|
.: Home
.: Photos .: Links .: Contact Us .: About Us |

Gempabumi di Yogyakarta ----- 01/07/06
Jumat malam itu saya baru bisa tidur jam 3:30 pagi. Belum lagi pulas, istri saya membangunkan saya lewat deringan telpon. Temannya di Alabama memberitahu bahwa ada gempa besar di Jogja sedangkan saat itu ia tidak bisa akses internet di rumah. Saya pikir itu mungkin gempa merapi, tetapi ketika melihat korban jiwa yang tertulis di headlines kompas, tahulah bahwa itu adalah gempa tektonik. Saya segera berusaha menghubungi teman-teman di Jogja dan tampaknya sambungan telpon terputus. Bahkan ketika mencoba telpon lewat HP, tetap saja tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya telpon keluarga di Karanganyar. Mungkin mereka tahu berita tentang gempa itu melalui layar TV sekaligus menanyakan keadaan mereka. Kami senang tidak ada keluarga yang celaka, bahkan teman-teman gereja yang tinggal di Bantul juga selamat. Rumah orang tua salah satu teman malahan sekarang dijadikan dapur umum.
Satu pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah bahwa bencana bisa menimpa orang kapan saja dan tidak ada jaminan keselamatan yang bisa diandalkan oleh manusia selain kepada Allah melalui Yesus Kristus. Waktu itu semua orang merasa lega bahwa penduduk di sekitar merapi sudah mengungsi, dan penuh harapan bahwa tidak akan ada lagi korban mengerikan seperti yang terjadi lima tahun sebelumnya. Namun ternyata malapetaka kali ini tidak berasal dari Gunung Merapi, melainkan dari zona subduksi di Samudera Hindia. Dan tentu saja Bantul yang memang bekas tanah terban (graben) dan sekaligus cukup dekat dengan pusat gempa, mengalami kerusakan yang cukup parah. Ketika masuk ke ruang chatting di Yahoo (maklum saja, namanya juga ruang chatting dimana orang asal bicara) sejumlah orang menanggapi bencana ini dengan mengatakan bahwa ini adalah akibat dari semakin banyaknya club malah di Jogja, tetapi mereka tidak berkomentar ketika saya bertanya mengenai keadaan club malam di Bantul. Yang bener aja...! Salah seorang kakak angkatan saya yang bekerja di Jakarta, yang juga warga Bantul sekaligus juga adalah korban gempa, cukup marah dengan -kritikan dan bukan pertolongan- semacam itu. Di bawah emailnya, ia membubuhkan signature yang bertuliskan "Kami warga Bantul bukan Pezinah dan Pembunuh." Suatu ucapan yang cukup keras.
Bencana seperti ini mesti disikapi dengan hati yang terbuka kepada kehendak Allah supaya kita bisa memilih belaskasihan dan bukan omongan kosong. Terlebih lagi mengingat bahwa Tuhan telah berfirman kepada raja Salomo demikian:"dan umatKu, yang atasnya NamaKu disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajahKu, lalu berbalik dari Jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka" (II Taw 7:14) maka sudah waktunya umat Allah berpaling kepada-Nya, supaya esok tidak terjadi bencana lagi di negeri kita ini.[HN | 01-22-06] Go Back
| Copyright © 2006 - Hendro Nugroho |