|
| |
Kang Ismet
Konduktor tanpa kostum penguin Rampak Sekar
Dibawakan oleh Euis Komariah, Ida Widawati, Yus Wiradiredja cs, diiringi Organisasi Seni Ganda Mekar pimpinan pak Tatang Benyamin, putra mendiang mang Koko. Nayaga Ngaben
Beginilah kira-kira yang tampak di panggung kalau nayaga teureuh si Cepot ngaben. Bukan, bukan upacara membakar mayat seperti yang di Bali itu. Base Drum
Ada yang usul, katanya musik Sambasunda itu bisa lebih asyik lagi jika ditambah bum-bum nya base drum. Ladalah, padahal kami belum berpikir untuk menambah instumen itu dalam team. Dan kalaupun iya, base drum itu haruslah beda dari yang dipakai kebanyakan. Maka buat mengakomodasi saran itu, dipinjamlah sepasang bedug dari mesid jami Al... eh, studio Karawitan STSI Bandung. Nuhun ah pak Ucu, pak Oling...! Main di Kebon
Salah satu yang menarik dari pentas SdTS adalah setting arenanya yang ndeso, lengkap dengan segala macam tanaman seperti pohon pisang, pohon bambu, padi ladang dll. Apalagi ditunjang dengan penampilan Sambasunda yang rata-rata berwajah kampung, klop sudah! Efeknya lumayan terasa, walaupun kami main dihadapan para pejabat, rasanya tak beda seperti kalau kita main di...kebon. Main di Refrigerator
Harus ada alasan yang masuk akal, kenapa pihak Hotel Mulia menggeber mesin pendingin ruangannya hingga menggigilkan, justru pada saat suasana seharusnya "hangat". Bagaimana tidak, udara yang terlalu dingin sama sekali tidak mendukung mood bermain. Daripada "nafsu", malah beser, mati rasa, ngantuk dan kesemutan.
Hampir saja kami tak percaya waktu mendengar katanya pertunjukan ini sukses besar. Bagaimana mau percaya, kami lihat kecuali yang dibarisan bu Mega, semua penonton menyilangkan tangannya erat-erat didepan dada. Padahal apa kata ilmu psikologi mengenai sikap tubuh ini?
Dimanapun diseluruh dunia, sikap penonton itu sangat penting bagi entertainer yang tampil di panggung. Sebagai feedback bagi mereka, apakah audiens suka akan apa yang mereka tampilkan atau tidak. Main Mata
Apa jadinya kalau jarak antar pemain terpisah lebih dari sepuluh meter? Apalagi jika musik yang dibawakannya adalah rampak kendang. Maka, daripada tulalit, sering-seringlah main mata. Doel Sumbang dan Asem Keranji
Ada dongeng menarik selama proses latihan dengan kang Doel, yaitu cerita mengenai asem keranji. Kalau penasaran, tanyakan saja langsung padanya. Perempuan di Sarang Penyamun
Eleven O'C tampil sebagai bintang tamu di SdTS ini. Adalah Sambasunda yang ketiban durian runtuh untuk menjamu musisi-musisi belia ini. Makanya tak heran kalau mereka tampak lebih akrab dengan Sambasunda ketimbang yang lainnya. Tentu saja itu bukan lantaran anggota-anggota Sambasunda lebih ganteng-ganteng jika dibandingkan, misalnya saja dengan kelompok Glamor, Ganda Mekar, ataupun Saung Angklung Udjo. Cilok
SdTS melibatkan 250-an seniman, calon seniman, atau yang terpaksa jadi seniman. Susah juga untuk bisa akrab dengan orang sebanyak itu, walaupun proses latihannya berbulan-bulan. Terlalu banyak muka baru yang berseliweran sekitar kita, sehingga kebanyakan lebih asyik berkumpul dengan kelompoknya sendiri-sendiri.
Tapi itu tidak berarti 'cilok' (cinta lokasi) sesuatu yang mustahil. Karena ada saja terdengar kisah-kisah romantis yang terdengar. Ada yang mengharukan atau sebaliknya bahkan menggelikan.
Berkembang juga kisah mengenai 'kabel'; kabel pendek atau panjang. Yang beruntung tentu saja yang "wireless" tanpa kabel sama sekali. Yang kurang beruntung mungkin akibat kabelnya yang kusut, teramat pendek, atau sering korslet. Yang paling tragis adalah kabel yang terbakar, tidak hanya kabelnya, tapi juga pabriknya sekalian. Foto Bersama Seniman dan Tentarawan
Anda dapat melihat perbedaannya kan? Karangan Bunga dari bu Mega
Kang Ismet, bu Indrawati, kang Acil dan "Amin Rais" kecil mendapat karangan bunga dari Presiden. "Kapan bisa main di Istana?", katanya. Kapan atuh bu?
Kang Ismet
Konduktor tanpa kostum penguin
|