ketika mataku
sudah terlayang, baru Jim pulang dengan bau penuh bir.
Keesokannya, pagi-pagi lagi Jim
mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. Aku agak terkejut karena hal ini di
luar programnya semula. Katanya, ia akan berada di sini barang sepekan dalam
urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai, tetapi baru tiga hari ia
sudah merindukan keluarganya. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula
gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya
batal walaupun aku sudah mengingatkannya. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi
ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. Sampailah beberapa hari
lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini.
“Aku ingin reuni di Montai, tentu
terutama dengan Niru dan keluarganya,” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan
bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. Di bandar udara Jim mengoceh banyak
hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas
Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang.
Di desa itu sebagaimana
diungkapkannya lewat telepon, Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu.
Tak ada perubahan. Kalaupun ada perubahan, kelapa sawit di
Di sisi lain untuk menggambarkan
keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya, Jim cukup mengatakan bahwa
rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik. Rumah atau
lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali, sehingga
makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan.
Jim juga mengatakan, tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan
sejumlah orang sebagai tanda mata itu
sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri
berdegam sebuah hotel. “Ketika kutanyakan hal ini, Niru hanya mengatakan:
payah, payah...,” kata Jim.
Waktu itu aku tak sempat
mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu, bahkan
kami di
***
Ternyata penantianku tidak
sia-sia. Persis saat azan subuh mulai berkumandang, telepon berderak. Suara
napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku, sementara benakku
membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru. Dari
desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap, menelan
air liurnya beberapa kali, dan tak henti-hentinya mengusap muka. Ketika
kutanyakan khabarnya, Jim menjawab dengan sedu-sedan.
“Sudahlah Jim, bawa bertenang.”
Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus
memintanya untuk bertenang.
“Bertenang?” tanyanya kemudian.
“Pulanglah dulu ke sini.”
“Bertenang dan pulang?”
Aku mengogam.
“Bagaimana aku dapat bertenang dan
pulang dalam keadaan seperti ini?”
“Ya, memang sulit. Aku akan
menjemputmu.”
“Kemudian membawa aku pulang?”
“Ya.”
“Bagaimana aku dapat melakukan hal
itu, ketika....” Kalimat Jim terputus.
“Ketika kau melihat semua orang di
desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim. Tapi aku menyesal karena
berkata seperti itu. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut, bahkan
menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang
lain menjelang subuh itu.
“Ya. Ketika itu tanpa seizin Niru
aku pergi ke rumah Bontik. Tetapi aku melihat, Bontik dan keluarganya juga sudah
menjadi batu. Aku pergi ke rumah Tuk Batin, ia dan keluarganya juga begitu. Dari
sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu
yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung. Kini
mereka semuanya sudah menjadi batu,” kata Jim.
Bermacam-macam susunan
orang-orang yang sudah menjadi batu itu. Pada beberapa rumah yang penghuninya
tak dikenal Jim, orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam
berbagai pose. Ada yang sedang mencangkung, berdiri bercekak pinggang, dan
entah macam mana lagi. Bontik, kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim,
salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman, sedangkan istri dan tiga
orang anaknya berada di belakang rumah. Tiga anak mereka yang lain berada di
dalam rumah dengan berbagai macam pose. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat
duduk di bendul dengan muka tegang, sedangkan istri dan anak-anaknya
tergelimpang di halaman.
Barangkali dipengaruhi oleh
kedekatan hati, ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu. Lelaki ini
beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. Tetapi Niru setengah duduk:
kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki
kiri; sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. Tangan
kanan menopang kepalanya, sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk
pinggang. Tetapi mata Niru.... Matanya memandang tembus ke langit. Atap rumah
yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke
luar, ternyata bocor. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui
lubang itu tepat menimpa mata Niru, sehingga alat indera tersebut seperti
menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata.
Ia menerangkan tentang bagaimana
ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah. Tidak
sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia
tersungkur ke tanah. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi. Ia
berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka, tetapi semakin besar
harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya, semakin besarlah
kesadarannya tentang kenyataan ini. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia
tergantung dan saling tarik-menarik. Ketika ia sampai pada ujung rentangan
menolak, dengan cepat ia meluncur ke
rentangan menerima kenyataan tersebut. Sebaliknya belum sempat ia menyadari
keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih, ia meluncur pula
ke rentangan yang menolak.
Entah berapa kali Jim bolak-balik
di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah
menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. Seolah-olah
bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya
tangannya hanya ingin berdiam, bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan
ingin ke depan, kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke
samping kiri, sementara otaknya melayang entah ke mana. Walhasil ia harus
mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. Ia merasa amat letih,
tetapi ia tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula
diatasinya. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras.
Ia kemudian terhenyak di anak
tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan. Dengan sedikit sisa
kesadaran sebagai orang waras, selanjutnya ia memekik keras berkali-kali. Entah
apa yang dipekiknya, ia tak tahu. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan
kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku.
“Tapi aku bertambah kecewa,
bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang; seolah-olah tidak ada kejadian
apa-apa di sini. Seharusnya, kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini.
Bukan bermaksud menjemputku pulang. Di mana letak dirimu sebagai manusia?”
Aku diam.
“Kemanusiaanmu sudah tak berguna.
Kau sudah mati. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan,” Jim marah besar.
Suaranya lantang berkumandang, terasa seperti jarum menusuk telingaku.
“Kau bangsat, taik kucing!” Jim
menghempaskan gagang telepon.
Tanpa merasa tersinggung sedikit
pun, aku juga meletakkan gagang telepon. Meraih kursi dan pelan-pelan
meletakkan tongkeng di kursi, kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya
sehingga aku benar-benar rebah. Memandang ke langit-langit, aku berkata pelan,
“Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam, giliranku, keluargaku, dan para
tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga
sebelumnya. Kalau saja Jim tahu, semuanya ini sudah direncanakan secara detil
sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di
desa Niru walaupun ia tidak menelepon.”
Sungguh, hanya dengan menjadi batu
saja kami dapat bertahan.***
(Dimuat dalam Horison, September 1997)
Para Pemburu
Oleh: Agus Noor
Purnama mengapung di telaga,
sesekali meleleh oleh arus gelombang. Kami memandanginya dengan gamang.
Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Seperti juga semua makhluk yang
ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri,
ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami beristirahat di pinggir
telaga itu, hanyut oleh pikiran kami. Meletakkan semua senjata yang selama ini
kami jinjing dan gendong. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau
bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Sebagian lagi menyempatkan
diri membersihkan wajah terlebih dahulu, melulurkan kesejukan pada lengan dan
kaki yang bengkak.
Inilah perjalanan terjauh dan
terlelah kami, sebelum sampai ke telaga ini. Inilah pertama kali kami merasa
begitu lelah, setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu
cepat. Kami seperti mengejar kilat. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami
sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas, tetapi kali ini, buruan
kami tetap saja melenggang bebas. Membuat kami begitu merasa terhina. Seakan
sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup
dan peradaban kami hanya untuk berburu. Kami adalah bangsa pemburu yang besar.
Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu.
Telah kami jelajahi seluruh hutan. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan.
Telah kami sibak semua palung lautan. Nenek moyang kami telah membentuk kami
sebagai pemburu paling ulung.
Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu
perburuan. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Kami tak
pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Tak ada yang lebih terhormat
bagi kami, nenek moyang dan anak cucu kami, selain menjadi seorang pemburu
besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Cerita-cerita
penaklukan, mengantar tidur anak-anak kami. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam
kepala mereka. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Kami sudah tahu
bagaimana menyembelih wildebeest, sejak kami masih dalam kandungan. Kami
mengembara dari satu benua ke benua lainnya, untuk memburu binatang-binatang,
bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup, tetapi lebih untuk kebanggaan
dan kehormatan.
Sampai kemudian kami menyadari,
betapa binatang-binatang di dunia ini perlahan-lahan telah habis kami buru.
Membuat kami cemas, melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Apalah
arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Barangkali, binatang-binatang
itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Maka mereka buru-buru menjauh pergi,
begitu tercium bau kami. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah
habis kami bunuhi. Gajah, badak, macan, rusa, ular, serigala dan segala macamnya.
Sampai kelinci, tupai dan tikus, telah lenyap kami tangkap. Maklumlah, dari tahun
ke tahun, jumlah kami memang makin membesar. Setiap bulan hampir seratus anak
kami lahir, sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Mereka sudah
renta, tapi tak gampang mati. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun,
tetapi masih sanggup berlari mengejar antelope, kemudian menghantam kepala
binatang itu dengan kepalan tangan, hingga pecah berantakan. Dan itulah
kehormatan.
Tapi sudah lama kami kesulitan
menegakkan kehormatan macam itu. Karena, seperti kami katakan tadi, semua binatang
telah habis kami buru, kami bunuh.
“Perburuan tak mungkin berhenti!”
“Kita akan cepat renta bila sehari
tak memburu apa pun!”
“Takdir tak bisa dihentikan.”
“Lantas bagaimana?”
“Apa pun yang terjadi kita mesti
memburu sesuatu!”
“Memburu apa?”
Itu membuat kami terdiam. Sampai
kemudian ide brilian terlontar. Kami akan memburu manusia, untuk menggantikan
binatang yang kini telah musnah. Maka kami pun membeli ratusan budak. Mereka
kami beri kesempatan untuk bebas, dengan cara melarikan diri. Mereka kami
lepas ke tengah hutan, membiarkan mereka lari dan menghilang, baru kemudian
kami memburu mereka. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Bahkan membuat kami
lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Memburu budak-budak itu lebih
mengasyikkan daripada memburu binatang. Mereka lebih menantang untuk kami
taklukkan. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam
itu. Lantas, perlahan-lahan, kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami.
Menjadi tradisi. Kami tak lagi memburu binatang, tapi manusia. Kami membeli
juga para penjahat yang telah divonis mati. Kepada mereka kami tawarkan
kebebasan, “Masuklah dalam hutan, lari. Selamatkan kehidupanmu. Jangan cemas,
meski kami akan memburu kalian, kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang
kehidupan. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Tapi itu lebih baik
bagi kalian, daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Mati
dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Anggap semua ini hanya
permainan. Semoga nasib baik bersama kalian... .”
Dan para pesakitan itu pun kami
lepas dengan upacara kehormatan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan
juga dentuman meriam. Selamat jalan. Inilah hidup yang sesungguhnya, yang
membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Adakah
yang lebih menyenangkan, selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami
beri kehidupan sekaligus batas kematian. Setiap detik adalah pertarungan.
Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Para penjahat itu,
memang makhluk yang tak gampang menyerah. Liat dan sigap. Dan itu, sungguh,
sasaran perburuan yang menggairahkan.
Rupanya, tak hanya kami yang suka
dengan permainan semacam itu. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak
negara, banyak orang di luar suku kami, mendatangi kami, untuk ikut menikmati
perburuan itu. Mula-mula, banyak di antara kami yang menolak, karena hal itu
dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Tetapi kami tak bisa
menolak, ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal,
orang-orang besar di negara mereka, para raja, puluhan kepala negara, para
bangsawan dan pengusaha besar. Para bangsawan, yang memang memiliki kebiasaan
berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas,
mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai
ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Bahkan mereka menjanjikan
kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Para jenderal menyediakan kami
senjata-senjata paling mutakhir. Para pengusaha mensubsidi kami modal
bermilyar-milyar. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk
memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Hingga kami tak lagi kekurangan
buruan. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis
mati, tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru.
Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan
memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai, para
demonstran untuk kami habisi. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka
benci. Ah, begitu melimpah buruan kami.
Kami bangun juga istana-istana,
tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami menjadi kaum pemburu yang
kian kokoh dan terhormat. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di
hutan, dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Kami tak
lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang, tetapi juga denting gelas dalam
kehangatan pesta.
“Ini darah seorang penyair
untukmu, jangan sedih... .” Gelas kami beradu, dan kami tertawa bahagia.
Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair puja-puji bagi
keagungan kami. Hidup pemburu agung!
Kami pun menjadi kelompok pemburu
yang besar, yang melintas bagai badai dan gelombang, menggulung apa pun yang
kami sukai. Di antara kemeriahan pesta, kami terus menuliskan sejarah kami yang
agung. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan, tetapi juga,
terkadang, keisengan. Kami, yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling
kuat, dengan dukungan dana yang melimpah, pasokan senjata yang bagai anggur
mengalir dalam gelas-gelas kami, menjadi tak tertandingi. Kami berdiri di
puncak menara peradaban, sendiri. Itu sering membuat kami terusik sunyi.
Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang
sanggup melawan kami. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi
anak-anak, ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp
konsentrasi, ketika kami menembaki anak-anak Palestina, ketika kami memburu
dan membantai orang-orang muslim di
Bosnia, ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan
apa saja, tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Tak ada lagi yang berani
menggertak kami, sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Kami
terus memburu, kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman,
melintasi gelombang waktu, menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga
menggunung sampai menyentuh awan, tetapi kami selalu dirundung sunyi. Apalah
arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan
dan tantangan, tetapi penaklukan yang membosankan. Karena kami sudah terlalu
kuat, hingga pertarungan menjadi tak sepadan. Kami seperti kehilangan buruan
yang mengasyikkan.
“Kita harus melakukan sesuatu.
Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Jangan biarkan mereka
menjadi lembek karena rasa sunyi ini.”
Lalu seseorang yang paling tua di
antara kami, yang sudah berumur 100 juta tahun lebih, menyarankan kami agar
mengumpulkan para kiai. Suaranya sudah gemetar, seakan maut sudah menyentuh
bibir orang tua itu.
“Untuk apa mengumpulkan para kiai
itu?”
“Aku sudah mencium ajalku. Dan aku
ingin, sebelum maut menjemputku, aku ingin menikmati perburuan yang paling
menggairahkan.”
“Apa hubungannya dengan para kiai
itu?”
“Kumpulkan mereka, dari seluruh
dunia. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!”
Kami terpukau oleh gagasan itu.
Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Gairah menjalar,
membangkitkan imajinasi kami. Ya, malaikat, kenapa kami tak memburu malaikat?
“Jibril! bagaimana kalau kita
minta Jibril!”
“Kami bersorai, anggur segera kami
tuang dalam gelas, bersulang, menyambut hari depan kami yang gilang
gemilang. Panji perburuan berkibar. Kami segera menghimpun topan. Kami segera
mengeluarkan seluruh senjata kami. Dan tentu, kami segera mengumpulkan para
kiai. Mereka kami datangkan dari semua penjuru, kalau perlu dengan paksa dan
kekerasan.
“Kami ingin Jibril,” kata kami
kepada mereka. “Kami tak mau tahu, bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril
bagi kami. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa
dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah
perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Sekarang, katakan kepada kami,
kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?”
Kami tatap wajah para kiai itu,
mencari kepastian dalam mata mereka.
“Baiklah,” tegas kami, “kalian
kami beri waktu satu bulan. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan
Jibril bagi kami, kami akan membikin perhitungan sendiri... .”
Mereka, para kiai itu, kami giring
ke sebuah istana kami yang paling megah. Tetapi mereka menolak, dan meminta
kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil
di pinggir hutan. Kami turut kemauan mereka, meski sesungguhnya heran.
Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Benar-benar masjid kecil yang
tak terawat. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu, telah lapuk.
Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Bagaimana tempat sekecil itu menampung
jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini.
“Kalian jangan bercanda!” teriak
kami.
“Kalianlah yang bercanda, dengan
meminta kami mendatangkan Jibril.”
“Baiklah... .”
Lantas kami membiarkan satu
persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu, membuat kami begitu ternganga,
ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid, tetapi
masjid itu tak juga penuh. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke
dalamnya. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu, berkelok-kelok
mengikuti gigir bukit, seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang
sarang mereka. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup
untuk tidur dua puluh orang, itu pun pasti sudah berhimpitan, bagaimana mungkin?
Tapi, itulah yang kami saksikan. Sampai kemudian semua kiai telah masuk
dalam masjid itu. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana, mengalun
menidurkan rerumputan, sepanjang hari sepanjang malam. Gema itu melambung,
menyentuh langit. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami
karena gema itu. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu, seperti daun
yang melayang-layang itu, yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Kami memagarbetis
masjid itu, tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami tak mau
kecolongan. Kami tak mau ditipu para kiai itu, jangan-jangan semua itu sihir belaka.
Kami terus berjaga, takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami
tertidur.
Satu bulan lewat, menguap begitu
cepat, bersama angin dan embun. Membuat kami cemas, sekaligus marah, ketika
para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Segera kami kirim seseorang
untuk menemui mereka. Namun orang itu tak kembali. Membuat kami tambah cemas
menunggu, kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam
masjid itu. Tetapi seperti yang pertama, orang kedua kami pun tak kembali.
Kami panggil namanya, tetapi tak kunjung keluar jua. Kami kirim utusan kembali,
memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Tapi seperti
yang pertama dan kedua, utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah
menanti lebih lima hari. Begitulah berkali-kali, setiap orang yang kami kirim
untuk menjumpai para kiai, tak pernah muncul kembali. Sementara suara dzikir
itu terus saja bergema, membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar.
Lantas kami tak bisa lagi sabar. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar,
tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Kami sudah cukup punya
pengertian, bukan?
Jangan salahkan kami. Dan kami
segera menyerbu, masuk dalam masjid itu, tetapi, luar biasa, semua dari kami
yang masuk ke dalam masjid itu, lenyap seketika, raib begitu saja. Tiba-tiba
tubuh mereka hilang tak berbekas, bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada
dimensi lain, tertelan dan lenyap. Kami panik. Kemarahan kami menyalakan api
di tangan, berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Kami bakar masjid
itu, hingga kayu-kayu bergemeretakan, dan api melahap cepat, membumbung.
Namun dzikir itu masih kami
dengar, di pucuk api berkobar.
Pada saat itulah, seseorang di
antara kami berteriak, membuat kami tengadah ke puncak api. Dan, ya Allah,
di sana, di puncak kobaran api, kami melihat selesat biru cahaya menatap kami,
dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta.
“Jibril!!”
“Jibril!!”
Seketika kami berteriak, antara
takjub dan panik, gembira dan tak percaya, melihat impian kami sudah di depan
mata. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami?
“Buru!”
Teriakan itu, mendadak menyadarkan
kami, betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Jibril, kini
telah muncul di hadapan kami, kenapa kami malah bengong begitu? Maka, dengan
sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Tombak, anak panah, desing
senapan mesin, roket dan basoka, dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya
biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak.
“Kejar!”
Kami pun melesat, mengejar Jibril.
Bertahun-tahun kami memburu. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri, membiarkan
rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Kami tak punya waktu untuk
memikirkan itu semua. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali
ini. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Setelah berabad-abad kami
hidup sebagai pemburu, setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami
jadi pemburu sejati, inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati.
Tombak terus beterbangan, roket terus berlesatan, jaring-jaring baja telah
kami rentangkan, ranjau-ranjau telah kami tanam, perangkap telah kami pasang,
agar kami mampu meringkus Jibril. Inilah buruan kami yang abadi. Ke mana pun
Jibril melesat, kami memburunya.
Sampai kami tiba di pinggir
telaga ini, yang menyimpan bayangan bulan. Sebagian besar dari kami kini
benar-benar renta. Kami tak sempat istirahat. Kami tak pernah tidur di satu
tempat, hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami begitu sibuk memburu
Jibril. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini, dan kami pun tak sempat
menguburkannya. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Kami tak mau
kehilangan jejak. Dan memang, kami benar-benar tak pernah punya waktu
istirahat. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga
itu pun, mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda, kami sudah
harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan, kami lihat jejak cahaya.
“Ke sana!” seseorang dari kami
berteriak, dan langsung melesat. Di seberang telaga sana, kami melihat buruan
abadi kami, mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya.
Maka kami pun kembali bangkit,
meraih peralatan berburu kami. Segera menghambur, melanjutkan pemburuan abadi
kami.***
Yogyakarta, 1995-1998
(Dongeng Buat Mas Danarto)
(Dimuat dalam Horison, Januari 2000)
Gank
Oleh: Syahril Latif
1
Gang Haji Abdul Jalil adalah
sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal
itu. Sebuah gang sempit yang tak berarti, sehingga kau tidak akan menjumpai
dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata, seperti Taman Mini, Monas,
Dunia Fantasi Ancol, Hotel Indonesia, dan lain sebagainya. Tapi inilah gambaran
kota yang sebenarnya, di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan.
Anak-anak remaja mengganti huruf
pada Gang itu dengan k, sehingga menjadi Gank. Tak tahu siapa yang mengubahnya.
Tapi semua orang seperti sudah maklum, dapat menduganya, siapa lagi kalau bukan
salah seorang di antara kami.
Belakangan, ada yang mengubahnya:
Gank Haji Abdul Jackal. Namun, apa pun namanya, semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul
Jalil. Kadang-kadang, untuk cepat dan mudahnya, oleh tukang, beca terutama,
disingkat saja menjadi Gang Jalil.
Apalah arti sebuah nama.
2
Di gang itulah aku dan teman-teman
tumbuh dan dibesarkan. Di sana, di jalanan yang sempit itu, anak-anak bermain
gundu, main bola kaki, berkejaran, main layangan, main petak-umpet, main
galasin. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masak-masakan, main
congklak, atau melompat-lompat main engklek. Dan apabila ada mobil lewat, yang
terpaksa merayap pelan bagai keong, anak-anak menyibak ke tepi. Kemudian
mengumpul kembali memenuhi jalanan, setelah mobil berlalu. Seakan, seperti
setelah biduk lalu kiambang bertaut.
3
Penghuni gang itu terdiri dari
berbagai suku, yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi,
sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. Kami telah lebur jadi satu:
penghuni Gang Haji Abdul Jalil.
4
Rata-rata, semua kami miskin dan
karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain.
5
Sebagai gambaran kemiskinan,
rumah-rumah, kami pun sederhana, berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan
susunannya.
Ada juga satu dua rumah gedung
yang berpekarangan luas dan bertaman,
membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel,
yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung, bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?”
“Itu rumah pegawai pajak,” begitu
kami selalu menjelaskan.
“Pantas!” jawab mereka. Dan tanya
lagi, “Yang di sebelahnya?”
“Rumah pegawai Bea Cukai.”
“Lebih pantas lagi,” kata mereka,
dan tanya lagi, “Yang di seberangnya?”
“Itu mah, pegawai negeri biasa
saja.”
“Kok sama hebatnya?”
“Maklum, menjabat bagian basah.”
“Bagian apa?”
“Tau, dengar-dengar bagian
pembelian atau perizinan. Tak tahulah. Kok, ngurus hal orang lain, sih?
6
Di sini dapat kau jumpai segala
macam orang: tukang sol sepatu, tukang kayu, montir, kenek, pedagang kaki lima,
penjual nasi Padang dan Tegal, tukang cukur, guru sekolah, dosen, pelayan toko,
sopir, makelar, satpam, tukang listrik, pegawai negeri dan swasta, bidan,
perawat dan lain sebagainya.
7
Jika lagi kehabisan, ibu-ibu kami
saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga.
Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. Kadang
menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya mesin jahit. Dan
andaikata ada pompa air yang rusak, atau listrik yang korsleting, tetangga lain
akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan.
8
Sesekali, ibu-ibu kami terlibat
juga dalam pertengkaran kecil. Biasanya, soal anak-anak, yang berantem.
Anehnya, sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut, anak-anak mereka sudah
berbaikan kembali.
9
Kurasa gang kami tak pernah sepi.
Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak
henti-hentinya distel, teriakan anak-anak bermain, teriakan penjaja sayuran dan
makanan. Dan lepas tengah hari, di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat
panas Jakarta, terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari
madrasah:
“Aanakum, Ainakum, Iinakum,
Aunakum, Uunakum, Baanakum, Bainakum, Biinakum, Baunakum, Buunakum,
Taanakum, Tainakum, Tiinakum, Taunakum, Tuunakum, Tsaanakum, Tsainakum,
Tsiinakum, Tsaunakum, Tsuunakum ....”
Ejaan itu mengalun dalam irama
yang khas, mengasyikkan, mengantar kantuk, melayang jauh dihantar angin
siang.
10
Apa saja yang dimasak tetangga,
tak bisa dirahasiakan. Aromanya akan mengambang ke mana-mana, ke sepanjang
gang. Yang paling cepat ketahuan, kalau ibumu menggoreng ikan asin. Yang ini,
sungguh menitikkan air liur.
11
Lepas Isya dan makan malam, boleh
dikata selalu ada permainan domino, lebih terkenal: gaple, di luar pekarangan
rumah. Pada malam minggu, bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. Begitulah
cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah
membanting tulang. Atau juga, begitulah cara mereka membanting kesal ke atas
meja gaple. Tak tahulah.
12
Berbeda sedikit dengan hari-hari
biasa, sekali sebulan pada petang Jumat, orang tua-tua kami mengadakan
pengajian di mesjid. Kami yang muda-muda, sebagai basa-basi, ikut hadir.
Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka.
Di tengah pengajian sedang
berlangsung, ayah-ayah kami pada mengantuk. Heran, kalau main gaple semalam
suntuk, mata itu bisa melotot terus sampai pagi, ditingkah senda gurau dan
gelak tawa tak berkeputusan. Menurut Ustadz Malik, setengah melucu,
setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian, tanda
setan sedang mengencinginya!”
Tiba-tiba, semua membuka matanya
lebar-lebar, sedikit kaget dan lantas tertawa. Menertawakan siapa?
13
Jika yang tua-tua senang gaple,
kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol
ngalor-ngidul, menyanyi dan main gitar, persis pengamen jalanan. Tempatnya:
gardu jaga siskamling. Kami menyebutnya ‘markas’.
Semua jenis lagu kami senang,
mulai dari dangdut, pop sampai keroncong. Tapi yang mendapat tempat di hati
kami, agaknya dangdut dan pop itulah. Sekali-sekali ada juga yang mencoba
seriosa, atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya, tapi tak kena:
sumbang, dan yang lain segera menyorakinya. Sesekali kami larut juga dalam
irama gambus.
14
Sekali-sekali, anak-anak cewek
ikut nimbrung bersama kami, tak sampai larut. Sebentar mereka sudah dipanggil
ibu mereka. Atau disusul adiknya disuruh pulang.
