** oleh : herihardianto (yadi ) Denpasar @BALI ``cisaat , Situ Gunung Sukabumi 1992  ** untuk seorang sahabat yang lekat dalam setiap gerak langkahku, aku rindu kamu De.

 

 

 

 

Perjalanan waktu telah meninggalkan kita yang selalu saja terlena dengan bayangan masa lalu. Cinta tak selalu harus memiliki , jika kita ingin berpaling dari yang kita sukai cukup dengan memejamkan mata, maka hilang lah rasa itu , namun jika kita memejamkan mata dari orang yang kita cinta maka cinta itu berubah menjadi tetesan air mata yang selalu mengalir setiap kita mencoba untuk melupakannya

Malam semakin kelam

Mentari telah beranjak ke peraduannya, di gantikan oleh pelukan malam dengan jubah kelamnya datang. Gelap menguasai alam sekitar. Tinggal tersisa urutan terakhir dari kekuatan surya itu di dalam api.

Sinar api unggun menerpa sekitar sejauh tiga meter dari sumbernya. Perkemahan ini serasa tenggelam dalam kelamnya malam. Aku tetap saja sendiri di depan api unggun, membelakangi tenda  yang kosong.

“ Belum tidur juga ?” tanya satu suara. Aku mencari datang nya suara, kutemukan seraut wajah tampan menatap ku dengan segaris senyum manis.

“Belum.” Jawabku pendek seraya mengalihkan pandangan ke api unggun. Dia menghampiri dan duduk disampingku. Aku merasa kikuk karena dia begitu dekat sekali  hingga kurasakan desah napasnya.

Ntah lah. Dalam hati selalu saja aku temukan satu nama yaitu dia dalam hatiku. Aku selalu saja menjadi serba salah bila kudekat dengannya, apalagi saat dia menatapku.

“ Yang lain kemana ?” tanyanya padaku. Wajahku masih tetap menatap perapian yang kian lemah kuasanya.

“ Siapa ?” dia balik bertanya.

“ Loooo..itu temen yang lain kemana , kok tenda di sana kosong ?” kali ini aku menatapnya. Deg,  hatiku berdegup  saat mataku beradu tatap dengannya. Ohh, entah mengapa selalu saja aku merasakan hal itu saat bersama mu, mengapa selalu tergetar dan tersentuh hati saat menatapmu. Dia hanya tersenyum, secepatnya kupalingkan wajah ku dari senyum itu.

“ kenapa? , nah tenda ini juga kosong pada kemana temen mu ?” dia balik bertanya. Tangannya terjulur kedekatku, aku diam. Namun tangan itu hanya mengambil sebatang kayu kering di dekat kakiku saja. Aku menatapnya , kembali dia berikan seulas senyuman.

Aku diam dan tetap mengarahkan pandangan kearah api unggun. Malam semakin larut saja. bergulir di iringi dengan datangnya dingin merayapi sekitar hutan ini. Sisa kekuatan sang surya benar hilang, hanya terpantul di bintang –bintang yang kerlap kerlip. dan juga terdampar di setiap sudut rumah penduduk dengan sinar nya yang kecil. Lampu di rumah penduduk yang kulihat dari sini seperti bintang yang berkelap kelip.

“ Lama juga yach mereka kewarungnya ?” Dede membuka percakapan lagi setelah beberapa menit kami terdiam.

“ Iya “ jawabku pendek saja. aku tak ingin menanggapi lebih jauh percakapannya.lebih banyak ku layangkan ingatan ku pada saat pertama kali aku mengakui kalau aku jatuh hati padanya. Dulu saat aku masih kelas dua , ntah dari mana datang nya bisikan hati untuk mengakui semua ketampanan dari dirinya. dan aku selalu saja kagum atas semua sikapnya dan juga semua geraknya.semakin lama aku semakin tersiksa dengan diriku sendiri . Hingga tibalah saat itu aku datang kerumahnya di saat dia sakit parah.

“ Terimaksih kamu datang menengokku” katanya padaku saat itu. aku datang dengan sekaleng biskuit yang memang telah kusiapkan sebelum kerumahnya.

