Harry`s Personal Website

  " Think Smart, Work Smart, Play Smart"  

Berhenti Menjadi Pengemis


Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk
berjaga-jaga
kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat,
ku
beri, kemudian lewat satu pengemis
lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis baru lah aku
berhenti dan menggantinya dengan kata "maaf" kepada pengemis yang ke
sekian.

Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan
dengan pengemis juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya
seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan.

Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa
dia pelit karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada
pengemis. Padahal kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku.

Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah dari gajinya.
Tapi setelah apa yang saya lihat sewaktu kami sama-sama berteduh
kehujanan di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.

Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri
kami seraya menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang
mengeluarkan receh ditahannya.
Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu lembar
seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si ibu
tadi
ternganga entah apa yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua
lembar
uang itu.

"Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah
atau
yang seratus ribu?"
tanya Diding Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih
yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang
seratus
ribu.

"Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan.
Tapi kalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya
secara cuma-cuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita
tentukan, bagaimana?" terang Diding.

Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya.
Terlihat ia masih nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan,
"Maksudnya... yang seratus ribu itu hanya pinjaman?"

"Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan
seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis.
Tapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari
dan seterusnya ibu tak perlu meminta-minta lagi," katanya.

Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan
pinjaman uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya
meminta-minta. Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat
gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat untuk
berjualan gado-gado, seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain-lain.
Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersama-sama ke rumah ibu
tadi
yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan
sudah reda, dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai.
Cocok untuk berdagang gado-gado, pikirku.

*** ( beberapa waktu berlalu )

Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual
gado-gado itu. Selain untuk mengisi perutnya -dengan tetap membayar- ia
juga berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu
penjual gado-gado itu. Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk
mengembalikan
uang pinjaman itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi
penjual gado-gado. Dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu
penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Diding. "Terima
kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih
terhormat."

Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang
yang dibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu
karena
orang yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab. Menurutnya, itu
sudah resiko. Tapi setidaknya, setelah ibu
penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada
satu orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti
meminta-minta.
Ding, inginnya saya menirumu. Semoga bisa ya.
 

Back

Hosted by www.Geocities.ws

1