15
Bagiku, semua anak-anak Gang Haji
Abdul Jalil adalah teman. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah, Martin,
Najib, Tony Handoko dan beberapa anak tertentu.
Usia kami tak jauh beda, hampir
sebaya. Dulu ketika masih kecil, kami sering berantem. Sekarang tidak, kami
saling menjaga, saling menenggang. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik
kepada yang lain.
16
Hamzah gitaris andalan kami, sejak
jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. Agaknya dangdut
seperti sudah dilupakannya. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu.
“Inggris, ni yee?!” ejek anak-anak.
“Maklum, deh,” tambah yang lain.
Tapi Hamzah tidak marah. Tak acuh.
Dan sekarang, bacaannya bukan
komik lagi, bukan cerita silat lagi. Pokoknya, berat, deh! Bayangin, kalau dia
lagi sendirian di teras rumahnya, kalian tahu, dia sedang baca apa?
George Bernard Shaw atau Hemingway
atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau
Thomas Elliot!
Pokoknya: berat!
17
Kalau si Martin lain lagi. Sejak
jadi pemain teater, gayanya overacting. Selangit. Ia ikut salah satu kelompok
teater yang sering mentas di TIM. Di situlah ia bercokol.
Gaya bicaranya, gerak tangan,
jalannya, cara tersenyum, ekspresi wajah dan lain sebagainya, kayaknya bukan
lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu.
Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. Merasa
lebih penting dan menonjol dari yang lain. Gayanya mirip-mirip Rendra, maunya.
Kalau ia bicara, seakan ia jauh
dari kita, nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas
panggung. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. Kami tak tahu
pasti, apakah dia masih bisa berbisik.
Anak-anak hampir tak dapat menahan
ketawa.
Akhir-akhir ini ia agak jarang
nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM, disibukkan oleh
latihan-latihan teaternya. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain!
18
Kukira, si Najiblah yang membuat
kami semua merasa heran. Itu, Najib anak Ustadz Malik, guru ngaji di gang kami.
Soalnya setelah gagal sipenmaru, benar-benar ia putus sekolah. Mau melanjutkan
ke Perguruan Tinggi Swasta, ia tahu diri, tak mungkin, biaya kuliah terlalu
tinggi, di luar jangkauan.
Apalah yang dapat diharapkan dari
pencarian ayahnya yang ustadz. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya
rimba perkantoran kota Jakarta. Masuk kantor keluar kantor. Akan hasil
perburuannya itu, bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah tahu jalan
ceritanya, tentu kau sudah dapat menebak. Tapi Allah memang Maha Pemurah,
Pengasih dan Penyayang, akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya, kalau
itu diartikan secara harfiah: kerja. Pokoknya, kerja. Apakah ia suka atau
tidak.
Nah, bersamaan dengan itu Allah
ingin menguji Najib, menguji keimanannya.
Agaknya ia kalah. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah
Pub, rumah minum. Artinya, setelah Najib ditest, kemudian ikut training untuk
jadi Bartender, Najib mulai bekerja di sana.
Sejak itu kami kehilangan seorang
teman kongkow. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. Siang hari ia
tidur, seperti musang.
Ayahnya Ustadz Malik tak tahu
putranya bekerja di tempat haram itu. Yang ia tahu, sesuai menurut apa yang
dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya, Najib bekerja sebagai
Satpam di sebuah perusahaan. “Jangan lupa shalat,” pesan ayahnya.
Jelas Najib berbohong. Dan ia tahu
betul berbohong itu dosa. Bekerja di bar itu dosa. Dan bahkan kini ia sudah
tak shalat lagi. Lingkungannya tak memungkinkan, dan di mana mau shalat, dan
tak ada tempo, dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya.
Sebenarnya, Najib merasa sangat
terhimpit, tapi dilakoninya terus. Sampai kapan?
Dan kami, dan semua orang di gang,
merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. Orang tak
ingin menghancurkan perasaannya.
19
Sebaliknya, siapa sangka, jika
Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya, Tony Handoko yang
agak ugal-ugalan itu, anak pegawai pajak yang gedongan itu, bersikeras
pada papanya mau masuk pesantren. Ketika hal itu disampaikan, bukan
main kagetnya sang papa, bagaikan disambar petir di siang bolong. Kaget, heran,
berang, bingung, tak alang kepalang.
Teriak papanya: “Mau jadi apa
kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang.
Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan, bagaikan
rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo,
atau kayak petasan gantung waktu sunatan. Papanya menyesalkan sangat keinginan
Tony itu. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan
mengirimnya ke Amerika. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar
gila.
Setelah pernyataan pemberitahuan
itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan, Tony bungkem, merunduk
terus, tak membantah sepatah pun, sampai papanya reda dan terhenyak di kursi.
Beberapa hari kemudian, kami, Tony
dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur, ke Pesantren Bangil. Tony
memintaku. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. Bahkan ia minta aku menemaninya
selama seminggu di pesantren. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai, pimpinan
pesantren itu.
20
Sehari setelah keberangkatan Tony,
papanya jatuh sakit. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima, pada hari
ketiga, dari ibu Tony. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk
papanya. Tapi Tony tak mau. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada
ibunya, kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. Papa memang
selalu begitu. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut.”
Aku mencoba melunakkan hatinya,
“Toh tidak apa pulang buat sebentar, bukan?”
“Tidak sekarang,” jawabnya pasti.
“Sekarang saya lagi kesal sama papa. Coba, Ma,
saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? ....
Dalam batin, saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa
fikirkan hanya duit melulu ... seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi,
martabat, kesenangan ... tapi miskin rohani. Dunia, dunia dan kesenangan
melulu.… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah
dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu, hanya mencari kesenangan dunia….
Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!”
Tony menarik nafas panjang, nampak
kesal. Dan katanya: “Coba fikir, masak papa tega menuduh saya subversif. Ikut
pengajian gelap, pengajian subversif, pengajian yang disusupi faham komunis.
Jelas ini fitnah! .... Ya, Allah. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai
hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib, agar semua
kami ditangkap, guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi
'l-Lah.
Kini, kulihat air matanya menggenang,
hampir menangis.
Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena
takut dosa, menjadi anak durhaka, hampir saya tidak bisa memaafkan papa.
Saya hanya bisa berdoa, semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah. Saya
percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. Sekarang sedang
tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia
21
Sebenarnya, yang suka “ekstrim”
bukan Tony Handoko seorang. Ada lagi. Kau lihatlah si Aisah, teman Maryam
(nanti kalau ada tempo aku cerita padamu), teman kami juga. Nah, Aisah yang
satu ini, sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang, tak lain tak
bukan, itu kata lain dari pada kerudung). Dan kesan pertama kita melihatnya,
persis seperti kaum wanita pasidaran Iran, anak buah fanatik pengikut Imam
Khomeini, sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. Belakangan
ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir, pimpinan Imam
Hassan Al-Banna. Tapi, apa pun namanya, menurut Ustadz Malik, “Itulah pakaian
Muslimah yang sebenarnya.”
Pakaian yang menutup aurat. Sesuai
dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran, surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai, Nabi!
Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, istri-istri orang
mu'min. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke seluruh
tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, agar mereka
tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang.” Dan dari Hadis Rasulullah
Saw. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari
Aisyah r.a.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah
sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya), maka Rasulullah
melengah seraya berkata: “Hai Asma, wanita yang telah sampai masa haid tidak
boleh terlihat kecuali ini dan ini,” dan beliau menunjuk kepada muka dan
kedua telapak tangannya.
Sebenarnya, masih ada beberapa
ayat dan hadis, tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran,
misalnya pada An Nur ayat 31, Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan
oleh Muslim dan Ahmad!
Pokoknya, sejak Aisah menjadi
eskrim, maaf, ekstrim itu, di mana saja, kapan saja, ia selalu berjilbab!
Anak-anak yang iseng, menjulukinya dengan
“pakaian ninja”. Tapi Aisah tak
acuh saja.
Dan sejak itu, kayaknya Aisah tak
punya lagi barang sepotong pun baju model lain. Kayaknya semua pakaian rok,
blus yang dulu, baik yang maxi, midi, apalagi mini, sudah dibakar ludes! Atau
dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami).
“Apa pakaian-pakaian yang dulu itu
sudah kau sedekahkan, barangkali, Aisah?” Suatu kali aku coba menduga
kepadanya.
“Itu namanya, sama saja kita
membagi dosa kepada yang lain,” jawabnya. “Menyuruh orang membuka aurat, ia
berdosa dan aku pun berdosa. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah
memberi yang salah, dan dosa yang dilakukan orang itu.”
“Kau ini aneh, Aisah,” kataku
pula. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis, perancang busana....
Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab
melulu?”
“Lupakanlah itu,” katanya. “Itu
waktu saya masih jahiliyah. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. Dan
siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah, siapa yang mau saja.
Rezeki di tangan Allah.”
Mantap sekali ia, fikirku.
Aisah boleh bermantap-mantap. Tapi
lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya. Gara-gara pakaian jilbab itulah,
Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya
(sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). Oleh kepala sekolah, ia
dianggap melanggar peraturan seragam sekolah, walau warnanya sudah putih di
atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). Namun ia tetap dianggap
melanggar. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu, baju lengan panjang dan
rok yang komprang kedodoran itu!
Kepala Sekolah sudah memberi peringatan
beberapa kali, lisan dan tulisan, dengan ancaman sewaktu-waktu bisa
dikeluarkan dari sekolah. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. Yang kutahu
Aisah tetap tegar. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang.
“Salah apa saya jika saya mengamalkan
ajaran agama saya?! Toh, hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima
kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2, bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan
setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau kepercayaan dan untuk
beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah,
mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!”
“Jelas UUD 45, dong,” jawab kami
spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah. Dan bertepuk tangan serempak.
Aisah melanjutkan: “Itu tuh, kalau
mau ditertibkan juga, tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu, yang
terlibat narkotik itu, yang mabuk-mabukan itu, yang merokok itu, yang suka
keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat
penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita
ini lagi, ini enggak ge-er, ya (senyum, aduh manisnya)....”
Lagi-lagi kami keplok, senang
sekali. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok
plok... plok plok plok... plok plok plok plok plok plok plok. Semua bertepuk
kegirangan bagaikan anak-anak pramuka.
Rupanya Aisah belum selesai, belum
merasa puas, katanya sambil setengah
berbisik, mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI,
‘kali. Kan hanya orang-orang PKI yang
sangat anti agama?”
“Ya, ‘kali,” celetuk kami,
membenarkan.
Mengembangkan kedua tangannya,
mengangkat bahu, Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang
munafik terhadap agama yang kita anut. Tilawatul Quran kita rayakan secara
besar-besaran dengan biaya jutaan, tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya,
pengamalannya kita jegal. Kita curiga dengan berbagai prasangka. Apakah ini
tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?”
“Munafiiiik...!” teriak anak-anak
serempak.
“PKIiiiiiiii...!” tambah kami
lagi.
22
Di mana pun, dasar anak-anak, suka
becanda, suka menggoda. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’, tak pernah
luput ia jadi godaan. Begitu ia lewat, anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya
menyanyi dangdut atau pop, segera mengalihkan iramanya ke kasidahan:
“Indung-indung kepala lindung
Hujan di udik di sini mendung
Anak siapa pakai kerudung
Mata melirik kaki kesandung...”
Aisah terus berlalu dengan
senyum-senyum dikulum. Mungkin, dalam hati masing-masing kami, berkata:
“Alangkah manisnya anak ini...?”
23
Suatu kali sedang aku asyik mentes
kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil, kulihat Aisah berjalan
seorang diri pulang sekolah. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya
menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan, mengitarinya seakan hendak
memangsa, persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang.
“Waduh, alimnya.”
“Sorangan wae?”
“Mari, gue anterin, yuk?”
“Ntar lu digampar bokapnya!”
“Enggak apa asal gue dapat anaknya
yang ca'em.”
Dan macam-macam lagi.
Namun Aisah diam
saja. Jalan terus.
“Wah, kalian ini tak tahu aturan!”
ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. “Ucapin salam dulu, dong.”
“O ya lupa, assalamu'alaikum,
Neng?”
Dengan lembut Aisah menjawab,
“Wa'alaikum salam.”
Anak-anak pada sorak kegirangan.
Kuatir mereka menggoda lebih jauh
lagi, buru-buru aku keluar, kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk
mengagetkan anak-anak itu. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Aku
berhasil. Mereka menyingkir secara teratur. Sekilas kudengar.
“Ada cowoknya, Mek!”
Lalu kutarik Aisah ke toko kaset.
“Kau tidak diapa-apakan mereka?”
tanyaku.
“Tidak.”
“Anak-anak berengsek!”
“Mereka cuma iseng.”
“Kurang ajar,” kataku, geram.
“Tapi, ya ampun, kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?”
“Kasih hati bagaimana?”
“Salam mereka kau jawab. Cuekin aja!”
“Dosa lho, salam tak dijawab.
Bukankah salam itu doa, yang artinya selamat dan sejahteralah anda. Sepantasnya
kita mendoakan mereka pula.”
“Ya, ampun...,” kataku tak habis
fikir pada Aisah yang satu ini.
24
Lain Aisah, lain pula Maryam.
Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan, masih suka main congklak
dengan teman-teman sebayanya, main engklek, main loncat karet, tiba-tiba
seperti disunglap, dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. Gadis kecil
itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. Dan Maryam sadar akan
perubahan dirinya.
Penampilan yang pertama
mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan
penyanyi remaja di TV. Sejak itu ia dikenal secara luas. Semua orang kagum
padanya. Bukan pada nyanyian, melainkan kecantikannya yang membius itu.
Maka sejak itu, kami tak merasa
heran, kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke
rumahnya. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan
menyanyi. Di lain waktu, ada lagi yang mengajaknya pergi menonton, ke
restoran, dan macam-macam acara lain. Dan, selalu dengan muka baru: penyanyi
tenar ibukota, pemain film yang sedang in, anak teater yang lagi ngepop,
pemain tenis yang lagi ngetop.... Dan yang paling akhir anak orang kaya
bermobil Baby Benz. Pokoknya selalu dengan cowok baru!
Dan setiap kali Maryam dan
padangannya lewat di depan ‘markas’, maka terdengar bisik-bisik yang
dikeraskan:
“Baru lagi, ni yee?!”
25
Maryam memang cantik. Yang
tercantik di gang kami. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini, demikian
menurut Hamzah.
Kukira, Hamzah menaruh hati pada
Maryam. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang.
“Tapi apalah arti kecantikan jika
tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’,” kata Hamzah pula,
berfilsafat. Kali ini tampak serius dengan muka murung.
Dari bacaan berat mana pula Hamzah
memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu, aku tak tahu.
26
Suatu hari, berani-berani takut,
kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam.
“Tidak!” jawabnya tegas.
Aku terperangah.
27
Tapi akhimya aku tahu juga,
mungkin anak-anak lain tidak, ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya
dengan anak penguasa Real Estate, yang ber-Baby Benz itu, Hamzah mendadak
pindah ke Rawamangun. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Memutuskan
hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. Sekarang ia bekerja di sebuah
majalah.
Dalam puisi-puisi dan
cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia
pergi, seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang, yang tak mungkin dapat
diraih kembali.
28
Dari bisik-bisik anak-anak cewek
dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. Namun perasaan
ini disimpannya sendiri. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah
ibunya. Maryam seorang anak yang baik, seorang anak yang patuh. Dan terlebih
dari semua itu, ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Untuk itu ia siap
berkorban. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah
bersusah payah, membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan.
29
Akhir-akhir ini, aku tak merasa
betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. Dalam senda gurau dan nyanyian
diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. Di antara kawan tak kulihat lagi
Hamzah, yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh
di Rawamangun sana. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik
puisi-puisi atau cerpen-cerpen, tempat di mana ia melarikan kepedihannya.
Tony Handoko mungkin sedang
terbenam dalam kitab kuning bertuliskan
Arab gundul. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. Nun jauh di
desa Bangil, terpencil, jauh dari keramaian kota.
Najib mungkin sedang mencampur
minuman haram satu dengan yang lainnya, sambil mengenang ayahnya sedang
mengaji di rumah. Batinnya tertekan. Namun ia tak bisa berbuat lain.
Sedang mengapakah Martin
sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang
selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. Aku tak tahu sedang mentas di kota
mana ia sekarang.
Masing-masing teman pergi membawa
nasibnya sendiri-sendiri.
30
Suatu hari ayahku berkata dengan
sedikit keras kepadaku: “Syamsu, apakah kau tak merasa malu, nongkrong terus
dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah
mereka itu! Lagi pula, ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu.
Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan.”
31
Malam hari ketika aku pulang dari
mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan, aku selalu lewat di depan
‘markas’. Ramainya masih seperti biasa. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di
sana Najib, Tony Handoko, Martin dan Hamzah. Tiba-tiba aku merasa teramat
sepi, tertekan sedikit oleh perasaan rindu.***
(Dimuat dalam Horison, Agustus 1990)
Lonceng
Oleh: Motinggo Busye
Jam dengan merk Junghun itu
belakangan ini menyengsarakanku. Istriku menjadi perempuan yang bawel.
Ini karena ulah jam itu. Padahal barang itu kami beli untuk menambah
kebahagiaan istriku dan aku. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. Bila loncengnya
berbunyi, maka terdengarlah sebuah nyanyi. Nyanyian ini mengisi
kalbu istriku dan kalbuku sendiri.
Walaupun akhirnya mengesalkan,
tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah
jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. Kami dulu mempertimbangkannya
cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar
itu. Jika ditaruh di ruang tamu, kelak tamuku akan cepat pulang, sebab
kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. Sedangkan kami berdua
membutuhkan tamu.
“Sebentar lagi kita akan merayakan
ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima, ya Sam?” ujar istriku suatu
sore. Sore itu, aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan
makan jeruk. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita.”
“Kamu tentu ingat tanggalnya,
Ina,” kataku.
“Betul, Sam. Kita menikah pada 10
November dua puluh lima tahun yang lalu.”
“Kalau begitu tinggal 4 hari
lagi.”
“Ingat enggak, siapa yang datang
pada pesta kita itu?”
“Mantan pacarmu,” kataku.
“Juga mantan pacarmu,” katanya.
Kami ketawa bersama. Kami suka
mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir.
Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. Orang yang kurang rasa
humor mungkin heran. Mereka harus diberitahu, bahwa mantan pacar istriku
adalah aku, dan mantan pacarku adalah istriku Ina.
Kuingat sekali, hanya untuk perkawinan
perak itu saja kami berdua sangat sibuk.
Kami telah pergi ke Pasar Glodok
untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi.
Setelah dua tiga toko kami masuki, tak ada satu pun benda yang berkenan di
hati kami berdua. Ketika kami lewati beberapa toko, secara mendadak dan serentak
langkah kami berhenti. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh
perasaan kami. Aku dan istriku saling menatap.
“Kita menemukan pilihan jam antik,”
ujar istriku.
“Ini benar-benar abadi,” kataku.
“Tanyakan harganya, Sam,” kata
istriku. Makin larut perkawinan kami, makin sering aku disuruh istriku dengan
nada setengah memerintah. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga
seperti itu, aku tak tahu dan tak perlu tahu.
Istriku melotot setelah aku sebutkan
harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu.
“Merknya Junghun,” ujar sang
pemilik toko. "Merk ini nomor satu. Di toko saya cuma tinggal satu ini.”
“Ya kurangilah separohnya,” ujar
istriku.
Kebiasaan istriku adalah sama dengan
kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan
berlama-lama untuk jenis satu barang. Kadang sudah pergi kembali lagi ke
toko sebagaimana terjadi pada hari itu.
“Coba Nyonya cari di seluruh
Glodok ini. Cuma saya yang jual merk Junghun ini, dan ini juga satu-satunya.”
Istriku telah dikunci tanpa alternatif.
Lalu, ketika uang dihitung, kurang sedikit. Sebagaimana biasa, aku
menggenapi kekurangan itu. Ketika setiba di rumah, istriku bilang,
“Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. Maka kutinggalkan beberapa
lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga, Sam.”
Memang begitu. Dari masa berpacaran
dulu, kami menganut aliran navy-navy. Kami meniru para pelaut yang suka bayar
masing-masing bila makan di restoran. Kebiasaan ini bukan selalu buruk.
Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy.
Jam Junghun telah kami taruh di
ruang tengah. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. Saat itu
adalah pukul 00.00 pada hari 10 November.
Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan
irama indah itu, aku meremas jari tangan istriku. Ketika loncengnya
berbunyi 1 kali, remasanku lebih kuat lagi. Dan ketika gema 12
kali masih mendengung, aku dan istriku berpelukan.
Lonceng jam itu memberikan zat
rohaniah pada diri kami. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. Tapi
irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami.
Bertahun-tahun kami menikmati
duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam.
Ketika pada seperempat jam, dia menyanyikan satu bait saja. Ketika
setengah jam, dia menyanyikan dua bait. Ketika tiba tiga perempat jam,
tiga bait, dan pada waktu satu jam, empat bait komplit.
“Kita tak pernah merasa tua oleh
lonceng jam ini ya, Sam?” kata istriku.
“Ya. Padahal jam ini sudah 15 tahun
di rumah kita,” kataku.
“Mungkin kamu betah di rumah
karena lonceng ini,” kata istriku lagi.
“Tapi aku betah di rumah bukan
karena lonceng jam ini. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun,
dan terutama karena adanya kamu.”
“Sudah gaek masih gombal,” kata
istriku.
Pernah juga istriku bertanya,
“Kenapa kamu tidak kawin lagi saja, Sam?”
Makin tua dia masih pencemburu
seperti dulu. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku.
“Aku tahu, ketika aku harus berhenti
sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang,” katanya.
”Si Aimah,“ sambungnya.
Peraturan kantor memang, jika ada
dua orang menikah di satu ruang kerja, yang perempuan harus diberhentikan
dengan hormat. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja.
Orang yang sama sekelas di SMA,
sama pula di perguruan tinggi, dan sama pula selesainya, akan sama
nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika
menikah, yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah.
“Kalau aku bicara soal si Aimah,
kamu suka membisu. Padahal dia amat mencintaimu, Sam.”
Aku memilih diam. Akhirnya aku
bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah.
“Kalau kamu kawin sama Aimah,
mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak
dan cucu,” ucapnya. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar.
Ketika pertengkaran itu terjadi,
lonceng jam menyanyikan lagu itu. Sebelum empat bait lagu itu bergetar,
aku dan Ina sudah berpelukan.
“Kita tak perlu bertengkar lagi.
Yang ada di sini adalah aku, kamu dan jam dengan loncengnya itu.”
Tetapi, ajaib sekali. Biasanya
kalau jam itu mati, aku bisa memperbaikinya. Yaitu menaikkan kerekan
rantai tiga bandulan itu, lalu menyetel jarum panjang dan jarum pendeknya untuk
menyesuaikan waktu. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu.
Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12.
“Kau bilang dulu kamu menguasai
ilmu listrik. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Bahkan ngawur. Pukul
12 bunyinya 6 kali.”
“Sudahlah. Jangan jadi nenek sihir
lagi, Ina,” kataku.
“Itu logis saja, Sam. Aku kan tidak
bilang kamu tolol.”
“Sudah, diam kamu. Kamu makin tua
makin cerewet.”
“Kamu makin tua makin tolol.”
“Aku mau keluar.”
“Mau cari Aimah?”
“Bawel kamu.”
Aku mencari ahli jam. Menurut
pemilik toko di Glodok itu, ada orang Arab di Tanah Abang, namanya Mahboub
Assegaf, ahli pembetulan jam dan piano. Ketika aku tiba di rumah Arab itu,
orang di rumah itu mengatakan, bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Kalau mau
beli buah kurma dan kismis, ada dijual di sini.
“Aku tak bertemu dengan orang
Arab itu,” kataku pada Ina.
“Oh si Aimah itu turunan Arab ya?”
“Coba tenang, Ina. Kita jual saja
jam Junghun ini. Kita beli yang baru,” kataku.
Dia marah. Bahkan mencak-mencak.
Dia katakan, "Jam ini penuh kenangan. Bertahun-tahun dia membuat
kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu.
Jangan, Sam, kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya.”
Aku mengalah. Tapi itu tidak berarti
aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. Dan aku gigih terus memperbaikinya.
Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”.
Dua tahun menjelang ulang tahun
perkawinan emas kami, aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi
lagi, dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00.00 tengah malam 10
November. Dimulai dengan cekcok mulut lagi, aku pergi ke Jatinegara. Seorang
tukang arloji kubawa ke rumahku. Istriku senyum mencemoohinya.
“Tenang dulu, Ina. Dia ini ahli
jam generasi penerus ayahnya. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf,”
kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina.
Istriku mendehem. Anak muda itu
bekerja keras. Keringat membasahi bajunya, sekaligus menyebarkan bau
ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman. Akhirnya dia berkata putus asa:
“Maaf, jam ini berbunyi 36 kali."
“Cukup, Nak. Memang dia gila,”
kata istriku.
Yang mulai menjadi korban jam
Junghun adalah Ina. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit
dalam. Ia menderita tekanan darah tinggi. Suatu malam dia menjerit karena
satu mimpi buruk. Katanya, jam gila itu berbunyi 120 kali.
“Sabar, Ina. Kita jangan panik.
Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. Aku akan
coba perbaiki sendiri. Manusia harus mengalahkan benda mati ini,” kataku
yakin.
Istriku menyebut lagi perkataan
“tolol” itu. Ini menambah semangatku, sampai aku berhasil! Aku merayakan
pesta emas 50 tahun perkawinan kami. Tengah malam pukul 00.00 jam itu
bernyanyi empat bait komplit, lalu mendentingkan loncengnya 12 kali. Sayang,
saat itu istriku tidak mendengarnya, dan tak 'kan pernah mendengarnya.
Ya, kurayakan pesta emas perkawinan
itu seorang diri, diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat
indah.***
(Dimuat dalam Horison, September 1999)
Lelaki Tua dari Noumea
Oleh: Waluya DS
Seperti biasanya untuk
menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble
bath. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih
sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan
persoalan-persoalan yang menjerat perasan
serta pemikiran. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia
berkecimpung.
