Harry`s Personal Website
" Think Smart, Work Smart, Play Smart"

Cincin Emas
Suatu pagi Zhi Zhou mendatangi Zun-Nun dan bertanya, "Guru, saya tak
mengerti mengapa guru berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana.
Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amatlah penting,
bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain."
Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu
jarinya, lalu berkata, "Zhi Zhou, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih
dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar
di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"
Melihat
cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keeping emas?
Saya
tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."
"Cobalah dulu anak muda, Siapa tahu kamu berhasil."
Zhi Zhou pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang
sayur, penjual daging dan ikan. Ternyata, tak seorang pun berani membeli
seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu
saja, Zhi Zhou tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia
kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani
menawar lebih dari satu keping perak."
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke
toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau
tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia
memberikan penilaian."
Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun
dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para
pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang
emas menawarnya dengan harga sepuluh keping emas. Rupanya nilai cincin ini
sepuluh kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di
pasar."
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas
pertanyaanmu tadi. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para
pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun
tidak bagi "pedagang emas".
"Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan
dinilai jika kita mampu melihat hingga ke kedalaman jiwa. Diperlukan
kearifan untuk menjenguknya, dan itu butuh proses. Kita tak bisa
menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat
sekilas.
