![]() |
|||||||||||||
| HOME ARTIKEL KONSULTASI GOSSIP KATA BIJAK TENTANG GUNTORO | |||||||||||||
| Kembali ke daftar artikel | |||||||||||||
| �MIROR, MIROR ON THE WALL�..� | |||||||||||||
![]() |
|||||||||||||
| "Aduh �. tubuhmu kok gemuk sekali Non �!!!�
�Ih, kaki kamu besar banget, mo� jadi pemain sepak bola yaa � !� �Ya ampun � lihat tuh jerawat kamu, lagi bete yaa � !� �Jadi cowok tuh kudu punya badan yang atletis nggak kerempeng kaya gitu �!� �Nah kalo cewek itu, badannya harus langsing dan tinggi biar jadi cewek ideal �!� |
|||||||||||||
| Seringkali kita mendapatkan banyak komentar dari sekitar kita, baik itu teman, saudara, kakak, ataupun orang tua dan bahkan pacar tersayang tentang tubuh kita. Yang menurut mereka nggak bagus lah, kurang gini lah, kurang begitu lah, nggak oke lah, harus begini, harus begitu dan lain-lain. Siapa sih yang nggak senewen dikomentarin kayak begitu ? Atau sebaliknya, sebenarnya enggak ada yang ngomentarin, cuman ternyata kita sendiri yang merasa body kita enggak oke, wajah kita enggak mulus, atau kulit kita enggak berwarna seindah yang kita harapkan. Banyak orang pengen punya body yang ideal dan sempurna, tetapi seandainya udah dari sononya kita dikasih tubuh yang enggak sesuai harapan, trus apakah kita harus meratapi nasib atau melakukan operasi plastik biar punya body ideal �.?
Permasalahan yang sering dialami remaja adalah masalah tidak percaya diri karena tubuhnya dinilai kurang / tidak ideal baik oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Rasa kurang percaya diri ini kemudian merembet ke hal-hal yang lain, misalnya malu untuk bergaul dengan orang lain, tidak pede untuk tampil di muka umum, menarik diri, pendiam, malas bergaul dengan lawan jenis atau bahkan kemudian menjadi seorang yang pemarah, sinis, dll Pada saat kita mulai memasuki usia pubertas, kita sudah memiliki kepribadian yang terbentuk sepanjang masa kanak-kanak. Kepribadian ini dipengaruhi oleh pola asuh dalam keluarganya, oleh adat istiadat di mana ia tinggal dan dibesarkan, oleh ajaran agama yang dianutnya, dan juga oleh pendidikan di sekolah dan teman-teman sebayanya. Di dalam kepribadian tersebut, ada tiga aspek kepribadian yang sangat penting dalam perkembangan seorang manusia. Ketiga aspek tersebut tidak dapat berdiri sendiri dan saling berinteraksi dalam membentuk kepribadian kita. Apakah ketiga aspek tersebut ? Yang pertama adalah self esteem. Self esteem adalah konsep individu tentang dirinya sendiri yang meliputi bagaimana perasaanya tentang diri dan tubuhnya, serta seberapa jauh kepuasan yang didapatkannya dari tubuh tersebut. Self esteem ini akan berpengaruh besar terhadap apapun yang dilakukan oleh individu. Contoh penilaian negatif yang dilakukan oleh diri sendiri : merasa dirinya bertubuh pendek dan merasa tidak mungkin menarik dengan tubuh sependek itu. Sedangkan contoh penilaian positif adalah walaupun banyak kekurangannya tetapi tetap merasa optimis dapat memperbaiki kekurangan itu satu per satu, dan untuk kekurangan yang tidak dapat diperbaiki, misalnya dalam hal fisik, dapat memahami bahwa orang itu memang tidak ada yang sempurna. Mengembangkan penilaian yang positif terhadap diri kita akan membuat kita bersikap lebih adil pada diri kita. Pada masa pubertas, biasanya banyak remaja yang mengalami penurunan self esteem. Menurut seorang ahli Psikologi Perkembangan, Masters dkk, penurunan ini disebabkan karena perubahan fisik yang begitu cepat dan tidak beraturan pada diri kanak-kanak yang beranjak remaja, sementara itu remaja belum memiliki identitas diri yang jelas, sehingga �bagaimana penampilan saya, bagaimana orang lain melihat saya�, seringkali disepadankan dengan �siapa saya�. Hal ini juga masih ditambah lagi dengan hubungan yang erat antara kemenarikan dari segi fisik dengan penerimaan sosial, yang semakin membuat banyak remaja merasa tidak percaya diri. Karena di masyarakat kita bergulir sebuah anggapan bahwa semakin cantik atau ganteng seorang remaja maka semakin besar penerimaan lingkungan pergaulannya. Ukuran