Diamatinya kedua telapak tangannya
yang penuh dengan buih-buih sabun yang
memantulkan warna-warni pelangi. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa
gelembung melayang berputar-putar. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun
itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang
mempesonakan. Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya
di Noumea, dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan
belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. Suatu kali, satu gelembung
tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. Dengan
hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. Warna-warni
pelangi terpantul dengan indahnya. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. Dia
pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu, dia pasti
akan bisa melihat rumah-rumah, pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa.
Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya
itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Diamatinya dengan lebih
teliti gelembung itu, mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam
gelembung itu. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung
jarinya. Dan dia begitu tertegun, permainan dan impiannya justru mengukuhkan
rasa sepi dan sendiri.
“Di negeri leluhur kita, Nak, kau
tak akan pernah merasa sepi atau sendiri.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu
dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada
di rumah, sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka.
“Ceritakanlah negeri leluhur itu
padaku, Ibu?”
Bila ada waktu ibunya dengan tak
bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji, Ken Arok, Damarwulan, Joko
Tingkir, Aryo Jipang, Ki Pemanahan, Sutawijoyo, bahkan juga bagaimana
keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. Dongeng-dongeng itu begitu indah
dan memukau. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan
Negeri Leluhur yang begitu mempesona. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya
selalu lewat tanpa terjawab.
Hanya secara kebetulan suatu hari
salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang
memberikan jawaban yang cukup memuaskan.
“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah
begitu meracunimu, Rio.”
“Namaku Aryo dan bukan Rio,”
protesnya. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya
bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya.
“Nah, apa kataku, Rio. Kebanggaan
yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini. Jangan kau biarkan
angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti.”
“Tapi namaku bukan Rio,”
potongnya.
“Kau mau tahu jawabanku atau mau
protes melulu?”
Dia hanya mengangguk karena
jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya.
“Bagus. Kau sudah menunjukkan satu
kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis. Lupakanlah
dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. Lebih baik kau coba membina hidupmu di
sini; itu lebih penting.”
“Tapi itu hidupku sendiri.”
“Aku hanya ingin supaya kau tak
kecewa nanti. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang
tak bisa dicomot di sana-sini. Kau hanya harus terima utuh.”
“Maksudmu?”
“Dengan bapak kita di Negeri
Leluhur dahulu, dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih
merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. Sebagai
putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir, bapak merasa
tidak punya tempat dan hak.
Pertemuannya dengan Tuan van
Stifhout, pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen
telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya. Dengan salah seorang anggota
jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong, bapak melakukan usaha dagang
bersama yang cukup berhasil. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya
usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga. Banyak usaha dilakukan
untuk mendepak bapak. Salah satu di antaranya, waktu itu kau masih dalam kandungan,
ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang
didalangi Tuan Sneevliet. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya
karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader
Tuan Sneevliet. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya
hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis.
Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka.
Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan
suasana, bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan, karena
cintanya pada kita semua, bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea.
Pernah kudengar bapak sedang
bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa.
Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas
dirinya menjadi-jadi. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea, bapak
dengar khabar bahwa orang- orang
Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh
pemerintah penjajahan.”
Jawaban saudaranya itu justru
menimbulkan beberapa pertanyaan baru. Kenapa harus merisaukan martabat
keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian
dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada
keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk
membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis.
Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya,
bukan?
Semua perayaan itu selalu
menggodanya, namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya
lagi. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. Lebih baik memulai
satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. Tapi tak bisa di sini, di
Noumea yang semasa bukan tempatnya. Dia betul-betul merasa tersisih mencari
tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan
pada Ratu Adil. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya
tak pernah ada. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya
saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya, orang-orang Perancis,
orang-orang Kanak, dan dirinya begitu berbeda. Hanyalah orang Kanak orang
pribumi. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal.
Betapa gembiranya ia ketika suatu
hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa
Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. Kapal itu bernama Dewa Ruci,
sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. Dan para kelasi itu
bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. Dia
merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. Para kelasi itu menjelaskan
bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah
Mada. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia. Dia merasa bangga
ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. Semua urusan ketatanegaraan
sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat
menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono.
Dia merasa begitu bahagia bahwa
ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. Tapi ternyata punya
pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau
Jawa. Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden.
Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan
mutlak Sri Sultan.
“Kau sudah gila, Rio! Lupakanlah
angan-anganmu itu. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. Kau kira
orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan
memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai
titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke
tanah leluhur.
“Tapi bukankah itu justru
kelebihan kita?” belanya. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka
berkiblat. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik, tapi daerah Perancis Selatan.
Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana
dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk
melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. Kalau kita tak mau
tahu-menahu soal asal-usul kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja,
kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Mereka menjadi golongan
minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. Kau tahu satu-satunya
kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari mana-mana.”
“Bicaramu sudah begitu ngawur.
Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu.
Dengarkan kami baik-baik, Rio.
Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang
semakin parah. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati
tidak hidup pun tidak, begitu berat. Apalagi masih harus menga-suh cucumu
Dewi bukan soal yang gampang.
Sadarlah, Rio, dan jangan kau biarkan
kegilaanmu itu berlarut-larut. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan
keluarga. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu.”
Dia merasa usahanya membujuk sanak
saudaranya sia-sia belaka. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia
mencoba memahami jalan pikirannya.
Memang langkah pertama
mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko, anak satu-satunya
mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut. Dia ditemukan dalam keadaan
lumpuh. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. Jatmiko
memang masih hidup. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu
kerelaannya melepaskan dunia yang fana.
Rasa kehilangan Jatmiko bisa
segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang
kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi
akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan
menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Dewi memang tumbuh
menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di
samping otaknya yang cukup cemerlang.
Untuk menjembati pertemuan Dewi
dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk
menggali ilmu di Universitas Monash. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di
Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia
dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. Namun setelah
beberapa tahun di Melbourne, lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah
menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa. Dia begitu tertegun membaca
surat terakhir Dewi padanya:
Jangan marah, Kakek, dari
Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Mata inti dari kuliah-kuliah
mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. Soalnya setiap orang
bisa punya pendapat. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan
bagiku tak ada nilainya sama sekali. Aku lebih menemukan arti serta diriku
sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts.
Sekali lagi gelembung-gelembung
impiannya retak. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar
jangkauannya. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa
petunjuk pada Dewi.
“Jangan tergesa-gesa marah, Rio.
Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu. Dewi bukan sebangsa
serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan
pertanyaan.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan
mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan
pendapat sendiri.
Dia harus merasa tetap tawakal dan
sabar. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya. Tanpa memberi
khabar pada Dewi, dia dan istrinya menuju ke Australia. Setelah mendarat di
lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan
kota. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi. Sedang kesan pertamanya
seperti begitu formal dan konservatif. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor
adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. Tidak seperti hotel-hotel
modern yang baru yang begitu trendi.
Setelah makan siang mereka
menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada
di Melbourne.
“Kakek dan nenek menginap di hotel
apa?”
“Windsor di Spring Street,” jawabnya
sambil memberikan nomor kamar mereka.
“Wah, itu hotel yang mewah. Kakek
dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja,” goda Dewi walaupun dia tahu
bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. “Untung tidak ke Southern
Cross, salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang.”
Sejauh ini dia masih merasa bisa
mengontrol keadaan. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni
mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. Di situ ada perguruan tinggi seni
lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa
yang adi luhung. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung
mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. Dan peluang untuk
ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar.
“What a lovely surprise,” Dewi
dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka
pintu, langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. “I have a surprise
for both of you too. Tapi kenalkan dulu, John. Ini Rio dan Handayani, kakek
dan nenekku.”
Ya Allah ya Rabbi. Tak ada angin,
tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. Sejak kapan Dewi
berbahasa Inggris pada mereka. Mungkin karena ada John; tapi paling tidak
pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. Tapi masalah berikutnya
yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan
bom atom Perancis di Atol. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya!
Merasa dirinya sebagai priyayi
Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Sedapat mungkin
diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut.
John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua
tahun belakangan ini. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama
sekali. Sebelum mereka pergi, karena John harus memberi kuliah dalam waktu
setengah jam lagi, ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak
mereka makan bersama malam nanti.
“Ya, Dewi akan telpon dulu nanti
waktu pulang dari periksa di ahli kandungan,” ucap Dewi sebelum pergi.
Dia tidak bisa mengerti sama
sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu,
bahkan seperti bangga sekali. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit
kamar seolah berputar. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka. Gemericik air
mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya.
“Lebih baik kau mandi dulu, Rio.
Air sudah kusiapkan semua,” kata istrinya sambil menghampirinya. “Kita
bisa bicara dengan tenang nanti.”
Dia lepaskan semua pakaiannya dan
dibiarkannya terpuruk di karpet. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi.
Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom. Sebelum
masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca, masih nampak cukup
tampan untuk seumurnya. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya
kepalanya yang menyembul keluar. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan
baik menyiapkan air untuknya, tidak terlalu panas dan campuran bubble bath
cukup creamy dan kaya akan buih.
“Mandi yang bersih, Rio, kau
banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi.” Dia ingat
ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di
bath tub. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. Biasanya
bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa
handuk yang bersih atau piyama.
“Rio, kau mau piyama atau ganti
pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya
dari segala kenangan.
“Beri aku pakaian yang bersih,
aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street.”
Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat
keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. Dia tersenyum sendiri, ingin
dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri
Arjuna. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek
yang lembut baunya.
“Dewi yang baru saja telpon,” kata
istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih. “Dia bilang kalau
kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street, ke restauran
Vietnam. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak
terlalu formal, lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya
sebagai entree, kita bisa ke Grill Room di basement, pintu masuknya dari
Little Collins. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol
sambil mendengarkan permainan piano.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata
istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih.
“Rio kau dengarkan aku atau
tidak?”
Lama tak ada jawaban. Sesaat kemudian
dia berbalik menghadapi istrinya.
“Ya. Dan aku begitu heran bahwa
kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri.”
“Pendapat dalam hal apa?” tanya
istrinya.
“Kau tahu kenapa kita kemari!?
Untuk apa kita ke Melbourne?”
“Kau jangan membentakku
seperti itu, Rio.”
Dia begitu tersentak ketika untuk
pertama kalinya istrinya berani menegurnya.
“Dewi! Dia, dia....”
“O, itu. Kuharap kita bisa
berbicara secara lebih beradab,” potong istrinya. Dia begitu geram mendengar
kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam.
“Sejak kapan kau ikut memusuhiku?”
“Kau mau mendengarkan pendapatku
atau hanya mau memancing pertengkaran saja?”
Dia hanya melotot tak bisa percaya
bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah
bertahun-tahun hidup bersamanya.
“Kalau soal impian gilamu mengenai
Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya. Meskipun keturunan orang
Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak. Aku tak mau bicara, aku
tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu.
Tapi soal Dewi, ya dia hamil, Rio. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita
sendiri.
Kau boleh punya ukuran moral yang
tinggi untuk hidupmu sendiri, Rio. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu
untuk hidup orang lain.”
Dia menarik napas panjang dan
melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri,
“Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudara-saudara bapakku
di Jawa. Kalau aku tahu mereka, dulu Dewi pasti kukirim ke sana.”
“Kau tahu, Rio, kesalahanmu justru
kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan
dan pikiran orang lain.”
Hening dan mereka berdua saling
bertatapan.
“Aku mau pesan minuman, kau mau
juga?” tanya istrinya.
Dia tidak menjawab dan istrinya
pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta
diberi dua gelas.
“Jangan kau anggap aku melawanmu,
Rio. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu. Aku tidak
peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. Apakah kau anggap aku ini babu
atau istrimu itu tidak soal bagiku. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa
pamrih. Ia adalah pengorbanan itu sendiri.”
Tiba-tiba dia tidak tahan melihat
air mata meleleh di pipi istrinya. Namun ia mencoba menutupi keharuannya. Dibukanya
pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya. Ditandatanganinya nota
bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti. Pelayan itu tersenyum
lebar menerima tip yang lumayan.
“Shall I open the bottle now,
Sir?”
Dia hanya mengangguk dan pelayan
itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan
istrinya. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi.
“Rio, apa yang kita cari dalam
hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi
merasa bahagia untuk dirinya sendiri.”
Dia hanya mengangguk dan
pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan. Istrinya memandangnya
dengan pandangan tidak percaya.***
(Dimuat dalam Horison, Maret 1990)
Tempat yang Terindah untuk Mati
Oleh: Seno Gumira Ajidarma
Kami, 10.000 pasukan berkuda,
akhirnya keluar dari hutan itu. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa
yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. Setelah hampir berminggu-minggu hanya
merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar, padang yang
terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan
kerinduan kami akan kebebasan, lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang
serba menjulang dan mencekam.
“Pacu!”
Orang-orang yang berada paling
depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya, bahkan
kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera
memacu diri mereka, melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin
dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang.
“Pacu! Pacu!
Pacu!”
Kami semua berpacu sepanjang
padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan
kami. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang, dengan tenaga baru yang seolah-olah
begitu saja datang dari langit. Kuda-kuda kami menggebu, melesat dan menggebu,
seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan
berat menempuh hutan yang rapat, gelap, dan penuh dengan rintangan. Kami
menggebu begitu laju, seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari
belenggu badan, mendesing menuju kebebasan. Namun sekarang, cuma inilah yang
bisa kami lakukan, berpacu melawan angin, dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan
kami.