“ Yah, tak apa . aku dengar kamu dari kawan satu kampungku , kalau kamu sakit makanya aku datang begitu mendengarnya.”

“ wach bawa apa tuh ?” matanya menatap kearah kantong yang kubawa. Aku meletakannya di meja depan dia.

“ Aku bawakan biskuit untukmu agar bisa kau makan saat kau tak mau makan nasi , camilan lah “ jawabku pendek.

“ Makasih ya”

“ Ok.tak apalah, eh , apa kata dokter soal sakitmu ?”

“ lambung ku kumat dan sakit sekali saat menelan apapun juga.”

“ ehmmm...itulah kalau kau telat makan, makanya makan dong jangan suka sibuk terus ngurus orang sampai kamu sendiri lupa makan.” aku menukas perkataanya. mataku berkeliling mencari ibu .

“ Loh ibu mu kemana?” tanyaku setelah aku tak menemukan yang aku cari.

“ Lagi pergi kerumah tetangga, ikut bantu disana , soalnya tetanggaku itu mau hajatan”

“ Ohh”

“ Kamu nginep yach disini “

“ Aku ?!” tukasku dengan menatap matanya . Seulas senyum tersungging di bibirnya membuat aku  gelagapan, lalu kupalingkan arah pandanganku kelain tempat.

“ Iyalah , masa syetan seh “ dia bercanda

“ Sialan...” kulempar sebuah majalah kearah nya, dia berkelit di tempat duduknya.

“ Ngak deh . besok aku musti sekolah kan ..emangnya mau bolos  nemenin kamu ..ngak usah yachhh ..enak ajah ..kamu sakit masa aku ikutan ngak masuk sekolah “

“ Lohh kan kita temen , solider dong . masa bolos sehari ajah ngak boleh , lagian kan ngak papalah. yach , nginep yach ?” pintanya lagi.

“ Lihat ajah deh ntar yach” aku mengakhiri percakapan itu dengan berjalan dari hadapannya.

“ Loh , mo kemana?” De menatapku .Aku terus saja berjalan ke depan rumahnya dan duduk di teras menatap air pancuran yang jatuh ke kolam.

“ Hey tolongin dong !” De berteriak dari dalam rumahnya. Dengan sedikit meringis dia berusaha bangkit dari tempat duduknya. Aku melihat itu segera saja mendekati dan membantunya. Tangannya melingkar di bahuku, lalu tangaku memberi kekuatan dengan melingkar di pinggangnya.

“ Bisa kan?” tanyaku . Tak ada jawaban darinya , juga tak ada gerakan . Aku kaget dan menatap ke arah wajahnya. Dia asyik menatapku sejak tadi. Aku terdiam. seulas senyum tergores di bibirnya lagi menunjukan deretan gigi yang rapi.

“ Hush.! mo kemana sehhh !” aku menghentakkan tanganku di pinggangnya disertai membuang tatapan matanya. Dia malah tertawa keras dekat kuping ku,

“ ya udah kalau gitu.!” Aku lepaskan lagi tanganku dan beranjak dari sisinya. Namun tak kusangka, dia menjadi limbung dan jatuh ke kursi. secepatnya aku mendekapnya.

“kamu sih udah di tolongin malah ketawa. syukurin ! jatuhkan .” umpatku . namun  ada sedikit kasihan melihat mukanya yang meringis dan tanganya memegang perutnya.

“sakit yach?” aku duduk di sampingnya.dia tetap meringis. kucoba pegang perutnya. Dia makin meringis.

“ kenapa siiiihhh” aku tak sabaran melihatnya diam . “sakit banget yach?”. Dia semakin meringis..aku mulai panik melihat kondisinya begitu. Ku coba untuk ikut meraba perutnya dengan begitu dekat badanku padanya, telingaku berada dekat dengan bibirnya.

“ Ngak apa – apa !!!!!!! “ suaranya sangat keras sekali di telingaku..aku terkejut dan melihat ke arahnya dia tertawa keras sekali.

“ sialan !! dasar gila !!” aku merenggut marah . dan berusaha secepatnya beranjak dari posisi ku, namun dengan sigap dia menahanku dengan tangan di pundakku. Mata kami saling pandang untuk beberapa detik. Kutemui satu sinar di sana, dengan perlahan kupalingkan wajahku dari mata itu lalu berjalan keluar menuju teras. Dadaku berdebar tak keruan . aku kembali menatap air pancuran yang gemericik, seperti gemericiknya hati yang saat ini bergetar tak karuan.

