Title: At the Cemetery
Author: bad day today
Genre: Angst/General
Rating: T
Summary: [SPOILER up to Chapter 330] Naruto dan Kakashi
berdialog mengenai kehidupan. Shounen-ai hints. Fic yang didekasikan kepada Asuma.
WARNING: agak
OOC. Maklum karena lagi suasana berkabung
(dan juga karena aku baru
keluar dari vakum jadi serasa
kembali bodoh dalam soal tulis-menulis
nih).
AN: Yup. Ini
adalah fic pertama gw
setelah lamaaaaaa banget vakum menulis.
Karena gw
masih berusaha menyesuaikan diri lagi, tolong bantuannya
ya semua!! :D
Yieks, sekarang
Meskipun
di fic ini
sebenarnya sih hampir gak ada
KakaNaru-nya, kebanyakan
dialog gitu deh. Ini sekaligus juga buat fic yang didedikasikan
kepada Asuma. Asuma, aku nangis
pas kamu meninggal!
Sebenarnya sih ini kedua kalinya
aku bermaksud menulis fic ini,
yang pertama kacau balau
mungkin karena masih tidak
terbiasa? Pokoknya aku gak mau lagi deh
vakum-vakuman. Grrr
tugas dari kampus banyak bener
sih!! T.T
KxN -- KxN
-- KxN --
Seorang
wanita cantik dengan mata merah
yang indah duduk di depan sebuah makam yang tanahnya merah baru digali.
Di tangannya tergenggam sebuah buket bunga lili
putih sebagai tanda perpisahan selama-lamanya bagi sang kekasih tercinta.
Sarutobi Asuma telah berpulang ke sisi-Nya dalam
pertarungan melawan Akatsuki.
Berita itu datang bagaikan petir di siang
hari. Kurenai merasa jantungnya
seolah berhenti ketika mendengar berita kematian Asuma dari mulut
Shikamaru. Entah mengapa,
dari kemarin dia sudah merasa
gelisah dan mendapat firasat buruk. Ternyata, firasat itu benar karena Asuma
yang sangat dicintainya telah meninggal.
Sekilas dia teringat mengenai kencan pertama mereka, dimana Asuma datang dan
menyodorkan mawar merah ke arah
Kurenai seolah tidak perduli, padahal mukanya yang bersemu merah jelas
menunjukkan isi hatinya yang sebenarnya. Tanpa sadar,
Kurenai tersenyum mengenang kencan mereka saat itu.
Namun, berat karangan bunga lili putih di
tangannya membawa Kurenai pada kenyataan
yang pahit. Dengan berat
hati, dia meletakkan karangan bunga itu di
atas batu nisan. Dengan itu,
dia telah melepaskan Asuma. Air mata yang tertahan
menoreh wajah cantik yang biasanya berekspresi tenang dan terkontrol itu.
Sayonara
anata
bisik
Kurenai dengan penuh kesedihan karena kehilangan orang yang paling berarti baginya. (AN: anata adalah
sebutan suami oleh istri. Aku mau pake saja di
sini.)
Di belakang
punggung Kurenai, puluhan orang yang datang untuk menyampaikan
duka citanya kepada almarhum banyak berkumpul. Di antara mereka, seorang Uzumaki Naruto menaruh sebelah tangannya di atas pundak
Konohamaru yang menangis tersedu-sedu sambil menyebut nama
pamannya secara berulang-ulang. Satu lagi anggota keluarga yang sangat berarti baginya telah hilang direnggut
nyawanya.
Hari itu, suasana hati orang
yang datang sangat berbeda dengan langit yang cerah. Semua berkabung,
semua merasa kehilangan.
Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit
para pelayat mulai meninggalkan tempat peristirahatan terakhir itu. Sampai akhirnya,
yang tersisa hanya Kurenai, Naruto dan Kakashi.
Naruto tidak bisa mempercayai semua ini. Dia teringat, seolah baru kemarin dia
menghampiri tempat Asuma-sensei dan Shikamaru bermain Shogi untuk menanyakan
tips dalam menggunakan
chakra. Tapi sekarang, yang ada
di hadapannya hanya tinggal segunduk
tanah yang diam membisu. Tidak adil
kejam malahan. Siapa yang pantas bernasib
seperti ini?
Di depan matanya dia
melihat Kurenai-sensei yang
menolak memperlihatkan air matanya di depan
semua orang, kini menangis histeris
di depan makam Asuma-sensei.