“Huuuu! Huuuuu!
Huuuu!”
Satu per satu penunggang kuda yang
keluar dari hutan segera melaju. Kami, 10.000 pasukan berkuda, berderap
melaju menuju cakrawala. Padang stepa diselimuti salju yang tipis, dingin
angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak
matanya saja. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal
dan berat. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu
tebal. Semuanya terbungkus, begitu juga tangan kami yang memegang
kendali. Para pembawa panji, bendera, dan umbul-umbul kini membuka jalan ke
depan. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat
menggetarkan. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa, bumi bergetar oleh
derap pasukan yang melaju dan menggebu.
Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak
mengenal lelah, berpacu dan berpacu, surai kuda-kuda kami yang tebal
melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari
dengan indah. Langit hanya biru. Cahaya matahari menyiram padang. Setiap orang
memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. Hutan di belakang
kami kini bagaikan titik-titik hitam, dan segera lenyap di balik kaki
langit. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. Selama
berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak
akan pernah berubah. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. Kami terus-menerus
berderap sepanjang padang. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan
merdeka yang kami dapatkan. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan,
bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami
lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. Kami tahu, perjalanan kami
masih jauh lagi, kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan.
Kuda-kuda kami terus berpacu
dengan laju. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. Tanpa
kuda, apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami
inginkan, dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan.
Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. Kami selalu bepergian,
selalu berpindah, selalu bertualang. Kami selalu berpindah sesuai dengan
pergantian musim, perjalanan angin, dan peredaran bintang. Semua ini tak bisa
lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Kini kami semua sudah siap menempuh
perjalanan yang terakhir, dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai
akhir tujuan. Kuda-kuda kami masih terus berderap, bagai berpacu dengan
angin. Telinga kami semua penuh dengan desau, yang kadang-kadang terdengar
seperti sebuah percakapan, namun yang maknanya seperti selalu menghindari
kepastian.
Sampai di manakah suatu perjalanan
berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan
berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa
yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. Kami mengembara dan menjelajah
segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir, namun sampai sekarang
tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. Kami menyeberangi
sungai, kami mendaki celah-celah gunung, kami mengarungi gurun pasir, dan kini
kami berpacu di tengah padang tanpa tepi, tapi kami tidak juga ingin
berhenti. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu, dua,
bahkan bisa lima tahun, namun kami selalu berangkat kembali. Rumah kami
sekarang adalah perjalanan itu sendiri.
Padang stepa yang terbuka masih
tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu
dengan polesan salju. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa
berjalan di tempat. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami
berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika
kami berpacu. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit
mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. Seekor
ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami
berpacu. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan
bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung
perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu.
Kami berpacu, berpacu, dan
berpacu.
“Huuuuu! Huuuuuu!
Huuuuuuu!”
Kami berderap dan berpacu memburu
matahari yang terbenam ke balik cakrawala. Langit yang tadi bagai tempurung
raksasa membiru kini semburat merah terbakar. Matahari terasa betapa berat,
menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap penjuru
bumi. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. Langit masih membara.
Kami, 10.000 pasukan berkuda, menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke
suatu arah. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala, kami harus memburunya
ke balik cakrawala.
***
Tempat itu dinamakan Lembah
Sepuluh Rembulan. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan
seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Namun,
ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu, musim dingin belum berakhir
sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. Bila bulan yang perak
itu muncul di langit malam, cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan
danau yang diselimuti salju. Di setiap danau itu setiap 1.000 orang dari kami
berkemah. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100.000
saudara-saudara kami.
Seseorang dari kami tampak meniup
seruling di kejauhan itu. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu
di atas tebing, seolah-olah berhadapan dengan rembulan - bahkan rembulan seperti
turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling.
Tapi apakah rembulan mengerti
arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang
dengan bahasa kami sendiri. Apakah rembulan bisa memahami, betapa nun di
sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk
sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan
mengerti, betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan
mengarungi benua itu, menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku
musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan
kami? Tak terhitung lagi berapa
orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan
dari kampung ke kampung, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit, semenjak
begitu banyak tahun yang telah lama berlalu.
Ia meniup seruling di atas tebing.
Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun, orang-orang yang
mengendarai kuda dengan tertunduk, dan anak-anak yang tidur dengan gelisah
di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan, sementara seorang
nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah
mereka tinggalkan.
Lembah Sepuluh Rembulan adalah
suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas. Kami membiarkan
kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. Kami siapkan
kantung-kantung tidur dan selimut kami. Bukit-bukit batu yang menjulang dan
membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan
api unggun. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa
daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. Beberapa orang
masih minum susu hangat yang beraroma teh, dan mendengarkan seseorang bercerita.
"Maka sang raja pun jatuh
cinta kepada wanita dari negeri seberang itu...."
Kami selalu membutuhkan cerita,
seruling, dan kuda. Kami memuja rembulan dan matahari. Kami menyembah
langit, kami menyembah bumi. Kami mencintai keindahan seperti mencintai
kehidupan itu sendiri.
Apakah yang akan kami lakukan
selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang
berat bagi kami, karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus
menguji ketabahan hati kami. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu
untuk berburu, bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan
untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis, tapi juga karena kulit berbulunya
yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. Apabila 100.000 saudara-saudara
kami tiba, mereka yang sebagian terdiri dari wanita, anak-anak, dan orang tua,
akan membutuhkan tenda-tenda itu. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar
dan hangat, sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. Di dalam
tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami.
Ketika kami semua bersiap tidur
dan memandang bintang gemintang di langit, peniup seruling itu masih di
sana, melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang
terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai, dengan latar belakang pegunungan
yang menjulang megah. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung
halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku, di mana bila senja
tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi,
sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga
yang panjang itu dicuci. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana
anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau --
inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. Kami pasrah.
Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat.
Kemudian, ketika suara seruling
itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi
kami, menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. Betapa
selalu masa lalu berada dalam diri kami, dan kami menyukainya karena
memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa
semakin indah.
Kami sudah menempuh perjalanan
yang panjang dan kini kami ingin tidur. Angin masih terus bertiup dan tak akan
pemah berhenti. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru
bumi, bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas, menghubungkan kami dengan
segenap unsur kehidupan. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan.
Kemudian, tinggal kesunyian di
Lembah Sepuluh Rembulan. Kami, 10.000 pasukan berkuda, tertidur dengan pulas,
tiada yang mendengkur sama sekali. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar
desau angin. Gemeretak api unggun segera berakhir. Tinggal bara api menyala
diam-diam, makin lama makin menghilang. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan
yang memantul di dinding-dinding batu. Rupa-rupanya bulan yang turun
mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. Bertengger di atas sana.
Sesekali tertutup awan.
***
Setahun kemudian seorang pengawal
di atas tebing berteriak.
“Hooooiiiii! Mereka sudah datang!”
Kami semua segera melompat ke atas
kuda, dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. Sebagian yang lain malah
langsung keluar dari celah lembah, dan terbentanglah di hadapan kami
pemandangan yang menggembirakan itu, pemandangan yang kami nantikan. Tak
kurang dari 100.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik
kaki langit.
Hari sudah menjelang senja, langit
bagai tenda raksasa berwarna ungu. Saudara-saudara kami masih merupakan
sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. Dengan perasaan yang
sangat tidak sabar dan menggebu-gebu, kami berlari-lari turun dari bukit,
langsung melompat ke atas kuda kami. Dengan segera, kami menggebu menyambut
100.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki
langit itu. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka,
sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke
depan ingin segera bertemu dengan kami.
Senja itu langit yang ungu serasa
begitu cerah. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu
menjumpai orang-orang tercinta. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang
panjang di jalan yang telah kami rintis. Tentulah jumlah mereka sudah tidak
genap 100.000 orang lagi. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan,
seperti yang sudah-sudah, kami baru akan mengetahuinya nanti.
Kemudian kami melihat panji,
bendera, dan umbul-umbul yang sama. Berkibar dengan megah, bergetar-getar
dalam tiupan angin. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa
setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. Kami menggebu
dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. Seperti apakah mereka kini?
“Huuu! Huuuu! Huuuu!”
Kaki-kaki kuda, berderap dan
berpacu. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. Mereka yang terdepan
akhirnya bertemu muka dengan kami. Masing-masing dari kami kemudian berhenti
dan berhadapan. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok
di belakang, dengan gerobak, kereta, gajah dan unta. Lebih banyak lagi yang
berjalan kaki.
Kami semua turun dari kuda.
“Akbar!"
“Abdul!”
Kami semua berpelukan dengan penuh
rindu dan penuh dendam. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat, namun
kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. Suku kami telah
bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. Wajah-wajah mereka
tampak lelah dan kuyu, seluruh pakaian mereka usang dan kelabu, penuh dengan
debu, namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas,
siap menempuh perjalanan untuk mati. Kami menyatu kembali dalam
gairah kehidupan yang panas. Angin begitu dingin, namun tiada akan ada satu
pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami.
Begitulah kami akan membaca puisi
di tepi danau, menari di atas perahu, memetik kecapi di puncak bukit, dan
melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah rembulan dan matahari.
Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira.
Betapa mereka begitu tabah, dan kini begitu kurus. Wanita dan anak-anak kami
berambut kasar dan merah. Semua orang tampak tak terurus, tapi siapakah yang
akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang, menyeberang dari benua ke
benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali?
Kami terus-menerus saling berpelukan
dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi.
“Sarita!”
“Maneka!”
Mengapa kita bisa terus-menerus
memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu
dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan
ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang
terus-menerus berubah warna? Namun, betapa tiada jarak lagi kini bagi kami.
Kami semua menemukan masing-masing keluarga, kami berjalan kembali ke Lembah
Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Langit
memberkati kami. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh
dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami
sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki.
Kami membagi diri kami berdasarkan
pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10.000 orang dari saudara-saudara
kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1.000 orang dari pasukan
berkuda kami. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. Kami akan
membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. Kami akan membagi
arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah
berasap membangkitkan lapar.
Kami begitu siap untuk bahagia,
tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan
pada masa-masa yang akan datang. Kami tidak bermabuk-mabukan dan lupa daratan,
kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa
melakukannya. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh
Rembulan. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit, kami mengatur
pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami.
Saudara-saudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga
agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas
dan berangkat kembali.
Kini semuanya sudah berada di
Lembah Sepuluh Rembulan. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun, bisa
melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama
musim panas yang tetap saja dingin. Saudara-saudara kami yang 100.000 orang
itu datang pada musim dingin, jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku.
Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan
di atasnya. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal, begitu juga unta dan
kuda-kuda kami. Mereka begitu jinak, begitu mengerti, dan begitu penurut
sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam
perjalanan kami.
Dalam perjalanan itu 53 orang dari
kami meninggal, dan kami menguburkannya di tengah jalan, sementara itu 53
bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu
tetap genap berjumlah 100.000 orang. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan
masih tetap berjumlah 10.000 orang.
Begitulah selama beberapa bulan
yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. Pada musim semi danau
masih membeku, namun rerumputan menjadi lebih hijau. Ketika tiba musim panas,
kami semua, 110.000 orang, berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan.
Kami berangkat pada pagi subuh.
Bulan masih menggantung di langit. Dari atas tebing kami menoleh untuk
terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. Kami melihat sepuluh rembulan
mengapung di atas sepuluh danau, dan setiap orang yang melihatnya tersenyum
dalam hati.
***
Sudah berbulan-bulan kami terus
berjalan. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. Sebelum
matahari terbit kami sudah berangkat lagi. Kami semua, 110.000 orang, melangkah
perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. Begitulah kami
berjalan, berjalan, dan berjalan mengarungi gurun, menempuh ngarai, menembus
badai, dan menyeberangi sungai. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika
kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Kami terus-menerus berjalan
dengan hati yang terpaut kepada cahaya. Ada semacam cahaya dari langit dalam
hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya.
Kami, 110.000 anak manusia terus-menerus melangkah, kuda dan unta melangkah
pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan, khusyuk dan meyakinkan.
Kami jarang bercakap-cakap di antara
kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan.
Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis, bahkan mata mereka pun bagai
menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. Barangkali mereka juga melihat
cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing
yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. Kami
berjalan menapaki jalur di antara lembah, mendaki gunung-gunung batu, dan menapaki
gigir-gigirnya yang mengerikan. Kami, 110.000 orang, dengan bayi di gendongan,
orang sakit dalam tanduan, dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh
ditinggalkan, merayap di jurang yang curam, jalanan setapak berlumut yang
begitu licin dan terlalu sering memelesetkan.
Kadangkala tiba saatnya seorang
wanita harus melahirkan di tengah jalan, maka sebagian dari kami pun berhenti
mengurusnya, sementara yang lain meneruskan perjalanan. Rombongan kami
membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam, menyebar
seperti semut bila tiba di padang terbentang. Mereka yang telah menjadi tua,
lemah, dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia.