“ kenapa diam ?” tanya De , dia sudah duduk di sampingku, aku diam saja.

“ De, aku mau ngomong jujur ama kamu “mataku masih tetap menatap air pancuran itu.

“ apa?”

“ aku…” kucoba menatap wajahnya.  ku lihat wajah tampan dengan sepasang rahang yang kuat serta kulitnya yang hitam manis menatap lekat kearah mataku.

“ apa ? ngomong ajah dong ?”

“ aku malu mengatakan hal ini padamu , namun aku selalu saja terperangkap dalam kebimbangan dan kegelisahan yang teramat penat di otakku.”

“ iya , apa sih ?” De terlihat penasaran dengan apa yang akan aku utarakan . dia semakin lekat menatap mataku. Alisnya yang tebal seakan terpaut jadi satu karena mencoba untuk menebak isi kepalaku.

“ aku tahu ini salah dan ini bukan yang kau mau . juga bukan yang kumau , namun aku tak bisa lagi untuk tak mengatakan padamu De, setiap hari aku selalu tersiksa dengan keadaan hatiku. Maaf kan aku bila kau akan marah padaku dan maaf kan aku bila kau menjadi benci padaku , aku harap kau mau mengerti dan memahami ku.” Aku berkata dengan semakin menatap kelam pada wajahnya. Dalam pikirku mungkin setelah ini aku tak bisa lagi menatap begitu dekat wajahnya karena mungkin dia akan membenciku. Sementara itu De semakin tajam saja menatap padaku .dia semakin bingung terlihat dari gerak mata dan bibirnya.

“ aku mohon kamu jangan marah atau membenci ku setelah tahu apa yang akan aku utarakan padamu “ aku menghela nafas ku dan kulihat semakin bingung saja raut wajah De,

“aku tahu De, ini salah dan aku tahu ini tak boleh aku katakan atau pun aku simpan sendiri .”

“apa sih ? kamu mau ngomong apa ?! “ tukas nya seakan ingin segera tau apa yang akan aku omongkan . aku diam dan menatap wajahnya. lalu aku ubah posisi duduk ku dan berlutut di depannya sambil kupegang kedua paha nya.

“aku tahu De, kamu akan marah , aku mohon kamu jangan membenci ku …aku telah jatuh hati padamu, aku tahu ini salah dan tak semestinya De, namun aku juga tak tahu mengapa aku mencintaimu” aku menatap matanya yang saat itu seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Namun tak lama mata itu kembali teduh dan membuang pandangan kearah lain , menghindar dari tatapan mataku.

“ aku tahu sejak lama soal perasaan mu padaku , dan ku harap kau juga tak marah jika aku katakan sesuatu padamu,  aku hanya ingin kita berteman saja . tak lebih dari itu, aku tahu itu semua memang sangat sulit untuk mu dan untukku, aku harap kau mau mengerti akan semua ini , aku juga punya teman yang sama seperti kamu dan aku dengannya tetap berteman baik.” De mengambil tanganku .

tiba –tiba saja sebuah jari telah menjentik hidungku. Aku gelagapan , dengan begitu buyar semua kenangan saat pertama ku mengakui kalau aku cinta pada nya. pada seoarang teman pria. Yach dia adalah De yang duduk di samping ku saat ini.

“ kamu kok bengong terus sih Don? Kenapa? Jangan suka bengong loh . apalagi dihutan seperti ini bisa berabe ntarnya” De membuka percakapan lagi setelah lama aku terbawa lamunan saat pertama kali aku mengatakan suka padanya.

“ engh..ngak kok . aku sedang lihat api itu “ aku berbohong padanya.

