HONOTJOROKO

PROPAGANDA

   

ah indonesia ? i love yu

     
       Aku adalah seorang bumiputera, Indonesia tumpah darahku. Katanya sih 
masyarakatku ramah-ramah dan bersahabat. Aku sudah lupa telah berapa kali 
terjadi suksesi di negeri ini, sebagai orang kecil, aku tidak terlalu 
mengambil pusing hal itu, wong buat makan sehari-hari aja susah. Aku 
tumbuh dan besar di bumi nusantara ini. Sejak kecil aku diajarkan untuk 
selalu menghormati orang lain, walau kadang aku tidak mendapatkan imbalan 
yang setimpal untuk penghormatan tersebut, tapi tak apa-apa kog, dulu 
sih waktu di desa yangmana kehidupan diatur oleh sebuah sistem yang 
dinamai nilai-nilai dan norma, aku masih bisa merasakan keakraban aku 
dengan manusia lainnya. Tapi sekarang, kata orang-orang cerdik cendikia, 
nilai-nilai dalam masyarakat telah bergeser seiring dengan kemajuan zaman, 
aku tak tahu bergeser kemana. Masyarakat dengan semua nilai yang 
terkandung didalamnya tidak lagi menjadi kontrol sosial yang efektif.
Sejak terjadinya krisis multi dimensi, semua orang aku rasa adalah 
srigala buas, yang siap memangsaku ketika aku lengah. Segala sesuatunya 
telah diatur oleh sesuatu yang bernama materi.
Anda tidak akan dihormati di Indonesia ini kalau anda tidak punya uang, 
rekanku sesama manusia, sibuk beraktifitas tiap hari, untuk mencari 
uang. Ada lagi, malah cuma duduk diam-diam bisa dapat uang. Macam-macamlah 
pokoknya cara orang mencari uang, yang konon adalah untuk memenuhi 
kebutuhan ekonomi mereka sesuai dengan wejangan Adam Smith. 
Berbagai lapangan kerja tersedia sebagai tambang uang, ada yang jadi 
montir, sopir, pilot, anggota dewan, presiden, kuli bangunan dan 
lain-lain. Smeua orang berkompetisi untuk mencari penghidupan yang layak. Layak 
ukuran nya relatif, layak menurut aku , belum tentu layak menurut 
Prayogo Pangestu. Hidup adalah kompetisi, dan hidup adalah bagaimana meracik 
strategi yang jitu untuk memenangi kompetsi tersebut, jika brhasil kita 
boleh lah mnertawakan rekan manusia yang lain, yang tidak berhasil, 
hahahahahaha ( becanda ding ). Sebenarnya ada pakem dalam hidup, ada yang 
mengatur, ada nilai-nilai kebenaran yang hakiki, kita dikarunia Tuhan 
dengan akal/logika untuk mnimbang baik buruk, masuk akal atau tidaknya 
sesuatu, kiata dikarunia rasa estetika untuk menilai seni dan keindahan 
hidup dan untuk mengukur kebenaran, kita dianugerahi nurani. Ada 
aturan, Rule of Life, agama. Tapi sekarang semua rekan manusia ku,maaf?ampir 
semua rekan manusia ku sudah lupa dengan hal tersebut. Agama h!
anya dijadikan kendaraan untuk menuju sesuatu, bahkan ada yang shalat 
hanya untuk mencari istri, agama dalam prakteknya hanyalah budaya, agama 
hanya ?da?pada saat-saat tertentu saja, sehingga menjadi semacam 
caremonial. Tak salah,jika dikatakan oleh siapa itu namanya?aku lupa,?
beragama karena candu? Orang bergama karena takut terhadapa 
masyarakatnya, bergama bukan karena keyakinan yang utuh terhadap Tuhan, kita terlalu 
takut terhadap justifikasi masyarakt. tolong jangan ada yang tesinggung 
dengan tulisan ini. Hampir semua orang bergama, tapi tidak 
mempraktekkan ajaran-ajaran luhur dari agama tersebut. Buktinya negeri kita 
kacau-balau karena orang-orang serakah yang mau memerah negeri ini, mereka 
tidak punya malu untuk terang-terangan mencari kekuasaan dan uang, 
masyarakat adalah komoditi empuk untuk dieksploiatasi, padahal meraka adalah 
orang beragama, korupsi mewabah dihampir semua lini kehidupan kita, 
korupsi waktu dan korupsi uang. Tak peduli birokrat, kuli bangunan!
pun kadang korupsi. Dari elit pemerintahan sampai badan-badan 
mahasiswa, pokoknya korupsi sudah menjadi budaya. Fakta ini sudah tidak bisa 
dibantah. Hanya beberapa gelintir orang yang ?ersih?di negeriku. Hampir 
semua kita pernah korupsi, baik waktu maupun uang. Karena tikus-tikus 
tersebut negeri ini melarat, semua sistem amburadul. Sistem 
transportasi, telekomunikasi dan pemerintahan awut-awutan. Hampir tidak ada sistem 
yang bagus di negeri ini, masyarakatku feodal. Diatas kertas selalu 
bagus, tapi kenyataan dan prakteknya, ambuadul bin sembrawut. Hanya 