Gajah-gajah ini berbadan besar, namun seperti tidak mendapat halangan jika
berjalan di dalam hutan, kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan
setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian
dinding-dinding yang curam. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah
sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di
suatu tempat lain. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berhari-hari
lamanya, tapi kami rombongan 110.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak
pernah benar-benar saling terpisah.
Begitulah di antara kami kemudian
ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara
yang diharuskan. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya.
Mata mereka mengatakannya. Mereka yang mati dalam perjalanan ini sebenarnyalah
mati dalam kebahagiaan. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya, menuju
sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Itulah
dunia yang kami rindukan, dunia yang kami impikan dari abad ke abad, dari
dongeng ke dongeng, dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama
terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan
cahaya keabadian.
Kami melangkah, menapak pelan,
terus-menerus berjalan, dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami
temukan. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah
panjang dari benua ke benua, kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda
cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. Dari gurun ke gurun
rombongan kami berjalan, sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat
pemukiman maupun binatang. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas
betapa di tempat-tempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah
sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami
rindukan. Namun kami tahu, meskipun matahari terbenam yang jingga itu
begitu memukau di latar langit yang ungu, ini bukanlah tempat yang dimaksudkan
dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian
karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini.
Tentu saja kami masih selalu
teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. Kami
berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi
kosong. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai
pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. Sebegitu buruknyakah kehidupan
sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110.000 orang yang tadinya
hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang
menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana
bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung
halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan
demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami.
Dunia kami memang berubah semenjak
menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Kami semua
bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan
di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan
terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. Kami semua terpana
dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan
untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. Dari hari ke hari, semakin
banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin
merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak
arti kehidupan kami. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami
semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa
diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. Orang-orang tua di kampung mengatakan
bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang
telah lama silam. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan
warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang
penuh dengan khayalan.
Langit merah di kaki langit. Kami,
110.000 anak manusia, masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana.
***
Kemudian, tibalah kami pada suatu
pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah
berjalan ke mana-mana lagi. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan
kemudian membukanya lagi, kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke
suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. Memang
masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung, memang masih
seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak
berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini
dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal, memang, memang, memang langit yang
ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat
di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit
masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi.
Garis cahaya yang meluncur
sepanjang kaki langit melingkari kami. Tanpa diperintah setiap orang lantas
melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. Kami membasuh wajah dan
telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami.
Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami
makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut
saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Semua orang
mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena
semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan
bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami.
Inilah pagi yang berembun dan
berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan
siapa berada di utara. Dari balik kabut itu, tampak kuda-kuda kami yang perkasa
menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang
akan terjadi. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan
sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110.000 orang
seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum
apa-apa. Kemudian kabut menjadi semakin tipis, mengambang, dan pergi. Kami
tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami
yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata.
Langit ungu muda. Tiada mega di
langit -- kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. Sembari
berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki, kami
menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. Kami belum
lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam
kehidupan yang abadi. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak
mempersiapkan diri. Gajah-gajah, unta-unta, dan kuda-kuda, mereka pun banyak
yang mati sepanjang perjalanan, namun kami selalu mendapatkan gantinya. Kami
merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami
merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya.
Maka langit pun terkuak dan kami
terkesiap. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri, hanya tegak di atas
lutut kami. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut. Tiada suara
yang menggelegar, namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang
menggelegar. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami.
Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat, namun kami melihat
segala-galanya memutih diserap cahaya. Padang rumput memutih, panji, bendera
dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih, segala-galanya memutih.
Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi
kami, namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu
yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. Kulit
hewan peliharaan kami pun memutih, seperti juga seluruh busana terbaik yang
kami kenakan, sepatu, kulit dan rambut kami, segalanya memutih lantas
mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri.
Begitulah kami semua, kemudian
tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar
menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri
setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di
kampung kami. Tiada lagi angin bertiup, tiada lagi debu mengepul, kuda-kuda
berpacu, bayi menangis, dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan
purnama. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan, namun seperti
juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir
menuju lautan, begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan
penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu
menyenangkan. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh
dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan
kami.
Lantas kami alami bagaimana jiwa
kami diluncurkan. Dari kelam ke kelam, dari cahaya ke cahaya, kelak-kelok
labirin yang memusingkan, gua pelangi yang menyilaukan.
Kami berangkat melewati tujuh
rembulan, tujuh matahari, dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. Langit
yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada
di segala arah, dari barat sampai ke timur, dari selatan sampai ke utara,
secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan.
Begitulah rombongan kami, 110.000 anak manusia, bangkit kembali dari tumpuan
lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit
yang telah terhampar di hadapan kami.
Kini kami semua telah menjadi anak
cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena
kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan.
Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju
kematian. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan, dengan
atau tanpa badan, sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Tiada yang lebih
penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. Tiada yang lebih
berharga lagi selain keindahan dalam kematian.
***
Kulihat di sepanjang langit,
kemah-kemah awan. Apakah aku harus berhenti, atau meneruskan perjalanan?
Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu
tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. Semakin
jauh aku berjalan, semakin aku terikat kepada kenangan, semakin aku merasa
diriku bukan bagian dari rombongan. Sudah begitu jauh aku berjalan, dengan
segala derita dan pengabdian, dalam penyucian cahaya berkilatan, betapa bisa
cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan?
Kulihat satu per satu dari kami,
109.999 anak cahaya, ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. Barangkali
ini memang tempat yang terindah untuk mati. Aku melihat seribu cahaya berenang
dan berkelebatan. Kulihat 109.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya
gemerlapan. Tinggal aku sendirian, menaiki kuda putih di atas awan,
melihat-lihat pemandangan.***
Ulaanbaatar - Jakarta, Maret-Juni
1996
(Dimuat dalam Horison, Juli 1996)
Enclave*
Oleh: Ramadhan KH
“Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!”
(Terima kasih! Terima kasih!), Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil
membungkukkan badannya dalam-dalam, beberapa kali. Sungguh, dengan perasaan
haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus. Ia merasa
benar-benar gembira. Gembira sekali. Wajahnya jadi cerah seperti langit
yang ada di atasnya.
Beberapa meter di depannya berdiri
Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu.
“Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju
lagi! Ayo, ke sana lagi! Lihat dari sana, dari tepian yang lebih jauh.” Pak
Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh, melihat lautan itu
dari tempat yang lebih dekat ke pantai, sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Hay! Hay!” kata Okayama sambil
lari-lari kecil, mengikuti anjuran Pak Marta. Ia senang mengikuti petunjuk Pak
Marta, sahabat besannya, orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di
hari tua.
Di sebuah onggokan ia berhenti,
lalu menatap ke kejauhan. Nikmat benar dirasakannya menerawang, mengikuti goresan
kaki langit, menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun
bergantian sampai ke pantai.
“Tempat ini bagus sekali. Negeri
ini indah sekali,” gumamnya, lalu menarik senyum sendirian.
Dari kejauhan ia berteriak dalam
bahasa yang jauh daripada dikuasainya, tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan
tekun: “Bagusu-neh, bagusu-neh,” (Bagus, bagus) sambil melambai-lambaikan
tangannya.
Seraya melangkah ia mereka-reka
kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya, Subarkah,
membicarakannya. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya,
Michiko, yang kali ini tertinggal di Osaka, tidak ikut terbang ke Jakarta.
“Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya
di depan Pak Marta.
“Senang? Senang punya tanah ini?”
tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang.
“Aaahh, senang, senang,” kata
Okayama. “Tetapi ... tetapi ... ini bukan tanah saya. Ini tanah Subarkah dan
Michiko. Bukan tanah saya.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak,
kepada penduduk di kampung itu, kepada pepohonan dan binatang-binatang yang ada
di sana, bahwa tanah itu bukan miliknya, melainkan milik anaknya dan
menantunya. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. Ia merasa, ia
memilikinya juga, karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang
simpanannya. Dan ia gembira, sangat gembira, bahwa Subarkah menetapkan,
tanah itu atas nama istrinya, Michiko, di dalam surat-surat jual belinya.
Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya, bahwa tanah itu milik
Michiko, Nyonya Subarkah.
Pak Marta mengajak bicara
Okayama-san dalam bahasa Jepang. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu
pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. Waktu itu ia duduk di
sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya
sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya.
Kalau tidak terpatahkan oleh
kekalahan Jepang dalam peperangan, kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke
Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya.
Bicaralah lagi Okayama-san dalam
bahasanya. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak
Marta-san, sudah menolong anak-anak saya, sehingga mereka mendapatkan tanah
ini. Bagus sekali tanah ini. Kalau terlaksana, anak-anak saya akan mendirikan
rumah di sini, dengan kebunnya yang bagus. Apa pohon kaki (kesemek, bahasa
Jepang) bisa tumbuh di sini?”
“O, bisa tentu bisa. Disebutnya di
sini, pohon kesemek,” jawab Pak Marta.
“Apa bunga anggrek bisa tumbuh di
sini?”
“Bisa, bisa,” jawab Pak Marta
meyakinkan sambil menatap Okayama. “Semua tanaman bisa hidup di sini. Lihat
itu, pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. Lihat, pohon pisang, pisang yang
disukai Okayama-san, pisang raja, pisang ambon, pisang lumut, bisa hidup di
sini. Asal diurus. Tanahnya, dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di
Cisaat. Bakal jadi bagus. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini.
Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. Hahahaha,” Pak Marta tertawa, diikuti
oleh Okayama-san. Juga Subarkah, sang menantu yang juga ada di sana
mendampingi sang mertua, tertawa lebar. Ia pun senang bisa membuat mertuanya
gembira. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana,
melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya:
bercocok tanam, di hari tuanya.
Bahwa Okayama-san, kini merasa
senang, uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di
daerah Sukabumi Selatan itu, adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang
mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. Di Jepang, apalagi di seputar
Tokyo, orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan, bukan meteran, karena
mahalnya, sejuta Yen sejengkal. Sekarang, di tepi Samudera Hindia yang elok
itu, Michiko, anaknya, bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. “Untuk
siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya),” Okayama
pernah berpikir. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah,
sebegitu yang diperlukan Michiko, untuk membeli tanah di kampung
Sindanglaut, di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. Okayama yang sudah
pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu, punya
rencana berlibur tiga kali dalam setahun, dan setiap kali berada di
Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan.
Di atas tanah seluas satu hektar
lebih milik Michiko itu, sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana.
Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. Okayama
sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik
keturunannya itu. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap
potongan khas Jepang. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang, dengan uang yang
sudah diperhitungkannya cukup, bukan mimpi pagi. Rencananya pun sudah bisa
mulai dilaksanakan.
***
Okayama-san bersahabat kental
dengan Kakutani-san. Mereka sama-sama duda. Tinggal tidak berjauhan. Dan
sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka, segera ia bercerita kepada Kakutani
bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. Ia ceritakan dengan terperinci
sekali berapa harga tanah yang dibelinya, atas nama siapa, di mana letaknya
Sidanglaut itu, pemandangan seputar itu, dan sebagainya dan sebagainya.
“Dan bagusnya, bagusnya
pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka,” kata Okayama-san
kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya.
“Dan istimewa lagi,” cerita
Okayama kepada Kakutani, “dari tempat itu, selain ada laut yang bagus, ada
daerah yang masih dihuni oleh badak, badak yang terkenal. Kesukaan kamu kan
masuk hutan, melihat binatang langka?”
“Ya, ya. Apa sungguh begitu?”
“Sungguh!” kata Okayama
meyakinkan.
“Tapi, bagaimana saya bisa membeli
tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia,” kata Kakutani
dengan nada rendah, seperti sudah tidak punya harapan.
“Mengapa kamu tidak punya akal?”
kata Okayama. “Kamu kan belum punya istri lagi. Kalau saya seusiamu
(--Kakutani lebih muda--), saya akan kawin lagi. Dan... akan mengambil wanita
Indonesia. Cantik-cantik lho, hahaha....”
Kakutani seperti kena goncangan
yang membuat ia sadar. Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah, besan Okayama,
waktu datang di Osaka. Dan terkenang sampai sekarang, bahwa wanita itu benar
cantik walaupun sudah ada usia. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya,”
komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya. Tetapi
ia tidak punya keinginan lebih jauh, karena ayah Subarkah masih ada.
“Cantik-cantik?” Kakutani seperti
mau tambah diyakinkan, dengan nada suara seperti berhasrat.
“Beneran. Cantik-cantik. Kalau
kita jalan ke Sindanglaut itu, kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya
Kadupandak. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana. Di Kadupandak
itu banyak sekali yang cantik. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat
di kampung itu. Saya pun waktu lewat di sana, merasa jadi muda kembali.
Hahaha! Dan... dengan uangmu yang ada di bank sekarang, kamu bisa dapatkan
seorang. Kebiasaan mereka pun baik-baik. Mereka tidak perlu kita ajar lagi
supaya tinggal di rumah. Itu sudah kebiasaan mereka.”
Kakutani jadi berpikir beneran.
Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia, dan mau menerima kebiasaanku,
dan bisa membeli tanah yang luas, mengapa pula aku mesti simpan uang itu?
Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri
ini. Kalau istriku menyenangkan, mengapa aku harus kikir dengan tidak
memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus, dengan
pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya.”