“ ngak usah bohong Don , aku tahu siapa kamu dan aku tahu apa yang kau rasakan saat ini “ De berkata sambil tangannya memeluk bahuku, aku sedikit terkejut dengan perlakuannya itu, dengan reflek ku tatap wajahnya, dia tersenyum. Kutatap kornea matanya lekat-lekat di keremangan malam, kutemui danau teduh disana yang seakan tersedia untuk kuarungi dengan perahu cinta yang di sediakan memang untukku. Aku mulai menyandarkan tubuhku pada badannya. Hangat dan begitu terasa hingga menyentuh dalam hatiku.

Suasana hening untuk beberapa saat , aku dengan segala yang indah kurasakan di hati , ntah dengan dia yang kurasa kan pelukannya semakin kuat dan semakin mengajak tubuhku untuk merapat ke badannya.

“ terimakasih De , kamu masih tetap sayang aku , walaupun aku tak bisa berbuat banyak padamu, aku sangat berterimakasih padamu karena kau tak menghindariku juga dan marah atas semua kejujuranku padamu saat dulu itu. Aku tahu aku tak bisa mengharapkan mu lebih dari apa yang aku inginkan , “

“ehmm… begitulah adanya, semua ini harus kita sadari , aku juga tak mau menjauhimu karena aku tahu kau seorang gay. Dan aku rasa kamu tak boleh selalu saja mengingatkan hal itu, aku tetap kawanmu.”

“Tapi De,” aku memotong kalimatnya.

“Ehmm apa?” dia menghentikan kegiatannya mengorek bara api yang dnegan tangan kirinya itu , tangan kanannya masih tetap memelukku,

“ aku semakin sedih dan sangat tersiksa dnegan semua tingkahmu padaku , dengan kau bersikap manis dan selalu menaruh perhatian padaku, aku selalu mengagap dengan semua itu kau juga mencintaiku De, juga dengan pelukan ini , bagimu mungkin tak apa tapi bagi aku sangat   merasakan indah dan aku tahu aku hanya merasakannya sendirian, tidak sama dnegan yang kau rasakan saat ini.”

“ ehmmm…apa yach, aku musti bilang apa yach…. Ok gini deh , aku harus bagaimana untuk bersikap padamu, aku katakan aku juga tak bisa menghindari kau . kamu adalah sobatku Don , sebelum dan sesudah ku tahu kau seoarang gay kau tetap sahabatku. Jadi ku rasa tak ada yang salah dalam tingkahku, “

“ yach kau benar De. Aku yang salah, aku mencintai seorang teman , yang selalu ada disampingku dan teman itu bukan lah seperti yang aku harapkan , maksudku bukan seorang seperti aku yang mencintai teman sejenis.”

“Don, aku menyayangimu seperti layaknya sodara, kita telah berteman selama tiga tahun , kita selalu satu kelas dari kelas satu, aku terkadang selalu saja merindukan kamu jika kau tak ada,  namun aku tahu bahwa itu perasaan biasa saja. Bukan perasaan yang lain, aku terbuka untukmu Don, jika kau memang inginkan aku sebagai kekasihmu, aku  rasa aku terlalu jauh berpaling dari semua kehidupan agamaku, aku tak bisa . aku hidup di perkampungan yang memang sangat ketat dan selalu di tanamamkan ajaran agama yang kuat. Namun jika aku tak bertemu kamu aku juga sering merasakan rindu, sejujurnya aku juga inginkan kamu selalu bersama ku.” De menghentikna ucapannya dan menatap mencium kepalaku yang bersandar di bahunya. Aku terdiam dan merasakan sangat indah. Perasaan ku bergejolak semkin tak keruan. Aku angkat kepalaku dari bahunya. Dan kutatap wajahnya. dia tersenyum manis, Oh!! Aku ingin sekali mengecup bibirnya yang di tumbuhi kumis tipis yang baru tumbuh, aku tetap diam dan tetap menatap gerak bibirnya. Semua ocehannya tak satupun yang masuk ke dalam otakku.

Wajah De memang tampan , walaupun dia berkulit hitam namun tetap saja tampan. Aku sangat menyukai semua yang ada di tubuhnya, tinggi tegap dan sangat kokoh, dadanya yang bidang selalu saja kuimpikan aku merebahkan kepalaku di sana. Dan tadi telah kurasakan semua itu.