Cantik, ganteng, feminine, maskulin, macho, sexy, dll banyak didapat dari lingkungan pergaulan. Sumber lain yang sangat menonjol dan sangat berpengaruh terhadap ukuran-ukuran tersebut didapat dari media. TV, Majalah, Koran, Film, radio, dll. Para produsen kosmetik, pakaian, makanan, dll berlomba lomba memanfaatkan ketidak percayadirian kita untuk memasarkan produknya. Iklan iklan mereka berusaha untuk membentuk persepsi tentang ukuran ukuran ideal, sehingga menciptakan kebutuhan bagi remaja untuk mencapai penampilan yang ideal tadi. Bayangkan berapa banyak remaja (sebelumnya lebih banyak perempuan, tapi sekarang laki laki juga banyak) yang tergila gila dengan produk pemutih, dari sabun muka, body lotion, bedak, scrub cream, lulur, dll, yang semuanya menjanjikan kulit yang putih bersih bak temen temen mereka yang indo atau para artis bule. Juga mereka yang menjadi korban obat obatan penurun berat badan, susut perut, penghilang nafsu makan, dll, yang menjanjikan tubuh langsing bak peragawati. Belum lagi beberapa produk alat yang bisa meninggikan badan dengan cara yang kadang tidak masuk akal. Banyak remaja cowok yang baru merasa pede kalau tubuhnya penuh otot seperti Arnold Scwarzeneger, sehingga obat-obatan perangsang pertumbuhan/pembesaran otot jadi laris manis di pasaran. Ukuran cantik menjadi salah kaprah, yaitu tinggi, langsing dan putih. Mereka yang mempunyai tiga kelebihan itu dianggap beruntung dan rasa percaya diri meningkat. Sementara mereka yang berkulit hitam, gemuk dan pendek merasa tidak menarik sehingga penghargaan terhadap dirinya rendah. Padahal kualitas diri kita tidak hanya dilihat dari seberapa dekat diri kita dengan kondisi tubuh yang ideal, akan tetapi dilihat juga dari isi hati, isi kepala, kepribadian, dan rasa percaya diri. Tahu nggak, inner beauty (kecantikan dari dalam) jauh lebih bernilai daripada sekedar outer beauty ( kecantikan luar, yang biasanya dihubungkan dengan fisik) Rasa percaya diri membuat seseorang jauh lebih menarik dibandingkan mereka yang minder, putus asa, dan kuper. Seseorang akan percaya diri apabila memiliki self esteem yang tinggi. Self esteem yang rendah akan memperlemah hubungan yang dibina dengan orang lain, sedangkan self esteem yang tinggi akan mendukung remaja untuk mengembangkan hubungan mereka dengan orang lain. Selain itu, Masters dan Johnson juga mengatakan bahwa self esteem ini juga berpengaruh terhadap sikap seseorang terhadap statusnya sebagai remaja. Seseorang remaja yang memiliki self esteem yang positif maka ia tidak akan gampang terbawa godaan yang banyak ditawarkan oleh lingkugan. Misalnya dari sebuah penelitian ditemukan bahwa remaja yang mempunyai self esteem rendah cenderung lebih mudah mencoba menyalahgunakan obat-obatan atau mengkonsumsi napza. Seseorang akan lebih menghargai dirinya sendiri apabila dia bangga dengan kelebihan yang dia miliki. Kelebihan yang dimiliki bisa dari segi fisik, bisa juga karena dia punya keahlian tertentu, atau hal hal lain yang menjadi kekuatan atau kelebihan dia. Seseorang yang kurang percaya diri seringkali karena kurang jeli menggali kelebihan, atau memang belum mengembangkannya, sehingga dia merasa �biasa biasa saja�. Kalau kamu suka baca, misalnya, jadikan kegemaran ini sebagai�kelebihan� kamu (karena ternyata tidak semua orang suka baca), kamu bisa baca banyak informasi dan pengetahuan, sehingga wawasanmu menjadi lebih luas dan berbobot. Kalau kamu suka memasak, jadikan ini sebagai kekuatanmu, kembangkan bakat masakmu sehingga kamu jadi jago. Memang dunia remaja merupakan dunia yang penuh dengan tantangan sekaligus harapan, tinggallah si remaja, apakah dia bisa mengubah tantangan dan hambatan menjadi sebuah prestasi yang membanggakan dan dapat mewujudkan harapannya. Termasuk menumbuhkan sebuah self esteem dari semua hal yang ada pada diri kita, baik itu hal yang positif maupun negatif, dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain maupun lingkungan di sekitarnya. So �.Be confident, Be Your Self !!! Nur Rokhmah H, Guntoro Utamadi |
|||||||||||||