Ia pun ingat, bahwa ia sekarang sudah sebatang kara.
***
Saatnya pun tiba. Kakutani dan
Okayama sudah ada di Jakarta.
Malahan ini yang kedua kalinya
sudah. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin, dan sudah pergi
ke Sindanglaut.
Cepat sekali prosesnya, Kakutani
memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. Ia,
pada mulanya, tidak ceritakan bahwa Nurseha, begitu nama perempuan yang
dibawanya, ditemukannya di sebuah panti pijat.
“Kami akan kawin,” kata Kakutani
kepada Okayama.
Waktu ada kesempatan berdua
Kakutani dan Okayama, Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan
tidak banyak permintaannya. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya. Dan
saya sepakati. Nampaknya agamanya kuat. Cuma keadaan ekonominya saja
yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat,” kata Kakutani setelah
didesak di mana mereka bertemu.
“Kalau sudah begitu, apa bisa ia
sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu.
“Ia berjanji. Dan kamu yang
mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah, bukan?
Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji, cuma kalau
bersama saya ia akan ke luar rumah.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang
telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini. Ia bisa menghapus apa yang
sudah-sudah. Yang dipentingkannya hari depannya.
“Bagus, bagus kalau begitu,” kata
Okayama. ”Dan soal tanah itu, bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat
pada tanah yang sudah diinjaknya bersama, di samping tanah Michiko.
“Jadi. Tentu saja jadi. Itu kan
benar bagus. Dan benar murah,” kata Kakutani. “Sesudah kami nikah, saya akan
belikan istri saya tanah yang itu.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius.
“Kapan akan nikah?” tanya
Okayama-san.
“Secepatnya,” jawab Kakutani-san.
***
Benar juga. Tidak lama setelah
itu. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi, disaksikan oleh
Okayama. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu, setelah Kakutani
memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya.
Tanah di Sindanglaut yang
berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya.
Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. Tetapi
terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji, bahwa kalau sampai ia dan
suaminya bercerai, uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. Nurseha
merasa pintar. Ia sudah menghitung, bahwa nilai tanah akan cepat naik, dan uang
rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah. Tetapi Kakutani-san merasa pintar
juga, ia merasa senang, bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu,
di tepi pantai yang lautnya biru, cerah langitnya, dan gelombangnya amat
memikat. Apalagi di pagi hari, atau di sore menuju senja. Dan ia pegang
surat-surat tanah itu.
“Mustahil aku bisa punya tanah
sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri,” pikir Kakutani. “Aku akan
sering saja berada di sana.”
***
Di sebuah organisasi di kotanya,
Kakutani punya sahabat akrab, Kanazawa-san, tempat ia menceritakan rahasia
hidupnya. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang
dibelinya, atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat,
tapi sekarang sudah jadi istrinya.
Kanazawa-san, pemborong bangunan,
tergerak juga hatinya. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang
diceritakan temannya. “Benar murah,” pikirnya, setelah ia membandingkan dengan
harga tanah di negerinya. Soal jarak Jepang - Indonesia, tak dirasakannya jauh.
Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia
dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu.
“Tapi bagaimana kami bisa membeli
tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya.
“Bisa. Pasti bisa. Kata orang di
sana, di sana segala bisa diatur. Pasti ada cara-caranya. Apalagi sekarang,
segala di sana sudah terbuka. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana,
untuk usaha. Tetapi yang pasti lagi, kita bisa tinggal di sana semusim-semusim.
Kalau musim dingin di sini, dan kamu merasa encok di sini, kita bisa tinggal
di sana. Di sana kan selalu ada matahari. Percayalah, kamu akan senang tinggal
di sana. Pantainya bagus. Lautnya bagus, bagus sekali. Kamu tidak akan bisa
membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini.
Tentu yang ukurannya luas yah,” kata Kakutani.
***
Kanazawa-san terbang bersama
Kakutani dan Okayama ke Jakarta. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut.
Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu.
“Bagaimana cara membelinya?” tanya
Kanazawa.
“Ini, ini orangnya yang bisa
membantu kita,” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di
Kecamatan di Sidanglaut, yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko
dan Nurseha.
“Bapak ini, Pak Kosasih, bisa
menolong kita,” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih.
Kosasih yang pernah membantu kedua
orang itu dengan urusan tanah di sana, dengan kebutuhannya, tersenyum lebar. Ia
tentu saja senang. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan
orang- orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari
lumayan. Tetapi, sebenamya hati nuraninya pernah goyang, terasa tak menentu,
tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. “Tak ada
kesalahan saya,” pikirnya. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya.
Yang kedua kali untuk istrinya. Orang kita-kita juga. Sah-sah saja,” pikirnya.
Okayama dan Kakutani lalu mengajak
bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. Sudah tergitik juga hati
Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. Ia
mengetahui, ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah
Michiko. Tanah itu bekas perkebunan kecil, tapi sudah tidak terurus. Dan akan
dijual. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko.
“Tidak jadi soal. Rumah-rumah
kampung itu bisa dipindahkan,” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. Ia pun
yakin, bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. “Apa yang tidak bisa
dengan uang?” pikirnya.
Ketiga orang Jepang itu pergi ke
tanah bekas perkebunan kecil itu, dibarengi oleh Kosasih dan dua orang
kawannya, seorang yang lebih tua, Ramdan, seorang lagi yang lebih muda,
Garnida.
Ada kekurangan di tanah bekas
perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san. Tetapi Kosasih, lewat
Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia, bisa meyakinkan, bahwa
kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. Tanah itu tidak
nempel pada pantai.
Kanazawa-san menginginkan membuat
semacam hotel di sana.
“Tetapi hotel akan laku kalau
menempel pada laut,” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani.
Kosasih seperti bisa menangkap apa
yang diinginkan oleh Kanazawa. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama:
“Kami bisa atur. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. Tanah yang
menghalang-halangi itu, antara lahan ini dan laut, bisa diatur supaya jadi
jalan ke pantai. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini,” kata Kosasih sambil
menarik wajah senyum dan meyakinkan. Ia pun yakin dengan uang segala bisa
beres. Ia merasa, bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten
akan setuju, sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja
dengan tanah bekas perkebunan kecil itu.
Ia berpikir lagi. “Ini jadinya
proyek pembangunan.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja
di kepalanya, tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. Kata pembangunan itu
mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya.
“Pasti bisa! Pasti bisa!” kata
Kosasih kepada Kanazawa. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah
Kakutani, lalu ke arah Okayama, meminta dukungan. Ia menunggu kepastian.
Ketiga orang Jepang itu
mengangguk-angguk. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. Kosasih
mendengarkan saja, tak mengerti sepatah kata pun, tapi harapan menyelinap di
antara perasaannya.
“Ya, asal benar bisa diatur
begitu, tuan Kanazawa tertarik," kata Okayama.
***
Selang beberapa waktu,
Okayama-san, Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi.
Mereka tidak membuang waktu. Sindanglaut mereka tuju.
Masing-masing mengatur
kepemilikannya. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya,
Subarkah, sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka cita-citakan. Rumah
tua sudah dibongkar. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. Kakutani-san pun
langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal
dihuni bersama Nurseha. Ia tidak kepalang bergerak, segala bahan yang
diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya. Tinggallah nanti ia
mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang
bakal membangun rumahnya itu.
Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai
dari Kecamatan Sindanglaut. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada
di sekelilingnya.
Rencana bangunan hotel sudah siap.
Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. Dengan duit, apa yang
tidak bisa dibereskan di kampung ini, pikirnya. Dan ia sudah jadi lebih pandai,
atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa
penting.
Penghuni beberapa rumah yang
menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk
pindah. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya. Orang-orang
Jepang itu tidak tahu. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa.
Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah
diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan, di kantor Kabupaten, malahan di
kantor Gubernuran, sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya
uang banyak. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. Sebab memang setelah
diperhitungkannya, masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di
negerinya.
Maka pembangunan dimulai di daerah
itu.
Nampak sekali ada kesibukan di
wilayah yang tadinya kampung itu. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu,
karena bukan saja Okayama-san, Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun
di sana, melainkan ada Saito-san, ada Tanaka-san, Takahashi-san dan
beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik, melainkan sudah mulai
membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan, sawah musiman dan kebun
terlantar itu.
Orang-orang Jepang itu mendengar
kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. Brosur-brosur pariwisata pun
sampai pada mereka. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu
benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo, atau yang
di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. Mereka seperti sudah berpikir,
bahwa dunia ini untuk kita semua, untuk semua penghuni bumi. “Untuk siapa saja,
untuk kita, yang bisa membelinya dan membangunnya,” pikir mereka. Untuk pihak
yang pintar, pikirnya. Ya, semua kedudukan pun bisa kita capai, pikir mereka.
Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri
mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka, keturunan mereka.
***
Maka ramailah pembangunan di
Sindanglaut. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan
dari Jepang. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu, istri, sahabat
dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan
rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka.
Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk
bangunan Jepang.
***
Pak Marta datang di Sindanglaut.
Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah, sahabat kentalnya, bahwa
di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave,
daerah kantong Jepang.
“Siapa yang salah?” pikirnya, lalu
ia sebentar merenung.
Ia menjawab sendiri: Okayama-san
adalah mertua Subarkah. Michiko adalah istri Subarkah. Nurseha adalah istri
Kakutani. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam
modal. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. Saito-san idem
dito. Okahara-san sami mawon. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa
sulit dirasakannya. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi
dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. Garnida sudah naik
motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya.
Lebih dari duapuluh orang Jepang
sudah membangun di daerah Sindanglaut itu, di atas tanah yang lebih dari
dua ratus hektar. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah
berubah catatannya.
Tinggallah Ramdan yang berjongkok
menatap orang-orang yang sedang mengangkat-angkat kayu dan besi itu dari
kejauhan. Bukan saja hatinya terganggu, gamang, untuk ikut serta dalam pembangunan
itu, tetapi ia sudah tua. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. Di hatinya ia
merasa tertinggal, karena rumahnya pun sudah tergusur.
“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak
tergusur, Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di
depannya. Suara Ramdan terdengar melas sekali, menyayat hati orang yang
diajaknya bicara.
Pak Marta tidak sanggup menatap
wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu. Ia arahkan tatapannya ke
kejauhan, ke langit yang bersih, ke kaki langit, ke lautan yang biru, ke ombak
yang bergelombang.
“Pilihanku benar,” kata Pak Marta
kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya. “Tempat ini bagus, benar bagus.
Tetapi....” Ia tidak meneruskan ingatannya. Ia seperti menelannya.
“Jangan jongkok terus begitu,
Bapak,” ajak Pak Marta kepada Ramdan. “Duduklah di sini. Di sini masih ada
kursi.”
Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta,
bangkit dan duduk di kursi.
“Bagaimana perasaan Bapak melihat
kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. Ia sendiri diliputi beberapa
pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. Ia gundah, terjepit antara sesal
dan senang. Ia ingat, permulaannya amat sederhana. Kelanjutannya jadi amat
serius.
Dengan ragu, Ramdan, orang tua
itu, menjawab: “Entahlah. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu,
Pak Marta.”
Pak Marta cepat mengerti.
Sementara itu Kosasih datang. Ia
menarik wajah gembira. Mukanya pun nampak licin, bersih. Sudah gemukan bentuk
badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. Pakaiannya serba baru dan
mencolok. Kendaraannya, mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya.
Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa. Ia merasa berjasa, terutama
kepada istri-istrinya, anak-anaknya, orang tuanya, mertua-mertuanya. Ia sudah
bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di
televisi yang ia saksikan di rumahnya.
“Berapa umur Bapak?” tanya Pak
Marta kepada Kosasih. “Tidak mengalami jaman Jepang?”
“Ah, saya belum lahir waktu itu,”
jawab Kosasih.
“Bapak bekerja di Kecamatan, kan?”
kata Pak Marta.
“Ya, Pak. Tadinya saya mau
dipindahkan ke Sukabumi, tapi saya menolak. Daerah ini mesti dibangun, Pak.”
Ia setengah membusungkan dada. Hati kecilnya berbisik jujur. “Di sini lebih
menguntungkan.”
Di tengah itu Garnida muncul
dengan menaiki motornya.
“Wah, kamu sudah punya motor
segala sekarang, yah,” kata Pak Marta.
“Alhamdulillah, Pak,” kata
Garnida.
“Maju yah. Hasil kerja di sini?”
tanya Pak Marta.
Ramdan mengetahui silsilah
pembelian motor itu. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya,
rumah orang tuanya, digusur,
“Ya, Pak Kosasih membujuk kami,
Pak,” kata Garnida. Ia bicara sesungguhnya. Ia tidak menatap ke masa depan,
juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau. Ia terhitung
pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di
layar kaca dan hanya memikirkan masa ini, hari ini, saat ini, detik ini.
Sekali Garnida bertatapan muka
dengan Ramdan. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Tak ada jembatan
penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. Dan yang tua
serta yang muda, sudah seperti kelelahan jika harus berpikir.
Suasana pun seperti direka untuk
jadi demikian.
Sementara itu pembangunan di
daerah enclave berjalan terus, mengikuti pihak yang menginginkan. ***
*) Enclave = Daerah kantong.
(Dimuat dalam Horison, September 1997)