“kamu pahamkan semua apa yang aku katakan ?” De mengakhiri nya . aku terkejut dan secepatnya menganguk. Walaupun aku tak tahu apa yang dia katakan tadi. Wajahku serasa memanas saja .karen akebodohanku main angguk saja tanpa aku tahu semua yang telah dia ucapakan.

“ sekarang ini kita berdua, semua tak ada begitu juga dengan Shinta.  Jadi apa kamu….. “

“ loh apa tuh hubungannya dengan Shinta ?” aku balik bertanya, sedikit ada rasa cemburu menjalar di dadaku begitu mendengar nama pacarnya shinta di sebut.

“ loh ! kamu tak dengar semua perkataanku tadi yach ?” dia menatapku tajam seakan ingin sekali melahapku dengan matanya yang kulihat jenaka.

“ dasar kamu nih !” dia kembali mendekapku hingga kepalaku berada di dadanya. Lalu dia mendongakkan wajahku dengan tangan kirinya , dan ! oh tuhan dia mengecupku , melumat semua bibirku dan mengulumnya, aku terkejut namun ku diamkan saja.

Berbagai gejolak didadaku, aku ikuti semua kehendaknya, ku ikuti irama kecupan bibirnya yang memang telah lama aku idamkan . lama kami saling mengecup hingga aku merasakan alat vitalku menegang . ku peluk dia erat dan kurasakan dia pun begitu juga memelukku erat, kami salaing mengulum dan semakin hangat saja. Hingga aku tersentak dan tersadar. Lalu melepaskan semua kegiatan asmara itu .

“ kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan De?” tanyaku. Dia menatapku kembali.

“aku tahu kau inginkan itu , dan aku tahu kau inginkan lebih dari apa yang barusan ku lakukan padamu Don, mengapa kau tanyakan semua itu lagi ?”

  “tapi De, kau bukan gay, “

   “lalu?” tanyanya dengan semakin dekat wajahnya ke wajahku

“ apakah semua ini hanya untuk sesaat saja?”

“ aku juga tak tahu Don, aku harap itu bisa di jadikan kenangan manis dari ku, karena setelah ini kita akan berpisah jauh, aku tahu apa yang aku lakukan dan aku tahu juga itu tak bisa di lakukana olehku pada saat lalu, namun karen aku merasa kau mencintaiku begitu tulus, aku inginkan kau punya kenangan manis dari sahabatmu ini, aku harap kau tak ceritakan hal yang telah kita lakukan tadi pada siapapun juga pada Shinta .

aku terdiam dengan semua perkataannya. Malam semakin larut saja. Suara burung hantu terdengar bersahutan dengan kawannya. Udara semakin dingin saja terasa emnusuk kulitku yang terbalut jaket. Kawan yang tadi pergi ke warung belom kelihatan datang. Aku ,masih terdiam menatap wajahnya. ku nikmati semua garis ketampanan yang ada di hadapanku dnegan seksama seakan dia akan lenyap jika tak kutatap. Aku tak ingin semua berkahir dengan duka, dan tak ingin juga semua berakhir dengan kekalahan pada jati diri Dede teman ku itu. Aku tak mau merusak jati diri yang telah tertanam padanya sejak kecil. Tak ingin ku ajak dia kedalam lingkup hidupku. Namun tak ingin aku jauh dari dirinya.

Dede tersenyum lagi dan tanganya mengajak aku bangkit, aku mengikuti saja dan berjalan masuk ke tenda di belakang kami,

Malam menindih gelap dengan tebaran embun yang dingin menyentuh kulit hingga menusuk ke dalam tubuh manusia, kegelapan telah sempurna menyelimuti semua kehidupan, dalam gelap malam telah kuajak seorang insan dalam lingkup sempit sisi gelap malam dan menebarkan kehangatan yang telah lama ku impikan, membaranya api asmara telah melumerkan kebekuan hati yang telah lama dilanda kegelisahan, detak jantung saling beradu cepat seiring peluh yang turun di sela suara lirihnya jengkrik menderik mengiringi kegelapan semakin sempurna.

** oleh : herihardianto (yadi )Denpasar @BALI~~~ cisaat , Situ Gunung Sukabumi 1992

** untuk seorang sahabat yang lekat dalam setiap gerak langkahku, aku rindu kamu De.

 

 

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1