Cruise ke Amerika Selatan # 13

Sabtu, 31 Januari, hari ke 14 cruise kami dimana kapal seharian di Samudera Pasifik dan baru esok pagi kan tiba di Valparaiso, Chile. Kota yang saya sebut "Tanjung Prioknya" Santiago itu, jangan disamakan dengan Priok. Sebab ia adalah UNESCO World Heritage Site. Meskipun ibukota Chile adalah Santiago tetapi DPR-nya mangkal di Valparaiso. Kota ini sebetulnya cuma nomor 6 di Chile dengan penduduk 275 ribuan tetapi bila digabungkan dengan beberapa kota di sekitarnya, termasuk resort Vina del Mar untuk menjadi metropolitan Valparaiso, penduduknya mencapai 900 ribu dan nomor dua terbesar. Kota tua ini menjadi makmur di abad ke 19 ketika dijadikan pelabuhan singgah semua kapal yang melintasi Selat Magellan. Sejak ada Panama Canal, perekonomiannya menjadi tidak oke. Namun di tahun-tahun terakhir ini, a.l. karena disinggahi sekitar 50 kapal cruise dalam tempo 4 bulan di musim panas, Valparaiso oke kembali ekonominya. Karena letaknya yang sejauh 120 km dari Santiago, maka kami hanya selintasan saja melaluinya tapi dari foto-foto bacaan maupun di hari Minggu kemarin ketika turun dari kapal dan berangkat menuju Santiago, terlihat keindahan dan antik maupun uniknya Valparaiso. Itu salah satu sebabnya ia dipilih UNESCO di tahun 2003.

Sekitar 1 jam di bis, melalui jalanan tol yang cukup mulus dan melintasi perbukitan yang mirip Puncak tapi Chile di bagian sini lebih gersang, sebab terlihat gurun disana-sini, kami tiba di airport. Kebetulan kami sebis bersama Karen dan Barry, prens semeja-makan selama 2 mingguan. Mereka ikutan wae saya atur untuk taruh koper di locker di airport. Nego dengan calo taksi untuk berapa duit ongkos city tour. Dapet taksi yang supirnya bisa Inggris dan ongkosnya US$ 35 seorang, 70 berdua atau 90 ribu peso. Karena mereka engga terima credit card, Barry pemberani keluarin kartu ATMnya dan langsung ambil 100 ribu peso, 90-nya kami kasih bos si calo taksi, 5000 buat tips calo dan belakangan supir taksi si Guillarmo kami kasih 6000 peso tips. Saya itungin buat si Barry yang terima setuju sahaja sebab hepi banget bisa ikutan city tour daripada Jeha Outfitter :-) sebesar CAD$ 100. Saya bilang kalau nanti dari tagihan ATMnya segitu kurang, kasih tahu saya. Bule orangnya engga beritungan dan langsung bilang 'don't worry about it'.

Lumayan juga kami diajak kelilingan oleh pak supir yang lahirnya di kota ini alias tahu jalan dan tempat yang oke untuk dikunjungi. Kota metropolitan ini cukup luas dengan penduduk 6.6 juta dan didirikan pada tanggal 12 Pebuari 1541 alias lebih muda 100-an tahun dari Betawi umurnya. Oya, ikut city tour dari Royal Caribbean ongkosnya US$ 159 per orang dan belum tentu mereka pergi ke tempat-tempat "aneh" yang kami kunjungi selain ke beberapa tempat umum turis nyatronin seperti alun-alun Santiago. Disitu ada Katedral Santiago yang indah sekali bangunannya maupun dalamnya ketika kami masuk. Pas ada Misa karena hari Minggu tetapi lantaran sedang 'tour' kami engga bisa ikutan. Selain itu, di kapal sudah ikut Misa di hari Sabtu sorenya di dalam bahasa Inggris yang dirayakan oleh Father Tito, anak item dari Puerto Rico. Satu tempat yang menarik sahaya adalah ketika Guillarmo nyetir ke atas suatu bukit dimana ada patung Bunda Maria di puncaknya. Bukit itu tempat rekreasi wong Santiago di akhir pekan, terutama para penggemar bersepedanya alias anak muda. Lumayan terjal dan panjangnya, meskipun saya fit, belum tentu saya kuat nanjak ke atas dengan perut tambun habis makan uenak 3 kali sehari sekenyangnya :-).

Mong-ngomong fit, ada satu event mengenaskan yang dialami sekapal terutama oleh Karen. Ketika ia sedang santai di ruangan berkolam renang bernama Solarium, tiba-tiba nyonya di sebelahnya menjerit-jerit "Sancho, Sancho". Di sebelahnya tergeletak suaminya yang mendadak pingsan. Kata Karen ia sempat melihat mata si suami terbeliak dan juga ia lihat ketika Senor Sancho diCPR. Umurnya masih muda kata Karen lagi. Belakangan tersebar berita tak resmi maupun kemudian berita resmi bahwa Sancho tewas di sore itu. Mayatnya dilihat dibawa ke dalam ambulans oleh Bruce dan Leslie, prens kami semeja lainnya ketika kami mendarat di Puerto Montt. Tadinya saya kira ia terkena serangan jantung namun kata Karen, ada darah keluar dari hidungnya. Dugaanku pembuluh darahnya ada yang pecah alias kena stroke. You never know when your time is up man.

Karena sudah kembali ke Toronto dimana inilah cruise kami yang terlama, Anda mungkin bertanya apakah bagus atau 'worth it' ke South America. Tergantung apa yang Anda cari. Saya dan nyonya senang bisa melihat suatu bagian dunia lain dan karena tujuan cruise kami bukan untuk syoping atau melihat keramaian dunia, maka kunjungan kesitu cukup mengesankan. Dengan perkataan lain, 'it was worth our while'. Apalagi bisa sampai ke Cape Horn maupun Ushuaia, dua tempat yang dicita-citakan didambakan pelaut sedunia. Demikian juga bisa mendarat di Falkland Island, pertama kali untuk Radiance of The Seas. Di ruang tunggu airport saya menguping pembicaraan dua penumpang cruise lain yakni Regent of The Seas dan Queen Mary dimana angin yang kencang ketika mereka ada disitu, membuat kapal tidak bisa mendarat di pelabuhan tujuan mereka. Awak kapal juga mensyer bahwa tidak biasa cuaca bisa setenang itu di Cape Horn. Kalau Anda masih ingat, angin mencapai 100 knot di Selat Magellan ketika kami berangkat dari Punta Arenas ke Puerto Montt. Kata kapten, angin sekencang itu sudah merupakan hurricane level 1. Jadi pengalaman kami cukup banyak dan serba mengesankan serta sekali lagi terima kasih atas dukungan restu dan doa-doa Anda semua yang kami percaya sudah membuat kami bernasib mujur demikian. Sampai berjumpa di cruise Bang Jeha yang berikutnya, insyalah.

Home Previous

Hosted by www.Geocities.ws

1