Hatinya pedih, karena Naruto sangat
mengerti bagaimana rasanya menderita. Rasa sakit
yang tak tertahankan itu, perasaan yang kita alami saat
kita merasa sebatang kara
di dunia ini.
Naruto merasakan
sesuatu yang hangat diletakkan di atas
bahunya. Ketika dia menengadah
ke atas, dia bertatapan muka langsung dengan
Kakashi-sensei.
Mata Kakashi-sensei yang hangat
seolah memberi sokongan terhadap perasaan Naruto yang campur aduk. Naruto merasa
dadanya dalam sekejap menjadi ringan.
Kakashi-sensei
mengapa Asuma-sensei harus meninggal? tanya
Naruto dengan tatapan sedih.
Asuma adalah seorang shinobi yang setia pada Konoha. Dia meninggal
ketika sedang melakukan tugasnya. Dia tewas dengan terhormat.
Jawab Kakashi dengan pelan.
Tapi kenapa? Padahal, Asuma-sensei
dan Kurenai-sensei telah lama saling jatuh cinta. Padahal tinggal sedikit lagi mereka
akan menjalani
hidup yang bahagia berdua. Kenapa? saat ini,
nada suara Naruto menjadi pecah. Naruto sangat benci, dia
sangat tidak suka dengan pemakaman.
Dia benci baju hitam
yang sekarang dikenakannya,
dia juga benci dengan raut
wajah semua orang yang sedang berduka. Apakah kita tidak bisa hanya mengalami
kebahagiaan saja? Kenapa kita harus mengalami
kehilangan dan kesedihan?
Kakashi meremas bahu Naruto dengan
perlahan dan lembut. Naruto
Mungkin menurutmu
kejadian ini sangatlah tidak adil. Tapi ingatlah bahwa suatu saat kita
semua akan
pergi dari dunia ini, untuk
memberi tempat bagi kehidupan yang baru. Orang seperti
Orochimaru mungkin tidak akan
pernah mengerti, tetapi ada sesuatu
yang indah dari jangka waktu hidup
manusia yang pendek. Kita tidak akan
tahu kapan hidup kita akan
berakhir, karena itulah kita harus
menjalani kehidupan kita sesuai dengan
yang kita kehendaki, tanpa ada rasa
penyesalan.
Asuma pergi dengan tenang, karena dia tahu
bahwa orang-orang yang dicintainya selamat. Itulah indahnya
sebuah pengorbanan. Kenangan mengenai Asuma akan
tetap hidup di benak kita
semua dan tidak akan pernah
kita lupakan. Camkanlah baik-baik hal itu.
Mungkin kau benar, Kakashi-sensei. Kalau aku
disuruh memilih antara mencintai, kemudian kehilangan atau mengharapkan agar tidak pernah bertemu
dengan orang tercinta yang telah mangkat, aku lebih
memilih mencintai kemudian terluka. Karena hal itulah yang menyebabkan kita seorang manusia.
Naruto dan Kakashi berjalan ke arah Kurenai
yang kini sedikit terisak-isak dalam tangisnya. Dengan lembut, Naruto
memberikan sehelai saputangan kepada Kurenai yang mengambilnya dengan tatapan penuh terima kasih.
Naruto kemudian menawarkan diri untuk mengantar
wanita yang sedang berduka itu pulang
ke tempatnya.
KxN -- KxN
-- KxN --
Kakashi memandangi
punggung Naruto dan Kurenai yang semakin menjauh. Kemudian dia
menghembuskan napas dengan berat.
Lebih baik mencintai kemudian terluka, ya? bisik
Kakashi kepada dirinya sendiri sambil tersenyum getir di balik
maskernya. Naruto, seandainya kamu tahu betapa aku
bersungguh-sungguh ketika aku mengatakan aku sangat menyukaimu
sekarang. Ah, andai
kamu tahu
Dengan itu, Kakashi membalikkan badannya dan mulai
berjalan ke arah yang berlawanan.
-Owari-
AN: Akhir yang absurd
Thanks dah mau baca
ceritaku yang payah banget (dan pendek
banget), yang kuselesaikan pada tepat 100 menit ini.
Aku bakal sangaaaaaaat senang kalau kalian mau berkomentar, lewat review atau message.
Jya, mata ne!! :D