jargon, tak lebih dari itu. Politisi pandainya cuma berteriak, dan mengumbar 
janji-janji. Sopir angkot pun masih meanikkan penumpang walaupun sudah 
penuh, tuslag di naikkan seenak perut pengusaha bus ketika musim mudik 
datang,penumpang berdesakan, tapi mereka tidak peduli dengan 
keselamatan penumpang. Manaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat. Ah 
sagat kacau, tak heran kalau dalam beberapa bulan terakhir banyak!
nyawa manusia melayang karena kecelakaan kereta api atau bis, 
seakan-akan si sopir belum puas kalau bis atau angkotnya belum sesak oleh 
penumpang, yang ada di kepala mereka hanya setoran dan pitih patah. Aku 
sering mengalaminya, padahal overload penumpang tadi sangat rentan 
kecelakaan. Mungkin hanya contoh kecil tersebut sekilas aku bisa paparkan, 
pasti rekan manusia yang lain bisa menemukan fakata-fakta yang tidak ideal 
lainnya.
Kita sudah masuk dalam sistem yang kacau tersebut, tanpa punya daya 
untuk merubahnya. Mahasiswa yang katanya agent of change juga menjadi 
sosok yang impoten. Datang ke kampus, dan memikirkan bagaimana memperoleh 
IP tinggi dan cepat tamat. mahasiswa dikebiri karena memang mau 
dikebiri. Kita tidak mau pusing-pusing memikirkan sistem yang kacau, karena 
sangat ruwet dan tak tahu ujung pangkalnya, sehingga tidak bisa dicari 
tahu pemecahannya harus di mulai dari mana. Pernah sih , nama mahasiswa 
sangat disegani semua lapisan masyarakat, apalagi setelah menggulingkan 
rezim Orde Baru, tapi itu dulu?dulu bana ko ah. Semangatnya hanya 
bersifat temporer. Hanya untuk melengerkan Soeharto, bukan reformasi total 
dan kontiniu seperti yang di tuangkan diatas kertas. Kita bahkan tidak 
bisa untuk membenahi diri sendi ri dan lingkingan kita, menyedihkan dan 
menyesakkan. Beberapa mahasiswi tempo hari hampir disetiap sudut 
kampus, saya dengar bercerita tentang selebriti si anu atau tentang fash!
ion yang lagi up date saat ini. Sedagkan mahasiswa-nya sebagian banyak 
yang sibuk dengan adu balak dan ba-koa. Kampus bukan lagi tempat 
diskusi ilmiah, tapi telah berubah fungsi menjadi tempat yang beragam, kita 
terbius oleh sampah yang di bawa arus globalisasi,. Kita sudah sedikit 
sekali menyarinmg informasi. Hampir semua orang berprilaku konsumtif dan 
membelanjakan uangnya untuk kepentingan yang berlabel prestige dan 
memikirkan bagaimana meningkatkan status sosial. Kondisi ini di picu oleh 
arus informasi yang tidak terbendung dan datang bagai air bah. 
Iklan-iklan di layar tivi merangsanag birahi kita untuk membeli produk-produk 
yang mereka tawarkan, tanpa memikirkan utility-nya. Tayangan sinetron 
indonesia, yang diyangkan semua satasiun tivi Indonesia berpotensi merusak 
mental generasi muda dan tua, semuanya menjual mimpi, dan kita senang 
dibuai mimpi, klop lah akhirnya. Kuis-kuis berhadiah sebagai ampas dari 
kaum kapitalis menjamur. Ukuran hidup sudah jelas, yaitu uang. T!
ak peduli birokrat, tukang cukur, akuntan, sopir bahkan akdemisi, 
tega-teganya menggarap proyek yang memuat data bohongnya demi uang. Kita, 
sadar atau tidak memang telah dikendalikan oleh uang. Karena dengan uang 
kita bisa membeli mimpi, membeli gaya hidup, membeli prestige, membali 
gelar Doktor, bahkan membeli wanita. Uang punya peranan penting, sangat 
penting malah,. Aku hidup dalam masyarakat yang sakit, aku juga 
masyarakat, berarti aku juga sakit. Sekian, dan selamat membayar hutang IMF.

(<back)
penulis adalah ilham zikri seorang teman yang berpikiran maju

 

 TM and © 2002 honotjoroko.cjb.net, LLC. All Rights Reserved. Property of van_sxe. Use of this website constitutes your acceptance of these Terms & Conditions and Privacy Policy. The materials on this web site are not to be sold, traded, or given away. any copying, manipulation, publishing, or other transfer of these materials, except as specifically provided in the Terms and Conditions of Use, strictly prohibited

ALL RIGHTS RESERVED 

[email protected]

REMEMBER LABEL KILL YOU

 

history

news

picture

gears

freaks

guestbook

link

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1